LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (13)

>> Friday, July 22, 2011

gambar dari sini
















Want To Know U... Better.
JUNA tidak mengganggu Lea sama sekali malam itu. Tidak memaksanya bercerita tentang keluarganya seperti yang dituntutnya sebelumnya. Membiarkan Lea sibuk dengan pikirannya sendiri; berbaring miring di tempat tidur, berusaha keras membuat matanya menutup dan bermimpi, yang ternyata sulit sekali dilakukannya dengan Juna berada di bawah tempat tidurnya. 
Sampai akhirnya dia benar-benar tidur, jam weker di sebelah tempat tidurnya telah menunjukkan jam setengah tiga pagi, diiringi dengkur halus Juna yang telah lama terlelap.  
...

"Lea..." Seseorang memanggil Lea dalam suara bisik yang lembut. Samar-samar. Namun jelas sekali terdengar. Siapa? Mimpikah? "Aku... menyukaimu."
Lea tak dapat melihat wujud pemilik suara itu. Namun dia mengenal suaranya. Suara  seseorang yang memang diharapkannya.
"Aku ingin... mengenalmu," orang itu melanjutkan. "Ingin tahu... tentang dirimu lebih banyak lagi."
Setelah itu Lea merasa sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh keningnya. Mengecupnya lembut, mengantarkan rasa nyaman ke sekujur tubuhnya.


Lea membuka matanya perlahan. Terbangun dari mimpinya yang pendek namun terasa nyata. Menyentuh dahinya yang masih hangat oleh bibir orang yang mengecupnya. Merasakan kegembiraan kecil yang mengaliri tiap nadinya. Mimpi yang menyenangkan, dia membatin. Sederhana, namun... 
Lea mengernyit. Baru menyadari bahwa kamarnya gelap. Seingatnya dia maupun Juna tidak mematikan lampu semalam. Gorden jendela belum dibuka. Sinar matahari menelusup masuk melalui setiap celah yang bisa ditembusnya. Kemudian dia teringat Juna. 


Lea mengangkat punggungnya buru-buru. Duduk di kasur, dan menjulurkan kepala ke samping tempat tidur. Membulatkan mata begitu mengetahui Juna tak ada.


Dia sudah bangun? Lea bertanya dalam hati, seraya menurunkan kedua kakinya. Kenapa tidak membangunkanku? 


Lea berjinjit. Lantai kamarnya dingin, menusuk kakinya yang tak beralas. Dia berjalan ke pintu kamar, membukanya dan keluar. Bau harum makanan menguar menggoda hidungnya.


Di dapur, memunggunginya, Juna sedang asik dengan spatula di tangan dan wajan di atas kompor gas. 
Mata Lea yang tadinya menyipit karena sisa kantuk, kini terbuka lebar menatap punggung lurusnya. Kaus putih yang dikenakannya tadi malam, sedikit lecak, namun menegaskan betapa kokoh posturnya. 


Tepat saat itu, Juna menoleh ke belakang. Langsung tersenyum jenaka pada Lea yang langsung kaku di tempat. 
"Selamat pagi, Princess Lea," sapanya ramah. Mengangkat wajan dari atas kompor--yang ternyata berisi sayuran berwarna hijau-kuning, yang tampak enak sekali, dan membawanya ke meja makan, menuangkan semua isinya ke atas piring yang menunggu di atasnya. 


Lea tidak membalas sapaannya. Terlalu terpana pada 'penampakan' di depannya, sehingga lupa cara bicara. Wajah 'Juna' di pagi hari, membuatnya kebas. Oh, Tuhan! Dia... lain sekali, gumam Lea dalam hati, tanpa dapat melepas pandang dari Juna. Rambut depannya yang sedikit basah jatuh ke dahi, sementara yang lain awut-awutan. Matanya masih agak menyipit sisa tidur semalam. Dan dia menguap lebar seraya mengaduk makanan yang baru saja dituangkannya dengan sendok. Dia... lebih natural daripada sebelumnya. Dia manusia biasa, batin Lea. 
Kebaikan apa sebenarnya yang telah Lea lakukan, sampai-sampai Tuhan memberikannya keberuntungan bertubi-tubi begini?


"Aku membuatkanmu Ratatouille," Juna memberitahu, ketika Lea duduk di salah satu kursi di meja makan. Memerhatikan campuran sayuran di atas piring. Dari baunya, sepertinya enak. "Makanan Perancis... yang simple dan mudah dibuat."
Lea tidak bicara, hanya memerhatikan Juna, dan kembali ke Ratatouille lagi. 
"Sebenarnya untuk makan siang, tapi... aku ingin sekali membuatnya untukmu,"--Juna membawa wajan kotor yang tadi diletakkannya di meja, ke dapur, memasukkannya ke bak cuci piring--"dan aku sempat ke bawah tadi, membelikanmu roti. Karena--" (Juna mencuci wajan dengan cepat) "--Ratatouille lebih enak dimakan dengan roti."


Lea merasa gamang. Bertanya-tanya ada apa dengan dunia? Ada apa dengannya? Mimpikah dia? Sedari kemarin Juna tanpa ragu membuatkannya sesuatu dari tangannya sendiri, memasak makanan yang menurutnya ingin dibuatnya untuk Lea. Menemaninya tidur, berkata lembut pada dirinya, yang sepertinya mustahil dilakukannya melihat penampilan angkuhnya di televisi. 
Apa yang sedang terjadi sebenarnya?  Dengan Lea, terlebih lagi pada Juna?
...


"Kau punya adik?" Juna bertanya, sambil memasukkan terong ke mulutnya.
"Ya."
"Dimana dia?"
"Di rumah."
"Kenapa kau tidak tinggal saja di rumah?"
"Aku tidak ingin."
"Ada masalah?"
Lea tidak jadi menyuapkan sayur di sendoknya ke mulutnya. Mengempaskan napasnya tajam, memandang Juna dengan tatapan jengkel, yang dibalas Juna dengan senyum kemenangan. Tampaknya tahu, kalau setelah itu Lea akan bertanya, "Apa yang ingin kau tahu tentangku?" dengan nada menantang.


Juna mengunyah makanannya pelan-pelan, sambil menatap diam Lea. Sejenak kemudian, sambil memainkan sendok yang dipegangnya, dia bertanya, "Berapa umurmu?"
Lea mendengus geli. Pertanyaan sederhana yang tak diduganya. "Dua puluh empat," jawabnya singkat.
"Nama panjangmu?"
"Nalea Usara."
Kening Juna berkerut. "Unik. Apa artinya?"
"Nalea sang embun."
Juna mengembuskan napasnya, kemudian kembali bertanya, "Siapa yang memberikan nama itu?"
"Papa dan mamaku."
"Dimana mereka?"
"Bercerai."
"Karena apa?"
Lea tidak langsung menjawab. Dia menarik napas perlahan, dan mengembuskannya juga dengan perlahan. "Orang ketiga," katanya agak ragu. "Papaku... punya orang ketiga."


Air muka Juna seketika berubah. Dia memberi tatapan prihatin pada Lea yang menunduk ke piring di depannya. Menusuk salah satu sayuran dengan garpu, dan menyuapkannya ke mulutnya.


"Apa lagi?" Lea bertanya pada Juna setelah sunyi sesaat.
"Cukup tentangmu kali ini," jawab Juna, mendengus tersenyum. Sekarang giliranku. Tanyakan apa pun yang ingin kau ketahui tentangku."


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mata Lea berbinar-binar mendengar perkataan Juna barusan.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (jangan diplagiat!)
..............................
gambar dari sini
Let's talk... I want to share it with u

























...






7 comments:

Enno July 22, 2011 at 12:14 PM  

tanyain dong... kpn2 nginep di rumah ivy juga ya? *nyusut iler*

xixixixi

rona-nauli July 22, 2011 at 12:19 PM  

pengen ratatouille-nya *nyusut iler juga*

l i t a July 22, 2011 at 1:12 PM  

@Enno: Aduh, Mbak. Sampe ileran gitu. Tunggu tanggal mainnya untuk si Ivy. *kedip2*

@Rona: Ih cantik2, ileran. Makanya muka jangan diumpetin melulu, jadi susah masuk makanannya *hahahah*

l i t a July 22, 2011 at 1:13 PM  

@Enno: Aduh, Mbak. Sampe ileran gitu. Tunggu tanggal mainnya untuk si Ivy. *kedip2*

@Rona: Ih cantik2, ileran. Makanya muka jangan diumpetin melulu, jadi susah masuk makanannya *hahahah*

ann July 23, 2011 at 9:28 AM  

Whuuaaaa... I'm late!

Mau dong dimasakin juga, ngga nginep jg gpp deh.. ;)

#dikepruk pakai spatula#

(Ketahuan klow member geng junalicious)

Anonymous,  August 4, 2011 at 11:26 PM  

Mba litha .
Dijadiin novel aja deh nih . Pasti tmbah mnarik dh . :-D

_fanie

Dee@n,  August 8, 2011 at 12:25 PM  

mannna lanjutannyaaa....

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. I'm a melancholy - choleric person. Complicated indeed, but sincere. I have married, and will be 4 years this Dec 28. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP