Putri dan Pangeran

>> Tuesday, June 28, 2011

Si Putri selalu mencintai si Pangeran. Sejak dulu... hingga sekarang.


Suatu hari, saat mereka sedang berdua si Putri berkata pada si Pangeran, "Sadarkah dirimu, Yang Mulia, bahwa aku telah jatuh cinta padamu sebanyak empat kali selama hidupku?" 


Si Pangeran tersenyum, kemudian berkata, "Dan untuk itu, aku akan selalu mencintaimu lebih dari kau mencintaiku, Putri."


Si Putri lalu berkata lagi, "Selama ini, aku mencari dirimu di setiap sosok pria yang mencintaiku, namun kau tak pernah ada. Betapa bodohnya aku, berpikir bisa menemukanmu dalam diri mereka, meskipun aku tahu... kau takkan terganti. Oleh siapa pun."



Si Pangeran kemudian membungkuk, mendekatkan wajahnya pada si Putri. Mencium pucuk kepalanya lembut, dan berbisik, "Kau juga tak akan pernah terganti, Putri. Tak akan pernah terganti. Kau adalah kau. Dirimu sepenuhnya. Mata besar dan bulat itu, hanya ada padamu. Dan suara tawamu, tak ada seorang pun yang bisa menyamainya. Kau adalah satu-satunya 'Putri' ku. Sampai kapan pun. "
......................

gambar dari sini
























Read more...

What a heart-touching song

>> Sunday, June 26, 2011

Cinta kan Membawamu
Dewa 19


Tiba saat mengerti, jerit suara hati
Yang letih meski mencoba, melabuhkan 
rasa yang ada


Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu
Temani air mataku, teteskan lara
Merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi


Cinta kan membawamu
Kembali di sini
Menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu, mencintaiku
Apa adanya


Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati
Genangkan batin jiwamu, genangkan cinta
Seperti dulu, tak ada keraguan
................................

gambar dari sini
Sekarang saya baru mengerti...
makna lagu ini sebenarnya

Read more...

Stupid Me

>> Saturday, June 25, 2011

PERINGATAN untuk cewek-cewek bego:
Jangan sekali-sekali berdiri di tengah cowok2 kalap yang akan adu jotos, 
karena dengan begitu, muka kalian akan kena bogem nyasar
*bisik-bisik* kaya saya...
......................................................

"Bu Lita, maaf," seorang Restaurant Captain memberitahu saya dari ambang pintu, "si A dan si B, ribut di kitchen bawah."--kitchen bawah = dapur chinese food.
Saya yang sedang memasukkan barang-barang saya ke dalam tas, langsung pergi keluar diikuti oleh si Captain.
.................

Sudah ramai di bawah.
Sekuriti berusaha memegangi si A yang pegang penggiling daging, sedang Chef Chinese dan dua orang lainnya memegangi si B--yang badannya besar, yang gak pegang apa-apa sama sekali. A dan B sedang saling maki dan teriak dengan bahasa sekasar-kasarnya yang berhasil mereka temukan di kepala panas mereka.

Melihat saya datang, bukannya berhenti, mereka malah tambah keras bertengkar. Berusaha melepaskan diri dari pegangan orang yang berusaha mencegah mereka berkelahi.
Tanpa ragu--merasa aman karena dua orang 'kalap' ini udah dipegang--saya berdiri di tengah, berusaha melerai mereka, menyuruh dua2nya diam. 

"APA-APAAN SIH? DIAM DULU! KAYA ANAK KECIL!"

Tapi sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang dengar kata-kata saya, tetap saling teriak. Sampai akhirnya si B bisa melepaskan diri dan maju menghampiri si A yang nyerocos gak jelas.
Saya berusaha mencegah, mendorong B ke belakang, dan menyuruh si A diam. Tapi sepertinya si A tidak bisa berhenti sama sekali, dan malah menyemangati B untuk memukulnya. 
Ditantang, B pun maju lagi, saya yang masih berusaha mendiamkan A, menoleh ke arah B, yang ternyata sudah melayangkan tinju ke arah A, bertepatan saya mundur ke belakang.
Dan... bisa ditebak, sayalah yang kena bogem mentah si B.

Saya merosot ke lantai dapur. Orang-orang diam, begitu pula si A dan si B. Mereka berdua bengong, dengan mata melotot ngeri. Sementara saya melihat bintang-bintang berkeliling mengitari kepala saya. Pusing, sakit, apa pun itu campur aduk. 
Saya sejenak lupa apa yang terjadi, sampai akhirnya Chef Chinese menghampiri saya dengan panik. Bermaksud membantu. Tapi saya sudah habis kesabaran. Menepis tangannya, dan langsung berdiri. Murka! 
Menyembur A dan B, dengan omelan paling nyelekit yang bisa saya lontarkan sebanyak-banyaknya, sambil memegang pipi saya yang cenat-cenut. 


B yang merasa bersalah, memohon maaf dengan ekspresi wajah ingin menangis. Berusaha menghampiri saya--kalau bisa mungkin dia akan mencium kaki saya, agar dimaafkan.
Tapi saya sudah terlalu marah, sehingga cuma bisa berkata, "Kalian! Kantor! Sekarang!"
Lalu pergi dengan napas memburu, saking mati-matiannya menahan emosi.


-24 Juni 2011-
........................


Singkat kata, si A dan si B membuat surat pernyataan tertulis (tangan) atas kesalahan yang meraka lakukan, dan akan menunggu keputusan GM pagi ini, apakah mereka akan dikeluarkan atau akan di skorsing atau didemosi ke jabatan yang lebih rendah.


Saya, dengan berat hati, mengusulkan untuk mengeluarkan salah satu dari mereka, dan mendemosi yang satunya, karena apa yang mereka perbuat kemarin termasuk pelanggaran berat yang fatal sanksinya.
Sulitnya jadi Personalia, ya pada waktu seperti ini; saat ada kasus pelanggaran berat yang menyebabkan putusnya hubungan kerja. Terkadang bertentangan dengan hati nurani.  
Meskipun kasihan, peraturan tetap peraturan. Tidak bisa ditawar-tawar.
.............................


Sekarang pipi kanan saya memar, dan sudut bibir sobek.
Benar-benar penodaan terhadap penampilan saya.
Andaikan saya tahu kemarin akan kena tinju, saya akan berteriak pada si B terlebih dulu, "Jangan pukul muka! Please..."
......................
gambar orisinal dari sini














  







Read more...

Tentang Persahabatan: Kasih sayang dan Janji Ingkar (2)

>> Friday, June 24, 2011

VIA Blackberry Messenger dia berkata, "Maaf, ya Ta', kalo gw bikin kecewa."

Tidak saya balas, karena masih sangat sebal padanya.
Tapi pagi ini saya membaca barisan huruf itu lagi, mengembuskan napas perlahan, kemudian memutuskan untuk membalas ucapannya tersebut dengan kalimat singkat: 
"Lo emang bikin gw kecewa, but u're still my friend. Hope u have a great day always."
Dia kemudian membalas, "Thanks ya, Ta. I will, deh, Ta."


-23 juni 2011-
........


Ditemani Marketing Manager saya, saya bicara pada teman saya itu. Sebenarnya Marketing Manager saya yang bicara padanya, sementara saya hanya bisa diam menunggu giliran.
Teman saya menerima keputusan itu, mengaku salah dalam hal disiplin. Meminta maaf atas segala sikap dan kata-kata salah yang mungkin dilakukannya selama bekerja.


Singkat kata, Marketing Manager saya pergi keluar ruangan untuk mengurus sesuatu. Meninggalkan saya dan teman saya sendiri, membicarakan masalah gaji yang akan dibayarkan padanya akhir bulan nanti.


"Lo jangan khawatir, Ta. Gw gak apa-apa, kok," kata teman saya meyakinkan.
"Ya emang terserah lo sih. Gw cuman pengen yang terbaik aja buat lo. Lo tuh..." 
"Ta. Gw masuk sini bukan karena lo, kan? Gw ikut prosedur. Gw isi form, interview dan akhirnya keterima. Tolong jangan jadiin beban."
"Gw cuma cemas..." Suara saya mulai serak.
"Ngapain lo cemas. Dont be."
"Gw cuman pengen lo settled, gak kaya-kaya gini terus."
"Taaa... Tenang. Gw tuh udah punya kerjaan."
Saya pasang muka tidak percaya. "Terserah lo deh."
"Lo gak percaya?" Dia kemudian ambil ranselnya, mengeluarkan sebuah map berisi kertas tebal. "Ini," dia mengeluarkan kertas2 itu, "kerjaan gw. Data klien gw."
Alis saya mulai tinggi.
"Gw representatif dari perusahaan marcomm Jakarta. Dan gw punya gaji tetap, meskipun gak punya kantor tetap. Gw terima kerjaan di Ema, karena kerjaan gw ini, sistemnya mobile--senggang, jadi gw perlu kerjaan yang reguler."


Rontok hati saya.
Rontok kepercayaan saya.
Bisa-bisanya dia berkata begitu dengan gampangnya.


Tanpa babibu, saya bangkit dari kursi. "ATM lo udah jadi, gaji lo dibayar tanggal 28. Hope u have a great life."
Setelah itu saya pergi. Tidak menggubris panggilannya.


-22 Juni 2011-
................................
gambar dari sini
I'm sorry I can't trust u anymore. Ever.





















Read more...

Tentang Persahabatan: Kasih sayang dan Janji Ingkar

>> Wednesday, June 22, 2011

"Ta, beneran nih. Gw butuh kerjaan," kata seorang teman via telepon. "Gw pengen balik ke Bali lagi, dan gw gak pengen nganggur."
................................................

Sebagai seorang teman yang memiliki posisi lumayan strategis untuk mencari info di tempat-tempat yang sedang membutuhkan tenaga kerja, saya tentunya berusaha membantu teman saya itu.
Saya mencoba menghubungi salah satu rekan sesama Personalia yang bekerja di salah satu Mall 'wah' di Kuta, yang sepertinya selalu membutuhkan tenaga kerja. Dan ternyata memang, dia membutuhkan seorang Marketing Manager untuk ditempatkan di salah satu restoran yang ada di dalam mallnya.
Saya pun menghubungi teman saya itu, berharap penuh dia mendapat pekerjaan.
Proses pun berlangsung. Mulai dari pengisian form tenaga kerja sampai dengan interview diikuti oleh teman saya itu, sampai akhirnya rekan saya memberitahu saya, kalau teman saya tidak memenuhi kriteria seorang Marketing Manager sebuah Restoran.

"Dia tidak punya pengalaman sebagai seorang Manager. Pengalaman EO--event organizer--tidak cukup untuk membuatnya bisa menjadi seorang Marketing Manager. Nanti, kalau kami butuh Marcomm, kami akan hubungi dia," kata rekan saya itu.


Dari penampilan, teman saya itu tentunya cukup oke untuk menyandang sebutan Manajer, dan skill marketingnya juga cukup untuk menjadikannya seorang Marketing profesional. Tapi dari komitmen, dia tampaknya masih jauh dari itu. Baik komitmen dengan perusahaan yang mempekerjakannya, mau pun dengan dirinya sendiri, dan juga komitmen dengan teman yang berusaha membantunya. 
Saya... baru menyadarinya hari ini.
.........

Singkat cerita, akhirnya saya berhasil merekomendasikan teman saya itu pada GM saya, untuk mengisi posisi marketing assistant yang kosong. Mengatakan kalau dia, teman saya, handal dalam hal Marketing, dan dia orang yang bisa dipercaya.
Percaya dengan kata-kata saya, GM saya pun menerima teman saya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja. Dia pun mulai bekerja 1 Juni lalu.

Awalnya semua berjalan baik. Sampai suatu hari dia tidak muncul di kantor--1 harian. Dengan alasan yang tak bisa dipertangungjawabkan.
GM saya murka. Merasa diremehkan. Dia menelepon saya, dan mengeluarkan uneg2 kekesalannya.
Sumpah, saya malu sekali padanya. Merasa bersalah, merekomendasikan teman saya, yang sebenarnya memang ada masalah 'bangun pagi'.

Keesokan harinya saya langsung mendatangi kantornya, dan mengomelinya habis-habisan.

"Gw nolong lo, karena gw ngerasa lo udah berubah, dan juga karena gw pengen lo maju. Gw udah rekomendasiin lo yang baik-baik sama GM, tapi ternyata lo masih sama aja kaya waktu di EO dulu. Dulu lo boleh seenaknya dateng atau pulang, tapi di sini perusahaan yang aturannya jelas. Lo gak bisa seenaknya. Lo sama aja gantung gw kalo gitu. Lo gak kasihan sama gw? Atau kalau nggak, lo gak kasihan sama diri lo sendiri? Sampai kapan lo mau kaya gini? Umur lo tuh udah gak muda lagi."

Dia merespon semua kata-kata saya dengan santai; berhasil menenangkan saya dengan cara khasnya. Dan saya percaya.
Dia pun mulai berubah. Datang pagi, tidak lagi nongkrong di tempat lain selain kantornya sendiri, keluar kantor sesuai jam, pokoknya dia jadi anak manis.
Tapi hari ini... sekali lagi dia mengulang kesalahannya lagi. Beralasan mengantar teman yang bermasalah ke suatu tempat yang jauh, dia telat datang ke kantor lagi.
Kali ini saya sudah tidak bisa menghadap GM saya lagi. Muka saya serasa lepas, ketika GM saya bertanya pada Marketing Manager, bagaimana bisa teman saya itu memilih untuk memberi kabar pada saya daripada GM saya itu, atasan langsungnya.

Saya merasa dikhianati oleh teman saya itu. Merasa dimanfaatkan. Merasa dibodohi.
Maksud baik saya malah dibalas dengan sikap yang sama sekali tidak bertanggungjawab.
Saya jadi... amat kesal.

Saya tidak tahu, kenapa saya selalu bermasalah dengan teman yang saya sayangi.
Berkali-kali saya dikecewakan oleh orang-orang yang saya sebut teman. Orang-orang yang saya percayai.
Ada apa sebenarnya dengan saya?
It hurts... Really...
................
gambar dari sini




















Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (9)

>> Friday, June 17, 2011

"TINGGAL sendiri?"
Pertanyaan itu terlontar begitu Juna melangkahkan kaki masuk ke apartemen Lea. Berdiri di ruang tamu, dengan tangan di saku sambil memandang sekeliling.
Lea bersyukur dia baru saja membereskan ruang tamunya yang sebenarnya selalu dalam keadaan kacau balau.


"Iya..." jawab Lea tercekat. Suaranya susah sekali keluar.
"Keluargamu?"
"Mereka..." Lea ragu untuk memberitahu Juna tentang keluarganya. Juna bukan teman, teman dekat, saudara--apalagi pacar, yang bisa dia beritahukan begitu saja mengenai itu.
Juna berbalik, menunggu Lea melanjutkan kalimatnya. "Mereka...?"
"Mereka... ada," kata Lea, langsung berjalan pergi menuju dapur. "Anda mau minum apa?
Juna mengabaikan, mengikuti Lea perlahan. "Ada bagaimana?" 
He is so pushy. "Ya. Mereka tidak tinggal di sini."
"Dimana mereka?'
"Di rumah."
"Kalau kau punya rumah, kenapa kau tinggal sendiri di sini?"
Kenapa aku jadi ingin membunuhnya sekarang, Lea menggerutu dalam hati. "Karena... aku senang di sini." Lea menutupi wajah jengkelnya dengan membungkuk di depan lemari es, memilih minuman dingin untuk Juna.
"Mereka tidak khawatir?"


Lea berdiri, dan berbalik, memandang Juna yang berdiri di sebelah meja makan dengan tangan di dada. Sungguh makhluk yang menarik, dia membatin, terkesan dengan sosok Juna untuk kesekian kalinya; membuat mukanya panas seketika.
Cepat-cepat dia membungkuk di depan kulkas lagi, menyambar soft drink kaleng asal saja, dan menyodorkannya pada Juna.


"Aku tidak mau." Juna menolak mentah-mentah, mengangguk ke soft drink kaleng di tangan Lea. " Udara sudah terlalu dingin. Kau mau membuatku beku?"
Wajah Lea merah padam. 
"Aku lapar," katanya datar. "Buatkan aku sesuatu," 


Lea merasa tubuhnya kaku seketika.


"Sa-saya... tidak bisa masak. Saya sudah bilang pada An--"
"Bisakah kau--" (Juna membungkam bibir Lea dengan telunjuknya) "--stop menyebutku dengan 'Anda'? Aku bukan Presiden atau seseorang yang cocok untuk kau sebut dengan 'Anda'. Dan aku... tidak suka kau menyebutku dengan itu, seolah saja ada perbedaan besar..."
Dia tidak melanjutkan, menelan kembali kata-katanya ke tenggorokan, kemudian memutar badannya, dan berjalan ke ruang tamu. Duduk di sofa  berlengan, membelakangi Lea yang bengong. Mengejap-ngejapkan mata besarnya.


Yang tadi itu apa? Pikir Lea, sangat bingung. Juna tadi menyentuh bibirnya dengan telunjuknya tanpa ragu sama sekali. Seakan saja dia--Lea, adalah orang yang telah lama dikenalnya. Seseorang yang... wajar diperlakukan seperti itu olehnya.


Apa aku harus senang? Lea bimbang. Berpaling, berjalan mendekati kulkas, hendak menaruh soft drink kaleng yang tadi diambilnya.
Dan jujur saja, dia senang. Ada semacam gelegak aneh di dadanya sekarang. Aneh, namun menyenangkan. 
Semacam rasa yang membuat seseorang menginginkannya untuk tinggal selama mungkin. 
Tapi sayangnya Lea tidak bisa mempertahankan rasa aneh yang menyenangkan itu, karena begitu teringat permintaan Juna untuk membuatkannya sesuatu, panik segera saja menggantikan posisinya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (jangan diplagiat!)
...........................................................
gambar dari sini
Hari ini, kita mulai 'cerita' kita...




















Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (8)

>> Saturday, June 11, 2011

Okay. It's Getting Weird


"Lea. Lea... Lea!"

Tepukan terakhir di pipi Lea membuat matanya tersingkap.
Seorang wanita sangat cantik, berambut ikal merah memandangnya tersenyum lega

"Katty?" Lea mengangkat punggungnya. Hendak bersandar di bingkai tempat tidur. Katty adalah tetangga apartemennya. Lea tidak begitu tahu dia, tapi kenapa dia jadi di sini? Di kamar Katty.

"Juna membawamu kemari."
"Heh?" Juna? Ternyata orang yang kutubruk tadi benar-benar dia, pikir Lea
"Aku tidak pernah melihat wajahnya secemas itu sebelumnya," kata Katty, mendengus tersenyum. Menggeser duduknya. "Dia baru saja pergi, tapi kemudian kembali lagi, membawamu. Memaksa suamiku memeriksa keadaanmu"--suami Katty, Pedro, memang seorang Dokter--"dia sangat khawatir."

Khawatir? Lea berpikir. Impossible

"Badanmu panas. Sepertinya karena flumu," kata Katty, menyentuh dahi Lea. "Sebaiknya kau di sini dulu."
"Oh, tidak--tidak usah. Aku tidak mau merepotkan."
"Jangan sungkan. Apartemen kita kan bersebelahan." Melihat ekspresi tulus di wajah Katty, Lea tak kuasa membantah lagi. "Sebentar," Katty bangkit dari tempat tidur, "aku beritahu Juna kau sudah bangun."

Panick attack. Lea buru-buru menyambar lengan Katty, mencegahnya pergi.

"Tolong... Jangan," pintanya cemas. "Aku tidak mau... mer--"
"Tenang. Juna memintaku untuk memberitahunya kalau kau sudah bangun."
"Eh."

Katty berjalan menuju pintu, membukanya dan melongokkan kepalanya, memanggil seseorang di luar--"Juna,"--kemudian masuk lagi.
Seorang pria jangkung menyusulnya sejenak kemudian. Berjalan  tenang, dengan satu tangan di dagu.

Penampilannya sangat santai kali ini, dengan kaus putih dan celana jins selutut. Rambutnya tak tertata seperti biasa.

Jujur, Lea lebih suka Juna yang ini daripada Juna yang dilihatnya di TV. Namun tetap saja, dia tak berani memandangnya dengan bebas. Kikuk.

"Kau baik-baik saja sekarang?" 
Lea mendongak ragu. Mengangguk dan tersenyum kecil pada Juna yang berdiri di samping tempat tidur.
"Apa kau akan terus-terusan pingsan setiap melihatku?" Juna mengernyit, bersedekap.

Pertanyaan itu sangat tiba-tiba sehingga Lea tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Dia tidak bisa mengelak, karena penyebab utama dia tak sadarkan diri memang Juna; bukan flunya. 

"Kau istirahatlah," kata Katty buru-buru. Mendorong pundak Lea, kembali rebah di kasur. Dia tampaknya mengetahui kebimbangan Lea, dan ingin menyelamatkannya. Kalau benar begitu, Lea sangat berterimakasih padanya. "Badanmu panas, dan kau harus banyak istirahat."

"Aku--Sebaiknya aku kembali ke apartemen," kata Lea, tak enak hati. Kembali menegakkan tubuhnya. "Aku... Nanti teman-temanku cemas." Dia bergeser ke tepi tempat tidur.
"Tapi, kau sakit, Lea." Katty kedengaran cemas. "Demammu--"
"Tidak apa. Aku sudah beli obat tadi. Aku akan cepat sembuh." Lea nyengir.
"Aku akan menemanimu kalau begitu," Katty memaksa.
"Jangan. Tidak usah..."
"Tapi...,"
"Aku mohon Katty. Kau sudah terlalu baik..."
"Jangan menolak..."
"Aku hanya tidak mau--"
"Aku yang akan menemaninya."

Suara Juna membuat Lea maupun Katty bungkam seketika. Keduanya mendongak memandangnya. 

"Kau, Katty, kau sudah dengar dia tidak mau kau temani," Juna berkata pada Katty--("Bu-bukan begitu," Lea berkata panik)--"dan kau," Juna sekarang bicara pada Lea, "cepat bangun. Aku akan menemanimu. Jangan membantah."
Setelah itu dia berbalik, dan pergi. 

"Aku sudah lama mengenalnya, dan baru kali ini dia bersikap seperti itu,"kata Katty, mendengus geli, setelah Juna menghilang di balik pintu. "Aku tidak pernah bisa mengerti dirinya."

Ya. Aku juga, kata Lea, dalam hati.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
.......................................................
gambar dari sini
Aku memikirkanmu di setiap lagu romantis yang kudengar.
Bolehkah?



















Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (7)

>> Wednesday, June 8, 2011

Catatan: 


(Jaga2 kalau sampai Juna yang asli baca--waaaaa... mimpi banget gw ya...?)

Cerita ini, murni fiksi. 
Just a romance story yang dibuat sebagai rasa cinta dan kagum saya pada si Chef Juna ini.
Karakter Juna, kalau bisa memang disesuain sama dirinya sendiri, kalau nggak, maaf...
Maklum, saya cuma tahu dia dari nonton MCI, dan ngamatin dia sambil ileran di depan TV...
Hehehe...
So plis, kalau ada yang tahu info lebih 'dalem' tentang Juna, kasih tahu ya...

Love u, Guys. Thanks Jeng Enno.


(Sambungan dari (6))

"APA maksud Anda?" tanya Shinji dengan muka masam.
Juna diam. Mendongak memandang Shinji. Sorot matanya tenang. Kosong. Tak jelas.
"Kalau kau," Shinji merendahkan suaranya, "berani menyakiti Lea..."
"Saya akan menyakitinya," potong Juna. Serius. "Semakin banyak orang yang menyayanginya, semakin banyak saya akan menyakitinya."
Shinji mendengus. Bingung dengan maksud kalimat Juna. Dia menggigit bibir bawahnya, tanda kalau dia naik pitam.
....................................

Him?


"JUNA pergi?" Malini bertanya pada Shinji dengan nada tak percaya. "Tapi dia bukannya..."
"Dia harus kerja kan?" Shinji menyela santai. "Dia menyuruhku menyampaikan padamu,"--Shinji berkata pada Lea yang bengong--"kalau semuanya batal."
"Apanya?" Lea dan Malini bertanya bersamaan.
"Kau tidak perlu repot-repot masak untuknya. You are free. Sekarang, ayo kita pulang." Dia merangkul Lea dan memaksanya berjalan pergi.


"Kau sedih?" tanya Shinji mendadak pada Lea yang bungkam.
"Nggak. Aku malah senang."
"Wajahmu tidak senang sama sekali."
Lea meringis kikuk.

Sebenarnya Lea senang, dia tidak jadi mempermalukan dirinya di depan Juna; mempertunjukkan kemampuan masaknya yang disaster, namun entah kenapa dia juga merasa merana, begitu mengetahui Juna pergi tanpa pamit. Lagipula Juna juga mengatakan kalau dia tidak perlu repot-repot masak untuknya, padahal baru beberapa waktu tadi dia bilang kalau Lea tetap harus menepati janji yang dibuat Malini padanya apa pun alasannya. 

Apa yang merubah keputusannya dalam hitungan menit? 
Aneh? Menurut Lea, ya... Sungguh aneh. 
..........................................

-Satu bulan kemudian-


Jakarta di bulan Desember. Berawan. Mendung. Penuh air. Dingin. 
Lea tidak pernah menyangka, kalau udara dingin seperti ini akan melanda Jakarta yang terkenal panas di segala musim. Memaksa banyak orang mengenakan jaket tebal bertudung, syal wool, dan sweater segala warna dan tingkat ketebalan, seperti dirinya.

Shinji dan Malini terkena flu berat, menyebabkan keduanya harus beristirahat total di rumahnya masing-masing, sehingga Lea terpaksa menghabiskan satu minggu sendirian di apartemen.
Dia sebenarnya bisa saja keluar sendiri dan jalan-jalan bersama keluarga atau teman-temannya yang lain, namun tanpa Shinji atau Malini menemaninya, dia merasa mudah kena serang. Membuatnya memutuskan untuk diam saja di dalam apartemen, menunggu adiknya, Leo, atau teman-temannya yang lain datang berkunjung, sambil nonton film kesukaannya atau browsing internet seharian.

Tapi malam ini sepertinya tak akan ada yang datang. Leo lembur di kantor, sedangkan temannya yang lain--ah mereka pasti lebih senang meringkuk di kasurnya masing-masing, daripada hujan-hujanan di luar. Apalagi dengan udara menusuk...



"Hachooo!
Great. I have flu now, sungut Lea dalam hati.
.....................................


Lea menyeret kaki keluar lift. Baru saja kembali dari membeli obat di Drug Store di lobi bawah. 
Hidungnya merah, dan terasa panas, saking seringnya diseka dengan tisu. Sepanjang jalan tadi beberapa kali dia bersin dan menyedot ingusnya. 


Gontai, dia melangkahkan kakinya. Panas sudah menjalar ke kepalanya sekarang, membuatnya pusing. Badannya juga sudah mulai terasa penat. 
Menyebalkan, dia berpikir. Kenapa aku mesti kena flu? Pasti setelah itu aku batuk; dan parah seperti biasanya. Bisa lama sembuhnya...


"Aduh!" Lea memekik tertahan ketika mendadak pundaknya tersenggol seseorang. 
Karena sibuk dengan benaknya dan telinganya tertutup oleh ear-phone, dia tak melihat jalan dan mendengar apa pun sama sekali. Meskipun begitu, dengan gusar dia mendongak ke samping, melihat orang yang menyenggolnya; bertemu pandang dengan... JUNA?


Mata Lea membeliak selama sepersekian detik, diiringi detak jantung yang luar biasa cepat, keringat dingin, dan gemetar di seluruh tubuh--dia kena syndrom itu lagi, sampai akhirnya dia lemas. Gelap.... setelahnya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
............................................
gambar dari sini

Is it a fate?

Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (6)

>> Saturday, June 4, 2011

Permission

"SAMPAI kapan kau mau cemberut padaku?" Malini menegur Lea, berjalan di sampingnya menuju lobi.
Lea diam.
"Aku tahu aku salah..."
"Jelas salah. Kau mempermalukanku," sela Lea ketus. "Mengatakan aku bisa masak, dan mau masak untuknya... Kau aneh."
"Kau seharusnya senang bisa dekat dengannya. Kau kan fans beratnya."
"Sekarang aku jadi tawanannya--itu yang benar."
"Kau berlebihan."
Lea berhenti. Melotot. "Kau yang berlebihan."
"Kau suka Juna."
"Hanya sebagai fans. Tidak ingin benar-benar suka padanya. Dia itu... menyebalkan. Angkuh. Jutek. Galak kaya singa. Dan kau melemparku tepat ke mulutnya."
Malini mendengus tertawa.
"Ya ketawa saja. Memang lucu untukmu..."
Lea melanjutkan berjalan.
"Kau kan tinggal bilang... kalau kau tidak bisa masak."
"Sudah. Tapi dia malah bertanya, "Kamu sudah selesai? Saya tunggu di lobi,",--yang berarti dia tidak peduli... Janji harus dipenuhi. Kalau tidak aku mati."
"Hiperbola banget sih," sungut Malini.
................................


Shinji melangkah memasuki lobi Kedutaan Besar India. Berencana menjemput Lea dan Malini. 
Dia baru pulang latihan tari bersama teman-teman seklubnya; masih mengenakan kaus dan celana pendek. Handuk disampirkannya begitu saja di pundaknya.


Sepanjang jalan semua mata memandangnya dengan kagum. Tubuh jangkung, atletis, dengan kulit coklat dan senyum ramahnya tidak tertolakkan sama sekali. 


Shinji mengernyit. Laki-laki yang sedang duduk di salah satu bangku di lobi itu... tampaknya dia kenal.


Juna? Berarti dia benar-benar menjemput Lea kemari. 


Dengan santai, dia menghampiri Juna.


"Halo," sapanya. 
Juna mendongak. Melihat Shinji tajam. Alisnya tertaut. 
"Chef Juna kan?"
"Juna." Dia menjulurkan tangan kanannya pada Shinji. Senyum samar mengembang di bibirnya.
Shinji tersenyum simpul. Menjabat tangan Juna erat.
"Jadi jemput Lea, kalau begitu?"
"Sepertinya begitu."
"Sebagai teman baiknya, saya cuma mau Anda tahu, kalau dia bukan perempuan sembarangan," kata Shinji, tiba-tiba. Kedengaran serius. "Tolong... jangan permainkan dia. Apa pun bentuknya."


Tak ada kata dari Juna, selain tatapan konstannya pada Shinji, yang balas menatap tanpa gentar.


"Kalau begitu," Juna berkata setelah lewat beberapa detik, "saya minta ijin untuk mematahkan hatinya."
Mata Shinji segera saja menyipit berbahaya. 


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat)
.......................................................
gambar dari sini
"Aku benci melihat senyum ceriamu itu. 
Ingin menghancurkanmu sedikit demi sedikit."

























Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP