LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (22)

>> Sunday, August 28, 2011


gambar dari sini


The Inconvenient Truth

“LEA!”
Suara Malini terdengar bersamaan dengan suara decit benda yang digeser buru-buru.
Lea mengejapkan mata. Memfokuskan penglihatannya yang nanar. Sosok-sosok samar bermunculan di depan matanya. Dia tak mengenali satu pun.
Do not ambush her like that,”—Jangan mengepungnya begitu, suara seorang pria dengan tegas menyingkirkan sosok-sosok itu. Pelan-pelan, Lea dapat melihatnya dengan jelas; pria asing, berambut hitam, dengan kacamata bertengger di hidungnya. Masih muda, dan berjas putih. Dokter?
Miss... Can you see me?” dia bertanya dalam nada ringan. Telapak tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri di depan mata Lea. “Nod your head, please.”
Lea mengangguk pelan, seiring pandangannya yang telah kembali jelas. Kini dia dapat melihat orang-orang yang berdiri di belakang Dokter itu.
Wajah Leo, adik laki-lakinya yang pertama dilihatnya; kelihatan cemas, namun amat lega. Malini kemudian, mencakupkan kedua tangan di depan dagu. Mata besarnya berkaca-kaca. Lalu tentu saja..., Shinji.

Feel dizzy?” Dokter bertanya lagi, seraya menempelkan telapak tangannya di kening Lea. Menatapnya penuh senyum, kemudian duduk di tepi tempat tidur, dengan pose yang sangat santai.
Lea menjawabnya dengan anggukan.
It’s normal, for someone whom unconcious for three days,” lanjutnya lagi.

Unconcious?—Tidak sadar? Lea sama sekali tak bisa mengingat bagaimana dia bisa sampai tak sadar. Kepalanya terasa berat. Otaknya serasa menciut di tempurungnya.

Dont think hard,” kata si Dokter lagi. “You’ll remember after you get better.”
Setelah itu dia bangun. Tersenyum lebar, sebelum akhirnya memalingkan tubuhnya pada Malini, Leo dan juga Shinji. “She’s all yours, but please... be careful. She’s still weak,” dia memperingatkan. Dan setelah memastikan ketiganya mengangguk paham, Dokter itu pergi.

“Kak...” Leo yang pertama kali memeluknya. Sangat erat, seakan dia sudah lama tidak bertemu Lea. “Syukurlah...”
Lea ber-‘hm’ lemah,. Tersenyum; mengangkat tangannya susah payah, bermaksud menyentuh pipi Leo. Leo meraih tangannya, membantunya menyentuhkan tangannya ke pipinya. Mereka berdua bertukar pandang penuh senyum.

Malini setelahnya, tidak memeluknya tentu saja—Malini sangat tidak suka memeluk dan dipeluk. Dia bukan perempuan yang menyenangi hal seperti itu. Kelihatan tidak peduli. Namun dari air mata yang mengalir ke kedua pipinya, Lea sangat tahu kalau dia mengkhawatirkan dirinya. Malini hanya duduk di tepi tempat tidur, tak berkata-kata selain tersenyum penuh haru dan meremas tangan Lea hangat.

“Kami tinggalkan kalian berdua,” kata Malini, setelah dia bangun dari duduknya—berdua maksudnya adalah Lea dan Shinji. Dia meraih lengan Leo, dan menariknya pergi. Tak memedulikan ekspresi protesnya. Meninggalkan Lea dan Shinji berdua saja di ruangan putih dengan bau manis menyengat. Bau obat.

Satu hal yang berbeda dengan Shinji yang Lea lihat hari ini, adalah bayangan hitam di bawah matanya. Shinji paling anti dengan bayangan hitam di mata, karena menurutnya akan membuatnya kelihatan tua dari semestinya. Karena itu mengherankan bagi Lea melihatnya.
“Hei,” sapa Shinji, dengan suara tercekat. Duduk di tepi tempat tidur. Tangannya meraih satu tangan Lea. Memijat-mijatnya canggung.
Lea mengembuskan napas perlahan, kemudian membalas, “Hei,” pelan. “Kenapa matamu?”
Shinji mengernyit. “Kenapa memangnya?”
Black shadow...?”
Shinji tersenyum simpul. “Hasil begadang dua hari penuh...”
“Karena aku...?
Shinji mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak. Tampak jengkel. “Karena siapa lagi?”
“Dokter bilang aku tak sadar tiga hari...?”
“Hari pertama kau... belum ada di rumah sakit.” Wajah Shinji tampak murung ketika mengatakannya.
“Di... mana...?” Lea mencoba mengingat.
“Di Tekapo Lake. Kau tidak ingat?”

Hanya butuh sepersekian detik sampai Lea berkata, “Juna?” dengan cemas pada Shinji. Dia baru saja teringat kalau dia ketinggalan bus yang akan membawanya ke Christchurch..., dia teringat saat Juna menggandeng tangannya menyusuri perumahan penduduk...,  dia teringat penginapan di pinggir danau..., dia ingat saat Juna berkata akan memanggil dokter untuknya... Kemudian mimpi itu; Lea ingat mimpi itu. Mimpi indah yang ternyata masih amat segar di memorinya. Mimpi waktu Juna mencium bibirnya, setelah dia mengatakan... I love you?
Ya. Mimpi. Karena dia tentunya akan langsung menenggelamkan diri di Danau Tekapo bila dia nekat mengatakan itu pada Juna bukan dalam mimpinya.

“Dia pergi begitu aku dan Hanung datang,” jawab Shinji. “Dan tidak pernah datang lagi setelahnya. Hanung bilang dia sibuk sekali.”
“Kau sempat bicara dengannya?”
Shinji menggeleng.

Seharusnya Lea tidak perlu menanyakan itu, karena tidak mungkin Shinji menjalin pembicaraan dengan Juna, mengingat ketidaksukaannya yang misterius.

“Ya... setidaknya dia menyelamatkanmu,” Shinji berkata lagi, meskipun kedengaran enggan.
Lea mengerutkan dahi, tak mengerti.
“Kau terkena hipotermia,” Shinji memberitahu. “Suhu tubuhmu di bawah suhu yang semestinya. Dokter bilang kau bisa mengalami kerusakan otak parah atau bisa saja mati. Namun... kau tetap hidup dan juga... untungnya kepalamu baik-baik saja. Juna... pasti sangat menjagamu waktu badai salju itu.“

Lea diam saja. Dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi hari itu—malam itu, saat badai salju. Dia hanya ingat kalau dia sangat kedinginan, dan Juna memanggil Dokter untuk melihatnya. Dokter yang pastinya telah menyelamatkan hidupnya. Bukan Juna.
Tapi..., kalau tidak karena Juna, Dokter itu tentunya takkan datang kan?

Keesokan harinya, Hanung datang mengunjungi Lea untuk berpamitan. Dia akan pulang lebih dulu ke Jakarta untuk mempersiapkan syuting terakhir ‘Love in Return’. Berkali-kali dia mengatakan kalau dia sangat senang Lea baik-baik saja, membuat Lea jadi tidak enak hati.

“Maaf, Mas,” ucap Lea untuk kesekian kalinya.
“Tidak usah minta maaf. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita hari ini atau nanti kan?” kata Hanung bijaksana. “Lagipula, kau memang butuh istirahat.”
“Tapi semua jadi tertunda...”
“Tertunda sedikit, sudah biasa. Yang penting kau sehat, dan bisa kembali syuting dengan penuh semangat. Oke Lea?”
Lea tersenyum penuh terima kasih.
“Beruntung Juna bersamamu,” lanjut Hanung. “Dia sendiri yang membawamu ke rumah sakit  tiga hari lalu, begitu badai salju mereda. Memastikan kau baik-baik saja, sebelum kembali ke hotelnya. Aku bahkan harus berkali-kali meyakinkannya untuk pergi dan bilang padanya kalau aku dan juga Shinji yang akan menjagamu. Dia baru sedikit tenang ketika kukatakan Malini dan adikmu akan datang ke Christchurch.”
...........................................

Hanung berangkat ke Christchurch International Airport dengan diantar Shinji sore itu. Jadi Malini dan Leo yang mendapat tugas menemani Lea sampai waktu tunggu habis.
Malini mengatakan besok Lea sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisinya yang berangsur membaik. Memberitahukan kalau mereka semua akan kembali ke Jakarta lusa pagi untuk menyusul Hanung dan krunya.
Lea yang memang tidak betah berada di rumah sakit dan sedikit homesick langsung senang; tak sabar menunggu.

Karena harus berkemas, Malini dan Leo, tidak ikut menginap di rumah sakit seperti malam sebelumnya. Sedangkan Shinji, dia mengatakan kemungkinan akan datang agak malam, usai bertemu beberapa teman yang kebetulan tinggal di seputaran Christchurch, membuat Lea malam ini terpaksa menghabiskan waktu sendiri, hanya  ditemani televisi yang bertengger di atas meja kecil di seberang tempat tidur; menayangkan acara entah apa.

Mata Lea terpancang ke televisi—tempat tidurnya telah disetel miring untuk memudahkannya mengamati televisi dari jauh, walaupun sebenarnya dia tak menontonnya sama sekali. Sibuk dengan benaknya sendiri, yang sampai sekarang masih penuh ‘Juna’.
Sampai saat ini dia masih tak percaya, kalau Juna—dengan segala sikap misterius dan dinginnya, telah menyelamatkan hidupnya.

Akan kedengaran sangat berlebihan atau terlalu menghayal pastinya, bila Lea dengan ringannya mengatakan pada siapa pun yang mau mendengar, bahwa Juna, si Chef Master yang amat ngetop itu, telah menyelamatkan hidupnya dari hipotermia di suatu malam bersalju yang beku.
Memangnya siapa Lea, sampai-sampai Juna begitu berusaha menolongnya. Kenal dekat saja tidak. Yah, meskipun dia—Juna—pernah menciumnya, dan mengatakan satu dua hal yang membuat jantungnya tak beraturan, tapi dia tentunya tidak serius kan? Memiliki perasaan khusus padanya... perempuan biasa yang kebetulan saja terkenal mendadak. Dia bahkan tak secantik dan seanggun Aline Adita. Memikirkannya membuat Lea jadi merasa kecil.

Lea menggelengkan kepalanya buru-buru, berusaha membuang semua yang barusan memenuhi pikirannya. Menutup wajahnya dengan tangannya serapat mungkin.

Suara pintu didorong pelan dari luar, mengantarkan dengung suara dari luar kamar yang sebelumnya bisu. Sepatu berdecit, menapak ragu ke dalam kamar, disusul sebuah kepala yang melongok ke dalam kamar dari pintu  yang membuka. Senyum unik yang belakangan ini tak pernah bisa tersingkir dari ingatan Lea, kemudian mengembang ramah di wajah seseorang, yang kemudian masuk ke dalam kamar dengan serangkaian bunga Lili putih di tangannya.

Jantung Lea serentak berdegup kencang tak beraturan.

“Hei,” Juna menyapa dengan nada ringan. Langkahnya santai. Mimiknya santai. Penampilannya santai. Pokoknya dia terlihat (tak biasanya) santai kali ini. Menurut Lea sih begitu.

Lea membalas ‘hei’ canggung. Dia sama sekali tak berharap kalau Juna akan mengunjunginya lagi, mengingat informasi dari Hanung yang mengatakan bahwa Juna sangat sibuk sekali mempelajari masakan tradisional Maori yang rencananya akan menjadi salah satu menu baru di Jack Rabbit, restorannya, dan mungkin tak sempat datang ke rumah sakit lagi untuk menjenguknya.
Namun ternyata, dia muncul, dan sekarang duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Ekspresinya... juga tak seperti biasa. Lebih... ceria.

“Bunga favoritmu.” Juna memberikan buket Lili yang dibawanya pada Lea.
Lea tersenyum menerimanya. Senang dan juga tak menduga kalau Juna tahu. Lea meletakkan bunga-bunga tersebut di atas meja di samping tempat tidur, setelah sebelumnya mengucapkan ‘thanks’ pelan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Juna.
“Aku... baik. Sudah lebih baik.”
“Hanung sempat mengabarkan lewat pesan teks, kalau kau sudah siuman kemarin. Jadi aku... menyempatkan datang kemari. Sudah larut... Maaf.”
“Oh, jangan!” tukas Lea buru-buru, terlalu bersemangat sampai-sampai Juna kaget. “Maksudku... jangan minta maaf,” sambung Lea, merendahkan suaranya. “Kau tidak perlu minta maaf. Kau boleh datang kemari kapan pun kau mau... Eh, maksudku... Setelah apa yang kau lakukan untukku, please... jangan minta maaf tentang apa pun.”
“Apa... yang telah kulakukan untukmu?” Juna mengerutkan dahi.
“Kau... menyelamatkanku... dari hipotermia?”
Juna mendengus. “Bukan aku saja... tapi juga Jane... Pemilik cottage itu.”
“Dia dokter?”
Juna menggeleng. “Dia hanya kebetulan tahu dan mempelajari sedikit tentang medis, just in case... ada yang membutuhkan.”
“Hm...” Lea mengangguk-angguk. “Tapi yang kudengar dari... yang lain... kalau kau membawaku ke rumah sakit...”
“Bersama Jane... dia yang mengantar kita berdua kemari...” sela Juna cepat.
“Oh, tentu...” kata Lea, agak kecewa. Hatinya mendadak tidak enak, dari kalimat Juna barusan, seakan saja, dia tidak ingin Lea berutang budi padanya.
Sebenarnya sih itu bukan masalah, namun entah kenapa Lea merasa gundah.
But still... you help me though,” kata Lea, salah tingkah.
“Aku tidak mungkin membiarkan orang lain mati kan di sampingku kan? Setidaknya aku harus melakukan sesuatu,” balas Juna.

Seakan saja dunia seketika muram. Lea merasa sangat kecewa ketika ‘orang lain’ terlontar dari bibir Juna. Tapi dia berusaha keras mengatur hati dan pikirannya, membenarkan, bahwa dia memang bukan siapa-siapa bagi Juna; orang yang tidak penting. Jadi tidak sepatutnya dia tersinggung di sebut ‘orang lain’ olehnya. Karena pada kenyataannya dia—Lea, memang hanya orang lain, yang kebetulan perlu dibantunya.
Dia tidak seharusnya berharap kalau Juna memiliki perasaan lain padanya. Jatuh cinta padanya. Dan terlebih lagi dia seharusnya tidak perlu mendambakan Juna. Bagai pungguk merindukan bulan.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat)
...........................................................
gambar dari sini
Cantik namun tak tersentuh, menunggumu untuk menemukanku
Begitu sepi..., karena kau tak kunjung hadir
Perasaanku akankah kau sambut? Bila suatu hari kau akhirnya tiba?
Menghampiriku sendirian di sana...





3 comments:

kelly,  August 28, 2011 at 7:35 PM  

Kyaaa... Cepet juga... Gak sabar baca lanjutannya :) ditunggu ya

l i t a August 28, 2011 at 10:40 PM  

@Kelly: tq for visit & reading. Mudah2an kepalaku masih produktiffff... *kisshug*

Lia August 29, 2011 at 2:42 PM  

assiiikk udh no 22 ajaaa.. liburan ada bacaan asik begini siapa yg ga maauuu?
keep writing ya mbak
*kecupbasah

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP