LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (20)

>> Tuesday, August 23, 2011


Warm Night

JUNA memesan satu kamar lagi untuk Lea di hotel tempatnya menginap. Sebuah cottage, dekat danau. Agak jauh dari perumahan penduduk.
Sebenarnya ada beberapa hotel lain selain hotel tersebut yang lebih dekat keramaian, namun berpikir tak ingin sendirian di tempat asing bersama orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya, Lea memutuskan untuk menginap di hotel tempat Juna menginap.
Kendati tak berharap dia bisa menghabiskan waktu bersama Juna, Lea sudah cukup lega berada satu atap dengannya.

“Kau istirahatlah dulu,” kata Juna. “Kita ketemu makan malam. Tidak usah repot-repot menelepon,” Juna menyarankan, melihat Lea sibuk dengan ponselnya yang krisis sinyal. “Badai di luar pasti mendisfungsikan semua jaringan. Nanti kita pinjam telepon di restoran saja. Mudah-mudahan masih ada koneksi.”
Lea mengangguk lesu. Kemudian masuk ke kamarnya, menutup pintu di belakangnya tanpa melihat Juna yang masih berdiri di tempatnya.

Di dalam kamar udara terasa lembab. Api di perapian tak cukup menghangatkan tubuh Lea yang serasa beku. Dengan enggan Lea melepaskan semua barang bawaannya. Membiarkannya terjatuh di lantai kayu yang berkilap. Melangkah pelan ke tengah kamar yang rapi dan tertata. Memandang seisi ruangan tanpa semangat. Pikirannya melayang ke dalam bus yang (seharusnya) membawanya kembali ke Christchurch. Dia memikirkan Shinji dan juga Hanung, yang pasti sangat panik begitu tahu dia tak ada di dalam bus. Dan Malini; dia sedang di Jakarta, pasti akan nekat terbang ke New Zealand untuk mencarinya.  

“Bodoh kau, Lea,” gumam Lea pelan. Membodohi diri sendiri. Duduk di atas tempat tidur besar di tengah ruangan.
Api dari perapian di depannya berderak, menimbulkan bayangan-bayangan di tembok kamar. Udara hangat berputar di sekelilingnya, namun Lea tetap tak merasakan apa pun selain ngilu di kulit dan tulang-tulangnya. Dadanya terasa sesak, dan dia menggigil. Kepalanya pusing, dan matanya terasa berat. Ngantuk.

Diletakkannya ponsel di tangannya di atas meja di samping tempat tidur. Setelah itu dia melepas sepatu ketsnya, dan merangkak naik ke kasur secepat mungkin. Direnggutnya penutup tempat tidur, menarik susah payah pelapisnya, dan menelusup ke baliknya. Sengaja ia tidak membuka jaket dan sweaternya, untuk menjaga badannya tetap hangat. Tapi tetap saja, kaki dan tangannya masih terasa dingin. Lea memutuskan menuruti kantuknya. Berpikir kalau setelah tertidur, dia akan merasa lebih baik dari sebelumnya, dan dia segera memejamkan matanya. Menyelubungi kepalanya dengan selimut.

Sebelum matanya terpejam, Lea mengerling jam dinding di sebelah perapian. Sudah jam enam. Dan hanya butuh waktu sejam untuk tidur, sampai waktu makan malam tiba. Dan dia tidak ingin melewatkannya.
.....................................................


Sudah berapa lama dia tertidur, Lea sama sekali tak tahu. Yang pasti saat matanya tersingkap, di luar sudah gelap. Dan hawa bertambah dingin lebih dari sebelumnya. Jendela yang beku bergemeretak bercampur suara angin yang bertiup. Di luar, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Amat keras, seraya memanggil namanya.

Lea menggeser tubuhnya ke tepi. Susah payah mengangkat punggungnya untuk tegak. Merasa luar biasa tersiksa saat berusaha berdiri. Dan ketika ia berjalan, dunia sekelilingnya terasa berputar. Pandangannya tak fokus.

“Kau se—“ Kalimat Juna terhenti begitu dia melihat Lea. Dahinya berkerut.
“Hei, Juna...” sapa Lea singkat. Kemudian berbalik. Meninggalkan Juna yang berdiri di depan pintu, kembali ke tempat tidur.

Juna melangkah masuk ke dalam kamar. Memerhatikan Lea menyeret badannya ke atas tempat tidur, dan meringkuk di balik selimut. Tak bangun lagi.

“Lea...” Juna duduk di tepi tempat tidur. Mengamati Lea yang berbaring memunggunginya. “Kau sakit? Lea?”

Tak ada jawaban dari Lea. Dia kembali tertidur. Juna mengangkat tangannya, dan menempelkannya ke dahi Lea. Dingin.

“Lea...” Juna memanggil dengan cemas. Dia menepuk-nepuk pipi Lea, berusaha membuatnya bangun. “Hei. Lea...”

Mata Lea kembali membuka. Dia menoleh lemah, memandang Juna dengan tatapan penuh tanya.

“Badanmu dingin sekali,” Juna memberitahu, dan Lea mengangguk lemah. Juna terdiam sejenak. Memandang Lea dengan tatapan prihatin, kemudian  berkata, “Kau di sini dulu. Aku akan pergi mencari Dokter.”
Sambil berpaling Lea mengangguk. Kembali memejamkan matanya.
...................................

She has a fever...”—Dia terkena demam. Lea mendengar suara wanita bergaung jauh di telinganya. Entah berapa lama kemudian, karena sebelumnya dia tertidur.
 “Please. Would you please call a Doctor to see her...” Itu suara Juna, batin Lea. Dia kedengaran amat cemas.
Sorry. Hard storm outside. Nobody can’t come... There’s only me...”
Will she be... okay?
Keep her body warm,”—Tubuhnya harus tetap hangat. “And she has to eat. Chocolate’s better. Or sweet candies...
Hanya sampai segitu pembicaraan yang bisa Lea dengar. Setelahnya hanya gaung samar yang tak jelas. Mereka terasa begitu jauh. Juna..., terasa jauh.

(bersambung)
ASLI: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
...............................................................................
gambar dari sini

Hei... aku bermimpi melihat cahaya terang
Begitu hangat dan menenangkan
Kubuka mataku, 
dan ternyata... itu dirimu




4 comments:

Enno August 24, 2011 at 4:09 AM  

a... a... aku tau adegan selanjutnya!
hiks... ga rela akuh!

#nangisgegerungan

ann August 24, 2011 at 8:30 AM  

Wew.. Can't wait to get the novel..

Go lita go!! ;)

rona-nauli August 24, 2011 at 8:35 AM  

senengnya, dikhawatirkan begitu. mau dong :D

l i t a August 25, 2011 at 7:23 PM  

@Enno: Kok jadi mbak Enno yang gak rela... *hihihi* Juna-nya aja rela...

@Ann: Amin, Ann.

@Rona: Madam... bukan madam aja kali. Aku juga kepengen #gubrakkk!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP