Kenangan: Kamu terlambat datang, Lita

>> Wednesday, April 20, 2011

TIDAK tahu kapan pastinya saya jatuh cinta pada Al.

Yang saya tahu jantung saya selalu berdebar tidak keruan, kapan pun dia muncul di hadapan saya.

Senyum lepasnya, walaupun tidak ditujukan untuk saya, selalu membuat hati saya berbunga-bunga.
Mata abu-abunya yang berkilat kala menatap, mampu membekukan saya selama beberapa waktu.
Punggungnya yang saya tatap dari bangku kantin setiap makan siang, terlihat begitu lurus; butuh waktu lama untuk saya menghabiskan makan siang setiap hari karenanya.
Lidah saya jadi kelu, sulit berkata, setiap dia duduk di hadapan saya saat dia datang untuk bertanya atau membahas sesuatu. 

Saya jadi aneh, jadi tak berdaya, jadi kikuk setiap berhadapan dengan Al. Dan untuk menutupinya seringkali saya melontarkan kalimat yang kelewat berlebihan kerasnya, sehingga kedengaran seperti orang marah.
Mendengarnya Al cuma bisa senyum-senyum. Saya tidak tahu, apa senyum-senyumnya dikarenakan dia tahu perasaan saya padanya, atau dia sedang memaksa dirinya untuk tidak mamasukkan ke hati kalimat sengit saya.
___________________________

Perasaan yang saya pendam semakin lama semakin besar; mendesak-desak dada, memohon untuk dibebaskan. Meskipun sangat menginginkan Al tahu, saya tetap bertahan tidak mengungkapkan apa yang saya rasakan. Harga diri, posisi dan etika yang menyebabkannya.

Sampai suatu hari... Saya tak bisa menahannya lagi. Saya mengirimkan pesan instant ke ponselnya--dengan nomor ponsel yang berbeda tentunya, agar dia tidak tahu kalau saya yang mengirimkan pesan tersebut.

aku suka senyummu. bagaikan matahari yang mencerahkan hari yang muram. terimakasih telah ada di dunia, dan menyejukkan hati seseorang

Itu bunyi sms pertama saya, dari beberapa sms lainnya. Sinting, memang. Namun setidaknya dengan mengirimkan sms-sms itu, hati saya jadi sedikit lebih ringan. Walaupun setelah pesan itu terkirim, disusul oleh delivery report, dada saya sakit akibat jantung yang sangat deg degan.

Tak pernah sekali pun Al, membalas sms-sms itu. Dan saya pun tak ingin dia membalasnya.

Sikap Al pada saya biasa-biasa saja, menandakan dia tidak mencurigai saya. Meskipun lega, namun sebenarnya saya ingin sekali dia tahu. Sms-sms itu sudah tak cukup lagi buat saya.
__________________________

Tahun baru...

Saya ketinggalan flash disk, dan kembali ke kantor malam hari; kira-kira jam 9 malam waktu itu.
Saya masuk lewat pintu karyawan, dan naik ke area dimana Al bekerja--untuk sampai ke ruang kantor, saya harus melalui beberapa area, termasuk area kerja Al. Sudah sedikit sepi, tampaknya anak buah Al sedang saling mengucapkan selamat tahun baru dengan rekan-rekan mereka yang bekerja di hall depan.

Ketika saya lewat kantor Al, ternyata dia masih ada. Entah apa yang membuat saya memberanikan diri berbelok ke kantornya, yang saya tahu saya berjalan pelan, dan berdiri, bersandar di ambang pintu ruangannya.

"Hei," dia menyapa. "You're back."
"Ya. Flash disk. Ketinggalan," kata saya, masih bersandar, sambil memandangnya berdiri di belakang meja.

Al dengan pakaian seragamnya selalu kelihatan begitu menawan, begitu pun malam itu.
Dia tampak bersinar dengan baju putihnya. Senyum simpulnya membuat perut saya hampa. Kepala saya jadi serasa dikerubungi banyak semut. Ingin sekali saya menyentuhnya.
What kind a girl are you, Lita?

"Al..." saya berkata pelan--saat itu saya benar-benar memaksa diri saya mengatakan perasaan saya padanya.
"Ya..."
Saya benar-benar pengecut. "Nggak." Saya nyengir. Urung bicara.
Alis Al mengernyit. Kali ini ekspresinya curiga.
"Udah ya. Mau ke office."
Saya setengah berlari meninggalkan ruangannya.
_____________________________

Aku ingin melihatmu sekali lagi, sebelum tahun berganti tengah malam nanti. Ingin mengatakan kalau aku jatuh cinta padamu, dan berharap kau dapat memberikanku sebuah pelukan kecil sebagai bingkisan tahun baruku. Tapi ternyata, hal itu sungguh tak mudah untuk kulakukan. Meskipun begitu, aku sudah sangat senang dapat melihat wajahmu di malam terakhir bulan Desember ini. Happy New Year.
Saya mengirimkan sms terakhir saya dari kantor. Bersandar di kursi kerja, sambil menunggu 'delivery report'.
Saat akhirnya delivery report datang, dan saya bersiap mematikan ponsel saya, nada dering yang amat keras mengalun nyaring di dalam ruangan.

Mata saya membeliak ketika melihat nama si penelepon. Al.

Pintu kantor didorong dari luar. Al masuk dengan satu tangan di telinga, memegangi ponselnya.
Karena kagetnya, bukannya cepat-cepat mematikan ponsel saya yang menjerit-jerit, saya malah bengong memandangi Al menyusuri ruangan. Menghampiri saya.

Oh, God...

Al mematikan ponselnya, dan lagu "If You Believe" dari ponsel saya berakhir mendadak.
Al berdiri di depan meja saya, memandangi saya dengan kepala dimiringkan. Bibirnya melengkungkan senyum. Kepalanya menggeleng sedikit. Sementara saya... gemetaran.

"Jadi kamu yang kirim semua sms itu?" Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, setelah puas memandangi wajah merah saya.

Saya tidak bisa menjawab. Bibir saya seperti direkat oleh lem yang super kuat, sehingga tidak memungkinkan saya bicara.

"Nice words..." kata Al, tersenyum manis. Senyum yang menenangkan sekali--sebenarnya. "I'm flattered."

Saya benar-benar malu. Muka saya panas. Ketakutan, cemas--saya membodohi diri sendiri. Tak satu pun kata yang bisa saya keluarkan untuk menimpali kata-kata Al.

Saya berdiri, dan bergegas pergi. Saya tidak mau menunjukkan muka tolol saya lama-lama di depan Al.
Senyum manis yang biasanya membuat saya terkesima, malam itu terlihat seperti senyum mengejek.

Saat saya melintas di sebelah Al, tiba-tiba dia menarik tangan saya. Bukan hanya tangan, tapi seluruh tubuh saya. Dia... memeluk saya.

"Ini kado Tahun Baru-mu," dia berbisik, sementara saya sudah berurai air mata. "Tapi cuma ini saja yang bisa aku berikan," lanjutnya lagi, masih berbisik. "Perasaanku sama denganmu... tapi kamu terlambat datang, Lita."
____________________________

Tidak ada yang terjadi di antara kami malam itu. Tak ada kata cinta yang terlontar, tak ada ciuman yang menyentuh. Selama beberapa menit, saya dan Al hanya berpelukan, sampai akhirnya, dia melepaskan pelukannya, dan pergi keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun. Meninggalkan saya sendirian.
Ketika saya pulang, melewati area kerjanya, Al sudah tak ada. Dia sudah pulang.

Hati saya sangat sakit malam itu, namun  juga bahagia, karena perasaan tak menentu yang telah beberapa bulan saya rasakan, sudah tak ada lagi. Pelukan Al menjawab semuanya.
Saya bahagia, dapat menyentuh Al, dan merasakan hangat tubuhnya, untuk pertama dan terakhir kalinya.
gambar dari sini
The night only we know...











3 comments:

gloriaputri April 21, 2011 at 3:01 PM  

hohoo....brarti walau gag pernah balas sms, Al slama ini curious ma pengirim sms ya mba? hehehe....terlambat gmn maksudnya mba? terlambat tau klo km suka dy dan dy uda terlanjur sama cewe lain?

l i t a April 21, 2011 at 3:35 PM  

@Glo:Iya,Glo. Dia sebenernya udah punya cewek waktu itu... Jadi sulit untuk kasih tahu dia secara langsung. Menyedihkan, ya?

Nufri L Sang Nila April 21, 2011 at 4:06 PM  

romantis banget kata2nya...pasti klepek2 ya kalau dapat sms seperti itu...tapi sayang sang arjuna sudah punya yang lain...terlambat..

nice...salam :)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP