LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (27)

>> Friday, September 9, 2011


Best Birthday Ever

BUNGA Lili putih ini adalah bunga kesayanganmu.
Bunga pertama yang kau terima di hari ultahmu.
Jam bandul ini pun untukmu, sebagai pengganti waktu yang terlewat,
dan tak bisa kuhabiskan bersamamu.
Happy Birthday, Lea.
------------------------------

Lea kembali membaca tulisan tangan di kartu ucapan yang diterimanya tengah malam kemarin. Dia meneliti, mengamati, berusaha mengenali tulisan tangan tersebut, namun tak bisa. Dia tak ingat. Malini? Oh, Lea tahu sekali tulisan tangannya yang kacau balau; panjang pendek tak keruan. Lagipula Malini pasti lebih memilih untuk memberikan hadiahnya pada Lea secara langsung daripada meninggalkannya begitu saja di depan pintu apartemennya. Leo? Mustahil. Tengah malam begitu dia pasti sudah tidur, memilih untuk mengucapkannya keesokan harinya. Juna?

Happy Birthday, Lea.” Juna langsung mengucapkannya pada Lea begitu dia Lea menjawab teleponnya. “Maaf baru mengucapkannya sekarang. Aku sibuk sekali.” katanya lagi.
Berarti bukan Juna yang meninggalkan bunga Lili dan bingkisan itu, pikir Lea. Kalau begitu siapa? “Tidak apa,” kata Lea, tersenyum. “Kau dimana sekarang? Masih sibuk?”
“Aku baru saja selesai,” jawab Juna. “Baru mau ganti pakaian. Kau sendiri dimana?”
“Di gedung Trans. Baru saja selesai Talk Show. Sekarang sedang di ruang rias.”
“Malini bersamamu?”
Lea mengerling Malini yang sedang berbicara dengan suaminya via telepon, kemudian menjawab, “Ya. Aku bersama Malini.”
Hening sesaat sampai Juna berkata, “Oke.”
“Oke,” balas Lea.
Juna menghela napas, mengembuskannya pelan, dan melanjutkannya dengan. “I’ve gotta go,” ujar Juna. “Sampai nanti.”
“Ya. See you.”
Lea buru-buru menutup teleponnya.

Sudah dua minggu sejak Juna menciumnya, dan selama itu tak pernah sekali pun mereka bertemu. Juna hanya sesekali meneleponnya; menanyakan keadaannya, kegiatannya—hal-hal biasa. Tak spesial. Padahal Lea mengharapkan Juna berkata sesuatu yang....

“Lea. Lea!” Malini terpaksa berteriak pada Lea yang bengong.
“Ya?” jawab Lea grogi.
“Ada apa? Siapa yang menelepon?” Malini menyipit curiga.
“Oh... Bukan siapa-siapa,” jawab Lea buru-buru. Memasukkan ponselnya ke dalam tas, setelah itu menghadapkan wajahnya ke cermin, menyisir rambutnya dan menggelungnya asal saja.
“Juna?”
Mendengar nama itu disebut selalu membuat Lea tersentak, meskipun Malini mengucapkannya dengan cara biasa. Tangan Lea membeku sejenak, sebelum akhirnya melepaskannya dari rambutnya.
“Ya. Juna,” jawab Lea, bersandar di kursi.
Malini mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa sekarang kau tampak tak suka pada Juna?”
“Jangan ngaco,” sembur Lea lesu.
“Kau juga tidak bercerita mengenai kencan kalian waktu itu padaku.”
“Itu bukan kencan. Hanya jalan-jalan.”
“Seorang pria mengajak seorang wanita pergi, kemana pun itu, bisa diasumsikan dengan ‘kencan’.”
“Terserahlah.” Lea mengangkat kedua bahunya, kemudian berdiri dari kursinya. Dia sudah selesai mengganti pakaian, dan sekarang ingin sekali cepat pulang ke apartemennya. “Ayo, antar aku pulang. Aku lelah.”
“Oh, tidak!” tolak Malini dengan mata melebar. “Kau harus hadir di pesta ultahmu. Sudah dua minggu aku merencanakannya, dan kau tidak bisa meng-ignore-nya begitu saja.” Malini turut berdiri, menyandang tali tasnya.
Lea mengembuskan napas putus asa. “Aku benar-benar capek, Malini,” ujarnya. “Aku sedang tidak ingin merayakan apa-apa.”
“Lea...”
Please...”
“Apa kau tega, membuat Hanung, adikmu dan teman-teman yang lain kecewa dengan ketidakhadiranmu?” tanya Malini dengan suara lemah. “Kami sudah sangat bersemangat merayakan hari ulang tahunmu sejak jauh hari, dan kau...”
Sekali lagi Lea menghela napas, memutar matanya ke atas, dan berkata, “Oke. Oke. Aku datang.”
Malini menutup mulutnya. Memandang Lea dengan dahi berkerut.
“Aku datang, tapi aku hanya untuk tiup lilin,” ujarnya. “Setelah itu aku pulang.”
Malini mengeluarkan suara keluh dan wajah yang mengekspresikan kekalahannya. “Oke. Hanya tiup lilin, dan kau boleh pulang—“
“Oke.”
“—setelah tiga puluh menit.”
“Malini....”
“Hanya tiga puluh menit,” desak Malini. “dan kau... akan kuantar pulang untuk menyepi.”
“Tiga puluh menit, dan besok... aku tak ingin bekerja.”
“Lea...”
“Aku ingin tidur seharian. Karena aku tak bisa tidur cukup belakangan ini. Kau sendiri tahu itu,” tambah Lea buru-buru, sebelum Malini kembali protes. “Aku sudah ingin pingsan saat talk show tadi.”
Diam namun terlihat seperti sedang berpikir, mengeluarkan keluh tanda menyerah setelahnya, Malini mengangkat bahunya kembali. “Baik. Kau libur besok. Tidurlah sepuasnya.”
Lea nyengir penuh kemenangan.
..........................

Ulang tahun Lea tahun ini berbeda dari ulang tahun sebelumnya. Ulang tahunnya kali ini tidak lagi dihadiri wartawan media—Malini pastinya telah menganggap itu merepotkan dan tak ada gunanya sama sekali—atau orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya, yang setahun lalu diundang dengan tujuan publistas demi mendongkrak popularitas.
Sekarang tampaknya semua itu tak penting lagi.

Yang membuat Lea terharu, ulang tahunnya dirayakan di rumah Malini, yang telah dihias amat indah dan dipenuhi hiasan bunga Lili yang harum semerbak, dan dihadiri orang-orang yang penting bagi Lea. Hanung, Leo, Katty dan suaminya Pedro, dan sahabat-sahabat Lea yang telah lama tak ditemuinya. Malini juga telah mengatur teleconference untuk Shah Rukh Khan yang via Skype agar dia bisa mengucapkan selamat ulang tahun secara pribadi pada Lea.

Saat Lea bertanya mengapa Malini sampai merepotkan diri melakukan semua ini, dia menjawab, “Ulang tahun kedua puluh lima bagi sebagian perempuan itu penting; seperti sweet seventeen kedua, karena pada umur segitu seorang perempuan dianggap benar-benar sudah matang dan mapan untuk menjalani hidup. Dan kau... menurutku sudah matang dan mapan. Hanya satu hal lagi yang kau perlu; pasangan hidup, dan kau akan ‘penuh’.”
Tidak ada lagi kata-kata yang bisa Lea ucapkan untuk membalas kata-katanya selain ‘terima kasih’ dan pelukan erat diiringi air mata bahagia.

Yang pasti, waktu tiga puluh menit  yang telah disepakati oleh Lea sebelumnya, menjadi lebih dari satu jam malam itu.
.......................

“Aku kira... kau akan menyuruhku menginap?” Lea berkata heran pada Malini yang menarik lengannya, menggiringnya ke pintu depan. “Orang-orang bahkan belum pulang,” tambah Lea lagi, menoleh sekilas ke belakang.
Suara tawa masih terdengar membahana dari ruang tengah.
“Kau harus menghadiri satu pesta lagi,” kata Malini, tanpa menoleh pada Lea.
“Eh?” Lea menghentikan kakinya. “Pesta apa lagi?”
“Nanti kau juga tahu,” sahut Malini tak sabar. “Ayo.” Malini kembali menarik tangan Lea.
Mereka melewati ambang pintu rumah Malini, dan mencapai teras yang beratap kayu mengkilat. Di puncak undakan teras seorang pria berjas hitam, duduk tegak. Rangkaian bunga Lili putih di pangkuannya.
Mulut Lea perlahan membuka melihat sosok itu. Jantungnya seperti biasa memanggil namanya dengan caranya sendiri, mengetuk-ngetuk dadanya dari dalam sehingga dia merasa kesakitan, sekaligus senang. Gelenyar aneh menjalar dari otak ke seluruh tubuhnya sekarang. Kakinya seakan mengambang.

“Ehm!” Malini berdeham, membuat Lea sadar kalau dia masih ada di sebelahnya.
Juna tersentak, menoleh buru-buru, bangkit, dan memalingkan tubuhnya. Menghadap Malini dan juga Lea yang berdiri memandangnya.
Tak seperti biasa, dia terlihat tegang.

“Juna memintaku untuk menginjinkanmu pergi dengannya malam ini, dan aku bilang padanya kalau dia harus menanyakannya sendiri padamu untuk itu,” Malini memberitahu Lea.

Lea hanya bisa tersenyum samar, meremas tali tas yang disandangnya kuat-kuat. Dia tidak tahu harus apa sekarang. Wajahnya panas sekali. Malu, senang, bingung, takut. Semuanya campur aduk jadi satu. Dia memandang Juna, dan melihat dia tersenyum kikuk. Dia tidak pernah terlihat kikuk sebelumnya.

“Sebaiknya aku pergi,” kata Malini, tampaknya tak mau jadi penyebab kekakuan keduanya. “Kalau kau menjawab ‘tidak’, kembalilah ke dalam, dan kau boleh menginap. Tapi kalau sebaliknya,” dia mengarahkan matanya pada Juna, “aku harap kau mengembalikannya ke apartemen dengan selamat, tak kurang suatu apa pun.”
Setelah itu dia berbalik, dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Kepergian Malini malah membuat Lea merasa lebih kikuk daripada sebelumnya. Ingin sekali dia menutup mukanya sekarang, yang bahkan tak berani diangkatnya untuk memandang Juna yang berdiri di hadapannya. Dia benar-benar malu.
Pikiran-pikiran aneh berputar-putar di kepalanya. Menyenangkan memang, namun juga sangat mustahil untuk dibayangkan.

Juna berdeham, kemudian melangkahkan satu kakinya menaiki undakan. Berdiri di lantai teras yang sama dengan Lea.
Buket Lili tergantung di tangan kanannya.

Lea melihat ujung jins Juna, sepatu putihnya yang sedikit berbercak tanah, lalu lantai kayu di bawah sepatunya, kemudian melihat kedua kakinya sendiri yang tak beralas. Selain itu semua, dia tak berani melihat. Malu. Sangat.

Juna melangkah mendekat, berdiri beberapa senti di depannya, kemudian mengayunkan tangannya, memberikan buket Lili pada Lea. “Happy Birthday,” ucapnya untuk kedua kalinya. “Maaf aku membuatmu terkejut.”
Lea meraih bunga-bunga itu dari tangan Juna. Mendekapnya erat, seolah saja dia sedang mendekap sesuatu yang dia sayangi. Tersenyum kecil. “Tidak. Tidak apa-apa,” katanya. “Aku senang.”
Juna tersenyum lembut, mengangguk sedikit. “Kalau begitu....”—dia berdeham lagi, “maukah kau pergi bersamaku?”
“Kemana?”
“Aku...” Juna berdeham lagi—tampaknya itu cara untuk menutupi kegrogiannya. “ingin mengajakmu ke suatu tempat. Untuk...” Dia menghela napasnya. Tampak kesulitan berbicara. “Aku ingin merayakan ulang tahunmu... ehm... berdua saja.”

Lea merasakan ada air dingin menetesi kepalanya sekarang. Menyejukkan seluruh tubuhnya. Membuatnya terbayang air embun yang menggenang di atas daun-daun pepohonan yang hijau, ditambah hujan gerimis yang menimbulkan aroma harum tanah basah.

“Kau mau?” tanya Juna, menjulurkan tangannya. Dan sebelum Lea menjawab, dia kembali berkata, “Cukup pegang tanganku atau tinggalkan aku sendiri di sini. Tidak perlu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’.  Aku sulit menerima kata selain ‘ya’.” Kemudian dia memutar tubuhnya mengahdap ke samping. Tangannya direntangkan ke arah Lea.
Juna pastinya juga merasa malu, namun dibandingkan Lea, dia menyembunyikan rasa malunya dengan cara yang lebih elit.

Lea mengangkat tangannya perlahan, meraih tangan Juna, dan menggenggamnya erat.  Dan saat Juna menoleh ke arahnya, dia meringis tersenyum. “Aku... tentu aku mau,” katanya pelan.

Juna menunduk sekilas, memandang ke arah tangannya yang bertaut dengan tangan Lea, kemudian kembali memandang Lea dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
“Aku jatuh cinta padamu, Lea,” katanya kemudian.

(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
......................................................
gambar dari sini
Pagi terakhirku sendiri.
Aku tak pernah menyangka.

7 comments:

ann September 9, 2011 at 9:30 PM  

Hwwuuuwaaaa... Kok cuma segitu...??
Penasaran bgt, kecewa deh..

Please bikin lanjutannya jangan lama-lama yaa...

"I love u too my love.."

Enno September 10, 2011 at 6:17 AM  

brasa pengen ke Jack Rabbit trus nyulik chef juna deeeh....

tar ah, pas ultahku.

wkwkwkwk

deeo September 10, 2011 at 8:22 AM  

mbakkkk....kok sebentar doang nih , udah kadung merem melek menahan nafas...hehehehehehehe.....buruan...buruan....

Penghuni 60 September 10, 2011 at 9:24 AM  

ROMANTIS ABISSS...
jd penasaran nih...
ditunggu terusannya....
hebat ya, knp gak dibikin novel aja...
tulisan Lita sendiri kan?

l i t a September 10, 2011 at 2:29 PM  

@Ann: Udah keluar tuh yang 28. Silakan dibaca ya... *mwah!*

@Enno: Chef Juna udah brenti dari Jack Rabbit, mbak. Gitu yang aku denger *srot ingus* Dia--gak tau deh--masih di Amerika pa nggak?

@Deeo: Mangap ya, Deeo. Abis aku suka sih bikin kamu penasaran. Tuh, udah keluar yang 28. Monggo, dibaca.

@Penghuni 60: Hei... Thanks udah visit ya, dan langsung komen ttg 'Lea'-ku. Kalau dibikin novel, jangan ah. Nanti diplototin Chef Juna beneran. Heheheh... Sekali lagi thanks ya, komennya. Bikin aku tambah semangat....

Henny Yarica September 10, 2011 at 4:30 PM  

kapan tamatnya??? huhuhu..rasanya ga puas kalo ga langsung baca sampai selesai nih *penasaran banget sih*

l i t a September 10, 2011 at 8:50 PM  

@Henny yarica: baca aja terus, Hen. Gak terasa, deh... Mudah2an aku bisa posting terus. Gak stuck ide...
*kiss2*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP