LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (35)

>> Thursday, September 29, 2011

gambar dari sini


Friends After All


LEA tercengang begitu tahu kalau rumah tempatnya disekap berada di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi hutan luas, yang menaungi rumah besar yang ada di tengahnya. Saat dia menanyakannya pada Juna, apa para Yakuza itu yang memiliki pulau tersebut, Juna hanya menjawab, “Bukan urusanmu,” seperti sebelumnya. Membuatnya bungkam dan akhirnya hanya bisa memandanginya dengan kagum dari atas.


Tak ada yang bicara sepanjang perjalanan. Juna sibuk mengemudikan pesawat, Lea tidur—perutnya luar biasa mual jadi dia memutuskan tidur agar tidak muntah, dan Shinji termenung diam di kursinya. Ketika akhirnya pesawat merendah, senja hampir turun, dan Lea telah membuka mata. Melihat pemandangan di luar melalui jendela pesawat yang berangsur-angsur jelas. Dimana mereka berada sekarang, Lea tak tahu. Dan dia tak peduli. Yang terpenting olehnya sekarang adalah menginjak daratan yang tak ada Yakuza-nya, tanpa takut akan disakiti lagi.


Juna mendaratkan pesawatnya di sebuah landasan entah dimana. Jantung Lea berdegup kencang. Dia teramat senang, mengetahui sebentar lagi dia akan pulang ke apartemennya. Ingin mandi, menyiram tubuhnya dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian meringkuk nyaman di kasurnya yang hangat. Juna...? Kenapa dia jadi memikirkan Juna?


Begitu Lea turun dari pesawat, yang pertama dilihatnya adalah Malini yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Lea terkejut dia berada di sini; Juna pasti telah memberitahunya, pikirnya segera.


“Lea!” Malini segera menubruknya. Memeluknya sangat erat, membuat Lea susah bernapas. “Oh, Tuhan, terima kasih.” Malini menarik tubuhnya, memandangi Lea yang masih bengong. Pipi Malini basah oleh air mata. Dia juga kelihatan sangat pucat; seperti orang sakit. Matanya tampak lelah, seakan saja dia tak tidur selama beberapa hari. “Wajahmu,” dia memandang Lea ngeri, “kenapa begini?!” Dia histeris. “Keterlaluan sekali mereka! Memuku—”
Kalimat Malini tertelan lagi ke tenggorokan begitu melihat Shinji keluar dari pesawat. Dia melongo, mengamatinya menuruni undakan, dan menjejakkan kakinya ke tanah. Malini tampaknya sangat terguncang melihat Shinji. Dia melepaskan tangannya dari Lea, dan berjalan pelan, mendekati Shinji, yang sekarang tampak gugup.


“Malini,” sapa Shinji, tersenyum kikuk. “Apa kabarmu?”
Malini memandangi Shinji beberapa saat, seolah hendak memastikan kalau memang benar Shinji yang sekarang sedang berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia mengangkatnya, sejenak terlihat ingin memeluk Shinji namun kemudian—PLAKKK!—dia menamparnya. Sangat keras, dengan mata membeliak murka. Napasnya tersengal. Dia benar-benar marah.
Shinji pasrah. Menerima tamparan Malini tanpa protes, sama seperti dia menerima pukulan dari Juna beberapa jam lalu.


“Kau hilang begitu saja! Dan sekarang kau muncul lagi dengan lebam dan memar di mukamu! Kau benar-benar... benar-benar...” Malini kelihatan sulit mengucap kata. Mendengus-dengus, dan berusaha menelan sesuatu di tenggorokannya. Lea bergegas memegangnya. Berusaha menenangkannya. “Kau tahu betapa khawatirnya aku padamu?!” hardiknya keras pada Shinji yang hanya menunduk. “Semua orang mencemaskanmu—orang yang kau kecewakan! Mereka semua cemas denganmu! Kau menghancurkan karirmu sendiri! Membuat Lea seperti mayat hidup selama setengah tahun! Dan sekarang kau—” Sekali lagi kalimat Malini raib di udara. Memandang Shinji dengan amat sedih. “Kenapa kau bodoh sekali, Shin? Kenapa kau tidak bercerita apa pun padaku? Aku manajermu. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kau... dan juga Lea,” kata Malini lirih. “Kalau terjadi sesuatu pada kalian... aku...”
Tanpa disangka Shinji memeluk Malini. Dan mengucap, “Maaf,” pelan dengan tegas. “Aku minta maaf, Malini. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti atau mengecewakan siapa pun. Maaf.”
Luluh, Malini berdecak. Mengembuskan napas tajam. Balas memeluk Shinji, menepuk-nepuk punggungnya. “Kau bodoh,” gumamnya. “Kau dan Lea... kalian sama bodohnya,” lanjutnya lagi.
Malini kemudian memutar kepalanya, menarik lengan Lea di belakangnya, memaksanya turut berpelukan dengan dia dan Shinji. Lea, tentu saja tak bisa menolaknya.
“Kau juga. Sini!” perintah Malini pada Juna, yang dari tadi hanya diam menonton adegan reuni ketiganya. Memberi isyarat padanya untuk ikut dalam lingkaran kecil yang dia buat dengan Lea dan Shinji. Meskipun kelihatan enggan, Juna menurut. Berdiri di belakang Lea, dan memeluk ketiganya.


Konyol sekali.


Juna yang menarik diri lebih dulu, karena Lea mengeluh tak dapat bernapas. Setelah itu satu-persatu memisahkan diri, meskipun Malini tetap menempel Shinji, menanyakan kemana saja dia selama ini? Kenapa dia, Shinji, bisa muncul bersama Juna dan Lea? Dari pertanyaan yang Malini ajukan, Lea menyimpulkan kalau Malini tidak tahu-menahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


Lea menoleh pada Juna, menggumamkan kata “apa dia tahu?” tanpa suara. Dan Juna menggeleng kecil, membuat Lea paham.


“Malini,” Juna menegurnya, “bukankah kau berjanji untuk tidak menanyakan apa pun, kalau aku dapat mengembalikan Lea padamu?” tanya Juna, mengangkat dagunya. Tampangnya mengancam. “Juga memberitahumu tempat ini?”
“Hanya Lea, bukan Shinji,” timpal Malini cepat. “Jadi aku bisa menanyai Shinji tentang...”
“Tidak. Kau tidak bisa,” sahut Juna. Menaikkan kedua alisnya.
“Kenapa tidak?” Malini ngotot. “Apa kau terlibat dengan penculikan Lea?”
“Jangan ngaco!’ Kali ini Lea yang protes. “Dia tidak terlibat apa pun.”
Malini beralih pandang pada Lea. “Lalu siapa yang terlibat? Siapa yang menculikmu?”
Bibir Lea mengatup. Matanya mencari mata Juna, yang menyorot tajam kepadanya. Tampangnya seolah mengatakan kalau dia akan memaksa Lea makan air kobokan kalau dia berani mengatakan sesuatu pada Malini.
“A-aku tak tahu...” kata Lea buru-buru. “Jangan tanya aku.”
Malini memandang Lea dengan kesal. “Apa kalian semua akan menyembunyikannya dariku?”
“Kau sudah berjanji padaku, untuk tidak menanyakan apa pun, selama aku berhasil membawa Lea kembali dengan selamat,” kata Juna bersedekap. “Dan sekarang, kau ingkar. Kau ini bagaimana?” cetus Juna kesal. “Kau orang yang tidak bisa dipercaya,” tambahnya. “Pantas saja Shinji tidak mau mengatakan padamu saat dia memutuskan pergi.”
“Aku tidak seperti itu!” bantah Malini.
“Sudahlah. Sekarang sebaiknya kita pulang. Lea dan Shinji sudah sangat lelah,” saran Juna. “Aku akan memberitahumu semuanya nanti,” ujar Juna, berjalan menghampiri Lea.
“Kapan?” tanya Malini penasaran.
“Seminggu lagi,” jawab Juna, merangkul Lea, mengajaknya berjalan pergi.
Malini menggamit tangan Shinji, mengejar Juna dan Lea. “Kenapa lama sekali?”
“Sudahlah, Malini,” Shinji berkata, menarik tangan Malini dan melingkarkan tangannya di sekeliling pundaknya. “Biarkan kami semua tenang dulu. Tidak semuanya harus diceritakan secara langsung.”
“Tapi kita harus lapor Polisi,” cecar Malini.
“Tak perlu polisi,” sahut Juna, menoleh sekilas ke belakang. “Kalau kau mau kita semua aman.”


Malini masih tak mengerti. Kentara sekali ingin bertanya, namun memaksakan diri bungkam. Bagi dirinya yang tak mengikuti cerita dari awal sampai akhir tentunya akan sangat membingungkan. Tapi bagi Lea, Juna dan juga Shinji, mereka lebih baik melupakan apa yang telah terjadi; beryukur kalau semua sudah mereka lewati. Dan yang terutama, kembali dalam keadaan hidup. Meskipun badan mereka dipenuhi bilur-bilur yang tak enak dipandang.


Biarlah.


(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat)
.....................................
gambar dari sini
tidak peduli dimana pun, 
asal bersama sahabatku,
aku tenang

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (34)

>> Tuesday, September 27, 2011


Home 

“DIA memukulmu...” kata Juna, mengacu pada Kyouta, seraya menotolkan kapas berisi cairan antiseptik ke sudut bibir Lea yang terluka. Juna berlutut, sedangkan Lea duduk di atas salah satu sofa berlengan yang ada di tengah ruangan. Mereka sedang berada di sebuah ruangan besar dengan banyak lemari berisi buku didesakkan ke sekeliling temboknya. Perpustakaan pribadi kelihatannya. “Bastard...” umpatnya dengan raut wajah amat kesal.
“Bagaimana kau sampai di sini?” tanya Lea, memandang Juna. “Pria yang datang bersamamu itu—”
“Lebih baik kau tidak usah tahu,” Juna memotong. “Bukan urusanmu.”
“Yakuza juga?”
Juna menatap Lea. Berhenti mengusapkan obat ke lukanya. Tampaknya dia heran Lea mengetahui jati diri Kyouta dan kroni-kroninya. “Kau tahu? Tahu banyak?” tambahnya cepat-cepat, saat Lea baru saja membuka mulut untuk menjawab. “Kyouta mengatakan kalau dia...?” Juna tidak melanjutkan pertanyaannya. ‘Yakuza’, sepertinya tiga suku kata yang berat untuk diucapkan.
“Dia sempat mengatakan Shinji... Yakuza...?” kata Lea kemudian. “Jadi aku pikir...”
Juna mengembuskan napas tajam, kemudian berkata, “Lebih baik pura-pura tidak tahu, oke?” Juna tersenyum, namun terlihat muram. Tangannya mengusap sebelah pipi Lea lembut. Tapi kemudian dia mengempaskan bahunya, meletakkan kapas yang dipegangnya ke atas meja di belakangnya. “Maaf, Lea...” katanya kemudian, penuh rasa bersalah. “Aku bukannya ingin menyembunyikan sesuatu darimu,” Juna menggeleng sedikit. Raut wajahnya seolah bersalah, “tapi—“
“Juna,” potong Lea buru-buru. Menyentuh wajah Juna dengan satu tangan. Mencoba menenangkannya. “It’s okay. Kalau kau memang ingin aku tak tahu, maka aku tidak akan memaksa. Kau tidak perlu bercerita apa pun. Lagipula... itu karena kau ingin melindungiku kan?”

Selama beberapa detik Juna hanya menatap Lea. Tidak mengatakan apa pun untuk menjawab pertanyaannya barusan. Dan saat akhirnya dia membuka mulutnya, suaranya terdengar amat dalam dan lirih. “Ya,” angguknya. “Aku ingin melindungimu.”
Mata Lea berkaca-kaca mendengar kalimat tersebut. Mendengus tersenyum, dan mengalungkan tangannya ke leher Juna. Memeluknya erat. “Thank you, Juna,” ucapnya pelan di telinganya. “Aku sangat senang kau di sini. Aku takut sekali. Aku kira aku akan mati.” Lea menahan tangisnya semampu yang dia bisa. Membenamkan hidung dan mulutnya di pundak Juna. “Aku tidak akan bertemu denganmu lagi.”
Juna mengeratkan tangannya di punggung Lea. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Lea.” Juna meregangkan pelukannya, mencengkeram lembut kedua pundak Lea. Menatap Lea dengan pandangan yang tak biasa. Kelihatan ragu tapi juga tampak yakin. “Lea... Aku...”

Pintu ruangan mendadak terbuka. Dua pria bersetelan hitam; rapi, masuk untuk mendorong masing-masing pintu ganda membuka. Mempersilakan beberapa orang masuk ke ruangan. Pria tampan berlesung pipi yang tadi, berjalan paling depan. Shinji di sebelahnya.

Melihat Lea Shinji tersenyum lega. Bergegas maju menghampirinya. Lea berlari, kemudian memeluknya. Kakinya terangkat beberapa inci dari lantai, karena Shinji memeluknya begitu erat.
Are you okay?” tanya Shinji kemudian, mengusap wajah Lea. Lea mengangguk, meringis tersenyum. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, kemudian kembali memeluk Lea selama beberapa saat, sampai akhirnya melepaskannya dan bertukar senyum gembira dengan Lea.

Shinji mengangkat wajahnya, dan bertemu pandang dengan Juna yang berdiri tak jauh di belakang Lea. Dia melepaskan Lea, tersenyum penuh terima kasih, berkata gugup, “Juna, aku—“
Mata Lea melebar kaget, begitu Juna melayangkan pukulan ke rahang Shinji dengan amat keras. Membuat Shinji terhuyung ke belakang, memegangi sebelah wajahnya.
“Juna!” bentak Lea keras. Juna berdiri kaku di tempatnya dengan napas membburu dan tangan yang masih mengepal. “Kau ken—”
“Lea,” Shinji memanggilnya. Meraih lengan Lea. “Sudah... It’s okay. Aku patut mendapatkannya,” kata Shinji buru-buru, saat Lea membuka mulutnya untuk protes. “Aku pasti akan melakukan hal yang sama bila aku berada di posisinya.”
Kening Lea berkerut, sedangkan Juna mendengus, memandang ke arah lain.
“Aku telah membahayakanmu,” lanjut Shinji. “Dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau sampai terjadi sesuatu padamu.”

Tak ada kata yang bisa Lea ucapkan untuk membalas kalimat Shinji. Dia juga merasa bimbang. Sangat. Masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Shinji dan orang-orang tersebut. Kenapa mereka sampai menculiknya hanya karena Shinji? Apa karena dia Yakuza atau apa? Dia ingin menanyakannya, namun teringat kata Juna beberapa waktu lalu, kalau dia sebaiknya tidak tahu apa pun.

“Juna.” Shinji memanggil Juna lagi. “Aku... minta maaf atas apa yang terjadi padamu dan juga Lea,” katanya tulus. “Andai waktu bisa diputar... aku...” Suara Shinji tercekat di tenggorokan. Dia mengangkat kedua pundaknya sesaat, kelihatan malu. “Thanks, okay?” ujarnya lagi. Menatap Juna.
“Sebaiknya kalian segera pergi,” saran pria di belakang Shinji. “Lebih cepat kalian kembali ke ‘peradaban’, lebih cepat aku membereskan kekacauan yang kalian timbulkan.” Pria itu tersenyum simpul. Memunculkan lesung pipinya lagi.
“Dai,” Shinji berbalik menghadapnya, “aku mohon lepaskan Lea dan Juna. Dan jangan ganggu mereka lagi. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Aku akan membayar apa yang seharusnya kubayar. Tapi mohon...”
“Tidak ada yang bisa kau lakukan untukku, Shinji,” sela Dai sinis. “Orang yang mengingkari keluarganya sendiri, tidak akan berguna untukku. Lagipula kau terlalu pengecut. Tidak cocok menjadi salah satu dari kami. Yang aku butuhkan pria-pria yang bisa kuandalkan untuk mempertahankan apa yang kami punya. Perlu otak, perlu tenaga, namun tak perlu hati. Kau bukan orang yang seperti itu.”

Kalimat Dai kedengarannya meremehkan, namun Shinji membenarkannya. Dai benar menyebutnya pengecut. Pengingkar keluarga. Dan dia tak akan tega menyakiti orang lain hanya untuk unjuk kuasa.

“Pergilah cepat,“ suruh Dai. Mengedikkan kepalanya ke belakang, memberi isyarat pada Juna, Shinji dan juga Lea untuk segera beranjak dari sana. “Namun ingat, Shin,”—dagu Dai terangkat. Ekpresinya dingin mengancam—“sekali saja kudengar kau terlibat dengan kegiatan keluargamu, aku sendiri yang akan memburumu,” ancam Dai, menyipitkan mata. Wajah tampannya berubah seketika menjadi bengis.
“Kau tidak perlu khawatir dengan itu,” kata Shinji. “Aku takkan pernah melakukan apa yang tidak ingin kulakukan.”

Selama sepersekian detik Dai dan Shinji bertukar pandang, sampai akhirnya Shinji kembali bicara, “Hanya saja, aku mohon padamu untuk memastikan tidak ada seorang pun lagi dari keluarga atau anak buahmu yang berani memandang atau menyentuh Lea.”
Dai mendengus. “Kau tidak perlu meminta itu, karena itu sudah kujanjikan pada orang lain. Bukan kau.” Dia menekankan kata kau, seolah saja ingin memberitahu kalau Shinji bukan orang yang penting untuknya.
“Terima kasih kalau begitu,” angguk Shinji, kemudian menolehkan kepalanya pada Juna dan Lea yang berdiri di belakangnya. Menatap keduanya seakan mengajak mereka pergi.
“Kau pergilah dulu dengan Shinji,” kata Juna pada Lea. “Aku... harus...” Juna tak melanjutkan bicara. Dia benar-benar berusaha kerasa menyembunyikan apa pun mengenai orang-orang ini pada Lea.
“Oke,” angguk Lea paham. Kemudian berpaling, dan berjalan mendekati Shinji. Ketika dia sampai di sebelah Dai, Lea berkata, “Terima kasih banyak,” sambil tersenyum.
Dai membalas senyumnya ramah. “Maaf atas apa yang terjadi padamu.”
Lea teringat Kyouta; apa yang dia lakukan padanya sebelumnya, namun Lea segera menepis ingatan itu. Berusaha keras menghilangkannya dari benaknya. “Selamat tinggal,” kata Lea. Setelah itu kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan bersama Shinji.

Saat keduanya telah pergi dari ruangan, Juna berjalan pelan mendekati Dai. Menatapnya penuh senyum. Senyum yang mengungkapkan rasa terima kasih yang amat sangat.
“Domo Arigato, Dai-san,”—terima kasih banyak, Dai, kata Juna sungguh-sungguh. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tak ada.”
“Dóitashimashite, Juna-kun,”—terimakasih kembali, Juna, balas Dai, “masih mengingatku setelah sekian lama.” Dai menganggukkan kepalanya sedikit dengan hormat pada Juna. “Anggap ini sebagai balas hutang budiku padamu, karena telah menyelamatkan nyawaku waktu itu.”
“Tak ada hutang budi lagi,” geleng Juna. “Hanya persahabatan.”
Dai mengangguk. Tersenyum. “Ya. Hanya persahabatan.” Dia menjulurkan tangan kanannya pada Juna, yang segera menjabatnya erat. Tersenyum simpul.
About the Police...,” Juna mengangkat dua bahunya. Kelihatan bingung.
Dont worry,” sahut Dai santai. “Aku akan mengurusnya. I have friends. Tapi memang lebih mudah, kalau tak ada satu pun dari kalian bercerita mengenai kami.”
“Kau bisa percaya padaku soal itu,” balas Juna. “Mohon, jangan sampai Kyouta mendekati kami atau Lea lagi.”
“Aku akan pastikan itu,” tegas Dai. “Semua akan kembali normal.”
Juna mengangguk tersenyum. “Oke,” ujarnya. “Bye, then.”
Bye, Juna,” kata Dai. “Orangku akan mengantar kalian.”
Juna pergi dari ruangan tersebut, setelah sebelumnya berjabat tangan dengan Dai sekali lagi. Perasaannya lega dan tenang sekarang.
Dalam hati ia bersyukur, karena beberapa tahun lalu, di Amerika, dia membuat keputusan yang tepat; menyelamatkan nyawa seorang pemuda sok jago yang hampir mati karena dikeroyok oleh beberapa anak jalanan yang ditantangnya. Dai Tanaka saat itu, jelas bukan Dai Tanaka yang sekarang.
.........................................

“Terima kasih telah menyelamatkan Lea,” ujar Shinji pelan pada Juna yang duduk di sebelahnya di dalam mobil SUV hitam yang membawa mereka. Lea duduk di belakang. Termenung sendiri seraya memandang pepohonan besar yang mereka lalui sepanjang perjalanan. Sibuk dengan pikirannya.
“Dan juga menyelamatkan pantatmu,” sahut Juna sinis. Dia masih merasa jengkel pada Shinji.
“Ya... Untuk itu juga,” kata Shinji mendengus tersenyum. “Aku... sudah berusaha untuk tidak melibatkan Lea.”
“Dengan bersembunyi?” Juna menatap tajam Shinji. “Kemudian muncul, dan membuatnya diculik?”
“Aku memang ceroboh,” kata Shinji. “Dan aku merasa sangat bodoh. Tapi aku berusaha keras menyelamatkannya. Aku...”
Shinji menunduk. Tampangnya masam dan diliputi rasa bersalah. “Aku terpaksa menghilang, karena takut ibuku dalam bahaya, juga Lea,” ujarnya. “Ayahku berusaha menarikku ke Jepang. Tapi aku...” (Shinji mengangkat wajahnya menatap Juna) “aku tidak tertarik. Aku tidak ingin melibatkan diri dengan keluargaku. Tidak bangga dengan predikat ‘Yakuza’ yang mereka sandang. Dan yang lebih buruk, sebutan ‘keturunan dari pendiri Yakuza’,” tambahnya lagi. “Aku tidak bangga dengan itu.”
Juna diam saja. Memandang ke depan; ke arah kepala pengemudi di depannya. “Kau menyembunyikan jati dirimu dengan sangat rapi,” gumamnya.
“Karena itu bukan jati diriku,” sahut Shinji. “Aku tidak merasa menjadi anak salah satu dari mereka. Aku adalah Shinji. Shinji Tsubaki, bukan Shinji Kodame. Aku anak ibuku.”
“Dai benar. Kau tidak cocok menjadi Yakuza. Terlalu melankolis,” komentar Juna, dan Shinji langsung terkekeh.
“Aku juga tidak sangka kau kenal Dai Tanaka. Bagaimana dia bisa di sini? Kudengar dia berada di Amerika?”

Juna tak menjawab, hanya mengangkat pundaknya sekilas. Membiarkan Shinji mengernyit memandangnya. “Aku hanya... beruntung...” kata Juna setelah beberapa waktu. “Lebih baik kau tak tahu.”

Mobil yang membawa mereka sampai di padang rumput luas beberapa meter dari pantai, dan berhenti tak lama kemudian. Mereka turun, dan langsung diterpa angin yang berembus kencang ke arah mereka. Lea kelihatan bingung.
“Kita ada dimana sebenarnya?” tanyanya pada Juna, lalu memandang sekeliling. Sebuah pesawat kecil berada tak jauh dari tempat mereka berada. “Kita akan naik pesawat itu? Sebenarnya dimana kita?”
Juna hanya tersenyum, memberikan tangannya pada Lea, yang segera menerimanya tanpa berpikir. Saat ini, tangan itu; genggamannya, sentuhannya, lebih berharga daripada apapun yang dia punya.
“Pesawat itu... tak ada pilotnya,” kata Lea heran. “Apa orang itu juga yang akan mengantar kita?” Lea mengedikkan kepala pada pria yang tadi mengemudikan mobil, yang sekarang berdiri di samping mobil, mengawasi mereka bertiga. “Tapi dia diam saja, tuh?”
“Kau cerewet sekali,” kekeh Juna.
Lea cemberut. Ber’hm’ pelan. Berjalan dalam diam, mendekati pesawat tersebut. Shinji di belakang mereka. Tak bersuara.
“Kau dan Shinji duduk di belakang. Aku di depan,” ujar Juna, melepas tangan Lea dan membuka pintu pesawat. Mempersilakan Lea dan Shinji berjalan lebih dulu. Lea menoleh pada Shinji yang tampaknya tidak peduli, langsung masuk ke dalam, menaiki tangga kecil di ambang pintu. “Ayo, Lea.” Juna mengedikkan kepala ke arah pintu.
“Kau... Pilotnya... bagaimana?”
“Kau mengatakan padaku kalau kau baca semua artikel tentangku, tapi kenapa kau tak tahu aku ini pilot?” kata Juna, menyipitkan sebelah mata.
Mata Lea melebar. Dia lupa, tak ingat atau tidak tahu sama sekali, dia benar-benar bingung. “A-aku...”
Juna tertawa kecil. “Sudahlah. Nanti saja. Sekarang masuk dulu. Lebih cepat kita pergi lebih baik,” ujarnya.

Lea mengangguk, kemudian menaiki tangga, masuk ke dalam pesawat. Duduk di depan Shinji, yang duduk bersandar dengan kepala menghadap ke atas. Wajahnya, sama dengan Lea, penuh lebam membiru—tapi lebam di wajah Lea tidak sebanyak di wajahnya, membuat Lea teringat Kyouta yang memukulinya kemarin.
Lea segera menarik napas panjang, kembali membuang ingatan itu jauh-jauh.

Juna masuk tak lama kemudian dan menutup pintu pesawat. Setelah itu dia berjalan membungkuk ke depan, dan duduk di kursi Pilot. Mengenakan sabuk pengamannya, sempat mengomel pada Lea dan Shinji, untuk memakai sabuk pengaman masing-masing. Mengenakan headphone, menekan dan menarik beberapa tombol, mendorongnya sampai akhirnya terdengar suara mesin mendengung. Pesawatnya hidup—entah kenapa Lea tampak takjub sekali, seakan saja dia belum pernah naik pesawat sebelumnya.

Lea mendengar Shinji terbatuk, dan dia segera menoleh, melongokkan kepala dari sisi kursinya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pada Shinji.
Shinji memiringkan kepalanya, memandang Lea, “Aku baik-baik saja.” Dia tersenyum. Pesawat sudah mulai bergerak.
Lea tersenyum, kembali berkata, “Aku senang melihatmu lagi”
“Aku juga,” ujar Shinji.
Setelah itu Lea kembali menghadap ke depan. Memandang keluar jendela. Pesawat telah terangkat ke atas sekarang, dan Lea segera berpegangan kuat ke lengan kursinya. Rautnya cemas, dan bibirnya berkomat-kamit. Dia memang bukan orang yang santai kalau naik pesawat. Selalu tegang, karena takut jatuh. Mudah-mudahan Juna sudah sangat ahli mengemudikan pesawat, sehingga dia tidak perlu khawatir tentang itu.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
...............................................
gambar dari sini
Aneh..., betapa kata sederhana seperti 'pulang',
terdengar begitu menyenangkan di telingaku sekarang.

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (33)

>> Monday, September 19, 2011


The Knights

Badan Lea sangat penat ketika terbangun keesokan harinya. Tulangnya serasa remuk, membuatnya lemas dan matanya begitu berat membuka. Lea membiarkan tubuhnya tetap berbaring di kasur. Membiarkan selimut melindunginya dari hawa dingin yang dihantarkan oleh angin yang masuk melalui celah kecil di atas jendela.
Jam berapa ini? Lea bertanya-tanya. Hujan rintik-rintik di luar, dan suasana terasa begitu muram.

Lea menyentuh pipinya yang sakit; bengkak sepertinya, serta bibirnya yang perih. Dia teringat pria bernama Kyouta itu menamparnya hingga jatuh. Keras sekali, sampai-sampai dia berpikir kalau dia akan mati. Dia juga teringat Shinji, yang perutnya terkena pukulan olehnya—Shinji? Dimana dia?

Panik, Lea mengangkat punggungnya buru-buru. Lega begitu melihat Shinji duduk bersandar di bingkai tempat tidur. Tertidur. Sisi bibirnya memar, darah mengering di selanya. Bercak merah menodai kausnya.

Baru sekarang Lea melihatnya jelas. Kemarin dia tak sempat mengamati betapa berbedanya Shinji sekarang. Dagunya yang biasanya bersih sekarang ditumbuhi janggut tipis. Rambutnya yang biasanya pendek, sedikit lebih panjang dan awut-awutan. Dia sangat berbeda dari Shinji yang dulu, namun entah kenapa terlihat lebih dewasa.

Lea bersyukur dapat melihatnya lagi. Meskipun dalam situasi begini. Situasi yang sampai sekarang tak bisa dia mengerti seratus persen.
Shinji adalah Yakuza? Atau dia terlibat sesuatu dengan anggota Yakuza? Tapi... dia tidak mungkin Yakuza. Sikap dan sifatnya berbeda dengan mereka. Dia kadang galak, tapi tidak sampai membahayakan. Tidak seperti orang-orang yang menyekap dia dan Shinji sekarang. Lagipula kalau Shinji salah satu dari mereka, kenapa dia dipukuli dan disekap bersamanya?
Membingungkan.

Suara keras dari pintu kamar, membuat mata Shinji tersingkap. Tegak seketika. “Ada apa?” dia bertanya pada Lea. Wajahnya cemas.
Belum sempat Lea menjawab, pintu didorong membuka. Kyouta, dan anak buahnya, lebih banyak dari kemarin masuk ke dalam kamar.
Lea dan Shinji hanya bisa diam. Kaku di tempat.

“Bawa dia,” Kyouta memerintahkan anak buahnya. Mengangguk ke arah Shinji.
Anak buahnya segera maju, menyeret Shinji turun dari tempat tidur. Kyouta melangkah mendekati tempat tidur. Menatap tajam Lea, seraya membuka kancing kemejanya satu per satu.
“K-kau mau apa?!” hardik Lea panik.
“Apa yang biasa dilakukan pria pada wanita,” sahut Kyouta, mendengus sinis, melepas kemejanya. Menampilkan sekujur badannya yang dipenuhi tato bergambar binatang yang bercampur warna merah, hijau dan hitam. Mengerikan.
Kyouta melempar kemejanya asal saja ke lantai.

“KYOUTA!!!” Shinji berteriak marah. “Jangan kau sentuh dia!”
Kyouta diam saja, cuma tertawa sinis, tidak memedulikan teriakan Shinji. Tetap mendekati Lea, yang terus menggeser tubuhnya menjauh.
“Bawa dia!” suruh Kyouta lagi pada dua pria yang memegangi Shinji. “Tinggalkan kami berdua!”
Dia kemudian merangkak ke atas tempat tidur. Menangkap pinggang Lea yang hendak lari cepat-cepat, dan membantingnya rebah di kasur. Lea berteriak sekuat tenaga. Badannya gemetaran saking takutnya. Air matanya mengalir lagi. Begitu deras tanpa ia merasa. Kyouta di atasnya, satu tangannya mencengkeram tangannya, dan yang satu lagi menarik gaun atasnya hingga sobek.
“LEA!” Shinji meronta. Berusaha keras melepaskan diri. Tapi dua pria yang memeganginya lebih kuat dari dirinya. “AWAS KAU KYOUTA!”

Shinji terus berteriak, dan terus berteriak meskipun anak buah Kyouta telah menyeretnya keluar dari kamar dan menutup pintunya. Air matanya menyembur tanpa ia sadari, begitu mendengar jeritan Lea dari balik pintu tersebut.

Ingin sekali ia mencabik dirinya sendiri; melakukan apa pun meskipun harus lepas dari tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar itu. Rela menjual jiwanya pada Iblis, asalkan dia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Lea.
Tapi dia tak berdaya. Iblis tak ada. Dan Tuhan... Shinji sudah tidak tahu, apa Dia masih ada. Dia tidak perlu Tuhan menyelamatkan dirinya. Dia perlu Tuhan menyelamatkan Lea.
Dan untuk pertama kalinya; sejak belasan tahun tak memanggil namaNya, Shinji tunduk pasrah, dan menyebutNya dalam hati. Tuhan..., tolong.
....................

“Aku mohon... jangan...” isak Lea pada Kyouta. Menutupi tubuhnya dengan selimut, karena gaunnya telah koyak. “Sebaiknya kau bunuh aku saja...”
“Tenang saja,” kata Kyouta dingin. Senyumnya terlihat begitu bengis. “setelah aku selesai, aku akan mengabulkan permintaanmu. Bersama-sama Shinji, tentu.”

Sekali hentak, selimut yang menutupi badan Lea lepas. Mengekspos kulitnya yang kuning mulus, yang sekarang berusaha ditutupinya dengan bantal. Kyouta mendekatinya, menarik bantal yang didekapnya. Lea berteriak, berbalik, sekuat tenaga mempertahankan bantal tersebut. Tidak memedulikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh tangan Kyouta yang mencengkeram pundaknya.

Kesal, Kyouta menjambak rambut Lea. Membuat kepalanya tertarik ke belakang, dan mengaduh kesakitan. Kyouta menarik pinggang Lea, memaksanya telentang di kasur, dan saat dia kembali meronta, tangannya melayang menamparnya lagi.
Lea langsung lemas, namun masih sadar, hanya saja sudah tak bisa berontak. Seluruh badannya terasa sakit. Tak berdaya.

Dia merasakan tangan Kyouta menyentuh kakinya. Menyentuh pundaknya, melepas turun tali gaunnya yang koyak. Dia dapat merasakan panas napasnya berembus ke wajahnya. Air matanya terus jatuh, membasahi apa pun yang disentuhnya.
Dan saat itu, Lea teringat Juna. Wajah Juna..., senyum Juna..., ciumannya..., sentuhan tangannya di rambutnya..., dekapan hangatnya..., dan—“I love you, Lea,” kata-kata itu. Di malam ulang tahunnya. Hadiah terindah yang pernah diterimanya.

Juna...” Lea bergumam lirih. Kemudian memejamkan matanya.

BRAKK!
Suara keras itu membuat mata Lea kembali membuka. Kyouta mengangkat badannya, melihat ke arah pintu yang terbuka lebar. Membeliak melihat Juna berdiri dengan napas tersengal di ambangnya.
Wajahnya luar biasa murka.

Dan tanpa berkata apa pun, dia melesat ke tempat tidur. Mengumpat Kyouta dengan kata-kata amat tak senonoh, seraya melayangkan tinjunya dengan sangat keras ke wajah Kyouta yang masih memar akibat pukulan Shinji kemarin.

“Aku sudah bilang, aku akan mencarimu kemana pun!” kata Juna geram, kemudian menghantam wajah Kyouta lagi. “Aku akan memburumu!” Pukulannya kini mengarah ke mulut Kyouta. Keras sekali, sampai dia batuk darah. “Kau menyentuhnya! Aku benar-benar akan membunuhmu!”

Lea buru-buru menarik selimut, menutupi badannya, dan mundur ke bingkai tempat tidur. Dia syok sekaligus gembira. Sangat. Tak menyangka Juna datang. Berada di sini. Menyelamatkannya.

Kyouta terbatuk. Wajahnya babak belur sekarang. Matanya tak bisa lagi membuka normal. Darah menyembur dari mulutnya, menodai seprai. Sekali lagi, Juna melayangkan tinju ke wajahnya, namun langsung terhenti begitu mendengar suara seorang laki-laki berkata keras dari arah pintu, “Hei, Juna! Meskipun kau marah, tapi jangan lupa kalau dia adikku.”

Mata Lea membulat melihat pria yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Lagipula, jangan mengotori tanganmu,” kata pria itu lagi, memasukkan satu tangannya ke saku celana kargo hitam sebetisnya. Lea mengernyit melihat kakinya yang beralaskan sandal jepit. “Dia tidak seberharga itu,” dia mengangguk ke arah Kyouta yang tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

Pria yang baru datang ini amat tampan. Sangat. Tubuhnya jangkung sempurna. Rambutnya ikal kecoklatan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya yang tajam mengerling Lea, dan bibirnya menyunggingkan senyum. Lesung pipi muncul di sela pipinya.
Dia Yakuza juga? Lea tak percaya. Terlalu santai, menutur Lea.

Juna menegakkan tubuhnya. Bertumpu pada lutut sambil mengatur napasnya yang terengah. Lebam membiru memenuhi wajahnya, dan dia kelihatan kacau. Saat akhirnya dia menolehkan wajahnya pada Lea, bibirnya melengkungkan senyum lega. Segera menghampiri Lea, dan menariknya ke pelukannya.

“Kau... tidak apa-apa?” tanyanya dalam suara bergetar. Masih mendekap Lea.
“Tidak. Aku tak apa,” jawab Lea lemah. Dia ingin menangis, tapi dia berpikir untuk apa? Dia sudah selamat. Dia tak seharusnya menangis. “Kau mencariku,” gumamnya pelan di telinga Juna. “Benar-benar mencariku.” Lea mengeratkan pelukannya.
“Aku sudah berjanji kan?” kata Juna, sama pelannya. Balas memeluk Lea erat. “Aku akan mencarimu.”
“Terima kasih, Juna,” kata Lea susah payah. Berusaha keras membendung tangisnya yang sudah di ujung lidah.
“Menangislah, kalau kau memang ingin menangis,” ujar Juna, mengusap lembut rambutnya. “Aku di sini. Dan semuanya sudah berlalu.”
Lea memejamkan mata. Membiarkan air matanya kembali meluncur ke pipi. Bukan lagi air mata ketakutan, melainkan lega; terharu. Dia menangis, setelah itu. Sangat keras, seolah saja belum pernah menangis sebelumnya. Meremas kaus Juna, membasahinya, melampiaskan semua emosi yang tak bisa dikeluarkannya dua hari ini.

Juna tak berusaha menghentikan tangis Lea. Mendekapnya begitu erat seraya mengelus rambutnya. Membiarkan tangan Lea melilit erat tubuhnya. Merasakan hangat kulitnya menyentuhnya. Lagi.
Juna bersyukur, dia datang tepat pada waktunya. 

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! Jangan diplagiat!
...............................
gambar dari sini

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (32)

>> Sunday, September 18, 2011



Meet at Last

LEA menggeser badannya buru-buru ke pinggir. Menyambar bantal, dan mendekapnya erat. Lampu telah dinyalakan, menerangi seisi kamar yang sebelumnya gelap.
Pria itu berdiri di ambang pintu, mengantongi satu tangannya. Kalung perak masih bergantung di lehernya. Menempel di dadanya yang dipenuhi tato warna-warni. Memerhatikan Lea dengan senyum yang membuat siapa pun merinding. Begitu dingin dan tak berjiwa.
Terdengar suara langkah mendekat. Banyak langkah, suara sepatu menghantam lantai, sampai akhirnya tiga orang lagi masuk ke ruangan.
“Shinji!” Lea berteriak. Terkejut melihat Shinji yang dipegangi dua orang pria berbadan besar.
“Lea?!” Shinji sama terkejutnya dengan Lea. Sekarang berusaha melepaskan diri dari dua pria yang memeganginya.
“Lepaskan dia,” perintah pria berkalung perak itu dalam suara tegas dan datar.
Dua pria itu menurut, segera melepaskan Shinji yang segera menghampiri Lea. Menariknya ke pelukannya. Mendekapnya erat.
“Adegan melankolis,” kata pria itu sinis, yang langsung disambut tawa oleh anak buahnya. “
“Kau tidak apa-apa?” Shinji mencengkeram wajah Lea dengan kedua tangannya. Mengusap pipinya lembut seakan tak ingin melukainya. “Mereka tidak menyentuhmu?”
Lea menggeleng. “Ada apa Shin?” tanyanya terisak. “Kenapa mereka mencarimu? Kau kemana saja?” Lea membenamkan wajahnya di dada Shinji. Membasahi kausnya dengan air matanya. “Mereka memukuli Juna...”
“Juna?” Shinji jelas tak tahu apa yang terjadi pada Lea dan Juna di malam penculikan itu. Dia kelihatan syok mendengar kata-kata Lea barusan. “Bagaimana bisa?”
Terdengar suara tawa mengejek dari belakang Shinji. “Tukang masak itu sok jadi pahlawan. Kami terpaksa mengurusnya,” kata pria berkalung perak itu lagi.
“Katakan Shin, ada apa sebenarnya?” desak Lea. Mencengkeram erat kaus Shinji. “Apa hubunganmu dengan mereka?”
“Lea...”
“Aku mohon...”
“Lea, aku...”
“Katakan, Shin! Ada apa?!”
“DIAM!” Shinji membeliak pada Lea. Mencengkeram kedua pundaknya keras.
Lea bungkam. Kaget dengan reaksi Shinji, yang selama ini tak sekali pun dilihatnya. Dia jatuh terduduk ke belakang, menatap Shinji dengan ekspresi terguncang.
“Yakuza... tetaplah Yakuza...” Pria berkalung perak itu berkata.
“Diamlah, Kyouta!” hardik Shinji, menoleh ke belakang. “Diam!”
“Seromantis apa pun dirimu, kau tidak bisa menyangkal kalau kau punya darah ayahmu—”
Entah bagaimana, tahu-tahu pria bernama Kyouta itu sudah terjatuh ke lantai dengan Shinji di atasnya. Dia menghujamkan tinjunya berkali-kali ke wajah Kyouta seperti orang kesetanan. Pria-pria lainnya segera memeganginya. Mengangkat tubuh Shinji dengan paksa dan susah payah, karena Shinji berusaha melawan

Lea gemetaran. Dari kepala sampai kaki. Air mata terus meleleh ke pipinya. Menangis tanpa suara. Terisak yang berusaha ditelannya karena ketakutan. Benar-benar ketakutan. Dia mundur, bersandar di bingkai tempat tidur. Memeluk erat bantalnya.
Kyouta berdiri dibantu salah satu anak buahnya. Namun dia segera menepis tangannya, begitu dia berhasil menegakkan diri. Dan tanpa bicara apa-apa lagi, dia menghantam wajah Shinji dengan tangannya yang terkepal. Amat keras, sampai-sampai bibir Shinji langsung luka dan berdarah.

“Shin!” Lea berteriak cemas. Tanpa berpikir turun dari tempat tidur, hendak menghampiri Shinji. Namun Kyouta segera menahannya, mencengkeram lengannya keras, sampai Lea mengaduh kesakitan.
“Jangan kau sentuh dia, BRENGSEK!” maki Shinji, berusaha melepaskan diri. “Akan kubunuh kau!”
“Rupanya kalian berdua saling peduli satu sama lain?!” Kyouta tertawa mengejek. “Bagaimana kalau aku melakukan ini?”
Kyouta menjambak rambut Lea, menekankan bibirnya ke bibir Lea dengan paksa.
“KURANG AJAR!!!” Shinji berteriak, sementara Lea berusaha keras melepaskan diri. Memukul dan mendorong Kyouta dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya dia menggigit bibir Kyouta sekeras yang dia bisa. Membuat laki-laki itu melepaskannya dengan terpaksa, mengaduh kesakitan, sambil memegangi bibirnya. Dan begitu Kyouta melihat darah di tangannya, dia menampar Lea amat keras, sehingga terjatuh ke lantai.
Shinji berteriak memanggil Lea. Namun Lea bergeming. Sepertinya pingsan. “BANGSAT kau, Kyouta!” umpat Shinji geram, berusaha keras melepaskan diri.
Kyouta menyeka darah dari bibirnya. “Berisik sekali,” katanya kemudian dalam suara datar. Kemudian sekali lagi dia melayangkan pukulan kepada Shinji, menghantam perut Shinji keras dengan tinjunya, membuatnya langsung lemas di cengkeraman dua pria yang memeganginya.
“Lepaskan dia,” perintah Kyouta. “CEPAT!” hardiknya dengan mata mendelik ketika anak buahnya saling bertukar pandang ragu.
Kedua pria itu segera melepaskan Shinji. Membiarkannya terjatuh ke lantai, tepat di kaki Lea. Terbatuk, menyemburkan darah.
“Karena aku masih punya hati,” Kyouta menekan pipi Shinji dengan sepatunya, “kuberikan kau kesempatan berdua dengannya,” katanya. “Berpamitan padanya. Karena malam ini adalah malam terakhir kau akan melihatnya. Begitu pun dia.”

Shinji sudah tidak bisa mendengar jelas kata-kata Kyouta. Ulu hatinya sakit tak terperi, seolah saja organ bagian perutnya telah hancur akibat pukulan Kyouta. Tak henti-hentinya dia terbatuk sembari menyemburkan liur bercampur darah.
Kemudian orang-orang itu pergi meninggalkan kamar, mematikan lampu hingga tak ada lagi cahaya tersisa. Menutup dan menguci pintu kamar dari luar. Meninggalkan dia dan Lea berdua saja.

Shinji mengangkat badannya sedikit, menyeretnya mendekat pada Lea yang masih tak sadarkan diri. Bertumpu pada satu sikunya. Dengan susah payah Shinji menggulingkan tubuh Lea, melingkarkan tangannya di sekeliling pundaknya. Menyentuh pipinya. Menyeka darah di sudut bibirnya akibat tamparan Kyouta tadi, kemudian menepuk-nepuk pipinya seraya memanggil namanya. Mencoba menyadarkannya.

“Shin...” Lea memanggil lirih, setelah matanya membuka lemah.
“Maafkan aku, Lea,” ucap Shinji. “Kau jadi begini...”
“Aku takut...”
“Aku juga...”
“Jangan tinggalkan aku lagi...”
“Tidak akan...”
Kemudian Shinji memeluk Lea erat, membiarkannya meletakkan kepala di lengannya. Mengusap rambutnya untuk membuatnya nyaman. Membisikkan kata, “Tidurlah, Lea. Aku ada di sini.”
Lea menyembunyikan wajahnya di dada Shinji. Membuatnya merasa terlindungi meskipun tak yakin untuk berapa lama. Wajah dan bibirnya terasa terbakar, tapi dia berusaha menahannya.
Saat ini, meskipun sebentar, Lea ingin merasa aman. Jauh dari kecemasan akan disakiti bahkan dibunuh oleh orang-orang itu. Dia juga tidak mau membebani Shinji dengan pertanyaan perihal itu. Dia ada di sini untuknya, itu saja sudah cukup. Andaikan besok dia mati, dia sudah pasrah. Setidaknya dia masih sempat melihat Shinji. Mendengar suaranya. Mengetahui kalau dia masih peduli padanya.
Itu saja cukup, gumam Lea dalam hati. Kemudian memejamkan matanya.
.........................
gambar dari sini
Hei, Shinji
Aku bersyukur kau ada di sini
Terima kasih

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (31)

>> Friday, September 16, 2011


The Hunter and The Guardian - 3

SHINJI memacu motor Ducati hitamnya. Bukan miliknya, melainkan milik Eiji yang diambilnya dari garasi. Baru empat puluh menit lalu dia menerobos keluar rumah pinggir danau itu. Rumah yang beberapa bulan ini mengurungnya. Tak mengijinkannya pergi kemana pun.
Sekarang dia baru saja meninggalkan areal kebun teh luas yang mengelilingi rumah tersebut. Dan masih tidak ada tanda-tanda kendaraan mengejar di belakangnya. Mereka pastinya belum tahu dia pergi.

Mereka menunggumu di Ancol.” Shinji mengingat kata-kata Daniel, penghubungnya dengan O ushi yang diteleponnya sebelum pergi.
Dari Chiyo, dia mendapatkan nomor ponsel Daniel, yang tertera bersama pesan teks yang dikirimkan Arata pada Eiji. Bagaimana Chiyo mendapatkannya Shinji tak mau tahu, yang pasti dia sangat berterimakasih kepada gadis itu, yang selalu membantunya, kapan pun dia membutuhkan bantuannya.
Termasuk kemarin, saat dia butuh waktu untuk pergi ke Jakarta, memberikan kado untuk Lea.

Shinji ngebut habis-habisan. Mengejar waktu. Sebelum jam empat sore, dia sudah harus berada di pantai Ancol. “Kalau tidak, mereka akan melakukan sesuatu pada Lea,” itu kata Daniel. Dan sekarang, ketika akhirnya dia masuk Jakarta, jam telah menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Masih ada waktu.

Seperti orang kesetanan, Shinji menerobos kemacetan jalan raya. Menyalip bus, hampir menyerempet kendaraan lain, menerobos lampu merah, tak peduli apa pun lagi. Yang ada di pikirannya cuma satu: Lea. Hanya dia. Dia ingin segera melihat wajahnya, memastikan dia baik-baik saja.
Shinji benar-benar berharap dia baik-baik saja.

Begitu motornya memasuki areal Ancol, jantungnya berdegup luar biasa cepat. Dia ketakutan akan apa yang terjadi padanya nanti, begitu bertemu dengan O ushi. Dia bisa saja mati. Namun, dikalahkan oleh kecemasannya pada Lea, dia memantapkan hati, terus menjalankan motornya ke arah pantai. Sekarang ini dia tak boleh jadi pengecut. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang ditimbulkan dari tindakan gegabahnya. Dia tak bisa mengorbankan sahabat, sekaligus perempuan yang sangat dicintainya.

Beberapa mobil sedan hitam terparkir di pinggir pantai Ancol, ketika Shinji sampai. Masih tersengal, dia melepas helmnya, turun dari motor, dan berdiri menunggu.
Pintu belakang dari mobil sedan yang berada paling depan membuka, dan seorang laki-laki jangkung kurus mengenakan stelan hitam turun dari mobil.
Kyouta Tanaka, Shinji membatin. Dia mengetahui namanya dari Eiji, yang sempat menunjukkan foto-foto petinggi O ushi yang mengejarnya. Mengatakan betapa berbahayanya mereka, serta hal-hal yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia entertaiment. Menjauh dari semua sahabatnya, dan juga Lea. Merelakan ibunya pergi bersama ayahnya ke Jepang agar terlindungi. Tapi ternyata semua itu sekarang sia-sia. Karena keteledorannya sendiri.

“Halo, Shinji,” seru Kyouta seraya berjalan mendekat. Dua orang laki-laki ikut turun dan melangkah di belakangnya. Badan mereka besar. Tubuh mereka penuh tato. Sama dengan Kyouta, yang tatonya hampir melewati pangkal lehernya. “Salut!” Dia bertepuk tangan, dengan seringai menyebalkan terhias di wajahnya. “Demi seorang perempuan kau menyerahkan diri. Wow!” Dia berhenti persis di hadapan Shinji. Memasukkan kedua tangan ke saku celananya. “Persis di film-film,” sambungnya lagi. “Menunjukkan betapa lemahnya kau sebagai seorang laki-laki.” Dia berdecak, mendengus sinis.
“Dimana Lea?” Shinji mengabaikan kata-katanya. Mencengkeram keras helmnya. “Kau lepaskan dia, dan aku akan ikut denganmu.”
“Dia tidak ada di sini,” kata Kyouta, tersenyum. Senyum yang membuat Shinji ingin sekali menghantamkan helm yang dipegangnya ke wajahnya. “Kau harus ikut kami dulu.”
“Tapi—”
“Satu kata lagi, aku tak menjamin Lea selamat,” potong Kyouta. “Aku tinggal menelepon, dan orangku... dimana pun dia akan membuat Lea...”
“Oke. Aku ikut.”
“Benar-benar laki-laki sejati.” Kyouta mengangguk-angguk. “Tapi andaikan kau tak mau ikut, kami yang akan membuatmu ikut. Rela atau pun tak rela. So... you first.” Kyouta merentangkan satu tangannya, mempersilakan Shinji berjalan lebih dulu.
Mau tak mau, dengan langkah berat, Shinji berjalan, diapit oleh dua orang pria yang berdiri di belakang Kyouta, menuju mobil sedan hitam yang telah menunggu.
.................................

“Anda harus makan, Nona Lea,” perempuan muda yang bernama Sika, itu membujuk Lea untuk makan makanan yang dibawanya. “Anda sudah tidak makan seharian. Anda bisa sakit.”

Lea tak menyahut. Terus berbaring tengkurap di kasur tempat tidur besar di dalam kamar tempatnya disekap sejak kemarin. Matanya bengkak dan merah, karena tak berhenti menangis. Dia bingung, ketakutan dan juga cemas. Kebingungan akan apa yang sebenarnya sedang terjadi, ketakutan akan disakiti dan cemas akan keadaan Juna. Terus-terusan berdoa Juna baik-baik saja sekarang. Dia tak bisa membayangkan Juna celaka atau mati karena dirinya.
Orang-orang ini berbahaya, Lea yakin itu.

“Kalau Nona Lea ingin tahu keadaan Chef Juna,” Sika berbisik. Mata Lea membundar, buru-buru mengangkat wajahnya untuk menatap Sika, “dia baik-baik saja,” katanya. “Tapi...”
“Tapi apa?” Mata Lea membeliak penasaran.
“Saya nonton di berita tadi siang... Chef Juna menghilang dari rumah sakit.”
“Apa?”
“Ya. Dia menghilang. Polisi belum bisa mengatakan apa-apa. Maksudnya, apa dia diculik atau pergi dari rumah sakit. Mereka belum tahu.”
“Tapi... dia hidup kan? Maksudku... dia tidak...”
“Dia luka-luka, dan mengalami gegar otak akibat pukulan benda keras di kepala,”—Lea menutup mulutnya, cemas—“tapi... dia hidup,” jelas Sika. “Nona Lea bisa lega sekarang.”

Lea duduk tegak di atas kasur sekarang. Teringat kalimat terakhir Juna, saat mereka berpisah—“Aku akan mencarimu, Lea!”, dan entah kenapa merasa lebih lega dari sebelumnya. Dia sebenarnya tak mengharapkan Juna mewujudkan kata-katanya, namun setidaknya Lea merasa tenang mengetahui dia baik-baik saja. Dimana pun Juna sekarang, Lea berharap dia selamat. Dia tidak diculik. Tidak dalam keadaan bahaya.

“Nona Lea, mau makan sekarang?” Sika bertanya, memandangnya ragu. “Sedikit saja.”
Kendati sama sekali tak berselera, Lea meraih piring berisi nasi dan lauk—Lea tidak memerhatikan lauk apa itu, mengambil sendoknya, kemudian menyendok makanan untuk disuapkan ke dalam mulutnya.

Pahit. Karena dia sama sekali tidak makan atau minum apa pun dari pagi tadi. Bibirnya kering. Sika duduk di tepi tempat tidur, mengamatinya.
Lea tidak tahu kenapa dia begitu baik. Sejak dia dilempar ke dalam kamar ini, hanya dia satu-satunya yang memerhatikannya. Membawakannya air hangat untuk menyeka wajahnya yang basah oleh keringat, mengobati luka lecet di kakinya, bahkan membasuhnya dengan air hangat. ecet karena terseret dengan air hangat. Dan meskipun Lea tak menyentuhnya, dia tetap membawakan makanan untuknya; membujuknya untuk makan.

“Siapa orang-orang ini sebenarnya?” Lea menanyai Sika, seraya mengunyah makanan di mulutnya. “Kenapa mereka menculikku?”
“Saya tidak berani menjawab pertanyaan Nona,” kata Sika. “Saya hanya pelayan. Tidak boleh mencampuri urusan Tuan saya, maupun...” Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Menunduk.
“Kenapa kau menjadi pelayan di sini?”
Sika mengangkat wajahnya lagi. “Orang tua saya sudah mengabdi sejak lama. Maaf, Nona. Saya tidak bisa bicara lagi.” Dia tampak ketakutan. Melirik ke kanan dan ke kiri seakan ada yang mendengar. “Maaf, Nona Lea.”

Kecewa, tapi merasa iba pada Sika, Lea tersenyum, mengangguk kecil, kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Suara kendaraan menderum keras dari luar memasuki halaman. Tampaknya ada yang baru datang.  Sika buru-buru berdiri, dan berjalan menghampiri jendela. Segera berbalik dan mendekati tempat tidur. “Saya pergi dulu, Nona,” pamitnya pada Lea. “Saya mohon, Nona tidak mengatakan kalau...”
“Tenang saja, Sika,” Lea menyela. “Aku tidak akan bicara apa pun.”
Sika tersenyum penuh terima kasih, setelah itu mengangguk, dan berpaling. Berjalan mendekati pintu, dan menghilang di baliknya. Terdengar suara ceklik keras, tanda pintu telah dikunci kembali.

Lea meletakkan piring di atas meja sebelah tempat tidur. Dia menoleh ke arah jendela, menyaksikan senja mulai beranjak gelap.

Sampai kapan aku di sini? Dia bertanya-tanya. Apa mereka akan membunuhnya? Menyakitinya? Memperkosanya? Atau mungkin akan memutilasinya?
Lea membungkuk memeluk lututnya. Air mata kembali berjatuhan, dari mata mengalir ke betisnya.
Apa semua ini ada hubungannya dengan Shinji, seperti yang pria itu katakan padanya kemarin, dia kembali memikirkannya. Apa Shinji yang membuatnya begini? Apa hubungan mereka dengan Shinji?

Saat Lea baru saja mengangkat wajahnya, terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Menceklik keras, mengganggu kesunyian. Dan sejenak kemudian, pintu membuka, seorang pria masuk, disusul oleh seorang pria lagi, yang kemarin menodongkan pistol ke kepala Juna.
Dia tersenyum pada Lea.
............................................
gambar dari sini
Saat ini aku lebih mencemaskan orang lain,
daripada diriku sendiri.
Kenapa?

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP