LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (29)

>> Monday, September 12, 2011


The Hunter and The Guardian-1

PRIA itu, seperti biasa, setiap pagi selalu berada di dermaga kecil Danau Biru itu. Menyelubungi tubuhnya dengan selimut wol tebal, dan duduk bersila di atas permukaan kayunya yang sedikit lapuk, dengan cangkir berisi kopi panas di tangannya.

Dalam diam dia menyambut matahari pagi yang merayap bangkit dari timur. Senang menjadi saksi atas peristiwa alam yang ternyata sangat mudah ditemukannya di tempat ini. Dia menunggu sampai sinarnya menukik ke permukaan danau. Menyorot airnya, membuatnya berkilauan bagai berlian yang tersembunyi di dasar air. Indah, menurutnya. Setidaknya menghiburnya untuk beberapa waktu; mengusir kebosanan, yang beberapa bulan ini menderanya.

Dia menyeruput kopi di cangkirnya, masih memandang ke seberang. Ke arah rerimbunan pepohonan yang balas menatap. Dia tersenyum pada mereka, teman-teman semu yang selalu disapanya setiap kali dia duduk di dermaga ini. Mengangkat cangkirnya, seolah menawari mereka minum bersama, baru setelah itu kembali meneguknya.
Dia berpikir kalau dia sudah gila.

Shinji Tsubaki memejamkan matanya. Sejenak. Tak perlu lama. Hanya sekadar mengecek ingatan akan sosok yang dirindukannya. Yang setiap hari berusaha dijaganya untuk tetap utuh.
Lea, dia memanggil namanya dalam hati. Apa kau senang menerima hadiahku?

Dua hari lalu, begitu pengawasannya lengah, Shinji berangkat ke Jakarta. Meskipun hanya bisa meninggalkan bunga Lili dan bingkisan ulang tahunnya di depan pintu, dia cukup senang, karena telah berada di tempat yang sama dengan Lea selama beberapa saat.
Sengaja dia tak menemui Lea, bahkan memandang wajahnya dari kejauhan, karena selain dilarang, dia berpikir lebih baik begitu.
Ya, lebih baik begitu, Shinji membatin.

“SHINJI!” Seseorang memanggilnya dari belakang. Langkahnya begitu cepat, menghujam permukaan kayu dermaga. Berderap-derap mengancam.
Suasana hatinya pasti sedang tak baik. Shinji memutar matanya ke atas. Cuek, meneguk kopi dari cangkirnya. Tidak repot-repot memalingkan wajah untuk melihat siapa yang datang.

“Shinji.” Seorang pria dengan kaus dan celana trening berdiri di belakangnya—tampaknya baru bangun tidur. Matanya yang sedikit sipit, menjadi semakin sipit. Rambut hitamnya mencuat ke segala arah, Wajahnya tampak marah. Napasnya tersengal seakan saja baru berlari jauh.
“Ada apa?” toleh Shinji sekilas. Mendongakkan wajah. “Tumben kau pagi-pagi sekali sudah bangun.”
“Apa kau sempat ke Jakarta?” pria itu bertanya.
Alis Shinji mengernyit. Darimana dia tahu? Shinji bangkit berdiri, memutar tubuhnya menghadap pria itu. Mulutnya membuka, bermaksud menyangkal, namun begitu melihat gadis cantik yang berdiri di belakang pria itu; menundukkan kepala dengan wajah cemas, dia menutup mulutnya lagi. Mengembuskan napas tajam.
“Shin?” Pria di depannya mengernyit. Menunggu jawabannya.
Shinji mendengus kesal, kemudian menjawab, “Ya. Aku ke Jakarta. Untuk jalan-jalan...”
“Jangan bohong! Kau menemui Lea kan?” Pria itu kelihatan sangat marah sekali.
“Aku...” Shinji menggeleng.
“Chiyo sudah mengatakannya padaku. Jadi jangan coba-coba berbohong.”
Gadis di belakang pria itu menyembunyikan wajahnya yang pucat di balik rambut lurusnya yang terjurai. Tidak berani menatap Shinji. Sekali lagi Shinji mendengus, menarik turun selimut wol yang menyelubungi badannya, membiarkannya menggantung canggung di satu tangan.
“Kalau kau sudah tahu begitu banyak kenapa bertanya lagi padaku? Lagipula apa masalahnya?”
“Masalahnya adalah mereka melihatmu, dan sekarang mereka menyandera Lea karenamu!” hardik pria itu garang.
Wajah Shinji seketika beku. “A-apa?”
“Aku tidak percaya kau tidak menuruti apa yang sudah kukatakan padamu. Betapa berbahayanya tindakanmu itu! Kau membahayakan dirimu sendiri, dan juga orang-orang yang dekat denganmu.”
“Tapi... Eiji, darimana kau tahu, Lea...”
“Arata meneleponku pagi ini, kalau dia mendapat telepon dari mereka, yang mengatakan kalau Lea ada bersama mereka,” jawab Eiji tegang. “Mereka ingin kau datang kalau mau dia selamat.”
“Aku akan kesana!” Shinji menggerakkan kaki hendak pergi, melempar selimut wol yang dipegangnya ke lantai kayu, namun Eiji mencegahnya, mendorongnya lagi ke belakang. “Biarkan aku pergi!”
“Kau mau mati?” Rahang Eiji mengeras. “Kau kira aku akan membiarkannya? Aku sudah bersumpah untuk menjagamu pada ayahmu!”
“Dia bukan ayahku!” bentak Shinji. “Kau kira aku mau ada di sini, kalau bukan karena ibuku?! Kalau ibuku tidak kalian bawa paksa—”
“Ibumu pergi dengan suka rela!” sambar Eiji marah. “dan kau tahu itu. Dia mencintai ayahmu, begitu pun ayahmu sebaliknya. Dia membawanya kembali ke Jepang karena harus! Untuk melindunginya sama seperti dia melindungimu di sini!”
“Aku tidak butuh dilindungi. Aku bukan bagian dari keluarga—”
“Kau anak ayahmu!”
“Aku bilang dia bukan ayahku!” Shinji habis kesabaran. Menarik kerah kaus Eiji. Satu tangannya terangkat, terkepal, siap menghantam, namun kemudian, dia melepaskannya. Tidak melakukan apa yang ingin dia lakukan. Mundur ke belakang, lalu berpaling menghadap danau yang telah bercahaya keemasan. Meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Tampak putus asa.
“Bersiaplah,” kata Eiji datar. “Aku akan membawamu ke Jepang hari ini.”
Shinji mendengus. “Lea? Bagaimana dengannya?”
“Biarkan polisi yang mengurusnya. Seseorang pasti akan segera melaporkan perihal kehilangannya,” kata Eiji dingin, kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan dermaga.
Chiyo tetap di sana. Berdiri canggung di belakang Shinji. Rambut hitam lurusnya melambai tertiup angin, dan dia segera menahannya dengan tangannya yang berwarna pucat.

“Maaf, Shinji...” gumamnya lemah. “Kakak...”
“Bukan salahmu,” sela Shinji. “Salahku.” Shinji berbalik, menatap Chiyo yang matanya berkaca-kaca. “Kau harus memberitahunya.” Dia tersenyum muram.
“Apa kau akan pergi ke Jepang?”
Shinji memandang Chiyo lekat-lekat selama beberapa saat, kemudian berkata, “Menurutmu... apa aku akan pergi?”

Chiyo tidak menjawab. Hanya mengembuskan napas dan mengangguk lemah. Tersenyum muram.
........................................

“Aku tidak percaya aku melakukan ini untukmu,” gerutu perempuan bertubuh mungil itu pada seorang perempuan berhijab, dengan masker menutupi setengah wajahnya, yang duduk di atas kursi roda yang sedang didorongnya. “Berkomplot denganmu untuk kabur dari rumah sakit.”
“Terima kasih, Enno,” bisik perempuan itu dalam suara parau—agak sedikit berat untuk suara seorang perempuan sebenarnya. “Aku berhutang padamu.”
“Apa aku akan ditangkap karena ini?” tanya Enno, sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
“Bisakah kau berhenti terus-terusan cemas, dan mendorong kursi roda ini dengan sikap wajar?” kata perempuan berhijab itu sebal.

Enno langsung diam. Berjalan senormal yang dia mampu, mendorong kursi roda di depannya sekuat tenaga ke arah pintu keluar rumah sakit.

“Ampun deh, kau berat sekali—Oh..., wartawan...” bisik Enno cemas. Begitu mereka mencapai ambang pintu, dan melihat banyak orang membawa kamera, mikrofon dan entah apa lagi berkumpul di depan teras rumah sakit. Duduk-duduk di pembatas taman sambil mengobrol, sambil sesekali memandang ke dalam gedung.
“Bersikap biasa saja,” bisik si perempuan berhijab lagi pada Enno yang terus mendorong kursi roda melalui jalan khusus kursi roda. “Pelan-pelan, jangan cepat-cepat, agar mereka tak curiga.”

Enno menurut. Berusaha memperlihatkan wajah santai terbaiknya di depan orang-orang itu, yang sebagian sedang memandanginya, mendorong kursi roda itu menuju tempat parkir di mana mobilnya berada. Dan langsung mengeluarkan keluh lega ketika akhirnya mereka berdua telah berada di samping mobil Estillo merahnya.
“Apa aku perlu berpura-pura mengangkatmu ke mobil?” tanya Enno, memandang perempuan berhijab tersebut. “Kalau begitu aku menyerah.” Dia mengangkat kedua tangannya seperti orang yang kalah perang.
 Si perempuan berhijab membelalakan mata. Bangkit, dengan susah payah—“Aktingmu boleh juga,” kata Enno geli, berpegangan pada badan mobil.
“Aku tidak akting. Badanku benar-benar sakit,” tukas si perempuan berhijab gusar. “Seharusnya kau bukakan aku pintu.”

Enno menyipitkan mata, jengkel tapi buru-buru meraih gagang pintu belakang, menariknya membuka, dan mempersilakan si perempuan berhijab masuk. Menutupnya lagi, setelah perempuan itu telah duduk nyaman di belakang.
Setelah itu dia berjalan memutari mobilnya. Membuka pintu, dan masuk ke dalam mobil. Memasukkan kunci, memutarnya dan mencengkeram kemudi.

“Lebih baik kau tidak usah buka dulu baju itu, Juna,” saran Enno, menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah si perempuan berhijab yang ternyata adalah Juna yang telah melepas maskernya. Keringat bercucuran dari bagian atas wajahnya, meleleh sampai ke pangkal leher. “Bahaya kalau sampai kelihatan.”
“Aku tahu, No,” timpal Juna. “Aku kepanasan,” ujarnya pada Enno. Melempar asal masker yang tadi dipakainya. “Lebih baik kita segera pergi dari sini.”
Enno mengangguk. Menggerakkan persneling mobil, dan menekan pedal gas dengan kakinya. Mobil itu mundur perlahan, kemudian maju, memutar ke kanan. Beranjak meninggalkan pekarangan rumah sakit.

“Benar kau tidak apa-apa?” Enno bertanya cemas, mengamati Juna melalui kaca spion depan. “Wajahmu...”
“Hanya memar,” sahut Juna. “Nanti juga hilang...”
“Tapi kepalamu...”
“Aku tidak apa-apa,” tegas Juna. “Tolong berhentilah mencemaskanku.”
Enno mengangkat bahunya, menatap ke depan, berkonsentrasi mengemudi melewati jalan raya ramai.
Thanks... anyway,” kata Juna, memandang Enno melalui kaca spion depan. “Ini riskan tapi kau tetap membantuku.”
Enno nyengir, balas memandang Juna. “It’s fun, hey. I love action. Adrenaline rush. Seperti adegan film action,” ujarnya, membuat Juna mendengus geli. “Lagipula, ini bukan kriminal. Kau hendak menyelamatkan Lea, kan? Oho,” Enno menyeringai seraya menggelengkan kepala, “bisa kubayangkan bagaimana paniknya mereka begitu tahu kau tidak ada di kamarmu. Infotainment pasti akan memberitakan yang aneh-aneh. Kau tidak khawatir dengan itu?”
“Untuk apa aku khawatir dengan pemberitaan-pemberitaan konyol. Lagipula aku tidak pernah nonton berita gosip.”
Enno terkekeh, kini berbelok ke sebuah area rumah susun yang tampak kumuh. Memperlambat laju mobilnya, melewati sekumpulan anak laki-laki yang sedang bermain bola di areal yang sebenarnya adalah tempat parkir.

“Kau yakin mau masuk ke sini?” tanya Enno dengan ekspresi cemas, begitu melewati beberapa pria yang sedang duduk-duduk di pintu masuk gedung rumah susun; badan mereka besar, wajah mereka garang. Cukup menakutkan.
“Aku harus menemuinya. Cuma dia yang bisa kutanyai tentang itu,” jawab Juna.
“Aku tak menyangka profesi Bono bisa berguna juga,” timpal Enno, menghentikan mobilnya. “Aku sangat meremehkannya.”
“Sama sepertimu,” balas Juna, “dia kecanduan action.”
“Aku sudah tobat,” kekeh Enno. “Sekarang aku ‘girly’”
Juna turut terkekeh, kemudian berkata, “Terima kasih, No. Aku... benar-benar berhutang padamu. Kau pulanglah sekarang.”
“Kau bagaimana? Siapa yang akan mengantarmu nanti?”
“Kau bertanya begitu padaku, Juna, si Dare Devil?” Juna bertanya, pura-pura tersinggung. “Kau benar-benar merendahkanku dengan pertanyaanmu, seolah-olah aku akan menangis karena tak ada yang mengantar.”
Enno tergelak, kemudia mengangguk. “Oke,” katanya. “Good luck.”
Juna membalasnya dengan senyum. Membuka pintu belakang mobil.
“Oh, Juna,” Enno kembali memanggilnya, dan Juna menatapnya penuh tanya, “aku membawakanmu baju ganti,” katanya. “Di bagasi mobil.”
“Thanks,” senyum Juna penuh terima kasih.
“Mudah-mudahan pas. Punya... seseorang dulu—jangan coba-coba kau sebut namanya!” Enno mendelik pada Juna, yang mulutnya baru akan membuka untuk menyebut nama seseorang. “He’s dead.
Bye, No,” pamit Juna, menahan tawa. Mengenakan maskernya kembali. “Thanks for everything.”
Setelah itu dia turun dari mobil, masih memakai baju panjang dan hijabnya, berjalan ke belakang mobil, membuka pintunya, menarik keluar tas hitam yang telah disiapkan Enno, dan kembali menutupnya.

Juna melambai sekilas pada Enno, kemudian berjalan tertatih menuju pintu masuk gedung. Tidak menengok ke belakang lagi.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
..............................................
gambar dari sini

6 comments:

ann September 12, 2011 at 12:01 PM  

asyiiikkkkk.... lanjuutttt!!

(kaki, tangan, badan pada gatel-gatel semua.. gatel baca yang part two)

rona-nauli September 12, 2011 at 12:05 PM  

hohohoho...kayanya aku kenal nih yg nolongin Juna :D

l i t a September 12, 2011 at 12:16 PM  

@Ann: Asik asik! Ann gatel-gatel *ikut garuk2*

@Rona: siapa ya itu? *wkkkkkkk*

vee,  September 12, 2011 at 1:12 PM  

yay..ternyata bener shinji yg ninggalin kado but lea.....kirain juna yg kasi n pura2 gag tahu...wkwkwkwk...semangat y sis ^^

Henny Yarica September 12, 2011 at 2:11 PM  

aaahhhh..lanjutannya hari ini juga dong mbak lita. hiks, please *sad eyes puppy*

EnnyLaw September 12, 2011 at 6:55 PM  

sudah aku duga itu dari sinji!
whahaa, si juna pake krudung!?wkkk

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP