Meninggalkan Jakarta (1999) -- Tidak ada manusia yang benar2 baik, Lita

>> Tuesday, April 19, 2011

AWAL tiba di Bali, saya merasa kebas.
Sedih dan aneh rasanya hidup jauh dari orang tua yang biasanya selalu ada untuk melindungi saya setiap waktu, dan harus tinggal bersama salah satu kerabat papa yang tidak begitu saya kenal.
Kendati begitu, saya harus kuat dan berani. Saya telah memilih untuk hijrah ke Bali untuk kuliah, dan saya harus menghadapi apa pun yang menghadang di depan kelak--kira-kira begitu janji saya pada diri sendiri... dulu.

Kerabat papa membantu saya mencarikan tempat kos untuk saya tinggal, dan begitu hari pertama ospek, saya mulai tinggal di sana.
Untungnya mama datang ke Bali menemani saya seminggu selama ospek, sehingga hati saya tenang dan agak terhibur--thanks, Mum. Membantu saya menyediakan dan menyelesaikan tugas2 absurd yang diberikan para senior menyebalkan, serta selalu membantu saya bangun pagi, mengepang rambut saya, yang selama ospek harus dikepang seratus--gosh!

Ketika ospek selesai, mama pulang ke Jakarta, dan saya benar-benar mulai hidup sendiri.
Dan sendirian untuk pertama kalinya di tempat yang jauh, tanpa pengawasan ketat papa mama, dengan sifat naif khas remaja yang baru lulus SMU, tentunya membuat saya rentan bahaya; bahaya terpengaruh gaya hidup bebas yang dianut sebagian besar teman-teman baru saya.
Untungnya doktrin mama yang sangat kuat sedari kecil mengenai hal2 tabu yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan, terus menjerit di kuping saya, dan membuat saya takut untuk melakukan sesuatu yang di luar batas.

Hey, I'm an old-fashionist, and I'm okay with that.

Bulan2 pertama kuliah, semua berjalan baik dan lancar. It's like a perfect beginning for a new comer to begin. Saya berteman dan berkenalan dengan banyak orang baru, mulai dari teman sekelas, teman satu jurusan, teman-teman lain yang tidak sejurusan, kakak kelas, dosen-dosen dan lain sebagainya.

Saya menikmati setiap mata kuliah yang diberikan. Merasa optimis, dan berpikir kalau sekolah pariwisata itu adalah keputusan yang terbaik yang pernah saya buat. Bahkan saya menolak kembali ke Jakarta, ketika pengumuman kelulusan UMPTN keluar, dan nama saya ada di daftar calon mahasiswa yang diterima di Universitas Negeri--bodoh memang, tapi percuma kalau menyesal sekarang.
Lagipula andaikan saya ngotot meninggalkan Sekolah Pariwisata, dan mendaftar ulang di Universitas Negeri, Papa pasti tidak akan mau membayarkan biaya masuk ke universitas negeri tersebut.
That's my Dad...

Semester 1 saya lewati tanpa kendala, dengan saya yang masih murni diri saya seperti pertama datang dari Jakarta. Sempat liburan semester ke Jakarta, berkangen-kangenan dengan orang tua dan adik saya.

Keceriaan saya masih benar-benar murni gadis bau kencur saat itu.

Masuk semester 2, itulah awal hidup saya. Awal saya mempelajari, bahwa manusia, sebaik apa pun tidak pernah akan bisa dipercaya 100 persen. Dan orang yang bisa dipercaya belum tentu baik. Semester 2 adalah awal saya menyadari bahwa dunia yang sebenarnya begitu keras dan kejam, dan cara kita menyikapinya bukan dengan emosi meletup-letup, melainkan dengan pasrah dan tabah.
...........................................

Seorang perempuan berdarah Bali-Ambon, mendadak mendekati saya awal semester 2. Dia, Pe (sebut saja begitu), tidak banyak bicara pada saya sepanjang semester 1, jadi saya tidak pernah terlalu memerhatikan dia.
Tapi beberapa hari belakangan, Pe sering berkunjung ke kos saya. Bercerita tentang keluarganya yang kacau balau, tentang penderitaan dirinya akibat ulah salah satu anggota keluarganya; dia menceritakan semuanya tanpa diminta.

Kasihan, memang. Tapi saya tidak terlalu menggubrisnya. Hanya menganggap kalau dia hanya butuh teman curhat untuk beberapa waktu sampai hatinya membaik. Namun pada suatu malam, ketika dia mengajak saya makan di PKL (Pangkalan Kaki Lima), dia mengatakan sesuatu yang membuat saya terenyuh.

"Lit, lo mau kan jadi sahabat gue?"

Kalau saya yang sekarang, mendengar kalimat itu terlontar dari mulut seseorang, tentu hanya akan menganggap angin lalu, dan hanya akan menjawab, "Gue kan emang udah temenan ma lo."
Tapi saya yang waktu itu begitu terharu, mendengar seseorang meminta saya jadi sahabatnya.

**Bagi saya sahabat adalah teman terbaik yang selalu ada dan bisa diandalkan, seperti halnya sahabat-sahabat Carry (sarah Jessica Parker) di film Sex and The City.**

Tanpa pikir-pikir saya langsung mengiyakan. Apalagi dengan kata-kata tambahan, "Kita sobatan sampai tua, ya?" dari Pe, membuat saya bertambah yakin akan keputusan saya.
Saya sama sekali tidak menyangka, persahabatan kami adalah kehancuran hidup saya ke depan.
......................................................

Berteman dengan Pe, memang menyenangkan pada mulanya. Orangnya sangat seru, suka tantangan, cuek dan berani, sementara kadar seru, ekstrim, cuek dan keberanian saya, jauh lebih sedikit daripada dia.

Kami sering sekali jalan-jalan larut malam sampai dengan pagi buta, ngobrol di pantai, atau kumpul-kumpul di rumah teman Pe, yang juga berasal dari Ambon, dan pulang keesokan paginya dengan mata segaris, dan langsung melempar diri ke kasur; tidur seharian.
Hal itu tidak sekali pun pernah saya lakukan di Jakarta, dan di Bali, bersama Pe, saya merasa sah-sah saja melakukan itu.

Pe merubah saya sedikit demi sedikit.

Pe senang mengejek, senang menyindir, atau menghina orang lain secara langsung mau pun tidak langsung, tanpa repot-repot berpikir, orang yang menjadi objek penderita akan tersinggung atau tidak.
Pe juga gemar menyebarkan gosip tentang orang lain yang belum tentu benar, apabila dia tidak suka pada orang lain itu.
Meskipun tidak ikut andil, namun saya tertawa setiap dia melakukan aksinya, seolah mensuportnya. Dan jujur, terkadang saya ikut menimpali. Saya sama sekali tidak berpikir, kalau dia juga bisa memperlakukan saya seperti dia memperlakukan korban-korbannya. Dia kan sahabat saya, begitu saya berpikir.

Bergaul dengan Pe juga membuat saya tahu, kalau di Bali, selain kasta tinggi, orang dihormati dari materi yang dia punya, kendaraan yang mereka bawa, baju yang mereka pakai, benda-benda bermerk yang melekat di badan mereka, serta apa yang keluarga mereka punya; hotel, supermarket de el el.

Urusan materi dan prestise jadi membuat saya mulai tak nyaman dengan diri saya. Melihat dan mendengarnya bicara mengenai teman-teman sekampus yang kaya raya, dan apa yang mereka pakai, membuat saya jadi tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa ada di tingkat paling bawah di dunia. Marah, ketika Papa menolak mentah-mentah untuk membelikan saya HP.

"Tidak ada gunanya," katanya. "Kamu gak butuh."

Dan Papa benar, saat itu saya memang belum membutuhkannya. Sayangnya saat itu, sifat kekanak-kanakan dan manja saya masih begitu besar. Saya jadi depresi, karena ketakberadaan barang-barang mahal di sekeliling saya. Memalukan kalau diingat-ingat.

Untuk hal ini, saya tidak menyalahkan Pe. Karena perubahan diri saya itu, saya sendiri yang memicunya. Tidak dapat mengendalikan diri, itu kelemahan saya saat itu.

Sementara proses perubahan di diri saya berlangsung, saya pun menyadari bahwa Pe ternyata sedang memanfaatkan saya dengan alasan persahabatan.
Kalau dipikir-pikir tidak pernah sekali pun dia menunjukkan rasa bersahabatnya pada saya. Dia tidak pernah mendengarkan curhat saya, malah selalu meledek. Sementara saya harus selalu siap menjadi penyeka air matanya kapan pun hatinya sedang sedih.
Tanpa malu-malu dia meminta traktiran, meminjam barang, atau apa pun dari saya demi kepentingannya sendiri yang saya berikan tanpa berpikir negatif sedikit pun.
Meskipun sebal, namun karena rasa sayang saya padanya, saya tetap baik padanya, Memercayainya begitu besar. Menepis semua prasangka2 yang melintas di kepala saya. Dia sahabat saya, gumam saya dalam hati. Saya tidak boleh berpikir seperti itu.
.............................................................................

Beberapa waktu setelah itu, ada sesuatu yang berubah yang saya rasakan.
Tanpa diketahui penyebabnya, teman-teman sekelas saya mendadak menjauh, termasuk Pe. Kalau saya duduk di depan di kelas, mereka duduk di belakang. Kalau saya duduk di belakang, mereka duduk di depan. Dan, tak ada lagi yang repot-repot bicara pada saya. Mereka tampaknya lebih senang berbincang dengan Pe.
Saya dikucilkan.
Berbalik 180 derajat dari sebelumnya.

Pe pun mulai melontarkan sindiran untuk saya. Bicara yang aneh-aneh di baris belakang yang masih dalam jangkauan pendengaran saya. Benar-benar menyakitkan, apalagi saya tidak tahu alasan perubahan sikapnya; apa salah saya padanya. Saya benar-benar tidak tahu.
Untungnya saat itu, saya sudah punya pacar, Cloud, yang setia mendampingi saya. Jadi saya masih bisa cuek dengan sikap mereka. Menelan bulat2 segala sindiran dan hinaan yang dia lontarkan, berusaha fokus pada kuliah, dan menghabiskan waktu bersama Cloud dengan jalan-jalan sepulang kuliah.

Suatu hari saat saya dan Cloud main ke tempat kos seorang teman sekelas, dan tak sengaja dia menyinggung soal kondisi saya di kelas. Saya bilang saya tidak tahu, dan ujung-ujungnya malah dia yang memberitahu apa alasannya, lengkap dengan siapa yang mengomporinya.
Orang itu tak lain adalah Pe, orang yang saya anggap sahabat, saya percaya, telah menikam saya dari belakang. Habis-habisan.


Dia memutar balikkan fakta, bahwa sayalah orang yang suka bergosip. Saya yang senang menjelek-jelekkan orang lain. Dia membela diri, bahwa semua kata-kata hinaan dan sindiran yang pernah dia lontarkan pada seseorang, tak lain untuk menyenangkan hati saya, karena tidak suka pada orang tersebut.
Ternyata, selama masa bersahabat dengan saya, Pe berkeliling ke seluruh kos teman-teman sekelas, untuk menyebarkan fitnah--ditambah cerita sedih tentang keluarga dan dirinya untuk membuat orang mengasihaninya. Menceritakan sifat atau kebiasaan buruk saya--pokoknya dia menghina saya di belakang punggung saya. Menertawakan saya.

Sakit dan hancur sekali saya saat itu.

Ya, Tuhan...
Dia membalas semua rasa sayang saya dengan cara itu. Apa salah saya padanya? Sampai sekarang saya benar-benar tidak tahu.

Tidak ada yang bisa saya perbuat. Mau mendamprat Pe atau membela diri sudah tidak bisa, karena Pe, entah bagaimana caranya telah menguasai mereka semua. Dan saya malas bertengkar.
Saya hanya bisa diam; menahan semua sakit itu sendiri. Menerima sindiran dan hinaan teman-teman saya dengan sabar, walau pun suatu hari akhirnya apa yang saya pendam meledak juga karena ketidakstabilan emosi saya, dan malah berujung amat buruk daripada sebelumnya
...................................................................................
Dua kali sudah Pe mengkhianati saya semasa kuliah, dan saya tetap memaafkannya.
Yang ketiga kali, malah menyebabkan saya hengkang dari kampus, karena tidak kuat lagi menahan sakit di hati.
Saya terkena Bipolar--maniac depresi, yang membuat saya seringkali berpikir untuk bunuh diri, terutama ketika Cloud memutuskan saya, karena sudah tidak tahan dengan diri saya, yang sejak bermasalah dengan Pe, menjadi sangat ketergantungan, terus2an sedih, dan terkadang bersikap seperti layaknya orang gila--bengong seharian, dan tidak lagi fokus pada kuliah.

Sungguh memori yang tidak ingin saya ingat dan diungkapkan, sebenarnya. Namun saya berusaha untuk jujur pada diri sendiri, dan sebagai pengingat kalau sebaik apa pun saya sekarang, masa-masa kelam pernah meredupkan hidup saya. Dan saya tidak boleh menyesal, karena dengan adanya masa itu, saya menjadi orang yang lebih dewasa daripada sebelumnya. Lebih bisa memilah apa yang baik, dan apa yang buruk.
Meskipun tidak seratus persen, setidaknya saya lebih bisa mengendalikan diri daripada di masa lalu.
----------------------------------------------------
Saya bersyukur, orang seperti Pe, pernah muncul dalam kehidupan saya. Secara tidak langsung dia mengajarkan saya arti hidup, dan membuat saya keluar dari dunia mimpi yang penuh kesenangan semu.

(bersambung)

Saya masih berteman dengan Pe sampai sekarang. Kami saling menyapa lewat fesbuk. Dia telah menikah dengan orang asing, dan memiliki satu anak, dan tak lagi tinggal di Indonesia. Tak pernah sekali pun kami menyinggung hidup kami beberapa tahun lalu, dan saya berusaha tidak mengingat apa yang pernah terjadi di antara kami. Lebih baik tidak usah.

gambar dari sini
I will never look back. I'm at my peace now.

9 comments:

Ra-kun lari-laRIAN April 19, 2011 at 12:26 PM  

ternyata ada pengalaman pahit juga ya. tapi justru pengalaman yuang seperti itu yang mendewasakan kita, iya kan :)

maya April 19, 2011 at 12:56 PM  

tulisannya manis dan sendu ya. eh udah sy folback ya. salam kenal jg lita. nice to know u :)

Nufri L Sang Nila April 19, 2011 at 12:56 PM  

wowww..keren banget tulisannya...parahhhh banget si pee yaaa...

salam :)

gloriaputri April 19, 2011 at 1:17 PM  

OMG, kirain aq aja yg pernah mengalami hal serupa....ditusuk dari belakang oleh org yg disebut "sahabat" pas masa kuliah....ini masih mending km mba, aq dulu di adu dombanya sama dosen looo....tp Tuhan tidak tidur :) aq dikasih Tuhan anugerah menyelesaikan studi ku persis 4 th (sesuatu yg diimpikan sahabatku itu) dan sahabatku itu, sampai skrng pun blm lulus dy...hehhehe...

l i t a April 19, 2011 at 2:27 PM  

@Ra:Iya, pengalaman pahitku banyak sekali, sebelum sampai ke tahap tenang seperti sekarang. Tapi andaikan aku tidak ngalamin semua itu, aku gak akan bisa cuek kalo didera masalah kaya gitu lagi.

@Maya: Thanks atas kunjungannya dan sempetin bacanya. Makasi banyak pujiannya, berarti banget buat aku.

@Nufri: emang, tuh. Dulu dia parah banget! Gak tahu deh sekarang. Udah lama banget gak in-touch sama si Pe sejak aku mutusin walk out dari kampus itu.

@Glo: Aku seneng kamu bisa fokus sama kuliahmu sambil menghadapi temen kamu itu, Glo. Kamu kuat. Sementara aku nggak--kalah duluan. Tapi sekarang aku baik2 aja. Mungkin Tuhan emang buat garis hidupku kaya gitu, kalo nggak, aku gak bakal tahu ada orang2 kaya si Pe itu. Seneng rasanya bisa berbagi... Thanks yah

Adhi Glory April 20, 2011 at 12:01 PM  

maaf kalau saya nyela komen disini, tapi kamu tidak sendirian kok pernah merasa demikian...

saya telah belajar dari kehidupan, bahwa saya hanya perlu mempercayai org lain maksimal 95%, tidak akan lebih lagi dari itu
saya lebih baik melingkari diri saya dengan dinding kaca, dan membiarkan orang2 melihat saya dari luar dan saya akan benar2 menyeleksi orang2 yang boleh saya ajak masuk :)

salam kenal ya!

l i t a April 20, 2011 at 3:33 PM  

@Adhi: Bener, Dhi. Kadang emang kelihatan kaya individual atau penyendiri, padahal kita menamengi diri kita untuk mencegah hal yang menyakitkan terjadi lagi.
Lam' kenal juga, ya...

Nitya April 20, 2011 at 8:35 PM  

Mbak Lita,

sabar ya, cerita mbak mirip banget sama aku. Tentang kuliah, tentang pengkhianatan, dan yang pasti tentang bipolar. Makasih juga buat komen mbak yang selalu memberi semangat buat aku. Semoga kita bisa survive dari bipolar. Amin

lita April 22, 2011 at 9:45 PM  

@Ninit: Seneng deh bisa share. Makasih juga, Nit, artikel yang kamu tulis juga ngebantu aku tahu, kenapa aku sebenernya...
Thanks, yah...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP