LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (3)

>> Thursday, May 26, 2011

Homemade Bread?


"AKU pingsan di depan Chef Master Juna. Di acara langsung stasiun televisi nasional," gumam Lea, sambil tengkurap di tempat tidurnya. "Aku benar-benar... memalukan..." Dia membenamkan wajahnya di bantal.

Sudah entah keberapa ribu kalinya Lea membodohi dirinya sendiri atas kejadian kemarin, saat dia pingsan di depan idolanya, Junior Rorimpandey, sang Chef Master, yang dengan mengejutkan muncul di hadapannya dengan senampan kue tar di acara Talk Show With Choky. 

"Ya, kau memalukan," timpal Shinji tanpa beban dari depan meja kerja di kamar Lea. Dia baru saja datang, dan sekarang sedang mengecek blognya menggunakan laptop Lea. "Orang-orang sudah menyebarkannya lewat YouTube, jadi sekarang, di belahan dunia lain, kau sedang ditertawakan. Tapi banyak juga yang memuji cara jatuhmu; tampak elegan dan seksi."
Kalimatnya itu berbuah timpukan bantal yang mendarat tepat di kepalanya. 

"Hei, Lea." Seorang perempuan manis mendadak masuk ke kamar. Tinggi, sintal, dengan kulit coklat yang mengkilap, dia adalah Malini, Manager Lea dan Shinji. "Hei, Shinji," sapanya pada Shinji, yang hanya dibalasnya dengan lambaian tangan.
"Hei, Malini," balas Lea lesu. 
"Kau sudah baikan?"
"Tidaaaaakkk..." rengek Lea. "Secara fisik aku memang baik-baik saja, tapi secara mental... aku benar-benar downnnnn... Aku malu pada Juna."
"Kau--harus--minta maaf--padanya," tegasnya putus-putus. 
"Eh? Min-minta maaf?"
"Ya. Kau harus ke Jack Rabbit sekarang, dan menyerahkan," Malini mengangkat sebuah tas karton yang tampak sarat isi. Bau harum roti panas menguar dari dalamnya, "ini."
"Apa ini?" 
"Home made bread,"--roti buatan rumah, "kau tinggal katakan pada Juna, kalau kau yang membuatnya, dan dia akan memaafkanmu. Dia tidak bisa menolak homemade bread yang dibuat dengan sempurna," kata Malini, seolah itu menyelesaikan semua masalah.
Lea melotot. "Kau menyuruhku bohong pada Juna?! Yang benar saja! Aku tidak mau! Bagaimana kalau dia menyuruhku membuatnya? Bisa mati aku! Dia akan membunuhku kalau dia tahu aku bohong! Dan garis besar: aku tidak bisa masak!"
"Dia tidak akan menyuruhmu membuatnya! Kau hanya menemuinya, minta maaf, menyerahkan roti ini, basa-basi sebentar, dan cabut dari sana. Dia akan memaafkanmu, dan semua selesai."
"Kalau dipikir-pikir, untuk apa aku minta maaf?"
"Karena dia bertanya pada semua, apa wajahnya sangat menjijikkan sampai membuatmu pingsan seperti itu?" Kali ini Shinji yang menjawab, tanpa menoleh sama sekali.
......................................

Lokasi: Jack Rabbit Jakarta
Jl. HR Rasuna Said Blok X-5 No. 3 Jakarta (liat di google)


Lokasi pasti: Main Kitchen
Waktu: Malam Hari
Situasi: Ramai, sibuk, benda-benda besi berkelontangan. Suara desis minyak panas dan debur api menusuk telinga.


"Chef!"
Pria berpunggung lurus itu diam. Serius mengaduk makanan di wajan panas di depannya. Tidak menggubris sama sekali panggilan staf dapur yang barusan masuk tergopoh-gopoh ke dalam main kitchen.
"Chef!"
Pria itu tetap diam. Wajahnya sangar. Kerutan di dagunya menandakan dia marah. Meskipun begitu, saat dia menuangkan isi wajan ke atas piring di  atas meja saji, sikapnya tenang.
Baru setelah dia meletakkan wajannya di atas kompor kembali, dia menyemprot staf dapur yang memanggilnya tadi dengan buas.


"KAMU TAHU SAYA LAGI MASAK DAN SAYA TIDAK SUKA DIGANGGU! KAMU NEKAT?!"
Pemuda di depannya mengecil di bawah tatapan garang pria jangkung itu. Takut-takut, dengan suara gemetar dia berkata, "A-anu, Chef... Saya disuruh panggil Chef ke ruangan."
"Ruangan SIAPA?" raung si Chef.
"Ruangan  Chef Juna."
"KAMU LOGIKA GAK SIH?! MASA SAYA DIPANGGIL KE RUANGAN SAYA SENDIRI?!"
"Be-benar, Chef. Saya tidak bohong."
Juna mengernyit, merasa aneh sendiri. "Nanti saja kalau begitu," katanya, berbalik perlahan, seraya menyeka tangan ke apronnya..
"Sekarang katanya," tegas si pemuda, meskipun gugup. "Bos yang suruh."


Juna berdecak kesal. Kalau sudah perintah Bos, tidak ada alasan untuk membantah. Lagipula jarang sekali bos menyuruhnya ini-itu selama ini. Jadi dengan gusar, sambil melangkah pergi dia melepas apronnya. Bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan oleh Bos, sampai-sampai memanggilnya saat jam sibuk restoran.


(bersambung)
..............................................................


gambar dari sini
Kau membuat imajinasiku bangkit lagi, Sir.
Thanks... a lot








5 comments:

Enno May 26, 2011 at 5:51 PM  

aw! bagus banget ceritanya! keren! aku suka alurnya, dialognya, plotnya... ehehe aku ngomong sbg editor lho lit....

dan terutama krn ini ttg chef junaaaa.... i love him too! hihihi

ayo terusin ceritanya!

*geser kursi, ambil cemilan*

:))

l i t a May 26, 2011 at 6:57 PM  

Mb Enno: kalo mb enno yang bilang 'bagus' aku jadi ngerasa mimpi. Aku senangggggggggggggggg. Thanks yah. Mungkin karena terlalu suka sama Juna, dan berpikir gak mungkin kesampaian, aku jadi ngotot bikin cerita ini. hehehe. Baca terus ya... *kiss/hug*

gloriaputri May 27, 2011 at 9:42 AM  

hahahhaa....aq maw komen gambarnya.....wajahnya dingin bgt tuh si Juna :p megang pisau gitu seolah berkata : "kubunuh kau" hahahhahahha #kbanyakan_nnt_detektif

Enno May 27, 2011 at 10:17 AM  

hehehe bener glo... emang orgnya menebarkan aura 'mengerikan'... tapi kok ce2 malah pd naksir ya...

mungkin krn emang tipe bad boy itu tampak hot dan sexy kali ya

waduh jd nglantur!

:))

l i t a May 27, 2011 at 2:51 PM  

@Glo: tapi seksiiiiiiiii
@Mb Enno: Dia coooollll banget. Aku jadi pingin di'cool'in

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP