LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (28)

>> Saturday, September 10, 2011


What The Hell...?

SEPANJANG jalan baik Lea maupun Juna hanya diam. Juna sibuk dengan kemudi, sementara Lea lebih tertarik memandang keluar jendela, Memerhatikan lampu-lampu jalan yang mereka lewati satu demi satu.
Keduanya masih tampak canggung satu sama lain, setelah akhirnya mereka resmi pacaran beberapa waktu tadi.

“Kau dingin Lea?” tanya Juna saat mobil mereka berhenti menunggu lampu merah.
“Tidak. Tidak terlalu,” jawab Lea, tersenyum kecil.
“Kalau dingin... kau bisa pakai jasku,” Juna menawarkan.
“Oh, tidak. Tidak usah. Sweaterku lumayan tebal. Ini Cashmere.” Setelah mengatakan itu, Lea langsung membodohi dirinya sendiri. Seharusnya dia terima saja tawaran Juna untuk menghargai perhatiannya, tapi dia malah menolaknya. Malah menyombongkan sweater Cashmere-nya yang sebenarnya tak perlu. Kampungan sekali.
Juna mendengus tersenyum. Mengangguk, sementara Lea cuma bisa meringis. Tak enak hati.
“Kau mau mengajakku kemana?” Lea memberanikan diri bertanya. Mobil Ford yang dikendarai Juna kini kembali melaju.
“Rahasia...” jawab Juna, tersenyum simpul.
Lea mengangguk, menghadapkan wajahnya ke depan. Sejenak kemudian dia merogoh tasnya, mengeluarkan jam saku perak untuk melihat waktu.
“Jam yang bagus,” puji Juna. “Antik sekali. Pasti mahal.”
Lea menimang jam saku tersebut. Memerhatikannya lekat-lekat. “Ini kado,” katanya. Dia kemudian mengangkat bahunya sedikit.
“Dari Malini?”
“Bukan,” geleng Lea. “Aku sendiri tidak tahu, dan masih bertanya-tanya. Tengah malam tadi, ada yang mengirimkan sms ke ponsel, memintaku mengambil sesuatu di luar apartemen. Saat aku keluar, ada buket bunga Lili besar dan kotak kecil berisi jam ini di depan pintuku. Ada kartu ucapan, namun tak mencantumkan nama pemberinya.”
“Dan kau dengan bodohnya langsung keluar setelah membaca pesan itu?” Juna menggeleng-gelengkan kepala. “Kau seharusnya tidak gegabah begitu, Lea. Bagaimana kalau ternyata pesan itu hanya jebakan dari orang-orang yang ingin berniat jahat padamu?”
“Aku... tidak berpikiran sampai jauh begitu,” balas Lea. “Aku mungkin terlalu senang ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku tepat saat pergantian hari, dan meninggalkan sesuatu di pintuku sebagai kejutan. Aku tidak berpikir... kalau itu membahayakan.”
“Untungnya... tidak membahayakan,” timpal Juna.
“Aku kira itu... kau,” kata Lea lagi. Pelan. Menunduk memandang dasbor di depannya.
Juna menengok ke arahnya sekilas. Tidak berkata lagi. Setelah itu dia mendengus, dan kembali memandang ke depan. Berkonsentrasi mengemudi.

Diam lagi.

“Oh, shit,” Juna menyumpah, melihat kemacetan di depannya.
“Ya. Shit,” Lea menimpali, ikut memandang ke depan. Bersedekap dengan wajah prihatin.
Juna mendengus geli, menoleh Lea, yang juga ikut menoleh. Mereka bertukar senyum kemudian terkekeh bersamaan.
“Kau tidak pantas menyumpah seperti itu,” kata Juna masih tertawa, seraya membelokan stir ke kanan, berbelok ke sebuah komplek perumahan. “Kedengaran aneh.”
“Aku sering kok menyumpah,” kata Lea, seolah saja itu sesuatu yang bisa dibanggakan. “Sering... kalau sedang sendirian.”
Juna kembali tergelak. “Kau baru bisa disebut menyumpah kalau kau mengatakannya di depan orang lain.”
“Begitu ya?” tanya Lea pura-pura tak mengerti, menengok memandang Juna, kemudian tertawa lagi.

Suasana hening lagi. Juna kembali berkonsentrasi mengemudi, dan Lea kembali memandang keluar jendela.

Lea memandang kagum rumah-rumah besar yang mereka lalui. Rumah-rumah mewah yang harganya pasti mencapai miliaran rupiah, dengan pagar tinggi, yang tak memungkinkan orang di luar melihat ke dalamnya. Jalan aksesnya pun beraspal dan luas. Nyaman untuk berkendara. Meskipun begitu komplek perumahan ini amat sepi. Lampu-lampu jalan di sisi kanan dan kirinya juga banyak yang mati. Pasti seram kalau lewat sini sendirian.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Lea.
“Hanya lewat saja. Untuk menghindari macet. Perumahan ini punya jalan alternatif. Aku sering lewat sini kalau naik motor,” Juna memberitahu.
Lea mengangguk. “Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Lea lagi. Penasaran.
“Aku sudah bilang tadi; rahasia.”
“Tapi...”
Mendadak terdengar derum suara dari belakang, diikuti sorot terang dari lampu mobil yang menyorot lurus ke dalam.
Ada mobil di belakang, Lea bertanya-tanya heran. Sejak kapan?

Juna melihat ke spion depan. Dahinya berkerut kuat. Dia sepertinya juga berpikiran yang sama dengan Lea. Heran dengan kemunculan mobil lain dengan tiba-tiba.
Tapi ternyata bukan hanya satu mobil. Ada beberapa mobil lagi. Dan semuanya berwarna gelap. Salah satunya menyalip mobil Juna, berjalan di depannya. Dan satu lagi merendengi mereka, melaju persis di sebelahnya.

Entah kenapa perasaan Lea jadi tidak enak. Dia menoleh Juna, yang terus-terusan melihat ke kaca spion depan, sesekali mengerling ke mobil yang melaju di sebelah kirinya.

“Juna...”
“Tenang, Lea,” ujarnya buru-buru. Nada suaranya serius.
Lea menoleh ke mobil di sebelah kirinya. Jantungnya berdegup tak beraturan ketika jendelanya membuka perlahan. Memperlihatkan orang yang berada di di baliknya. Seorang pria memalingkan wajah ke arah mereka. Lea tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun dia sangat mengenal apa yang dipegangnya. Pistol. Dan Lea langsung ketakutan.

Lea tidak mampu lagi mengatakan apa pun. Hanya menunjukkan ekspresi ngerinya pada Juna, yang balas memandangnya penuh kecemasan.

Suara klakson terdengar berulang-ulang dari mobil belakang. Sementara dari mobil sebelah, orang tersebut mengacungkan pistol memberi isyarat pada Juna untuk berhenti.

“Lea menunduk,” kata Juna tegas pada Lea. Dan saat Lea hanya menganga tak mengerti, Juna langsung menekan punggungnya dengan tak sabar, lalu mempercepat laju mobilnya.

Lea sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan apa yang sedang berusaha Juna lakukan. Dia sangat ketakutan sampai-sampai tak sanggup untuk berpikir. Tubuhnya gemetaran. Mendekap tasnya erat-erat.

Tiba-tiba mobil merem mendadak. Juna membanting setirnya  ke kanan, membuat Lea terempas ke arah depan, dan dahinya terantuk persneling mobil yang lumayan keras. Dia mengaduh kesakitan, dan Juna segera meraihnya dengan panik.
“Lea kau tidak apa-apa?” tanyanya panik. Mengusap rambut yang menutupi wajah Lea, mengusap dahinya.
“Tidak,” jawab Lea meringis. “Hanya terbentur sedikit,” ujarnya.

Juna membantu Lea menegakkan badannya. Mengusap pipi dan dahi Lea yang basah oleh keringat, mengamati wajahnya dengan khawatir. “Maaf, Lea,” kata Juna penuh rasa bersalah.
“It’s okay,” kata Lea, menyentuh tangan Juna yang mengusap pipinya. Mencoba menenangkannya.

Suara pintu mobil dibuka dan kembali ditutup terdengar susul-menyusul dari luar, diikuti derap langkah mendekat. Juna melihat ke arah depan, samping dan belakang, ke arah orang-orang bertubuh tinggi besar yang berjalan mendekati mobilnya.
Lea kebingungan melihat pria-pria itu. Siapa mereka? Dan mau apa? Wajah mereka... Lea sama sekali tidak mengenali. Mereka berwajah oriental. Dengan rambut hitam berminyak, dan tato di sekujur badan masing-masing. Ekspresi mereka bengis.

“Turun!” Seorang pria menggebrak jendela di sebelah Lea dengan kasar.
“Juna...” Lea memandang Juna penuh tanya, berharap dia dapat memberikan solusi yang tepat untuk itu.
Juna diam seribu bahasa. Tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras. Dia tampak... murka. Namun begitu dia menatap Lea, sorot matanya sedikit melembut.
“Kau bisa menyetir?” dia menanyai Lea.
“Ya... Sedikit,” jawab Lea tak mengerti.
Juna mengembuskan napas. Tersenyum lega. “Apa pun yang terjadi... jangan keluar,” katanya, seraya mengusap rambut Lea. “dan langsung pergi dari sini begitu ada kesempatan.”
Mata Lea melebar cemas. “Ma-maksudmu?”
Juna menggeser badannya ke pinggir. Dan Lea langsung panik. Dia menyambar lengan Juna, mencengkeramnya kuat-kuat. “Jangan,” pintanya memelas. “Jangan keluar, Juna. Tolong.”
“Aku tidak akan apa-apa,” kata Juna. Matanya mengejap lemah. “Kunci pintunya.”
“Please, Juna. Juna!
Juna tak menghiraukan panggilan Lea. Membuka pintu, keluar dari mobil, dan secepatnya menutupnya lagi. Lea buru-buru mengunci pintu mobil, bergeser ke kursi pengemudi. Dia sudah tidak tahu apa lagi yang seharusnya dia lakukan, selain mematuhi perintah Juna, dan menunggu.

“Ada apa ini?” Juna bertanya pada salah seorang pria yang berdiri persis di depan mobilnya. Satu-satunya pria yang menyampirkan jasnya di pundak. Kalung rantai perak dengan menggantung di lehernya, memanjang ke dadanya yang terbuka, Tubuhnya tinggi kurus. Tampan, namun bengis.
“Aku tidak ada urusan denganmu,” katanya angkuh. Dagunya menukik ke atas. “Mundurlah,” dia mengangguk pada Juna. Memberinya isyarat untuk mundur ke belakang. Di belakangnya dua orang laki-laki berbadan besar berjaga. Menatap mengancam.

BRAKKK!
Lea langsung memekik. Kaca jendela sebelahnya kembali dipukul. Pria yang berdiri di sebelahnya kembali berteriak, “KELUAR!” membuatnya gemetaran. Kebingungan.

“HEI!” Juna berteriak. Melangkahkan kakinya ke arah pria tersebut. Dua pria di belakang pria berkalung perak mencegahnya, melayangkan tinju ke arah wajah. Namun dengan sigap Juna menangkap tangannya, mengayunkan pukulan ke pipinya keras. Pria itu langsung terhuyung ke belakang, terjerembab ke aspal. Setelah itu dia menyikut pria satu lagi tepat di perutnya. Kembali melayangkan tinju ke wajahnya, membuat pria itu terjatuh.

Lea menyaksikan semua itu dengan tercengang. Mencengkeram stir kuat-kuat. Cemas dan lega bercampur jadi satu. Sungguh berharap orang-orang itu pergi setalah melihat  dua orang temannya limbung.
Tapi kemudian Lea melotot ngeri. Pria berkalung perak mengeluarkan pistol dari saku belakangnya dan menempelkannya tepat ke dahi Juna begitu dia memutar badannya.
“Berhenti atau kau terpaksa kutembak,” ancamnya dalam suara parau yang tak berbelas kasihan. “Aku tak ada urusan denganmu, aku sudah bilang itu.” Setelah itu pria itu menghadapkan wajahnya ke depan, melihat tepat pada Lea. Tatapannya membuat merinding. Begitu dingin dan kejam. “Keluar, Lea!” suruhnya dengan nada dipanjang-panjangkan. Kepalanya miring sedikit. “Atau kutembak pacarmu ini.”
“Jangan, Lea! Per—Ugh!” Juna mengaduh kesakitan. Salah satu pria yang tadi dipukulnya meninju perutnya dengan keras. Juna merosot ke bawah.
“Juna!” Lea menjerit. Hendak menekan kunci otomatis di pintu di sebelahnya, namun langsung terhenti begitu mendengar teriakan serak Juna. “Pergi, Lea! Jangan keluar!” Teriakannya itu berbuah pukulan telak di muka. Bibirnya sobek dan berdarah.

Lea bimbang. Kebingungan harus bagaimana. Dia takut, tapi dia lebih takut kalau orang itu benar-benar menembak Juna. Dia tidak mau Juna celaka, apalagi gara-gara dia.
Kenapa kau bingung? Suara kecil di kepalanya angkat bicara. Juna sudah mengatakan apa pun yang terjadi jangan keluar. Pergi secepatnya. Tidak usah ragu. Jangan sok pahlawan.

“LEA!” Pria berkalung perak itu menggebrak kap mobil di depan. Wajahnya yang tadi tanpa ekspresi kini tampak garang. “Jangan buat aku habis kesabaran!” Dia kembali mengacungkan pistolnya pada Juna yang terduduk di tanah. “Aku hitung sampai tiga! Satu!”—Napas Lea memburu. Bertambah panik. Juna mengerang di depan mobil. Berusaha bangkit, dan mendapat pukulan lagi di wajahnya, membuatnya kembali terjatuh—“Dua!” (Harus apa? Harus apa?) “Tig—”

Pintu mobil menceklik terbuka. Ragu-ragu dan ketakutan, Lea turun dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat. Salah seorang pria yang tadi memukuli Juna menghampirinya, mencengkeram lengannya, kemudian menariknya pergi. Membawanya ke hadapan pria berkalung perak tersebut.

Good girl,” katanya dingin diiringi senyum yang tak mencapai mata. Matanya yang hitam menyipit, mengamati Lea. Tatapan yang membuat Lea sungguh merasa tak nyaman. Membuat Lea seakan ditelanjangi. Meremehkan.
“Pantas Shinji begitu mencintaimu,”—mata Lea membulat mendengar dia menyebut nama Shinji—“kau cantik.”
“Apa hubungannya dengan Shinji?” Lea bertanya pada pria itu. Ketakutannya hilang seketika.
“Bawa dia!” Pria itu mengabaikan pertanyaannya. Mengedikkan kepala, memberi isyarat pada pria yang memeganginya untuk membawanya ke mobil. Pria itu mengangguk, dan menyeret Lea pergi.
“Lea!” Juna berteriak. Berusaha bangkit. Wajahnya sangat pucat.
“Aku tidak akan apa-apa, Juna!” kata Lea keras. Bibirnya menyunggingkan senyum yang terlihat menenangkan. Air mata meleleh ke pipinya.
“Aku akan mencarimu, Lea!” Juna berteriak sekeras yang dia bisa, berpegangan pada kap mobil. “Aku akan...” Dia terbatuk, menyemburkan darah yang memercik ke kemejanya.
“Aku tidak akan apa-apa,” katanya lagi, menenangkan. Dan sebelum dia menghilang dari pandangan, dia menyempatkan diri menoleh kembali, dan menggumamkan “I love you” tanpa suara pada Juna. Setelah itu dia pergi, bersama mobil yang membawanya menerobos jalan gelap.

Juna memandang mobil yang membawa Lea dengan putus asa. Dia sangat menyesal. Sangat marah pada dirinya sendiri karena tak bisa melindunginya. Bodoh sekali karena membuat wanita yang dicintainya berada pada situasi berbahaya. Andai saja dia lebih awas. Lebih waspada.

“Cinta...” Pria berkalung perak berjongkok di depan Juna. Berdecak yang kedengaran sangat menyebalkan. “Benar-benar bodoh...” Dia mendengus sinis. “Perempuan yang benar-benar bodoh, karena rela menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan pria sepertimu. Kau bahkan tidak tampan.” Dia memegangi wajah Juna, menggerakannya ke kanan dan ke kiri, seolah menilai. “Apa yang dilihat perempuan dari dirimu?”
“Aku akan mengejarmu...” Juna bergumam dalam suara lemah yang bergetar. Matanya terasa berat. Pria itu mengerutkan kening, mengerucutkan bibirnya, tersenyum sinis. “Kalau kau... atau siapa pun menyentuhnya... aku bersumpah... Kemana pun kau pergi... aku akan mencarimu...”
Suara tawa terdengar dari belakang pria itu. Berasal dari pria-pria bertubuh besar yang masih berada di sana. Menunggu bosnya.
“Akan kucincang kau habis-habisan... Akan memburumu...” lanjut Juna parau. Suaranya melemah.

Pria berkalung perak berdiri. Ikut tertawa bersama anak buahnya, kemudian mengacungkan pistolnya ke dahi Juna. “Sebelum kau melakukan itu, aku akan mencegahnya lebih dulu.” Dia menarik pelatuknya.


(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
.....................................
gambar dari sini




17 comments:

Anonymous,  September 10, 2011 at 11:29 AM  

Tuuu kannn... Seneng bgt bikin orang penasaran.... Lg hot2nya dicut ajah... Ojo suwi2 lanjutannya ya...

Henny Yarica September 10, 2011 at 1:49 PM  

wow..wow..wow..aku baru sekali ini baca cerita ini, ternyata menarik banget, trus ngebayangin Juna yg ada di cerita ini bikin jantung dag-dig-dug karena ngerasa terjun langsung ke dalam ceritanya. keren!!

psst..aku baca dari awalnya yaa ^^

l i t a September 10, 2011 at 2:35 PM  

@Anonym: Tuu kan, gak nyebut nama. Kamu gitu deh ih. Gak afdol jadinya gak tahu orangnya.
Anyway, makasih komennya. Mudah2an produktif nih otak ya... Semangat!

@Henny: ada ibu Henny cantik.
Silakan jeng, baca dari pertama. maaf kalau rada campur aduk, maklum gak pake plot.... Thanks ya...

Anonymous,  September 10, 2011 at 2:52 PM  

Hiks.hiks. Mbak lita bukan mksd hati menyembunyikan idntitas diri, tp inilah salah satu org gaptek di indonesia... Kl dari hp gak tau gmana cr masukin namanya... Tp yg pasti aku penggemar berat ceritamu lho... Tiap hour slalu mampir kesini...

l i t a September 10, 2011 at 3:40 PM  

@Anonim: Aku cuma bisa angguk-angguk, karena aku malah gak bisa komen kalau lewat BB. Boro-boro masukin nama. Sama aja berarti kita. LOL.

EnnyLaw September 10, 2011 at 4:37 PM  

whoaaaa!
asik banget nih,,ihiyyy..
ikutan dag dig dug nih,haha :p

kelly,  September 10, 2011 at 5:03 PM  

Kyaa... Knp pas asik2 nya bersambung? Jgn lama2 ya kak lita. Btw chef juna sama lea udah jadian ya? Kyaaa...

ann September 10, 2011 at 8:07 PM  

Surprised banget..!! Ada baku hantamnya juga mba??

Sayangnya si Juna ngga bisa karate, atau Judo atau semacamnya..

Tapi kerreeeennnn kok mbaaa....
Kira2 bsok dah ada lanjutannya blm yah? (Nguarep banget!)

Btw, aku selalu kome via bb.. Bisa tp memang agak susah.. :(

l i t a September 10, 2011 at 8:39 PM  

@Ann: makanya baca terus ya... Aku seneng bikin surprise... Biar gak ketebak endingnya *nyengir lebar*
Mudah2an besok bisa posting lagi...
Stay tune, Ann!

Asop September 11, 2011 at 8:47 PM  

Lea (tokoh fiktif :D ), Tak apa, mengumpat bisa meringankan beban hati. :)

rona-nauli September 12, 2011 at 12:08 AM  

JUNAAAAAA...tidakkkkk!!!!!!

*ambilkeripikkentang,siapinminuman,nunggukelanjutanceritanya* :))

deeo September 12, 2011 at 7:27 AM  

apa2an ini mbak!!!berani2nya mereka mukul Juna!!grrr...akan kusiapkan bala bantuan, power rangers , ksatria baja hitam , ultraman , sailormoon kalian SIAP???!!MELUNCUR!!!!

l i t a September 12, 2011 at 8:03 AM  

@Asop: Iya, memang... Btw. Thanks udah visit, dan baca... *senyum senang*

@Rona: sabar ya nunggunya. Masih stuck, Madam... *melet*

@Deeo: Waduh! Aku tak menyangka kau itu Sailor Moon! *uh oh*

fitri,  September 12, 2011 at 10:47 AM  

mbak Lita.....jadi tambah penasaran ne......makin sering clik lita'story jadinya.......btw ampe brp episod ne...kalo bisa di terusin ampe lea beranak pinak ya...wkwkwkwk....

l i t a September 12, 2011 at 11:49 AM  

@Fitri: Kalau sampai beranak pinak jadi sinetron stripping, dong. Beberapa chapter lagi selesai kok... tergantung kepalaku nih, Fit *melet*

Thank u ya, udah semangat baca.
I'm very happy! *joged2*

yuli,  September 13, 2011 at 4:07 PM  

ya ampun mba Lita,,,aku pnsrn pisan ikh ni ceritanya bakalan gmn,,
btw aku sering visit ke blog ini lho,,tp baru kali ini kasih comment coz biasanya keasikan baca doank..
mba aku add FBnya ko blom dikonfirm yah??jngn2 ditolak lagi huhuhu T_T..

l i t a September 13, 2011 at 4:51 PM  

@Yuli: Aku udah cek fesbukku, tapi gak ada tuh kamunya... Apa udah ku konfirm kali ya...?

Btw, thanks ya. udah suka Lea'... Udah mau abis kok. Jadi tetep baca, ya... *mwah!*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP