Meninggalkan Jakarta (1999): Dimana mereka sekarang?

>> Tuesday, April 26, 2011

BARU ingat, kalau ternyata saya punya teman-teman yang pernah menceriakan hari-hari saya di awal kuliah.
Teman jenis langka, karena tidak akan pernah saya temukan lagi sekarang ini. Teman yang sangat aneh, konyol, baik dan juga cabul--my God. Teman yang sekarang entah dimana keberadaannya.
...........................................................................

Suatu Jumat, di tahun 1999, di aula besar kampus bawah, mereka menemukan saya. Dua cowok gila dan gak tahu malu itu, duduk mengapit saya dengan mendadak. Membuat teman-teman cewek sekelas yang tadinya duduk di sebelah saya, terpaksa mundur untuk memberi mereka ruang.

"Nama gw Er."
"Dan nama gw Rud."
Mereka memperkenalkan diri tanpa diminta, membuat saya untuk sepersekian detik bengong, bertanya-tanya siapa mereka berdua, berusaha mengingat-ingat kalau-kalau saya pernah bertemu dengan mereka. Dari logat bicara keduanya, mereka jelas berasal dari Jakarta.

"Nama lo siapa?" Si Er yang tidak sabar dengan kebengongan saya, langsung meraih tangan saya dan menggoyang-goyangkannya.
Kaget, tapi merasa bertanggung jawab untuk menyebut nama, "Lita. Nama gw Lita."
"Kos dimana?" Rud bertanya. Rud adalah cowok yang usianya sepertinya lebih tua jauh dari saya dan Er. Meskipun begitu, karena wajah jenakanya, dia tidak kelihatan tua-tua banget.
"Di... Srikandi."
"Deket," Er menimpali. "Kita main kesana, ya?"
Apa dia beneran? "Main?" Saya kebingungan.
"Kita anter deh," Rud nyengir lebar.
"Kapan kalian mau main?" Suara saya kedengaran melengking, saking bingungnya.
"Hari ini. Pulang dari aula."
Mata saya melotot. Are they for real, saya berpikir. Baru kenal udah mau main ke kos cewek. Gak ada basa-basi, atau rayuan gombal khas cowok.

Er dan Rud membombardir saya dengan banyak pertanyaan mengenai saya selama acara penyuluhan; acara rutin yang dihelat oleh kampus, setiap hari Jumat, yang wajib dihadiri seluruh mahasiswa/siswi tingkat awal semua jurusan.
Mereka berdua, tidak berhenti bicara, saling tanya, saling sahut, saling menimpali--mereka seperti Andre Stinky dan Sule di OVJ, saling ejek, mengejek saya, menceritakan joke2 terbaru, sementara saya cuma bisa mendengarkan sambil ketawa-ketiwi.
Sumpah mereka berdua lucu banget!

Pulang dari aula, agar saya tidak lari--itu kata Rud, Rud menggandeng tangan saya erat-erat. Menarik saya, untuk mengikuti dia berjalan--saya merasa seperti binatang peliharaan kala itu, tapi entah kenapa saya nurut saja--keluar pekarangan kampus, sementara Erke ambil kendaraan.

Sepanjang perjalanan, banyak yang menyapa Rud--gak cewek, gak cowok, semuanya memanggil namanya dengan riang (ternyata nih cowok populer di kampus bawah). Pandangan mereka beralih dari Rud ke perempuan bego di belakangnya, yaitu saya. Dari sorot mata mereka, saya bisa menebak, kalau mereka pastinya bertanya-tanya siapa saya sebenarnya--penampakan yang tidak pernah tampak sebelumnya.

"Emang kita naik apa?" saya bertanya, ketika kami sudah hampir sampai di gerbang.
"Naik kebo."
"Eh?"
"Tuh, kebonya." Rud menunjuk ke arah Er yang menghampiri kami dengan... Vespa???
Vespa warna coklat itu, yang dimaksud "Kebo" ?
"Tapi, Rud, kita kan bertiga?" tanya saya bingung.
"Ayo, naik!" Er mengajak, dari atas Vespanya yang batuk-batuk.
"Lo di depan," suruh Rud pada Er. "Biarin gw yang setir."

Situasi semakin membingungkan untuk gw. Maksudnya apa, Er di depan, dan Rud yang setir?

Er nurut, dan bergeser ke depan, pegangan di stang, persis kaya anak kecil, yang diajak bapaknya jalan-jalan. Rud naik, dan duduk di jok yang sebelumnya diduduki Er.

Mereka berdua bener2 kaya Bapak dan anak yang mau jalan-jalan! Semua orang yang melihat langsung ketawa.

"Woi, Neng! Naik! Malah bengong," Rud ngomel. "Kan udah dikasih tempat duduk spesial."
Mau gak mau saya naik. Dan diiringi cekikikan orang-orang sekeliling Rud tancap gas sambil nyanyi-nyanyi.

2 orang gila di depan sepertinya menikmati perhatian dari orang-orang yang sepanjang perjalanan ke kos saya  menunjuk-nunjuk sambil tertawa lebar ke arah kami. Sementara saya cuma bisa ngumpet di belakang punggung Rud, berpikir, kok bisa ada orang-orang kaya gini mendatangi saya tanpa ada angin atau hujan.
(bersambung)

original gambar di sini

5 comments:

Hans Brownsound ツ April 26, 2011 at 2:32 PM  

waduh. itu seriusan belum pernah kenal lit? nekat banget yak -_-

l i t a April 26, 2011 at 3:40 PM  

Iya, Hans. Mereka cowok2 gila, yang gak bakal pernah aku lupa seumur hidup.

gloriaputri April 27, 2011 at 9:13 AM  

wahhh...koq bersambung sih? wkwkwkwkkw

deeo May 30, 2011 at 5:23 PM  

cool...persahabatan emang hubungan yang paling indah ya mbak....sahabat bisa nerima hal gak masuk akal sekali pun yang dimiliki sahabatnya itu....dan mereka hampir sama kayak sodara...selalu nerima kita walau kita udah bikin salah ma mereka....tempat kita bisa 'pulang' klo kesepian...miss all my bestfriend....SEMANGAT mbak!
p.s:udah ketemu sama mas Er dan Rud?

l i t a May 30, 2011 at 8:23 PM  

@deeo:blom... Mereka bener2 ilang.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP