LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (7)

>> Wednesday, June 8, 2011

Catatan: 


(Jaga2 kalau sampai Juna yang asli baca--waaaaa... mimpi banget gw ya...?)

Cerita ini, murni fiksi. 
Just a romance story yang dibuat sebagai rasa cinta dan kagum saya pada si Chef Juna ini.
Karakter Juna, kalau bisa memang disesuain sama dirinya sendiri, kalau nggak, maaf...
Maklum, saya cuma tahu dia dari nonton MCI, dan ngamatin dia sambil ileran di depan TV...
Hehehe...
So plis, kalau ada yang tahu info lebih 'dalem' tentang Juna, kasih tahu ya...

Love u, Guys. Thanks Jeng Enno.


(Sambungan dari (6))

"APA maksud Anda?" tanya Shinji dengan muka masam.
Juna diam. Mendongak memandang Shinji. Sorot matanya tenang. Kosong. Tak jelas.
"Kalau kau," Shinji merendahkan suaranya, "berani menyakiti Lea..."
"Saya akan menyakitinya," potong Juna. Serius. "Semakin banyak orang yang menyayanginya, semakin banyak saya akan menyakitinya."
Shinji mendengus. Bingung dengan maksud kalimat Juna. Dia menggigit bibir bawahnya, tanda kalau dia naik pitam.
....................................

Him?


"JUNA pergi?" Malini bertanya pada Shinji dengan nada tak percaya. "Tapi dia bukannya..."
"Dia harus kerja kan?" Shinji menyela santai. "Dia menyuruhku menyampaikan padamu,"--Shinji berkata pada Lea yang bengong--"kalau semuanya batal."
"Apanya?" Lea dan Malini bertanya bersamaan.
"Kau tidak perlu repot-repot masak untuknya. You are free. Sekarang, ayo kita pulang." Dia merangkul Lea dan memaksanya berjalan pergi.


"Kau sedih?" tanya Shinji mendadak pada Lea yang bungkam.
"Nggak. Aku malah senang."
"Wajahmu tidak senang sama sekali."
Lea meringis kikuk.

Sebenarnya Lea senang, dia tidak jadi mempermalukan dirinya di depan Juna; mempertunjukkan kemampuan masaknya yang disaster, namun entah kenapa dia juga merasa merana, begitu mengetahui Juna pergi tanpa pamit. Lagipula Juna juga mengatakan kalau dia tidak perlu repot-repot masak untuknya, padahal baru beberapa waktu tadi dia bilang kalau Lea tetap harus menepati janji yang dibuat Malini padanya apa pun alasannya. 

Apa yang merubah keputusannya dalam hitungan menit? 
Aneh? Menurut Lea, ya... Sungguh aneh. 
..........................................

-Satu bulan kemudian-


Jakarta di bulan Desember. Berawan. Mendung. Penuh air. Dingin. 
Lea tidak pernah menyangka, kalau udara dingin seperti ini akan melanda Jakarta yang terkenal panas di segala musim. Memaksa banyak orang mengenakan jaket tebal bertudung, syal wool, dan sweater segala warna dan tingkat ketebalan, seperti dirinya.

Shinji dan Malini terkena flu berat, menyebabkan keduanya harus beristirahat total di rumahnya masing-masing, sehingga Lea terpaksa menghabiskan satu minggu sendirian di apartemen.
Dia sebenarnya bisa saja keluar sendiri dan jalan-jalan bersama keluarga atau teman-temannya yang lain, namun tanpa Shinji atau Malini menemaninya, dia merasa mudah kena serang. Membuatnya memutuskan untuk diam saja di dalam apartemen, menunggu adiknya, Leo, atau teman-temannya yang lain datang berkunjung, sambil nonton film kesukaannya atau browsing internet seharian.

Tapi malam ini sepertinya tak akan ada yang datang. Leo lembur di kantor, sedangkan temannya yang lain--ah mereka pasti lebih senang meringkuk di kasurnya masing-masing, daripada hujan-hujanan di luar. Apalagi dengan udara menusuk...



"Hachooo!
Great. I have flu now, sungut Lea dalam hati.
.....................................


Lea menyeret kaki keluar lift. Baru saja kembali dari membeli obat di Drug Store di lobi bawah. 
Hidungnya merah, dan terasa panas, saking seringnya diseka dengan tisu. Sepanjang jalan tadi beberapa kali dia bersin dan menyedot ingusnya. 


Gontai, dia melangkahkan kakinya. Panas sudah menjalar ke kepalanya sekarang, membuatnya pusing. Badannya juga sudah mulai terasa penat. 
Menyebalkan, dia berpikir. Kenapa aku mesti kena flu? Pasti setelah itu aku batuk; dan parah seperti biasanya. Bisa lama sembuhnya...


"Aduh!" Lea memekik tertahan ketika mendadak pundaknya tersenggol seseorang. 
Karena sibuk dengan benaknya dan telinganya tertutup oleh ear-phone, dia tak melihat jalan dan mendengar apa pun sama sekali. Meskipun begitu, dengan gusar dia mendongak ke samping, melihat orang yang menyenggolnya; bertemu pandang dengan... JUNA?


Mata Lea membeliak selama sepersekian detik, diiringi detak jantung yang luar biasa cepat, keringat dingin, dan gemetar di seluruh tubuh--dia kena syndrom itu lagi, sampai akhirnya dia lemas. Gelap.... setelahnya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
............................................
gambar dari sini

Is it a fate?

6 comments:

deeo June 8, 2011 at 12:31 PM  

mbakkkkk...jangan pendek2 klo nulis sambungannya...hehehehe...bikin penasaran berat...hehehe...(padahal pasti susah banget ya nulisnya,dasar pembaca gak tau diri) . Ya gak papa wiz,aku ta' sabar menanti cerita selanjutnya...(moga2 gak lama lagi sambil berdoa dalam hati)
TETEP SEMANGAT!!!

l i t a June 8, 2011 at 3:11 PM  

@dee: Emang nih, gak tau diri Heheheheh. Tenang aja, aku pasti tulis sambungannya. Moodku akan selalu ada selama Juna masih wara-wiri di TV. (^.^)

Enno June 8, 2011 at 4:39 PM  

kemaren pas siapa tu ce yg dieliminasi sm temen2 cowoknya itu... chef juna meluk dia!

Aw! MAUUUUUU!!!!

wkwkwk...

oiya info lg: Juna ga pny twitter. yg skrg ada itu PALSU. Bah! eksistensi seseorg pun diplagiat ya lit? hahaha ampun deh!

kali aja kmu mau masukin adegan Juna lg maen twitter, plis JANGAN! *info ga penting*

hahahaha LOL

Enno June 8, 2011 at 4:44 PM  

lit, ini situs jack rabbit, buat nambah bahan risetmu utk cerpen ini..

http://www.jackrabbitjakarta.com/

hihihi ayo lanjutannya ga pake lama!!!!

l i t a June 8, 2011 at 7:44 PM  

Jeng Enno: Iya. Vero dipeluk JUnaaaaaaaaaa! Gak terima. Tentang Twitter: Bener tuh, bisa aja tuh orang, ngaku@ Juna.Sampe segitu nekatnya yah... tapi hebat tu orang, sampe bisa ngumpulin followers sampe 3000an. Btw, thanks alot yah, infonya.... huahuahua *terharu*

Anonymous,  July 4, 2011 at 7:19 PM  

mbk, g sengaja lewat neh, kl setauq chef juna itu cuman galak pas di dapur aja, kl pas di dapur galaknya, sm kayak chef choi hyuun wook lah, yg di drama korea pasta itu, bs2 sampek lempar piring dan gebrak2 meja, tp di luar dapur dia itu pribadi yg smart dan humoris, kl g, g mungkin tuh aline adita suka, kan aline suka sm orang yg humoris, chef juna jg orangnya suka menantang bahaya, pas di bahama dia pernah diving dan ke arah segerombolan hiu..hehe, itu aja masukan dari aq

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP