LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (30)

>> Tuesday, September 13, 2011


The Hunter and The Guardian - part 2

JUNA berdiri di depan salah satu pintu kamar yang berjajar di sisi koridor. Mengangkat tangannya, dan mengetuk pintu tersebut tujuh kali dengan nada khusus, seperti yang Enno contohkan waktu mereka masih berada di dalam kamar di rumah sakit. Tak lama kemudian terdengar suara orang dari dalam. Suara anak kecil.

“Papa bawa oleh-oleh apa?” anak kecil itu bertanya, yang segera dijawab oleh Juna singkat, “Komik GTO.” (*GTO: Great Teacher Onizuka, salah satu komik Manga Jepang populer).
Terdengar suara ‘tet’ keras, dan pintu kamar itu mendadak terbuka diiringi ‘klik’ pelan. Tanpa ragu Juna mendorongnya, melangkah masuk ke dalam, langsung berhadapan dengan pistol kecil berperedam.
“Bono. Ini Juna,” kata Juna, melepas maskernya. Menunjukkan wajahnya yang bengkak dan penuh lebam. “Suara anak kecilmu kurang meyakinkan.”
“Wow,” laki-laki gempal yang memegang pistol menatap Juna seolah terguncang. Menurunkan pistolnya. “mereka benar-benar membuatmu babak belur.”  Bono tertawa, sempat nyengir sebentar melihat penampilan Juna, kemudian berbalik. Melangkah santai ke ruang tengah, menenteng pistolnya. “Kau masuk headline news barusan,” dia memberitahu Juna. Mengangguk ke arah televisi layar datar yang menempel di tembok yang menayangkan berita tentang hilangnya Juna dari Rumah Sakit.  Juna sama sekali tak memedulikannya. “Mereka sudah tahu kau hilang, dan... panik.” Dia duduk di salah satu sofa berlengan. Tiga laptop dan tiga ponsel berderet di atas meja kaca di depannya. “Banyak yang cemas padamu.”

Juna diam saja. Meletakkan tas yang dibawanya di atas meja, membuka baju yang melekat di badannya, kemudian menggantinya dengan kaus abu-abu berkerah serta celana jins hitam—agak sedikit kebesaran, yang ada di dalam tas hitam yang diberikan Enno. Enno bahkan telah menyiapkan sepasang sepatu dan sandal untuknya. Thanks again, No, gumam Juna dalam hati.

“Kepalamu tidak apa-apa?” tanya Bono, mengamati wajah Juna yang hampir tak bisa dikenali saking bengkaknya. “Aku dengar terbentur benda keras.”
“Pistol,” timpal Juna singkat. “Orang itu memukulku dengan gagang pistolnya.” Dia menjejalkan baju dan hijab yang dipinjamkan Enno ke dalam tasnya.
“Heran kau tidak apa-apa,” dengus Bono heran. “Kau bisa saja gegar otak—”
“Aku memang gegar otak.”
“Kalau begitu untuk apa kau kabur dari rumah sakit?”
“Kenapa mendadak kau jadi perhatian padaku?” tukas Juna jengkel. “Aku tidak ada waktu untuk mendengar basa-basimu.”
“Kau masih sama menyebalkannya seperti dulu.”
“Kau juga masih sama sintingnya.” Juna memandang berkeliling ruangan. Ruangan yang penuh dengan poster komik Jepang. Bono, teman nongkrongnya dan juga Enno dulu, memang maniak komik. Maniak komputer dan hal-hal yang berbau polisi. Pekerjaannya saja tak jauh-jauh dari itu: informan polisi (status: freelance). Dan dia adalah salah satu informan yang paling produktif, dan dapat banyak uang karena itu. Sayangnya dia tak bisa hidup tenang, karena selalu terancam bahaya, sehingga dia mempersenjatai diri, melengkapi ruangan tempat tinggalnya dengan sistem pengamanan canggih, yang dibuatnya sendiri, dan tinggal berpindah-pindah. Kebanyakan di perumahan yang padat dan kumuh.
Sudah lama Juna tidak bertemu dengannya. Hanya beberapa kali semenjak dia kembali ke Indonesia.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Bono bertanya. “Tenang saja, tak usah bayar. Untuk cinta, dengan senang hati aku akan membantu.”
Juna memutar matanya ke atas. Jengkel pada Enno, yang pastinya sudah bicara banyak sewaktu menelepon Bono. Tapi dia tak ada waktu untuk jengkel, ada hal yang lebih penting.
“Apa kau tahu siapa siapa yang menculik Lea?”
“Mana kutahu.” Bono memandang Juna seolah Juna sudah sinting. “Polisi saja bingung, bagaimana aku?”
“Kau bilang...”
“Setidaknya berikan aku clue,” sela Bono. “Ciri-ciri orang itu. Atau mungkin mereka menyebut sesuatu...”
Juna mengempaskan tubuhnya ke sofa. Mencoba mengingat-ingat. “Mereka semua bertato.” Itu yang pertama kali keluar dari bibirnya. “Seperti tato... Yakuza?”
Bono mengerutkan dahi. Matanya bergerak ke arah lain. Bibirnya mengerut. Dari tampangnya, jelas dia juga sedang berpikir.
“Lalu...”—“Pantas Shinji begitu mencintaimu...” Mendadak Juna teringat kalimat pria itu pada Lea kemarin, yang didengarnya samar-samar saat dia sedang menahan sakit di perutnya akibat pukulan. “Kemarin,” Juna memulai, menatap Bono dengan  ekspresi amat serius, “salah seorang dari mereka menyebut ‘Shinji’...”
Bono mengembuskan napas, menyandarkan punggungnya ke belakang. Memejamkan mata.
“Apa ada kaitannya Shinji dengan—Bono...?” Juna memiringkan kepalanya, mengamati Bono.”Apa kau tahu sesuatu?”

Bono menatap diam Juna selama beberapa saat, sampai akhirnya dia menegakkan tubuhnya kembali dan meraih salah satu ponsel di atas meja. “Aku baru dapat pesan pagi ini dari seorang teman. Aku pikir hanya hoax... Dia mengatakan,” Bono menyentuh layar ponselnya, menggerakkannya ke arah bawah untuk membaca, “kalau orang-orang yang menculik Lea adalah Yakuza O ushi. Yakuza yang sudah beberapa bulan ini memburu Shinji. Tampaknya mereka menculik Lea, untuk memancing Shinji keluar dari persembunyiannya.”

Juna tak dapat berkata-kata. Wajahnya seperti wajah orang yang baru saja diterpa angin kencang.

“Shinji Tsubaki,” Bono mengembuskan napas—tampaknya dia berat menjelaskannya pada Juna, “sebenarnya bernama Shinji Kodame.”
Mata Juna langsung melebar. “Jangan bercanda,” dengusnya.
Bono menarik salah satu laptop di atas meja. Mengetikkan sesuatu di keyboardnya. “Ini sebenarnya top secret,” Bono berkata sambil meng-klak-klik mouse di tangannya, “dan kalau kuperlihatkan pada orang lain, aku bisa saja masuk penjara atau bisa saja mati tapi... aku ingin membantumu.” Dia menekan tombol enter, lalu memutar laptop tersebut menghadap Juna.

Juna melihat sebuah foto. Foto bayi laki-laki, sepertinya baru berusia dua tahun, bersanding dengan foto Shinji. Nama di bawah masing-masing foto sama. Tapi nama belakangnya bukan Tsubaki, melainkan Kodame.
Perut Juna mendadak terasa mulas. Sama sekali tak menyangka Shinji Tsubaki yang dia dan Lea kenal memiliki hubungan darah dengan pendiri Yakuza di Jepang; Yoshio Kodame.
Juna memandang Bono lagi, seolah minta konfirmasi.

“Polisi telah menyimpan profilnya sejak dua tahun lalu,” Bono menjelaskan. “Dia sempat diawasi, namun setelah diyakini tidak terlibat kegiatan Yakuza apa pun baik di Jepang maupun di sini, Polisi tidak lagi menganggapnya penting. Meskipun... dia masih diawasi juga, sih.”
“Apa hubungannya dengan marga Kodame?”
“Shinji adalah anak laki-laki satu-satunya dari Yoichi Kodame. Adik kandung dari Souta Kodame, pemimpin Yakuza Jepang sekarang. Yoichi tidak terlibat kegiatan Yakuza lagi, sejak istrinya pergi dengan membawa Shinji, karena takut Shinji menjadi salah satu dari mereka. Dia mengganti nama belakangnya dan juga Shinji dengan Tsubaki. Nama orangtuanya.”
“Tapi... aku kira... ibunya orang Indonesia.”
“Darahnya Indonesia. Tapi... dia warga negara Jepang. Dia diadopsi oleh pasangan Jepang. Rumit pokoknya, masalahkeluarga mereka. Panjang kalau kuceritakan.”
“Dan kau tahu semua itu?”
“Aku yang me-research-nya,” jawab Bono. “ ‘Shinji’ ada di kepalaku.” Dia mengetuk dahinya. “Sekali lagi, aku tak seharusnya berbagi informasi ini denganmu.”
“Tapi... kenapa Lea—kenapa mereka mengejar Shinji? Mereka sama-sama Yakuza. Shinji juga tidak terlibat apa pun dengan Yakuza...”
“O ushi, bukan salah satu pecahan Yakuza Jepang,” Bono buru-buru menjelaskan. “Mereka bahkan bukan Yakuza, karena awalnya adalah perkumpulan eks tentara Jepang yang desersi dan tinggal di Indonesia. Namun... entah bagaimana prosesnya, lama kelamaan, mereka menyebut diri mereka Yakuza. Mentato seluruh badan mereka seperti halnya anggota Yakuza. Melakukan banyak bisnis ilegal—samalah dengan Yakuza. Dan... alasan mereka mengejar Shinji, karena mereka pikir Shinji telah menginjak-injak harga diri mereka; perkumpulan mereka. Tidak menghormati sama sekali.”
“Memangnya apa yang telah Shinji lakukan?”
“Hidup dan bekerja di wilayah kekuasaan mereka tanpa ijin.”
Juna mendengus tak percaya. “Alasan aneh, Kalau begitu semua orang—”
“Shinji adalah keluarga Yakuza,” sela Bono. “Sudah kewajiban dia melaporkan keberadaannya pada Yakuza yang berkuasa di mana dia tinggal. Membayar upeti setiap bulan; untuk keamanan. Konyol memang, tapi sudah rule-nya begitu.”
“Mereka bahkan bukan Yakuza.”
“Mereka sama kriminalnya dengan Yakuza.”
“Hanya kumpulan orang tolol—”
“Mereka sangat pintar dan licin. Jangan salah.”
“Polisi—”
“Tak ada yang berani pada mereka, karena mereka sangat berbahaya” sambung Bono buru-buru. “Karena itu... Lea...”
Alis Juna tertaut. Menunggu Bono melanjutkan kalimatnya. “Kenapa Lea?”
Bono tak langsung menjawab, menarik napas panjang dan mengempaskannya perlahan. “Kalau...” Bono berkata hati-hati dan sejelas mungkin pada Juna, “mereka mau dia hidup... maka dia akan hidup. Tapi kalau mereka mau dia mati, dia akan benar-benar mati. Mereka tidak bertindak setengah-setengah.”
“Maksudmu... tidak ada harapan lagi untuk Lea?”
“Mereka berbahaya, Juna. Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan untuknya.”
Juna menatap Bono dengan tatapan tak percaya. Menggeleng-gelengkan kepala, diiringi dengus lemah. “Kalau begitu, kenapa orang itu tidak menembakku?” Juna mengangkat dagunya. “Pistol sudah teracung ke dahiku. Kenapa dia tidak membunuhku?!”
“Aku tidak tahu...” jawab Bono, menaikan kedua bahunya. “Aku—”
“Karena itu jangan mengatakan padaku sudah tak ada harapan lagi untuk Lea!” Juna mendadak marah. Mendelik mengancam. “Jangan pernah menyuruhku untuk diam saja tanpa melakukan apa-apa hanya karena penelitianmu yang belum tentu benar.! Lea... tak ada hubungannya dengan Shinji. Dia tak seharusnya menjadi korban—”
“Shinji mencintai Lea, itu fakta,” kata Bono dalam suara tenang. “Bahwa dia mengundurkan diri dari dunia hiburan, agar tidak membahayakan Lea, itu fakta. Dan itu bukti, Juna... betapa berbahayanya mereka. Baik untuk Shinji maupun untuk Lea.”

Juna menggigit bibirnya, bangkit dari sofa, dan berjalan hilir mudik. Menyapu rambutnya ke belakang.

“Aku tidak tahu, kenapa mereka tidak membunuhmu kemarin. Tapi jangan berpikir dengan begitu mereka punya hati nurani, dan akan mengampuni untuk kedua atau ketiga kalinya. Mereka tidak selunak itu.”

Juna meremas rambutnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Luka di pelipisnya terasa sangat perih.

“Aku tahu bagaimana orang-orang itu, Juna. Aku psikolog. Saat aku bergaul dengan mereka, aku mempelajari mereka. Dan aku bisa membedakan, mana kriminal yang masih punya belas kasihan dan mana yang tidak.”

Juna masih diam, memandang keluar jendela.

“Aku tahu kau mencintai Lea, tapi... untuk saat ini... tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkannya.”
“Bagaimana kalau Shinji bersedia menyerahkan diri pada mereka? Apa Lea akan dilepaskan?”
Bono mengangkat pundaknya sekali lagi. “Entahlah. Bisa ya, bisa juga tidak. Lagipula aku tidak yakin Shinji akan datang untuk Lea.”—Juna mengernyitkan alis—“Meskipun dia berniat begitu, penjaganya tak akan membiarkannya. Shinji sangat dijaga oleh mereka.”
“O ushi ini... Mereka... Apa mereka cuma ada di Indonesia saja?”
“Memang pusatnya di sini, tapi mereka tersebar dimana-mana. Apalagi sejak pimpinan mereka tinggal di Amerika  untuk kuliah, jaringan mereka lebih diperlebar lagi. Mereka banyak merekrut orang-orang—”
“Siapa yang tinggal di Amerika?” sela Juna cepat.
“Pimpinan mereka, Dai Tanaka. Masih muda. Seumur dengan kita. Tapi bengisnya luar biasa.”
“Ada fotonya?”

Bono menarik lap topnya mendekat. Menggerakkan mousenya, mengkliknya beberapa kali, kemudian memutarnya lagi, agar Juna dapat melihat. “Itu dia. Polisi di sini menjulukinya, Mr. Nice Guy. Tampan dan amat sopan... kelihatannya.”

Juna membungkukkan badannya untuk melihat jelas foto Dai Tanaka. Lama dia mengamatinya, sampai akhirnya dia mendengus kecil, dan kembali memandang Bono dengan ekspresi bingung. “Kau yakin ini dia?”
“Ya. Itu top secret, oke?” beritahu Bono buru-buru. “Aku seharusnya tidak menunjukkannya padamu.”
Juna kembali mendengus. Menegakkan tubuhnya, kemudian berkata pada Bono, “Aku pinjam teleponmu sekarang.”
...................................................
gambar dari sini
Aku ingin memelukmu lagi.
Tak ingin kulepas.
Tunggu aku, dimana pun kau berada.
Aku akan datang untuk bersamamu

10 comments:

yuli' she,  September 13, 2011 at 5:29 PM  

beuh,,,mba lita hebat,,
ampe tau nama2 Yakuza segala,,
itu beneran ato fiksi aja mba??
tapi sumpah,,,ceritanya makin seru....knp g dibikin buku aja mba??biar orang yg g punya internet juga bisa baca,,klo perlu dibikin film sekalian heu,,,
mba aku minta tipsnya donk biar mood kita bwat nulis tetep berkibar and menggebu,,ga tiba2 layu apalagi tiba2 kehilangan ide cerita n_n,,,

l i t a September 13, 2011 at 9:33 PM  

Fiksi, Yuli. Mana aku tahu siapa pemimpin Yakuza sekarang... *nyengir*

Aku gak mimpi sampe dibukuin, apalagi difilm-in. Ada yang baca dan suka aja udah sukur. Cukup untuk nyuntik semangatku untuk nerusin cerita ini.

Kalau tips... aku jelas gak ada. Karena jujur aku juga sering stuck kok. Bingung mau tulis apa.
Tuh aku posting kebingunganku di blogku yang satu lagi. Baca aja di sana, ya...

Thanks suntikan semangatnya, Yuli.
Kamu ada blog gak?

deeo September 14, 2011 at 7:55 AM  

huhuhu....Juna sudah tinggalkan Lea daripada ntar bahaya!!!sini sama aku aja , pasti lebih aman!!!jiakakakakka....
mbak mbak.....semangat.....ayo nulis endingnya....aku penasaran Lea ma Juna ato ma Shinji . mbak...aku ngirim email minta diramalin lho!hahahaha

l i t a September 14, 2011 at 8:02 AM  

@Dee: dasar Deeo...
Btw, kalau mau diramal, add aja YM-ku ya... gak usah pake email2an. Aku tunggu, ya...
Thanks Deeo, atas komen rusuhnya.

fitri,  September 14, 2011 at 8:49 AM  

jadi..LEA d mana mbak???...hihihi...ternyata mb lita OK juga bikin crita ala detektif2 an...wess..mb lita paling OK....^^ak tunggu lanjutanya y...AZA-AZA fighting!!(sok korea...hahahaha)

l i t a September 14, 2011 at 9:03 AM  

@Fitri: selain menyeringai aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana kalimatmu, Fit. Jadi tambah semangat.

Banzaiiiii! (sok Jepang. LOL)

deeo September 14, 2011 at 10:29 AM  

aku udah add ym mbak , tapi masih pending . ym nya indar.meilita@yahoo.com kan?oiya ym ku apro_song@yahoo.co.id mbak , udah ku add , tinggal nunggu konfirm dari mbak...hahahahaha
jeee....komenku gak rusuh kok!cuma ngarep dapetin salah satunya aja ....Juna okeh...Shinji juga okeh....
SEMANGAT mbak!!!

yuli' she,  September 14, 2011 at 3:28 PM  

ak pny blog,,tp dulu sekarang tidak (kaya iklan aja)
ya itu tadi mba, awalnya semangat tapi kesininya wes deh ga to mo diapain tu blog terbengkalai begitu saja (kesian bngt yach blogku),,,
tar klo ada wkt aku bkn lg dech..jd smngt nich coz pngn niru mba lita wkwkwk

pokoke,,,SEMANGAT YO MBA,,,

ann September 15, 2011 at 9:22 PM  

Kerrreeeeennnnn.... Two thumbs up deh!!

Klo filmnya dah jd aku beli dvdnya deh, biar bisa nonton b'ulang-ulang... Hohoho, asal Juna jd pemeran utamanya..

Yg cocok jd shinji tuh Rio Dewanto, Jepang yg udah ke-Indonesia2an, Lea?
Nadine Ames, boleh juga.. Hehe.. Rambutnya, kurusnya, t'utama wajahnya.. Pas jadi Lea..

Yukk mba, semangat!! Biar cepet jd filmnya.. ;)

l i t a September 16, 2011 at 9:25 AM  

@Ann: Ma kasih Annnnnnnnn... Amin ya. Semoga bener2 bisa jadi film! *berbinar-binar* mimpi aja boleh toh? LOL

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP