LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (17)

>> Thursday, August 18, 2011



What A Kick!

SETIDAKNYA Lea bersyukur film ‘Delhi’s Summer’ membuat semua orang yang menontonnya tersenyum, tertawa dan diam di adegan yang tepat. Menandakan mereka cukup menikmatinya. Dan saat film berakhir, komentar mereka sangat melegakan, karena kebanyakan mengatakan mereka terhanyut akan ceritanya. Pujian pun berdatangan pada Lea dan juga Shinji. Terutama pada sang produser sekaligus Sutradara, Shah Rukh Khan. Sekarang Lea tidak terlalu khawatir lagi dengan kritik pedas atau ejekan yang mungkin terlontar di acara infotainment besok.  Andaikan ada, dia cukup mengingat ekspresi penontonnya malam ini. Penuh kekaguman dan menyenangkan.

Usai menyaksikan film, para undangan dijamu makan malam di Planet Hollywood, dibuka dengan tarian dari Lea dan Shinji yang sudah berlatih tiga minggu penuh (penderitaan) dengan Abi, diiringi lagu-lagu soundtrack ‘Delhi’s Summer’ yang dikemas secara medley.

Penampilan mereka seperti yang sudah-sudah membuahkan tepuk tangan dan decak kagum . Tari Bharatanatyam yang Lea tarikan membius para undangan, sedangkan Shinji, hampir semua tamu wanita berteriak-teriak histeris ketika dia menari hiphop bersama para back  dancernya. Dan saat mereka menari duet, tepuk tangan lebih membahana lagi. Karena mereka  terlihat lebih sempurna lagi. Sangat romantis. Sangat membuat iri.
Dan untuk Lea, menari adalah satu-satunya hal yang dapat membuatnya lupa akan masalahnya. Satu-satunya hal yang membuat dirinya seolah dapat melakukan segalanya. Satu-satunya hal yang dapat mengalihkan perhatiannya, dan dalam hal ini, mengalihkan perhatiannya dari... Juna. Dan juga Aline, yang duduk di sebelahnya. Membisikkan entah apa di telinga Juna.
…….

“Anda tidak perlu kami ambilkan sesuatu, Nona Lea?” tanya salah satu staf dapur Planet Hollywood sopan. “Minuman atau makanan kecil?”
Lea menggeleng buru-buru. “Tidak. Tidak usah. Saya sudah kenyang sekali,” katanya tak enak hati, sambil terus mengurut-urut tumit kakinya. “Terima kasih...”
Pria berapron hitam itu mengangguk, lalu pergi. Meninggalkan Lea sendiri di sudut, duduk di atas meja stainless, bertelanjang kaki.

Lea sedang bersembunyi dari keramaian di hall restoran, demi mengistirahatkan kakinya yang pegal dan lecet akibat stiletto tinggi yang dipakainya. Sebenarnya dia lebih senang mengenakan sandal atau sepatu trepes, tapi pihak sponsor yang menyediakan gaun yang dikenakannya saat makan malam, mengharuskannya memakai stiletto yang mereka sediakan untuk menyempurnakan penampilannya. Menyebabkan kakinya sakit dan juga luka lecet setiap ia bergerak. Membuatnya luar biasa tersiksa.

“Lea?” Seseorang memanggilnya, dan ternyata orang itu Juna--Ngapain dia di sini, pikir Lea. Dia baru saja masuk ke dapur, berjalan dengan jas yang tersampir di pundak. Lengan kemejanya tergulung sebatas siku. Alisnya tertaut. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya, mendekat.
Lea baru saja akan menjawab, tapi ketika Juna melihat tumit belakang kakinya yang merah dan  lecet, dia langsung bertanya lagi, “Kenapa kakimu?”
“Stilettoku...” Lea mengangguk ke dua stiletto hitam di lantai. "Baru dan... masih kaku."
Juna tampak paham, mengembuskan napas, menatap Lea dengan ekspresi yang tak dimengerti, kemudian tersenyum simpul.
Lea cemberut. Apa maksud ekspresinya?
Mendadak dia berteriak pada staf dapur yang sedang membersihkan kompor yang habis digunakannya, “Tolong ambilkan air dingin dan handuk kecil.” 
Si staf dapur mengangguk dan segera pergi. Tak lama kemudian, dia datang dengan membawa baskom alumunium berisi air es dan handuk kecil. Menyerahkannya pada Juna.
“Ada yang perlu diambilkan lagi Chef Juna?” tanya si staff dapur lagi ramah.
We’re okay for now. Thank you,” senyum Juna. Dan staff dapur itu pergi, kembali ke pekerjaannya.
Lea mengerutkan dahi, bingung apa yang sebenarnya akan dilakukan Juna. Dia mengamati Juna meletakkan baskom tersebut di atas meja di sebelahnya, menarik kursi, meletakkannya persis di depan Lea, dan duduk.
Lea buru-buru menggeser badannya, merapatkan bagian bawah gaun hitamnya yang longgar berenda; memeluk lututnya sambil memberengut.
“Sini kakimu,” suruh Juna.
“Kau mau apa?”
“Aku mau mengompres tumitmu. Kalau tidak...”
“Jangan cabul!”
Mata Juna membeliak. “Siapa yang cabul?” Juna habis kesabaran, menarik kaki Lea paksa. “Kenapa kau sulit sekali diberi tahu? Lukamu itu...”
“Tidak usah. Kakiku tidak apa-apa.” Lea tetap ngotot. Memeluk kedua lututnya lebih kuat lagi. Mukanya luar biasa merah sekarang.
Tapi Juna tak peduli, dia menarik betis Lea, menarik kakinya yang tak beralas, tak mempedulikan protesnya. Dan Lea pantang menyerah tetap mempertahankan kakinya; berusaha melepaskannya dari tangan Juna, tidak mempedulikan pelototan Juna. Dan selama sepersekian detik mereka berdua ribut dan saling tarik, sampai akhirnya Lea yang saking malu, panik dan jengkelnya terpaksa mengentakkan kakinya keras-keras, alih-alih terlepas malah menghantam wajah Juna. Membuatnya limbung, dan jatuh ke belakang diiringi bunyi brug keras dan suara kaki kursi yang berkelontangan.

Lea menekap mulut dengan kedua tangannya, bergumam ngeri mendesis yang hanya bisa didengar telinganya sendiri, “My God! I kick him!

(bersambung)
ASLI: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
............................
gambar dari sini

5 comments:

deeo August 18, 2011 at 3:03 PM  

OMG Leaaaaaaa berani-beraninya bikin Juna jatuh.....*sambilberkacakpinggang

Sassy Enno August 19, 2011 at 1:00 PM  

hahahahahahaha

sumpah! gw ngakak! bayangin chef juna jatoh kejengkang! ohohoho...

LOL

l i t a August 19, 2011 at 1:10 PM  

@Deeo: Lea-nya kan gak sengaja, dee... *kedip-kedip*. Dia tak bersalah... *hiiiiii*

@Enno: Aku juga ketawa kok nulisnya... *hehehhe*

rona-nauli August 19, 2011 at 2:16 PM  

hohoho...emang enak ditendang gitu :p

l i t a August 19, 2011 at 2:37 PM  

@Rona: Gak sengaja! Gak sengaja, Madam. Tak sengaja si Lea menendang Juna. *hihihi*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP