LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (25) - 2

>> Sunday, September 4, 2011


The Date - 2

Menjadi terkenal memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kita dapat meminta bantuan yang paling mustahil sekali pun pada orang-orang yang kebetulan mengenal dan ngefans berat dengan kita. Contohnya Juna, yang dengan mudahnya mendapat persetujuan pemilik konter makanan menggunakan dapurnya untuk menghangatkan mi rebus yang dibuat Lea. Dan sebagai imbalannya, dia memberikan pelukan hangat pada ibu pemilik konter tersebut; membuatnya histeris dan heboh saking senangnya.

“Kenapa?” Juna bertanya pada Lea yang memandangnya dengan senyum terkulum.
“Aku tidak pernah mengira, kau akan mempergunakan celeb power-mu untuk membajak dapur orang,” jawab Lea, terkekeh. “Demi semangkuk mi rebus.”
“Mi rebus yang memang layak untuk dimakan,” balas Juna, menelan mi yang baru saja disantapnya. “Dan...” Juna mengacungkan garpunya pada Lea, “aku bukan seleb. Aku Chef.”
“Celebrity Chef,” kekeh Lea. Kemudian meneguk air putih dari botol air mineral. Dia baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng yang dibelikan Juna di konter makanan di mana dia meminjam dapur.
“Juna...”
“Ya...”
Lea memerhatikan Juna, yang memasukkan sisa mi terakhir ke dalam mulutnya, memandang Lea penuh tanya, menunggu.
“Aline...”—dahi Juna segera saja berkerut—“tahu kau kemari bersamaku?” tanya Lea, meringis tersenyum.
“Tidak,” jawab Juna cepat. Mengunyah makanan di mulutnya. “Kenapa?”
“Bagaimana kalau dia tahu? Apa dia tidak marah?”
“Untuk apa dia marah?”
Bibir Lea mengerucut. Dia ini memang tidak mengerti apa pura-pura tidak mengerti sih? “Kau... Kalian kan...?”
“Kenapa kami?”
Kenapa jadi susah mengatakannya? “Kalian kan... bersama—maksudku, kalian... pacaran...?”
Juna mendengus geli. Menggelengkan kepala seolah tak percaya. “Kenapa kau menyimpulkan begitu?”
“Karena memang kelihatannya begitu.”
We’re just friend.” Juna meletakkan sendok dan garpu di mangkuknya yang kosong. “Kami memang pernah dekat, tapi... didnt work out,” katanya tersenyum simpul. “Lebih baik bersahabat. Lebih seru.”

Andai saja bisa atau tidak tahu malu, ingin rasanya Lea berteriak kegirangan mendengar informasi dari Juna barusan.

“Bagaimana dengan Shinji?”
“Ada apa dengannya?” Lea berjengit.
“Aku dengar dia menghilang,” jawab Juna. Menyeka bibirnya dengan tisu, kemudian bersandar di kursinya. “Membatalkan semua kontrak...”
“Pasti dia punya alasan melakukan itu,” sela Lea, tersenyum dipaksakan. “Lagipula, itu tidak mengganggu peluncuran film kami,” tambahnya lagi. “Love In Return, tetap bisa tayang di bioskop.”
“Keputusan yang sangat tiba-tiba,” gumam Juna. “dan dia meninggalkanmu tanpa pesan apa pun?”
Mata Lea mengejap, mendadak teringat kedatangan Shinji malam itu. Saat dia mengatakan kalau dia mencintai Lea, dan berpesan untuk menjaga diri.
“Tidak,” geleng Lea buru-buru, sembari mengusir ingatan tersebut, yang hingga sekarang masih membuatnya sedih. “Dia tidak meninggalkan pesan apa pun.”
Setelah itu dia meneguk air di botolnya lagi. Menghindari tatapan Juna.
“Kau... sedih?” tanya Juna. Sorot matanya tak seperti biasanya. Tampak prihatin. “Dia sahabatmu kan?”
“Sedih... memang, tapi...” Lea tersenyum, mengembuskan napasnya, “aku harus menerimanya kan? Have to move on?
Juna mengeluarkan suara seperti cegukan. Bibirnya melengkungkan senyum yang menyenangkan. “Yes... off course. You have to move on.

Hening sejenak, sementara keduanya memandang berkeliling. Mengamati orang-orang yang lalu lalang. Untungnya sama sekali tidak memerhatikan mereka berdua atau pun mengenali mengenali mereka.

“Sudah selesai?” Juna menanyai Lea beberapa detik kemudian.
“Oh. Ya. Sudah,” jawab Lea buru-buru.
“Kalau begitu, ayo,” Juna berdiri dari kursinya, “kita harus naik wahana lagi. Halilintar. Aku ingin sekali naik itu.”
Lea berjengit. “Aku baru saja makan, bisa-bisa keluar lagi semuanya,” protes Lea.
“Tidak akan. Aku jamin.”
......................................

Lea memang tidak muntah, tapi dia sangat pucat. Juna memaksanya menaiki wahana-wahana yang membuat badannya jungkir balik sembilan puluh derajat, seratus delapan puluh derajat, bahkan berderajat-derajat.
Sementara Juna tertawa-tawa—ternyata dia kekanak-kanakkan juga, Lea berperang melawan ngeri. Jantungnya berdegup luar biasa kencang. Badannya terasa lemas saking takutnya.

“Info itu jelas salah,” kata Lea memberengut, berjalan pelan di sebelah Juna, sambil memegangi pinggangnya yang sakit. Mereka baru saja naik jet coaster yang membentur-bentur. Dan Lea sekarang benar-benar merasa seperti nenek-nenek.
“Info apa?” tanya Juna, menoleh.
“Kau takut ketinggian.”
Juna tertawa terbahak. Membuat Lea jadi merasa bodoh.
“Darimana kau dapat info begitu?”
“Google. Aku ingin tahu... tentang dirimu, dan cara termudah adalah meng’google’-nya.”
“Kenapa tidak kau tanyakan padaku langsung hal yang ingin kau tahu?” Juna berhenti, memutar tubuhnya menghadap Lea. “Aku akan menjawabnya, kalau informasi itu penting untukmu.”

Ditatap tajam dengan tiba-tiba tanpa persiapan sama sekali, membuat jantung Lea berdetak kencang lagi. Dan selama sepersekian detik, dia cuma bisa melongo memandang Juna tanpa bersuara.

“Hei.” Juna menjentikkan jarinya di depan muka Lea. Menyadarkannya. “Kenapa bengong? Kau punya pertanyaan tidak?”
Lea diam sejenak. Berpikir-pikir. “Berapa pacar yang kau punya selama hidupmu?”
Pertanyaan itu langsung dijawab Juna dengan kekeh geli. “Aku tidak bisa menjawabnya.”
“Kenapa tidak? Kau bilang kau akan menjawab apa pun pertanyaanku.”
“Karena aku sendiri tidak tahu. Tidak hitung.”
“Pasti banyak. Kau itu pasti playboy berat.”
“Tidak.”
“Sedikit berarti.”
“Tentu saja tidak.”
Lea menyipitkan kedua matanya.
“Lea... Please. Ajukan pertanyaan lain,” pinta Juna.
Lea nyengir. “Oke... oke. Apa warna favoritmu?”
“Hitam. Warna gelap.”
“Ya sih,” ujar Lea, menyetujui. “Auramu selalu gelap.”
“Kau mau bilang aku setan?”
Are you?” Lea menyeringai.
“Kau ternyata... jahil,” geleng Juna.
“Kau juga.”
Mereka tertawa bersama setelah itu. Melanjutkan berjalan seraya mengobrol hangat tentang banyak topik, termasuk payudara Julia Perez yang belakangan semakin besar. Menertawakan anak kecil yang mengejar-ngejar badut dengan lumuran coklat di tangannya, sementara orang tuanya mengejarnya dari belakang. Dan bernostalgia dengan lagu-lagu lawas yang mereka ingat.

Hari itu berlalu dengan cepat. Dan menyenangkan.

“Sudah jam setengah tujuh. Cepat sekali,” kata Lea pada Juna setelah mengerling arlojinya. “Kau harus kembali ke restoran kan? Kudengar kau selalu ke sana tiap malam.”
Juna mengangguk. “Kau jadi nonton... konser itu?”
“Ya,” angguk Lea. Tersenyum lepas. “Aku harus menontonnya.”
“Apa yang membuatmu sampai begitu suka?’
“Video klipnya.”
Juna tertawa geli, kembali menggelengkan kepala. “Kau aneh.”
Lea mengangkat bahu, masih nyengir. “Kalau kau melihatnya... kau pasti akan tahu kenapa aku suka.”
Juna mengibaskan kepala. “I pass. Aku tidak suka konser yang... aku bahkan tidak tahu siapa penyanyinya,” ujarnya.
“Oke. Aku pergi dulu kalau begitu,” pamit Lea penuh senyum pada Juna. “Thanks untuk hari ini. It’s fun.
Juna membalasnya dengan senyum, kemudian mengangguk. Lea balas mengangguk, menggerakkan kakinya memutar. Siap pergi. Namun kemudian dia kembali menghadap Juna, dan berkata, “Kalau saja aku bisa lebih lama menghabiskan waktu bersamamu...” Kalimatnya terhenti di sana, dan dilanjutkannya dengan senyum paling manis yang dia bisa berikan.
Juna menatapnya. Juga tersenyum. Balas melambai, ketika Lea akhirnya berbalik dan berjalan menjauh, menyatu dengan keramaian. 
(bersambung)

Asli: Lita yang tulis! (jangan diplagiat!)
.........................................
gambar dari sini
My best day ever.
Play, scream, laugh, run, walk, chat with you all day.
And suddenly the day's ended.
I'll be alone. Again.
...................................
PS:
It's just a story.
Aline gak bener2 putus sama Juna lho, di dunia nyata.
Peace. 

7 comments:

deeo September 4, 2011 at 7:24 PM  

jiakakakaka....iya bener gak putus mbak , tapi ngarep mereka putus!hahahahahaha
wew ada mbak jupe disebut nih!
ayo mbak SEMANGAT!!!!

EnnyLaw September 4, 2011 at 8:18 PM  

wahh ini baru asiikk!
kira2 selanjut'a si juna jemput lea hbs konser itu gak ya

ann September 5, 2011 at 2:09 AM  

Aline 'putus' sm Juna? Wew.. (Ngga kebayang histerisnya para junalicious klow beneran)
Jupe payudaranya m'besar?? Hehe.. Apa unsur2 ini yg bikin episod 25 ada yg part 2?
Kesannya ada keraguan meluncurkan The Date?

Enno September 5, 2011 at 5:30 AM  

ada jupe! ada jupe!
hihihi

masukin dia jd cameo liiit!

wkwkwk

l i t a September 5, 2011 at 11:55 AM  

@Dee: Iya ya... ngarepin putus (hihihi)

@Enny: Tunggu kelanjutannya ya...

@Ann: Bukan ragu karena Jupe, tapi karena episode 25-nya kepanjangan, bisa2 pada males baca. Jupe sih mendadak aja kelintas (hehehhe)

@Enno: cukup disebut aja, gak usah hadir jadi cameo, bisa rusuh nanti Mbak enno (wakakakakakak)

l i t a September 5, 2011 at 11:55 AM  

@Dee: Iya ya... ngarepin putus (hihihi)

@Enny: Tunggu kelanjutannya ya...

@Ann: Bukan ragu karena Jupe, tapi karena episode 25-nya kepanjangan, bisa2 pada males baca. Jupe sih mendadak aja kelintas (hehehhe)

@Enno: cukup disebut aja, gak usah hadir jadi cameo, bisa rusuh nanti Mbak enno (wakakakakakak)

Anonymous,  July 3, 2012 at 11:01 AM  

mereka beneran udah putus ya? aku mlh ngerasa cerita mbak lita menjadi cerita yg nyata

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP