LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (23)

>> Tuesday, August 30, 2011



The Press Conference

MALINI telah mengatakan pada Lea, kalau pers telah mengetahui perihal Lea yang dirawat inap saat berada di New Zealand, plus kabar mengenai Juna yang telah menyelamatkannya. Juga—ini yang gawat, kalau mereka berdua telah bermalam di sebuah cottage di Danau Tekapo beberapa hari lalu.
Informasi darimana? Tak ada yang tahu. Yang pasti kabar itu telah beredar bahkan sebelum Lea keluar dari rumah sakit.

Sekarang sudah beberapa hari sejak kepulangan Lea dari New Zealand, dan dia belum diperbolehkan pergi kemana-mana oleh Malini. Membuatnya bosan dan stres, karena tidak bisa menghirup udara bebas.
“Tunggu sampai jadwal konferensi Pers ditetapkan,” tegas Malini saat Lea bertanya sampai kapan dia menjadi tahanan rumah. “Berita mengenai kau dan Juna benar-benar menggila. Untung Juna sedang di Amerika.”

Juna di Amerika. Lea sudah tahu itu. Juna telah memberitahunya di rumah sakit saat terakhir kali keduanya bertemu. Menjenguk salah satu teman terbaiknya, itu alasannya. Untuk beberapa hari. Dan... Aline turut bersamanya.

Aline bersamanya sekarang...

“Besok konferensi Pers, sekalian promosi Love In Return,” kata Malini Sabtu malam, saat dia mengunjungi Lea. “Memang terlalu dini untuk promosi, tapi Hanung bilang lebih baik seperti itu. Dia ingin membuat seolah-olah kejadian tersebut direkayasa untuk mendongkrak film kalian.”
“Kenapa Hanung sampai merendahkan diri begitu hanya untuk menyelamatkan Juna?” gumam Shinji sinis, menyuapkan potongan kecil Choco Forest ke dalam mulutnya.
“Kenapa kau selalu sinis begitu?” sengat Malini, yang dibalas beliakan oleh Shinji. “Lea yang perlu diselamatkan, bukan Juna. Perempuan bermalam dengan laki-laki tanpa ikatan apa pun tanpa pengawasan, pasti akan menimbulkan fitnah yang tidak-tidak. Kalau sudah berkembang, karir Lea bisa terancam.”
“Kenapa jadi cemas?” tukas Shinji dengan mulut penuh. “Tidak ada yang terjadi kan antara Lea dan Juna malam itu? Bilang saja terus terang pada mereka. Gampang kan? Tidak perlu susah.”
“Tidak segampang itu, Shin,” ujar Malini. “Kau tahu bagaimana pendapat publik dengan hal-hal seperti itu.”
“Tapi kan memang tak ada yang terjadi,” balas Shinji. “Ya kan, Lea?” Shinji menoleh ke belakang, pada Lea yang duduk dengan kaki menyilang di atas sofa. Tidak bersuara sejak tadi. “Atau... memang terjadi sesuatu...”
“Tidak ada yang terjadi,” kata Lea tak bersemangat. “Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
“Aku tidak ‘berpikir yang tidak-tidak’ “ kata Shinji. “Malini yang curiga.”
“Aku tidak curiga,” Malini membela diri. “Aku hanya mengatakan bagaimana opini orang nantinya tentang kau dan Juna yang...”
“Tidak ada yang terjadi,” tegas Lea sekali lagi. “Aku yakin itu. Juna tidak mungkin melakukan hal buruk padaku.”
“Kau tidak sadarkan diri, bagaimana kau tahu dia tidak melakukan apa pun padamu?” timpal Shinji.
“Karena dia bukan orang seperti itu,” sahut Lea mendadak gusar. “Dia bukan laki-laki yang...” (entah kenapa mendadak dia jadi sangat sedih. Matanya panas) “bisa dengan ringannya melakukan sesuatu dengan orang yang tidak disukainya.”

Air mata berjatuhan ke pipi Lea tanpa bisa dibendung sama sekali, membuat Shinji dan Malini heran. Saling beradu pandang bingung, dan memandang Lea dengan ekspresi bersalah di wajah masing-masing.

“Maaf, Lea. Aku tidak bermaksud...” Shinji angkat bicara, “menyinggungmu...”
Lea menggeleng buru-buru. Menyeka air matanya dengan punggung tangannya. “Tidak... Jangan begitu. Tidak perlu minta maaf. Aku hanya...” Lea tidak mampu melanjutkan, segera bangkit dari sofa, dan pergi ke kamarnya. Air mata masih menggenangi matanya.

Sejak pertemuan terakhirnya dengan Juna, perasaan Lea sudah tak sama lagi. Hatinya sakit, tanpa dia tahu penyebabnya. Well, sebenarnya dia tahu, hanya saja dia berusaha menepisnya habis-habisan. Memendam perasaannya pada Juna sedalam mungkin, menguburnya ke dasar agar tak muncul lagi. Dan ketika ternyata rasa itu tak mau hilang, dia bingung. Tertekan, karena tiap detik, tiap menit, tiap jam, dan mungkin (akan) setiap hari, Juna akan terus muncul di benaknya.

Bayangan dirinya sedang bersama Aline... benar-benar membuat Lea cemburu. Cemburu yang merasuk ke otak, dan bagai virus, ‘cemburu’ itu mengkontaminasi tubuhnya sampai dengan sel-sel terkecil di dalamnya. Membuatnya luluh lantak.
...........................

“Kau sudah tahu apa yang akan kau katakan pada Pers, Lea?” tanya Hanung menjelang acara Konferensi Pers esok sorenya. “Kalau kau bingung... tidak usah bicara apa pun. Biarkan Malini yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak berkenan.”
Lea tersenyum kecil. “Aku tahu apa yang akan kukatakan pada mereka,” ujar Lea. “Dont worry, okay?
“Aku mengkhawatirkanmu,” kata Hanung. “Takut kau merasa tertekan dengan semua ini. Publik hanya bisa menghakimi tanpa ingin mengetahui fakta sebenarnya,” tambahnya lagi. “Be strong, ok?”
I will,” senyum Lea.
“Oke,” angguk Hanung, tersenyum menenangkan.
“Sudah siap?” Malini muncul dari balik pintu ruang VIP dimana Lea dan Hanung berada. Wajahnya tegang—dia sebenarnya selalu tegang, tapi ini luar biasa tegang, dan  meskipun dipaksakan ceria, wajahnya tetap telihat gundah.
“I’m okay,” jawab Hanung. “Lea?”
Lea hanya menjawab dengan anggukan, dan segera berdiri dari sofa merah yang didudukinya. Dia berusaha tenang. Memfokuskan pikirannya ke semua hal yang membahagiakan. Dia akan membentuk patronus-nya sendiri, untuk menghalau para dementor-dementor; para pers yang akan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan seputar dirinya dan Juna.

“Dimana kau?” Malini berbicara dengan nada sebal pada seseorang melalui ponselnya. “Konferensi Pers sudah akan dimulai dan kau belum datang...”

Lea berjalan di belakang Malini menuju hall Planet Hollywood. Dia tahu siapa yang sedang bicara dengan Malini; Shinji.

“Ada apa sih?” Malini berhenti. Merentangkan satu tangannya yang bebas, mencegah Lea berjalan. Raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat. “Aku tidak mau tahu. Kau harus segera kemari, Shin.”

Lea mengernyit, juga merasa heran. Shinji tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sesebal apa pun dia pada Malini, sesakit apa pun badannya, selelah apa pun dia tak sekali pun pernah tidak datang ke suatu acara yang mengharuskannya hadir. Apalagi di acara promosi begini.
Dan jujur, tanpa Shinji, Lea akan kekurangan kepercayaan diri.

“Huhhhhh. Anak itu!” gerutu Malini geram, seraya mematikan ponselnya.
“Dimana dia?”
“Aku tidak tahu. Dia tidak mau bilang. Dia juga tidak mau bilang ada apa atau kenapa dia telat. Selama ini dia tidak pernah telat. Tidak pernah tidak datang. Dan sekarang mendadak saja...” Malini memutar matanya ke atas. Tampak luar biasa kesal. “Ayo,” dia menarik lengan Lea, “semua pasti sudah menunggu. Oh, aku tidak tahu harus bagaimana dengan Shinji...”
Malini terus marah-marah sepanjang jalan menuju hall, dan baru diam begitu mereka memasuki hall yang sudah padat.
........................................

Kendati Hanung telah menjabarkan penuh semangat mengenai film “Love In Return”; menyebutkan nama Shah Rukh Khan sebagai produsernya, serta hal-hal lain yang seharusnya membuat semua wartawan antusias, tetap saja begitu sesi pertanyaan dibuka, tak satu pun wartawan yang bertanya—menyerempet saja tidak—tentang film tersebut. Mereka lebih tertarik dengan kisah Lea dan Juna beberapa hari lalu di Danau Tekapo. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang membuat Lea geleng kepala.

“Sejak kapan Anda, Nona Lea dan Chef Juna menjalin hubungan?” tanya salah satu wartawan infotainment yang berdiri paling depan. Di sebelahnya kameramennya menyorotkan kamera tepat ke arah Lea.
“Saya tegaskan sekali lagi,” kata Lea berusaha tenang, “saya dan Chef Juna tak ada hubungan apa pun sama sekali. Kami hanya... teman. Tak lebih dari itu.”
“Anda tidak mungkin bersedia bermalam bersamanya bila tak punya hubungan apa-apa,” seru seorang perempuan pendek gemuk yang berdiri di tengah.

Bermalam, Lea mengulang kata itu di dalam kepalanya. Kata itu kedengaran tak enak didengar dalam situasi seperti ini. Sangat menyudutkan.

“Saya memang tidak merencanakan bermalam di Danau Tekapo malam itu,” kata Lea masih dengan tenang, meskipun suaranya sedikit bergetar. “Karena saya seharusnya ada di Christchurch bersama yang lain, kalau saja saya tidak ketinggalan bus.”
“Bisa saja itu hanya alasan kan?” Perempuan itu kembali bertanya.
“Maaf, satu orang satu pertanyaan,” Malini yang duduk di sebelah Lea, menyela.
“Pertanyaan saya cukup dijawab ya atau tidak,” kata perempuan gemuk itu cuek. “Gampang kan?”
Mata Malini menyempit sedikit, tanda tak suka. “Tapi...”
Lea menyentuh tangan Malini, memberikannya tatapan ‘it’s okay’ padanya. Malini mengernyit tak setuju, namun setelah itu dia menaikkan bahunya sedikit, seolah berkata ‘terserahlah’ pada Lea.
“Kalau Anda berpikir itu hanya alasan, itu hak Anda,” Lea berkata. “Saya tidak bisa memaksakan orang yang telah beropini negatif tentang saya untuk memercayai kata-kata saya.” Lea tersenyum pada perempuan itu, yang kini bersedekap, membetulkan kaca matanya. “Saya tidak tahu sejauh apa rumor yang beredar mengenai saya dan Chef Juna malam itu, saya juga tidak bisa marah dengan siapa pun yang menyebarkan rumor buruk tentang kami, tapi yang bisa saya katakan sejujur-jujurnya, saya dan Chef Juna, tak ada hubungan apa pun.”

Bisik-bisik langsung memenuhi hall.

“Dia orang yang baik,” lanjut Lea. “Alasan kami menginap di tempat yang sama karena saya sangat sakit hari itu, dan Chef Juna menemani saya. Kalau dia tak ada... mungkin saya tidak akan berdiri di sini sekarang.”

Hall kini dipenuhi suara dengungan. Lea berusaha keras menulikan telinganya.

“Seperti yang Anda semua tahu, saya dirawat di rumah sakit karena Hipotermia. Tanpa bantuan Chef Juna dan pemilik cottage malam itu, kondisi saya pasti akan bertambah buruk .”

“Jadi bukan hanya Chef Juna yang ada di sana malam itu?” tanya pria berjaket yang duduk di kursi ujung kiri.

Lea mengangguk. “Mereka berdua yang menjaga saya saat kondisi paling buruk. Dan mereka berdua segera membawa saya ke rumah sakit di Christchurch begitu badai reda esok harinya. Saya berhutang budi pada Chef Juna... dan juga... Jane. Pemilik cottage itu.”

Lea mengerling Malini sekilas, melihatnya tersenyum lega yang samar. Begitu pun Hanung, duduk bersandar di kursinya, tampak puas.

“Yang saya bisa pastikan, Chef Juna adalah orang y akan membantu siapa pun yang memang butuh bantuannya. Kebetulan saja hari itu orang yang perlu dibantunya adalah saya. Dia orang baik, tolong jangan berpikir buruk tentangnya,” kata Lea lagi.
“Tapi dulu dia pernah melontarkan statement bahwa dia menyukai Anda...?”
“Dia hanya menutupi kesalahan saya,” jawab Lea cepat. “Saya yang tanpa sengaja mencederainya, dan itu pun karena dia berusaha membantu saya.”
“Tapi ada kemungkinan kan, kalau statement itu benar?”
Lea mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Saya pastikan... tidak.”
Dan kilatan blitz kembali mengepung Lea. Sementara wartawan yang lain mencatat di notebook masing-masing atau mengetik sesuatu di ponselnya.

Lea menoleh pada Malini yang tersenyum padanya. Mengangguk kecil, seolah memberikan pernyataan, “you’ve done a great job”.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (jangan diplagiat!)
.........................................................
gambar dari sini
walaupun kau tidak bersamaku
kupastikan...aku akan baik-baik saja

3 comments:

ninneta August 30, 2011 at 2:04 PM  

Hai, apakabar sahabat.... :)

Datang untuk mengucapkan,

Selamat hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.


-Ninneta-

l i t a August 30, 2011 at 2:31 PM  

@Ninneta: terima kasih, Ninneta. mohon maaf lahir batin juga ya...

Lia August 30, 2011 at 5:25 PM  

mbaaakk, kutunggu terusannyaa. hehe, tak bela2in cek via ponsel nih biar tau update-an si LEA. hehehe. :D

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP