LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (21)

>> Friday, August 26, 2011



I HAVE A DREAM

JUNA berjongkok di depan perapian. Menusuk-nusuk serpihan kayu bakar untuk menjaga api tetap menyala. Suara badai di luar begitu keras. Butiran salju menghantam jendela, menimbulkan bunyi keras berderak. Hawa hangat bercampur dingin menusuk. Dengan satu tangan dia merapatkan syal yang menutupi lehernya.

Perlahan dia berpaling, memandang ke tempat tidur di tengah ruangan. Mengamati Lea yang terselubung selimut tebal di atas kasur. Wajahnya sangat pucat, dan bibirnya membiru. Giginya bergemeretak, dan sudah beberapa waktu dia menggigil seperti itu.

Accidental Hypothermia—Hipotermia tak terduga. Hipotermia yang tanpa diprediksi menjangkiti seseorang secara tiba-tiba, akibat terkena udara dingin. Itu yang dikatakan Jane, pemilik cottage yang sekaligus perawat—sebenarnya dia bukan perawat, tapi dia tahu banyak tentang perawatan dari kakaknya yang perawat. Dan dia satu-satunya yang bisa diandalkan Juna untuk merawat Lea. Namun karena anaknya juga sedang sakit, Jane tidak bisa menunggui Lea semalaman, menyerahkan semuanya pada Juna—memberikan panduan-panduan yang bisa dilakukan Juna bila keadaan Lea bertambah buruk, dan berjanji akan segera datang, bila anaknya telah tidur.

Just watch her. Measure her temperature every ten minutes. If its below 90ºF, and I’m not here... you’ve got to do something,” katanya tadi sebelum pergi, seraya menambahkan lapisan selimut ke tubuh Lea.
Something...?
You have got to skin to skin with her.” Jane menegakkan tubuhnya, menatap Juna serius. “It’s the only way. If you dont do it, she’ll getting worst. She’d die.”

Juna harus menghangatkan Lea dengan tubuhnya, itu saran dari Jane bila sampai suhu tubuh Lea menurun dari suhu yang seharusnya. Dan baru beberapa menit tadi, dia mengukurnya dengan termometer kecil yang diberikan Jane, dan langsung bingung begitu mengetahui suhu tubuhnya turun dengan cepat mencapai 86ºF atau 30ºC.

Itu satu-satunya cara, Juna memantapkan hati. Kalau tidak... Juna tidak mau melanjutkan apa yang ada di pikirannya. Dia tidak mau membayangkan Lea tergeletak kaku tanpa nyawa, dengan dia duduk di sebelahnya tanpa melakukan apa pun. Tidak. Dia tidak mau jadi pengecut, dan terlebih lagi dia tidak mau Lea tidak lagi berada di Bumi.
Jadi, tanpa berpikir apa pun lagi, Juna berdiri. Membuka jaket dan jumpernya, membuangnya asal saja ke lantai, dan berjalan mendekati tempat tidur.
...........................................

LEA bermimpi, Juna memanggil namanya dari tempat yang jauh sekali. Memintanya membuka matanya yang sedang terpejam. Lea pun menurut, menyingkap kedua matanya yang terasa luar biasa berat dengan susah payah. Tak apa, gumamnya dalam hati. Aku sangat ingin melihat Juna.

Saat matanya membuka, Juna tak ada dimana pun. Hanya suaranya yang terdengar, memanggilnya, memintanya untuk datang kepadanya. Lea segera berlari. Menyeruak ruangan putih terang yang tak berujung. Mencarinya sambil meneriakkan namanya.
Kemudian dia terjatuh. Kakinya sangat lemas, tak bertenaga, seolah tulang-tulangnya raib seketika. Lea segera menyentuhnya, lega mengetahui kalau tulang kakinya masih ada, Hanya saja... sulit digerakkan. Kakinya begitu dingin. Amat dingin seperti es. Kakinya membeku. Badannya semua... beku.

“Lea...” Juna mendadak muncul di depannya. Meraih tubuhnya yang dingin, mendekapnya erat, dan berkata, “I’m sorry, Lea...”

Lea mengejapkan mata perlahan, dan semuanya tiba-tiba berganti. Bukan lagi ruangan putih tapi ruangan yang muram, buram, dengan api meliuk-liuk di perapian menerangi.
Juna sedang memeluknya. Lea dapat merasakan betapa hangat kulitnya yang menyentuh tubuhnya. Hawa napasnya yang berembus ke wajahnya begitu panas, mengusir dingin yang menderanya.

“Hei...” Juna tersenyum padanya. Senyum amat tulus yang pertama kali terhias di wajahnya; dan sekali lagi cuma bisa disaksikan Lea. “Jangan tutup matamu lagi. Stay with me...” bisiknya, mengusapkan tangannya ke pipi Lea lembut.

Mimpi yang sangat indah, Lea berpikir. Bisa didekap hangat oleh Juna. Idolanya... dan juga seorang pria... yang diam-diam dicintainya, membuatnya benar-benar bahagia. Meskipun cuma mimpi.

“Juna...” panggil Lea lirih. Mengerahkan seluruh energinya untuk bersuara.
“Ya...”
I love you...” ucap Lea. Meskipun hanya mimpi, aku cukup senang bisa mengungkapkan perasaanku padamu.

Senyum kecil samar mengembang di wajah Juna. Dia tidak mengatakan apa pun selain menatap Lea. Sorot matanya begitu lembut, yang pastinya tidak akan pernah Lea lihat dalam dunia yang sesungguhnya.

Ini hanya mimpi, Lea kembali mengulang kalimatnya dalam diam.  Mimpi yang teramat indah untuk menjadi nyata. Mimpi yang sayang sekali untuk ditepis.
Jadi ketika Juna mengecup kecil keningnya, Lea menerimanya. Tanpa ragu. Dan saat dia merendahkan wajahnya mendekat, Lea tetap bergeming.  Kemudian balas mencium bibirnya dengan hati yang penuh.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat)
.............................................................
gambar dari sini
Aku menangkap mimpi...
mimpi yang ada dirimu...
Kusimpan di alam bawah sadarku...
Karena terlalu indah untuk terlupa...
-Lita's words-

8 comments:

Anonymous,  August 26, 2011 at 7:31 PM  

Keren banget ceritanya... Makin bikin penasaran seru banget... Kapan bikin lanjutannya? Ditunggu ya :)

l i t a August 26, 2011 at 7:46 PM  

@Anonymous: kamu tuh yang bikin penasaran. Gak pake nama soale... *ayo, sebut namamu. Btw, thank u ya... untuk membaca

ann August 26, 2011 at 8:26 PM  

Aw..aw..aw..

Hihihi...

Lanjuuutt..!!

(Jangan lama-lama ya mba lita yang cantik..)

Tiyas Fransiska August 26, 2011 at 10:47 PM  

Kak Lita, I'm your new follower. Aku ikut gabung ya kak jadi readernya "LEA".
Suka deh ma ceritanya :)

I can't wait any longer for the next episode. :)

Enno August 26, 2011 at 11:12 PM  

eeuuuuh...
kan? kan? udah kuduga dr kemaren.

ckckck litaaa....
tokohku dan tokohmu jgn2 tar kau setting kyk gini pula...

wah wah...

:))

l i t a August 26, 2011 at 11:51 PM  

@Ann: Mudah2an gak lama ya... tergantung kepalaku nih.

@Tiyas: Yo yo yo.Welcome Tiyas Mirasih--ups!Tiyas aja deh. Sama aku juga gak sabar posting episode lanjutannya.

@Enno: Owww! Cuma di sini kita sama, Mbak. Selanjutnya... wait next ya...

Just call me Fii August 27, 2011 at 10:50 AM  

"Juna tersenyum padanya. Senyum amat tulus yang pertama kali terhias di wajahnya; dan sekali lagi cuma bisa disaksikan Lea."

huwaaa jadi galau mbak,inget mantanku yg sifatnya mirip banget sama Juna >.< hehehe maap jadi curcol

Anonymous,  August 28, 2011 at 6:57 AM  

Seru bgt ceritanya... Kapan nih lanjutannya? Ditunggu ya kak lita :)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP