Meninggalkan Jakarta (1999): Dimana mereka sekarang? (2)

>> Wednesday, May 11, 2011

ER:
Cowok manis sedikit gempal dengan badan tidak terlalu tinggi (untuk ukuran cowok), tapi selalu memikat hati perempuan dengan senyum lepas dan ocehan lucunya. Er ini playboy berat dan suka tampil beda.

Rud:
Tidak manis, tapi mukanya selalu menyenangkan untuk dilihat. Penyayang, meskipun luar biasa cabul--cium sini-cium sana, tanpa permisi sama yang punya pipi. Hebatnya... dia tidak pernah selingkuh dari pacarnya selama kuliah. Dan anehnya... dia selalu memperkenalkan saya sebagai adiknya yang lama terpisah (God!) sama teman-temannya yang sedikit sama ajaibnya dengan dirinya.
....................................................

gambar orisinal dari sini
Boys will be boys...

Er dan Rud menjadi dua orang penting dalam kehidupan saya setelah perjumpaan kami. Mereka datang tiap hari, tak peduli siang, pagi atau malam. Tak peduli se'mess apa pun penampilan saya. Tanpa peduli apa saya sedang sibuk, istirahat, atau apa pun. Gila. But they're sweet.

Pernah suatu hari, di pagi buta, mereka mengetuk jendela kamar saya.
Dengan wajah berlipat, kesal karena tidur jadi terganggu, saya membuka pintu, dan mendapati Er dan Rud, yang tanpa rasa bersalah, mengembangkan cengiran khas di wajah masing-masing.
Tapi pagi itu, mereka tidak hanya berdua. Mereka membawa serta banyak orang, termasuk Winda, pacar Rud dan beberapa teman satu kos mereka. Jelas saya kaget.

"Kita main ke pantai," kata Er.
"Pagi-pagi gini? Ogah, ah! Ngantuk," tolak saya. "Besok ngampus."
Tapi sepertinya penolakan saya tidak mereka gubris, karena setelah Er dan Rud bertukar kedipan, Er segera menarik saya, membopong saya ke pundaknya, seperti kuli ngangkut karung beras, dan membawa saya pergi. Saya diculik. Masih dengan kaus butut plus celana trening gombrong yang biasa saya pakai tidur. Meskipun sebal dan cemas, memikirkan pintu kamar yang masih terbuka lebar saat saya dan rombongan Er dan Rud Cs. pergi, tapi dalam hati saya merasa senang. Saya merasa diperhatikan, diinginkan dan dibutuhkan untuk menjadi bagian dari pertemanan yang saya anggap, cool.

Ya. Er dan Rud, sangat cool. Kekonyolan dan cara bicara mereka yang easy dengan siapa pun membuat semua orang senang berada di dekat mereka. They were so happening that time. They were.
-----------------------------------
Belakangan, setelah peristiwa 'penculikan' itu, Rud tak lagi muncul. Hanya Er.
"Dia nemenin Winda. Udah beberapa hari ini badan Winda panas," jawab Er saat saya tanya dimana Rud.
Itu awal saya tahu, kalau Rud ternyata bisa sebaik itu pada perempuan yang disebutnya 'pacar'. Di balik sikap cabulnya yang selalu diperlihatkan pada perempuan yang ditemuinya, ternyata dia bisa se-care itu.
Winda bahkan tidak secantik perempuan-perempuan yang biasa dia sosor. Tapi... dia... Yah, itulah Rud. Dia penuh kejutan.

Akhirnya selama satu minggu, saya hanya menghabiskan waktu dengan Er.
Biasanya dia datang sepulangnya dari kampus, masih memakai seragamnya. Tanpa minta ijin, langsung rebah di kasur di kamar saya. NGOROK sampai sore.

"Emang kamar kos lu kenapa? Sampe lo tidur di kasur gw tiap hari?" tanya saya jengkel.
"Banyak orang. Kamar kos gw kan markas besar. Gak bisa tidur enak," jawabnya santai. "Pengen numpang di tempat temen lain, mereka semua udah pada tinggal sama ceweknya. Gak enak gw."
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi deh, kalau itu jawabannya.

Saya dan Er pun jadi dekat karena 'absen'nya Rudi. Apa yang dulu kami lakukan bertiga, kini saya dan Er lakukan berdua. Makan siang, jalan-jalan ke pantai, makan rujak, ngobrol, makan di pangkalan kaki lima, belajar, bercanda, berantem, semuanya, kami lakukan berdua saja. Dan Rud tidak pernah nongol sekali pun ke kos saya. Dan saat saya bilang kalau saya mau menjenguk Winda, sekalian kangen2an sama Rud, Er mencegah. Mengatakan kalau Rud tidak mau Winda terganggu.
.........................................

"Gw pulang ah, udah sore," Er pamit suatu sore, setelah sedari pagi bantu saya translate tugas bahasa Inggris.
Hari itu genap satu bulan saya ditemani Er, tanpa Rud muncul sekali pun di hadapan saya.
Saya yang sedang sibuk merapikan kertas, hanya berkata, "Oke," tanpa melihat Er.

"Lita. Liat gw kalau lagi ngomong sama lo," kata Er jengkel. Dia memang tidak suka kalau tidak diperhatikan saat bicara.

Saya mendongak dan nyengir. "Okeeeee. Silahkan pulanggggg..."

Er mencibir, dan menyandang tali tasnya ke pundak. "Ya udah. Gw pulang. Tapi gw mo cium lo dulu."

Baik Rud atau Er memang biasa cium saat pamitan, bukan sama saya aja, tapi juga teman-teman(cewek)nya yang lain. Jadi saya cuek aja, waktu dia narik muka saya dan mendaratkan bibirnya di kening. Tapi kok... kali ini...

Dia nyium kedua mata saya sambil ngitung: 2, 3, lalu, kedua pipi saya--"4, 5...," lalu hidung, 6, dan... tujuh...

PLAK!
Saya menampar Er setelah bibirnya terlepas dari bibir saya. Kaget, bingung, merasa dilecehkan, semuanya campur aduk di kepala.
Tanpa ba bi bu, saya bergegas ke kamar. Tidak menggubris panggilan Er. Tidak menghiraukan ketukan di pintu. Tidak mau membukanya. Saya mengurung diri di kamar malam itu.
.............................................................

Pagi-pagi, saya bangun karena gedoran keras di pintu. Saya mengintip dari balik gorden jendela, dan melihat Rud. Saya tidak pernah melihat wajahnya serius begitu.

"Rud?" saya menyapa dengan senyum heran.
"Kamu diapain sama Er?" dia bertanya, kedengaran cemas.
Bingung menjawab apa, saya cuma bisa mengerut-ngerutkan bibir. Menunduk. Muka saya panas.
"Hei, Dek. Kok diem?"--Rud memang memanggil saya dengan sebutan 'Adek'.
"Kakak pasti udah tahu, kan?"
Saya kira Rud akan marah, mendengar nada bicara dan ekspresinya yang mengeras, tapi ternyata dia mendesah, wajahnya dikeriut-keriutkan. Menggeleng-geleng kecil.

"Aku udah bilang sama si bego itu,"--maksudnya si Er--"percuma, coba-coba mesum sama kamu."
"Dia gak mesum!" saya meralat panik. "Dia cuma nyium dan..."
"Kalau kamu balas kemarin, ya jadinya mesum."
"Kenapa bisa gitu?"
"Laki-laki, Lita. Er itu laki-laki. Kami gak bisa tinggal berduaan sama cewek terus-terusan tanpa nyentuh atau..."
"Tapi Er itu temen..."
"Yah, menurut kamu, tapi bagi dia, kamu sasaran niat playboynya."
"Kakak kok tahu kalau kemarin dia...?" saya malu untuk ngelanjutin.
"Pipinya bengkak merah, kaya kena raket nyamuk,"--(saya mendengus geli)--"pas aku tanya dia bilang, ditampar cewek galak. Karena setiap sore dia pasti di kos kamu, ya aku pikir, yang dia maksud cewek galak itu pasti kamu." Rud ketawa geli.
Kami ketawa geli.
"Trus, dia gimana sekarang?"
"Gak usah dipikirin," Rud nyengir tapi serius, "Dia gak pernah serius sama cewek, intinya dia ngelakuin itu sama kamu, untuk mancing keluar perasaan kamu sebenarnya sama dia. Nanti juga dia dapet target lain."
"Aku gak suka sama Er... Dia... sama kaya aku nganggep Kakak, udah kaya sodara sendiri."
"Ya, syukur, deh kalo gitu... Aku juga gak pengen kamu sakit hati gara-gara Er. Meskipun dia sobat baik aku..., aku gak pengen, dia nyakitin sobatku yang satu lagi."
Mata saya langsung berair mendengar kalimat Rud.
.......................................................
Truly great friends are hard to find, difficult to leave, 
and impossible to forget

5 comments:

Ra-kun lari-laRIAN May 11, 2011 at 10:03 AM  

temen yang baik itu memang bakal keinget sampai kapanpun ya.

l i t a May 11, 2011 at 11:30 AM  

@Ra: Iya... Gak bisa kelupa. Sampe sekarang gw masih inget, tapi gak tau dimana Er dan Rud sekarang. Raib ditelan bumi.

maya May 11, 2011 at 1:17 PM  

wah, sy juga suka komik loh. tp skr lg off, hihihi msh hectic sm kerjaan.
eh, komenku jg jd gk nyambung y dsni :))

FeraSuliyanto May 20, 2011 at 9:13 AM  

waa aku jg lagi keranjingan sama chef Juna itu mbak!
*ngiler2* :D :D

FeraSuliyanto May 20, 2011 at 9:14 AM  

eh yaampun saya salah ngomment post X_X maaf maaf :D :D

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP