LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (18)

>> Friday, August 19, 2011



Confession?

I’m sorry...” ucap Lea, entah sudah keberapa kalinya pada Juna, yang lubang hidungnya tersumpal tisu, sambil menekan handuk dingin ke bibir atas Juna yang bengkak.
Juna cuma diam, memijit-mijit bagian tengah dahinya yang juga terkena imbas tendangan Lea beberapa menit lalu. Cemberut. Murka... sepertinya.
“Aku benar-benar minta maaf,” kata Lea lagi, dengan tampang pucat. “Aku tidak bermaksud...”
“Pertama kaliny­a wajahku kena tendang, dan bukan karena berkelahi, melainkan karena aku hendak membantu seorang perempuan bodoh yang menganggapku cabul,” gumam Juna, menggeleng pelan. “Sangat tidak keren.”
Lea mati-matian menyembunyikan ekspresi geli di wajahnya. Mengerutkan wajahnya, sehingga terlihat seperti orang meringis.
“Aline pernah seperti itu, dan kakinya infeksi karena luka.”
Hati Lea serasa tertusuk duri yang tajam sekali, mendengar Juna menyebut nama Aline.
“Dia tak menghiraukan luka lecet di tumitnya, karena dipikirnya akan sembuh secepatnya, dan ternyata...” Juna diam sejenak, “lukanya meradang.”
“Habis... aku panik,” sahut Lea. “kau juga aneh, main tarik kaki perempuan sembarangan...” kata Lea agak kesal. Ringisan di wajahnya seketika hilang. Menekan asal saja handuk dingin ke rahang Juna. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu seperti ‘ciuman’ waktu itu...”
Lea keceplosan, reflek menarik tangannya dari Juna. Membuka tutup mulutnya dengan gugup. Bingung harus apa.
Juna menatapnya tajam.
“Kau pikir kau bisa mencium seseorang dengan main-main?” tanya Juna kemudian. “Tanpa perasaan sama sekali?”
Lea tak sanggup menjawab. Dadanya terasa sesak, mata hitam Juna yang menatapnya membuat semua organ tubuhnya seolah tak berfungsi dengan semestinya.
“Kau lari begitu saja hari itu, aku...”
Ternyata kau di sini, Juna.”
Juna menghentikan kalimatnya, menoleh ke arah pintu dapur, dimana Aline berdiri sambil bertolak pinggang. Bahkan saat memberengut begitu, dia tetap menawan. Lea tentunya tak bisa dibandingkan dengannya.
Aline melangkah mendekat. “Aku tahu pasti kau sembunyi di sini, dan Lea—oh, Tuhan!” Aline luar biasa terkejut melihat wajah Juna yang bengkak, plus sumpalan tisu bernoda darah di kedua lubang hidungnya. “What's happened?

Belum lagi Lea maupun Juna menjawab, pintu dapur kembali terdorong membuka, kali ini Shinji yang masuk. Wajahnya tegang. Meliha Lea, Shinji mengempaskan napas; lega sekaligus kesal.

“Kenapa kau menghilang—“ Kata-katanya langsung hilang begitu dia melihat wajah Juna. “Ada apa ini?” tanyanya cemas. Dia memandang Juna—yang mengembuskan napas pelan, kemudian Lea, yang cuma bisa menunduk. Dan ketika dia melihat kaki Lea yang tak beralas, merah dan juga lecet, dia kembali bertanya, “Kenapa kakimu?”

Malini muncul saat Lea baru saja akan menjawab pertanyaan Shinji. Dengan tergopoh-gopoh dia menghampiri Lea, dan langsung menyemburnya. “Ada toilet perempuan untukmu mengistirahatkan kaki, kenapa kau lebih memilih di sini?! Kau tahu kalau semua orang mencarimu? Aku mencarimu kemana-mana. Sampai-sampai aku harus merepotkan Juna—Oh my God! What happened to you?!” Malini mendadak histeris melihat Juna.
“Kau mencariku?” Lea bertanya pada Juna, yang menjawab dengan mengangkat sedikit bahunya, sementara Malini bertanya heboh pada Aline dan juga Shinji yang cuma bengong.
“Kenapa kau tidak bilang?”
“Kau menendangku.”
“Kau menendang Juna?!” Malini, Shinji dan Aline bertanya keras pada Lea.
Dan bisa dibayangkan setelahnya, betapa Aline dan Malini marah-marah pada Lea, dan Shinji sibuk mencecar Juna--“Apa yang kau lakukan pada Lea, sampai-sampai dia menendangmu?””—dengan wajah yang tak bersahabat.

Dapur itu jadi sangat ribut oleh mereka, sampai akhirnya Chef Planet Hollywood yang bule itu datang dengan golok teracung di tangan kanannya, mengancam akan menjadikan mereka hidangan utama kalau tidak segera keluar dari dapurnya.
......................

“Kau merusak semuanya dengan tindakanmu itu, Lea,” kata Malini jengkel keesokan harinya. Sudah sore, dan dia baru datang untuk mengklarifikasi insiden ‘penendangan’ kemarin pada Pers. “Acara kemarin sangat lancar, dan kau... dengan” (Nalini menjentikkan jarinya) “membuyarkannya begitu saja.”
“Aku tidak sengaja. Itu kecelakaan.”
“Meskipun kecelakaan, tapi tetap saja—“
“Kalau saja Aline tidak berkata apa-apa pada wartawan, tidak akan ada yang tahu kalau Lea menendang Juna,” sela Shinji, yang bersandar di sofa ruang tamu Lea.
“Ya, ya, ya... belalah dia terus,” Malini meletakkan satu tangannya di pinggang, memandang Shinji dengan kepala dimiringkan. “Kau juga merusak semuanya dengan mengancamnya. Dan sekarang kau terancam akan dituntut. Kalian berdua—oh! Aku tidak tahu harus bagaimana dengan kalian!” Malini melempar tubuhnya ke salah satu sofa tunggal. Menutup wajahnya dengan tangan.

Sunyi sejenak, sampai akhirnya Shinji menghidupkan televisi.

Junior Rorimpandey atau yang biasa disebut dengan Chef Juna, mengalami kekerasan fisik Sabtu malam kemarin oleh aktris yang tengah naik daun, Nalea Usara atau Lea, saat acara premiere film perdananya dan Shinji Tsubaki, Delhi’s Summer...”
“Oh Tuhan,” Lea bergumam pelan. Menutup mulutnya dengan satu tangan. “Kenapa aku lupa...? Infotainment...”
Shinji kelihatan tak peduli. Santai menonton acara infotainment di televisi di depannya. Malini cepat-cepat menutup kedua telinganya.
Berikut adalah keterangan Juna Rorimpandey saat ditanyakan perihal kejadian malam kemarin...”

Lea ingin sekali tenggelam ke dasar bumi. Perutnya terasa kosong.
Wajah Juna muncul di layar TV. Memar di hidung, dagu dan sekeliling dahinya, tampak jelas sekarang. Menodai wajah tampannya.
Kejadiannya sangat cepat, karena terjadi begitu saja,” kata Juna.
Memangnya kenapa Lea sampai menendang Anda?
Juna menyunggingkan senyum amat lebar, kemudian menjawab, “Saya hanya mengatakan kalau saya suka padanya, dan dia langsung panik.
Semua wartawan tertawa.  Sementara Lea menganga.
Bukan salah Lea, saya hanya terlalu bernafsu menyentuh kakinya—“ (Lea membeliak, Malini terbatuk) “--jelas dia marah...”

Tit
Televisi mendadak mati. Lea menoleh pada Shinji, yang sekarang melempar remote TV asal saja ke sebelahnya.

“Dia menyentuhmu?” Shinji bertanya. Suaranya parau. “Aku sudah katakan padanya, untuk tidak menyentuhmu.”
“Dia bohong.”
“Oh, dia bohong...” Shinji mengulang perkataan Lea, dengan ekspresi yang sangat tak mengenakkan.
“Ya. Dia juga tidak mengatakan kalau dia menyukaiku.”
“Dia tidak mengatakan kalau dia menyukaimu...”
“Tidak. Dia menarik kakiku dan aku menutupnya...” Apa yang sebenarnya ingin aku katakan? Pikir Lea, kesal sendiri.
 “Kau menutup kakimu... karena dia tidak mengatakan kalau dia menyukaimu...”
“Bukan begitu!”
“Lalu apa?”
“Dia hanya ingin mengompres kakiku yang bengkak karena stiletto sialan itu!”
“Apa kau menginginkannya?”
“Tentu tidak! Kenapa kau bertanya begitu?”
“Lalu kenapa kau biarkan dia memegang kakimu?”
“Dia yang menariknya lebih dulu...”
“Dia menarik kakimu...”
“Tapi dia tidak bermaksud begitu.”
“Kalau begitu...”
“DIAAAAAMMMM!” gelegar Malini tiba-tiba. Lea dan Shinji serentak bungkam. “Kenapa jadi kalian yang ribut? Seharusnya kau” Malini menunjuk Lea, ”dan kau” (dia menunjuk Shinji) “lega dia memberikan keterangan yang membuat kalian terlepas dari tuntutan hukum.”
Tidak ada satu pun yang membalas. Lea menggigiti kuku jarinya, sementara Shinji kembali bersandar ke punggung sofa.

“Aku harus berterima kasih pada Juna kalau begini,” gumam Malini, lebih pada dirinya sendiri. Berdiri dari sofa, dan menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja, menyandangnya. “Kau tahu Lea?”
Dia memandang Lea dengan alis terangkat, sementara Lea menatapnya dengan ekspresi bersalah, “Sepertinya dia tidak bohong kalau dia menyukaimu. Tidak ada satu pun orang yang rela kena tendang begitu, kemudian menyalahkan dirinya sendiri di depan publik luas hanya untuk menutupi kesalahan orang lain.”

Lea cuma bisa memandang diam Malini. Tak membalas kata-katanya.

“Dan kau, Shin,” Malini beralih ke Shinji yang memberengut menatapnya, “Lea sudah besar, dia berhak menyukai siapa pun yang dia mau. Kalau kau memang suka padanya, sebaiknya kau katakan terus terang padanya secepatnya, sebelum laki-laki lain mengambilnya.”
Shinji mendelik marah. “Apa mak—“
“Karena Juna... aku tahu seperti apa dia. Kalau dia sudah menyukai sesuatu, dia pasti akan berjuang mendapatkannya.”
“Lea bukan barang!”
“Memang bukan. Tapi dia sesuatu yang membuat Juna menginginkannya.”
Setelah itu Malini pergi. Membanting pintu di belakangnya, meninggalkan Lea dan Shinji berdua saja. Saling bertukar pandang. Bingung.

(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
...........................

Aku juga menyukaimu
Tapi takut
Tapi ragu
Tapi bingung
Tapi...

Semua kata 'tapi' itu membuatku sungkan bersamamu


7 comments:

rona-nauli August 19, 2011 at 2:28 PM  

hohoho...semakin panas ^^

EnnyLaw August 20, 2011 at 10:36 AM  

aduuh manis'a cerita cinta juna dan lea, hihiii suka banget!

Lia August 20, 2011 at 11:18 PM  

mbaaaaakkk terusannya doongg XD
ga sabar ga sabarrr XD

Anonymous,  August 21, 2011 at 1:01 AM  

Seru seru seru... Jgn lama2 ya lanjutannya....mmmmmm...

l i t a August 21, 2011 at 10:22 AM  

@all: Semakin panas, semakin semangat, semakin seru, semakin romantis. Tunggu ya. And keep reading... *kisshug*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP