LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (16)

>> Tuesday, August 16, 2011



Hurt?

“LEA, kau baik-baik saja?” Shinji menyenggol Lea yang pikirannya sedang menerawang.
Lea mengangguk lesu, bersandar ke belakang. “Ya. Aku baik-baik saja. Hanya gugup.” Dia menoleh memandang keluar jendela mobil yang membawanya dan Shinji ke Planet Hollywood Jakarta. Sebentar lagi dia akan dibantai oleh pers dengan blits kamera yang bertubi-tubi ke arahnya. Seluruh Indonesia akan melihatnya, dan esok harinya dia akan tutup mata dan telinga dari komentar-komentar miring tentang penampilannya malam ini yang akan diulas di acara infotainment.
“Aku juga, kok,” timpal Shinji nyengir, membuatnya menoleh. “Jadi kau tidak sendirian. Lagipula apa yang perlu dicemaskan?”
Lea mendengus tersenyum, membiarkan Shinji merangkul pundaknya dan menariknya merapat, kemudian mengecup pucuk kepalanya lembut.

Meskipun seringkali tak serius, Shinji sebenarnya adalah pria yang begitu hangat. Saat Lea sedang merasa sedih luar biasa, dia selalu ada untuk menghiburnya. Meminjamkan dada atau pundaknya untuk menjadi sandaran. Tangannya selalu berusaha menangkapnya kapan pun Lea akan terjatuh  Dia... sahabat yang baik, walaupun menjengkelkan.

Lea hanya tahu nama lengkap Shinji, yaitu Shinji Tsubaki, tanggal lahirnya, dan dimana dia bertempat tinggal saat ini. Selain itu, dia tidak tahu banyak, karena Shinji, seperti halnya dirinya begitu tertutup mengenai hidupnya, terutama keluarganya. Lea hanya tahu dia dibesarkan oleh ibunya. Ayahnya, entah dimana.

Sekarang sudah hampir satu setengah tahun mereka bersahabat, sejak mereka sama-sama menjadi peserta di kontes pencarian bakat yang tayang di salah satu stasiun televisi nasional. Lea dengan tari bollywood klasiknya, dan Shinji dengan tari hiphopnya. Mereka berdua kemudian dipasangkan menjadi duo saat acara tersebut usai dan sering tampil off-air di mana-mana. Populer, kemudian go internasional, atas kesempatan yang diberikan oleh Shah Rukh Khan.
Namun, tetap saja, tak satu pun yang bisa Lea tahu lebih jauh tentang Shinji. Sepertinya ada jarak yang memang dia bentangkan di antara mereka.

Ping
Shinji menekan keypad Black Berry-nya, kemudian mengetik sesuatu.
“Malini sudah di sana, juga Shah Rukh,” dia memberitahu Lea kemudian, seraya memasukkan Black Berrynya kembali ke saku celananya, kemudian menyisir rambutnya dengan jari tangannya.
Shinji sangat tampan, dan kelihatan formal (tumben). Kemeja safari hitam yang diberikan Shah Rukh padanya menempel pas di tubuhnya. Kerahnya tinggi, dan satu kancing atasnya dibiarkan lepas. Seakan saja dia tak ingin citra ‘bad boy’-nya tenggelam di balik bajunya.

Lea tersenyum samar.

“Kenapa kau senyum-senyum melihatku?” Alis Shinji mengernyit.
“Kau ganteng.”
Shinji mendengus. “Kalau begitu..., mau jadi pacarku?”
Lea mencibir dan Shinji langsung tertawa, tepat saat mobil yang membawa mereka berbelok masuk ke pekarangan gedung Planet Hollywood.
Tawa Shinji langsung berhenti begitu suara teriakan riuh terdengar dari arah kanan dan kiri mereka. Wajahnya yang tadi penuh ekspresi mendadak jadi tak berekspresi. Tegang. Blitz kamera berkelebatan, dan orang-orang meneriakkan nama mereka berdua. Lea menengok ke arah Shinji, dan heran sendiri melihat wajahnya pucat.
Are you okay?” Lea ganti bertanya.
“Diamlah,” sengat Shinji.
Lea langsung mendengus yang buru-buru dirubahnya jadi batuk kecil.
..........

Jeritan para penggemar. Kepungan pers. Kilat cahaya lampu blitz kamera. Ribuan confetti di udara. Suara musik berdentum. Euphoria. Membuat Lea mual.
Smile, Lea. Stop cemberut gitu,” tegur Malini dalam suara bisik yang mendesis. Kemudian kembali tersenyum pada orang-orang yang menyapa Lea.
Lea tersenyum sekadarnya, memerhatikan Shinji dan Shah Rukh Khan yang sedang berfoto di depan poster besar film mereka, “Delhi’s Summer”, dikelilingi banyak wartawan.
“Perutku tidak enak.”
“Kau tidak makan tadi?”
“Hanya makan roti.”
Malini memberi tatapan ‘jangan bercanda padaku’ pada Lea, dan Lea cuma mengangkat bahu sedikit.
“Kalau begitu kau harus makan sekarang.” Malini menarik lengan Lea. “Aku akan membawamu ke dapur.Jangan menolak, karena makan malam baru akan disuguhkan saat acara nonton selesai,” kata Malini cepat, begitu Lea menggeleng panik.
“Aku tidak bisa makan apa pun saat tegang begini,” tolak Lea.
“Apa yang membuatmu tegang?”
Lea diam saja, tentunya dia tidak bisa bilang penyebabnya, karena Malini akan menertawainya habis-habisan atau mungkin marah-marah, kalau dia tahu alasan kegugupannya karena menunggu kedatangan Juna.
“Kau masih tegang bertemu Shah Rukh?” tanya Malini. Lea memutar matanya ke atas. “Tentu tidak kan? Karena kau kelihatan enjoy bicara dengannya tadi. Dan kau baik-baik saja dengan wartawan. You, and Shinji get along well with them,” cecar Malini. “Kau mencemaskan kritik filmmu?”
Lea menatap Malini putus asa, memerhatikannya, kemudian berkata, “Malini, please stop,” dan kembali memandang Shinji dan Shah Rukh Khan yang masih diwawancarai wartawan.
...........

You look very beautiful, Lea,” puji Shah Rukh Khan saat mereka sedang di lobi bioskop 21, menunggu pintu masuk teater dibuka. “More beautiful with this Kebaya.” Shah Rukh mengangkat gelas anggurnya ke arah Lea.
Lea cuma bisa nyengir, merasa sungkan dipuji oleh Shah Rukh Khan, yang juga kelihatan tampan dengan batik dan jas hitam yang sengaja dipakainya untuk acara premiere ini. Meskipun dengan penampilan sederhana dan tubuh yang tak terlalu tinggi, dia tetap berkharisma. Tampak menonjol di antara orang-orang yang ada di sini. Dan Lea kini tahu kenapa dia dijuluki King of Bollywood dan sangat dicintai. Bekerja bersamanya selama hampir lima bulan, membuktikan kalau dia bukan aktor dan orang biasa.

Seorang pria tinggi besar, berwajah timur tengah, menghampiri Shah Rukh Khan—, dan membisikkan sesuatu di telinganya, membuat perhatiannya teralih dari Lea. Lea kembali memandang berkeliling; Shinji di sebelahnya sedang mengobrol bersama Hanung Bramantyo yang antusias membicarakan politik, Malini—dia pastinya sedang menyiapkan persiapan di dalam teater bersama kru yang lain. Lea melihat ke arah lain, menemukan banyak selebriti dan publik figur yang kebanyakan tak ia kenal. Meskipun begitu mereka sangat antusias dan ramah pada Lea, sehingga kecemasan Lea tampil di depan publik sedikit terobati.

“Juna!”
Lea terperanjat. Nama ‘Juna’ yang diteriakkan keras-keras oleh salah satu wartawan di ruangan itu membuat badan Lea mendadak gemetaran. Kepalanya menunduk secara spontan. Wajahnya berangsur hangat.

Suara kaki berlari, suara blitz, suara orang-orang yang tumpang tindih memanggil Juna, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar samar, terdengar begitu menusuk di telinga Lea. Jantungnya berdegup sangat kencang, membuat dadanya sakit. Tak sadar dia meremas kuat ujung kebayanya.

“Kendalikan dirimu, Lea,” Shinji berbisik. Nadanya seperti perintah. Dan dia perlahan meraih satu tangan Lea, memaksanya melepas ujung kebayanya, dan menggenggamnya erat. Dia jelas tahu perasaan Lea saat ini.
“Oh, God,” Shinji berkata. kedengaran kaget, sementara Lea masih menunduk. “Angkat kepalamu, dan tersenyumlah dengan wajar.”
“Tapi...”
“Angkat kepalamu. Hei, Aline!”
Aline? Lea mengernyit, mengangkat kepalanya cepat-cepat, dan melihat Aline Adita, salah satu model cantik yang sangat terkenal sedang mencium kedua pipi Shinji. Anehnya, Juna berdiri di sebelahnya, mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya luar biasa menarik.
Lea tersenyum gugup padanya, sedangkan Juna, seperti biasa: tanpa ekspresi.

“Halo, Lea. Wow! Kau cantik sekali,” Aline beralih pada Lea, mengamatinya sebentar, baru kemudian memberikan kecupan kecil di kedua pipinya. “Aku tidak sabar menonton filmmu dan Shinji,” katanya antusias. “Untungnya Juna mendapat undangan premiere film kalian, jadi aku bisa lebih cepat menontonnya. Kami agak sedikit terlambat, karena si Chef ini harus kerja dulu.” Aline mengalungkan tangannya di lengan Juna.

Aline ternyata orang yang sangat menyenangkan dan ramah, dan seharusnya Lea merasa senang, namun sebaliknya entah kenapa, melihat senyum riang di wajahnya Lea jadi merasa gundah. Tangan Aline yang tertaut di lengan Juna, sangat mengganggunya.

Juna menjulurkan tangannya pada Shinji, mengucapkan “selamat” dalam suara berat, baru kemudian menjulurkan tangannya pada Lea.
“Selamat… Lea,” katanya, menjabat tangan Lea erat.
Lea tersenyum. Senyum yang tak mencapai mata.

(bersambung)
ASLI: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
…………………
gambar dari sini
When guys get jealous is actually kinda cute
When girls got jealous... 
world war III is about to start.
~quote from somewhere~
***
Tapi aku tidak cemburu <---- penyangkalan besar2an

7 comments:

rona-nauli August 16, 2011 at 1:23 PM  

saiah setujuh sekalih dengan quote-nya...:p

neraka aja masih kalah panas, Lit...:))

deeo August 16, 2011 at 1:47 PM  

yey...lagi semangat nulis ya mbak?inspirasi datanglah pada mbak lita biar aku bisa setiap hari baca ceritanya LEA...
bvdgvebjbviduhekajfiuaehefba*bacamantra

Enno August 16, 2011 at 7:28 PM  

waduh aline diselipkan juga? wew!

:P

l i t a August 17, 2011 at 6:45 AM  

@Rona: Iya. Panas bangett. Mengerikan.

@Deeo: Semoga ya. Imajinasiku membesar seiring waktu

@Enno: Iya. Biar heboh. Hihihi

ann August 18, 2011 at 9:16 AM  

it's getting hot, more interesting and more seducing.. :)

(semoga ada produser yang mampir di blog mba lita)

ann August 18, 2011 at 1:47 PM  

qiqiqi... ;)

jangan kenceng2 mbaaaa....

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP