LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (12)

>> Wednesday, July 20, 2011

I could be in love


LEA masuk ke kamar dengan pikiran penuh--penuh Juna; dan tubuh Juna yang akan ada di sini sepanjang malam. Diambilnya bantal, guling dan selimut dari kasur, berjalan kembali ke luar kamar. 
Juna sudah mengenyakkan diri kembali di sofa panjang. Matanya menghadap TV yang menyala di depannya. Menyaksikan entah apa.

"Ini bantal, guling dan selimut." Lea meletakkan tumpukan benda empuk itu di sofa lain. 
Juna melihat sekilas, kemudian kembali menyaksikan televisi lagi. Remote di tangannya. 
Lea berdiri di samping sofa yang diduduki Juna, berdiri canggung dengan mata terpancang ke layar televisi. Benaknya kosong. 
"Kenapa kau jadi membawa semua itu ke sini?" Juna mendadak bertanya. Meletakkan remote di atas meja, menengadahkan wajah pada Lea, yang kedua alisnya segera terangkat. "Apa kau menyuruhku... tidur di ruang tamu?"
Memangnya dia mau tidur dimana? "Mak-maksudmu?"
"Kau tidur dimana?"
"Di ka... mar?"
"Kalau begitu aku juga di sana seharusnya."
Lea mengernyit.
"Aku kan mau mendengar kau bercerita tentang keluargamu,"--Juna mengerutkan dahi, bangkit, melewati Lea, membungkuk mengambil tumpukan bantal, guling dan selimut di sofa--"dan juga... dirimu. Bagaimana aku bisa mendengar, kalau aku tidur di sini dan kau di kamar?"

Serasa ada angin dingin menerpa wajah Lea. Membuat wajahnya beku, tanpa ekspresi. Yang benar saja? Masa sih Juna ingin tidur berdua dengannya? Di satu kasur? Masa sih? Jangan-jangan dia mau... Tapi... Masa sih, Juna ini--Chef Juna, yang perfect ini cabul?

"Ayo," Juna mengajak. Berjalan lebih dulu menuju kamar.
Apa-apaan sih nih cowok? Kok tidak ada canggung-canggungnya sama sekali? Pikir Lea, terheran-heran sambil mengikuti di belakang Juna. Dia sebenarnya mau protes, tapi kok susah sekali menolak orang ini. Jantungnya sudah tidak beraturan. Kakinya serasa jadi agar-agar, susah sekali digerakkan dengan normal. Dia yakin dia bisa jatuh sewaktu-waktu kalau dia tidak berusaha keras bertahan berdiri.

Masuk kamar. Juna menyempatkan diri melihat-lihat seisi kamar Lea yang bernuansa orange dan putih, minim perabot, kecuali laptop yang bertengger di meja kerja, televisi dan dvd mungil di depan tempat tidur, serta rak kayu besar berisi barisan DVD yang tertata rapi. 

"Kau suka orange?"
Lea mengangguk. Meringis tersenyum.
"Suka film juga?" Juna menjatuhkan tumpukan bantal guling yang dipeluknya di atas kasur.
"Ya," senyum Lea. Sementara lupa kegugupannya, begitu Juna menyebut 'film'. "I love movies." Dia duduk di kasur, memandang Juna yang sedang melihat-lihat koleksi DVDnya.
Juna mendesah, kemudian mendengus... geli. Bergumam pelan, yang kedengarannya seperti, "Dasar cewek." Setelah itu dia berpaling, mendekati Lea. 
Kekikukan Lea kembali. Dia bisa merasakan denyutan nadi dan jantungnya semakin cepat. Apalagi sewaktu Juna menyentuhkan tangannya ke dahinya, dia merasa nyawanya lepas dari tubuhnya selama beberapa waktu. 

"Badanmu masih panas." Juna memandang Lea dengan tatapan prihatin yang jujur, tak dibuat-buat. "Sebaiknya kau tidur."
Lea bengong. Tidak tahu kalimat apa yang harus diucapkannya untuk membalas. Di satu sisi, dia (sebenarnya) senang Juna berada di sini bersamanya, tapi di sisi lain, dia cemas. Bagaimana kalau...
"Tenang saja," Juna kembali berkata, mendenguskan kekeh kecil, "aku tidak akan macam-macam padamu. Aku tidur di bawah saja."
"Jangan!" Tanpa sadar Lea memekik, membuat Juna terkejut. Lea tersadar, buru-buru menarik diri ke belakang. Menunduk. "Maksudku... kau tidak perlu tidur di bawah," (Lea melirik karpet tipis yang menutupi lantai kamarnya--yang benar saja, masa dia sampai hati membiarkan seorang Junior Rorimpandey tidur di karpet di bawah tempat tidurnya?) "Kau... Bisa tidur di tempat tidur."
Sebuah senyum nakal tiba-tiba mengembang di bibir Juna. "Yakin... kau mengijinkanku satu tempat tidur denganmu, Lea?"
Lidah Lea kelu.
"Yakin," (Juna menggeser duduknya lebih dekat pada Lea) "kalau aku... tidak akan macam-macam padamu?"
Lea menelan ludahnya yang sepertinya mengering secara misterius. Menggeser badannya sedikit, menjauhi Juna.
"Aku ini laki-laki... dan kau... perempuan," Juna berkata dalam suara rendah yang berat. Wajah Lea panas saking malunya. "Laki-laki normal sepertiku tidak akan tahan untuk tidak menyentuhmu. Apa pun bisa terjadi di malam yang sepi seperti ini. Di kamar ini."

Hening sejenak.

Juna mendadak tertawa lepas. Menarik tubuhnya menjauh. "Andai kau bisa melihat wajahmu sekarang, aku yakin kau sendiri akan  tertawa terbahak-bahak," ujarnya. "Tampangmu lucu sekali."
Lea memutar matanya ke atas. Sialan, gerutunya dalam hati. Ternyata Juna bisa jahil juga. Satu lagi hal tak terduga dari Juna yang bisa ditemukannya dari sosok kokoh itu.


"Tidurlah... Nona Lea," suruhnya, tersenyum simpul. "Tidak usah khawatir aku akan mati tidur di karpet di bawah," ujarnya. "Dulu... sewaktu di Amerika, aku biasa tidur di lantai dingin dengan alas seadanya. Itu pun mesti berbagi dengan beberapa teman."


Lea tersenyum. Senyum sungguhan yang berasal dari hatinya yang terenyuh karena perkataan Juna. Dia memang telah membaca, mendengar, betapa sulitnya hidup pria ini sebelum menjabat sebagai Chef di beberapa restoran di Amerika. Perjuangannya bertahan hidup dan kegigihannya memperbaiki dirilah yang membuat Lea sangat mengagumi Juna Rorimpandey. 
Dia lebih dari seorang pria tampan. Lebih dari seorang Chef terkenal. Dia... Juna.


"Kenapa kau tersenyum misterius begitu?" Suara Juna membuyarkan pikiran Lea.
"Nggak," Lea buru-buru menggeleng. Mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Kalau begitu... tidurlah." Juna mengambil tumpukan bantal, guling dan selimut yang sebelumnya diletakkannya di kasur, memindahkannya ke atas karpet di bawah.
Lea memejamkan mata. Menggigit bibir bawahnya, menetapkan hati untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan selama beberapa detik.


"Juna..." Dia memanggil lirih, agak bergetar. Pertama kalinya dia memanggil Juna dengan namanya secara langsung, bibirnya seperti protes, karena benaknya mendengungkan kata, "tak sopan".
Juna diam. Tidak langsung menyahut. Sepertinya, dia sendiri pun merasa aneh, mendengar namanya disebut oleh Lea. Dia menoleh perlahan, tersenyum samar, baru kemudian menjawab pelan--lembut, "Ya..., Lea?"
"Te... rima kasih..."
Juna tersenyum, membalas kata-kata Lea dengan, "You're welcome," pelan, kemudian duduk di karpet, merapikan bantal dan guling yang akan dipakainya.


Lea tersenyum, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kali ini senyumnya adalah senyum lega, senang, riang, entah apa, yang berkecamuk di dadanya yang berdebar. Ada rasa sakit menusuk di hatinya--rasa sakit menusuk yang amat dinikmati. Rasa sakit yang rela ia derita, karena terasa begitu menyenangkan. Membuatnya melayang beberapa inci dari permukaan. 


Tidak perlu punya otak jenius untuk mengatakan apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Orang bodoh pun tahu, kalau dia... jatuh cinta.
(bersambung)


Asli: Lita yang tulis (jangan diplagiat!)
..........................
gambar dari sini























9 comments:

ann July 20, 2011 at 1:06 PM  

Ehem..ehem.. Cuit..cuit.. Asyik mbaaaa.. Lanjut..lanjut!!

Hampir tiap hari aku buka blog mba Lita, berharap bisa baca lanjutan cerita Lea & Juna.. Akhirnya..Uhui..!

Mba Lita emang pantes kok dapet award.. Congratulation ya!

rona-nauli July 20, 2011 at 1:15 PM  

ahhhhh...mauuuu....apa coba? hehehehe

l i t a July 20, 2011 at 1:28 PM  

@Ann: Iya nih... Cuit... cuit...
Aku mesti semadi untuk bikin lanjutannya Ann. Hehehehe

@Rona: Kamu mau apa, Na? Pake foto ngumpet gitu lagi.

maya July 20, 2011 at 2:32 PM  

naha.. ini tyt postingan2 ttg juna yg diblgin enno.
seru jeng!

Dee@n,  July 20, 2011 at 2:39 PM  

huaaaaaaaaa..... tambah tersayat2 baca crita neng lita...

Ayo semangat mbak lanjutin ceritanya.

Berharap, berdoa, n usaha biar sang chef tau kalo banyak orang terinspirasi oleh dia...

ann July 20, 2011 at 2:58 PM  

Dee@n @ publish aja link nya ke wall j rex.. gimana nih mba lita si empunya? boleh ngga? :)

yakin deh, tuh fans nya bakal jingkrak2 baca blog mba lita..

l i t a July 20, 2011 at 3:26 PM  

@Ann: Boleh kok. Kayanya udah deh waktu itu... ada yang bilang mu publish-in. Tapi gak tau deh... blum cek.

deeo July 20, 2011 at 3:45 PM  

finally....sama kayak mbak ann , aku juga tiap hari buka blog mbak lita , berharap sapa tau lanjutannya si Lea udah ada , hehehehe....lanjut mbakk!!SEMANGAT!!!

Enno July 20, 2011 at 4:05 PM  

ah kok tidur di bawah?

*(pura2)kecewa*

hahaha

jgn klamaan lanjutannya ya bu :P

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP