The Devil's Eyes: 14th Chapter

>> Thursday, April 7, 2011

14


“NALI… Bangun, Nali. Nali!”
Aku tersentak, terbangun dengan panik. Dan merasa sangat kaget melihat Rati berjongkok di hadapanku. Kedua alisnya mengernyit kuat. Ekspresi wajahnya luar biasa cemas.
“Ra-Rati…?” kataku lemah, menatapnya bingung.
Aku memandang berkeliling—(ternyata aku masih berada di dalam toilet)—dan langsung terlonjak melihat Ester dan ketiga temannya sedang duduk berjejer di lantai dalam berbagai pose. Tampang keempatnya tanpa ekspresi. Bengong seperti orang yang kena hipnotis. Ada lebam dan luka gores banyak sekali di wajah dan beberapa bagian tubuh mereka. Bahkan bagian depan kaus yang dipakai Dian sobek, besar sekali. Tapi Dian sama sekali tidak bersusah payah menutupi bra hitamnya yang terpampang bebas, walaupun ada Jyotis berjongkok di depannya—Jyotis? Kenapa dia di sini? Tanyaku dalam hati. Merasa bingung.
“Dia perlu memodifikasi ingatan mereka,” kata Rati cepat-cepat, seolah menjawab pertanyaan yang melintas di benakku. “Kalau tidak, mereka bisa mengatakan pada semua orang tentang apa yang terjadi di sini barusan,” dia berkata lagi, sementara aku mendesah tak mengerti. “dan apa yang akan mereka ceritakan bisa membahayakan dirimu.”
“A-apa… ma-maksudmu, Rati?” tanyaku dengan suara parau. Aku sama sekali tak mengerti sepatah kata pun yang diucapkannya. “Me—memangnya apa yang terjadi barusan?”
Rati mengembuskan napas perlahan dan berkata, “Lihat saja apa yang telah kau lakukan pada mereka.” Dia memalingkan wajahnya ke arah Ester, Dian, Cherry dan Selly.
“Apa yang kulakukan?” tanyaku kebingungan, memandang keempat gadis tersebut, dan merasa tertarik melihat Jyotis yang sedang menyentuhkan tangan kanannya yang terbalut perban hitam ke masing-masing puncak kepala mereka.
“Kau yang menyebabkan luka dan lebam di tubuh mereka,” jawab Rati cepat, menatapku kembali.
Mulutku menganga tak percaya. Membulatkan kedua mataku pada Rati yang mengangguk-anggukan kepalanya yang cantik, seolah menegaskan.
“Ti—tidak mungkin,” aku menyangkal, menggeleng-gelengkan kepala. Menggerakkan mataku bergantian dari Ester CS ke Rati berulang-ulang. “Aku… tidak merasa melakukannya—aku bahkan tidak sanggup memukul siapa pun. Sedikit pun. Ja—jadi… bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku yang melakukannya?”
Aku merasa panik sekali. Aku benar-benar ketakutan. Aku yakin bukan aku yang melakukannya. Aku kan pingsan.
“Kau memang pingsan,” Rati bicara buru-buru, sekali lagi membuatku bingung, karena dia menyahuti apa yang sedang kupikirkan sedetik lalu. “tapi… sesuatu yang menguasai matamu, tidak.”
“Aku tidak mengerti…” kataku, sekarang merasa benar-benar sangat bodoh.
“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini,” kata Rati buru-buru, berdiri dari lantai, seraya memegang lenganku dan menarikku berdiri. “Sebelum ada orang yang datang.” Dia menoleh ke arah Jyotis yang sekarang telah berdiri, sementara keempat gadis di depannya masih duduk di lantai. Masih bengong. “Kau sudah selesai?” Rati bertanya pada Jyotis, yang segera mengangguk, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi segera berpaling. Berjalan ke arah pintu, dan tak lama kemudian telah menghilang di baliknya.
“Ayo, Nali. Kita juga harus pergi,” Rati mengajak, menarik tanganku, setelah sebelumnya menyambar tasku yang masih bertengger di puncak wastafel, dan memberikannya padaku.
Kami berdua kemudian berjalan bersisian menuju pintu keluar.
“Bagaimana dengan mereka?” aku bertanya, menganggukkan kepala ke arah Ester CS. yang kelihatan aneh sekali dengan pose kaku dan tanpa ekspresi. “Apa mereka akan terus begitu?”
“Jangan cemaskan mereka. Begitu kita keluar dari sini, mereka akan sadar dan akan kembali seperti semula,” kata Rati.
Aku baru saja akan membuka mulut lagi untuk bertanya apa yang akan terjadi bila mereka melihat luka dan lebam di sekujur tubuh mereka, tapi Rati keburu bicara lagi. “Jyotis sudah menanamkan ingatan kalau luka-luka timbul akibat perkelahian mereka sendiri, karena rebutan cowok… Entah cowok yang mana.”
Setelah itu tanpa menghiraukan bibirku yang membuka menutup ingin kembali melontarkan pertanyaan, Rati kembali menarikku tanganku, mengajakku keluar dari toilet.
Rati menggiringku berbelok ke kanan, dan berjalan bersisian menyusuri koridor ramai. Semua mata langsung memandang dengan tatapan yang tak dapat dimengerti ke arah kami berdua. Aku sendiri sudah dapat menebak apa yang ada di benak masing-masing orang kala melihat kami. Mereka pasti sedang membanding-bandingkanku dengan Rati. Dan mengasihani atau menertawakan diriku yang kelihatan sangat menyedihkan di sebelah Rati yang luar biasa cantik.
“Jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri, Nali,” Rati berbisik, menatapku sekilas. “Kau cantik. Sayangnya kau tidak tahu.”
Ini sudah kesekian kalinya, dia berkata sesuatu yang seakan menjawab apa yang ada di pikiranku. Bagaimana dia bisa? Apa dia bisa baca pikiran?
“Ya, aku bisa membaca pikiran,” kata Rati, kali ini benar-benar menatapku. Kedua mataku langsung membundar keheranan. “Dan bukan aku saja, tapi saudara-saudaraku juga.”
“Eh?” kataku terkejut.
“Ya. Kami, para Tanu, memang memiliki kemampuan itu,” jelas Rati.
“Ta… nu?” Kedua alisku mengernyit keheranan. “Ap—”
“Jangan tanya sekarang. Kami akan menjelaskan pada waktumu, di saat yang tepat,” sela Rati, dengan nada dingin dan tegas.

***

Tanu. Apa itu? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya sama sekali. Apakah itu adalah sebutan untuk sejenis spesies manusia yang memiliki kemampuan membaca pikiran? Atau seperti Jyotis, bisa memodifikasi memori seseorang seperti yang dilakukannya pada Ester Cs.?
Kalau begitu, Sima, Anila, Rati, Jyotis dan juga Abi adalah sejenis manusia berkemampuan lebih. Atau ‘super’ begitu? Sayangnya Rati tidak mau  memberitahuku lebih jauh. Tadi sore, saat dia mengantarku pulang dengan mobil mini cooper putih-ungunya—tidak terlihat sama sekali keberadaan saudara-saudaranya (terutama Abi)—dan aku bertanya apa yang dimaksud ‘Tanu’ itu, dia hanya berkata, “Nanti kami pasti akan memberitahumu siapa kami sebenarnya. Sekarang sebaiknya kau cepat pulang. Lebih aman bagimu berada di dalam rumah saat-saat seperti ini.”
Aku terpaksa mengiyakan. Tidak ingin memaksanya mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia katakan, walaupun kepalaku sudah berdenyut didesak oleh ribuan tanda tanya.
Anehnya, tanpa kuberitahu, Rati tahu dimana rumahku berada. Padahal aku sama sekali tidak memikirkan alamat rumahku sama sekali, karena kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang hilang timbul mengenai kejadian hari ini; Sita, mamanya, tubuh Sita, Ester dan kroco-kroconya, ditambah lagi dengan jati diri Rati dan keempat kakak laki-lakinya. Tapi yang menjadi pertanyaan utama, dan benar-benar membuatku tak habis pikir, masa sih, aku yang membuat Ester dan teman-temannya jadi babak belur begitu? Rati bilang dia juga punya jawaban atas pertanyaan itu, namun dia belum mau mengatakannya padaku. Tampaknya dia lebih mengutamakan mengantarku selamat sampai di rumah daripada harus panjang lebar menjelaskan hal tersebut. Membuatku resah karena dirundung rasa penasaran yang amat sangat.
Sekarang aku hanya bengong di atas kasur tempat tidurku; duduk sambil memeluk kedua lututku. Berpikir-pikir mengenai apa yang dikatakan Rati padaku beberapa waktu lalu. Aku teringat dia berkata, “tapi… sesuatu yang menguasai matamu, tidak.”
Sesuatu yang menguasai mataku? Itu katanya, gumamku dalam hati, sambil menatap kosong rak buku di depanku. Memang apa yang menguasai mataku. Apa mataku yang membuat Ester dan teman-temannya luka-luka seperti itu? Bagaimana bisa? Apa aku punya kekuatan sinar X, seperti tokoh Cyclops di film X-Men? Tidak masuk akal. Bahkan hanya untuk sekadar dibayangkan.
Jadi, ada apa sebenarnya kalau begitu? Kenapa hal aneh ini bisa terjadi? Oh, Tuhan. Apa semua ini ada hubungannya dengan kejadian sore kemarin, ketika laki-laki bertudung itu hendak menebasku dengan pedang besarnya?
Sampai pagi besoknya, pertanyaan mengenai siapa sebenarnya lima bersaudara itu masih mengganggu pikiranku. Bahkan aku memimpikan mereka dalam tidurku. Aku bermimpi sedang berbaring di sebuah padang rumput luas dengan langit luar biasa biru di atasku.., mereka—Sima, Anila, Rati, Jyotis dan juga Abi menghampiriku, dan mengulurkan tangan untuk meraihku; membantuku bangkit. Tubuh mereka semua diselubungi sinar putih keperakan yang menyilaukan..., aku bangkit berdiri, dan saat itu, aku terjaga dari tidurku.

(bersambung) 
gambar dari sini

Malaikat diturunkan dari atas. Menggaungkan belas kasih, membisikkan cinta--Fanny J. Crosby

Novel oleh Putu Indar Meilita

3 comments:

Rhyfhad April 8, 2011 at 1:42 PM  

ceritanya asik di baca, jadi meras ingin sering" berkunjung ..
salam kenal yahh ...
hehee..

yanti hadiwijaya September 11, 2013 at 11:29 AM  

Mba lita .. Sambungannya ƍ̝̊̅̄ɑ̤̥̈̊ӄ>:/ ada lagi yach ... Penasran banget nich akhirny gimana .. Tolng kasih tau donk ... Hehehehe bisny tulisan mba lita bagus smua n bikin penasaran .. Udah brapa hari dlm 2 minggu ini aq bacain smua tulisany mba ...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP