LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (5)

>> Monday, May 30, 2011

Are You For Real...?

LEA tidak bisa konsentrasi sama sekali. Tariannya kacau balau, membuat kakinya terkena injakan Miss Nivedhita, guru tarinya, untuk kesekian kalinya.

"Focus, Leaaaaaaaaa..." katanya gemas pada Lea, yang meringis kesakitan. "Dance with your mind, body and soul. Don't think of anything else."

Tapi bagaimana Lea bisa tidak memikirkan hal lain, mengingat satu jam lagi, seorang Juna--Junior Rorimpandey akan datang untuk menjemputnya. 

"Lea. Bharatanatyam dance is so difficult!" Miss Nivedhita ngomel lagi. "Especially the Margam. I teach u this dance because I think u are ready--because you've past the Arangetram..."

Kata-kata Miss Nivedhita raib begitu saja tanpa satu pun yang dapat Lea tangkap. Pikirannya terlalu penuh Juna. Semua badannya malah, dipenuhi Juna. Kali ini semangat menarinya dikalahkan oleh semangatnya bertemu Juna. Weird. Tidak biasanya dia seperti itu.

"Kau tidak suka dia kan, Lea?" Shinji bertanya kemarin malam, setelah Lea menceritakan pertemuannya dengan Juna.
"Tentu tidak," jawab Lea cepat, seolah tersinggung. "Aku... tidak berani. Dia pasti menganggapku sinting. Bagai pungguk merindukan bulan."
"Atau jangan-jangan dia yang suka padamu, sampai rela mau menjemputmu ke Embassy?"
"Jangan ngaco! Dia tidak mungkin suka sama aku. Menurutku dia hanya ingin mengujiku--oh, kenapa aku mesti bohong sama dia? Dia akan mengulitiku hidup-hidup kalau dia tahu aku tidak bisa masak apa pun selain masak air dan mie instan."
"Just be careful," Shinji kelihatan serius, tidak seperti biasanya. "kalau kau sampai suka padanya, kau harus menjaga hatimu baik-baik. Kau itu rapuh."
................................................

Entakan kaki. Ayunan tangan. Lirikan mata. Gemerincing gelang kaki. Embusan napas halus yang terengah. Ekspresi wajah yang berganti tiap sepersekian detik. Jari jemari yang lentik, kuncup mekar seiring musik. Senyum manis dan binar mata coklatnya. Semuanya membuat Juna terpukau. 
Tari India klasik yang ditarikan oleh Lea telah berhasil menghipnotisnya.


Karena ini dia mendapatkan banyak pujian, Juna membatin. Karena ini dia dicintai banyak orang. Terlebih lagi saat dia menari, dia kelihatan sangat cantik. Tubuhnya seolah memancarkan sinar, meredupkan sekelilingnya, sehingga semua mata hanya memandangnya.


Siapa sebenarnya perempuan ini? Siapa Lea sebenarnya? Entah kenapa Juna jadi ingin tahu lebih banyak tentangnya. Tapi, mengingat ketakutan di wajahnya setiap bertemu dengannya, Juna ragu apa Lea berkenan untuk memberinya kesempatan itu. Gadis itu tampaknya sangat anti pada dirinya.


"Welldone, Lea!" Suara wanita paruh baya yang mengenakan sari hijau tua itu menggelegar  mengejutkan, disusul oleh tepuk tangan riuh orang-orang yang berada dalam ruangan. 
Lea mencakupkan kedua tangannya dan membungkuk hormat sebagai ungkapan terima kasih. 


Juna tetap pada posenya, bersandar santai di dinding dengan kedua tangan bersedekap.


Saat Lea melihatnya, Juna menyaksikan kedua mata besar itu membundar. Kaget. Lea buru-buru menoleh ke kanan, ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu lewat lima puluh lima menit, kemudian kembali memandang Juna. 


Juna mengamati Lea yang berjalan menghampirinya. Menyadari betapa ragu langkahnya.  Senyumnya pun muram, kentara sekali kalau dia sangat memaksa kakinya untuk mendekat. 


"Maaf. Jadi menunggu." Itu kalimat pertama yang diucapkan Lea begitu sampai di depan Juna.
"Saya datang lebih awal." Cuma itu kalimat yang terpikirkan di kepala Juna. 
"Apa Chef Juna tetap ingin saya membuat roti... kemarin itu?"
"Saya tidak perlu ulang lagi kata-kata saya kemarin. Kalau latihanmu sudah selesai, sebaiknya kita segera pergi." Juna menegakkan tubuhnya. "Saya tunggu di lobi." Dia berbalik.
"Sa-saya bohong."
Kening Juna berkerut. Segera menoleh ke belakang. Melihat Lea dari balik pundaknya. 
"Saya tidak bisa masak."
Juna berbalik. Menatap Lea yang memandangnya ketakutan dengan ekspresi jengkel.
"Roti itu dibeli Malini di suatu tempat--saya juga tidak tahu dimana. Saya ingin Chef Juna memaafkan saya... karena telah membuat malu waktu--saya benar-benar minta maaf." Wajah Lea sangat merah. "Dan maaf saya bohong..."
"Sudah selesai?" Juna bertanya. Suaranya kedengaran parau.
Lea mendongak. Dia tidak mengerti maksud pertanyaan Juna barusan.
"Saya sudah bilang, kalau kamu harus masak untuk saya, karena Malini yang menawarkan sama saya, dan saya... setuju."
Mata Lea membeliak
"Dan stop panggil saya dengan 'Chef Juna'. Saya tidak suka. Kamu kedengaran seperti finalis Master Chef Indonesia. Dan semua finalis itu pintar masak, sedangkan kamu tidak. Jadi tidak pantas."


Jujur, Juna sebal sendiri pada dirinya karena melontarkan kalimat pedas barusan pada Lea. Kalau saja dia bisa meng-undo-nya, dia rela makan sup yang seperti air kobokan sebagai bayarannya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat)
...................................................
gambar dari sini
Mungkinkah mencintai seseorang 
yang begitu jauh bedanya dengan kita?















Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (4)

>> Friday, May 27, 2011

I am A Big... Fat... Liar


SUARA pintu dibuka dari luar, disusul suara sepatu menghantam lantai. 
Tubuh Lea menegang, jantungnya berdetak sangat kencang, lebih dari sebelumnya. 


Itu pasti dia, tebaknya dalam hati. Harus apa sekarang?


Lea sama sekali tidak berani memalingkan badannya. Badannya gemetaran lagi. Ini kedua kalinya dia bertemu dengan Juna, dan pikirannya masih sama kacaunya seperti kemarin. Kenyataan ini terlalu semu untuknya. Tapi, masa sih dia mau membelakangi Juna terus menerus. Bisa-bisa dia menganggapnya tidak sopan.


Lea memutar tubuhnya perlahan, dan melihat Juna; berdiri di depannya dengan alis tertaut, dan dagu yang terangkat. Kelihatan angkuh. Sungguh angkuh. Menyakitkan... karena semua itu begitu menarik di mata Lea.

Masih mengenakan baju kerjanya yang berwarna putih dengan satu kancing atas yang sengaja dilepas, sosok Junior Rorimpandey lebih memikat daripada saat mengenakan baju kasual.


"Kamu?"
Lea buru-buru nyengir. "Ya... Saya." Dia mengacungkan telunjuknya sejenak. Buru-buru menurunkannya begitu menyadari betapa aneh tingkahnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin. 
"Um... Saya..."--Lea luar biasa gugup (benar-benar seram si Juna ini, gumamnya dalam hati). "Well, saya sebenarnya mau tunggu di luar, tapi bos Chef Juna menyuruh saya menunggu di sini, jadi saya masuk ke dalam. Maaf, kalau saya tidak sopan. Tapi..."--aku sebenarnya mau bicara apa sih?--"um... saya ke sini mau minta maaf."
"Maaf untuk apa?"
Mata Lea membudar selama sepersekian detik. "Maaf... karena..., saya pingsan kemarin...? Saya terlalu shock, karena--"
"Kamu tahu, kamu mengganggu pekerjaan saya?" Juna menyela. Dari ekspresinya sepertinya dia akan menelan Lea bulat-bulat.


Lea menelan ludah, dia takut tapi juga sebal. Nih, orang sepertinya gak tahu cara bicara sama perempuan, batinnya. 


"Kalau begitu saya sebaiknya pergi," Lea berusaha memantapkan suaranya. Tidak mau kelihatan gentar di hadapan Juna. "Permisi."
"Itu apa?" Juna menunjuk ke tas karton di atas meja.
Lea membeliak, dia lupa menyerahkan 'bingkisan minta maaf'-nya. "Oh, itu,"--jantungnya dag dig dug, ketika Juna meraih tas karton tersebut, dan melongok isinya--"home made bread."


Juna menarik keluar isi di dalam tas karton tersebut. Membuka kertas pembungkusnya.


"Sudah agak dingin tapi..." Kata-kata Lea langsung tertelan, ketika Juna menggigit roti tersebut, mengunyahnya, dan menelannya tanpa ragu. 
"Kamu yang buat?"
"Eh?"
"Roti ini...? Kamu buat sendiri?"
"Bilang kau yang buat, maka semua masalah selesai," Lea teringat saran Malini ketika dia akan berangkat ke Jack Rabbit. Tapi itu bohong. Aku tidak boleh bohong, gumam Lea dalam hati.
"Hei." Suara Juna menyentak, dan Lea langsung membuka mulut, berkata, "Ya. Saya yang buat," dengan senyum meringis menghias wajahnya.


Kernyitan alis Juna menandakan keraguan atas jawaban Lea barusan. Dia memandang roti di tangannya, kemudian melihat ke Lea lagi.


Mati aku, pikir Lea.


"Good," kata Juna datar, membuat mata Lea membundar. Tak menyangka sama sekali. "Perempuan memang harus bisa masak."


Lea cuma bisa terkekeh; kekeh yang persis sekali tawa Hyena. Tawa yang kalau diterjemahkan dengan kata-kata, berarti, "Aku bohong. Aku tidak bisa masak sama sekali."


"Oke. Bisa tunjukkin ke saya bagaimana cara buatnya?"
Lea langsung batuk-batuk. Kaget. "A-apa? Tu-tunjukin?"
"Ya. Saya ingin tahu bagaimana cara buatnya. Rasa roti ini enak. Fresh."
"Se... karang...?" tanya Lea, menggaruk pelipis kanannya. Kebiasaannya bila sedang merasa gugup.
"Kamu kelihatan bingung," Juna meneliti mimik wajah Lea yang panik. "Kamu ada janji?"
"YA!" Lea kelewat antusias menjawab, sehingga dia kedengaran seperti sedang meneriaki Juna, membuat laki-laki itu mundur selangkah ke belakang. "Ma-maksud saya..., ya, saya ada janji."
"Dengan Shinji?"
Mata Lea berbinar--Juna benar-benar memberikan alasan terbaik yang tak dia pikirkan sebelumnya untuk menghindari permintaannya barusan, "Ya. Dengan Shinji."
"Apa dia pacarmu?"
"Ya--eh--Bukaaaaan," Lea menggelengkan kepala cepat. "Dia bukan pacar saya."
"Kalau begitu... datang ke sini besok."
"Ha? Untuk...?
"Kalau kamu ada janji malam ini dengan Shinji, berarti kamu free besok. Kamu akan tunjukkan sama saya cara buat roti ini." Cara bicaranya bukan bernada meminta tapi memerintah. 
"Saya ada janji... Ehm... Shooting."
"Tidak ada," sambar Juna, yakin. "Kamu pulang ke Indonesia untuk liburan. Saya sempat ngobrol sama Manager kamu, dan dia bilang shooting film selanjutnya masih 3 bulan lagi. Lagipula di telponnya tadi pagi, dia juga bilang kalau kamu bersedia memasak untuk saya sebagai permintaan maaf atas kejadian kemarin. Jadi... I'll take the offer."


Lea bersumpah, sampai di rumah dia akan membunuh Malini dengan cara paling keji yang bisa dia pikirkan.


"Saya benar-benar ada janji. Latihan tari klasik," dalih Lea. Pantang mundur.
"Jam?"
Ini orang... menyebalkan sekali. "Pagi. Jam 10. Baru selesai jam 2... sepertinya." Lea berpikir kalau sudah sore, Juna pasti tidak jadi menyuruhnya membuat roti menyebalkan itu.
"Dimana?"
"Di Indian Embassy."
"Oke. Saya jemput kamu di sana. Jam 2 tepat. "
Rasanya Lea mau pingsan mendengarnya.


(bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat!)
..........................................

gambar dari sini
Come... And Join me...



Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (3)

>> Thursday, May 26, 2011

Homemade Bread?


"AKU pingsan di depan Chef Master Juna. Di acara langsung stasiun televisi nasional," gumam Lea, sambil tengkurap di tempat tidurnya. "Aku benar-benar... memalukan..." Dia membenamkan wajahnya di bantal.

Sudah entah keberapa ribu kalinya Lea membodohi dirinya sendiri atas kejadian kemarin, saat dia pingsan di depan idolanya, Junior Rorimpandey, sang Chef Master, yang dengan mengejutkan muncul di hadapannya dengan senampan kue tar di acara Talk Show With Choky. 

"Ya, kau memalukan," timpal Shinji tanpa beban dari depan meja kerja di kamar Lea. Dia baru saja datang, dan sekarang sedang mengecek blognya menggunakan laptop Lea. "Orang-orang sudah menyebarkannya lewat YouTube, jadi sekarang, di belahan dunia lain, kau sedang ditertawakan. Tapi banyak juga yang memuji cara jatuhmu; tampak elegan dan seksi."
Kalimatnya itu berbuah timpukan bantal yang mendarat tepat di kepalanya. 

"Hei, Lea." Seorang perempuan manis mendadak masuk ke kamar. Tinggi, sintal, dengan kulit coklat yang mengkilap, dia adalah Malini, Manager Lea dan Shinji. "Hei, Shinji," sapanya pada Shinji, yang hanya dibalasnya dengan lambaian tangan.
"Hei, Malini," balas Lea lesu. 
"Kau sudah baikan?"
"Tidaaaaakkk..." rengek Lea. "Secara fisik aku memang baik-baik saja, tapi secara mental... aku benar-benar downnnnn... Aku malu pada Juna."
"Kau--harus--minta maaf--padanya," tegasnya putus-putus. 
"Eh? Min-minta maaf?"
"Ya. Kau harus ke Jack Rabbit sekarang, dan menyerahkan," Malini mengangkat sebuah tas karton yang tampak sarat isi. Bau harum roti panas menguar dari dalamnya, "ini."
"Apa ini?" 
"Home made bread,"--roti buatan rumah, "kau tinggal katakan pada Juna, kalau kau yang membuatnya, dan dia akan memaafkanmu. Dia tidak bisa menolak homemade bread yang dibuat dengan sempurna," kata Malini, seolah itu menyelesaikan semua masalah.
Lea melotot. "Kau menyuruhku bohong pada Juna?! Yang benar saja! Aku tidak mau! Bagaimana kalau dia menyuruhku membuatnya? Bisa mati aku! Dia akan membunuhku kalau dia tahu aku bohong! Dan garis besar: aku tidak bisa masak!"
"Dia tidak akan menyuruhmu membuatnya! Kau hanya menemuinya, minta maaf, menyerahkan roti ini, basa-basi sebentar, dan cabut dari sana. Dia akan memaafkanmu, dan semua selesai."
"Kalau dipikir-pikir, untuk apa aku minta maaf?"
"Karena dia bertanya pada semua, apa wajahnya sangat menjijikkan sampai membuatmu pingsan seperti itu?" Kali ini Shinji yang menjawab, tanpa menoleh sama sekali.
......................................

Lokasi: Jack Rabbit Jakarta
Jl. HR Rasuna Said Blok X-5 No. 3 Jakarta (liat di google)


Lokasi pasti: Main Kitchen
Waktu: Malam Hari
Situasi: Ramai, sibuk, benda-benda besi berkelontangan. Suara desis minyak panas dan debur api menusuk telinga.


"Chef!"
Pria berpunggung lurus itu diam. Serius mengaduk makanan di wajan panas di depannya. Tidak menggubris sama sekali panggilan staf dapur yang barusan masuk tergopoh-gopoh ke dalam main kitchen.
"Chef!"
Pria itu tetap diam. Wajahnya sangar. Kerutan di dagunya menandakan dia marah. Meskipun begitu, saat dia menuangkan isi wajan ke atas piring di  atas meja saji, sikapnya tenang.
Baru setelah dia meletakkan wajannya di atas kompor kembali, dia menyemprot staf dapur yang memanggilnya tadi dengan buas.


"KAMU TAHU SAYA LAGI MASAK DAN SAYA TIDAK SUKA DIGANGGU! KAMU NEKAT?!"
Pemuda di depannya mengecil di bawah tatapan garang pria jangkung itu. Takut-takut, dengan suara gemetar dia berkata, "A-anu, Chef... Saya disuruh panggil Chef ke ruangan."
"Ruangan SIAPA?" raung si Chef.
"Ruangan  Chef Juna."
"KAMU LOGIKA GAK SIH?! MASA SAYA DIPANGGIL KE RUANGAN SAYA SENDIRI?!"
"Be-benar, Chef. Saya tidak bohong."
Juna mengernyit, merasa aneh sendiri. "Nanti saja kalau begitu," katanya, berbalik perlahan, seraya menyeka tangan ke apronnya..
"Sekarang katanya," tegas si pemuda, meskipun gugup. "Bos yang suruh."


Juna berdecak kesal. Kalau sudah perintah Bos, tidak ada alasan untuk membantah. Lagipula jarang sekali bos menyuruhnya ini-itu selama ini. Jadi dengan gusar, sambil melangkah pergi dia melepas apronnya. Bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan oleh Bos, sampai-sampai memanggilnya saat jam sibuk restoran.


(bersambung)
..............................................................


gambar dari sini
Kau membuat imajinasiku bangkit lagi, Sir.
Thanks... a lot








Read more...

LEA: A dedication for Junior Rorimpandey

>> Wednesday, May 25, 2011

The Talks and 'Juna's Syndrom'

"Ladies and Gentlemen. Please welcome Lea and Shinji!"

Shinji menoleh pada Lea yang  sedang menunduk memandangi kakinya. "Hei, Lea. Kita sudah dipanggil. Kau siap?"
Lea meringis, mengetuk-ngetuk hak sepatu kanannya di lantai. "Siap, sih. Tapi..., sepertinya... ada yang salah dengan high heel kananku."
"Kenapa?"
"Goyang. Aku takut hak-nya patah."
"Itu kan sepatu dari wardrobe, masa bisa patah?"
"Tapi benar... Goyang. Kalau patah, bagaimana?"
"Tidak akan patah."
"Kalau patah?"
"Tidak akan! Ayo kita keluar, mereka sudah menunggu."

Lagu dari Dhoom 2, Crazy Kiya Re membahana, seiring mereka melangkah di atas panggung besar--Sexy lady on da floor. Keep u coming back for more... Crazy Kiya Re... Crazy Kiya Re. Sedangkan Choky Sitohang, menunggu keduanya di tengah panggung. Berdiri di depan sofa merah berlengan yang tampak elegan sekali. Sungguh serasi dengan Choky yang juga tampil elegan di atas panggung.

"Please, everyone," Choky tersenyum pada penonton, "give them a big applause--Oh, awas!"

Yang Lea takutkan terjadi. Hak sepatu kanannya patah, dan dia hampir saja terjatuh kalau saja Shinji tidak buru-buru memegangnya. Suara tawa segera saja bergaung di ruangan luas itu. Mau tak mau, meskipun sebal dan malu, Lea turut tertawa. 

Dia berbisik sembunyi-sembunyi pada Shinji, "Benar kan... Patah. Bagaimana sekarang?"
"Ya sudah, copot saja. Nanti pasti diganti. Tenteng saja sepatumu. Tetap senyum."
Lea buru-buru melepas kedua sepatunya. Menentengnya dengan satu tangan. "Memalukan. Aku menenteng sepatu di acara live stasiun televisi nasional, dan harus tetap pasang senyum. Aku kelihatan tolol."
"You're still cute, though. Atau... kau mau kugendong?"
"Diamlah."
...........................................................

"So, Lea, bagaimana perasaanmu bertemu Shah Rukh Khan?" Choky bertanya pada Lea. Talk show telah beberapa waktu berjalan, dan kini giliran Lea yang diajukan pertanyaan. Lea tampak lebih tenang sekarang. Sepatunya sudah diganti dengan yang baru.
"Sangat senang. Seperti mimpi. Masih tidak percaya."
"Apa benar kalau Anda adalah fans berat Mr. Khan?"
"I am his number one fan,"--tawa penonton membahana. "Benar," Lea meyakinkan penonton. "Aku sangat menyukai Shah Rukh. Bisa bermain di salah satu film yang diproduserinya, dan menjadi salah satu aktris yang dinaungi Red Chillies, membuat saya... sangat senang. Merupakan kehormatan besar."
"Jadi, apa akan ada film selanjutnya bersama Shah Rukh Khan?"
Lea dan Shinji mengangguk. "Ya. 2 bulan lagi kami akan kembali ke New Delhi untuk syuting film selanjutnya," jelas Shinji.
"Judulnya?"
"Masih rahasia," Shinji dan Lea menjawab bersamaan. "Just wait and see," tambah Lea.
"Dan... Lea, rumornya Anda juga sangat ngefans pada salah satu juri Master Chef Indonesia? Junior Rorimpandey alias Chef Juna?"
Lea mendengus tertawa. Mukanya merah.
"Dia gila "Juna"," timpal Shinji. "Setiap Juna muncul di TV dia langsung heboh. Persis kaya anak ABG nonton Smash."
Penonton tertawa.

"Apa yang membuat Anda suka sama dia?" tanya Choky. "Apa karena dia Chef? Atau karena tatonya?"
"Sebenarnya bukan karena 'Chef'nya," kata Lea, meringis. "bukan juga karena tatonya, meskipun emang tatonya keren banget, tapi... karena... well," Lea sulit berkata-kata, "mukanya persis seperti gambar tokoh cowok yang ada di komik Jepang."

Choky terbahak, begitu pun penonton. Sementara Shinji mendengus.
"Sikap 'cool' dan angkuhnya itu menarik," tambah Lea, tidak memedulikan suara tawa di sekitarnya. "Dia gak cakep-cakep banget, sih sebenarnya, tapi... dia sangat menarik. Sexy."
Suara tawa kembali lagi, dan Lea cuma bisa nyengir.
"Kebetulan, karena kita sedang membicarakan Chef, kami punya makanan yang dibuat khusus untuk" (Choky mengarahkan tangannya kepada Lea) "Anda."
Choky berdiri, memandang seseorang yang berada di belakang Lea. "Ini dia. Dibawakan oleh..."

Baik Lea maupun Shinji menoleh, dan reaksi Lea begitu melihat orang yang membawa makanan itu...

"Hei, Lea... Lea, mau kemana?" Shinji buru-buru berdiri, menyambar tangan Lea yang buru-buru bangun dari sofa, bergegas pergi.Penonton bertepuk tangan riuh menyambut kehadiran Chef Master Juna yang membawa nampan berisi kue tart, seraya tertawa melihat reaksi Lea yang wajahnya merah padam.
"Shin. Lepasin, Shin."

"Itu Juna. Kau kan sangat ingin bertemu dia?"
"Aku memang ingin... tapi ini mendadak. Aku malu. Aku bisa pingsan."
"Setidaknya senyum sama dia."

"Aku tidak bisa. Badanku gemetaran. Aku..."

"Halo, Lea," terdengar suara berat dari belakang. Suara Juna.

"Just turn your back," bisik Shinji gemas. Sementara penonton semakin heboh.
"Oh my God. Oh my God..." Lea merepet, sambi memutar badannya perlahan. "Ini mimpi... Ini mimpi..." ucapnya berulang-ulang.

Tapi ternyata semua ini sama sekali bukan mimpi. Seorang Juna, si Chef Master yang belakangan ini mengisi benak Lea, sekarang benar-benar berdiri di depannya dengan pesona yang sama yang ditebarkannya melalui layar kaca. 
Lea dapat melihat wajah tegasnya, senyum uniknya, dan tato penuh di sekujur lengannya--langsung... tanpa jeda iklan.

Ini terlalu nyata, pikir Lea. Tidak mungkin orang ini Juna. Dia tidak mungkin mau menemuiku. Aku bukan siapa-siapa.

Lea terlalu kaget, atau mungkin terlalu bingung, sehingga menyebabkan kepalanya pusing. Sampai akhirnya, ketika tangan Juna menyentuh jemarinya, tubuhnya lemas. Merosot ke lantai panggung. Dia pingsan.

(bersambung)

gambar dari sini



Read more...

LEA (didedikasikan untuk Junior Rorimpandey--maaf Mbak Aline)

Perkenalan:


"Namanya Lea; gadis manis yang baru saja pulang dari New Delhi itu. Dan laki-laki tampan di sebelahnya, adalah Shinji, cowok blasteran jepang yang adalah partner tari sekaligus sahabatnya, yang juga baru pulang dari New Delhi."


"Mereka baru selesai syuting film kan?"


"Ya. Shah Rukh Khan produsernya. Dua orang itu benar-benar beruntung mendapatkan kesempatan sebesar itu."


"Bakat tari mereka luar biasa." 


"Ya... Luar biasa. Terutama Lea. Siapa sangka dia bisa menarikan tarian klasik India sesempurna itu. Membuat semua orang Indonesia terpukau padanya. 
Hanya dalam satu malam, setelah acara talent show pertama tayang, dia sudah punya jutaan penggemar."


"Shinji benar-benar tampan."


"Ya. Packagingnya sempurna untuk ukuran seorang laki-laki. Tari hiphop sangat membentuk posturnya. Ketika menari dia benar-benar 'membunuh'. Dia dan Lea adalah pasangan serasi. Mereka saling isi. Tak ada cela."


"Mereka sudah punya pasangan?"


"Entahlah... belum tahu. Masih simpang-siur. Mengorek informasi dari keduanya sulit. Mereka bungkam di depan kamera. Begitu pun teman-teman mereka. Tampaknya Red Chilies, Management yang menaungi mereka sangat protektif."


"Jadi acara ini khusus diadakan untuk menyambut mereka?"


"Ya. Dengan persetujuan Red Chilies tentunya."


"Lalu kenapa kita juga mengundang si Master Chef Juna sebagai tamu?"


"Oh. Dia adalah kejutan untuk Lea. Lea ngefans berat sama Juna. Jadi dia akan muncul di pertengahan acara, tanpa sepengetahuan Lea. So, it's gonna be great."


"Choky!"


"YAP!"


"It's time!"


"Okay! I'm going. Saya pergi dulu, Mas Hanung. Harus buka acara."


"Okay. See u later."


(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis (Jangan diplagiat)

....................................................................


Ceritanya dua orang ini yang bicara di atas:

Choky Sitohang, the Presenter
gambar dari sini

Hanung Bramantyo, The Director
gambar dari sini

Catatan:

Cerita ini hanya khayalan. Didedikasikan Juna, sang Master Chef.
Konyol memang, tapi siapa tahu jadi cerita roman yang menghibur. 
Melibatkan beberapa nama selebriti yang saya suka, termasuk dua orang di atas itu.
So, let's wait and see. Akan seperti apa cerita selanjutnya. Yipiiiiiieee...


Read more...

Alasan Lita Menghilang & Kembalinya Lufke

>> Tuesday, May 24, 2011

SAYA kehilangan kemampuan imajinasi saya. Dia pergi entah kemana, membuat saya tak tahu harus menulis apa. Membuat saya hanya bisa bengong berjam-jam di depan notebook tanpa menghasilkan 1 kata pun. Meskipun kepala ini sudah berdenyut-denyut karena penuh hal-hal memburam yang ingin sekali dituangkan.

Jangankan merampungkan novel, memosting story di blog pun saya tak sanggup, padahal saya ingin sekali menceritakan pengalaman 'tarot' saya di Grand Hyatt Hotel tanggal 17 Mei lalu, dan meluapkan rasa senang yang saya rasakan di ultah ke 30 saya, tanggal 18 Mei-nya di blog ini. Benar-benar tidak bisa. Saya benar-benar kesulitan berpikir.

Kenapa begitu ya?

Yah... Pekerjaan saya di kantor mungkin menuntut terlalu banyak dari saya akhir-akhir ini. Saya akui.
Kepala saya terdesak dengan daftar tunggu tugas yang harus segera diselesaikan. Tak ada waktu santai.
Andaikan ada, daripada konsentrasi menulis, saya lebih senang membaca komik online untuk mengisi kekosongan atau... tidur.
Tapi komik dan tidur... sifatnya hanya... temporari; maya. Karena begitu kembali ke dunia nyata, di dalam..., di hati..., saya merasa kosong. Nol. Karena... saya tidak bisa menulis. Satu-satunya hal yang akan membuat saya 'penuh' secara batin.

gambar dari sini
......................................

LUFKE' s back.

Bagi yang gak tahu siapa itu Lufke, well, dia adalah salah satu teman saya.
Cowok. Ganteng. Lucu. Tipikal orang yang punya muka karet saking seringnya ketawa, dan gampang sekali memikat hati orang yang ditemuinya; gak cowok, gak cewek.

Kami berteman sejak tahun 2007, waktu masih sama-sama kerja di sebuah Event Organizer.
Tahun 2008, Lufke resign, untuk mulai EO sendiri. Dan sejak itu, kami jadi jarang ketemu, jarang telepon, jarang... jarang... dan jarang..., sampai akhirnya jadi benar-benar tidak ketemu sama sekali, dan... lost contact. 


Lufke benar-benar hilang. Raib ditelan bumi. Saya di 'unfriend' di fesbuknya. Nomor hapenya tidak aktif. Bahkan teman baiknya, yang juga teman baik saya, Marcel, tidak tahu dimana dia berada.
What's with him?

Kira-kira dua tahun tidak bersua, akhirnya, dia muncul lagi.
Pertama via y!m, yang tanpa babibu langsung saya bombardir dengan pertanyaan seperti, "kemana aja lu?", "dimana sekarang?", "nomor hp lu berapa?" dan "kenapa lu ngilang?"

Semua pertanyaan saya terjawab tentunya, termasuk alasan kenapa dia membuat dirinya tak terpeta.
Dikejar-kejar hutang, itu alasan pastinya.

Lufke bercerita kalau klien terakhirnya menipunya; tidak membayar jasa event yang telah dihandlenya. Membuatnya berhutang puluhan juta pada supplier yang harus segera dibayar begitu event selesai.
Untuk itu dia harus menjual barang-barang pribadinya, agar dapat menutupi semua tagihan itu. Sebagian terbayar, sedangkan sisanya... belum bisa dibayar sekaligus.
Lufke pun menghilangkan diri ke daerah lain. Bekerja di sana, dan mencicil sedikit demi sedikit sisa hutangnya pada supplier-supplier tersebut.

Finally, this year he's back. Back to Bali. Back to his family, and his friends. 

Tidak ada yang berubah dari dia. Tetap ganteng, dan lucu seperti dulu. Tetap senang kerja di EO. Tapi... dia sekarang, lebih memilih punya pekerjaan tetap daripada freelancer seperti dulu.

So..., tadi sore dia datang ke tempat kerja saya.
Bercerita-cerita, sambil mengisi formulir yang saya berikan.
Protes, kalau seharusnya dia tidak perlu mengisi form tersebut, karena selama ini dia tidak pernah sekali pun mengisi berkas-berkas seperti itu, ditambah lagi karena saya ini teman baiknya. Jadi seharusnya dia dikecualikan.
Saya terpaksa memutar mata mendengarnya, sementara dia cekikikan.

Kemudian ganti Marketing Manager saya yang menemui dia. Dan hasilnya, he likes Lufke.
"Orangnya enerjik, Bu Lita," kata Yuda. "Tinggal temuin ke GM aja."

Kalimat Yuda membuat saya nyengir. Senang, kalau Lufke lulus uji dari Yuda.
Saya pun balik lagi ke VIP, dengan senyum mengembang lebar, yang disambut Lufke dengan senyum yang tidak kalah lebar.

"Lulus kan gw?" katanya.
Tidak mau kelihatan kelewat puas saya cuma berkata, "Belum. Kan masih ada Bu Meli."
Tapi Lufke tetap nyengir. Tidak merasa gentar sama sekali. Sepertinya dia sangat yakin akan diterima sebagai asisten Yuda.

Saat saya mengantarnya pulang, dia berkata, "We'll be like the old times, Sis. Me, you, and Marcel."

Catatan: 
Marcel juga bekerja untuk perusahaan saya, dengan status freelancer. Dia yang mendisain website perusahaan saya, sekaligus bertanggung jawab atas hosting/domainnya. 
....................................................................

gambar yang saya buat di tahun 2007 waktu masih kerja di EO
Gambar ini selalu mengingatkan saya pada Lufke dan juga Marcel. 
Senang, akhirnya kita bertiga bisa kumpul lagi.
See you soon, Guys!

Read more...

May 18th, 2011--the day 'Lita' suddenly 30

>> Wednesday, May 18, 2011

Hey, I am 30 finally...




Too fast... I thought...




Because I am not prepare to be that... '30'.




But, still, it's life, heh? Should be that way... Have to accept it, no matter what.




LIFE's SHORT ANYWAY...




So, happy birthday for me.




I'm just gonna be me--still. Won't change anything. Won't give up hope. Won't stop to fall in love to something I like most. 




This is me. Still me.




L i t a.

Read more...

Lil'bit Update

>> Sunday, May 15, 2011

BERHUBUNG sedang terkena flu berat dan agak demam, postingan terbaru saya sepertinya cukup singkat saja. Gak bisa banyak-banyak, karena kepala saya sudah nyut-nyutan; kelewat berat untuk diajak berpikir--Whaat? Nulis sesuatu di blog itu juga harus mikir, kan? So, here they are...


1. Lagi keranjingan komik manga Jepang--kayanya semua temen blogger udah pada tahu, deh. Jadi gak perlu dijelasin detil.

2. Lagi ngefans sama Chef Master Juna.
gambar dari sini
Chef galak yang nama aslinya Junior Rorimpandey, adalah salah satu juri Chef di reality show: Master Chef Indonesia, yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta nasional. 
Alasan saya ngeFans sama dia, benar-benar tidak ada hubungannya sama embel-embel chefnya, melainkan karena karakter mukanya cocok sekali dengan tokoh cowok-cowok di komik Manga Jepang yang saya baca--hihi. 

Chef Juna sekarang adalah Executive Chef di Jack Rabbit, Jakarta, dengan spesialisasi makanan Jepang dan Perancis. Sikap galak dan judesnya bukan semata-mata dibentuk untuk meramaikan acara Master Chef, melainkan karena memang didikan keras yang didapatnya selama 14 tahun bekerja di luar negeri. 

3. Siap-siap Narot di Grand Hyatt, Nusa Dua tanggal 17 Mei ini.
gambar dari sini
Well, saya sepertinya juga sudah pernah bilang, kalau saya adalah freelancer Tarot Reader--meramal menggunakan media kartu yang disebut 'Tarot'. Dan saya, dapat kesempatan menggunakan kemampuan saya di sebuah acara yang dihelat di hotel yang saya sebut tadi, hari Selasa ini.
So, saya lagi getol-getolnya memperdalam pengetahuan saya tentang kartu itu, agar dapat menjawab semua pertanyaan orang-orang yang akan saya ramal.
Wish me luck, guys!

4. On four..., three..., two..., one...
gambar dari sini
HAPPY BIRTHDAY, LITA!!!
30 tahun tanggal 18 Mei ini. 

Tapi masih disebut anak kecil sama banyak orang.
Why? Karena mereka melihat penampilan luar dan sikap saya yang kekanak-kanakan.
Saya akui, kok. Meskipun saya yakin, orang-orang yang menyebut saya kekanak-kanakan, jauh lebih kekanak-kanakan daripada saya. 
That's fine. Selama sikap saya itu tidak menyulitkan orang lain. 

LET'S LAUGH, EVERYONE.
.......

Jadi, sepertinya item di atas cukup untuk mewakili apa yang perlu saya bagi ke teman-teman di blog saya ini. 
So, I'll see you then, guys. 
Setelah flu saya hilang, dan kepala berhenti cenat-cenut.

See yah!








Read more...

Meninggalkan Jakarta (1999): Dimana mereka sekarang? (2)

>> Wednesday, May 11, 2011

ER:
Cowok manis sedikit gempal dengan badan tidak terlalu tinggi (untuk ukuran cowok), tapi selalu memikat hati perempuan dengan senyum lepas dan ocehan lucunya. Er ini playboy berat dan suka tampil beda.

Rud:
Tidak manis, tapi mukanya selalu menyenangkan untuk dilihat. Penyayang, meskipun luar biasa cabul--cium sini-cium sana, tanpa permisi sama yang punya pipi. Hebatnya... dia tidak pernah selingkuh dari pacarnya selama kuliah. Dan anehnya... dia selalu memperkenalkan saya sebagai adiknya yang lama terpisah (God!) sama teman-temannya yang sedikit sama ajaibnya dengan dirinya.
....................................................

gambar orisinal dari sini
Boys will be boys...

Er dan Rud menjadi dua orang penting dalam kehidupan saya setelah perjumpaan kami. Mereka datang tiap hari, tak peduli siang, pagi atau malam. Tak peduli se'mess apa pun penampilan saya. Tanpa peduli apa saya sedang sibuk, istirahat, atau apa pun. Gila. But they're sweet.

Pernah suatu hari, di pagi buta, mereka mengetuk jendela kamar saya.
Dengan wajah berlipat, kesal karena tidur jadi terganggu, saya membuka pintu, dan mendapati Er dan Rud, yang tanpa rasa bersalah, mengembangkan cengiran khas di wajah masing-masing.
Tapi pagi itu, mereka tidak hanya berdua. Mereka membawa serta banyak orang, termasuk Winda, pacar Rud dan beberapa teman satu kos mereka. Jelas saya kaget.

"Kita main ke pantai," kata Er.
"Pagi-pagi gini? Ogah, ah! Ngantuk," tolak saya. "Besok ngampus."
Tapi sepertinya penolakan saya tidak mereka gubris, karena setelah Er dan Rud bertukar kedipan, Er segera menarik saya, membopong saya ke pundaknya, seperti kuli ngangkut karung beras, dan membawa saya pergi. Saya diculik. Masih dengan kaus butut plus celana trening gombrong yang biasa saya pakai tidur. Meskipun sebal dan cemas, memikirkan pintu kamar yang masih terbuka lebar saat saya dan rombongan Er dan Rud Cs. pergi, tapi dalam hati saya merasa senang. Saya merasa diperhatikan, diinginkan dan dibutuhkan untuk menjadi bagian dari pertemanan yang saya anggap, cool.

Ya. Er dan Rud, sangat cool. Kekonyolan dan cara bicara mereka yang easy dengan siapa pun membuat semua orang senang berada di dekat mereka. They were so happening that time. They were.
-----------------------------------
Belakangan, setelah peristiwa 'penculikan' itu, Rud tak lagi muncul. Hanya Er.
"Dia nemenin Winda. Udah beberapa hari ini badan Winda panas," jawab Er saat saya tanya dimana Rud.
Itu awal saya tahu, kalau Rud ternyata bisa sebaik itu pada perempuan yang disebutnya 'pacar'. Di balik sikap cabulnya yang selalu diperlihatkan pada perempuan yang ditemuinya, ternyata dia bisa se-care itu.
Winda bahkan tidak secantik perempuan-perempuan yang biasa dia sosor. Tapi... dia... Yah, itulah Rud. Dia penuh kejutan.

Akhirnya selama satu minggu, saya hanya menghabiskan waktu dengan Er.
Biasanya dia datang sepulangnya dari kampus, masih memakai seragamnya. Tanpa minta ijin, langsung rebah di kasur di kamar saya. NGOROK sampai sore.

"Emang kamar kos lu kenapa? Sampe lo tidur di kasur gw tiap hari?" tanya saya jengkel.
"Banyak orang. Kamar kos gw kan markas besar. Gak bisa tidur enak," jawabnya santai. "Pengen numpang di tempat temen lain, mereka semua udah pada tinggal sama ceweknya. Gak enak gw."
Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi deh, kalau itu jawabannya.

Saya dan Er pun jadi dekat karena 'absen'nya Rudi. Apa yang dulu kami lakukan bertiga, kini saya dan Er lakukan berdua. Makan siang, jalan-jalan ke pantai, makan rujak, ngobrol, makan di pangkalan kaki lima, belajar, bercanda, berantem, semuanya, kami lakukan berdua saja. Dan Rud tidak pernah nongol sekali pun ke kos saya. Dan saat saya bilang kalau saya mau menjenguk Winda, sekalian kangen2an sama Rud, Er mencegah. Mengatakan kalau Rud tidak mau Winda terganggu.
.........................................

"Gw pulang ah, udah sore," Er pamit suatu sore, setelah sedari pagi bantu saya translate tugas bahasa Inggris.
Hari itu genap satu bulan saya ditemani Er, tanpa Rud muncul sekali pun di hadapan saya.
Saya yang sedang sibuk merapikan kertas, hanya berkata, "Oke," tanpa melihat Er.

"Lita. Liat gw kalau lagi ngomong sama lo," kata Er jengkel. Dia memang tidak suka kalau tidak diperhatikan saat bicara.

Saya mendongak dan nyengir. "Okeeeee. Silahkan pulanggggg..."

Er mencibir, dan menyandang tali tasnya ke pundak. "Ya udah. Gw pulang. Tapi gw mo cium lo dulu."

Baik Rud atau Er memang biasa cium saat pamitan, bukan sama saya aja, tapi juga teman-teman(cewek)nya yang lain. Jadi saya cuek aja, waktu dia narik muka saya dan mendaratkan bibirnya di kening. Tapi kok... kali ini...

Dia nyium kedua mata saya sambil ngitung: 2, 3, lalu, kedua pipi saya--"4, 5...," lalu hidung, 6, dan... tujuh...

PLAK!
Saya menampar Er setelah bibirnya terlepas dari bibir saya. Kaget, bingung, merasa dilecehkan, semuanya campur aduk di kepala.
Tanpa ba bi bu, saya bergegas ke kamar. Tidak menggubris panggilan Er. Tidak menghiraukan ketukan di pintu. Tidak mau membukanya. Saya mengurung diri di kamar malam itu.
.............................................................

Pagi-pagi, saya bangun karena gedoran keras di pintu. Saya mengintip dari balik gorden jendela, dan melihat Rud. Saya tidak pernah melihat wajahnya serius begitu.

"Rud?" saya menyapa dengan senyum heran.
"Kamu diapain sama Er?" dia bertanya, kedengaran cemas.
Bingung menjawab apa, saya cuma bisa mengerut-ngerutkan bibir. Menunduk. Muka saya panas.
"Hei, Dek. Kok diem?"--Rud memang memanggil saya dengan sebutan 'Adek'.
"Kakak pasti udah tahu, kan?"
Saya kira Rud akan marah, mendengar nada bicara dan ekspresinya yang mengeras, tapi ternyata dia mendesah, wajahnya dikeriut-keriutkan. Menggeleng-geleng kecil.

"Aku udah bilang sama si bego itu,"--maksudnya si Er--"percuma, coba-coba mesum sama kamu."
"Dia gak mesum!" saya meralat panik. "Dia cuma nyium dan..."
"Kalau kamu balas kemarin, ya jadinya mesum."
"Kenapa bisa gitu?"
"Laki-laki, Lita. Er itu laki-laki. Kami gak bisa tinggal berduaan sama cewek terus-terusan tanpa nyentuh atau..."
"Tapi Er itu temen..."
"Yah, menurut kamu, tapi bagi dia, kamu sasaran niat playboynya."
"Kakak kok tahu kalau kemarin dia...?" saya malu untuk ngelanjutin.
"Pipinya bengkak merah, kaya kena raket nyamuk,"--(saya mendengus geli)--"pas aku tanya dia bilang, ditampar cewek galak. Karena setiap sore dia pasti di kos kamu, ya aku pikir, yang dia maksud cewek galak itu pasti kamu." Rud ketawa geli.
Kami ketawa geli.
"Trus, dia gimana sekarang?"
"Gak usah dipikirin," Rud nyengir tapi serius, "Dia gak pernah serius sama cewek, intinya dia ngelakuin itu sama kamu, untuk mancing keluar perasaan kamu sebenarnya sama dia. Nanti juga dia dapet target lain."
"Aku gak suka sama Er... Dia... sama kaya aku nganggep Kakak, udah kaya sodara sendiri."
"Ya, syukur, deh kalo gitu... Aku juga gak pengen kamu sakit hati gara-gara Er. Meskipun dia sobat baik aku..., aku gak pengen, dia nyakitin sobatku yang satu lagi."
Mata saya langsung berair mendengar kalimat Rud.
.......................................................
Truly great friends are hard to find, difficult to leave, 
and impossible to forget

Read more...

Lita! Kembali ke Bumi sebentar!

>> Tuesday, May 3, 2011

KLIK!

Halaman terbuka, dan tanpa menunggu, saya segera meng-klik link: romance

Terbuka lagi, dan mata saya membeliak. Banyak sekali, saya membatin. Apa yang harus saya pilih? Tidak mungkin saya buka satu-satu.
Tapi, saya memang harus membukanya satu per satu, kalau ingin memastikan kalau semua yang terpampang di depan mata saya layak untuk dipilih.

Saya mulai, membuka satu demi satu apa yang saya anggap menarik; apa yang saya pikir cukup menyenangkan mata; cukup membuai perasaan. Dan itulah awal kepergian saya ke dunia mimpi yang indah. Menyenangkan dan menghanyutkan, sampai-sampai saya lupa untuk menjejakkan kaki kembali ke Bumi.
...................................................

My God, Lita! Come back to earth! Right away! Suara waras di kepala saya berteriak.
Tampaknya sebagian otak saya protes. Karena beberapa hari belakangan ini dipaksa mengkonsumsi sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Kamu lupa waktu! Baru tidur jam 3 pagi! Di kantor, bukannya bekerja, kamu malah membukanya lagi! Kamu jadi tidak normal! Senyum-senyum sendiri, nangis sendiri. Kamu gusar kalau tidak membukanya! Kamu kecanduan! ADDICTED! Stop it, before it ruins your head!
--kira-kira begitu, kata-kata marahnya si suara waras--

Tapi saya tidak bisa menghentikan kecanduan saya, sebesar apa pun usaha saya. Saya tahu saya sangat salah, tapi saya tidak bisa tidak membukanya. Femininitas saya terpuaskan dengan situs yang baru-baru ini saya kunjungi. Situs yang membuat saya benar-benar malas untuk melakukan apapun. Menahan saya kembali ke Bumi. Membuat saya lupa akan dunia nyata yang kompleks. Hanyut dalam cinta. For God sake!

I admit that I completely mess.

Tapi bagaimana saya bisa tidak kecanduan, kalau apa yang saya lihat setiap saya membuka situs ini se-cute ini:
gambar original dari sini

Se-hot ini:
gambar original dari sini
 Scene dari: Goong

Semanis ini:
Gambar original dari sini

Sekonyol ini:
gambar original dari sini

Komik-komik inilah yang menyita perhatian saya belakangan ini. Menerbangkan saya kembali ke masa-masa SMP-SMU dulu, dimana saya tergila-gila pada komik Jepang, yang selalu bisa melambungkan hati setinggi-tingginya dengan kisah cintanya yang romantis dan mengharu-biru.
Membuat saya berjalan dengan hati berbunga-bunga, setiap teringat adegan 'manis' antara si cowok dan si cewek di komik yang saya baca.

Pikiran saya jadi ringan, rileks, santai--benar-benar tidak peduli apa pun (ternyata, kecanduan tuh seperti ini ya), melayang, terbang... tak fokus.

I'm so sorry, but I can't help it. I need to read them. 
They're beautiful.
......................................................................
Gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP