LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (5)

>> Monday, May 30, 2011

Are You For Real...?

LEA tidak bisa konsentrasi sama sekali. Tariannya kacau balau, membuat kakinya terkena injakan Miss Nivedhita, guru tarinya, untuk kesekian kalinya.

"Focus, Leaaaaaaaaa..." katanya gemas pada Lea, yang meringis kesakitan. "Dance with your mind, body and soul. Don't think of anything else."

Tapi bagaimana Lea bisa tidak memikirkan hal lain, mengingat satu jam lagi, seorang Juna--Junior Rorimpandey akan datang untuk menjemputnya. 

"Lea. Bharatanatyam dance is so difficult!" Miss Nivedhita ngomel lagi. "Especially the Margam. I teach u this dance because I think u are ready--because you've past the Arangetram..."

Kata-kata Miss Nivedhita raib begitu saja tanpa satu pun yang dapat Lea tangkap. Pikirannya terlalu penuh Juna. Semua badannya malah, dipenuhi Juna. Kali ini semangat menarinya dikalahkan oleh semangatnya bertemu Juna. Weird. Tidak biasanya dia seperti itu.

"Kau tidak suka dia kan, Lea?" Shinji bertanya kemarin malam, setelah Lea menceritakan pertemuannya dengan Juna.
"Tentu tidak," jawab Lea cepat, seolah tersinggung. "Aku... tidak berani. Dia pasti menganggapku sinting. Bagai pungguk merindukan bulan."
"Atau jangan-jangan dia yang suka padamu, sampai rela mau menjemputmu ke Embassy?"
"Jangan ngaco! Dia tidak mungkin suka sama aku. Menurutku dia hanya ingin mengujiku--oh, kenapa aku mesti bohong sama dia? Dia akan mengulitiku hidup-hidup kalau dia tahu aku tidak bisa masak apa pun selain masak air dan mie instan."
"Just be careful," Shinji kelihatan serius, tidak seperti biasanya. "kalau kau sampai suka padanya, kau harus menjaga hatimu baik-baik. Kau itu rapuh."
................................................

Entakan kaki. Ayunan tangan. Lirikan mata. Gemerincing gelang kaki. Embusan napas halus yang terengah. Ekspresi wajah yang berganti tiap sepersekian detik. Jari jemari yang lentik, kuncup mekar seiring musik. Senyum manis dan binar mata coklatnya. Semuanya membuat Juna terpukau. 
Tari India klasik yang ditarikan oleh Lea telah berhasil menghipnotisnya.


Karena ini dia mendapatkan banyak pujian, Juna membatin. Karena ini dia dicintai banyak orang. Terlebih lagi saat dia menari, dia kelihatan sangat cantik. Tubuhnya seolah memancarkan sinar, meredupkan sekelilingnya, sehingga semua mata hanya memandangnya.


Siapa sebenarnya perempuan ini? Siapa Lea sebenarnya? Entah kenapa Juna jadi ingin tahu lebih banyak tentangnya. Tapi, mengingat ketakutan di wajahnya setiap bertemu dengannya, Juna ragu apa Lea berkenan untuk memberinya kesempatan itu. Gadis itu tampaknya sangat anti pada dirinya.


"Welldone, Lea!" Suara wanita paruh baya yang mengenakan sari hijau tua itu menggelegar  mengejutkan, disusul oleh tepuk tangan riuh orang-orang yang berada dalam ruangan. 
Lea mencakupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat sebagai ungkapan terima kasih. 


Juna tetap pada posenya, bersandar santai di dinding dengan kedua tangan bersedekap.


Saat Lea melihatnya, Juna menyaksikan kedua mata besar itu membundar. Kaget. Lea buru-buru menoleh ke kanan, ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu lewat lima puluh lima menit, kemudian kembali memandang Juna. 


Juna mengamati Lea yang berjalan menghampirinya. Menyadari betapa ragu langkahnya.  Senyumnya pun muram, kentara sekali kalau dia sangat memaksa kakinya untuk mendekat. 


"Maaf. Jadi menunggu." Itu kalimat pertama yang diucapkan Lea begitu sampai di depan Juna.
"Saya datang lebih awal." Cuma itu kalimat yang terpikirkan di kepala Juna. 
"Apa Chef Juna tetap ingin saya membuat roti... kemarin itu?"
"Saya tidak perlu ulang lagi kata-kata saya kemarin. Kalau latihanmu sudah selesai, sebaiknya kita segera pergi." Juna menegakkan tubuhnya. "Saya tunggu di lobi." Dia berbalik.
"Sa-saya bohong."
Kening Juna berkerut. Segera menoleh ke belakang. Melihat Lea dari balik pundaknya. 
"Saya tidak bisa masak."
Juna berbalik. Menatap Lea yang memandangnya ketakutan dengan ekspresi jengkel.
"Roti itu dibeli Malini di suatu tempat--saya juga tidak tahu dimana. Saya ingin Chef Juna memaafkan saya... karena telah membuat malu waktu--saya benar-benar minta maaf." Wajah Lea sangat merah. "Dan maaf saya bohong..."
"Sudah selesai?" Juna bertanya. Suaranya kedengaran parau.
Lea mendongak. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Juna barusan.
"Saya sudah bilang, kalau kamu harus masak untuk saya, karena Malini yang menawarkan sama saya, dan saya... setuju."
Mata Lea membeliak
"Dan stop panggil saya dengan 'Chef Juna'. Saya tidak suka. Kamu kedengaran seperti finalis Master Chef Indonesia. Dan semua finalis itu pintar masak, sedangkan kamu tidak. Jadi tidak pantas."


Jujur, Juna sebal sendiri pada dirinya karena melontarkan kalimat pedas barusan pada Lea. Kalau saja dia bisa meng-undo-nya, dia rela makan sup yang seperti air kobokan sebagai bayarannya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat)
...................................................
gambar dari sini
Mungkinkah mencintai seseorang 
yang begitu jauh bedanya dengan kita?















7 comments:

budwi May 30, 2011 at 8:30 PM  

cerita yang menarik

deeo May 31, 2011 at 4:29 PM  

tambah seru aja...hahaha....dasar chef cakep tapi jutek itu,hmmm bahasanya ringan dan aku jadi bisa masuk kedalamnya mbak...cool....SEMANGAT!!!!aku menunggu lanjutannya...

Enno May 31, 2011 at 6:45 PM  

gagagaga...

jadi tambah pengen nyium chef juna deh gueee...

aw aw!

lanjutannya jgn klamaan ya :))

l i t a May 31, 2011 at 7:25 PM  

@all: AKU TAMBAH SEMANGATTTTTTTT! Hwahawhawaahahawhahw

Miss.Independent June 5, 2011 at 5:17 PM  

ihhhh, ceritanya seru, ini cerita asli apa bukan yah???
=)

l i t a June 5, 2011 at 8:06 PM  

@Ms Independent: Bukan cerita asli. Aku cuma minjem namanya 'Chef Juna ' aja, karena terlalu ngeFans sama dia. hihihih. makanya minta maap dulu sama Jeng AlineAdita

Ra-kun lari-laRIAN June 6, 2011 at 10:20 PM  

saya bacanya mundur nih, hahah :D gak papa kan :p

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP