LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (4)

>> Friday, May 27, 2011

I am A Big... Fat... Liar


SUARA pintu dibuka dari luar, disusul suara sepatu menghantam lantai. 
Tubuh Lea menegang, jantungnya berdetak sangat kencang, lebih dari sebelumnya. 


Itu pasti dia, tebaknya dalam hati. Harus apa sekarang?


Lea sama sekali tidak berani memalingkan badannya. Badannya gemetaran lagi. Ini kedua kalinya dia bertemu dengan Juna, dan pikirannya masih sama kacaunya seperti kemarin. Kenyataan ini terlalu semu untuknya. Tapi, masa sih dia mau membelakangi Juna terus menerus. Bisa-bisa dia menganggapnya tidak sopan.


Lea memutar tubuhnya perlahan, dan melihat Juna; berdiri di depannya dengan alis tertaut, dan dagu yang terangkat. Kelihatan angkuh. Sungguh angkuh. Menyakitkan... karena semua itu begitu menarik di mata Lea.

Masih mengenakan baju kerjanya yang berwarna putih dengan satu kancing atas yang sengaja dilepas, sosok Junior Rorimpandey lebih memikat daripada saat mengenakan baju kasual.


"Kamu?"
Lea buru-buru nyengir. "Ya... Saya." Dia mengacungkan telunjuknya sejenak. Buru-buru menurunkannya begitu menyadari betapa aneh tingkahnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin. 
"Um... Saya..."--Lea luar biasa gugup (benar-benar seram si Juna ini, gumamnya dalam hati). "Well, saya sebenarnya mau tunggu di luar, tapi bos Chef Juna menyuruh saya menunggu di sini, jadi saya masuk ke dalam. Maaf, kalau saya tidak sopan. Tapi..."--aku sebenarnya mau bicara apa sih?--"um... saya ke sini mau minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
Mata Lea membudar selama sepersekian detik. "Maaf... karena..., saya pingsan kemarin...? Saya terlalu shock, karena--"
"Kamu tahu, kamu mengganggu pekerjaan saya?" Juna menyela. Dari ekspresinya sepertinya dia akan menelan Lea bulat-bulat.


Lea menelan ludah, dia takut tapi juga sebal. Nih, orang sepertinya gak tahu cara bicara sama perempuan, batinnya. 


"Kalau begitu saya sebaiknya pergi," Lea berusaha memantapkan suaranya. Tidak mau kelihatan gentar di hadapan Juna. "Permisi."
"Itu apa?" Juna menunjuk ke tas karton di atas meja.
Lea membeliak, dia lupa menyerahkan 'bingkisan minta maaf'-nya. "Oh, itu,"--jantungnya dag dig dug, ketika Juna meraih tas karton tersebut, dan melongok isinya--"home made bread."


Juna menarik keluar isi di dalam tas karton tersebut. Membuka kertas pembungkusnya.


"Sudah agak dingin tapi..." Kata-kata Lea langsung tertelan, ketika Juna menggigit roti tersebut, mengunyahnya, dan menelannya tanpa ragu. 
"Kamu yang buat?"
"Eh?"
"Roti ini...? Kamu buat sendiri?"
"Bilang kau yang buat, maka semua masalah selesai," Lea teringat saran Malini ketika dia akan berangkat ke Jack Rabbit. Tapi itu bohong. Aku tidak boleh bohong, gumam Lea dalam hati.
"Hei." Suara Juna menyentak, dan Lea langsung membuka mulut, berkata, "Ya. Saya yang buat," dengan senyum meringis menghias wajahnya.


Kernyitan alis Juna menandakan keraguan atas jawaban Lea barusan. Dia memandang roti di tangannya, kemudian melihat ke Lea lagi.


Mati aku, pikir Lea.


"Good," kata Juna datar, membuat mata Lea membundar. Tak menyangka sama sekali. "Perempuan memang harus bisa masak."


Lea cuma bisa terkekeh; kekeh yang persis sekali tawa Hyena. Tawa yang kalau diterjemahkan dengan kata-kata, berarti, "Aku bohong. Aku tidak bisa masak sama sekali."


"Oke. Bisa tunjukkin ke saya bagaimana cara buatnya?"
Lea langsung batuk-batuk. Kaget. "A-apa? Tu-tunjukin?"
"Ya. Saya ingin tahu bagaimana cara buatnya. Rasa roti ini enak. Fresh."
"Se... karang...?" tanya Lea, menggaruk pelipis kanannya. Kebiasaannya bila sedang merasa gugup.
"Kamu kelihatan bingung," Juna meneliti mimik wajah Lea yang panik. "Kamu ada janji?"
"YA!" Lea kelewat antusias menjawab, sehingga dia kedengaran seperti sedang meneriaki Juna, membuat laki-laki itu mundur selangkah ke belakang. "Ma-maksud saya..., ya, saya ada janji."
"Dengan Shinji?"
Mata Lea berbinar--Juna benar-benar memberikan alasan terbaik yang tak dia pikirkan sebelumnya untuk menghindari permintaannya barusan, "Ya. Dengan Shinji."
"Apa dia pacarmu?"
"Ya--eh--Bukaaaaan," Lea menggelengkan kepala cepat. "Dia bukan pacar saya."
"Kalau begitu... datang ke sini besok."
"Ha? Untuk...?
"Kalau kamu ada janji malam ini dengan Shinji, berarti kamu free besok. Kamu akan tunjukkan sama saya cara buat roti ini." Cara bicaranya bukan bernada meminta tapi memerintah. 
"Saya ada janji... Ehm... Shooting."
"Tidak ada," sambar Juna, yakin. "Kamu pulang ke Indonesia untuk liburan. Saya sempat ngobrol sama Manager kamu, dan dia bilang shooting film selanjutnya masih 3 bulan lagi. Lagipula di telponnya tadi pagi, dia juga bilang kalau kamu bersedia memasak untuk saya sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin. Jadi... I'll take the offer."


Lea bersumpah, sampai di rumah dia akan membunuh Malini dengan cara paling keji yang bisa dia pikirkan.


"Saya benar-benar ada janji. Latihan tari klasik," dalih Lea. Pantang mundur.
"Jam?"
Ini orang... menyebalkan sekali. "Pagi. Jam 10. Baru selesai jam 2... sepertinya." Lea berpikir kalau sudah sore, Juna pasti tidak jadi menyuruhnya membuat roti menyebalkan itu.
"Dimana?"
"Di Indian Embassy."
"Oke. Saya jemput kamu di sana. Jam 2 tepat. "
Rasanya Lea mau pingsan mendengarnya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
..........................................

gambar dari sini
Come... And Join me...



7 comments:

Sassy Enno May 27, 2011 at 6:26 PM  

litaaaa.... pelit! masa cuma seuprit lanjutannya???

terusiiiiin!!!!

:D

l i t a May 27, 2011 at 6:45 PM  

Mbak Enno: hihihihihi...

deeo May 29, 2011 at 5:49 PM  

hi,aku baru liat2 blog kamu,dan bagus,aku suka...apalagi cerita ini...buruan dilanjutin ya!!!hehehehe...gak sabar baca endingnya....SEMANGAT!!!!

l i t a May 29, 2011 at 8:01 PM  

Deeo: thanks yah... *lam kenal*

deeo May 30, 2011 at 5:01 PM  

salam kenal juga mbak,ayo dong buruan dilanjutin,hehehe...tapi gak papa q tungguin sambil baca cerita mbak yg lain ah...hehehehe

Nyla Baker July 1, 2011 at 9:08 AM  

wah bagus sekali aku suka..ahaha
aku follow ya blog'a :)

Elsa Gamaria January 8, 2015 at 11:52 AM  

Mbak lita, cerita yg love juna 34 setelah itu kagak ada lanjutannya kah?? Sungguh penasaran krn saya nyari yg 35 kagak ada, yg muncul malah link yg a dedicated for junior rorimpandey ini

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP