LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (25)

>> Friday, September 2, 2011



The Date - 1

“KAU menangis?” Lea menyeringai penuh kemenangan, sementara Juna dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku tidak menangis,” bantah Juna. Berbalik memunggungi Lea.
“Kau menangis,” Lea mencecarnya, berusaha melihat wajah Juna.
“Aku tidak menangis.”
Yes you did.”
No, I didnt.” Juna menatap Lea, memperlihatkan matanya yang sama sekali tak berair, membuat Lea kecewa. “Lihat sendiri kan?”
“Tadi sepertinya kau berkaca-kaca.”
“Berkaca-kaca bukan berarti menangis. Bisa saja aku kelilipan.”
Lea menaikkan bahunya. Mendengus kecewa. “Ya sudah. Kapan aku harus membuatkanmu mi rebus...”
“Kalian berdua di sini rupanya?”
Lea dan Juna menoleh ke belakang. Malini sedang berjalan mendekat, masih dengan gaun putihnya.
“Aku mencari kalian... ternyata... Seharusnya aku bisa menduganya.”
Lea memberengut, menatap Malini dengan jengkel. Malini membeliak, seakan berkata, “lho, memang benar kan?”
“Juna. Kau ditunggu,” Malini memberitahu Juna. “Pedro memintamu bergabung bersama semua pria di dalam. Kalian mau apa sebenarnya?” Malini mengernyit curiga.
“Tidak mau apa-apa. Pedro hanya ingin minum-minum sambil bercerita hal-hal konyol.”
Lea dan Malini mengerutkan kening bersamaan. Tak paham.
“Perempuan tak akan mengerti. So... ladies. I take my leave. Have to attend the ‘husband’s’ party,” kata Juna, menyambar gelas minumnya, melangkah pelan. “Lea. We’ll meet tomorrow at Dufan. Ten o’clock.”
Lea menganga, sedangkan Malini menoleh, memandangnya curiga.
“Bawa mi rebus untukku.”
Setelah itu Juna berjalan pergi. Meninggalkan Lea dan Malini yang masih bengong menatap punggungnya menjauh.
“Kalian mau ke Dufan?”
“Aku juga tidak tahu.” Lea menoleh pada Malini. Dia meragukan kata-kata Juna barusan. “Dia memang ngomong begitu kan tadi?”
Malini membelalak. “Tentu saja dia ngomong begitu. Kupingmu kenapa?”
“Aku hanya tak...”
“Kenapa kalian mesti janjian di tempat ramai begitu?” Malini bertolak pinggang. Wajahnya yang merengut, mengekspresikan ketaksetujuannya. “Apa tak ada tempat lain yang lebih... aman.”
“Dufan aman.”
“Ya memang. Tapi tidak untuk kalian berdua. Kau mau semua orang di sana berteriak-teriak dan mengikuti kalian? Itu bukan bersenang-senang namanya, melainkan jumpa penggemar.”
“Sebenarnya besok ada konser Ellie Goulding,” Lea mengaku. “dan akan diadakan di Dufan.”
“Siapa itu?”
“Dia... penyanyi Inggris.”
“Aku tidak pernah tahu.”
“Aku juga baru tahu dia ada setelah aku mendengar lagunya di youtube,” ujar Lea.
“Apa lagunya?”
“Kenapa kau jadi menginterogasiku sih? Lihat saja sendiri di youtube,” tukas Lea jengkel. “Pokoknya aku mau nonton.”
“Juna kan harus kerja.”
“So...?”
Kalau konsernya diadakan malam hari..., memangnya dia mau menemanimu? Kau akan sendirian. TIDAK. Aku tidak memperbolehkan. Kau tidak boleh kesana. Aku akan bulan madu besok, dan aku tidak dapat menemanimu.”
“Aku akan ajak Leo kalau begitu. Oke?” Lea tersenyum jahil.
Malini menyipitkan sebelah matanya.
“Aku akan ajak Leo. Jadi... kau tidak perlu khawatir. Dan aku sebisa mungkin tidak akan menarik perhatian banyak orang di sana. Aku akan baik-baik saja, dan kau... akan bulan madu dengan tenang.”
Malini tidak berkata apa pun. Hanya memandang Lea, seolah dia sedang mencari jejak kebohongan di wajahnya. “Apa konser itu akan menghiburmu?” tanyanya setelah beberapa saat.
Lea mengangguk
“Kalau konser itu memang bisa menghiburmu... aku bisa bilang apa,” kata Malini lagi, memandang Lea prihatin. “Enam bulan aku tidak melihat senyum erormu itu, dan sekarang...”
Lea terhenyuh, mengetahui kalau Malini memerhatikannya.
“Ya sudah,” kata Malini, “pergilah—tapi Leo harus ikut bersamamu. Kalau tidak...”
“Leo akan ikut bersamaku. Swear!” potong Lea buru-buru.
...................................................

“Bagaimana kalau Malini menelepon?” Leo mendesis cemas pada Lea saat mereka sedang menunggu Juna di tempat parkir. “Kalau dia tahu aku tidak bersama Kakak, dia pasti aku akan diteror habis-habisan. Dia itu menakutkan, Kak.”
“Jangan angkat teleponnya kalau begitu,” sahut Lea santai, seraya memperbaiki lipatan ujung jins pendeknya.
“Nanti dia malah curiga.”
“Tidak akan.”
“Lea!”
Lea memalingkan wajahnya. Melihat Juna melangkah santai mendekat.
“Wow. Ternyata dia bisa kasual gitu juga ya?” Leo berkomentar, melihat Juna yang hari ini tampak amat santai dengan celana kaki selutut dan kaus hitam serta sandal jepitnya. Dia juga mengenakan topi, yang pastinya untuk menutupi wajahnya.
“Kau pasti Leo,” Juna menebak begitu melihat Leo.
Leo mengangguk dan menjulurkan tangannya pada Juna. “Apa kabar Chef?”
“Baik. Kalian... tidak mirip,” kata Juna mengamati Lea dan Leo.
Lea dan Leo bertukar pandang, menatap satu sama lain.
“Ya. Kakak memang pendek,” kata Leo nyengir, yang berbuah cubitan di pinggangnya. “Aww. Sakit!”
Juna mendengus geli. “Aku tadi juga mau bilang begitu.”
Lea tertawa mengejek. “Oh, aku senang itu membuatmu tertawa.” Dia memperbaiki tali tas yang disandangnya di pundak, turun dari kap mobil, dan berdiri tegak menghadap Juna dan Leo.
“Dia juga cepat marah,” Leo menambahkan. “Kaya nenek-nenek.”
“Oh ya? Aku belum pernah melihatnya marah,” timpal Juna tertawa.
“Kalian ternyata cocok ya? Ya sudah teruslah mengejek. Aku akan masuk ke dalam sendiri.” Lea bergegas pergi. Meninggalkan Juna dan Leo yang masih tertawa-tawa.
“Hei, Lea, tunggu!” seru Juna, berjalan menyusulnya. Masih tertawa lebar.
Good luck, Chef, sama si Nenek!” seru Leo dari jauh.
.........

Lea mengeratkan topinya, yang menurutnya cukup menutupi wajahnya. Dia juga menggelung rambut panjangnya di belakang kepalanya. Mengenakan kaus putih yang tak terlalu ketat, agar tidak menarik perhatian orang di sekelilingnya.
Meskipun begitu, penampilan santainya itu tetap saja tidak cukup untuk membuat para pria tidak menoleh ke arahnya. Bahkan dengan Juna berdiri di sebelahnya.

“Ellie Goulding? Siapa?” Juna turut membaca poster besar yang sedang dilhat Lea.
“Jam tujuh?” Lea bergumam sendiri. Kedengaran kecewa.
“Kau mau nonton?”
“Ya,” jawab Lea. Masih memancangkan matanya ke poster. “Aku kira siang hari... Kau harus kembali bekerja kan... malam hari?”
Juna mengangguk.
“Aku akan nonton sendiri kalau begitu.”
“Memang sebagus apa sih? Dia bahkan konser di Dufan. Tidak ada penyanyi International yang konser di taman bermain begini.”
Lea mengangkat bahu. “Sebenarnya aku cuma suka sama satu lagunya saja; Starry Eyed.”
“Kau hanya suka satu lagu?”
“Ya,” angguk Lea. “
Juna mendengus tertawa. “Karena ini kau mau ke Dufan? Taruhan yang sangat tidak elit.”
“Hei. Kau sendiri yang mau ke sini. Aku kan tidak mengajak. Aku kalah taruhan kalau kau ingat. Karena kau mau datang... kenapa tidak sekalian saja,” omel Lea cepat.
Juna memandang Lea. Tertawa tertahan.
“Apa?” sungut Lea.
“Adikmu benar. Kau seperti nenek-nenek.”
Bibir Lea berkedut. Tampak jengkel tapi tidak bisa marah. Akhirnya dia berpikir untuk membalas Juna dengan hal lain. Dia pernah membaca kalau Juna tidak tahan ketinggian.
“Ayo, kita naik kora-kora,” ajaknya. Menunjuk ke perahu besar yang sedang berayun ke kanan dan ke kiri, membuat orang yang menaikinya berteriak-teriak histeris.
“Kau mau naik itu?” tanya Juna. Wajahnya seketika pucat.
“Ya. Kenapa? Takut?”
Juna memberikan tatapan tajamnya pada Lea, dan tanpa berkata apa-apa lagi berjalan menuju antrian wahana Kora-kora yang masih sepi.
Lea berjalan di belakangnya dengan senyum penuh kemenangan. “Aku tidak sabar melihatmu muntah, Chef Juna,” desisnya penuh dendam.
........................

“Kau yang mengusulkan naik pertama kali, dan sekarang malah kau yang muntah,” kata Juna tertawa, seraya mengusap-usap punggung Lea yang membungkuk—Lea langsung muntah begitu turun dari Kora-Kora. Dan tetap muntah ketika sudah jauh dari wahana tersebut.

“Aku mual. Belum sarapan.” Lea mengusap bibirnya dengan tisu. Kemudian menyekanya dengan air dari botol minumnya.
“Benar-benar nenek-nenek bodoh,” ejek Juna. “Itu apa?” Juna mengangguk ke tas kecil sarat isi yang tergantung di tangan Lea.
“Mi rebus, yang kau minta.”
“Makan saja.”
Lea menegakkan badannya. Menatap kesal Juna. “Aku sudah dari pagi membuatnya, dan sekarang kau malah menyuruhku memakannya.”
“Kau membuatkanku mi rebus itu?”
“Ya. Kan kau yang minta. Tapi... sudah dingin.”
“Kita bisa menghangatkannya lagi,” kata Juna.
“Tapi aku tidak bawa air hangat...”
“Sudahlah. Ayo.” Juna menggamit tangan Lea, menariknya ke konter makanan terdekat.
(bersambung)


Asli!: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
.....................
gambar dari sini
Andai saja, aku berani meraih tanganmu...

7 comments:

EnnyLaw September 2, 2011 at 7:44 PM  

wahahhahaa, kenapa Lea yang muntahh :D

btw kok lanjutan kali ini agak sepi ya ceritanya :(

l i t a September 2, 2011 at 7:48 PM  

Kan baru part one, Enny. Sebenernya masih ada... tapi karena kepanjangan, kupotong dulu... *hihi*

EnnyLaw September 2, 2011 at 7:52 PM  

oooo begono..ayo lanjutin lagii :D

kellu,  September 2, 2011 at 8:07 PM  

Kyaa... Ceritanya nanggung...

kellu,  September 2, 2011 at 8:08 PM  

Kyaa... Ceritanya nanggung...

l i t a September 2, 2011 at 8:25 PM  

@Kelly: Sabar sayang... puas2in baca yang ini ya.

Enno September 3, 2011 at 5:52 AM  

hmm... aku malah ga sabar sama postingan yg kita bicarain semalam lit...

hajar si psycho dulu.

;)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP