LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (15)

>> Monday, August 15, 2011

foto dari sini
























(Not) My First Kiss 
LEA menarik wajahnya buru-buru dari Juna. Tersadar, dan merasa kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. 
Oh, my God, cuma itu yang terlintas di benaknya yang kacau balau. Mulutnya membuka menutup, dan dia mengangkat wajahnya, melihat Juna, yang kelihatan terkejut dengan reaksi langsungnya. Lea... tidak tahu harus berkata apa. 
Dia berbalik dan berlari pergi. Tak menoleh lagi.
...
BLAM
Pintu menutup keras, dan Lea bersandar di permukaannya dengan napas tersengal. Bibirnya terasa panas; basah, beku--oh dia tak tahu. Dia bahkan tak lagi mengenali emosinya.
He kissed me, itu saja yang berulang-ulang bergaung di pikirannya.


"Kau kenapa?" Suara Shinji menyentaknya. Lea lupa kalau Shinji masih ada di apartemennya. "Kau pucat," kata Shinji mendekat. Dan rahangnya seketika mengeras, seakan memahami sesuatu. "Apa yang dia lakukan padamu?"
Lea membeliak. "Dia tak melakukan apa pun padaku. Kenapa kau selalu berpikiran negatif begitu?"
"Karena dia berniat buruk padamu."
"Apa buktinya?"
"Dia mengatakan padaku sebulan lalu, kalau dia akan menyakitimu."
"Kau mengancamnya di Embassy waktu itu."
"Karena aku khawatir padamu." 
Lea tak dapat lagi membalas Shinji. Hanya mendongak menatapnya.
"Lea... Aku tahu bagaimana dirimu. Bagaimana hatimu itu. Kau rapuh, Lea. Kalau kau sampai jatuh cinta padanya... dan kau disakiti olehnya... kau..." Shinji tak bisa melanjutkan perkataannya. "Kau tahu bagaimana dirimu."
"Aku tidak selemah itu, Shin." 
"Jadi kau benar-benar jatuh cinta padanya?" Kedua alis Shinji tertaut.
Lea berbohong. "Tidak. Tak mungkin," dia menyangkal. "Aku bukan siapa-siapa." Lea menggelengkan kepala. Ingatannya tentang kejadian di depan lift tadi membayanginya lagi. Dan dia buru-buru mengibaskan kepalanya untuk menyingkirkannya.
"Kau bohong."
"Aku tidak bohong," tukas Lea sengit.
Shinji mencengkeram pundak Lea, merendahkan badannya sedikit dan menatap Lea lekat-lekat. "Tatap mataku, dan katakan 'kau tidak jatuh cinta padanya'."
Lea berdecak, segera menepis tangan Shinji dari pundaknya, dan melangkah; menghindar. Dia tentunya tidak bisa mengatakan kebohongan itu. Andaikan bisa, dia tidak sanggup menatap mata Shinji. 
"Jangan konyol," ucap Lea bersedekap. Membelakangi Shinji. "Aku tidak... jatuh cinta padanya."


Dengusan Shinji di belakangnya, memastikan kalau dia sama sekali tak percaya dengan pernyataan Lea.

Aku pergi dulu," kata Shinji pelan, setelah hening beberapa saat. Lea memutar badannya cepat-cepat. "Sori, oke? Aku... hanya mencemaskanmu. Aku tak ingin kau..." kalimatnya raib di udara. Mendesah pelan. "Anyway, I'm just your friend... Aku tak berhak untuk... menentukan dengan siapa kau bergaul."
"Kau benar-benar mengawasiku?" tanya Lea cepat. "Seminggu ini... kau memantauku."
"Aku hanya... menanyakan kabarmu pada beberapa teman yang tinggal di sini dan..."
"Temanmu tidak ada yang tinggal di sini," sela Lea. "Kau sendiri yang mengatakannya padaku."
"Ada. Tapi aku tak memberitahumu. Tidak penting."
"Bagaimana caranya teman-temanmu tahu dengan detil apa yang terjadi di apartemenku. Mereka pasti memata-mataiku terus. Ya kan?"
Shinji tak langsung menjawab. Dia tampak gugup. "Sudahlah. Tidak penting. yang penting kau baik-baik saja," ujarnya cepat. "Dia tak menyentuhmu sama sekali kan?"
Lea memandang Shinji seolah Shinji sinting. Meskipun rasa panas di bibirnya kembali mengingatkannya pada 'ciuman' itu.
"Ya sudah. Gotta go, then." Shinji mengusap rambut Lea, kemudian berbalik. "Oh ya," dia kembali menoleh, "Shah Rukh akan datang untuk premiere film kita. Malini memberitahuku kemarin."
Mulut Lea menganga. Dia lupa. Premiere filmnya bulan depan!
"Dan kita harus latihan untuk pembukaannya. Abraham akan datang dari Delhi lusa, so... prepare. Kau tahu bagaimana dia."


Abraham, atau Abi adalah koreografer dari Red Chilies, Production House milik Shah Rukh Khan, yang melatih tarian mereka sewaktu di Delhi. Orangnya sangat perfectionist. Sangat galak dan punya rasa iba hanya sejengkal, sehingga harus benar-benar fit, bila dilatih olehnya. Tapi hasilnya memang sangat memuaskan, sehingga tak ada satu pun yang bisa komplain padanya. Tapi itulah masalahnya, karena tak satu pun yang protes, dia jadi seenaknya memperlakukan orang yang dilatihnya. Lea terutama, punya banyak memori buruk dilatih olehnya.


"Bye, Lea." Shinji pamit sekali lagi, dan Lea hanya mengangguk kosong. 
Setelah itu Shinji pergi, dan Lea masih berdiri di tempatnya.
.........................



"Hei! Apa yang kalian lakukan di dalam sana?" Shinji berteriak dari luar kamar. "Sudah mau jam, dan kalian belum selesai juga!"
"Bisakah kau diam!" Malini membalas dari dalam tak kalah keras. Kemudian kembali memerhatikan Lea yang sedang mematut diri di depan cermin sementara Hans, makeup artistnya sedang merapikan rambutnya yang disanggul cepol 
"Kau cantik, Lea." Malini berdiri di sebelahnya. Tersenyum manis.


Lea memang kelihatan cantik dengan kebaya hitam polos yang dibawakan Shah Rukh Khan untuk acara premierenya malam ini. Tetap sederhana, namun elegan. Dia mengatakan Lea dan Shinji harus tetap memakai pakaian tradisional Indonesia, meskipun film mereka diproduksi di India. Hanya saja bahan kainnya terbuat dari saree sutra khas Punjab, dan dibuat oleh designer India. 


"Aku kelelahan," ujar Lea, "Abi memaksaku dan Shinji gladi resik dari pagi sampai malam kemarin, hanya untuk meyakinkan, kalau kami tidak akan melakukan kesalahan. Jadinya aku kurang tidur, dan sekarang merasa renta, seperti nenek-nenek encok."
Malini tertawa. "Kita bisa mengerjainya saat 'after-party' nanti," ajak Malini. 
"Tidak ah. Aku tidak mau berurusan dengannya. Cukup dua minggu ini. Aku tidak mau terlibat apa pun lagi setelahnya."
"Kau tidak asik," cibir Malini, berlagak ngambek.
Lea diam saja. Bukan karena marah, melainkan karena perutnya mulas. Dia akan tampil untuk pertama kalinya di depan publik, bukan sebagai peserta kontes pencari bakat, melainkan seorang aktris. Hal yang sangat berbeda. Dan dia sekali pun belum pernah berakting, atau mengambil sekolah akting, jadi dia takut sekali dengan kritik orang nantinya tentang penampilannya di film perdananya ini.
Dan bukan itu saja, kedatangan Juna sebagai salah undangan kehormatan di acara premiere malam ini membuatnya sulit menghirup oksigen, seakan saja hari ini udara tak ingin berembus ke arahnya.


Sudah lewat beberapa minggu sejak kejadian 'ciuman' itu, dan tak sekali pun Lea bertemu dengannya. Berusaha tak mengingat atau mengenangnya, yang ternyata amat sulit untuk dilakukan. Karena Lea, kapan pun matanya menutup atau sedang sendirian, akan teringat pada Juna. Lembut bibirnya yang menekan bibirnya, suara napasnya yang menyentuh wajahnya dan...   hangat tangannya yang mendekap tubuhnya.
Sampai kapan pun Lea takkan bisa melupakannya. 



It's not my first kiss. The truth is... I've kissed a lot.
But, why do I feel this feeling? It's so like... the first time.

(bersambung)

Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
..............
gambar dari sini
Kenapa aku merasa begitu kesepian saat aku jatuh cinta
Apa karena kau tak ada?

5 comments:

deeo August 15, 2011 at 12:07 PM  

Dud mbak...aku jadi kangen Juna...(geje),kmrn liat di MCI dia ma mbak Aline,hahaha...bayangin kalo Lea ada juga diantara mereka berdua...bisa berabe...hehehe...SEMANGAT!!!ditunggu lanjutannya!!!

rona-nauli August 15, 2011 at 12:20 PM  

Litaaaa, boleh dong liat bharatanatyam-nya Lea ... pengen liattttt...kangennnnnnnnnn :D

Enno August 15, 2011 at 1:26 PM  

It's not my first kiss. The truth is... I've kissed a lot.

But, why do I feel this feeling? It's so like... the first time.
=========================

kalo 'kiss' itu aku ganti 'love' boleh gaaak?

*galau gak jelas*

l i t a August 15, 2011 at 1:35 PM  

@Deeo: Tunggu lanjutannya ya... *surprise surprise*

@Rona: Aduh Madam. Aku aja yang nari ya... Dijamin mata Madam membeliak deh *hahahah* Sabar ya. Adegan Bharatanatyamnya mesti ngopi dari Rani Mukerji dulu. Hehehe.

@Enno: Yang sedang galau... ahik ahik ahik *keselek duren*

ann August 17, 2011 at 12:25 PM  

Episode ini muncul tiba2 cling bareng ama yg 16 pula.. (Mantap dah klow lagi produktif) Kayaknya udah tiap hari aku buka blog mba lita.. Nyesel ketinggalan.. ;)

---------

Try'n to remember my first kiss..
Could it be the same like his?

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP