LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (31)

>> Friday, September 16, 2011


The Hunter and The Guardian - 3

SHINJI memacu motor Ducati hitamnya. Bukan miliknya, melainkan milik Eiji yang diambilnya dari garasi. Baru empat puluh menit lalu dia menerobos keluar rumah pinggir danau itu. Rumah yang beberapa bulan ini mengurungnya. Tak mengijinkannya pergi kemana pun.
Sekarang dia baru saja meninggalkan areal kebun teh luas yang mengelilingi rumah tersebut. Dan masih tidak ada tanda-tanda kendaraan mengejar di belakangnya. Mereka pastinya belum tahu dia pergi.

Mereka menunggumu di Ancol.” Shinji mengingat kata-kata Daniel, penghubungnya dengan O ushi yang diteleponnya sebelum pergi.
Dari Chiyo, dia mendapatkan nomor ponsel Daniel, yang tertera bersama pesan teks yang dikirimkan Arata pada Eiji. Bagaimana Chiyo mendapatkannya Shinji tak mau tahu, yang pasti dia sangat berterimakasih kepada gadis itu, yang selalu membantunya, kapan pun dia membutuhkan bantuannya.
Termasuk kemarin, saat dia butuh waktu untuk pergi ke Jakarta, memberikan kado untuk Lea.

Shinji ngebut habis-habisan. Mengejar waktu. Sebelum jam empat sore, dia sudah harus berada di pantai Ancol. “Kalau tidak, mereka akan melakukan sesuatu pada Lea,” itu kata Daniel. Dan sekarang, ketika akhirnya dia masuk Jakarta, jam telah menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Masih ada waktu.

Seperti orang kesetanan, Shinji menerobos kemacetan jalan raya. Menyalip bus, hampir menyerempet kendaraan lain, menerobos lampu merah, tak peduli apa pun lagi. Yang ada di pikirannya cuma satu: Lea. Hanya dia. Dia ingin segera melihat wajahnya, memastikan dia baik-baik saja.
Shinji benar-benar berharap dia baik-baik saja.

Begitu motornya memasuki areal Ancol, jantungnya berdegup luar biasa cepat. Dia ketakutan akan apa yang terjadi padanya nanti, begitu bertemu dengan O ushi. Dia bisa saja mati. Namun, dikalahkan oleh kecemasannya pada Lea, dia memantapkan hati, terus menjalankan motornya ke arah pantai. Sekarang ini dia tak boleh jadi pengecut. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang ditimbulkan dari tindakan gegabahnya. Dia tak bisa mengorbankan sahabat, sekaligus perempuan yang sangat dicintainya.

Beberapa mobil sedan hitam terparkir di pinggir pantai Ancol, ketika Shinji sampai. Masih tersengal, dia melepas helmnya, turun dari motor, dan berdiri menunggu.
Pintu belakang dari mobil sedan yang berada paling depan membuka, dan seorang laki-laki jangkung kurus mengenakan stelan hitam turun dari mobil.
Kyouta Tanaka, Shinji membatin. Dia mengetahui namanya dari Eiji, yang sempat menunjukkan foto-foto petinggi O ushi yang mengejarnya. Mengatakan betapa berbahayanya mereka, serta hal-hal yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia entertaiment. Menjauh dari semua sahabatnya, dan juga Lea. Merelakan ibunya pergi bersama ayahnya ke Jepang agar terlindungi. Tapi ternyata semua itu sekarang sia-sia. Karena keteledorannya sendiri.

“Halo, Shinji,” seru Kyouta seraya berjalan mendekat. Dua orang laki-laki ikut turun dan melangkah di belakangnya. Badan mereka besar. Tubuh mereka penuh tato. Sama dengan Kyouta, yang tatonya hampir melewati pangkal lehernya. “Salut!” Dia bertepuk tangan, dengan seringai menyebalkan terhias di wajahnya. “Demi seorang perempuan kau menyerahkan diri. Wow!” Dia berhenti persis di hadapan Shinji. Memasukkan kedua tangan ke saku celananya. “Persis di film-film,” sambungnya lagi. “Menunjukkan betapa lemahnya kau sebagai seorang laki-laki.” Dia berdecak, mendengus sinis.
“Dimana Lea?” Shinji mengabaikan kata-katanya. Mencengkeram keras helmnya. “Kau lepaskan dia, dan aku akan ikut denganmu.”
“Dia tidak ada di sini,” kata Kyouta, tersenyum. Senyum yang membuat Shinji ingin sekali menghantamkan helm yang dipegangnya ke wajahnya. “Kau harus ikut kami dulu.”
“Tapi—”
“Satu kata lagi, aku tak menjamin Lea selamat,” potong Kyouta. “Aku tinggal menelepon, dan orangku... dimana pun dia akan membuat Lea...”
“Oke. Aku ikut.”
“Benar-benar laki-laki sejati.” Kyouta mengangguk-angguk. “Tapi andaikan kau tak mau ikut, kami yang akan membuatmu ikut. Rela atau pun tak rela. So... you first.” Kyouta merentangkan satu tangannya, mempersilakan Shinji berjalan lebih dulu.
Mau tak mau, dengan langkah berat, Shinji berjalan, diapit oleh dua orang pria yang berdiri di belakang Kyouta, menuju mobil sedan hitam yang telah menunggu.
.................................

“Anda harus makan, Nona Lea,” perempuan muda yang bernama Sika, itu membujuk Lea untuk makan makanan yang dibawanya. “Anda sudah tidak makan seharian. Anda bisa sakit.”

Lea tak menyahut. Terus berbaring tengkurap di kasur tempat tidur besar di dalam kamar tempatnya disekap sejak kemarin. Matanya bengkak dan merah, karena tak berhenti menangis. Dia bingung, ketakutan dan juga cemas. Kebingungan akan apa yang sebenarnya sedang terjadi, ketakutan akan disakiti dan cemas akan keadaan Juna. Terus-terusan berdoa Juna baik-baik saja sekarang. Dia tak bisa membayangkan Juna celaka atau mati karena dirinya.
Orang-orang ini berbahaya, Lea yakin itu.

“Kalau Nona Lea ingin tahu keadaan Chef Juna,” Sika berbisik. Mata Lea membundar, buru-buru mengangkat wajahnya untuk menatap Sika, “dia baik-baik saja,” katanya. “Tapi...”
“Tapi apa?” Mata Lea membeliak penasaran.
“Saya nonton di berita tadi siang... Chef Juna menghilang dari rumah sakit.”
“Apa?”
“Ya. Dia menghilang. Polisi belum bisa mengatakan apa-apa. Maksudnya, apa dia diculik atau pergi dari rumah sakit. Mereka belum tahu.”
“Tapi... dia hidup kan? Maksudku... dia tidak...”
“Dia luka-luka, dan mengalami gegar otak akibat pukulan benda keras di kepala,”—Lea menutup mulutnya, cemas—“tapi... dia hidup,” jelas Sika. “Nona Lea bisa lega sekarang.”

Lea duduk tegak di atas kasur sekarang. Teringat kalimat terakhir Juna, saat mereka berpisah—“Aku akan mencarimu, Lea!”, dan entah kenapa merasa lebih lega dari sebelumnya. Dia sebenarnya tak mengharapkan Juna mewujudkan kata-katanya, namun setidaknya Lea merasa tenang mengetahui dia baik-baik saja. Dimana pun Juna sekarang, Lea berharap dia selamat. Dia tidak diculik. Tidak dalam keadaan bahaya.

“Nona Lea, mau makan sekarang?” Sika bertanya, memandangnya ragu. “Sedikit saja.”
Kendati sama sekali tak berselera, Lea meraih piring berisi nasi dan lauk—Lea tidak memerhatikan lauk apa itu, mengambil sendoknya, kemudian menyendok makanan untuk disuapkan ke dalam mulutnya.

Pahit. Karena dia sama sekali tidak makan atau minum apa pun dari pagi tadi. Bibirnya kering. Sika duduk di tepi tempat tidur, mengamatinya.
Lea tidak tahu kenapa dia begitu baik. Sejak dia dilempar ke dalam kamar ini, hanya dia satu-satunya yang memerhatikannya. Membawakannya air hangat untuk menyeka wajahnya yang basah oleh keringat, mengobati luka lecet di kakinya, bahkan membasuhnya dengan air hangat. ecet karena terseret dengan air hangat. Dan meskipun Lea tak menyentuhnya, dia tetap membawakan makanan untuknya; membujuknya untuk makan.

“Siapa orang-orang ini sebenarnya?” Lea menanyai Sika, seraya mengunyah makanan di mulutnya. “Kenapa mereka menculikku?”
“Saya tidak berani menjawab pertanyaan Nona,” kata Sika. “Saya hanya pelayan. Tidak boleh mencampuri urusan Tuan saya, maupun...” Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Menunduk.
“Kenapa kau menjadi pelayan di sini?”
Sika mengangkat wajahnya lagi. “Orang tua saya sudah mengabdi sejak lama. Maaf, Nona. Saya tidak bisa bicara lagi.” Dia tampak ketakutan. Melirik ke kanan dan ke kiri seakan ada yang mendengar. “Maaf, Nona Lea.”

Kecewa, tapi merasa iba pada Sika, Lea tersenyum, mengangguk kecil, kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Suara kendaraan menderum keras dari luar memasuki halaman. Tampaknya ada yang baru datang.  Sika buru-buru berdiri, dan berjalan menghampiri jendela. Segera berbalik dan mendekati tempat tidur. “Saya pergi dulu, Nona,” pamitnya pada Lea. “Saya mohon, Nona tidak mengatakan kalau...”
“Tenang saja, Sika,” Lea menyela. “Aku tidak akan bicara apa pun.”
Sika tersenyum penuh terima kasih, setelah itu mengangguk, dan berpaling. Berjalan mendekati pintu, dan menghilang di baliknya. Terdengar suara ceklik keras, tanda pintu telah dikunci kembali.

Lea meletakkan piring di atas meja sebelah tempat tidur. Dia menoleh ke arah jendela, menyaksikan senja mulai beranjak gelap.

Sampai kapan aku di sini? Dia bertanya-tanya. Apa mereka akan membunuhnya? Menyakitinya? Memperkosanya? Atau mungkin akan memutilasinya?
Lea membungkuk memeluk lututnya. Air mata kembali berjatuhan, dari mata mengalir ke betisnya.
Apa semua ini ada hubungannya dengan Shinji, seperti yang pria itu katakan padanya kemarin, dia kembali memikirkannya. Apa Shinji yang membuatnya begini? Apa hubungan mereka dengan Shinji?

Saat Lea baru saja mengangkat wajahnya, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Menceklik keras, mengganggu kesunyian. Dan sejenak kemudian, pintu membuka, seorang pria masuk, disusul oleh seorang pria lagi, yang kemarin menodongkan pistol ke kepala Juna.
Dia tersenyum pada Lea.
............................................
gambar dari sini
Saat ini aku lebih mencemaskan orang lain,
daripada diriku sendiri.
Kenapa?

10 comments:

rona-nauli September 16, 2011 at 10:34 AM  

"saat ini aku lebih mencemaskan orang lain, daripada diriku sendiri. kenapa?"

hiks hiks...iya ya, Lit...kenapa?

l i t a September 16, 2011 at 10:41 AM  

@Rona: Kalau versi Lea, jelas karena rasa sayangnya sama Juna dan juga Shinji. Kalau versiku, aku lebih cemas dgn opini negatif orang drpd kedamaian diriku sendiri... kalau versi Madam...??? Ada apa nih, Madam? Siapa yang kau cemaskan?

*itu poto pake ngintip segala--LOL*

fitri,  September 16, 2011 at 11:30 AM  

Don't worry be happy ^^ mb,justru opini negatif itu yg akan membuat mbak lita semakin berkembang.Kalo menurut aq mbak lita itu baik,apalagi karyanya hmmm keren 2...banget so....mbak lita teruss lah berkarya...aku mendukungmu..^^

rona-nauli September 16, 2011 at 11:45 AM  

versi Lea.....huaaaaaa. eh, kau kenapa mikirin orang lain? :D

*beginilah pertanyaan orang yg suka cuek ma opini orang*

l i t a September 16, 2011 at 12:08 PM  

@Fitri: Thank you sayang... Thank you. Berarti sekali untukku.
Dukunganmu itu... wow!

@Rona: Versi Lea...? siapa tuh? *mengejap2 sambil menyeringai*

Iya. aku tuh sensitif sekali...
Sama kali kita ya...
Orang2 romantis, pastinya peka dan sensi... *siapa yang romantis lit?*
Rombongan makan gratis, maksudnya...

rona-nauli September 16, 2011 at 2:05 PM  

iya, kamu ma enno mah romantis abiss...salut deh :D

*yg komen ini jauh dari romantis :p*

ann September 16, 2011 at 8:44 PM  

"..bahkan membasuhnya dengan air hangat. ecet karena terseret dengan air hangat."

Hehe... Ini salah satu contoh yang menunjukkan tulisan2 mba lita slalu t'saji fresh from the oven.. Di episode2 sblmnya "Malini" sering jg t'ketik "Nalini"

Semua tidak mengurangi potensi cemerlang mba lita sebagai penulis fiksi yang sgt b'bakat... ;) m'inspirasi banyak orang (t'masuk aku)

Maju terus yaa..

l i t a September 17, 2011 at 7:28 AM  

@Ann: Makasih ya Ann. Tq. Aku suka ketuker Nalini dan Malini. Dua2nya soalnya nama karakter yang aku pakai di novelku.Kadang lupa.

Ternyata kamu merhatiin tiap kaliamat yang aku tulis ya? Its an honor for me, punya pembaca seperti dirimu.

Trim, ya Ann. Aku jadi lebih semangat nih.

Hans Brownsound ツ September 17, 2011 at 8:14 AM  

litaaa..
aku seminggu loh di denpasar :)

l i t a September 17, 2011 at 9:17 AM  

@Hans: Masa Hans? Nginep dimana kah?

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP