LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (32)

>> Sunday, September 18, 2011



Meet at Last

LEA menggeser badannya buru-buru ke pinggir. Menyambar bantal, dan mendekapnya erat. Lampu telah dinyalakan, menerangi seisi kamar yang sebelumnya gelap.
Pria itu berdiri di ambang pintu, mengantongi satu tangannya. Kalung perak masih bergantung di lehernya. Menempel di dadanya yang dipenuhi tato warna-warni. Memerhatikan Lea dengan senyum yang membuat siapa pun merinding. Begitu dingin dan tak berjiwa.
Terdengar suara langkah mendekat. Banyak langkah, suara sepatu menghantam lantai, sampai akhirnya tiga orang lagi masuk ke ruangan.
“Shinji!” Lea berteriak. Terkejut melihat Shinji yang dipegangi dua orang pria berbadan besar.
“Lea?!” Shinji sama terkejutnya dengan Lea. Sekarang berusaha melepaskan diri dari dua pria yang memeganginya.
“Lepaskan dia,” perintah pria berkalung perak itu dalam suara tegas dan datar.
Dua pria itu menurut, segera melepaskan Shinji yang segera menghampiri Lea. Menariknya ke pelukannya. Mendekapnya erat.
“Adegan melankolis,” kata pria itu sinis, yang langsung disambut tawa oleh anak buahnya. “
“Kau tidak apa-apa?” Shinji mencengkeram wajah Lea dengan kedua tangannya. Mengusap pipinya lembut seakan tak ingin melukainya. “Mereka tidak menyentuhmu?”
Lea menggeleng. “Ada apa Shin?” tanyanya terisak. “Kenapa mereka mencarimu? Kau kemana saja?” Lea membenamkan wajahnya di dada Shinji. Membasahi kausnya dengan air matanya. “Mereka memukuli Juna...”
“Juna?” Shinji jelas tak tahu apa yang terjadi pada Lea dan Juna di malam penculikan itu. Dia kelihatan syok mendengar kata-kata Lea barusan. “Bagaimana bisa?”
Terdengar suara tawa mengejek dari belakang Shinji. “Tukang masak itu sok jadi pahlawan. Kami terpaksa mengurusnya,” kata pria berkalung perak itu lagi.
“Katakan Shin, ada apa sebenarnya?” desak Lea. Mencengkeram erat kaus Shinji. “Apa hubunganmu dengan mereka?”
“Lea...”
“Aku mohon...”
“Lea, aku...”
“Katakan, Shin! Ada apa?!”
“DIAM!” Shinji membeliak pada Lea. Mencengkeram kedua pundaknya keras.
Lea bungkam. Kaget dengan reaksi Shinji, yang selama ini tak sekali pun dilihatnya. Dia jatuh terduduk ke belakang, menatap Shinji dengan ekspresi terguncang.
“Yakuza... tetaplah Yakuza...” Pria berkalung perak itu berkata.
“Diamlah, Kyouta!” hardik Shinji, menoleh ke belakang. “Diam!”
“Seromantis apa pun dirimu, kau tidak bisa menyangkal kalau kau punya darah ayahmu—”
Entah bagaimana, tahu-tahu pria bernama Kyouta itu sudah terjatuh ke lantai dengan Shinji di atasnya. Dia menghujamkan tinjunya berkali-kali ke wajah Kyouta seperti orang kesetanan. Pria-pria lainnya segera memeganginya. Mengangkat tubuh Shinji dengan paksa dan susah payah, karena Shinji berusaha melawan

Lea gemetaran. Dari kepala sampai kaki. Air mata terus meleleh ke pipinya. Menangis tanpa suara. Terisak yang berusaha ditelannya karena ketakutan. Benar-benar ketakutan. Dia mundur, bersandar di bingkai tempat tidur. Memeluk erat bantalnya.
Kyouta berdiri dibantu salah satu anak buahnya. Namun dia segera menepis tangannya, begitu dia berhasil menegakkan diri. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, dia menghantam wajah Shinji dengan tangannya yang terkepal. Amat keras, sampai-sampai bibir Shinji langsung luka dan berdarah.

“Shin!” Lea berteriak cemas. Tanpa berpikir turun dari tempat tidur, hendak menghampiri Shinji. Namun Kyouta segera menahannya, mencengkeram lengannya keras, sampai Lea mengaduh kesakitan.
“Jangan kau sentuh dia, BRENGSEK!” maki Shinji, berusaha melepaskan diri. “Akan kubunuh kau!”
“Rupanya kalian berdua saling peduli satu sama lain?!” Kyouta tertawa mengejek. “Bagaimana kalau aku melakukan ini?”
Kyouta menjambak rambut Lea, menekankan bibirnya ke bibir Lea dengan paksa.
“KURANG AJAR!!!” Shinji berteriak, sementara Lea berusaha keras melepaskan diri. Memukul dan mendorong Kyouta dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya dia menggigit bibir Kyouta sekeras yang dia bisa. Membuat laki-laki itu melepaskannya dengan terpaksa, mengaduh kesakitan, sambil memegangi bibirnya. Dan begitu Kyouta melihat darah di tangannya, dia menampar Lea amat keras, sehingga terjatuh ke lantai.
Shinji berteriak memanggil Lea. Namun Lea bergeming. Sepertinya pingsan. “BANGSAT kau, Kyouta!” umpat Shinji geram, berusaha keras melepaskan diri.
Kyouta menyeka darah dari bibirnya. “Berisik sekali,” katanya kemudian dalam suara datar. Kemudian sekali lagi dia melayangkan pukulan kepada Shinji, menghantam perut Shinji keras dengan tinjunya, membuatnya langsung lemas di cengkeraman dua pria yang memeganginya.
“Lepaskan dia,” perintah Kyouta. “CEPAT!” hardiknya dengan mata mendelik ketika anak buahnya saling bertukar pandang ragu.
Kedua pria itu segera melepaskan Shinji. Membiarkannya terjatuh ke lantai, tepat di kaki Lea. Terbatuk, menyemburkan darah.
“Karena aku masih punya hati,” Kyouta menekan pipi Shinji dengan sepatunya, “kuberikan kau kesempatan berdua dengannya,” katanya. “Berpamitan padanya. Karena malam ini adalah malam terakhir kau akan melihatnya. Begitu pun dia.”

Shinji sudah tidak bisa mendengar jelas kata-kata Kyouta. Ulu hatinya sakit tak terperi, seolah saja organ bagian perutnya telah hancur akibat pukulan Kyouta. Tak henti-hentinya dia terbatuk sembari menyemburkan liur bercampur darah.
Kemudian orang-orang itu pergi meninggalkan kamar, mematikan lampu hingga tak ada lagi cahaya tersisa. Menutup dan menguci pintu kamar dari luar. Meninggalkan dia dan Lea berdua saja.

Shinji mengangkat badannya sedikit, menyeretnya mendekat pada Lea yang masih tak sadarkan diri. Bertumpu pada satu sikunya. Dengan susah payah Shinji menggulingkan tubuh Lea, melingkarkan tangannya di sekeliling pundaknya. Menyentuh pipinya. Menyeka darah di sudut bibirnya akibat tamparan Kyouta tadi, kemudian menepuk-nepuk pipinya seraya memanggil namanya. Mencoba menyadarkannya.

“Shin...” Lea memanggil lirih, setelah matanya membuka lemah.
“Maafkan aku, Lea,” ucap Shinji. “Kau jadi begini...”
“Aku takut...”
“Aku juga...”
“Jangan tinggalkan aku lagi...”
“Tidak akan...”
Kemudian Shinji memeluk Lea erat, membiarkannya meletakkan kepala di lengannya. Mengusap rambutnya untuk membuatnya nyaman. Membisikkan kata, “Tidurlah, Lea. Aku ada di sini.”
Lea menyembunyikan wajahnya di dada Shinji. Membuatnya merasa terlindungi meskipun tak yakin untuk berapa lama. Wajah dan bibirnya terasa terbakar, tapi dia berusaha menahannya.
Saat ini, meskipun sebentar, Lea ingin merasa aman. Jauh dari kecemasan akan disakiti bahkan dibunuh oleh orang-orang itu. Dia juga tidak mau membebani Shinji dengan pertanyaan perihal itu. Dia ada di sini untuknya, itu saja sudah cukup. Andaikan besok dia mati, dia sudah pasrah. Setidaknya dia masih sempat melihat Shinji. Mendengar suaranya. Mengetahui kalau dia masih peduli padanya.
Itu saja cukup, gumam Lea dalam hati. Kemudian memejamkan matanya.
.........................
gambar dari sini
Hei, Shinji
Aku bersyukur kau ada di sini
Terima kasih

8 comments:

dinar September 19, 2011 at 8:07 AM  

hurayyyy!!!!Lea ma Shinji!!okeh deal Juna buat saya ya Lea , hahahahaha....duh Leaaaa......

l i t a September 19, 2011 at 8:52 AM  

@Dinar: Hush! jangan berspekulasi sebelum ceritanya abis... Nakal deh, Dinar... *nyengir*

dinar September 19, 2011 at 12:15 PM  

mbak , ni aku deeo...hehehe...akhirnya aku memutuskan untuk memakai nama asliku saja , lho...aku gak spekulasi...cuma ngarep....jiakakakaka....SEMANGAT!!!!

rona-nauli September 19, 2011 at 12:22 PM  

Lit,Lit...*narik ujung rok*... aku kok jadi kasihan ma Shinji ya. piye dong :(

l i t a September 19, 2011 at 12:55 PM  

@Dinar: ya sebaiknya pakai nama aslimu. Lebih bagus... Oke, dinar?

@Rona: Sama, Madam. Aku juga jadi bimbang *wkakakakak*

ann September 19, 2011 at 2:31 PM  

yaahhhhh.... kalau Lea ama Shinji aku patah hati deh....

tapi kalau memang arahnya ke sana, dari awal aku bisa tebak, bisa juga Lea ngga milih siapapun, setelah ditinggalkan Shinji, Lea baru ngerasa betapa berartinya shinji untuknya jadi Juna pun ditinggalkannya, lalu keluar dari gemerlap keartisan menjadi guru tari di STSI... wkwkwk.. ngga asyik banget.. bete bacanya!

lebih bagus endingnya ama Juna, nyepi di Bali, buka resto sendiri, punya anak banyak.. and then they would be happy ever after.. hehe..

ini jujur dari hati yang paling dalam, penggemar berat LEA.. hiks.. tapi up to you lah mba, sedikit provokasi ngga pa pa kan..

ann September 19, 2011 at 2:31 PM  
This comment has been removed by the author.
l i t a September 19, 2011 at 4:58 PM  

@Ann: Aduhhh... kok jadi sedih. Endingnya kan belum sampe... Udah patah hati duluan...

Aku jadi ikutan sedih... *hiks*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP