Kenangan: Malam Tahun Baru dan Hari Pertama di Tahun Baru itu (2)

>> Monday, July 11, 2011

1st Day of That New Year:


"PA. Lita ke rumah temen dulu, ya," pamit saya pada Papa, sekitar jam 10 atau 11 siang--lupa, tanggal 1 Januari-nya. Hari pertama di tahun baru.
Dan Papa mengangguk, tidak keberatan sama sekali saya pergi. Hanya berkata, "Pulang jangan sore-sore."
Saya pun pergi. Sisa tangis semalam masih menggelayuti mata saya yang sembap. Dan saya berjalan dengan langkah yang canggung. Tangan saya memegangi dada saya yang sakit. Sakit karena patah hati. Patah hati karena putus cinta. *Ampun dehhh*


Saya memutuskan pergi ke rumah A dan H sejak bangun tidur--mereka berdua memang adik kakak, dan keduanya adalah teman baik saya dan juga Bi, berpikir kalau saya dapat bertemu Bi yang mungkin saja datang ke rumah mereka. Dan kalau dia ada di sana... Saya tidak tahu deh, apa yang akan saya lakukan, kalau ternyata dia benar-benar ada di sana.


Udara dingin menerpa. Untung saya pakai sweater. Entah kenapa hari pertama di tahun baru malah dirundung mendung (Yah, mungkin cuaca saat itu turut prihatin dengan keadaan hati saya yang sedang kacau balau). Hujan rintik-rintik jatuh mewakili air mata saya, yang sepertinya sudah kering karena tangis besar-besaran saya semalam.


Sampai di rumah H dan A, sepi. Hanya ada H dan ayahnya. H kelihatan bingung melihat saya datang. Dengan tatapan penuh selidik dia bertanya, "Ngapain lo ke sini?"
"Pengen aja," jawab saya cuek. Langsung ngeloyor masuk ke ruang tamu. 


Catatan: saya dan Bi berteman sangat baik dengan A dan H dan sudah akrab dengan orang tua mereka, yang menganggap kami berdua layaknya anak sendiri. Jadi saya sudah tidak canggung lagi bila berkunjung ke rumahnya.


"Dia gak kesini," kata H, seolah tahu pikiran saya. 
"Emang siapa yang mau ketemu dia," sahut saya berbohong, duduk di sofa reyot. "Gw ke sini mau main, sama sekali gak kepikiran mau nemuin dia."


H duduk di sofa di depan saya, dengan tampang sedikit prihatin. "Udahlah, Ta. Kalo emang dia mo putus, ya putus aja. Gak ada yang perlu diharapin dari dia."
"Emang gw ngarepin apa?"
"Lo mau balik lagi kan?"
"Nggak."
"Boong lu."
"Gw nggak boong."
"Satu yang gw tahu, dia emang nyesel banget," H mengangkat bahu sedikit. "Tapi..."


Kata-kata H terputus oleh suara seseorang yang memanggil namanya dari luar. Suara yang dia dan saya kenal, membuat jantung saya berdetak aneh dan badan lemas seketika.
H bangun dari sofa, hendak menghampiri si empunya suara yang sudah melangkah ke dalam.
Saat melihat saya, Bi tidak berekspresi sama sekali. Wajahnya sama datarnya seperti biasa. Hanya matanya... tatapan matanya saat itu membuat ciut. Tajam dan penuh kemarahan. 


Dia dan H berbicara, entah apa, tidak jauh dari tempat saya duduk. Saya tidak menatapnya sama sekali. Duduk bersandar di sofa sambil memerhatikan dinding hijau pastel di depan saya. 
Kemudian Bi dan H pergi ke dalam, menghilang dari pandangan, meninggalkan saya sendirian. Bengong.


Beberapa menit kemudian mereka kembali. Dan tanpa disangka Bi memanggil saya, dan berkata, "Gw mau ngomong ma lo." Memberi isyarat agar saya mengikutinya ke dalam.


Saya memberi tatapan "ada apa sih?" pada H, yang hanya mengangkat bahu. Menggelengkan kepala, seakan berkata, "Terserah lo deh," sambil menghampiri sofa.
Heran, saya mengikuti Bi.


"Ada apa?" saya bertanya, berdiri di luar kamar H, sementara Bi duduk di atas tempat tidur H.
"Bisa masuk sini nggak? Gak enak banget ngomong jauh begitu."
"Nggak. Gw di sini aja. Gak enak masuk kamar H." Saya bersedekap, berdiri bimbang di ambang pintu.
Bi tidak bilang apa-apa lagi setelahnya. Dia tetap duduk di atas tempat tidur, memandangi saya yang hanya bisa tersenyum kikuk padanya.
"Ada apa?" saya memulai. 
Dia mengembuskan napas. "Soal semalem. Gw salah. Maafin ya."
Dalam hati saya luar biasa girang, tapi karena harus jaga image di depan dia, saya pun berkata, "Udah gw maafin kok. Udah? Itu aja?"
"Belum."
"Apa lagi?"
"Gw mau kita nyambung lagi."
Kaki saya serasa melayang beberapa inci dari permukaan, dan kalau ada roket di kaki saya, langit-langit rumah H pasti sudah jebol karena saya tembus. 
"Nyambung gimana?" Saya pura-pura bodoh. Saat itu enak sekali rasanya kalau benar-benar bodoh.
"Ya... Kita... pacaran lagi."
Saya mati-matian menahan cengiran di muka saya. Menunduk, tengok kanan, tengok kiri--pokoknya berusaha keras tidak memperlihatkan rona senang di wajah pada Bi.
"Gimana? Lo mau gak?"
Bi memandang saya, dan saya memandangnya. Kata yang tak mungkin terucapkan dari bibir, telah tersampaikan melalui tatapan mata dan hati masing-masing.  
Dia kemudian tersenyum, begitu pun saya. Kemudian kami berdua mendengus geli. 
Setelah itu Bi bangun dan berjalan menghampiri saya. menyuruh saya mendekat padanya dan mencium saya lembut. Tidak lama, hanya sebentar. Karena saya buru-buru menarik wajah saya menjauh. 


Di luar hujan lagi. Kali ini terasa sejuk. Sesejuk hati saya yang mendadak penuh, telah terobati.  
Setelah itu, sepanjang hari kami habiskan waktu dengan bicara. Berbincang bersama H dan juga ayahnya di ruang tamu. Bercanda, mengobrol ringan dengan tangan saling tertaut.
Erat. Seerat hati kami saat itu,


That day was the best day I'd ever have. The best new year ever.
....................................................




gambar dari sini
No matter how many years go by,
I know one thing to be as true as ever was.
-Dear John-



























11 comments:

Enno July 12, 2011 at 5:50 AM  

ckckck....

dasar abege!

:))

Hans Brownsound ツ July 12, 2011 at 9:53 AM  

No matter how many years go by,
I know one thing to be as true as ever was.
-Dear John-

so sweet banget. aku suka ini pilem. hehehe

l i t a July 12, 2011 at 11:52 AM  

@Enno: Biar abg, tapi... waktu itu, emang beneran cinta euy. Hihihihi...

@Hans: Iya Hans. Sweet banget. Banget. Banget.

Lia July 12, 2011 at 2:49 PM  

weee, ternyata ceritanya happy ending, hihi, kirain bakalan nolak gengsi diajak balikan :p

l i t a July 12, 2011 at 3:52 PM  

@Lia: Terlalu cinta, sampe gak bisa nolak. Hwe hwe hwe...

gloriaputri July 12, 2011 at 11:49 PM  

lah...ini masih abege uda cium2an,.....ane yg telat apa situ yg kecepetan mbaa? hehehehhe


betewe, nyanyii ahhh
"putus nyambung putus nyambung putus nyambung, sekarang putus besoknya menyesal,..."

hehehehe

l i t a July 13, 2011 at 8:33 AM  

@Glo: Kayanya kecepetan Glo. *Hehehehe*
Cinta pertamaku menyenangkan soalnya, tapi endingnya yang sangat sad.
Nostalgia banget aku nih saat ini.

internet July 14, 2011 at 11:52 AM  

selamat bernostalgia z....hehehe

ra July 16, 2011 at 11:49 PM  

wah wah, speechless saya :D

chici July 17, 2011 at 10:37 PM  

yipiiii manis banget mbak endingnya (>o<)/

Anonymous,  July 20, 2011 at 4:05 PM  

cocuit..........seandainya bisa....

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP