LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (24)

>> Wednesday, August 31, 2011



Rise And Shine, Lea

SAMPAI acara Konferensi Pers selesai, Shinji tak kunjung datang. Ponselnya tidak aktif. Telepon di apartemennya tak ada yang menjawab. Teman-temannya, satu pun tak ada yang tahu keberadaanya.

Malini sudah sangat murka. Dia juga merasa tidak enak pada Hanung. Berulang kali meminta maaf padanya, dan tetap merasa bersalah, meskipun Hanung telah mengatakan padanya untuk jangan merasa begitu.
Namun Malini adalah orang yang sangat bertanggung jawab, sehingga dia merasa sangat bersalah atas apa yang dilakukan Shinji.

“Aku akan mengulitinya hidup-hidup kalau dia muncul nanti,” desisnya amat geram, begitu dia dan Lea telah berada di dalam mobil yang mengantar mereka kembali ke apartemen. “Aku yakin dia akan datang ke apartemenmu nanti untuk minta maaf,” katanya lagi. “Lihat saja. Aku tidak akan mengampuninya.”

Tapi ternyata Shinji tidak datang. Dia juga tidak muncul keesokan harinya. Malini telah menyambangi apartemennya, tapi dia tampaknya juga tak ada di sana. Tak ayal, betapa paniknya Malini.
Kau yakin dia tidak mengirimkan pesan apa pun padamu kemarin?” tanyanya melalui telepon.
“Tidak,” jawab Lea. “Tak ada satu pun.”
Email, BBM, atau wall facebook mungkin?
“Tidak. Tapi... apa kau sudah mencoba menelepon teman-temannya lagi?”
Sudah berkali-kali. Aku bahkan mencoba menelepon ibunya di Bali, kalau-kalau dia ternyata ada di sana, tapi... tak ada yang menjawab.”
Lea diam. Merasa cemas. Shinji tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Apa kau...” Malini berhenti sejenak, seperti sedang berpikir, “tahu seseorang, siapa pun yang tidak kutahu yang kira-kira tahu dimana Shinji?
“Tidak. Tak ada,” Lea berpikir-pikir. “Sepertinya tidak. Aku hanya tahu beberapa, itu pun sudah kau kenal.”

Setelah itu Malini dan Lea diam beberapa detik. Sibuk berpikir, dimana kiranya Shinji sekarang.

Kau dimana?” tanya Malini kemudian.
“Aku di apartemen.”
Ya. Sebaiknya kau tidak kemana-mana hari ini. Karena bisa saja Shinji datang­—kalau dia datang beritahu aku. Aku akan langsung ke sana untuk  membunuhnya,” kata Malini sangat kesal. “Leo datang?”
“Tidak. Dia pergi ke Bandung untuk mengambil foto,” jawab Lea.
Oke. Tolong bantu aku untuk menghubungi teman-temannya lagi,” pinta Malini. “Dia benar-benar mengesalkan,” gerutunya lagi. “Bye, Lea. Happy holiday.”
Lea tersenyum, kemudian balas mengucap ‘bye’, dan mengakhiri teleponnya. Meletakkan ponselnya di atas meja, dan menatap kosong monitor laptop di depannya. Di sana terpampang poster film terbarunya ‘Love In Return’ yang baru saja diemail oleh Malini.

Di poster itu dia berfoto dengan Shinji di depan sebuah gereja—Lea lupa namanya, di kota Christchurch; mereka berdua berciuman. Foto yang sangat romantis dan imut. Menurut Hanung foto itu cocok dengan tema filmnya, mencoba membuatnya jadi salah satu material poster. Dan ternyata dia memang benar. Poster itu indah. Penuh cinta..

Where are you, Shin?” Lea menghela napas. Menyentuh foto Shinji dengan telunjuknya. Gundah.
......................................................

Jam 2 pagi.
Orang tolol mana sih yang menelepon pagi buta begini? Gerutu Lea dalam hati, seraya mencari-cari ponsel yang diletakkannya di bawah bantal.
Dengan mata masih rapat , dia membaca nama si penelepon, membeliak, dan buru-buru menekan salah satu keypadnya.
“Shin?!”
Hei. Aku ada di depan pintumu. Cepat buka.”
Tit! Shinji menutup teleponnya.

Meskipun dipenuhi tanda tanya, Lea segera turun dari tempat tidur. Melesat keluar kamar.

“Shin—“
“Sshhhh...” Shinji buru-buru menekap mulut Lea, dan mendorongnya masuk ke dalam. Menutup pintu kembali dengan cepat.
“Kau kemana saja? Malini—“
Kata-kata Lea terhenti oleh pelukan tiba-tiba dari Shinji. “Diamlah... Aku mohon... Diamlah...”
Lea mengerutkan kening. Kebingungan dengan sikap aneh Shinji. Kata ‘ada apa ini sebenarnya?’ berputar-putar di kepalanya sekarang.
“Shin...” Lea menyentuh punggung Shinji. “Ada apa?”
Tidak ada jawaban. Selain napas beratnya, tak ada satu suara pun keluar dari bibir Shinji. Dia memeluk Lea erat—sangat erat seolah tak ingin dilepasnya lagi. Dan setelah lewat beberapa detik, dia meregangkan pelukannya. Memegang pundak Lea, menatapnya dengan senyum muram di wajahnya. Senyum muram yang tak pernah sekali pun ditunjukkannya pada Lea. Membuatnya, entah kenapa, merasa sedih.

I love you, Lea,” ucapnya, seraya mengusap pipi Lea dengan punggung tangannya.
I love you, too, Shin,” balas Lea, tersenyum.
Shinji tersenyum, mengusap rambut Lea, kemudian kembali menariknya ke pelukan. Memberikan kecupan lembut di dahinya, dan melepaskannya lagi. Setelah itu berbalik. Melangkah ke pintu.

Lea membeliak panik, buru-buru meraih tangan Shinji. “Kau mau kemana?”
“Aku harus pergi, Lea. Jaga dirimu.” Shinji mengusap rambutnya. Berbalik.
“Eh? Tapi Shin...?”
“Bye.”
Shinji meraih gagang pintu, memutarnya dan menariknya membuka.
“Shinji...” Lea memanggilnya pelan. Matanya berkaca-kaca. “Kau akan datang besok kan? Besok... kita akan ketemu Mas Hanung...?”
Shinji tersenyum, dan mengangguk. Setelah itu dia melangkah keluar. Menutup pintu perlahan.
........................................................

Bagai petir menyambar di siang bolong. Pepatah itu cocok untuk menggambarkan perasaan Lea, Malini dan juga beberapa orang lainnya mengenai surat pengunduran diri Shinji dari dunia Entertainment, yang diberitakan di seluruh acara infotainment keesokan harinya.

Surat tersebut diketik rapi, lengkap dengan tanda tangan Shinji; tanda tangan aslinya, Malini telah mengkonfirmasinya, dimasukkan ke amplop, kemudian diantarkan ke salah satu stasiun televisi nasional melalui kurir.
Selain pengunduran dirinya, Shinji juga memohon maaf pada semua orang terkait pekerjaan dengannya, teman dan kerabat atas keputusannya yang tiba-tiba. Memberitahu kalau dia tak akan ada lagi di Indonesia mulai hari ini.

“Dia lebih memilih mengirimkan surat itu ke stasiun televisi daripada aku... manajernya,” kata Malini di sela tangis tertahannya. “Ada apa dengannya...? Dia tak memikirkan kontrak kerja yang telah berjalan... Dia tak memikirkan... banyak hal. Apa dia sudah gila? Dia menghilang begitu saja... Apa sebenarnya masalahnya? Kenapa dia bisa begitu... Oh... Dia bahkan tidak memikirkan Lea...”

Lea menutup pintu kamarnya. Memblokir kekesalan Malini yang ditumpahkannya pada Jose, Pengacara production house tempatnya bekerja, yang mengurus dokumen kontrak kerja Shinji dan Lea. Dia dan Malini segera datang ke apartemen Lea untuk mengurus perubahan kontrak begitu berita itu tersebar.

Gontai, Lea berjalan ke tempat tidurnya. Duduk tegak dengan pandangan kosong. Dia terguncang. Sangat.
Baru pagi tadi Shinji datang, memeluknya, mengatakan kalau dia mencintainya, dan sekarang...
Sikap anehnya tadi pagi pastilah karena semua yang terjadi hari ini. Karena dia akan pergi meninggalkan semuanya. Tanpa memberitahu apa penyebabnya.

Menyakitkan.

Lea merenggut dadanya. Mengejapkan matanya. Mengantarkan butiran air berjatuhan ke pipinya.
Dia sangat hampa. Hatinya kosong. Kehilangan sahabat—kehilangan Shinji, membuatnya sedih. Membuatnya hancur. Seakan saja Shinji sudah tak ada lagi di dunia. Tidak akan kembali lagi. Tidak akan menari bersamanya lagi. Tidak akan mengejeknya lagi. Tidak akan marah-marah padanya lagi. Tidak akan melindunginya lagi. Tidak akan mengusap rambutnya lagi. Tidak akan ada Shinji lagi.

Begitu besar arti Shinji di hatinya. Dan dia..., baru menyadarinya.
................................................

Five! Four! Three! Two! One! Happy New Year!
Semua orang berteriak begitu jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Mengangkat gelas minumnya ke atas, dan saling ber-toast dengan teman-teman di sebelah dan di depannya masing-masing. Bertukar pelukan hangat. Bertukar ciuman. Merayakan datangnya tahun baru.

Lea menutup pintu kaca, dan suara riuh di dalam langsung senyap. Dia berjalan pelan ke arah pagar pembatas balkon hotel tempat dirayakannya after-party pernikahan Malini dan Jose tanggal 31 Desember pagi tadi, sekaligus merayakan pergantian tahun.
Di atas, puluhan kembang api memecah langit malam. Suara bising terompet, peluit, teriakan, dan klakson kendaraan terdengar bersahutan dari bawah gedung. Musik mengalun keras, berdentum-dentum dari segala arah.
Euphoria perayaan tahun baru ada dimana-mana. Hanya Lea yang merasa biasa-biasa saja dengan segala keceriaan ini.

Lea meletakkan gelas minumnya di atas pagar pembatas. Memandang sekelilingnya dengan perasaan yang tak dapat ia kenali.

Sudah enam bulan sejak Shinji menghilang, dan Lea masih merasa sedih atas kepergiannya yang tiba-tiba. Mencoba banyak cara untuk mengetahui keberadaannya. Sempat pergi ke Bali untuk mencari ibu Shinji, dan kembali tanpa hasil apa pun, karena rumahnya di sana juga telah kosong.
Shinji raib ditelan bumi, itu yang dikatakan Malini berulang-ulang setiap dia teringat Shinji. Dan ya... dia memang raib ditelan bumi. Sehingga tak akan mungkin bagi Lea atau siapa pun untuk menemukannya.

“Selamat tahun baru, Shin...” Lea bergumam sangat pelan, sehingga hanya dia yang bisa mendengar. “Where ever you are...”
Dan air mata meluncur turun ke pipinya.

“Kau akan kedinginan berdiri di sini, Lea.” Suara berat seorang laki-laki datang dari belakang.
Lea cepat-cepat menoleh, mendapati Juna berdiri dengan satu tangan di celana hitamnya. Tangannya yang bebas memegang gelas berisi minuman. Jas hitamnya tersampir di salah satu lengannya.
Juna tak berubah, tetap Juna yang sama seperti yang selalu diingatnya. Tampan.

Happy new year,” ucapnya berjalan mendekat.
Lea buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangannya, dan balas mengucapkan selamat tahun baru pada Juna.
Long time dont see,” ujar Juna. Meletakkan gelas minumnya di permukaan pagar pembatas.
“Ya... Long time dont see,” balasnya, tersenyum.
“Kau... kelihatan lebih...” Juna memandang menilainya, “polos. Kau meluruskan rambutmu?”
“Ya...,” jawab Lea, menyentuh rambut hitamnya yang terjurai di dadanya. “Aku merasa lebih nyaman begini.”
“Cantik,” puji Juna.
Kalau saja di balkon hotel ini sarat cahaya lampu, Juna pasti sudah melihat pipi Lea bersemu.

“Selamat, Chef,” kata Lea, setelah terdiam beberapa waktu, “untuk restoran barunya.”
Juna mendengus tersenyum, dan berkata, “Thank you,”
“Jack Rabbit... pasti sepi tanpa dirimu.”
“Jack Rabbit akan baik-baik saja,” kata Juna. “Mereka akan mencari Chef yang lebih baik dariku. Itu pasti.”

Lea mengangguk kecil. Menghadapkan wajahnya lagi ke depan tepat saat tiga kembang api besar kembali pecah di langit berbintang di atas.

Lea dan Juna mendongak menatap percikan kembang api yang menghujani langit. Jutaan sinar warna tumpah ruah.

“Malini dan Jose sangat tepat mengadakan pesta perikahan mereka di malam tahun baru,” dengus Juna. Menoleh ke belakang sejenak, melempar pandang ke keramaian teredam di dalam.
Lea terkekeh. “Ya... Mereka berpikir itu yang terbaik. Hari bahagia mereka dirayakan semua orang. Tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya.”
Juna turut tertawa.
“Romantis,” gumam Lea seraya memandang langit.  “Pemberkatan pernikahan mereka,” lanjut Lea cepat melihat Juna mengernyit tak mengerti.
“Oh ya?”
“Ya,” angguk Lea. “Pernikahan terindah yang pernah kulihat,” lanjutnya. “Semua orang menangis. Ikut larut.”
“Kau ingin menikah?”
Lea memberikan tatapan ‘jangan sembarangan!’ pada Juna. Juna tertawa, tubuhnya berguncang. “Lho, habisnya...”
Lea memutar matanya ke atas, kembali menghadapkan wajahnya ke depan. “yang pasti...” dia mengambil gelas minumnya, dan meneguknya sedikit, “kalau aku menikah, aku ingin seromantis pernikahan Lea Salonga, “ ujarnya. 

*Lea Salonga adalah penyanyi berkebangsaan Filipina, yang dulu pernah populer menyanyikan lagu 'We Could Be In Love' bersama Brad Kane, partner menyanyinya dalam lagu 'A Whole New World, ost. Alladin.*

“Memang seperti apa pernikahannya?”
“Sangat romantis,” jawab Lea, matanya membundar bersemangat. “Saat acara pemberkatan pernikahannya, dia menyanyikan lagu untuk suaminya dan... suaminya menangis, bahkan sebelum dia menyanyi... Its beautiful... the song... Judulnya ‘Two Words’”
Can I hear it?” tanya Juna.
“Hm?”
Can I hear the song?
You want to hear the song?
“Ya...”
You’ll cry.
No, I wont.”
Lea menatap Juna dengan pandangan menyipit.
“Aku tidak akan menangis. Try me,” tantang Juna.
“Gak ah,” Lea menggeleng. Tertawa.
Come on,” pinta Juna. “Aku jadi mempelai pria, dan kau mempelai wanita.”
“Kau hilang akal.”
“Ya. Karena wine.” Juna mengangkat gelasnya untuk sesaat, kemudian meletakkannya lagi. “Come on, Lea... Please...”
Okay,” kata Lea. “Taruhan kau akan menangis...”
“Apa taruhannya?”
“Oh... Nantang nih?”
Juna mengangkat pundaknya. “Kalau aku menang, kau harus membuatkanku mi rebus seperti yang dulu kau buat untukku.”
Deal!” Lea mengangguk. “Dan kalau aku yang menang... aku mau ke Dufan.”
Mata Juna melebar. “Itu tempat ramai.”
“Memang. Aku mau jalan-jalan seperti orang kebanyakan seharian penuh. Dan aku mau Dufan.”
Are you drunk?
“Ya. Sedikit,” jawab Lea nyengir.
Juna tertawa sejenak, kemudian menjulurkan tangannya. “Deal.”
Lea menjabat tangan Juna erat. “Deal.”
Sing then,” suruh Juna. Bersedekap.
Lea memberikan tangannya pada Juna. “You’ll be the groom?”
“Oh, ya...” Juna menyambut tangan Lea.
Mereka berpegangan tangan erat. Senyum di wajah masing-masing.
Lea kemudian menarik napas dan mengempaskannya perlahan. Menutup matanya sejenak, lalu mulai menyanyi:

In a while. In a word. Every moment now returns.
Sementara. Dalam kata. Setiap waktu sekarang kembali

For a while, seen or heard, how each memory softly burns.
Untuk sementara, terlihat atau terdengar, bagaimana setiap ingatan perlahan muncul

Facing you who brings me new tomorrows, I think out for yesterday
Menatap dirimu yang akan membawaku ke kehidupan baru, membuatku teringat masa lalu

How they let me to this very hour, how they let me to this place.
Bagaimana ingatan itu membawaku ke waktu ini, menuntunku ke tempat ini

Every touch, every smile, you have given me in care
Setiap sentuhan, setiap senyuman, telah kau berikan dengan penuh kasih

Keep in heart, always I’ll, now be treasuring everywhere
Aku akan selalu menyimpannya di hati, akan membawanya kemana pun

And if life should come to just one question
Dan bila hidup berakhir hanya pada satu pertanyaan

Do I hold each moment true?
No trace of sadness, always with gladness... I do.



saya attach video pernikahan Lea Salonga,
biar afdol bacanya.
warning: dijamin nangis bombay, siapin tisu.

(bersambung ya...)
Asli: Lita yang tulis! Jangan diplagiat!
.......................................................

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (23)

>> Tuesday, August 30, 2011



The Press Conference

MALINI telah mengatakan pada Lea, kalau pers telah mengetahui perihal Lea yang dirawat inap saat berada di New Zealand, plus kabar mengenai Juna yang telah menyelamatkannya. Juga—ini yang gawat, kalau mereka berdua telah bermalam di sebuah cottage di Danau Tekapo beberapa hari lalu.
Informasi darimana? Tak ada yang tahu. Yang pasti kabar itu telah beredar bahkan sebelum Lea keluar dari rumah sakit.

Sekarang sudah beberapa hari sejak kepulangan Lea dari New Zealand, dan dia belum diperbolehkan pergi kemana-mana oleh Malini. Membuatnya bosan dan stres, karena tidak bisa menghirup udara bebas.
“Tunggu sampai jadwal konferensi Pers ditetapkan,” tegas Malini saat Lea bertanya sampai kapan dia menjadi tahanan rumah. “Berita mengenai kau dan Juna benar-benar menggila. Untung Juna sedang di Amerika.”

Juna di Amerika. Lea sudah tahu itu. Juna telah memberitahunya di rumah sakit saat terakhir kali keduanya bertemu. Menjenguk salah satu teman terbaiknya, itu alasannya. Untuk beberapa hari. Dan... Aline turut bersamanya.

Aline bersamanya sekarang...

“Besok konferensi Pers, sekalian promosi Love In Return,” kata Malini Sabtu malam, saat dia mengunjungi Lea. “Memang terlalu dini untuk promosi, tapi Hanung bilang lebih baik seperti itu. Dia ingin membuat seolah-olah kejadian tersebut direkayasa untuk mendongkrak film kalian.”
“Kenapa Hanung sampai merendahkan diri begitu hanya untuk menyelamatkan Juna?” gumam Shinji sinis, menyuapkan potongan kecil Choco Forest ke dalam mulutnya.
“Kenapa kau selalu sinis begitu?” sengat Malini, yang dibalas beliakan oleh Shinji. “Lea yang perlu diselamatkan, bukan Juna. Perempuan bermalam dengan laki-laki tanpa ikatan apa pun tanpa pengawasan, pasti akan menimbulkan fitnah yang tidak-tidak. Kalau sudah berkembang, karir Lea bisa terancam.”
“Kenapa jadi cemas?” tukas Shinji dengan mulut penuh. “Tidak ada yang terjadi kan antara Lea dan Juna malam itu? Bilang saja terus terang pada mereka. Gampang kan? Tidak perlu susah.”
“Tidak segampang itu, Shin,” ujar Malini. “Kau tahu bagaimana pendapat publik dengan hal-hal seperti itu.”
“Tapi kan memang tak ada yang terjadi,” balas Shinji. “Ya kan, Lea?” Shinji menoleh ke belakang, pada Lea yang duduk dengan kaki menyilang di atas sofa. Tidak bersuara sejak tadi. “Atau... memang terjadi sesuatu...”
“Tidak ada yang terjadi,” kata Lea tak bersemangat. “Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
“Aku tidak ‘berpikir yang tidak-tidak’ “ kata Shinji. “Malini yang curiga.”
“Aku tidak curiga,” Malini membela diri. “Aku hanya mengatakan bagaimana opini orang nantinya tentang kau dan Juna yang...”
“Tidak ada yang terjadi,” tegas Lea sekali lagi. “Aku yakin itu. Juna tidak mungkin melakukan hal buruk padaku.”
“Kau tidak sadarkan diri, bagaimana kau tahu dia tidak melakukan apa pun padamu?” timpal Shinji.
“Karena dia bukan orang seperti itu,” sahut Lea mendadak gusar. “Dia bukan laki-laki yang...” (entah kenapa mendadak dia jadi sangat sedih. Matanya panas) “bisa dengan ringannya melakukan sesuatu dengan orang yang tidak disukainya.”

Air mata berjatuhan ke pipi Lea tanpa bisa dibendung sama sekali, membuat Shinji dan Malini heran. Saling beradu pandang bingung, dan memandang Lea dengan ekspresi bersalah di wajah masing-masing.

“Maaf, Lea. Aku tidak bermaksud...” Shinji angkat bicara, “menyinggungmu...”
Lea menggeleng buru-buru. Menyeka air matanya dengan punggung tangannya. “Tidak... Jangan begitu. Tidak perlu minta maaf. Aku hanya...” Lea tidak mampu melanjutkan, segera bangkit dari sofa, dan pergi ke kamarnya. Air mata masih menggenangi matanya.

Sejak pertemuan terakhirnya dengan Juna, perasaan Lea sudah tak sama lagi. Hatinya sakit, tanpa dia tahu penyebabnya. Well, sebenarnya dia tahu, hanya saja dia berusaha menepisnya habis-habisan. Memendam perasaannya pada Juna sedalam mungkin, menguburnya ke dasar agar tak muncul lagi. Dan ketika ternyata rasa itu tak mau hilang, dia bingung. Tertekan, karena tiap detik, tiap menit, tiap jam, dan mungkin (akan) setiap hari, Juna akan terus muncul di benaknya.

Bayangan dirinya sedang bersama Aline... benar-benar membuat Lea cemburu. Cemburu yang merasuk ke otak, dan bagai virus, ‘cemburu’ itu mengkontaminasi tubuhnya sampai dengan sel-sel terkecil di dalamnya. Membuatnya luluh lantak.
...........................

“Kau sudah tahu apa yang akan kau katakan pada Pers, Lea?” tanya Hanung menjelang acara Konferensi Pers esok sorenya. “Kalau kau bingung... tidak usah bicara apa pun. Biarkan Malini yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak berkenan.”
Lea tersenyum kecil. “Aku tahu apa yang akan kukatakan pada mereka,” ujar Lea. “Dont worry, okay?
“Aku mengkhawatirkanmu,” kata Hanung. “Takut kau merasa tertekan dengan semua ini. Publik hanya bisa menghakimi tanpa ingin mengetahui fakta sebenarnya,” tambahnya lagi. “Be strong, ok?”
I will,” senyum Lea.
“Oke,” angguk Hanung, tersenyum menenangkan.
“Sudah siap?” Malini muncul dari balik pintu ruang VIP dimana Lea dan Hanung berada. Wajahnya tegang—dia sebenarnya selalu tegang, tapi ini luar biasa tegang, dan  meskipun dipaksakan ceria, wajahnya tetap telihat gundah.
“I’m okay,” jawab Hanung. “Lea?”
Lea hanya menjawab dengan anggukan, dan segera berdiri dari sofa merah yang didudukinya. Dia berusaha tenang. Memfokuskan pikirannya ke semua hal yang membahagiakan. Dia akan membentuk patronus-nya sendiri, untuk menghalau para dementor-dementor; para pers yang akan membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan seputar dirinya dan Juna.

“Dimana kau?” Malini berbicara dengan nada sebal pada seseorang melalui ponselnya. “Konferensi Pers sudah akan dimulai dan kau belum datang...”

Lea berjalan di belakang Malini menuju hall Planet Hollywood. Dia tahu siapa yang sedang bicara dengan Malini; Shinji.

“Ada apa sih?” Malini berhenti. Merentangkan satu tangannya yang bebas, mencegah Lea berjalan. Raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat. “Aku tidak mau tahu. Kau harus segera kemari, Shin.”

Lea mengernyit, juga merasa heran. Shinji tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sesebal apa pun dia pada Malini, sesakit apa pun badannya, selelah apa pun dia tak sekali pun pernah tidak datang ke suatu acara yang mengharuskannya hadir. Apalagi di acara promosi begini.
Dan jujur, tanpa Shinji, Lea akan kekurangan kepercayaan diri.

“Huhhhhh. Anak itu!” gerutu Malini geram, seraya mematikan ponselnya.
“Dimana dia?”
“Aku tidak tahu. Dia tidak mau bilang. Dia juga tidak mau bilang ada apa atau kenapa dia telat. Selama ini dia tidak pernah telat. Tidak pernah tidak datang. Dan sekarang mendadak saja...” Malini memutar matanya ke atas. Tampak luar biasa kesal. “Ayo,” dia menarik lengan Lea, “semua pasti sudah menunggu. Oh, aku tidak tahu harus bagaimana dengan Shinji...”
Malini terus marah-marah sepanjang jalan menuju hall, dan baru diam begitu mereka memasuki hall yang sudah padat.
........................................

Kendati Hanung telah menjabarkan penuh semangat mengenai film “Love In Return”; menyebutkan nama Shah Rukh Khan sebagai produsernya, serta hal-hal lain yang seharusnya membuat semua wartawan antusias, tetap saja begitu sesi pertanyaan dibuka, tak satu pun wartawan yang bertanya—menyerempet saja tidak—tentang film tersebut. Mereka lebih tertarik dengan kisah Lea dan Juna beberapa hari lalu di Danau Tekapo. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang membuat Lea geleng kepala.

“Sejak kapan Anda, Nona Lea dan Chef Juna menjalin hubungan?” tanya salah satu wartawan infotainment yang berdiri paling depan. Di sebelahnya kameramennya menyorotkan kamera tepat ke arah Lea.
“Saya tegaskan sekali lagi,” kata Lea berusaha tenang, “saya dan Chef Juna tak ada hubungan apa pun sama sekali. Kami hanya... teman. Tak lebih dari itu.”
“Anda tidak mungkin bersedia bermalam bersamanya bila tak punya hubungan apa-apa,” seru seorang perempuan pendek gemuk yang berdiri di tengah.

Bermalam, Lea mengulang kata itu di dalam kepalanya. Kata itu kedengaran tak enak didengar dalam situasi seperti ini. Sangat menyudutkan.

“Saya memang tidak merencanakan bermalam di Danau Tekapo malam itu,” kata Lea masih dengan tenang, meskipun suaranya sedikit bergetar. “Karena saya seharusnya ada di Christchurch bersama yang lain, kalau saja saya tidak ketinggalan bus.”
“Bisa saja itu hanya alasan kan?” Perempuan itu kembali bertanya.
“Maaf, satu orang satu pertanyaan,” Malini yang duduk di sebelah Lea, menyela.
“Pertanyaan saya cukup dijawab ya atau tidak,” kata perempuan gemuk itu cuek. “Gampang kan?”
Mata Malini menyempit sedikit, tanda tak suka. “Tapi...”
Lea menyentuh tangan Malini, memberikannya tatapan ‘it’s okay’ padanya. Malini mengernyit tak setuju, namun setelah itu dia menaikkan bahunya sedikit, seolah berkata ‘terserahlah’ pada Lea.
“Kalau Anda berpikir itu hanya alasan, itu hak Anda,” Lea berkata. “Saya tidak bisa memaksakan orang yang telah beropini negatif tentang saya untuk memercayai kata-kata saya.” Lea tersenyum pada perempuan itu, yang kini bersedekap, membetulkan kaca matanya. “Saya tidak tahu sejauh apa rumor yang beredar mengenai saya dan Chef Juna malam itu, saya juga tidak bisa marah dengan siapa pun yang menyebarkan rumor buruk tentang kami, tapi yang bisa saya katakan sejujur-jujurnya, saya dan Chef Juna, tak ada hubungan apa pun.”

Bisik-bisik langsung memenuhi hall.

“Dia orang yang baik,” lanjut Lea. “Alasan kami menginap di tempat yang sama karena saya sangat sakit hari itu, dan Chef Juna menemani saya. Kalau dia tak ada... mungkin saya tidak akan berdiri di sini sekarang.”

Hall kini dipenuhi suara dengungan. Lea berusaha keras menulikan telinganya.

“Seperti yang Anda semua tahu, saya dirawat di rumah sakit karena Hipotermia. Tanpa bantuan Chef Juna dan pemilik cottage malam itu, kondisi saya pasti akan bertambah buruk .”

“Jadi bukan hanya Chef Juna yang ada di sana malam itu?” tanya pria berjaket yang duduk di kursi ujung kiri.

Lea mengangguk. “Mereka berdua yang menjaga saya saat kondisi paling buruk. Dan mereka berdua segera membawa saya ke rumah sakit di Christchurch begitu badai reda esok harinya. Saya berhutang budi pada Chef Juna... dan juga... Jane. Pemilik cottage itu.”

Lea mengerling Malini sekilas, melihatnya tersenyum lega yang samar. Begitu pun Hanung, duduk bersandar di kursinya, tampak puas.

“Yang saya bisa pastikan, Chef Juna adalah orang y akan membantu siapa pun yang memang butuh bantuannya. Kebetulan saja hari itu orang yang perlu dibantunya adalah saya. Dia orang baik, tolong jangan berpikir buruk tentangnya,” kata Lea lagi.
“Tapi dulu dia pernah melontarkan statement bahwa dia menyukai Anda...?”
“Dia hanya menutupi kesalahan saya,” jawab Lea cepat. “Saya yang tanpa sengaja mencederainya, dan itu pun karena dia berusaha membantu saya.”
“Tapi ada kemungkinan kan, kalau statement itu benar?”
Lea mengembuskan napas pelan sebelum menjawab, “Saya pastikan... tidak.”
Dan kilatan blitz kembali mengepung Lea. Sementara wartawan yang lain mencatat di notebook masing-masing atau mengetik sesuatu di ponselnya.

Lea menoleh pada Malini yang tersenyum padanya. Mengangguk kecil, seolah memberikan pernyataan, “you’ve done a great job”.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (jangan diplagiat!)
.........................................................
gambar dari sini
walaupun kau tidak bersamaku
kupastikan...aku akan baik-baik saja

Read more...

Ucapan Ini...

>> Monday, August 29, 2011

gambar asli dari sini
Untuk semua teman, sahabat, kerabat yang merayakan.
Selamat merayakan Idul Fitri.
Jangan lupa opor ayam, rendang, dan ketupatnya.
XOXO

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (22)

>> Sunday, August 28, 2011


gambar dari sini


The Inconvenient Truth

“LEA!”
Suara Malini terdengar bersamaan dengan suara decit benda yang digeser buru-buru.
Lea mengejapkan mata. Memfokuskan penglihatannya yang nanar. Sosok-sosok samar bermunculan di depan matanya. Dia tak mengenali satu pun.
Do not ambush her like that,”—Jangan mengepungnya begitu, suara seorang pria dengan tegas menyingkirkan sosok-sosok itu. Pelan-pelan, Lea dapat melihatnya dengan jelas; pria asing, berambut hitam, dengan kacamata bertengger di hidungnya. Masih muda, dan berjas putih. Dokter?
Miss... Can you see me?” dia bertanya dalam nada ringan. Telapak tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri di depan mata Lea. “Nod your head, please.”
Lea mengangguk pelan, seiring pandangannya yang telah kembali jelas. Kini dia dapat melihat orang-orang yang berdiri di belakang Dokter itu.
Wajah Leo, adik laki-lakinya yang pertama dilihatnya; kelihatan cemas, namun amat lega. Malini kemudian, mencakupkan kedua tangan di depan dagu. Mata besarnya berkaca-kaca. Lalu tentu saja..., Shinji.

Feel dizzy?” Dokter bertanya lagi, seraya menempelkan telapak tangannya di kening Lea. Menatapnya penuh senyum, kemudian duduk di tepi tempat tidur, dengan pose yang sangat santai.
Lea menjawabnya dengan anggukan.
It’s normal, for someone whom unconcious for three days,” lanjutnya lagi.

Unconcious?—Tidak sadar? Lea sama sekali tak bisa mengingat bagaimana dia bisa sampai tak sadar. Kepalanya terasa berat. Otaknya serasa menciut di tempurungnya.

Dont think hard,” kata si Dokter lagi. “You’ll remember after you get better.”
Setelah itu dia bangun. Tersenyum lebar, sebelum akhirnya memalingkan tubuhnya pada Malini, Leo dan juga Shinji. “She’s all yours, but please... be careful. She’s still weak,” dia memperingatkan. Dan setelah memastikan ketiganya mengangguk paham, Dokter itu pergi.

“Kak...” Leo yang pertama kali memeluknya. Sangat erat, seakan dia sudah lama tidak bertemu Lea. “Syukurlah...”
Lea ber-‘hm’ lemah,. Tersenyum; mengangkat tangannya susah payah, bermaksud menyentuh pipi Leo. Leo meraih tangannya, membantunya menyentuhkan tangannya ke pipinya. Mereka berdua bertukar pandang penuh senyum.

Malini setelahnya, tidak memeluknya tentu saja—Malini sangat tidak suka memeluk dan dipeluk. Dia bukan perempuan yang menyenangi hal seperti itu. Kelihatan tidak peduli. Namun dari air mata yang mengalir ke kedua pipinya, Lea sangat tahu kalau dia mengkhawatirkan dirinya. Malini hanya duduk di tepi tempat tidur, tak berkata-kata selain tersenyum penuh haru dan meremas tangan Lea hangat.

“Kami tinggalkan kalian berdua,” kata Malini, setelah dia bangun dari duduknya—berdua maksudnya adalah Lea dan Shinji. Dia meraih lengan Leo, dan menariknya pergi. Tak memedulikan ekspresi protesnya. Meninggalkan Lea dan Shinji berdua saja di ruangan putih dengan bau manis menyengat. Bau obat.

Satu hal yang berbeda dengan Shinji yang Lea lihat hari ini, adalah bayangan hitam di bawah matanya. Shinji paling anti dengan bayangan hitam di mata, karena menurutnya akan membuatnya kelihatan tua dari semestinya. Karena itu mengherankan bagi Lea melihatnya.
“Hei,” sapa Shinji, dengan suara tercekat. Duduk di tepi tempat tidur. Tangannya meraih satu tangan Lea. Memijat-mijatnya canggung.
Lea mengembuskan napas perlahan, kemudian membalas, “Hei,” pelan. “Kenapa matamu?”
Shinji mengernyit. “Kenapa memangnya?”
Black shadow...?”
Shinji tersenyum simpul. “Hasil begadang dua hari penuh...”
“Karena aku...?
Shinji mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak. Tampak jengkel. “Karena siapa lagi?”
“Dokter bilang aku tak sadar tiga hari...?”
“Hari pertama kau... belum ada di rumah sakit.” Wajah Shinji tampak murung ketika mengatakannya.
“Di... mana...?” Lea mencoba mengingat.
“Di Tekapo Lake. Kau tidak ingat?”

Hanya butuh sepersekian detik sampai Lea berkata, “Juna?” dengan cemas pada Shinji. Dia baru saja teringat kalau dia ketinggalan bus yang akan membawanya ke Christchurch..., dia teringat saat Juna menggandeng tangannya menyusuri perumahan penduduk...,  dia teringat penginapan di pinggir danau..., dia ingat saat Juna berkata akan memanggil dokter untuknya... Kemudian mimpi itu; Lea ingat mimpi itu. Mimpi indah yang ternyata masih amat segar di memorinya. Mimpi waktu Juna mencium bibirnya, setelah dia mengatakan... I love you?
Ya. Mimpi. Karena dia tentunya akan langsung menenggelamkan diri di Danau Tekapo bila dia nekat mengatakan itu pada Juna bukan dalam mimpinya.

“Dia pergi begitu aku dan Hanung datang,” jawab Shinji. “Dan tidak pernah datang lagi setelahnya. Hanung bilang dia sibuk sekali.”
“Kau sempat bicara dengannya?”
Shinji menggeleng.

Seharusnya Lea tidak perlu menanyakan itu, karena tidak mungkin Shinji menjalin pembicaraan dengan Juna, mengingat ketidaksukaannya yang misterius.

“Ya... setidaknya dia menyelamatkanmu,” Shinji berkata lagi, meskipun kedengaran enggan.
Lea mengerutkan dahi, tak mengerti.
“Kau terkena hipotermia,” Shinji memberitahu. “Suhu tubuhmu di bawah suhu yang semestinya. Dokter bilang kau bisa mengalami kerusakan otak parah atau bisa saja mati. Namun... kau tetap hidup dan juga... untungnya kepalamu baik-baik saja. Juna... pasti sangat menjagamu waktu badai salju itu.“

Lea diam saja. Dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi hari itu—malam itu, saat badai salju. Dia hanya ingat kalau dia sangat kedinginan, dan Juna memanggil Dokter untuk melihatnya. Dokter yang pastinya telah menyelamatkan hidupnya. Bukan Juna.
Tapi..., kalau tidak karena Juna, Dokter itu tentunya takkan datang kan?

Keesokan harinya, Hanung datang mengunjungi Lea untuk berpamitan. Dia akan pulang lebih dulu ke Jakarta untuk mempersiapkan syuting terakhir ‘Love in Return’. Berkali-kali dia mengatakan kalau dia sangat senang Lea baik-baik saja, membuat Lea jadi tidak enak hati.

“Maaf, Mas,” ucap Lea untuk kesekian kalinya.
“Tidak usah minta maaf. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita hari ini atau nanti kan?” kata Hanung bijaksana. “Lagipula, kau memang butuh istirahat.”
“Tapi semua jadi tertunda...”
“Tertunda sedikit, sudah biasa. Yang penting kau sehat, dan bisa kembali syuting dengan penuh semangat. Oke Lea?”
Lea tersenyum penuh terima kasih.
“Beruntung Juna bersamamu,” lanjut Hanung. “Dia sendiri yang membawamu ke rumah sakit  tiga hari lalu, begitu badai salju mereda. Memastikan kau baik-baik saja, sebelum kembali ke hotelnya. Aku bahkan harus berkali-kali meyakinkannya untuk pergi dan bilang padanya kalau aku dan juga Shinji yang akan menjagamu. Dia baru sedikit tenang ketika kukatakan Malini dan adikmu akan datang ke Christchurch.”
...........................................

Hanung berangkat ke Christchurch International Airport dengan diantar Shinji sore itu. Jadi Malini dan Leo yang mendapat tugas menemani Lea sampai waktu tunggu habis.
Malini mengatakan besok Lea sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisinya yang berangsur membaik. Memberitahukan kalau mereka semua akan kembali ke Jakarta lusa pagi untuk menyusul Hanung dan krunya.
Lea yang memang tidak betah berada di rumah sakit dan sedikit homesick langsung senang; tak sabar menunggu.

Karena harus berkemas, Malini dan Leo, tidak ikut menginap di rumah sakit seperti malam sebelumnya. Sedangkan Shinji, dia mengatakan kemungkinan akan datang agak malam, usai bertemu beberapa teman yang kebetulan tinggal di seputaran Christchurch, membuat Lea malam ini terpaksa menghabiskan waktu sendiri, hanya  ditemani televisi yang bertengger di atas meja kecil di seberang tempat tidur; menayangkan acara entah apa.

Mata Lea terpancang ke televisi—tempat tidurnya telah disetel miring untuk memudahkannya mengamati televisi dari jauh, walaupun sebenarnya dia tak menontonnya sama sekali. Sibuk dengan benaknya sendiri, yang sampai sekarang masih penuh ‘Juna’.
Sampai saat ini dia masih tak percaya, kalau Juna—dengan segala sikap misterius dan dinginnya, telah menyelamatkan hidupnya.

Akan kedengaran sangat berlebihan atau terlalu menghayal pastinya, bila Lea dengan ringannya mengatakan pada siapa pun yang mau mendengar, bahwa Juna, si Chef Master yang amat ngetop itu, telah menyelamatkan hidupnya dari hipotermia di suatu malam bersalju yang beku.
Memangnya siapa Lea, sampai-sampai Juna begitu berusaha menolongnya. Kenal dekat saja tidak. Yah, meskipun dia—Juna—pernah menciumnya, dan mengatakan satu dua hal yang membuat jantungnya tak beraturan, tapi dia tentunya tidak serius kan? Memiliki perasaan khusus padanya... perempuan biasa yang kebetulan saja terkenal mendadak. Dia bahkan tak secantik dan seanggun Aline Adita. Memikirkannya membuat Lea jadi merasa kecil.

Lea menggelengkan kepalanya buru-buru, berusaha membuang semua yang barusan memenuhi pikirannya. Menutup wajahnya dengan tangannya serapat mungkin.

Suara pintu didorong pelan dari luar, mengantarkan dengung suara dari luar kamar yang sebelumnya bisu. Sepatu berdecit, menapak ragu ke dalam kamar, disusul sebuah kepala yang melongok ke dalam kamar dari pintu  yang membuka. Senyum unik yang belakangan ini tak pernah bisa tersingkir dari ingatan Lea, kemudian mengembang ramah di wajah seseorang, yang kemudian masuk ke dalam kamar dengan serangkaian bunga Lili putih di tangannya.

Jantung Lea serentak berdegup kencang tak beraturan.

“Hei,” Juna menyapa dengan nada ringan. Langkahnya santai. Mimiknya santai. Penampilannya santai. Pokoknya dia terlihat (tak biasanya) santai kali ini. Menurut Lea sih begitu.

Lea membalas ‘hei’ canggung. Dia sama sekali tak berharap kalau Juna akan mengunjunginya lagi, mengingat informasi dari Hanung yang mengatakan bahwa Juna sangat sibuk sekali mempelajari masakan tradisional Maori yang rencananya akan menjadi salah satu menu baru di Jack Rabbit, restorannya, dan mungkin tak sempat datang ke rumah sakit lagi untuk menjenguknya.
Namun ternyata, dia muncul, dan sekarang duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Ekspresinya... juga tak seperti biasa. Lebih... ceria.

“Bunga favoritmu.” Juna memberikan buket Lili yang dibawanya pada Lea.
Lea tersenyum menerimanya. Senang dan juga tak menduga kalau Juna tahu. Lea meletakkan bunga-bunga tersebut di atas meja di samping tempat tidur, setelah sebelumnya mengucapkan ‘thanks’ pelan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Juna.
“Aku... baik. Sudah lebih baik.”
“Hanung sempat mengabarkan lewat pesan teks, kalau kau sudah siuman kemarin. Jadi aku... menyempatkan datang kemari. Sudah larut... Maaf.”
“Oh, jangan!” tukas Lea buru-buru, terlalu bersemangat sampai-sampai Juna kaget. “Maksudku... jangan minta maaf,” sambung Lea, merendahkan suaranya. “Kau tidak perlu minta maaf. Kau boleh datang kemari kapan pun kau mau... Eh, maksudku... Setelah apa yang kau lakukan untukku, please... jangan minta maaf tentang apa pun.”
“Apa... yang telah kulakukan untukmu?” Juna mengerutkan dahi.
“Kau... menyelamatkanku... dari hipotermia?”
Juna mendengus. “Bukan aku saja... tapi juga Jane... Pemilik cottage itu.”
“Dia dokter?”
Juna menggeleng. “Dia hanya kebetulan tahu dan mempelajari sedikit tentang medis, just in case... ada yang membutuhkan.”
“Hm...” Lea mengangguk-angguk. “Tapi yang kudengar dari... yang lain... kalau kau membawaku ke rumah sakit...”
“Bersama Jane... dia yang mengantar kita berdua kemari...” sela Juna cepat.
“Oh, tentu...” kata Lea, agak kecewa. Hatinya mendadak tidak enak, dari kalimat Juna barusan, seakan saja, dia tidak ingin Lea berutang budi padanya.
Sebenarnya sih itu bukan masalah, namun entah kenapa Lea merasa gundah.
But still... you help me though,” kata Lea, salah tingkah.
“Aku tidak mungkin membiarkan orang lain mati kan di sampingku kan? Setidaknya aku harus melakukan sesuatu,” balas Juna.

Seakan saja dunia seketika muram. Lea merasa sangat kecewa ketika ‘orang lain’ terlontar dari bibir Juna. Tapi dia berusaha keras mengatur hati dan pikirannya, membenarkan, bahwa dia memang bukan siapa-siapa bagi Juna; orang yang tidak penting. Jadi tidak sepatutnya dia tersinggung di sebut ‘orang lain’ olehnya. Karena pada kenyataannya dia—Lea, memang hanya orang lain, yang kebetulan perlu dibantunya.
Dia tidak seharusnya berharap kalau Juna memiliki perasaan lain padanya. Jatuh cinta padanya. Dan terlebih lagi dia seharusnya tidak perlu mendambakan Juna. Bagai pungguk merindukan bulan.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat)
...........................................................
gambar dari sini
Cantik namun tak tersentuh, menunggumu untuk menemukanku
Begitu sepi..., karena kau tak kunjung hadir
Perasaanku akankah kau sambut? Bila suatu hari kau akhirnya tiba?
Menghampiriku sendirian di sana...





Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP