LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (19)

>> Sunday, August 21, 2011



Missing?

New Zealand. Dua bulan kemudian.
..........................................

Lea mengeratkan syal di lehernya, mencengkeram rapat jaketnya, menghalau siksaan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Lalu, “Hachooo!” Dia bersin.

“Ini.” Shinji menyodorkan gelas plastik berisi teh panas padanya. “Jangan menolak. Wajahmu sudah sangat pucat karena kedinginan,” tambahnya cepat, ketika Lea menggelengkan kepala.

Mau tak mau Lea mengambil gelas plastik di tangan Shinji, meneguknya buru-buru. Tak merasakan apa pun sama sekali. Sepertinya mulut dan kerongkongannya sudah beku, sampai-sampai tak merasakan panas mengepul dari teh yang diminumnya.

Shinji duduk di kursi di sebelah Lea. Menyeruput pelan kopinya, seraya memandang berkeliling, menikmati pemandangan indah Danau Tekapo yang membentang di depan mereka. Danau biru jernih, dengan gugusan bukit dan gunung yang terhampar salju di atasnya.

Lea dan Shinji sedang syuting di tempat ini; film terbaru mereka: Love In Return. Masih diproduksi oleh Red Chillies Entertainment dan diproduseri oleh Shah Rukh Khan, namun kali ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Sutradara favorit Lea.

Sudah satu bulan mereka di sini, bersama kru dari Jakarta dan juga Delhi, sementara satu bulan pertama mereka habiskan untuk syuting di Jakarta. Dan lusa, mereka akan kembali ke Jakarta, untuk mempersiapkan wrap up-nya. Sungguh padat dan melelahkan. Lea sudah merasa badannya tak lagi fit seperti hari pertama dia tiba di New Zealand. Tulang-tulangnya serasa rapuh, dan kepalanya seringkali pusing. Terutama hari ini.

“Malini pasti sangat senang kalau melihat ini,” kata Shinji. “It’s so beautiful.” Dia menghirup udara dan mengembuskannya perlahan. “Ingin punya rumah di sini. Live here with the one I love. Make love everyday. And have lots kids.”
Lea tersenyum. Kembali merapatkan jaketnya. Meletakkan gelasnya yang kosong di bawah kursi. “Romantis sekali,” timpalnya menoleh pada Shinji, disusul kekeh kecil.
Shinji mendengus, ikut tertawa.

“Hei, kalian!” Suara Hanung terdengar dari belakang punggung mereka. Masing-masing segera memutar kepalanya ke belakang. Hanung sudah memakai jaket tebalnya, tanda kalau syuting telah selesai—dia hanya mengenakan kaus biasa kalau sedang bekerja, dan baru memakai jaket atau baju hangat kalau syuting telah selesai. “Ayo. Kita trekking,” ajaknya. Mengedikkan kepala ke belakang.

Shinji langsung berdiri. Kelihatan sangat bersemangat menerima ajakan Hanung, sedangkan Lea, benar-benar putus asa. Dia lebih memilih istirahat, daripada harus berjalan menyusuri areal perbukitan ditemani hawa dingin menusuk.
.......................................
Baik Shinji maupun Lea tidak bisa percaya, siapa yang kebetulan mereka temui di Gereja Good Sheperd; Juna dan juga... Marinka. Salah satu chef judges di acara Master Chef Indonesia.
Marinka tampak antusias melihat Hanung, Lea dan juga Shinji, sedangkan Juna, yah dia seperti dirinya yang biasa, tak berekspresi. Wajahnya tentunya sudah pulih; bengkak dan memarnya sudah hilang. Tetap menarik dan misterius seperti dulu hanya saja, kulitnya agak sedikit coklat.

“Aku tahu kalian sedang syuting di New Zealand, tapi tak menduga kalian juga memilih Danau Tekapo untuk syuting,” kata Marinka terheran, setelah sebelumnya memeluk hangat mereka bertiga bergantian. “Tapi Danau Tekapo memang indah.”
“Ya. Sangat,” timpal Hanung. “Tidak rugi jauh-jauh datang kemari, dan mengambil gambar di sini. Enchanting place. Halo, Juna, apa kabar?”

Juna menyambut tangan Hanung, dan mereka berdua berpelukan. “Baik,” katanya singkat.

Hanung tampaknya menjaga atmosfir di antara Juna, Lea (dan Shinji), tidak menyinggung sama sekali tentang ‘wajahnya’. Dan Lea bersyukur, dia sama sekali tak mengungkitnya. Lebih tertarik berbicara hal di luar topik ‘berbahaya’ itu.
Kasus 'tendangan' itu tentunya sudah dapat diselesaikan tanpa melibatkan pihak mana pun sejak sebulan lalu, karena Juna, dengan tegas berkata di depan Pers untuk tidak memperkarakan apa pun yang berkaitan dengan insiden itu. Membuat Malini bisa tersenyum lebar lagi, setelah banyak marah-marah beberapa waktu. 

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Hanung.
“Oh. Aku sedang mempelajari makanan penutup khas New Zealand,” jawab Marinka. “Sedang Juna” (dia menarik lengan Juna, menepuk-nepuknya) “belajar hidangan utamanya di salah satu hotel di Christchurch. Hari ini kami santai, jadi kami memutuskan jalan-jalan--sejak pagi tadi.”
Baik Marinka maupun Juna nyengir.

“Lea. Kau sedikit pucat,” kata Marinka. Mendekati Lea, melingkarkan tangan di lengannya, mengajaknya berjalan. Dan setelah itu mereka berdua terlibat obrolan seru tentang banyak hal, sambil menyusuri ruangan Gereja Good Sheperd. Sementara Juna mengobrol dengan Hanung, dan Shinji, dia memilih mengikuti Lea dan Marinka. Dalam diam.
................................................
Tidak banyak waktu untuk mereka tamasya di Danau Tekapo yang menakjubkan, karena sore hari, mereka harus segera kembali ke Christchurch untuk bersiap berangkat ke Jakarta esok harinya.
Terlebih lagi akan ada badai salju malam hari nanti, yang mengharuskan mereka pulang dengan segera agar tidak terhambat. Jadi dengan sangat buru-buru, Hanung menyuruh Lea dan Shinji, serta semua kru baik dari Jakarta maupun Delhi segera naik ke bus, setelah semua perlengkapan syuting selesai dirapikan.
Marinka dan Juna tidak ikut. Karena mereka membawa mobil sendiri dari hotel.

Shinji diam saja di sebelah Lea. Kepalanya menghadap ke kaca jendela bus. Memandang keluar hamparan pohon besar yang menaungi hutan hijau di seberang. Dia tampak tak bersemangat semenjak dari Gereja tadi.
Lea tak berani bertanya. Karena seperti yang sudah-sudah, pasti Shinji akan menjawab dengan ketus dan berkata, “tak ingin diganggu”, yang berarti dia memang tak ingin diganggu. Lea pun memilih untuk diam, menyandarkan punggungnya ke kursi bus. Menunggu bus bergerak.

Beberapa detik kemudian, matanya membeliak. Teringat suvenir yang dia beli di salah satu toko suvenir tertinggal di bar tempatnya membeli air mineral sebelum masuk ke bus. Dia langsung bangkit dari kursi, dan turun. Mengatakan pada salah seorang kru, bahwa dia keluar sebentar dan akan segera kembali. Toh, Hanung juga belum naik.
Dengan berlari, dia kembali ke Bar tersebut.

“Lea?” Juna hampir saja menabraknya saat Lea baru akan keluar dari Bar, dengan menenteng beberapa bungkusan. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya tampak terguncang.
“Aku mengambil ini,” Lea mengangkat tas kertas yang dipegangnya. “Ketinggalan.”
Juna kelihatan ngeri. Langsung mengomel, “Kau bodoh. Busmu sudah pergi.”
Mendengarnya Lea segera berlari secepat mungkin ke halte di mana busnya tadi menunggu. Dan Juna benar, busnya sudah tak ada. Dan tak ada siapa pun yang tinggal untuk menantinya. Mereka semua pasti tak tahu kalau dia tak berada di atas bus.

Mulut Lea terbuka lebar. Tampangnya tak terjelaskan. Ingin menangis, ingin marah, entah apa lagi. Dia shock. Benar-benar shock.

“Aku bisa ikut denganmu kan?” Lea menanyai Juna. “Ke... Christchurch?”
Juna menutup mata sejenak, mengembuskan napas pelan dari hidungnya yang dari kedengarannya bukan pertanda baik.
“Mobil dari hotel juga sudah pergi untuk mengantar Marinka kembali. Dia tidak mau berada di sini saat badai salju.”
“Tapi kau...”
“Aku memang ingin menginap di sini,” sambar Juna. “Setelah badai hilang, aku berencana trekking lagi; menjelajahi...” Juna tak melanjutkan kalimatnya, begitu melihat air mata berjatuhan dari mata Lea. “Oh, God. Please dont cry.”
“Mereka akan kembali menjemputku kan?” tanya Lea disela isaknya. Sementara itu, butir-butir salju sudah berjatuhan. Angin ber ‘woo’ menerpa.
Juna menengadah ke atas, menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. “Badai sudah mulai. Lebih baik kita ke dalam.”
“Aku tidak bawa baju sama sekali.” Lea sama sekali tak mendengar kata-kata Juna.
Juna memutar matanya ke atas, dan segera menarik lengan Lea. Memaksanya pergi dari sana.
“Aku bodoh sekali.”
“Aku tidak meragukan itu,” timpal Juna.
"Kenapa mereka tidak mau menungguku?"
"Bukannya tak mau menunggu, tapi karena mereka tak tahu."
"Mereka akan kembali kan?"

Duarrrr! 
Petir menggelegar dari balik awan kelabu di atas. Embusan keras angin dingin, meniupkan butiran salju ke segala arah. Badai salju benar-benar telah tiba.

"Kalau seperti ini, mereka tidak akan bisa kembali!" teriak Juna, mengatasi suara angin yang menderu keras, seraya menggenggam erat tangan Lea yang dingin

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
----------------------------------------------
gambar dari sini
Bahkan di tempat yang jauh sekali pun
Aku selalu menemukanmu
Benarkah... tanpa kita sadari,
hati kita saling tertaut?

6 comments:

EnnyLaw August 21, 2011 at 5:43 PM  

hmm, keren!!!! makin seru nih!

Anonymous,  August 21, 2011 at 7:30 PM  

Awawawawawawwawwww.... Lanjuuuuuuttttt tbh rame niy

deeo August 22, 2011 at 8:37 AM  

ayo mbak , terus...terus...SEMANGAT!!!

ann August 22, 2011 at 3:36 PM  

Ngga sabar nunggu lanjutannya.. ;)

Cemangaaaattt!!

rona-nauli August 23, 2011 at 1:07 PM  

uooo...kejadian berikutnya kira2 sama gak ya ama adegan film SRK ama Kajool yg waktu itu...lupa nama filmnya :P

l i t a August 23, 2011 at 1:56 PM  

@Rona: Madam... tunggu lanjutannya... ya. Btw, aku suka banget sama film 'Dulhania' itu, meskipun SRK ma Kajol, masih item2. Hihihihi...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP