Kenangan: Sophomore Year 1993

>> Tuesday, July 26, 2011

Laki-laki ini, menarik perhatian saya sejak pertama melihatnya. 
Kulitnya kuning, hidungnya lurus, dengan mata agak sipit, dan ekspresi yang tak terjelaskan.
Punggungnya... sangat lurus, jangkung. 
Untuk sekilas biasa saja, namun bila telah sering bertatap muka, dengan sendirinya siapa pun akan menyukainya. Apalagi dia 'open'. Sangat mudah berteman.
...


Pertama kali saya melihatnya, dia berbicara pada teman sekelas saya melalui kaca lipat kelas yang terbuka. Dia memandang sekeliling, dan bertemu mata dengan saya, yang juga sedang memandang berkeliling, sekadar mengalihkan perhatian dari seorang cowok berwajah timur tengah yang sedang berbicara entah apa pada saya--saya tidak terlalu memerhatikan.


Dia memaku matanya pada saya selama beberapa saat, sampai akhirnya melihat teman di depannya lagi, kembali terlibat obrolan, begitu pun saya, yang kembali fokus pada teman saya, yang dengan gemas menusukkan ujung pensil yang dipegangnya ke pipi saya, agar saya kembali memerhatikannya.


Itu awal pertemuan saya dengannya. Pertama kali saya melihatnya. Sekejap. Tak tertangkap ingatan.
...


Kedua kalinya saya melihatnya, dia sedang duduk di depan Majalah dinding. Mendongak ke atas, membaca sesuatu. Teman2nya bergerombol di sekelilingnya, namun dia tak terganggu. Punggungnya sedikit bungkuk ternyata. Tapi dia tetap... menarik.
Siapa namanya? Saya bertanya dalam hati. Kelas berapa? Kenapa begitu... 'tak tersentuh'? Kenapa saya jarang sekali melihatnya.
Dan sekali lagi, kami bertatapan; sekilas. Karena saya segera berbelok. Mempercepat langkah menuju ruang Guru.
...


Ketiga kalinya saya melihatnya, tahun telah berganti. Kami bertemu di kantin belakang sekolah. Dia masih dikelilingi teman-temannya. Tertawa lepas sambil melontarkan lelucon khas cowok. 
Sambil memilah makanan yang akan saya beli, saya memerhatikannya. 
Saya tidak suka padanya--tidak. Sama sekali tidak, saya hanya senang mengamati wajah misteriusnya. Wajah misterius yang ketika menatap membuat hati saya ciut. Antara takut dan ingin tahu.
...


Keempat kalinya. Saya hampir menubruknya. Saya baru saja keluar pintu kelas saya, sedangkan dia datang dari kelas arah berlawanan.
Saya hanya nyengir, dan berlalu begitu saja, tanpa melihatnya lagi. 
Saya benar-benar tidak berani.
...


Kelima kalinya, dia berjalan bersisian bersama saya suatu siang sepulang sekolah, memeluk temannya yang kecil mungil. Mengiringi saya pulang. Diam tak bersuara.
Saya benar-benar bingung, mengapa dia ingin mengantar saya pulang? Apa benar gosip yang mengatakan kalau dia pengirim surat di kolong meja saya? Dan sekarang dia ingin mengatakan... kalau dia suka saya?


Bibir saya serasa dilem dengan super glue. Terkatup begitu rapat, sampai serasa kebas. Saya mengerling ke arahnya, dan dia hanya menunduk. Berbicara tak jelas dengan temannya, yang sepertinya telah menempel abadi di badannya. Sama sekali tidak melepasnya. Melingkarkan tangan di sekeliling pundaknya begitu erat.


Di pertengahan jalan, dia akhirnya berbicara pada saya. Mengatakan kalau dia suka saya dan akhirnya memungkasnya dengan, "Lo mau jadi pacar gw?"
...
gambar dari sini
Aneh. 
Betapa Tuhan mengijinkannya melihat saya,
dan saya akhirnya melihatnya.
Kami sangat tampan dan sangat cantik kala bersama, 
begitu kata orang-orang itu.






















Read more...

Orang-orang Tidak Tahu Diri Saling Mendukung

>> Saturday, July 23, 2011

"AKU kan punya anak, kamu nggak," kata si mbak gak tau diri ini, ketika saya membahas keterlambatan yang dilakukannya entah keberapa kalinya. "Jelas kamu bisa dateng on time ke kantor. Aku kan gak ada suami (baca: suamiku baru meninggal), numpang di rumah orang, harus nyapu, bersih2, blah blah blah..."


Dalam hati saya bergumam, "Kok anak dijadiin alasan terlambat ngantor tiap hari? Kok duka karena ketiadaan suami jadi pedoman dirinya melanggar peraturan? Kok beban menumpang di rumah saudara, jadi hal yang paten untuk menspesialisasikan diri dari peraturan? Nih orang, sebenarnya punya otak gak sih? Andaikan punya, dimana lokasinya?"
...


Sebagai Personalia, saya jarang sekali menegur orang kecuali memang perlu. Andaikan menegur pun, saya tidak pernah dengan cara beringas atau sok kuasa. Saya baru akan keras, kalau orang yang saya tegur berkali-kali tidak mengindahkan teguran saya. 
Tapi anehnya, orang-orang yang saya tegur, kebanyakan tidak pernah merasa salah. Ditegur dengan cara baik-baik tetap beralasan, dan seringkali lebih garang dari saya. Ditegur dengan cara keras, malah lebih parah lagi.
Jadi saya sendiri bingung, saya yang salah menegur dia apa dia yang tidak tahu diri?


Orang-orang tidak tahu diri ini sayangnya, berasal dari kolega saya sendiri. Sama-sama back office, yang nota bene adalah orang-orang lama (senior) yang buta peraturan dan mentalnya entah terbuat dari apa; tidak punya malu, tukang ngeluh, anti peraturan, dan jago akting. Plus, kalau salah, tidak merasa bersalah atau mau disalahkan, bukannya dengan gentle mengakui kesalahan atau minta maaf, malah lempar kesalahan pada orang lain.*Capeee dehhhh*


Seperti si Mbak ini, dengan ringan berkata keras-keras (mungkin maksudnya biar saya mendengar), "Aku sebenarnya nggak butuh kok kerjaan ini, toh gajinya cuman segini-segini aja. Aku karena ada anakku aja, kalau nggak, ngapain? Lagian kalau aku emang salah, kasih deh SP (Surat Peringatan), silakan! PHK deh sekalian, toh enak, dapet pesangon."


Saya tertawa keras2 di dasar lubuk hati yang paling dalam. Enak banget, udah melanggar peraturan, minta di'pesangonin'. 
Apa dia ingat saya pernah ngomong, kalau kesalahan yang dilakukan berulang-ulang, dan mengakibatkan dikeluarkannya SP pada seseorang, sampai akhirnya mendapat SP terakhir (SP III), sudah merupakan pelanggaran berat yang menyebabkan PHK atau demosi? Dan, kalau sampai di PHK, berarti yang bersangkutan, cuma dapat 1 kali pesangon saja, gak peduli, dia sudah kerja belasan tahun di perusahaan.
Kalau memang itu maunya, oke. Saya akan lakukan demi dia. Toh, dia yang minta.


Mereka bilang, saya harus bisa fleksibel dan ikut arus agar tidak dimusuhi. Ohhhh, saya tidak takut dimusuhi. Saya tidak takut tidak punya teman di kantor, karena saya punya banyak sahabat di luar kantor. 
Lagipula pertemanan di kantor saya, berdasarkan ketidaktulusan. Untuk apa?
Saya Personalia yang sudah cukup bersabar. Dan mungkin dengan adanya 'support' dari orang-orang tidak tau diri ini, saya harus menjadi Personalia yang seharusnya. Menganut dasar 'hitam' dan 'putih', tidak warna-warni, seperti sebelumnya. 
...


Jadi, mbak-mbak tidak tau diri yang saling mendukung, bersiap-siaplah, karena saya akan mengabulkan permintaan Anda. 
Saya tidak akan peduli lagi. 
Anda bilang saya tidak punya hati nurani, cuek dengan duka lara yang anda dera, baiklah, saya akan benar2 singkirkan hati nurani saya. Dan kita tunggu tanggal mainnya.
...

gambar dari sini
What ever, Moron!

































Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (13)

>> Friday, July 22, 2011

gambar dari sini
















Want To Know U... Better.
JUNA tidak mengganggu Lea sama sekali malam itu. Tidak memaksanya bercerita tentang keluarganya seperti yang dituntutnya sebelumnya. Membiarkan Lea sibuk dengan pikirannya sendiri; berbaring miring di tempat tidur, berusaha keras membuat matanya menutup dan bermimpi, yang ternyata sulit sekali dilakukannya dengan Juna berada di bawah tempat tidurnya. 
Sampai akhirnya dia benar-benar tidur, jam weker di sebelah tempat tidurnya telah menunjukkan jam setengah tiga pagi, diiringi dengkur halus Juna yang telah lama terlelap.  
...

"Lea..." Seseorang memanggil Lea dalam suara bisik yang lembut. Samar-samar. Namun jelas sekali terdengar. Siapa? Mimpikah? "Aku... menyukaimu."
Lea tak dapat melihat wujud pemilik suara itu. Namun dia mengenal suaranya. Suara  seseorang yang memang diharapkannya.
"Aku ingin... mengenalmu," orang itu melanjutkan. "Ingin tahu... tentang dirimu lebih banyak lagi."
Setelah itu Lea merasa sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh keningnya. Mengecupnya lembut, mengantarkan rasa nyaman ke sekujur tubuhnya.


Lea membuka matanya perlahan. Terbangun dari mimpinya yang pendek namun terasa nyata. Menyentuh dahinya yang masih hangat oleh bibir orang yang mengecupnya. Merasakan kegembiraan kecil yang mengaliri tiap nadinya. Mimpi yang menyenangkan, dia membatin. Sederhana, namun... 
Lea mengernyit. Baru menyadari bahwa kamarnya gelap. Seingatnya dia maupun Juna tidak mematikan lampu semalam. Gorden jendela belum dibuka. Sinar matahari menelusup masuk melalui setiap celah yang bisa ditembusnya. Kemudian dia teringat Juna. 


Lea mengangkat punggungnya buru-buru. Duduk di kasur, dan menjulurkan kepala ke samping tempat tidur. Membulatkan mata begitu mengetahui Juna tak ada.


Dia sudah bangun? Lea bertanya dalam hati, seraya menurunkan kedua kakinya. Kenapa tidak membangunkanku? 


Lea berjinjit. Lantai kamarnya dingin, menusuk kakinya yang tak beralas. Dia berjalan ke pintu kamar, membukanya dan keluar. Bau harum makanan menguar menggoda hidungnya.


Di dapur, memunggunginya, Juna sedang asik dengan spatula di tangan dan wajan di atas kompor gas. 
Mata Lea yang tadinya menyipit karena sisa kantuk, kini terbuka lebar menatap punggung lurusnya. Kaus putih yang dikenakannya tadi malam, sedikit lecak, namun menegaskan betapa kokoh posturnya. 


Tepat saat itu, Juna menoleh ke belakang. Langsung tersenyum jenaka pada Lea yang langsung kaku di tempat. 
"Selamat pagi, Princess Lea," sapanya ramah. Mengangkat wajan dari atas kompor--yang ternyata berisi sayuran berwarna hijau-kuning, yang tampak enak sekali, dan membawanya ke meja makan, menuangkan semua isinya ke atas piring yang menunggu di atasnya. 


Lea tidak membalas sapaannya. Terlalu terpana pada 'penampakan' di depannya, sehingga lupa cara bicara. Wajah 'Juna' di pagi hari, membuatnya kebas. Oh, Tuhan! Dia... lain sekali, gumam Lea dalam hati, tanpa dapat melepas pandang dari Juna. Rambut depannya yang sedikit basah jatuh ke dahi, sementara yang lain awut-awutan. Matanya masih agak menyipit sisa tidur semalam. Dan dia menguap lebar seraya mengaduk makanan yang baru saja dituangkannya dengan sendok. Dia... lebih natural daripada sebelumnya. Dia manusia biasa, batin Lea. 
Kebaikan apa sebenarnya yang telah Lea lakukan, sampai-sampai Tuhan memberikannya keberuntungan bertubi-tubi begini?


"Aku membuatkanmu Ratatouille," Juna memberitahu, ketika Lea duduk di salah satu kursi di meja makan. Memerhatikan campuran sayuran di atas piring. Dari baunya, sepertinya enak. "Makanan Perancis... yang simple dan mudah dibuat."
Lea tidak bicara, hanya memerhatikan Juna, dan kembali ke Ratatouille lagi. 
"Sebenarnya untuk makan siang, tapi... aku ingin sekali membuatnya untukmu,"--Juna membawa wajan kotor yang tadi diletakkannya di meja, ke dapur, memasukkannya ke bak cuci piring--"dan aku sempat ke bawah tadi, membelikanmu roti. Karena--" (Juna mencuci wajan dengan cepat) "--Ratatouille lebih enak dimakan dengan roti."


Lea merasa gamang. Bertanya-tanya ada apa dengan dunia? Ada apa dengannya? Mimpikah dia? Sedari kemarin Juna tanpa ragu membuatkannya sesuatu dari tangannya sendiri, memasak makanan yang menurutnya ingin dibuatnya untuk Lea. Menemaninya tidur, berkata lembut pada dirinya, yang sepertinya mustahil dilakukannya melihat penampilan angkuhnya di televisi. 
Apa yang sedang terjadi sebenarnya?  Dengan Lea, terlebih lagi pada Juna?
...


"Kau punya adik?" Juna bertanya, sambil memasukkan terong ke mulutnya.
"Ya."
"Dimana dia?"
"Di rumah."
"Kenapa kau tidak tinggal saja di rumah?"
"Aku tidak ingin."
"Ada masalah?"
Lea tidak jadi menyuapkan sayur di sendoknya ke mulutnya. Mengempaskan napasnya tajam, memandang Juna dengan tatapan jengkel, yang dibalas Juna dengan senyum kemenangan. Tampaknya tahu, kalau setelah itu Lea akan bertanya, "Apa yang ingin kau tahu tentangku?" dengan nada menantang.


Juna mengunyah makanannya pelan-pelan, sambil menatap diam Lea. Sejenak kemudian, sambil memainkan sendok yang dipegangnya, dia bertanya, "Berapa umurmu?"
Lea mendengus geli. Pertanyaan sederhana yang tak diduganya. "Dua puluh empat," jawabnya singkat.
"Nama panjangmu?"
"Nalea Usara."
Kening Juna berkerut. "Unik. Apa artinya?"
"Nalea sang embun."
Juna mengembuskan napasnya, kemudian kembali bertanya, "Siapa yang memberikan nama itu?"
"Papa dan mamaku."
"Dimana mereka?"
"Bercerai."
"Karena apa?"
Lea tidak langsung menjawab. Dia menarik napas perlahan, dan mengembuskannya juga dengan perlahan. "Orang ketiga," katanya agak ragu. "Papaku... punya orang ketiga."


Air muka Juna seketika berubah. Dia memberi tatapan prihatin pada Lea yang menunduk ke piring di depannya. Menusuk salah satu sayuran dengan garpu, dan menyuapkannya ke mulutnya.


"Apa lagi?" Lea bertanya pada Juna setelah sunyi sesaat.
"Cukup tentangmu kali ini," jawab Juna, mendengus tersenyum. Sekarang giliranku. Tanyakan apa pun yang ingin kau ketahui tentangku."


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mata Lea berbinar-binar mendengar perkataan Juna barusan.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (jangan diplagiat!)
..............................
gambar dari sini
Let's talk... I want to share it with u

























...






Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (12)

>> Wednesday, July 20, 2011

I could be in love


LEA masuk ke kamar dengan pikiran penuh--penuh Juna; dan tubuh Juna yang akan ada di sini sepanjang malam. Diambilnya bantal, guling dan selimut dari kasur, berjalan kembali ke luar kamar. 
Juna sudah mengenyakkan diri kembali di sofa panjang. Matanya menghadap TV yang menyala di depannya. Menyaksikan entah apa.

"Ini bantal, guling dan selimut." Lea meletakkan tumpukan benda empuk itu di sofa lain. 
Juna melihat sekilas, kemudian kembali menyaksikan televisi lagi. Remote di tangannya. 
Lea berdiri di samping sofa yang diduduki Juna, berdiri canggung dengan mata terpancang ke layar televisi. Benaknya kosong. 
"Kenapa kau jadi membawa semua itu ke sini?" Juna mendadak bertanya. Meletakkan remote di atas meja, menengadahkan wajah pada Lea, yang kedua alisnya segera terangkat. "Apa kau menyuruhku... tidur di ruang tamu?"
Memangnya dia mau tidur dimana? "Mak-maksudmu?"
"Kau tidur dimana?"
"Di ka... mar?"
"Kalau begitu aku juga di sana seharusnya."
Lea mengernyit.
"Aku kan mau mendengar kau bercerita tentang keluargamu,"--Juna mengerutkan dahi, bangkit, melewati Lea, membungkuk mengambil tumpukan bantal, guling dan selimut di sofa--"dan juga... dirimu. Bagaimana aku bisa mendengar, kalau aku tidur di sini dan kau di kamar?"

Serasa ada angin dingin menerpa wajah Lea. Membuat wajahnya beku, tanpa ekspresi. Yang benar saja? Masa sih Juna ingin tidur berdua dengannya? Di satu kasur? Masa sih? Jangan-jangan dia mau... Tapi... Masa sih, Juna ini--Chef Juna, yang perfect ini cabul?

"Ayo," Juna mengajak. Berjalan lebih dulu menuju kamar.
Apa-apaan sih nih cowok? Kok tidak ada canggung-canggungnya sama sekali? Pikir Lea, terheran-heran sambil mengikuti di belakang Juna. Dia sebenarnya mau protes, tapi kok susah sekali menolak orang ini. Jantungnya sudah tidak beraturan. Kakinya serasa jadi agar-agar, susah sekali digerakkan dengan normal. Dia yakin dia bisa jatuh sewaktu-waktu kalau dia tidak berusaha keras bertahan berdiri.

Masuk kamar. Juna menyempatkan diri melihat-lihat seisi kamar Lea yang bernuansa orange dan putih, minim perabot, kecuali laptop yang bertengger di meja kerja, televisi dan dvd mungil di depan tempat tidur, serta rak kayu besar berisi barisan DVD yang tertata rapi. 

"Kau suka orange?"
Lea mengangguk. Meringis tersenyum.
"Suka film juga?" Juna menjatuhkan tumpukan bantal guling yang dipeluknya di atas kasur.
"Ya," senyum Lea. Sementara lupa kegugupannya, begitu Juna menyebut 'film'. "I love movies." Dia duduk di kasur, memandang Juna yang sedang melihat-lihat koleksi DVDnya.
Juna mendesah, kemudian mendengus... geli. Bergumam pelan, yang kedengarannya seperti, "Dasar cewek." Setelah itu dia berpaling, mendekati Lea. 
Kekikukan Lea kembali. Dia bisa merasakan denyutan nadi dan jantungnya semakin cepat. Apalagi sewaktu Juna menyentuhkan tangannya ke dahinya, dia merasa nyawanya lepas dari tubuhnya selama beberapa waktu. 

"Badanmu masih panas." Juna memandang Lea dengan tatapan prihatin yang jujur, tak dibuat-buat. "Sebaiknya kau tidur."
Lea bengong. Tidak tahu kalimat apa yang harus diucapkannya untuk membalas. Di satu sisi, dia (sebenarnya) senang Juna berada di sini bersamanya, tapi di sisi lain, dia cemas. Bagaimana kalau...
"Tenang saja," Juna kembali berkata, mendenguskan kekeh kecil, "aku tidak akan macam-macam padamu. Aku tidur di bawah saja."
"Jangan!" Tanpa sadar Lea memekik, membuat Juna terkejut. Lea tersadar, buru-buru menarik diri ke belakang. Menunduk. "Maksudku... kau tidak perlu tidur di bawah," (Lea melirik karpet tipis yang menutupi lantai kamarnya--yang benar saja, masa dia sampai hati membiarkan seorang Junior Rorimpandey tidur di karpet di bawah tempat tidurnya?) "Kau... Bisa tidur di tempat tidur."
Sebuah senyum nakal tiba-tiba mengembang di bibir Juna. "Yakin... kau mengijinkanku satu tempat tidur denganmu, Lea?"
Lidah Lea kelu.
"Yakin," (Juna menggeser duduknya lebih dekat pada Lea) "kalau aku... tidak akan macam-macam padamu?"
Lea menelan ludahnya yang sepertinya mengering secara misterius. Menggeser badannya sedikit, menjauhi Juna.
"Aku ini laki-laki... dan kau... perempuan," Juna berkata dalam suara rendah yang berat. Wajah Lea panas saking malunya. "Laki-laki normal sepertiku tidak akan tahan untuk tidak menyentuhmu. Apa pun bisa terjadi di malam yang sepi seperti ini. Di kamar ini."

Hening sejenak.

Juna mendadak tertawa lepas. Menarik tubuhnya menjauh. "Andai kau bisa melihat wajahmu sekarang, aku yakin kau sendiri akan  tertawa terbahak-bahak," ujarnya. "Tampangmu lucu sekali."
Lea memutar matanya ke atas. Sialan, gerutunya dalam hati. Ternyata Juna bisa jahil juga. Satu lagi hal tak terduga dari Juna yang bisa ditemukannya dari sosok kokoh itu.


"Tidurlah... Nona Lea," suruhnya, tersenyum simpul. "Tidak usah khawatir aku akan mati tidur di karpet di bawah," ujarnya. "Dulu... sewaktu di Amerika, aku biasa tidur di lantai dingin dengan alas seadanya. Itu pun mesti berbagi dengan beberapa teman."


Lea tersenyum. Senyum sungguhan yang berasal dari hatinya yang terenyuh karena perkataan Juna. Dia memang telah membaca, mendengar, betapa sulitnya hidup pria ini sebelum menjabat sebagai Chef di beberapa restoran di Amerika. Perjuangannya bertahan hidup dan kegigihannya memperbaiki dirilah yang membuat Lea sangat mengagumi Juna Rorimpandey. 
Dia lebih dari seorang pria tampan. Lebih dari seorang Chef terkenal. Dia... Juna.


"Kenapa kau tersenyum misterius begitu?" Suara Juna membuyarkan pikiran Lea.
"Nggak," Lea buru-buru menggeleng. Mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Kalau begitu... tidurlah." Juna mengambil tumpukan bantal, guling dan selimut yang sebelumnya diletakkannya di kasur, memindahkannya ke atas karpet di bawah.
Lea memejamkan mata. Menggigit bibir bawahnya, menetapkan hati untuk mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan selama beberapa detik.


"Juna..." Dia memanggil lirih, agak bergetar. Pertama kalinya dia memanggil Juna dengan namanya secara langsung, bibirnya seperti protes, karena benaknya mendengungkan kata, "tak sopan".
Juna diam. Tidak langsung menyahut. Sepertinya, dia sendiri pun merasa aneh, mendengar namanya disebut oleh Lea. Dia menoleh perlahan, tersenyum samar, baru kemudian menjawab pelan--lembut, "Ya..., Lea?"
"Te... rima kasih..."
Juna tersenyum, membalas kata-kata Lea dengan, "You're welcome," pelan, kemudian duduk di karpet, merapikan bantal dan guling yang akan dipakainya.


Lea tersenyum, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kali ini senyumnya adalah senyum lega, senang, riang, entah apa, yang berkecamuk di dadanya yang berdebar. Ada rasa sakit menusuk di hatinya--rasa sakit menusuk yang amat dinikmati. Rasa sakit yang rela ia derita, karena terasa begitu menyenangkan. Membuatnya melayang beberapa inci dari permukaan. 


Tidak perlu punya otak jenius untuk mengatakan apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Orang bodoh pun tahu, kalau dia... jatuh cinta.
(bersambung)


Asli: Lita yang tulis (jangan diplagiat!)
..........................
gambar dari sini























Read more...

Kenangan: Malam Tahun Baru dan Hari Pertama di Tahun Baru itu (2)

>> Monday, July 11, 2011

1st Day of That New Year:


"PA. Lita ke rumah temen dulu, ya," pamit saya pada Papa, sekitar jam 10 atau 11 siang--lupa, tanggal 1 Januari-nya. Hari pertama di tahun baru.
Dan Papa mengangguk, tidak keberatan sama sekali saya pergi. Hanya berkata, "Pulang jangan sore-sore."
Saya pun pergi. Sisa tangis semalam masih menggelayuti mata saya yang sembap. Dan saya berjalan dengan langkah yang canggung. Tangan saya memegangi dada saya yang sakit. Sakit karena patah hati. Patah hati karena putus cinta. *Ampun dehhh*


Saya memutuskan pergi ke rumah A dan H sejak bangun tidur--mereka berdua memang adik kakak, dan keduanya adalah teman baik saya dan juga Bi, berpikir kalau saya dapat bertemu Bi yang mungkin saja datang ke rumah mereka. Dan kalau dia ada di sana... Saya tidak tahu deh, apa yang akan saya lakukan, kalau ternyata dia benar-benar ada di sana.


Udara dingin menerpa. Untung saya pakai sweater. Entah kenapa hari pertama di tahun baru malah dirundung mendung (Yah, mungkin cuaca saat itu turut prihatin dengan keadaan hati saya yang sedang kacau balau). Hujan rintik-rintik jatuh mewakili air mata saya, yang sepertinya sudah kering karena tangis besar-besaran saya semalam.


Sampai di rumah H dan A, sepi. Hanya ada H dan ayahnya. H kelihatan bingung melihat saya datang. Dengan tatapan penuh selidik dia bertanya, "Ngapain lo ke sini?"
"Pengen aja," jawab saya cuek. Langsung ngeloyor masuk ke ruang tamu. 


Catatan: saya dan Bi berteman sangat baik dengan A dan H dan sudah akrab dengan orang tua mereka, yang menganggap kami berdua layaknya anak sendiri. Jadi saya sudah tidak canggung lagi bila berkunjung ke rumahnya.


"Dia gak kesini," kata H, seolah tahu pikiran saya. 
"Emang siapa yang mau ketemu dia," sahut saya berbohong, duduk di sofa reyot. "Gw ke sini mau main, sama sekali gak kepikiran mau nemuin dia."


H duduk di sofa di depan saya, dengan tampang sedikit prihatin. "Udahlah, Ta. Kalo emang dia mo putus, ya putus aja. Gak ada yang perlu diharapin dari dia."
"Emang gw ngarepin apa?"
"Lo mau balik lagi kan?"
"Nggak."
"Boong lu."
"Gw nggak boong."
"Satu yang gw tahu, dia emang nyesel banget," H mengangkat bahu sedikit. "Tapi..."


Kata-kata H terputus oleh suara seseorang yang memanggil namanya dari luar. Suara yang dia dan saya kenal, membuat jantung saya berdetak aneh dan badan lemas seketika.
H bangun dari sofa, hendak menghampiri si empunya suara yang sudah melangkah ke dalam.
Saat melihat saya, Bi tidak berekspresi sama sekali. Wajahnya sama datarnya seperti biasa. Hanya matanya... tatapan matanya saat itu membuat ciut. Tajam dan penuh kemarahan. 


Dia dan H berbicara, entah apa, tidak jauh dari tempat saya duduk. Saya tidak menatapnya sama sekali. Duduk bersandar di sofa sambil memerhatikan dinding hijau pastel di depan saya. 
Kemudian Bi dan H pergi ke dalam, menghilang dari pandangan, meninggalkan saya sendirian. Bengong.


Beberapa menit kemudian mereka kembali. Dan tanpa disangka Bi memanggil saya, dan berkata, "Gw mau ngomong ma lo." Memberi isyarat agar saya mengikutinya ke dalam.


Saya memberi tatapan "ada apa sih?" pada H, yang hanya mengangkat bahu. Menggelengkan kepala, seakan berkata, "Terserah lo deh," sambil menghampiri sofa.
Heran, saya mengikuti Bi.


"Ada apa?" saya bertanya, berdiri di luar kamar H, sementara Bi duduk di atas tempat tidur H.
"Bisa masuk sini nggak? Gak enak banget ngomong jauh begitu."
"Nggak. Gw di sini aja. Gak enak masuk kamar H." Saya bersedekap, berdiri bimbang di ambang pintu.
Bi tidak bilang apa-apa lagi setelahnya. Dia tetap duduk di atas tempat tidur, memandangi saya yang hanya bisa tersenyum kikuk padanya.
"Ada apa?" saya memulai. 
Dia mengembuskan napas. "Soal semalem. Gw salah. Maafin ya."
Dalam hati saya luar biasa girang, tapi karena harus jaga image di depan dia, saya pun berkata, "Udah gw maafin kok. Udah? Itu aja?"
"Belum."
"Apa lagi?"
"Gw mau kita nyambung lagi."
Kaki saya serasa melayang beberapa inci dari permukaan, dan kalau ada roket di kaki saya, langit-langit rumah H pasti sudah jebol karena saya tembus. 
"Nyambung gimana?" Saya pura-pura bodoh. Saat itu enak sekali rasanya kalau benar-benar bodoh.
"Ya... Kita... pacaran lagi."
Saya mati-matian menahan cengiran di muka saya. Menunduk, tengok kanan, tengok kiri--pokoknya berusaha keras tidak memperlihatkan rona senang di wajah pada Bi.
"Gimana? Lo mau gak?"
Bi memandang saya, dan saya memandangnya. Kata yang tak mungkin terucapkan dari bibir, telah tersampaikan melalui tatapan mata dan hati masing-masing.  
Dia kemudian tersenyum, begitu pun saya. Kemudian kami berdua mendengus geli. 
Setelah itu Bi bangun dan berjalan menghampiri saya. menyuruh saya mendekat padanya dan mencium saya lembut. Tidak lama, hanya sebentar. Karena saya buru-buru menarik wajah saya menjauh. 


Di luar hujan lagi. Kali ini terasa sejuk. Sesejuk hati saya yang mendadak penuh, telah terobati.  
Setelah itu, sepanjang hari kami habiskan waktu dengan bicara. Berbincang bersama H dan juga ayahnya di ruang tamu. Bercanda, mengobrol ringan dengan tangan saling tertaut.
Erat. Seerat hati kami saat itu,


That day was the best day I'd ever have. The best new year ever.
....................................................




gambar dari sini
No matter how many years go by,
I know one thing to be as true as ever was.
-Dear John-



























Read more...

Kenangan: Malam Tahun Baru dan Hari Pertama di Tahun Baru itu (1)

>> Sunday, July 10, 2011

New Year's Eve:


MALAM itu malam menjelang tahun baru--New Year's Eve, bahasa kerennya. Pikiran saya melayang ke rumah seorang teman, dimana beberapa teman merayakan datangnya tahun baru bersama, yang undangannya disampaikan secara lisan pagi harinya di sekolah. *Saat itu umur saya 13-14 tahun*

Karena terlalu malam, plus berpikir tidak mungkin mendapat ijin dari Papa--mama waktu sedang ada di Bali, saya memutuskan tidak datang. Meminta maaf pada teman-teman pelaksana pesta siang harinya, dengan alasan di atas.
Mereka agak kecewa, masih berusaha membujuk saya datang, namun akhirnya menyerah karena saya tetap tidak mau, dan akhirnya mengucapkan "Selamat Tahun Baru" dengan senyum di bibir masing-masing.

Malam hari, sekitar jam 10 malam, telepon rumah berdering. Saya yang angkat, dan menyapa si penelepon di seberang.
Suara yang familiar saya dengar, dengan nada agak gusar. "Lo dateng dong, ke tempat S sekarang, ikut ngerayain tahun baru."
Mengernyit, saya balas, "Gak bisa. Malem banget. Papa bisa marah gw keluar jam segini."
"Di sini juga ada A dan H, kok. Si *nyebutin nama teman-teman cewek* juga dateng, masa lo gak dateng."
"Gw gak bisa dateng. Kan gw udah bilang sama mereka tadi siang."
"Ya udah kalo gitu." Klik. Si penelepon menutup pembicaraan dengan galak.

Jam 11 malam, telepon kembali berdering, kali ini saya lagi yang angkat. Suara itu terdengar lagi. Lebih serak daripada sebelumnya.
"Lo mau dateng ke sini apa nggak?" Itu pertanyaan yang saya ingat.
"Kan gw udah bilang, gw gak bisa. Gimana sih? Udah malem banget tau. Papa--"
"Ya udah, kalo lo gak mau dateng, kita 'putus' aja."
Klik.

Itu pertama kalinya saya merasa luar biasa shock. Berat. Selama sepersekian detik, saya cuma bisa bengong melotot ke tembok, dengan mulut membuka menutup tanpa suara. Tangan yang memegang gagang telepon gemetaran--seluruh badan saya malah, gemetaran. Jantung saya serasa mau loncat ke leher, dan keringat dingin besar-besar mulai berjatuhan. Rasanya nyawa saya telah diambil setengah oleh Malaikat Maut. Dan saya saat itu adalah zombie, yang tidak bisa berpikir mau pun bergerak normal.

Saya tidak ingat apa yang saya katakan pada Papa, sehingga saya bisa melesat keluar rumah, masih dengan tshirt dan celana piyama saya. Berlari melewati gang, melewati rumah orang-orang yang mengenal saya, yang kebingungan melihat saya berlari panik malam itu. 
Untungnya, karena malam tahun baru, suasana ramai, tidak sepi, sehingga saya merasa aman. Tapi andaikan sepi pun, sepertinya saya tidak akan peduli. Saya akan tetap berlari sekencang-kencangnya menuju rumah teman saya yang mengadakan pesta itu. Ingin bertemu dengan orang yang baru memutuskan saya lewat telepon. Menamparnya kalau bisa. Memakinya kalau bisa.

Saat saya sampai di rumah S, sudah sangat ramai. 
Saya melihat orang itu, duduk bersama beberapa teman, dan langsung kaget melihat saya. 
Saya mendekat, tapi bukan menghampirinya, melainkan teman saya H dan A, yang juga tampak terkejut.
"Gw mo ngomong ma lo, H, dan juga lo A, " dan segera menarik mereka ke dalam rumah.
Sempat bertemu S, dan menarik dia juga yang langsung menganga melihat saya berlinang air mata. Membawa saya cepat-cepat ke kamarnya.

Di kamar itu, yang saya sudah tidak perhatikan bagaimana bentuknya, air mata saya tumpah. Tangis saya pecah. Saya mengatakan banyak hal tentang orang itu pada mereka bertiga, yang tidak bisa saya ingat lagi sekarang.

Hanya beberapa saat saya berada di rumah S, karena mengingat Papa yang pastinya menunggu saya pulang. Saya pamit pada semua teman yang ada di sana, dengan mata yang masih bengkak dan hidung yang masih basah, mengucapkan "Selamat Tahun Baru" pada mereka semua, kecuali orang itu, yang berdiri di pojok dengan wajah muram, tidak bersuara sama sekali, baru setelah itu saya pun pulang. A dan H mengantar saya.

Sampai rumah, saya tersenyum pada Papa, yang tidak tampak cemas sama sekali. Hanya bertanya, "Darimana?" sambil lalu. Saya menjawab sekenanya, dan segera masuk ke kamar. Melempar tubuh ke atas kasur, dan kembali melanjutkan menangis dengan dada yang luar biasa sesak.
................................. 

Cinta pertamaku berakhir sudah. Sampai di sini. 
Dan takkan mungkin kembali.
Rasanya sakit sekali
gambar dari sini








.

Read more...

AWARD??? Tolong deh, Mbak Enno!

>> Friday, July 8, 2011

JUJUR... saya paling males dikasih award. 
Kenapa? Karena saya kudu nerusin ke blog lain, dan... seingat saya... saya cuma tahu sedikit blog--banyak sebenarnya, tapi yang bagus (inspirasional) cuma bisa diitung ma jari. dan pastinya mereka udah duluan dikasih, sebelum tuh award hijrah ke saya. Jadinya saya bingung deh, mesti terusin ke siapa. *gak mau sembarangan kasih award kalo gak bener2 oke* (agak idealis. Maaf ya).


Dan kemarin saya dapet award dari si Falling-Eve, miss Enno Lari-larian, yang sepertinya pingin ngerjain saya dengan ngasi award ini:

award dari Annesya yang diterusin sama Mbak Enno 
plus tugas ngejabarin 5 Hal Tentang Dirimu,
tapi ditambahin 5 lagi (total 10), karena si pemberi award
 pengen banget tau aib para blogger yang dia kerjain.
Peace, mbak Enno *peluk cium*
So, here we go... walaupun nulisnya dengan muka berlipet, ketekuk, lecek de el el (borong semua, deh)


10 things about me
10 hal tentang saya


(1)
(Paling memalukan, dan seharusnya gak saya publis di sini)
Saya pernah kencing di celana. Saking kebeletnya. Sambil senderan di motor TeiGung, pasang tampang innocent, seolah gak ada yang terjadi.
Waktu itu baru pulang kerja, umur masih 'hot2'nya, 24 tahun (udah jadi Personalia tapi di Mitra 10), masih pakai pakaian kerja, dan kelihatan amat manis. 
TeiGung berhenti mau beli nasi Jinggo--nasi bungkus daun yang harganya 1000an, ngacir ke dalam warung, ninggalin saya yang udah merem melek nahan pipis. Berusaha menepis keinginan buang air dengan menggunakan hukum ketertarikan, ngucap, "Gak jadi pipis... Gak jadi pipis,", tapi saking udah gak tahan ucapannya malah jadi, "... jadi pipis... jadi pipis."
Dan bisa ditebak, saya kencing di celana. 
Pas TeiGung balik dari warung, dia cuma bisa nganga saking shocknya ngeliat jok motornya basah, dengan saya nyengir di atasnya. Entah apa pikirannya saat itu.


(2)
Paling takut sama binatang reptil, binatang gak bertulang punggung yang menggeliat-geliat (hiii). 
Takut sama ruangan sempit dan tertutup--naik lift gak pernah sendiri, kalau sendiri mending naik tangga. Mau tinggi banget kek lantainya, gw jabanin dah, yang penting gak kejebak di lift sendirian.
Paling takut gelap pekat, kalau mati lampu langsung sesek napas dan megap2. Dulu, waktu masih tidur sendiri, kalau mati lampu langsung berlarian panik keluar cari cahaya, sekarang kalau mati lampu ada TeiGung yang bakal nyalain lilin, sambil usap-usap rambut *malu ah!*


(3)
Tidak suka sama sayur. Negatif banget nih.
Semua orang sering marah2 pada saya karena ini, berusaha sekali membuat saya makan sayur2an yang beraneka ragam itu, dengan mengolah, meracik dan membumbuinya dengan segala macam rempah, supaya saya dengan senang hati melahapnya.
Dan ampai sekarang, gak ada seorang pun yang bisa mengalahkan ke 'kekeuh'an saya itu.
Selain sayur, saya juga benci susu putih.
Kalau gak sengaja nelan, pasti langsung kesedak, dan keluar lagi lewat hidung. Kebayang paniknya kan.
Awal kebencian saya, ya, gak lain karena kesedak susu putih (waktu SD), dan keluar lewat hidung, membuat saya muntah seharian karena nyium bau susu yang ketinggalan di lubang hidung saya. Sejak itu, kalau cium bau susu putih, saya langsung pengen muntah.


(4)
Cinta sambal. Gak ada sambal, gak bisa makan. Bagi saya, dunia gak lengkap tanpa sambal. Seolah sambal adalah oksigen, atau air yang krusial buat manusia seperti saya. 


(5)
Selalu 'jetlag' kalau naik pesawat. Pusing luar biasa begitu mendarat, harus tidur seharian begitu ketemu kasur. Bawaannya pengen nerkam dan jotos kalau diganggu. Seolah kepribadian saya yang seperti 'kanjeng putri' yang lemah lembut, berganti jadi 'Incredible Hulk' seketika. *Padahal emang aslinya brangasan, gak ada lemah lembutnya sama sekali*.
Hasilnya, saya lebih milih naik bus kalau ke Jakarta atau kembali ke Bali, itupun saya habiskan dengan tidur sepanjang perjalanan, mengakibatkan pembengkakan total di sekeliling mata--karena kebanyakan tidur--dan pipi kanan. Kalau tidur saya selalu miring ke kanan, jadi ya darah semua selama 2 hari 1 malam itu pastinya turun ke pipi semua. 


(6)
Pengen banget nari bollywood dance diiringi banyak penari. Kaya di pelem2 India ono noh. Lengkap pakai baju dengan tali saling silang di punggung dan rok gopi (rok lebarnya) yang penuh corak, serta pakai deretan gelang tangan, dan gelang kakinya yang krincing-krincing.
Karena itu saya jadi ngefans banget sama Shah Rukh Khan dan Rani Mukerji, aktor dan aktris Bollywood, yang ganteng dan cantik itu. (Catatan: Briptu Norman & Bobi Sri Devi gak termasuk ya!)
Saking kepegennya, saya sering donlot lagu-lagu India, dan joged2 di kamar ala aktris India pake selendang untuk nutupin kepala. Hinggap tembok kanan, tembok kiri, loncat ke pintu *pas TeiGung buka pintu, kejedot, dan langsung rebah dengan atribut aneh menutupi badan saya*.


(7)
Agak sad dikit. Saya pernah berusaha bunuh diri. Nelan pil panadol sekitar 20 biji plus minum cairan toner pembersih muka di hadapan teman saya. It happened some years ago; my dark ages.
Begonya... saya gak apa-apa, cuma pusing dan mual. Teman saya pun yang tadinya bengong langsung membelikan saya susu putih (kayanya dia baru sadar, apa yang barusan saya lakukan setelah beberapa detik kemudian), dan menjejalkannya ke mulut saya.
Saya muntah habis2an, dan semua panadol yang belum tercerna di lambung keluar lagi; masih berupa butiran, sama seperti saat saya telan tadi. 
Setelah itu saya sangat menyesal. Merasa tolol karena membiarkan diri saya sampai ke titik terendah dan memutuskan untuk melakukan itu, hanya karena orang lain menggencet saya habis2an.
Totally stupid. 


(8)
Saya sangat sayang adik saya. Sangat sayang. Sampai2 kalau dia sedih, saya ikut sedih. Dia nangis, saya nangis. Kalau dia seneng, saya juga seneng. Dia pokoknya dunia saya. Kalau dia runtuh, saya pun akan ikut runtuh. Mungkin juga bisa mati. Saya sayang dia. Lebih dari diri saya sendiri.
Aneh? Mungkin. Tapi, saya adalah seorang kakak yang telah lama jauh dari adik semata wayangnya. Saya tidak bisa melihat proses dirinya menjadi laki2 dewasa seperti sekarang, dan saya merasa menyesal, karena momen berharga itu tidak akan terulang lagi.
Jadi sebisa mungkin saat ini, kapanpun dia membutuhkan saya, saya akan selalu ada.


(9)
Saya jatuh cinta 4 kali pada laki-laki yang sama.
Pertama, waktu SMP. Kedua, waktu SMU. Ketiga, waktu kuliah, dan keempat... ?
Entah kenapa, saya selalu seperti itu setiap bertemu dia, seolah saya satelit yang mengelilingi dia, atau mungkin dia adalah satelit yang mengelilingi saya. Saya tidak tahu. Misteri.
Yang pasti, dia cinta pertama saya. Ciuman pertama saya. Laki-laki ketiga, setelah Papa dan adik saya yang mengisi hidup saya. Pedoman tetap saya untuk menentukan kriteria laki-laki   ideal pengganti dirinya setelah putus dengannya, bahkan pasangan hidup saya.
Untungnya TeiGung tidak sama dengan dia; sifat mereka jauh beda. TeiGung sepertinya lebih mirip saya. Iya ya *baru sadar*


(10)
Saya punya satu tujuan hidup yaitu bahagia. Luar dalam. Rohani dan batin.
Tidak apa tidak banyak uang, yang penting cukup untuk hidup dan bahagia bersama orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.
Sebagai perempuan, saya tidak terlalu silau dengan perhiasan, baju mahal atau apa pun yang serba mewah, yang penting bagi saya adalah menjadi diri sendiri, dan berbuat baik sebanyak-banyaknya pada orang lain. 
Jadi kalau ada orang yang merasa harus dihormati atau dihargai hanya karena apa yang dia pakai, bukan karena hal baik atau mengagumkan yang dia telah perbuat, sori-sori aja. Saya sedikit pun tidak akan menengok ke arahnya. Berpikir pun tidak. 
Idealis? Tentu. Saya adalah seorang seniman. Saya penari, saya penyanyi, saya peramal, saya pelukis, penulis, dan saya... idealis. Sama seperti seniman yang lain. 
..............


Kayanya itu aja deh, 10 hal yang bisa saya tuliskan tentang saya. 
Agak amburadul karena gak pakai plot seperti yang biasa dikumandangkan mbak Enno. 
Dibilang memalukan, memang agak memalukan. 
Dibilang norak, biariiiiiiiinnnnn.
Dibilang jaim... Hihihi... Sepertinya gak ada kata itu di kamus saya, karena saya orang yang apa adanya. 


Jadi, Mbak Enno, tuh, pe-er mu udah aku kerjain. Semoga hepi ya, udah berhasil ngerjain diriku. 
Dan trim udah memercayakan award ini padaku, dan membuatku tergerak untuk memposting sesuatu di kala moodku lagi padam untuk nulis.


Untuk temen2 blogger yang telah membaca, tolong jangan ilfil ya. 


Senyum, 




Lita

































Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP