LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (24)

>> Wednesday, August 31, 2011



Rise And Shine, Lea

SAMPAI acara Konferensi Pers selesai, Shinji tak kunjung datang. Ponselnya tidak aktif. Telepon di apartemennya tak ada yang menjawab. Teman-temannya, satu pun tak ada yang tahu keberadaanya.

Malini sudah sangat murka. Dia juga merasa tidak enak pada Hanung. Berulang kali meminta maaf padanya, dan tetap merasa bersalah, meskipun Hanung telah mengatakan padanya untuk jangan merasa begitu.
Namun Malini adalah orang yang sangat bertanggung jawab, sehingga dia merasa sangat bersalah atas apa yang dilakukan Shinji.

“Aku akan mengulitinya hidup-hidup kalau dia muncul nanti,” desisnya amat geram, begitu dia dan Lea telah berada di dalam mobil yang mengantar mereka kembali ke apartemen. “Aku yakin dia akan datang ke apartemenmu nanti untuk minta maaf,” katanya lagi. “Lihat saja. Aku tidak akan mengampuninya.”

Tapi ternyata Shinji tidak datang. Dia juga tidak muncul keesokan harinya. Malini telah menyambangi apartemennya, tapi dia tampaknya juga tak ada di sana. Tak ayal, betapa paniknya Malini.
Kau yakin dia tidak mengirimkan pesan apa pun padamu kemarin?” tanyanya melalui telepon.
“Tidak,” jawab Lea. “Tak ada satu pun.”
Email, BBM, atau wall facebook mungkin?
“Tidak. Tapi... apa kau sudah mencoba menelepon teman-temannya lagi?”
Sudah berkali-kali. Aku bahkan mencoba menelepon ibunya di Bali, kalau-kalau dia ternyata ada di sana, tapi... tak ada yang menjawab.”
Lea diam. Merasa cemas. Shinji tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Apa kau...” Malini berhenti sejenak, seperti sedang berpikir, “tahu seseorang, siapa pun yang tidak kutahu yang kira-kira tahu dimana Shinji?
“Tidak. Tak ada,” Lea berpikir-pikir. “Sepertinya tidak. Aku hanya tahu beberapa, itu pun sudah kau kenal.”

Setelah itu Malini dan Lea diam beberapa detik. Sibuk berpikir, dimana kiranya Shinji sekarang.

Kau dimana?” tanya Malini kemudian.
“Aku di apartemen.”
Ya. Sebaiknya kau tidak kemana-mana hari ini. Karena bisa saja Shinji datang­—kalau dia datang beritahu aku. Aku akan langsung ke sana untuk  membunuhnya,” kata Malini sangat kesal. “Leo datang?”
“Tidak. Dia pergi ke Bandung untuk mengambil foto,” jawab Lea.
Oke. Tolong bantu aku untuk menghubungi teman-temannya lagi,” pinta Malini. “Dia benar-benar mengesalkan,” gerutunya lagi. “Bye, Lea. Happy holiday.”
Lea tersenyum, kemudian balas mengucap ‘bye’, dan mengakhiri teleponnya. Meletakkan ponselnya di atas meja, dan menatap kosong monitor laptop di depannya. Di sana terpampang poster film terbarunya ‘Love In Return’ yang baru saja diemail oleh Malini.

Di poster itu dia berfoto dengan Shinji di depan sebuah gereja—Lea lupa namanya, di kota Christchurch; mereka berdua berciuman. Foto yang sangat romantis dan imut. Menurut Hanung foto itu cocok dengan tema filmnya, mencoba membuatnya jadi salah satu material poster. Dan ternyata dia memang benar. Poster itu indah. Penuh cinta..

Where are you, Shin?” Lea menghela napas. Menyentuh foto Shinji dengan telunjuknya. Gundah.
......................................................

Jam 2 pagi.
Orang tolol mana sih yang menelepon pagi buta begini? Gerutu Lea dalam hati, seraya mencari-cari ponsel yang diletakkannya di bawah bantal.
Dengan mata masih rapat , dia membaca nama si penelepon, membeliak, dan buru-buru menekan salah satu keypadnya.
“Shin?!”
Hei. Aku ada di depan pintumu. Cepat buka.”
Tit! Shinji menutup teleponnya.

Meskipun dipenuhi tanda tanya, Lea segera turun dari tempat tidur. Melesat keluar kamar.

“Shin—“
“Sshhhh...” Shinji buru-buru menekap mulut Lea, dan mendorongnya masuk ke dalam. Menutup pintu kembali dengan cepat.
“Kau kemana saja? Malini—“
Kata-kata Lea terhenti oleh pelukan tiba-tiba dari Shinji. “Diamlah... Aku mohon... Diamlah...”
Lea mengerutkan kening. Kebingungan dengan sikap aneh Shinji. Kata ‘ada apa ini sebenarnya?’ berputar-putar di kepalanya sekarang.
“Shin...” Lea menyentuh punggung Shinji. “Ada apa?”
Tidak ada jawaban. Selain napas beratnya, tak ada satu suara pun keluar dari bibir Shinji. Dia memeluk Lea erat—sangat erat seolah tak ingin dilepasnya lagi. Dan setelah lewat beberapa detik, dia meregangkan pelukannya. Memegang pundak Lea, menatapnya dengan senyum muram di wajahnya. Senyum muram yang tak pernah sekali pun ditunjukkannya pada Lea. Membuatnya, entah kenapa, merasa sedih.

I love you, Lea,” ucapnya, seraya mengusap pipi Lea dengan punggung tangannya.
I love you, too, Shin,” balas Lea, tersenyum.
Shinji tersenyum, mengusap rambut Lea, kemudian kembali menariknya ke pelukan. Memberikan kecupan lembut di dahinya, dan melepaskannya lagi. Setelah itu berbalik. Melangkah ke pintu.

Lea membeliak panik, buru-buru meraih tangan Shinji. “Kau mau kemana?”
“Aku harus pergi, Lea. Jaga dirimu.” Shinji mengusap rambutnya. Berbalik.
“Eh? Tapi Shin...?”
“Bye.”
Shinji meraih gagang pintu, memutarnya dan menariknya membuka.
“Shinji...” Lea memanggilnya pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kau akan datang besok kan? Besok... kita akan ketemu Mas Hanung...?”
Shinji tersenyum, dan mengangguk. Setelah itu dia melangkah keluar. Menutup pintu perlahan.
........................................................

Bagai petir menyambar di siang bolong. Pepatah itu cocok untuk menggambarkan perasaan Lea, Malini dan juga beberapa orang lainnya mengenai surat pengunduran diri Shinji dari dunia Entertainment, yang diberitakan di seluruh acara infotainment keesokan harinya.

Surat tersebut diketik rapi, lengkap dengan tanda tangan Shinji; tanda tangan aslinya, Malini telah mengkonfirmasinya, dimasukkan ke amplop, kemudian diantarkan ke salah satu stasiun televisi nasional melalui kurir.
Selain pengunduran dirinya, Shinji juga memohon maaf pada semua orang terkait pekerjaan dengannya, teman dan kerabat atas keputusannya yang tiba-tiba. Memberitahu kalau dia tak akan ada lagi di Indonesia mulai hari ini.

“Dia lebih memilih mengirimkan surat itu ke stasiun televisi daripada aku... manajernya,” kata Malini di sela tangis tertahannya. “Ada apa dengannya...? Dia tak memikirkan kontrak kerja yang telah berjalan... Dia tak memikirkan... banyak hal. Apa dia sudah gila? Dia menghilang begitu saja... Apa sebenarnya masalahnya? Kenapa dia bisa begitu... Oh... Dia bahkan tidak memikirkan Lea...”

Lea menutup pintu kamarnya. Memblokir kekesalan Malini yang ditumpahkannya pada Jose, Pengacara production house tempatnya bekerja, yang mengurus dokumen kontrak kerja Shinji dan Lea. Dia dan Malini segera datang ke apartemen Lea untuk mengurus perubahan kontrak begitu berita itu tersebar.

Gontai, Lea berjalan ke tempat tidurnya. Duduk tegak dengan pandangan kosong. Dia terguncang. Sangat.
Baru pagi tadi Shinji datang, memeluknya, mengatakan kalau dia mencintainya, dan sekarang...
Sikap anehnya tadi pagi pastilah karena semua yang terjadi hari ini. Karena dia akan pergi meninggalkan semuanya. Tanpa memberitahu apa penyebabnya.

Menyakitkan.

Lea merenggut dadanya. Mengejapkan matanya. Mengantarkan butiran air berjatuhan ke pipinya.
Dia sangat hampa. Hatinya kosong. Kehilangan sahabat—kehilangan Shinji, membuatnya sedih. Membuatnya hancur. Seakan saja Shinji sudah tak ada lagi di dunia. Tidak akan kembali lagi. Tidak akan menari bersamanya lagi. Tidak akan mengejeknya lagi. Tidak akan marah-marah padanya lagi. Tidak akan melindunginya lagi. Tidak akan mengusap rambutnya lagi. Tidak akan ada Shinji lagi.

Begitu besar arti Shinji di hatinya. Dan dia..., baru menyadarinya.
................................................

Five! Four! Three! Two! One! Happy New Year!
Semua orang berteriak begitu jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Mengangkat gelas minumnya ke atas, dan saling ber-toast dengan teman-teman di sebelah dan di depannya masing-masing. Bertukar pelukan hangat. Bertukar ciuman. Merayakan datangnya tahun baru.

Lea menutup pintu kaca, dan suara riuh di dalam langsung senyap. Dia berjalan pelan ke arah pagar pembatas balkon hotel tempat dirayakannya after-party pernikahan Malini dan Jose tanggal 31 Desember pagi tadi, sekaligus merayakan pergantian tahun.
Di atas, puluhan kembang api memecah langit malam. Suara bising terompet, peluit, teriakan, dan klakson kendaraan terdengar bersahutan dari bawah gedung. Musik mengalun keras, berdentum-dentum dari segala arah.
Euphoria perayaan tahun baru ada dimana-mana. Hanya Lea yang merasa biasa-biasa saja dengan segala keceriaan ini.

Lea meletakkan gelas minumnya di atas pagar pembatas. Memandang sekelilingnya dengan perasaan yang tak dapat ia kenali.

Sudah enam bulan sejak Shinji menghilang, dan Lea masih merasa sedih atas kepergiannya yang tiba-tiba. Mencoba banyak cara untuk mengetahui keberadaannya. Sempat pergi ke Bali untuk mencari ibu Shinji, dan kembali tanpa hasil apa pun, karena rumahnya di sana juga telah kosong.
Shinji raib ditelan bumi, itu yang dikatakan Malini berulang-ulang setiap dia teringat Shinji. Dan ya... dia memang raib ditelan bumi. Sehingga tak akan mungkin bagi Lea atau siapa pun untuk menemukannya.

“Selamat tahun baru, Shin...” Lea bergumam sangat pelan, sehingga hanya dia yang bisa mendengar. “Where ever you are...”
Dan air mata meluncur turun ke pipinya.

“Kau akan kedinginan berdiri di sini, Lea.” Suara berat seorang laki-laki datang dari belakang.
Lea cepat-cepat menoleh, mendapati Juna berdiri dengan satu tangan di celana hitamnya. Tangannya yang bebas memegang gelas berisi minuman. Jas hitamnya tersampir di salah satu lengannya.
Juna tak berubah, tetap Juna yang sama seperti yang selalu diingatnya. Tampan.

Happy new year,” ucapnya berjalan mendekat.
Lea buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangannya, dan balas mengucapkan selamat tahun baru pada Juna.
Long time dont see,” ujar Juna. Meletakkan gelas minumnya di permukaan pagar pembatas.
“Ya... Long time dont see,” balasnya, tersenyum.
“Kau... kelihatan lebih...” Juna memandang menilainya, “polos. Kau meluruskan rambutmu?”
“Ya...,” jawab Lea, menyentuh rambut hitamnya yang terjurai di dadanya. “Aku merasa lebih nyaman begini.”
“Cantik,” puji Juna.
Kalau saja di balkon hotel ini sarat cahaya lampu, Juna pasti sudah melihat pipi Lea bersemu.

“Selamat, Chef,” kata Lea, setelah terdiam beberapa waktu, “untuk restoran barunya.”
Juna mendengus tersenyum, dan berkata, “Thank you,”
“Jack Rabbit... pasti sepi tanpa dirimu.”
“Jack Rabbit akan baik-baik saja,” kata Juna. “Mereka akan mencari Chef yang lebih baik dariku. Itu pasti.”

Lea mengangguk kecil. Menghadapkan wajahnya lagi ke depan tepat saat tiga kembang api besar kembali pecah di langit berbintang di atas.

Lea dan Juna mendongak menatap percikan kembang api yang menghujani langit. Jutaan sinar warna tumpah ruah.

“Malini dan Jose sangat tepat mengadakan pesta perikahan mereka di malam tahun baru,” dengus Juna. Menoleh ke belakang sejenak, melempar pandang ke keramaian teredam di dalam.
Lea terkekeh. “Ya... Mereka berpikir itu yang terbaik. Hari bahagia mereka dirayakan semua orang. Tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya.”
Juna turut tertawa.
“Romantis,” gumam Lea seraya memandang langit.  “Pemberkatan pernikahan mereka,” lanjut Lea cepat melihat Juna mengernyit tak mengerti.
“Oh ya?”
“Ya,” angguk Lea. “Pernikahan terindah yang pernah kulihat,” lanjutnya. “Semua orang menangis. Ikut larut.”
“Kau ingin menikah?”
Lea memberikan tatapan ‘jangan sembarangan!’ pada Juna. Juna tertawa, tubuhnya berguncang. “Lho, habisnya...”
Lea memutar matanya ke atas, kembali menghadapkan wajahnya ke depan. “yang pasti...” dia mengambil gelas minumnya, dan meneguknya sedikit, “kalau aku menikah, aku ingin seromantis pernikahan Lea Salonga, “ ujarnya. 

*Lea Salonga adalah penyanyi berkebangsaan Filipina, yang dulu pernah populer menyanyikan lagu 'We Could Be In Love' bersama Brad Kane, partner menyanyinya dalam lagu 'A Whole New World, ost. Alladin.*

“Memang seperti apa pernikahannya?”
“Sangat romantis,” jawab Lea, matanya membundar bersemangat. “Saat acara pemberkatan pernikahannya, dia menyanyikan lagu untuk suaminya dan... suaminya menangis, bahkan sebelum dia menyanyi... Its beautiful... the song... Judulnya ‘Two Words’”
Can I hear it?” tanya Juna.
“Hm?”
Can I hear the song?
You want to hear the song?
“Ya...”
You’ll cry.
No, I wont.”
Lea menatap Juna dengan pandangan menyipit.
“Aku tidak akan menangis. Try me,” tantang Juna.
“Gak ah,” Lea menggeleng. Tertawa.
Come on,” pinta Juna. “Aku jadi mempelai pria, dan kau mempelai wanita.”
“Kau hilang akal.”
“Ya. Karena wine.” Juna mengangkat gelasnya untuk sesaat, kemudian meletakkannya lagi. “Come on, Lea... Please...”
Okay,” kata Lea. “Taruhan kau akan menangis...”
“Apa taruhannya?”
“Oh... Nantang nih?”
Juna mengangkat pundaknya. “Kalau aku menang, kau harus membuatkanku mi rebus seperti yang dulu kau buat untukku.”
Deal!” Lea mengangguk. “Dan kalau aku yang menang... aku mau ke Dufan.”
Mata Juna melebar. “Itu tempat ramai.”
“Memang. Aku mau jalan-jalan seperti orang kebanyakan seharian penuh. Dan aku mau Dufan.”
Are you drunk?
“Ya. Sedikit,” jawab Lea nyengir.
Juna tertawa sejenak, kemudian menjulurkan tangannya. “Deal.”
Lea menjabat tangan Juna erat. “Deal.”
Sing then,” suruh Juna. Bersedekap.
Lea memberikan tangannya pada Juna. “You’ll be the groom?”
“Oh, ya...” Juna menyambut tangan Lea.
Mereka berpegangan tangan erat. Senyum di wajah masing-masing.
Lea kemudian menarik napas dan mengempaskannya perlahan. Menutup matanya sejenak, lalu mulai menyanyi:

In a while. In a word. Every moment now returns.
Sementara. Dalam kata. Setiap waktu sekarang kembali

For a while, seen or heard, how each memory softly burns.
Untuk sementara, terlihat atau terdengar, bagaimana setiap ingatan perlahan muncul

Facing you who brings me new tomorrows, I think out for yesterday
Menatap dirimu yang akan membawaku ke kehidupan baru, membuatku teringat masa lalu

How they let me to this very hour, how they let me to this place.
Bagaimana ingatan itu membawaku ke waktu ini, menuntunku ke tempat ini

Every touch, every smile, you have given me in care
Setiap sentuhan, setiap senyuman, telah kau berikan dengan penuh kasih

Keep in heart, always I’ll, now be treasuring everywhere
Aku akan selalu menyimpannya di hati, akan membawanya kemana pun

And if life should come to just one question
Dan bila hidup berakhir hanya pada satu pertanyaan

Do I hold each moment true?
No trace of sadness, always with gladness... I do.



saya attach video pernikahan Lea Salonga,
biar afdol bacanya.
warning: dijamin nangis bombay, siapin tisu.

(bersambung ya...)
Asli: Lita yang tulis! Jangan diplagiat!
.......................................................

6 comments:

rona-nauli August 31, 2011 at 12:30 PM  

hiks hiks, aku nahan nangis nih :(...Juna nangis gak ya? Litaaaaaaa cepetan ditulis lanjutannya yak yak yak...:D

Enno August 31, 2011 at 11:50 PM  

lho, tp aku ga nangis tuuu...

ehehehe,,,

:P

Poey September 1, 2011 at 1:27 PM  

maaf ceritanya ku-skip,ga tahan pengen liat videonya...
huhuhuhu...terharu...siapa yg ga bahagia kalau dicintai sebegitu besarnya :)

ka lita...aku jadi kepengen nulis sesuatu gara2 liat videonya.boleh kurepost videonya.nti ka lita ku-tag sbg inspiratornya.

l i t a September 1, 2011 at 3:05 PM  

@Poey: silakan di repost, gak ngetag juga gak papa kok. Video itu patut disebarin soalnya; Terlalu indah untuk gak dikasi tahu dunia (ceileee)

EnnyLaw September 1, 2011 at 9:00 PM  

wahh manis banget...
cuit cuit :p

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP