LEA: A dedication for Junior Rorimpandey

>> Wednesday, May 25, 2011

The Talks and 'Juna's Syndrom'

"Ladies and Gentlemen. Please welcome Lea and Shinji!"

Shinji menoleh pada Lea yang  sedang menunduk memandangi kakinya. "Hei, Lea. Kita sudah dipanggil. Kau siap?"
Lea meringis, mengetuk-ngetuk hak sepatu kanannya di lantai. "Siap, sih. Tapi..., sepertinya... ada yang salah dengan high heel kananku."
"Kenapa?"
"Goyang. Aku takut hak-nya patah."
"Itu kan sepatu dari wardrobe, masa bisa patah?"
"Tapi benar... Goyang. Kalau patah, bagaimana?"
"Tidak akan patah."
"Kalau patah?"
"Tidak akan! Ayo kita keluar, mereka sudah menunggu."

Lagu dari Dhoom 2, Crazy Kiya Re membahana, seiring mereka melangkah di atas panggung besar--Sexy lady on da floor. Keep u coming back for more... Crazy Kiya Re... Crazy Kiya Re. Sedangkan Choky Sitohang, menunggu keduanya di tengah panggung. Berdiri di depan sofa merah berlengan yang tampak elegan sekali. Sungguh serasi dengan Choky yang juga tampil elegan di atas panggung.

"Please, everyone," Choky tersenyum pada penonton, "give them a big applause--Oh, awas!"

Yang Lea takutkan terjadi. Hak sepatu kanannya patah, dan dia hampir saja terjatuh kalau saja Shinji tidak buru-buru memegangnya. Suara tawa segera saja bergaung di ruangan luas itu. Mau tak mau, meskipun sebal dan malu, Lea turut tertawa. 

Dia berbisik sembunyi-sembunyi pada Shinji, "Benar kan... Patah. Bagaimana sekarang?"
"Ya sudah, copot saja. Nanti pasti diganti. Tenteng saja sepatumu. Tetap senyum."
Lea buru-buru melepas kedua sepatunya. Menentengnya dengan satu tangan. "Memalukan. Aku menenteng sepatu di acara live stasiun televisi nasional, dan harus tetap pasang senyum. Aku kelihatan tolol."
"You're still cute, though. Atau... kau mau kugendong?"
"Diamlah."
...........................................................

"So, Lea, bagaimana perasaanmu bertemu Shah Rukh Khan?" Choky bertanya pada Lea. Talk show telah beberapa waktu berjalan, dan kini giliran Lea yang diajukan pertanyaan. Lea tampak lebih tenang sekarang. Sepatunya sudah diganti dengan yang baru.
"Sangat senang. Seperti mimpi. Masih tidak percaya."
"Apa benar kalau Anda adalah fans berat Mr. Khan?"
"I am his number one fan,"--tawa penonton membahana. "Benar," Lea meyakinkan penonton. "Aku sangat menyukai Shah Rukh. Bisa bermain di salah satu film yang diproduserinya, dan menjadi salah satu aktris yang dinaungi Red Chillies, membuat saya... sangat senang. Merupakan kehormatan besar."
"Jadi, apa akan ada film selanjutnya bersama Shah Rukh Khan?"
Lea dan Shinji mengangguk. "Ya. 2 bulan lagi kami akan kembali ke New Delhi untuk syuting film selanjutnya," jelas Shinji.
"Judulnya?"
"Masih rahasia," Shinji dan Lea menjawab bersamaan. "Just wait and see," tambah Lea.
"Dan... Lea, rumornya Anda juga sangat ngefans pada salah satu juri Master Chef Indonesia? Junior Rorimpandey alias Chef Juna?"
Lea mendengus tertawa. Mukanya merah.
"Dia gila "Juna"," timpal Shinji. "Setiap Juna muncul di TV dia langsung heboh. Persis kaya anak ABG nonton Smash."
Penonton tertawa.

"Apa yang membuat Anda suka sama dia?" tanya Choky. "Apa karena dia Chef? Atau karena tatonya?"
"Sebenarnya bukan karena 'Chef'nya," kata Lea, meringis. "bukan juga karena tatonya, meskipun emang tatonya keren banget, tapi... karena... well," Lea sulit berkata-kata, "mukanya persis seperti gambar tokoh cowok yang ada di komik Jepang."

Choky terbahak, begitu pun penonton. Sementara Shinji mendengus.
"Sikap 'cool' dan angkuhnya itu menarik," tambah Lea, tidak memedulikan suara tawa di sekitarnya. "Dia gak cakep-cakep banget, sih sebenarnya, tapi... dia sangat menarik. Sexy."
Suara tawa kembali lagi, dan Lea cuma bisa nyengir.
"Kebetulan, karena kita sedang membicarakan Chef, kami punya makanan yang dibuat khusus untuk" (Choky mengarahkan tangannya kepada Lea) "Anda."
Choky berdiri, memandang seseorang yang berada di belakang Lea. "Ini dia. Dibawakan oleh..."

Baik Lea maupun Shinji menoleh, dan reaksi Lea begitu melihat orang yang membawa makanan itu...

"Hei, Lea... Lea, mau kemana?" Shinji buru-buru berdiri, menyambar tangan Lea yang buru-buru bangun dari sofa, bergegas pergi.Penonton bertepuk tangan riuh menyambut kehadiran Chef Master Juna yang membawa nampan berisi kue tart, seraya tertawa melihat reaksi Lea yang wajahnya merah padam.
"Shin. Lepasin, Shin."

"Itu Juna. Kau kan sangat ingin bertemu dia?"
"Aku memang ingin... tapi ini mendadak. Aku malu. Aku bisa pingsan."
"Setidaknya senyum sama dia."

"Aku tidak bisa. Badanku gemetaran. Aku..."

"Halo, Lea," terdengar suara berat dari belakang. Suara Juna.

"Just turn your back," bisik Shinji gemas. Sementara penonton semakin heboh.
"Oh my God. Oh my God..." Lea merepet, sambi memutar badannya perlahan. "Ini mimpi... Ini mimpi..." ucapnya berulang-ulang.

Tapi ternyata semua ini sama sekali bukan mimpi. Seorang Juna, si Chef Master yang belakangan ini mengisi benak Lea, sekarang benar-benar berdiri di depannya dengan pesona yang sama yang ditebarkannya melalui layar kaca. 
Lea dapat melihat wajah tegasnya, senyum uniknya, dan tato penuh di sekujur lengannya--langsung... tanpa jeda iklan.

Ini terlalu nyata, pikir Lea. Tidak mungkin orang ini Juna. Dia tidak mungkin mau menemuiku. Aku bukan siapa-siapa.

Lea terlalu kaget, atau mungkin terlalu bingung, sehingga menyebabkan kepalanya pusing. Sampai akhirnya, ketika tangan Juna menyentuh jemarinya, tubuhnya lemas. Merosot ke lantai panggung. Dia pingsan.

(bersambung)

gambar dari sini



5 comments:

FeraSuliyanto May 25, 2011 at 9:19 PM  

hahahhaa, i really enjoyed your post mbak lita!
oh no! i am imagine to being Lea!
*screaming*

l i t a May 25, 2011 at 9:56 PM  

Fe: Iya nih... saking sukanya sama Juna, aku jadi pengen banget bikin cerita ini. wiks!

gloriaputri May 26, 2011 at 8:34 AM  

ckckckck....mba enno kudu baca ini :p

elena,  September 5, 2011 at 9:07 AM  

ya ampun... gue suka banget sm gaya cerita mba lita, bener2 ngerasa jadi Lea, sama deg2an nya hahaha... i like it !!!

Henny Yarica September 10, 2011 at 2:00 PM  

OMG!!! sebenernya aku nggak terlalu suka sama Juna, tapi ngebayangin dia datang dan tersenyum sambil bawa kue tart itu bikin meleleh. hihihi

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP