LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (26)

>> Monday, September 5, 2011



Stars, Butterflies, Flowers, and Heart Beat.

SAAT Lea masuk ke area konser, hari sudah gelap. Agak lama dia mengantri, karena ternyata banyak juga orang  berminat untuk menonton, dan ketika akhirnya dia berhasil masuk, Ellie Goulding sudah di atas panggung, dan musik intro Starry Eyed telah terdengar melalui loud speaker yang berderet di depan panggung.
Orang-orang langsung berteriak heboh, maju ke depan agar dapat melihat Ellie lebih jelas.

Oh oh starry eyed...

Lea tersenyum girang mendengar suara Ellie Goulding. Turut maju ke depan, memandang kagum perempuan pirang yang berdiri di depan mikrofon di panggung.

Hit hit hit hit hit me with lightning...

Orang-orang turut bernyanyi keras-keras dan bertepuk tangan. Lea turut larut, menggoyangkan badannya dan bernyanyi tanpa suara.

Handle bars and then I let go, let go for anyone...
Take me in, and throw out my heart and get a new one...
Next thing, we’re touch—

“Ups! Maaf, Mbak,” seorang perempuan nyengir minta maaf karena menyenggol Lea dengan keras. Di sebelahnya pria, yang sepertinya pacarnya, memegangi pundaknya, dan berkata, “Lihat-lihat Yan, kalau jalan,” dan meminta maaf sekali lagi pada Lea. Lea mengangguk tersenyum dan mendadak saja merasa kesepian.
Dia memandang berkeliling, dan melihat hanya dia satu-satunya orang yang nonton konser tanpa teman, sementara yang lain datang berpasangan, beramai-ramai dengan teman atau keluarganya, berjingkrakan menikmati musik.

Dunia di sekitarnya serasa bisu.

Oh... Everybody starry eyed... And everybody goes...

Ellie menyanyikan chorusnya dan orang-orang di sebelah kanan-kiri, depan-belakang Lea berlompatan heboh menikmati musik.

And my body goes...

Lea terdiam di tempat. Kehilangan semangat yang beberapa menit lalu masih bersamanya. Dia senang berada di sini, namun tanpa teman, tanpa pasangan, dia merasa membuang waktu. Merana.

So we burst into colors, colors and carousels...
Fall head first like paper planes in playground games...

Dia teringat Juna, berpikir akan sangat menyenangkan kalau dia ada di sini bersamanya. Dan bodohnya dia juga terkenang Shinji, membuat matanya malah panas, berpikir betapa hebohnya Shinji kalau dia di sini.

Next thing we’re touching...

Tiba-tiba Lea merasa ada yang menyentuh tangannya, menggenggamnya perlahan.
Lea menoleh ke samping, mengangkat wajahnya sedikit, dan melihat Juna berdiri di sebelahnya. Tersenyum lebar. Membuat matanya melebar, tak menyangka.

You look at me it’s like you hit me with lightning...

Tatapannya memang seperti sambaran petir, pikir Lea, masih bertukar pandang penuh senyum dengan Juna.

Oh... Everybody starry eyed...

Tiba-tiba dari atas, ribuan serpihan kertas emas bertaburan, menghujani orang-orang di bawahnya, membuat perhatian Lea teralih dari Juna. Mengagumi taburan bintang buatan yang melayang di atas kepala. Membuat hatinya yang sejuk, menjadi lebih sejuk lagi melihat keindahan yang mendadak tersaji di depannya.

And everybody goes... oh...
Everybody starry eyed... and my body goes...

Lea merentangkan tangannya. Membuka telapaknya, membiarkan taburan bintang buatan itu menyentuh tangannya. Tersenyum lebar, luar biasa gembira. Juna di sampingnya, tangan mereka bertaut, dan di atas ribuan bintang berpendar, tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.

Wo oh oh... ah ah
Wo oh oh... ah ah
Wo oh oh... ah ah
Next thing we’re touching...

Juna merangkul pundak Lea, menganggukkan kepalanya mengikuti irama, menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan. Lea mau tak mau mengikuti, memandang Juna dengan senyum lebar di wajahnya.

Next thing we’re touching...
Next thing we’re touching...
Next thing we’re touching...

Dan yang membuat Lea sangat tak menyangka, Juna menjulurkan tangannya, memberi isyarat Lea untuk menerimanya. Lea memberikan tangannya dan Juna menariknya merapat, menuntunnya berdansa. Memutar Lea dengan satu tangan diiringi tawa lepas yang sangat menyenangkan. Meraih tubuhnya, mendekapnya erat agar tak terlepas ketika dia—Juna—memiringkan tubuh Lea, membuatnya tertawa terbahak.
Keduanya berpandangan. Juna dengan alisnya yang terangkat, seolah bertanya “Bagaimana? Are you happy?”, sementara Lea yang memberikan tatapan “Ngapain kau ada di sini?” yang kentara sekali pada Juna.

Thank you,” gumam Lea tanpa suara setelahnya dengan senyuman terharu. Dan Juna membalasnya dengan “You’re welcome” yang juga tak bersuara.

Nada musik memuncak, dan Juna kembali menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seperti penyanyi rock. Melakukan gerakan, yang sama sekali tak disangka Lea bisa dilakukan olehnya. Ternyata dia juga bisa ‘gila’ begitu.
Lea berusaha menyembunyikan kegirangannya dengan menutup mulutnya kuat-kuat, tidak lagi memerhatikan Ellie Goulding, melainkan lebih tertarik menonton Juna.

Kemudian saat lagu sudah mendekati akhir, Juna kembali merangkul Lea. Berbisik, “She’s not bad,” di telinga Lea. “Lagunya asik.”
Lea terkekeh. Balas merangkul pinggang Juna. Ikut menganggukkan kepala mengikuti lagu.

Runtuh sudah tembok es yang selama ini menghalangi Lea untuk mendekat.
Keraguan, kegundahan, kebimbangan itu, kini berangsur mencair.

biar tahu lagunya, silakan di dengar
.
................................

“Kau seharusnya tidak perlu mengantarku sampai naik,” kata Lea ketika dia dan Juna sedang berada di dalam lift yang mengantarkannya ke lantai dimana apartemennya berada. “Sampai lobi saja sudah cukup.”
“Aku kan laki-laki, harus memastikan wanita yang diajaknya selamat sampai di rumah,” balas Juna, tersenyum jenaka.
Lea menghela napas panjang, senyum girang tersungging di wajahnya seiring dia mengembuskannya perlahan. Memandang tombol lift, dan sedikit kecewa, begitu lift mencapai lantai empat.
Satu lantai lagi, pikirnya. Dan dia akan berpisah dengan Juna. Dan mungkin tidak akan punya kesempatan bertemu seperti ini lagi.

Ting!
Entah kenapa denting lift terdengar begitu menyedihkan kali ini, dan saat pintunya bergeser membuka, Lea merasa dadanya seketika kosong. Keceriaannya digantikan kegundahan begitu cepatnya.

“Maaf...” ucap Lea, seraya menggerakkan kakinya menyusur koridor.
“Maaf... untuk apa?” tanya Juna heran, Kedua tangan di saku celananya. “Kau kan tidak menendangku lagi?” Dia menyeringai menyebalkan.
“Kau masih ingat.”
“Tentu saja ingat. Itu pertama kalinya aku ditendang perempuan.”
“Itu juga pertama kalinya aku menendang laki-laki—tapi aku juga tidak pernah menendang perempuan,” Lea meralat buru-buru, melihat mata Juna yang mendadak melebar. “Memangnya aku kungfu Panda,” sungutnya.
“Oke. Oke,” kekeh Juna. “Untuk apa kau minta maaf?”
“Membuatmu bolos kerja.”
Juna tertawa. “Tidak usah kau pikirkan. Aku bosnya sekarang. Aku bisa datang atau tidak datang semauku.”
Dahi Lea berkerut. “Kau bukan orang seperti itu.”
Juna balas mengernyit. “Bukan orang yang bagaimana?”
“Santai,” jawab Lea singkat. Pintu apartemennya tinggal beberapa langkah lagi, dan dia masih ingin ngobrol dengan Juna.
Juna terbahak. “Aku bisa santai kok,” bantahnya.
“Tidak soal kerjaan,” sahut Lea. “Aku baca semua akrtikel wawancaramu. Kau sendiri yang mengatakan itu.” Lea menirukan kutipan dari Juna, yang dibacanya dari suatu majalah, dengan gaya pembaca puisi, “ “Memasak itu perlu dedikasi, passion, dan..” ”
“Aku tidak mau mendengar kau mengulang wawancaraku secara verbal,” potong Juna, membuat mulut Lea langsung mengatup. “Kedengaran aneh dengan suara cemprengmu itu.”
“Saya ini seperti sendok...”
“Dan aku akan membengkokkanmu kalau kau meneruskannya,” ancam Juna, menghentikan langkahnya persis di depan pintu apartemen Lea.
Lea tertawa, menutup mulutnya buru-buru. Bahunya berguncang-guncang saking gelinya.

“Malam, Juna,” kata Lea, setelah tawanya berhenti. Terpaksa, karena Juna kembali menunjukkan ekspresi dinginnya yang dulu. “Terima kasih menemaniku jalan-jalan seharian. Aku sangat senang.” Dia tersenyum amat manis.
Juna menaikkan bahunya sedikit. Tangannya masih bertahan di saku celananya. “Sama-sama, Lea,” ujarnya, balas tersenyum. “Sleep well.

Lea mengangguk canggung. Merasa kikuk mendadak, ditambah lagi, dengan dadanya yang kembali berdebar, didesak-desak oleh denyut jantungnya yang heboh.

“Oke...” Lea melambaikan tangannya.
“Oke...” angguk Juna.
Lea berpaling, meraih kunci dari saku tasnya dan memasukkannya ke lubang kunci. Juna masih berdiri di sebelahnya menunggunya masuk.
“Oke. Kau bisa pergi sekarang. Aku akan masuk dengan selamat,” katanya nyengir.
“Oke,” senyum Juna. Mengusap rambut Lea, sebelum berbalik pergi.

 Lea bengong di tempatnya. Mengusap rambut yang tadi tersentuh tangan Juna. Kepalanya penuh. Pikirannya campur aduk, dan sebelum dia menyetujui, mulutnya telah membuka, memanggil Juna. Kakinya bergerak tanpa disuruh mendekati Juna yang baru berjalan beberapa langkah.

“Ya?” tanya Juna. Memandang Lea.
“Bi-bisakah komewundukseikit?”
“Apa?” Juna berjengit. Tak menangkap kata-kata pelan dan cepat Lea.
“Bisakah kau menunduk sedikit?”
“Untuk apa?” Juna terheran.
Please. Kau jangkung sekali...”
Meskipun masih tak paham, Juna menurut, merendahkan tubuhnya sedikit. Lea mendekat, kemudian mendaratkan ciuman kecil cepat di pipi Juna.
My sincerelly thanks  for you, Sir,” ujarnya nyengir salah tingkah. Wajahnya merah. Sedangkan Juna hanya bisa tersenyum simpul penuh tanya, tak berkata-kata apa pun. “Bye.”
Lea segera berbalik dan berlari kembali ke apartemennya. Mendorong pintu, dan masuk ke dalam. 
Namun baru saja dia menutup pintu, terdengar ketukan dari luar. Lea membukanya, dan kembali terkejut melihat Juna. “Juna?”
“Bisakah kau berjinjit sebentar?”
Lea berjengit. “Untuk apa?”
Please... kau pendek sekali. Aku ingin menciummu.”

My God. Apa tidak salah, Juna baru saja berkata ingin menciumnya.

Meskipun ragu, meskipun malu, meskipun jantungnya serasa mau loncat ke kerongkongan, meskipun bodoh, meskipun dan meskipun lainnya yang sekarang bersliweran di benaknya, Lea berjinjit. Menatap mata hitam Juna yang berkilat terkena cahaya lampu dari dalam. Senyum menenangkan di wajahnya membuat Lea serasa meleleh.
Dan saat akhirnya bibir Juna menyentuh bibirnya, Lea merasa benar meleleh. Tubuhnya serasa ringan. Melayang. Bunga-bunga bertaburan, kupu-kupu berterbangan. Dan ciuman itu terasa lama sekali; berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, entahlah, yang cukup membuat kepala Lea pusing dan kakinya lemas.
Saat Juna menarik wajahnya, mata Lea masih terpejam. Dia tidak berani membuka mata. Merasa sangat malu. Mukanya panas, dan pasti sudah sangat merah. Juna pasti menertawakannya sekarang.
Tapi kemudian, Lea merasakan tangan Juna menarik kepalanya mendekat, menempelkannya ke dadanya, dan mengecupnya lembut.
Lea membuka mata, melihat senyum tersungging di wajah Juna. “Night.” Juna berkata, “see you tomorrow.

Lea mengangguk buru-buru, menggigit bibirnya keras-keras.

“Biar aku yang tutup pintunya.” Juna meraih gagang pintu, dan Lea sekali lagi hanya bisa mengangguk. Dia masih sangat syok; masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. “Bye, Lea,” kata Juna kemudian, menarik pintu menutup.

Lea merosot ke lantai. Bengong memandang pintu. Dia baru saja berciuman dengan Juna. Benar-benar berciuman, bukan ciuman tak terduga seperti di depan lift setahun lalu. Ciuman ini tanpa paksaan, dilakukannya penuh kesadaran dan sangat manis. Ciuman dari seseorang yang telah mencuri hatinya dari dulu, membuatnya jatuh cinta, dan mungkin juga telah jatuh cinta padanya.

Untuk pertama kalinya, sejak enam bulan yang kesepian, apartemennya terasa ramai dan menyenangkan.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! Jangan diplagiat
................................................
gambar dari sini
Serasa aku telah melepas kupu-kupu dari toplesnya
Menaburkan petal bunga ke sekeliling
Membiarkan keduanya beterbangan, bertaburan bagai bintang.
Terjatuh bagai hujan
-lita's word-
...........................................................

PS:
Terus baca ya. Ceritanya tinggal dikit lagi, kok.
Terima kasih, guys. I love you.

13 comments:

rona-nauli September 5, 2011 at 1:25 PM  

arrrghhhhh....pengen dance-nya hiks hiks...

ulfah September 5, 2011 at 1:46 PM  

hai mbak Lita :) ini untuk pertama kalinya saya comment di blog mbak. Tapi aslinya saya rutin buka blog mbak tiap hari, dari awal cerita LEA. Gosh! Saya suka sama cara nulis mbak yang bener-bener ngalir. Gak cuma cerita LEA aja, tapi semua yang mbak tulis itu fresh dan lucu. Keep writing ya mbak ;) and btw, Update soon =))

maya September 5, 2011 at 2:14 PM  

endingnya ehemm....
kiss kiss, i think there's many kiss. haha.....

EnnyLaw September 5, 2011 at 3:57 PM  

aaaaawawawwaaw
so sweet bgt ^_^

deeo September 5, 2011 at 7:15 PM  

blar blar blar....kembang api kupasang nih , cihuyyyy...Lea dan Juna , hemmm........buruan mbak di selesaiin , awas kalo gak jadi ma Juna , mbak kucincang lho!hahahahaha....gak ding...becanda...selesaikan seperti yang mbak pengen!aku tetap setia membaca

Merliza September 5, 2011 at 10:59 PM  

serpihan kertas.. konfetti maksudnya?!!? :(

ann September 6, 2011 at 6:58 AM  

Wew.. Setengah menahan nafas m'baca & m'bayangkan ciuman itu.. ;)

novel blog September 6, 2011 at 11:44 PM  

wah ada cerita bersambung disini, sama dengan blogku dong, hehehe.. yuk mari sama2 semangat nulis.. :)

Enno September 7, 2011 at 6:00 AM  

@rona: pengen dance nya apa kiss-nyaaa? ah yg beneeeer? masaaa? yakiiiiin? serius niiiii? hihihi...

yah oke, sodari lita... dikau berhasil membuat daku mupeng berat, seberat2nya.

makasih yah!
*jitak lita pake palu*

:))

l i t a September 7, 2011 at 11:23 AM  

@Rona: sama Madam. Aku juga pengen dance-nya. Meskipun aku gak tahu Juna yang asli bisa/nekat ngedance gak? *nyengir*

@Maya: Maunya tadi kiss-nya lebih nafsuin gitu, tapi takut ilang manis'nya nanti :P

@Enny: Kamu tuh emang paling heboh kalau kasi komen. Selalu pake 'aww! aww!'. Hahahahahha...

@Deeo: Hush! Tunggu aja nanti. Pake ngancem2 segala. Kaya Mafia *menyipit berbahaya* Becanda, Deeo. Thanks ya, kembang apinya...

@Merliza: sesuai yang ada di bayangan kamu aja. Kalau kamu pikir itu confetti silakan, yang penting aku tulisnya serpihan kertas emas.

@Ann: Aku juga terpaksa ciuman sama guling waktu reka adegan #gubrakkk!

@Novel Blog: Ayooooo! Cmangatttt! Aku juga sangat cemangat nih... Tq, udah visit...

@Enno: The last, dan selalu berakhir dengan kekerasan domestik, mbak ennoku cayang.
Kenapa mupeng mbak? Karena belum muhrim, ya...? (wkakakakakaa)

*tangkis jitakan pake ember*

Putri September 7, 2011 at 12:12 PM  

mbak litaaa.. lagunya enak bangett >_<
ayo mbak dilanjutin ceritanya, hhe

l i t a September 7, 2011 at 2:52 PM  

@Putri: thank u ya, Putri... Emang lagu itu enak banget. Dan pasti aku lanjutin ceritanya. Tetep baca yah...

Mwah! *cium basah*

Lia October 20, 2011 at 10:35 PM  

Makiin suka sama ceritanya, bikin melayang-layang aw, aw, aw hehe pas banget baca di malem2 beginiiiii
jadi galaaau tapi aku sukaaaa!
bacanya sambil dengerin lagunya Lea Salonga yg two words, saking penasarannya sama lagunya aku langsung donlot dan ternyata lagunya romantis bangeeett!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP