To Love & Beloved In Return... Have I?

>> Thursday, April 28, 2011

YANG tak ada dalam hidup saya adalah cinta--dicintai kembali, lebih tepatnya.

Selama ini saya adalah pemberi cinta cuma-cuma, yang tak pernah dibalas setimpal oleh orang yang saya cintai.
Cinta saya dianggap murah, karena tanpa syarat, dan selalu mengalah.
Bahkan saat orang yang saya cintai melukai hati dan tubuh saya, saya masih bisa memaafkannya.
Karena itulah, cinta saya terlalu murah, kecil artinya, dibandingkan cinta mereka yang begitu mahal.

Saya mensyukuri hidup saya, menerima dengan ikhlas apa pun yang diberikan Tuhan. Namun hati saya bisa sangat tidak mensyukuri bila terkait cinta.
Saya menuntut pada Tuhan, untuk memberikan cinta yang saya mau, karena hidup saya sangat bergantung pada cinta. Tapi Tuhan ternyata memberikan saya cinta yang egois dan tak tahu diri, yang harus saya jalani seumur hidup tanpa kepastian seperti apa hidup saya kelak bersamanya.

Saya ingin menyingkirkan cinta itu, tapi karena cinta pula, saya menyingkirkan pikiran itu.
Saya tidak ingin melukai orang-orang yang saya cintai dengan keputusan saya yang bisa saja prematur dan kekanak-kanakan.
Namun, kenapa, semakin lama saya bertahan, hidup saya semakin berat? Seolah saja saya berjalan dengan gunung es besar di atas saya.
Tiap lelehan airnya membuat saya mati rasa dan menjauhkan saya dari kesadaran.
Saya merasa, semakin hari 'saya' semakin hilang. Otak saya menciut; mengecil dan suara saya raib, tak lagi bisa bicara. Pendengaran di kuping saya terbatas, tak lagi bisa mendengar suara-suara unik yang berbeda. Saya seperti robot. Seperti binatang bodoh.

Apa cinta memang membuat orang seperti itu? Wajarkah? Karena saya berpikir, kalau cinta seharusnya membuat seseorang bahagia, bukannya sedih, bimbang, sakit, dan akhirnya mati.
Dalam hal ini, saya sudah mati. Mati rasa. Otak saya mati.
Dan sesakit apa pun rasanya, saya sudah tidak bisa kemana-mana lagi, selain menerimanya.

Apa saya tidak punya hak untuk bahagia?
...............................................................................

gambar orisinal dari sini














i used to smile...

Read more...

Meninggalkan Jakarta (1999): Dimana mereka sekarang?

>> Tuesday, April 26, 2011

BARU ingat, kalau ternyata saya punya teman-teman yang pernah menceriakan hari-hari saya di awal kuliah.
Teman jenis langka, karena tidak akan pernah saya temukan lagi sekarang ini. Teman yang sangat aneh, konyol, baik dan juga cabul--my God. Teman yang sekarang entah dimana keberadaannya.
...........................................................................

Suatu Jumat, di tahun 1999, di aula besar kampus bawah, mereka menemukan saya. Dua cowok gila dan gak tahu malu itu, duduk mengapit saya dengan mendadak. Membuat teman-teman cewek sekelas yang tadinya duduk di sebelah saya, terpaksa mundur untuk memberi mereka ruang.

"Nama gw Er."
"Dan nama gw Rud."
Mereka memperkenalkan diri tanpa diminta, membuat saya untuk sepersekian detik bengong, bertanya-tanya siapa mereka berdua, berusaha mengingat-ingat kalau-kalau saya pernah bertemu dengan mereka. Dari logat bicara keduanya, mereka jelas berasal dari Jakarta.

"Nama lo siapa?" Si Er yang tidak sabar dengan kebengongan saya, langsung meraih tangan saya dan menggoyang-goyangkannya.
Kaget, tapi merasa bertanggung jawab untuk menyebut nama, "Lita. Nama gw Lita."
"Kos dimana?" Rud bertanya. Rud adalah cowok yang usianya sepertinya lebih tua jauh dari saya dan Er. Meskipun begitu, karena wajah jenakanya, dia tidak kelihatan tua-tua banget.
"Di... Srikandi."
"Deket," Er menimpali. "Kita main kesana, ya?"
Apa dia beneran? "Main?" Saya kebingungan.
"Kita anter deh," Rud nyengir lebar.
"Kapan kalian mau main?" Suara saya kedengaran melengking, saking bingungnya.
"Hari ini. Pulang dari aula."
Mata saya melotot. Are they for real, saya berpikir. Baru kenal udah mau main ke kos cewek. Gak ada basa-basi, atau rayuan gombal khas cowok.

Er dan Rud membombardir saya dengan banyak pertanyaan mengenai saya selama acara penyuluhan; acara rutin yang dihelat oleh kampus, setiap hari Jumat, yang wajib dihadiri seluruh mahasiswa/siswi tingkat awal semua jurusan.
Mereka berdua, tidak berhenti bicara, saling tanya, saling sahut, saling menimpali--mereka seperti Andre Stinky dan Sule di OVJ, saling ejek, mengejek saya, menceritakan joke2 terbaru, sementara saya cuma bisa mendengarkan sambil ketawa-ketiwi.
Sumpah mereka berdua lucu banget!

Pulang dari aula, agar saya tidak lari--itu kata Rud, Rud menggandeng tangan saya erat-erat. Menarik saya, untuk mengikuti dia berjalan--saya merasa seperti binatang peliharaan kala itu, tapi entah kenapa saya nurut saja--keluar pekarangan kampus, sementara Erke ambil kendaraan.

Sepanjang perjalanan, banyak yang menyapa Rud--gak cewek, gak cowok, semuanya memanggil namanya dengan riang (ternyata nih cowok populer di kampus bawah). Pandangan mereka beralih dari Rud ke perempuan bego di belakangnya, yaitu saya. Dari sorot mata mereka, saya bisa menebak, kalau mereka pastinya bertanya-tanya siapa saya sebenarnya--penampakan yang tidak pernah tampak sebelumnya.

"Emang kita naik apa?" saya bertanya, ketika kami sudah hampir sampai di gerbang.
"Naik kebo."
"Eh?"
"Tuh, kebonya." Rud menunjuk ke arah Er yang menghampiri kami dengan... Vespa???
Vespa warna coklat itu, yang dimaksud "Kebo" ?
"Tapi, Rud, kita kan bertiga?" tanya saya bingung.
"Ayo, naik!" Er mengajak, dari atas Vespanya yang batuk-batuk.
"Lo di depan," suruh Rud pada Er. "Biarin gw yang setir."

Situasi semakin membingungkan untuk gw. Maksudnya apa, Er di depan, dan Rud yang setir?

Er nurut, dan bergeser ke depan, pegangan di stang, persis kaya anak kecil, yang diajak bapaknya jalan-jalan. Rud naik, dan duduk di jok yang sebelumnya diduduki Er.

Mereka berdua bener2 kaya Bapak dan anak yang mau jalan-jalan! Semua orang yang melihat langsung ketawa.

"Woi, Neng! Naik! Malah bengong," Rud ngomel. "Kan udah dikasih tempat duduk spesial."
Mau gak mau saya naik. Dan diiringi cekikikan orang-orang sekeliling Rud tancap gas sambil nyanyi-nyanyi.

2 orang gila di depan sepertinya menikmati perhatian dari orang-orang yang sepanjang perjalanan ke kos saya  menunjuk-nunjuk sambil tertawa lebar ke arah kami. Sementara saya cuma bisa ngumpet di belakang punggung Rud, berpikir, kok bisa ada orang-orang kaya gini mendatangi saya tanpa ada angin atau hujan.
(bersambung)

original gambar di sini

Read more...

This holiday: Cerita cepat

>> Sunday, April 24, 2011

Bangun karena alarm ponsel TeiGung. Maksa TeiGung bangun. Dia gak mau bangun, saya tidur lagi. TeiGung bangun, saya juga ikut bangun karena suara pintu ditutup. Tidur lagi. TeiGung masuk kamar lagi, saya bangun lagi. Nonton TeiGung berantakin isi lemari karena nyari celana hitamnya. Celana hitam ketemu, saya langsung setrika tuh celana. TeiGung keluar kamar. Sakit perut, tapi masih berusaha nyelesein nyetrika. Sakit perut menjadi-jadi, celana selesai disetrika. TeiGung masuk ke kamar, pakai baju dan celananya. Saya bilang sakit perut. Dia gak bilang apa-apa, langsung keluar kamar. Sakit perut, mungkin mag, kebanyakan makan mi instant. Tidur lagi sambil meremas perut. Bangun lagi beberapa menit kemudian, keluar kamar, dan cari mbok M, minta obat. Gak ada obat--saya gak bisa pakai obat mag cair. Naik lagi ke lantai 2, balik ke kamar, mau tidur lagi. Duduk bersila di atas kasur, tanpa sadar pencet power button espi--netbook saya. Sakit perut nyeri. NGEBLOG.
gambar dari sini
ingin melayang jauh dari bumi


Read more...

Mood: Hei, aku sedang malas!

>> Saturday, April 23, 2011

Today I don't feel like doin' anything I just want to lay in my bed Don't feel like picking up my phone so leave a message at the toneCause today I swear I'm not doin anythingI'm gonna kick my feet up and stare at the fan Turn the tv on throw my hands in my pantsNobody's goin' to tell me I can't I'll be lounging on the couch just chillin in my snuggie Click to mtv so they can teach me how to dougie Because in my castle I'm the freckin' man Oooh yes I said I said it I said it cause I can Today I don't feel like doing anything I just want to lay in my bed Don't feel like picking up my phone so leave a message at the tone Cause I swear I'm not going anything at all... Nothing at... all No I ain't gonna comb my hair cause I ain't goin' anywhere no no no no no noooo I'll just strut in my birthday suit and let everything hang loose 

*Kutipan dari lirik lagu 'Lazy Song' - Bruno Mars.
..................................................................

Lagu ini mewakili perasaan saya beberapa hari belakangan ini
Sumpah, saya terserang 'malas' berat.
Kalau bisa saya tidak ingin melakukan apa pun selain melingkar di atas kasur, sambil nonton tv, nonton dvd atau tidur.
gambar dari sini





Read more...

Kenangan: Kamu terlambat datang, Lita

>> Wednesday, April 20, 2011

TIDAK tahu kapan pastinya saya jatuh cinta pada Al.

Yang saya tahu jantung saya selalu berdebar tidak keruan, kapan pun dia muncul di hadapan saya.

Senyum lepasnya, walaupun tidak ditujukan untuk saya, selalu membuat hati saya berbunga-bunga.
Mata abu-abunya yang berkilat kala menatap, mampu membekukan saya selama beberapa waktu.
Punggungnya yang saya tatap dari bangku kantin setiap makan siang, terlihat begitu lurus; butuh waktu lama untuk saya menghabiskan makan siang setiap hari karenanya.
Lidah saya jadi kelu, sulit berkata, setiap dia duduk di hadapan saya saat dia datang untuk bertanya atau membahas sesuatu. 

Saya jadi aneh, jadi tak berdaya, jadi kikuk setiap berhadapan dengan Al. Dan untuk menutupinya seringkali saya melontarkan kalimat yang kelewat berlebihan kerasnya, sehingga kedengaran seperti orang marah.
Mendengarnya Al cuma bisa senyum-senyum. Saya tidak tahu, apa senyum-senyumnya dikarenakan dia tahu perasaan saya padanya, atau dia sedang memaksa dirinya untuk tidak mamasukkan ke hati kalimat sengit saya.
___________________________

Perasaan yang saya pendam semakin lama semakin besar; mendesak-desak dada, memohon untuk dibebaskan. Meskipun sangat menginginkan Al tahu, saya tetap bertahan tidak mengungkapkan apa yang saya rasakan. Harga diri, posisi dan etika yang menyebabkannya.

Sampai suatu hari... Saya tak bisa menahannya lagi. Saya mengirimkan pesan instant ke ponselnya--dengan nomor ponsel yang berbeda tentunya, agar dia tidak tahu kalau saya yang mengirimkan pesan tersebut.

aku suka senyummu. bagaikan matahari yang mencerahkan hari yang muram. terimakasih telah ada di dunia, dan menyejukkan hati seseorang

Itu bunyi sms pertama saya, dari beberapa sms lainnya. Sinting, memang. Namun setidaknya dengan mengirimkan sms-sms itu, hati saya jadi sedikit lebih ringan. Walaupun setelah pesan itu terkirim, disusul oleh delivery report, dada saya sakit akibat jantung yang sangat deg degan.

Tak pernah sekali pun Al, membalas sms-sms itu. Dan saya pun tak ingin dia membalasnya.

Sikap Al pada saya biasa-biasa saja, menandakan dia tidak mencurigai saya. Meskipun lega, namun sebenarnya saya ingin sekali dia tahu. Sms-sms itu sudah tak cukup lagi buat saya.
__________________________

Tahun baru...

Saya ketinggalan flash disk, dan kembali ke kantor malam hari; kira-kira jam 9 malam waktu itu.
Saya masuk lewat pintu karyawan, dan naik ke area dimana Al bekerja--untuk sampai ke ruang kantor, saya harus melalui beberapa area, termasuk area kerja Al. Sudah sedikit sepi, tampaknya anak buah Al sedang saling mengucapkan selamat tahun baru dengan rekan-rekan mereka yang bekerja di hall depan.

Ketika saya lewat kantor Al, ternyata dia masih ada. Entah apa yang membuat saya memberanikan diri berbelok ke kantornya, yang saya tahu saya berjalan pelan, dan berdiri, bersandar di ambang pintu ruangannya.

"Hei," dia menyapa. "You're back."
"Ya. Flash disk. Ketinggalan," kata saya, masih bersandar, sambil memandangnya berdiri di belakang meja.

Al dengan pakaian seragamnya selalu kelihatan begitu menawan, begitu pun malam itu.
Dia tampak bersinar dengan baju putihnya. Senyum simpulnya membuat perut saya hampa. Kepala saya jadi serasa dikerubungi banyak semut. Ingin sekali saya menyentuhnya.
What kind a girl are you, Lita?

"Al..." saya berkata pelan--saat itu saya benar-benar memaksa diri saya mengatakan perasaan saya padanya.
"Ya..."
Saya benar-benar pengecut. "Nggak." Saya nyengir. Urung bicara.
Alis Al mengernyit. Kali ini ekspresinya curiga.
"Udah ya. Mau ke office."
Saya setengah berlari meninggalkan ruangannya.
_____________________________

Aku ingin melihatmu sekali lagi, sebelum tahun berganti tengah malam nanti. Ingin mengatakan kalau aku jatuh cinta padamu, dan berharap kau dapat memberikanku sebuah pelukan kecil sebagai bingkisan tahun baruku. Tapi ternyata, hal itu sungguh tak mudah untuk kulakukan. Meskipun begitu, aku sudah sangat senang dapat melihat wajahmu di malam terakhir bulan Desember ini. Happy New Year.
Saya mengirimkan sms terakhir saya dari kantor. Bersandar di kursi kerja, sambil menunggu 'delivery report'.
Saat akhirnya delivery report datang, dan saya bersiap mematikan ponsel saya, nada dering yang amat keras mengalun nyaring di dalam ruangan.

Mata saya membeliak ketika melihat nama si penelepon. Al.

Pintu kantor didorong dari luar. Al masuk dengan satu tangan di telinga, memegangi ponselnya.
Karena kagetnya, bukannya cepat-cepat mematikan ponsel saya yang menjerit-jerit, saya malah bengong memandangi Al menyusuri ruangan. Menghampiri saya.

Oh, God...

Al mematikan ponselnya, dan lagu "If You Believe" dari ponsel saya berakhir mendadak.
Al berdiri di depan meja saya, memandangi saya dengan kepala dimiringkan. Bibirnya melengkungkan senyum. Kepalanya menggeleng sedikit. Sementara saya... gemetaran.

"Jadi kamu yang kirim semua sms itu?" Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya, setelah puas memandangi wajah merah saya.

Saya tidak bisa menjawab. Bibir saya seperti direkat oleh lem yang super kuat, sehingga tidak memungkinkan saya bicara.

"Nice words..." kata Al, tersenyum manis. Senyum yang menenangkan sekali--sebenarnya. "I'm flattered."

Saya benar-benar malu. Muka saya panas. Ketakutan, cemas--saya membodohi diri sendiri. Tak satu pun kata yang bisa saya keluarkan untuk menimpali kata-kata Al.

Saya berdiri, dan bergegas pergi. Saya tidak mau menunjukkan muka tolol saya lama-lama di depan Al.
Senyum manis yang biasanya membuat saya terkesima, malam itu terlihat seperti senyum mengejek.

Saat saya melintas di sebelah Al, tiba-tiba dia menarik tangan saya. Bukan hanya tangan, tapi seluruh tubuh saya. Dia... memeluk saya.

"Ini kado Tahun Baru-mu," dia berbisik, sementara saya sudah berurai air mata. "Tapi cuma ini saja yang bisa aku berikan," lanjutnya lagi, masih berbisik. "Perasaanku sama denganmu... tapi kamu terlambat datang, Lita."
____________________________

Tidak ada yang terjadi di antara kami malam itu. Tak ada kata cinta yang terlontar, tak ada ciuman yang menyentuh. Selama beberapa menit, saya dan Al hanya berpelukan, sampai akhirnya, dia melepaskan pelukannya, dan pergi keluar ruangan tanpa mengatakan apa pun. Meninggalkan saya sendirian.
Ketika saya pulang, melewati area kerjanya, Al sudah tak ada. Dia sudah pulang.

Hati saya sangat sakit malam itu, namun  juga bahagia, karena perasaan tak menentu yang telah beberapa bulan saya rasakan, sudah tak ada lagi. Pelukan Al menjawab semuanya.
Saya bahagia, dapat menyentuh Al, dan merasakan hangat tubuhnya, untuk pertama dan terakhir kalinya.
gambar dari sini
The night only we know...











Read more...

Meninggalkan Jakarta (1999) -- Tidak ada manusia yang benar2 baik, Lita

>> Tuesday, April 19, 2011

AWAL tiba di Bali, saya merasa kebas.
Sedih dan aneh rasanya hidup jauh dari orang tua yang biasanya selalu ada untuk melindungi saya setiap waktu, dan harus tinggal bersama salah satu kerabat papa yang tidak begitu saya kenal.
Kendati begitu, saya harus kuat dan berani. Saya telah memilih untuk hijrah ke Bali untuk kuliah, dan saya harus menghadapi apa pun yang menghadang di depan kelak--kira-kira begitu janji saya pada diri sendiri... dulu.

Kerabat papa membantu saya mencarikan tempat kos untuk saya tinggal, dan begitu hari pertama ospek, saya mulai tinggal di sana.
Untungnya mama datang ke Bali menemani saya seminggu selama ospek, sehingga hati saya tenang dan agak terhibur--thanks, Mum. Membantu saya menyediakan dan menyelesaikan tugas2 absurd yang diberikan para senior menyebalkan, serta selalu membantu saya bangun pagi, mengepang rambut saya, yang selama ospek harus dikepang seratus--gosh!

Ketika ospek selesai, mama pulang ke Jakarta, dan saya benar-benar mulai hidup sendiri.
Dan sendirian untuk pertama kalinya di tempat yang jauh, tanpa pengawasan ketat papa mama, dengan sifat naif khas remaja yang baru lulus SMU, tentunya membuat saya rentan bahaya; bahaya terpengaruh gaya hidup bebas yang dianut sebagian besar teman-teman baru saya.
Untungnya doktrin mama yang sangat kuat sedari kecil mengenai hal2 tabu yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan, terus menjerit di kuping saya, dan membuat saya takut untuk melakukan sesuatu yang di luar batas.

Hey, I'm an old-fashionist, and I'm okay with that.

Bulan2 pertama kuliah, semua berjalan baik dan lancar. It's like a perfect beginning for a new comer to begin. Saya berteman dan berkenalan dengan banyak orang baru, mulai dari teman sekelas, teman satu jurusan, teman-teman lain yang tidak sejurusan, kakak kelas, dosen-dosen dan lain sebagainya.

Saya menikmati setiap mata kuliah yang diberikan. Merasa optimis, dan berpikir kalau sekolah pariwisata itu adalah keputusan yang terbaik yang pernah saya buat. Bahkan saya menolak kembali ke Jakarta, ketika pengumuman kelulusan UMPTN keluar, dan nama saya ada di daftar calon mahasiswa yang diterima di Universitas Negeri--bodoh memang, tapi percuma kalau menyesal sekarang.
Lagipula andaikan saya ngotot meninggalkan Sekolah Pariwisata, dan mendaftar ulang di Universitas Negeri, Papa pasti tidak akan mau membayarkan biaya masuk ke universitas negeri tersebut.
That's my Dad...

Semester 1 saya lewati tanpa kendala, dengan saya yang masih murni diri saya seperti pertama datang dari Jakarta. Sempat liburan semester ke Jakarta, berkangen-kangenan dengan orang tua dan adik saya.

Keceriaan saya masih benar-benar murni gadis bau kencur saat itu.

Masuk semester 2, itulah awal hidup saya. Awal saya mempelajari, bahwa manusia, sebaik apa pun tidak pernah akan bisa dipercaya 100 persen. Dan orang yang bisa dipercaya belum tentu baik. Semester 2 adalah awal saya menyadari bahwa dunia yang sebenarnya begitu keras dan kejam, dan cara kita menyikapinya bukan dengan emosi meletup-letup, melainkan dengan pasrah dan tabah.
...........................................

Seorang perempuan berdarah Bali-Ambon, mendadak mendekati saya awal semester 2. Dia, Pe (sebut saja begitu), tidak banyak bicara pada saya sepanjang semester 1, jadi saya tidak pernah terlalu memerhatikan dia.
Tapi beberapa hari belakangan, Pe sering berkunjung ke kos saya. Bercerita tentang keluarganya yang kacau balau, tentang penderitaan dirinya akibat ulah salah satu anggota keluarganya; dia menceritakan semuanya tanpa diminta.

Kasihan, memang. Tapi saya tidak terlalu menggubrisnya. Hanya menganggap kalau dia hanya butuh teman curhat untuk beberapa waktu sampai hatinya membaik. Namun pada suatu malam, ketika dia mengajak saya makan di PKL (Pangkalan Kaki Lima), dia mengatakan sesuatu yang membuat saya terenyuh.

"Lit, lo mau kan jadi sahabat gue?"

Kalau saya yang sekarang, mendengar kalimat itu terlontar dari mulut seseorang, tentu hanya akan menganggap angin lalu, dan hanya akan menjawab, "Gue kan emang udah temenan ma lo."
Tapi saya yang waktu itu begitu terharu, mendengar seseorang meminta saya jadi sahabatnya.

**Bagi saya sahabat adalah teman terbaik yang selalu ada dan bisa diandalkan, seperti halnya sahabat-sahabat Carry (sarah Jessica Parker) di film Sex and The City.**

Tanpa pikir-pikir saya langsung mengiyakan. Apalagi dengan kata-kata tambahan, "Kita sobatan sampai tua, ya?" dari Pe, membuat saya bertambah yakin akan keputusan saya.
Saya sama sekali tidak menyangka, persahabatan kami adalah kehancuran hidup saya ke depan.
......................................................

Berteman dengan Pe, memang menyenangkan pada mulanya. Orangnya sangat seru, suka tantangan, cuek dan berani, sementara kadar seru, ekstrim, cuek dan keberanian saya, jauh lebih sedikit daripada dia.

Kami sering sekali jalan-jalan larut malam sampai dengan pagi buta, ngobrol di pantai, atau kumpul-kumpul di rumah teman Pe, yang juga berasal dari Ambon, dan pulang keesokan paginya dengan mata segaris, dan langsung melempar diri ke kasur; tidur seharian.
Hal itu tidak sekali pun pernah saya lakukan di Jakarta, dan di Bali, bersama Pe, saya merasa sah-sah saja melakukan itu.

Pe merubah saya sedikit demi sedikit.

Pe senang mengejek, senang menyindir, atau menghina orang lain secara langsung mau pun tidak langsung, tanpa repot-repot berpikir, orang yang menjadi objek penderita akan tersinggung atau tidak.
Pe juga gemar menyebarkan gosip tentang orang lain yang belum tentu benar, apabila dia tidak suka pada orang lain itu.
Meskipun tidak ikut andil, namun saya tertawa setiap dia melakukan aksinya, seolah mensuportnya. Dan jujur, terkadang saya ikut menimpali. Saya sama sekali tidak berpikir, kalau dia juga bisa memperlakukan saya seperti dia memperlakukan korban-korbannya. Dia kan sahabat saya, begitu saya berpikir.

Bergaul dengan Pe juga membuat saya tahu, kalau di Bali, selain kasta tinggi, orang dihormati dari materi yang dia punya, kendaraan yang mereka bawa, baju yang mereka pakai, benda-benda bermerk yang melekat di badan mereka, serta apa yang keluarga mereka punya; hotel, supermarket de el el.

Urusan materi dan prestise jadi membuat saya mulai tak nyaman dengan diri saya. Melihat dan mendengarnya bicara mengenai teman-teman sekampus yang kaya raya, dan apa yang mereka pakai, membuat saya jadi tidak percaya diri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa ada di tingkat paling bawah di dunia. Marah, ketika Papa menolak mentah-mentah untuk membelikan saya HP.

"Tidak ada gunanya," katanya. "Kamu gak butuh."

Dan Papa benar, saat itu saya memang belum membutuhkannya. Sayangnya saat itu, sifat kekanak-kanakan dan manja saya masih begitu besar. Saya jadi depresi, karena ketakberadaan barang-barang mahal di sekeliling saya. Memalukan kalau diingat-ingat.

Untuk hal ini, saya tidak menyalahkan Pe. Karena perubahan diri saya itu, saya sendiri yang memicunya. Tidak dapat mengendalikan diri, itu kelemahan saya saat itu.

Sementara proses perubahan di diri saya berlangsung, saya pun menyadari bahwa Pe ternyata sedang memanfaatkan saya dengan alasan persahabatan.
Kalau dipikir-pikir tidak pernah sekali pun dia menunjukkan rasa bersahabatnya pada saya. Dia tidak pernah mendengarkan curhat saya, malah selalu meledek. Sementara saya harus selalu siap menjadi penyeka air matanya kapan pun hatinya sedang sedih.
Tanpa malu-malu dia meminta traktiran, meminjam barang, atau apa pun dari saya demi kepentingannya sendiri yang saya berikan tanpa berpikir negatif sedikit pun.
Meskipun sebal, namun karena rasa sayang saya padanya, saya tetap baik padanya, Memercayainya begitu besar. Menepis semua prasangka2 yang melintas di kepala saya. Dia sahabat saya, gumam saya dalam hati. Saya tidak boleh berpikir seperti itu.
.............................................................................

Beberapa waktu setelah itu, ada sesuatu yang berubah yang saya rasakan.
Tanpa diketahui penyebabnya, teman-teman sekelas saya mendadak menjauh, termasuk Pe. Kalau saya duduk di depan di kelas, mereka duduk di belakang. Kalau saya duduk di belakang, mereka duduk di depan. Dan, tak ada lagi yang repot-repot bicara pada saya. Mereka tampaknya lebih senang berbincang dengan Pe.
Saya dikucilkan.
Berbalik 180 derajat dari sebelumnya.

Pe pun mulai melontarkan sindiran untuk saya. Bicara yang aneh-aneh di baris belakang yang masih dalam jangkauan pendengaran saya. Benar-benar menyakitkan, apalagi saya tidak tahu alasan perubahan sikapnya; apa salah saya padanya. Saya benar-benar tidak tahu.
Untungnya saat itu, saya sudah punya pacar, Cloud, yang setia mendampingi saya. Jadi saya masih bisa cuek dengan sikap mereka. Menelan bulat2 segala sindiran dan hinaan yang dia lontarkan, berusaha fokus pada kuliah, dan menghabiskan waktu bersama Cloud dengan jalan-jalan sepulang kuliah.

Suatu hari saat saya dan Cloud main ke tempat kos seorang teman sekelas, dan tak sengaja dia menyinggung soal kondisi saya di kelas. Saya bilang saya tidak tahu, dan ujung-ujungnya malah dia yang memberitahu apa alasannya, lengkap dengan siapa yang mengomporinya.
Orang itu tak lain adalah Pe, orang yang saya anggap sahabat, saya percaya, telah menikam saya dari belakang. Habis-habisan.


Dia memutar balikkan fakta, bahwa sayalah orang yang suka bergosip. Saya yang senang menjelek-jelekkan orang lain. Dia membela diri, bahwa semua kata-kata hinaan dan sindiran yang pernah dia lontarkan pada seseorang, tak lain untuk menyenangkan hati saya, karena tidak suka pada orang tersebut.
Ternyata, selama masa bersahabat dengan saya, Pe berkeliling ke seluruh kos teman-teman sekelas, untuk menyebarkan fitnah--ditambah cerita sedih tentang keluarga dan dirinya untuk membuat orang mengasihaninya. Menceritakan sifat atau kebiasaan buruk saya--pokoknya dia menghina saya di belakang punggung saya. Menertawakan saya.

Sakit dan hancur sekali saya saat itu.

Ya, Tuhan...
Dia membalas semua rasa sayang saya dengan cara itu. Apa salah saya padanya? Sampai sekarang saya benar-benar tidak tahu.

Tidak ada yang bisa saya perbuat. Mau mendamprat Pe atau membela diri sudah tidak bisa, karena Pe, entah bagaimana caranya telah menguasai mereka semua. Dan saya malas bertengkar.
Saya hanya bisa diam; menahan semua sakit itu sendiri. Menerima sindiran dan hinaan teman-teman saya dengan sabar, walau pun suatu hari akhirnya apa yang saya pendam meledak juga karena ketidakstabilan emosi saya, dan malah berujung amat buruk daripada sebelumnya
...................................................................................
Dua kali sudah Pe mengkhianati saya semasa kuliah, dan saya tetap memaafkannya.
Yang ketiga kali, malah menyebabkan saya hengkang dari kampus, karena tidak kuat lagi menahan sakit di hati.
Saya terkena Bipolar--maniac depresi, yang membuat saya seringkali berpikir untuk bunuh diri, terutama ketika Cloud memutuskan saya, karena sudah tidak tahan dengan diri saya, yang sejak bermasalah dengan Pe, menjadi sangat ketergantungan, terus2an sedih, dan terkadang bersikap seperti layaknya orang gila--bengong seharian, dan tidak lagi fokus pada kuliah.

Sungguh memori yang tidak ingin saya ingat dan diungkapkan, sebenarnya. Namun saya berusaha untuk jujur pada diri sendiri, dan sebagai pengingat kalau sebaik apa pun saya sekarang, masa-masa kelam pernah meredupkan hidup saya. Dan saya tidak boleh menyesal, karena dengan adanya masa itu, saya menjadi orang yang lebih dewasa daripada sebelumnya. Lebih bisa memilah apa yang baik, dan apa yang buruk.
Meskipun tidak seratus persen, setidaknya saya lebih bisa mengendalikan diri daripada di masa lalu.
----------------------------------------------------
Saya bersyukur, orang seperti Pe, pernah muncul dalam kehidupan saya. Secara tidak langsung dia mengajarkan saya arti hidup, dan membuat saya keluar dari dunia mimpi yang penuh kesenangan semu.

(bersambung)

Saya masih berteman dengan Pe sampai sekarang. Kami saling menyapa lewat fesbuk. Dia telah menikah dengan orang asing, dan memiliki satu anak, dan tak lagi tinggal di Indonesia. Tak pernah sekali pun kami menyinggung hidup kami beberapa tahun lalu, dan saya berusaha tidak mengingat apa yang pernah terjadi di antara kami. Lebih baik tidak usah.

gambar dari sini
I will never look back. I'm at my peace now.

Read more...

Kenangan: Meninggalkan Jakarta (1999)

>> Sunday, April 17, 2011

TAHUN 1999, saya adalah seorang gadis yang baru saja lulus SMU--SMU 62 Jakarta Timur tepatnya, dan sedang bingung-bingungnya memilih universitas, Sekolah Tinggi, Akademi atau apa pun yang sederajat untuk melanjutkan studi. 

Saya sempat berpikir untuk melanjutkan ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta), mengambil jurusan seni tari, peran, atau apa pun, demi menyalurkan bakat seni yang ada di diri saya--anehnya kok saya gak kepikiran Satra Indonesia. Namun, ketika saya bicara pada Papa mengenai rencana itu, dia berkata kalau dengan berkuliah di sana, masa depan saya buram; tidak pasti, dan papa mengancam tidak akan membiayai kuliah saya kalau saya tetap ngotot kuliah di IKJ.
Saya pun mengalah. Menepis keinginan saya itu, dan kembali mencari-cari (dengan panik) universitas yang cocok dengan kemampuan dan hati saya, dan jujur saja... tidak ada satu pun. The point is I was lost!
Sempat memutuskan untuk jadi pramugari, tapi lagi-lagi papa saya mengatakan kalau tidak ada gunanya jadi orang yang tidak bertitel--Ir., Dr., SH, de el el, kalau mati tidak bisa diukir di batu nisan. (Sumpah, kalau saya yang sekarang yang ada di posisi saya di tahun itu, saya akan nekat; tidak peduli ).

Sampai akhirnya seorang paman merekomendasikan sebuah Sekolah Tinggi Pariwisata di Bali. Mengatakan kalau sekolah tersebut adalah sekolah pariwisata terbaik, yang mencetak calon orang-orang sukses di bidang perhotelan dengan gaji fantastis. 
Saya dan orang tua pun tertarik. Apalagi semua anak paman saya berkuliah di Sekolah itu, dan mereka semua sukses2. Jadi mulailah saya dan orang tua mencari informasi tentang sekolah itu.

Saya baru sadar beberapa tahun setelahnya, kalau mereka bukan sukses di perhotelan, melain di kapal pesiar. Itu pun tidak bisa dibilang sukses, karena di kapal pesiar mereka hanya waiter bukan seseorang yang memiliki posisi penting, dengan gaji yang kalau dihitung ke rupiah memang berjumlah fantastis.

Akhirnya setelah semuanya mantap, berangkatlah saya ke Bali bersama Mama untuk mengikuti tes tulis, serta menyerahkan berkas-berkas persyaratan masuk Sekolah Pariwisata tsb. Itu pun tidak bisa lama-lama, karena setelah tes tulis dan penyerahan berkas selesai, saya dan Mama harus segera kembali ke Jakarta, agar saya bisa mengikuti tes UMPTN yang dihelat beberapa hari setelahnya. 

Ternyata pengumuman lulus seleksi Sekolah Pariwisata datang lebih dulu daripada UMPTN. 
Takut tidak diterima di Universitas Negeri, saya pun memutuskan untuk menjawab panggilan Sekolah Pariwisata di Bali dengan restu papa dan mama. 

Bulan Agustus 1999, saya pun meninggalkan Jakarta, tanpa membayangkan sama sekali kalau hidup saya yang sesungguhnya dimulai hari itu.
gambar dari sini
(bersambung)











Read more...

O--My--God! Apa dia mati?

>> Saturday, April 9, 2011

KEJADIAN yang amat mengguncang terjadi malam ini, di ruang keluarga rumah suami saya.
Seorang dokter panik luar biasa, ketika pasien yang baru saja disuntik vaksin olehnya, mendadak lemas dan ngompol.
Suasana ruang keluarga yang tadinya riuh mendadak sunyi menegangkan, ketika si pasien diam tak bergerak di lantai dengan posisi tengkurap.
Semua panik, si Dokter pun (berusaha tidak) panik.

Si Dokter, yang adalah adik sepupu saya, mencoba mengangkat si pasien dan mengguncang-guncangnya, berharap si pasien mengeluarkan dengkur atau suara apa pun yang menandakan kalau dia masih hidup.Tapi pasien itu bergeming. Terkulai lemas.

Apa dia mati? Pikir saya. Atau akan mati? Apa mungkin dia pingsan?

Saya melihat kecemasan di raut muka adik sepupu saya itu.
Sepertinya dia kebingungan, bertanya-tanya, apa yang membuat pasien itu jadi lemas? Padahal baru berselang beberapa detik obat cair disuntikkan ke tubuhnya.
Saya melihatnya mengambil kotak karton vaksin yang telah dibuangnya ke tempat sampah. Mengernyit membaca tanggal kadaluarsanya.

"November 2012 kok, kadaluarsanya," dia memberitahu semua orang, Kedengaran lega, namun tetap resah. "Apa masalahnya kalau begitu?"

Saya, dan semua orang yang ada di sana sementara itu, berusaha membangunkan pasien yang pingsan itu. Tapi sia-sia, dia tampaknya terlalu lemas untuk membuka mata.

Adik sepupu saya kemudian menelepon seseorang; seniornya. Bercerita dengan nada santai (tetap, berusaha tidak kelihatan panik) perihal 'lemasnya sang pasien setelah diinjeksi'. Keduanya berbincang selama beberapa detik mengenai hal tersebut diiringi celotehan cemas dari saya dan yang lainnya.

Kami semua berharap agar pasien itu baik-baik saja. Cepat sadar dari pingsannya tanpa kurang suatu apa pun, agar adik sepupu saya tidak kena masalah.

"Air gula?" adik sepupu saya berseru.
Sepertinya seniornya menyarankannya untuk meminumkan air gula kepada si pasien, untuk menetralisir (kemungkinan) keracunan vaksin di badannya.
Tanpa babibu, salah satu dari kami mengambil wadah untuk membuat air gula.
Memang harus cepat, kalau tidak mau ada yang mati di dalam rumah.
Tapi, belum air gulanya selesai dibuat, si pasien membuka mata.

"Dia sadar!" saya berseru girang, sementara si pasien mengejap-ngejapkan mata.

Bukan saya saja yang girang, tapi juga yang lain, termasuk adik sepupu saya, yang ekspresinya langsung lega.
Dia pun menjelaskan kepada kami semua kenapa pasien itu bisa mendadak lemas setelah mengkonsumsi vaksin tersebut--tidak perlu saya ceritakan, karena dia bicara dalam bahasa medis, yang di telinga saya kedengaran bagai bahasa anglo-saxon *hihi*

Intinya, si pasien selamat, tanpa kurang suatu apa pun, dan kembali heboh seperti sebelumnya.
Berjalan ke sana ke sini--bahkan ngaca di cermin besar di ruang keluarga, sambil menggoyang-goyangkan bokong.
Dia benar-benar tidak tahu, kegentingan situasi di antara kami semua ketika dia black-out.
Cuek, dan tidak mau tahu.

Tapi... tetap harus disyukuri, si pasien akhirnya bangun, tidak mati seperti yang saya kira sebelumnya.
Karena bila dia mati, reputasi adik sepupu saya akan jatuh sebelum benar-benar jadi Dokter.
Belum lagi harus merogoh kocek lumayan dalam untuk mengganti 'wujud' si pasien dengan yang baru.
...
Brownie beberapa detik sebelum black-out (masih sempet pose kiyut)
gejala black-out Brownie
Brownie black-out
.................

Saya sudah bilang kan, kalau adik sepupu saya itu Dokter Hewan?

Read more...

Kenangan: First Love

>> Friday, April 8, 2011

PERTAMA KALI SAYA jatuh cinta--benar-benar jatuh cinta itu waktu saya duduk di kelas 2 SMP.
Cinta pertama? Ya. Itu cinta pertama saya.

Nama cowok itu Bi--sebut saja begitu, adalah cowok yang sebelum menyatakan perasaannya pada saya, tidak saya kenal sama sekali.
Satu tahun sebelum dia menyatakan perasaannya, dia benar-benar 'invisible'. Mata saya tidak pernah melihat dia, meskipun (ternyata) dia adalah salah satu cowok populer di sekolah. Apalagi kami beda kelas.

Jadi... ketika akhirnya dia 'nembak' saya awal kelas 2, saya kebingungan. Satu, bingung karena tidak kenal dia, yang kedua bingung dengan surat yang berisi pernyataan cintanya *tolong deh*, yang tidak mencantumkan nama pengirim, plus bahasanya acak kadut yang dia taruh di laci meja saya.
Kata-kata di suratnya kira-kira begini:


Kepada: Lita
Hei, Lita.
Aku suka sama kamu.
Lo mau gak jadi pacar gw?

Salam 
Setelah membaca, saya berpikir, kalau orang yang mengirim surat itu pasti nilai Bahasa Indonesianya pas-pasan daaaan tidak punya romantic sense--masa 'nembak' cewek gak ada mendayu-dayunya sama sekali *hehheh*, dan sepertinya dia juga tidak pernah tahu tata cara menulis surat, karena tidak merasa perlu untuk mencantumkan nama.
Karena aneh, surat itu saya anggap angin lalu--meskipun saya simpan juga (toh itu surat cinta pertama saya; membuktikan keeksisan saya di mata cowok-cowok saat itu *tuing!*), tidak saya pedulikan sama sekali. Tapi karena teman-teman saya heboh bertanya mengenai surat itu, akhirnya saya penasaran, but, tetap tidak berusaha cari tahu jati diri si pengirim itu. 

Sampai akhirnya pada hari Sabtu (saya ingat, karena waktu itu saya pakai seragam Pramuka), salah satu teman si Bi, mengatakan agar saya tidak langsung pulang pulang sekolah nanti--dalam artian, saya disuruh jalan pelan-pelan (konyol banget ya?) Saya oke-oke saja, karena saya berpikir temannya itu yang mau ngobrol sesuatu sama saya, bukannya si Bi. Dan ternyata... setelah menunggu beberapa menit, munculah dia; si pengirim surat, yang adalah Bi.

Hari itu saya dan Bi 'jadian'; tanggal 1 Juni 93.
Walaupun saya benar-benar tidak kenal dia sebelumnya, tidak tahu siapa dia sebenarnya, seperti apa dia sebenarnya, saya menerimanya sebagai pacar pertama saya. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat saya  menjawab 'ya', ketika dia bertanya, "Lo mau jadi pacar gue?"

**

Sejak itu, bersama Bi, saya mengeksplor dunia remaja yang penuh warna. 
Ribuan perasaan yang tak pernah saya kenali sebelumnya muncul satu per satu karena Bi. Saya tahu apa artinya 'berbunga-bunga' yang biasa ditulis cerita roman, kapanpun tangannya menggenggam tangan saya. Saya merasakan kerinduan yang menyakitkan, ketika mata saya tidak melihatnya dalam satu hari. Saya merasa sedih yang membuncah setiap kali kami bertengkar, dan saya merasakan luapan cemburu saat melihat dia berduaan dengan cewek lain. Saya meledak, menguncup, gemetar, karena Bi.

Saya... menjadi perempuan yang benar-benar perempuan karena dia; ingin selalu kelihatan cantik, lembut, de el el, untuk membuat dia selalu memerhatikan saya.
Dan Bi... adalah orang pertama yang menyentuh bibir saya.

Hubungan yang dikategorikan 'cinta monyet' itu berlangsung hampir dua tahun--bukan waktu yang sebentar, dan tidak pernah saya anggap cinta monyet, karena saya benar-benar mencintai Bi, begitu pun dia.
Saya meyakini itu, karena ketika akhirnya kami putus--entah karena masalah apa, melanjutkan pendidikan ke SMU yang berbeda, meneruskan hidup kami dengan orang yang lain, dan akhirnya bertemu kembali beberapa tahun setelahnya, rasa itu tetap ada. 

Jantung saya tetap berdebar kencang begitu dia muncul di hadapan saya, dan tangannya tetap berusaha meraih tangan saya ketika kami duduk bersebelahan. 
Api itu tidak redup sedikit pun.

***

Selepas SMU, kami benar-benar terpisah; jarak dan waktu. Saya kuliah di Bali, dan Bi kembali ke Jakarta, setelah tiga tahun menghabiskan masa SMUnya di sebuah kota di Jawa Tengah. Saya atau pun dia tak lagi bertukar kabar. Sampai tahun 2000an, ketika saya kembali ke Jakarta dalam rangka liburan.

Saya tidak ingat awal mulanya kami bisa bertemu kembali. Yang pasti, kami bertemu, saling menelepon, berbincang seperti halnya teman lama, tersenyum, tertawa, kemudian... entah bagaimana, bibir kami bersentuhan lagi.
Peristiwa itu membuat kami berdua bahagia sekaligus sedih luar biasa, karena saat itu, kami telah memiliki pasangan serius (yang sekarang ini telah menjadi pasangan hidup kami masing-masing) yang kami cintai, dan tidak mungkin kami tinggalkan.
Api yang selalu menyala itu, harus kami redupkan untuk mereka.
Cinta pertama itu... harus berakhir. Saat itu. Dan memang berakhir.

Sekarang, Bi telah menikah dan memiliki dua anak.
Dia seperti yang telah saya perkirakan, menjadi seorang pria dewasa yang menyayangi keluarga. 
Saya tersenyum melihat foto-fotonya bersama istri dan anaknya yang terpampang di salah satu situs jejaring sosial, dan berharap dia selalu bahagia.

***

Rosemary Rogers First romance, first love, is something so special to all of us, both emotionally and physically, that it touches our lives and enriches them forever.

gambar dari sini

Read more...

The Devil's Eyes: 14th Chapter

>> Thursday, April 7, 2011

14


“NALI… Bangun, Nali. Nali!”
Aku tersentak, terbangun dengan panik. Dan merasa sangat kaget melihat Rati berjongkok di hadapanku. Kedua alisnya mengernyit kuat. Ekspresi wajahnya luar biasa cemas.
“Ra-Rati…?” kataku lemah, menatapnya bingung.
Aku memandang berkeliling—(ternyata aku masih berada di dalam toilet)—dan langsung terlonjak melihat Ester dan ketiga temannya sedang duduk berjejer di lantai dalam berbagai pose. Tampang keempatnya tanpa ekspresi. Bengong seperti orang yang kena hipnotis. Ada lebam dan luka gores banyak sekali di wajah dan beberapa bagian tubuh mereka. Bahkan bagian depan kaus yang dipakai Dian sobek, besar sekali. Tapi Dian sama sekali tidak bersusah payah menutupi bra hitamnya yang terpampang bebas, walaupun ada Jyotis berjongkok di depannya—Jyotis? Kenapa dia di sini? Tanyaku dalam hati. Merasa bingung.
“Dia perlu memodifikasi ingatan mereka,” kata Rati cepat-cepat, seolah menjawab pertanyaan yang melintas di benakku. “Kalau tidak, mereka bisa mengatakan pada semua orang tentang apa yang terjadi di sini barusan,” dia berkata lagi, sementara aku mendesah tak mengerti. “dan apa yang akan mereka ceritakan bisa membahayakan dirimu.”
“A-apa… ma-maksudmu, Rati?” tanyaku dengan suara parau. Aku sama sekali tak mengerti sepatah kata pun yang diucapkannya. “Me—memangnya apa yang terjadi barusan?”
Rati mengembuskan napas perlahan dan berkata, “Lihat saja apa yang telah kau lakukan pada mereka.” Dia memalingkan wajahnya ke arah Ester, Dian, Cherry dan Selly.
“Apa yang kulakukan?” tanyaku kebingungan, memandang keempat gadis tersebut, dan merasa tertarik melihat Jyotis yang sedang menyentuhkan tangan kanannya yang terbalut perban hitam ke masing-masing puncak kepala mereka.
“Kau yang menyebabkan luka dan lebam di tubuh mereka,” jawab Rati cepat, menatapku kembali.
Mulutku menganga tak percaya. Membulatkan kedua mataku pada Rati yang mengangguk-anggukan kepalanya yang cantik, seolah menegaskan.
“Ti—tidak mungkin,” aku menyangkal, menggeleng-gelengkan kepala. Menggerakkan mataku bergantian dari Ester CS ke Rati berulang-ulang. “Aku… tidak merasa melakukannya—aku bahkan tidak sanggup memukul siapa pun. Sedikit pun. Ja—jadi… bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku yang melakukannya?”
Aku merasa panik sekali. Aku benar-benar ketakutan. Aku yakin bukan aku yang melakukannya. Aku kan pingsan.
“Kau memang pingsan,” Rati bicara buru-buru, sekali lagi membuatku bingung, karena dia menyahuti apa yang sedang kupikirkan sedetik lalu. “tapi… sesuatu yang menguasai matamu, tidak.”
“Aku tidak mengerti…” kataku, sekarang merasa benar-benar sangat bodoh.
“Sebaiknya kita cepat pergi dari sini,” kata Rati buru-buru, berdiri dari lantai, seraya memegang lenganku dan menarikku berdiri. “Sebelum ada orang yang datang.” Dia menoleh ke arah Jyotis yang sekarang telah berdiri, sementara keempat gadis di depannya masih duduk di lantai. Masih bengong. “Kau sudah selesai?” Rati bertanya pada Jyotis, yang segera mengangguk, dan tanpa mengatakan apa-apa lagi segera berpaling. Berjalan ke arah pintu, dan tak lama kemudian telah menghilang di baliknya.
“Ayo, Nali. Kita juga harus pergi,” Rati mengajak, menarik tanganku, setelah sebelumnya menyambar tasku yang masih bertengger di puncak wastafel, dan memberikannya padaku.
Kami berdua kemudian berjalan bersisian menuju pintu keluar.
“Bagaimana dengan mereka?” aku bertanya, menganggukkan kepala ke arah Ester CS. yang kelihatan aneh sekali dengan pose kaku dan tanpa ekspresi. “Apa mereka akan terus begitu?”
“Jangan cemaskan mereka. Begitu kita keluar dari sini, mereka akan sadar dan akan kembali seperti semula,” kata Rati.
Aku baru saja akan membuka mulut lagi untuk bertanya apa yang akan terjadi bila mereka melihat luka dan lebam di sekujur tubuh mereka, tapi Rati keburu bicara lagi. “Jyotis sudah menanamkan ingatan kalau luka-luka timbul akibat perkelahian mereka sendiri, karena rebutan cowok… Entah cowok yang mana.”
Setelah itu tanpa menghiraukan bibirku yang membuka menutup ingin kembali melontarkan pertanyaan, Rati kembali menarikku tanganku, mengajakku keluar dari toilet.
Rati menggiringku berbelok ke kanan, dan berjalan bersisian menyusuri koridor ramai. Semua mata langsung memandang dengan tatapan yang tak dapat dimengerti ke arah kami berdua. Aku sendiri sudah dapat menebak apa yang ada di benak masing-masing orang kala melihat kami. Mereka pasti sedang membanding-bandingkanku dengan Rati. Dan mengasihani atau menertawakan diriku yang kelihatan sangat menyedihkan di sebelah Rati yang luar biasa cantik.
“Jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri, Nali,” Rati berbisik, menatapku sekilas. “Kau cantik. Sayangnya kau tidak tahu.”
Ini sudah kesekian kalinya, dia berkata sesuatu yang seakan menjawab apa yang ada di pikiranku. Bagaimana dia bisa? Apa dia bisa baca pikiran?
“Ya, aku bisa membaca pikiran,” kata Rati, kali ini benar-benar menatapku. Kedua mataku langsung membundar keheranan. “Dan bukan aku saja, tapi saudara-saudaraku juga.”
“Eh?” kataku terkejut.
“Ya. Kami, para Tanu, memang memiliki kemampuan itu,” jelas Rati.
“Ta… nu?” Kedua alisku mengernyit keheranan. “Ap—”
“Jangan tanya sekarang. Kami akan menjelaskan pada waktumu, di saat yang tepat,” sela Rati, dengan nada dingin dan tegas.

***

Tanu. Apa itu? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya sama sekali. Apakah itu adalah sebutan untuk sejenis spesies manusia yang memiliki kemampuan membaca pikiran? Atau seperti Jyotis, bisa memodifikasi memori seseorang seperti yang dilakukannya pada Ester Cs.?
Kalau begitu, Sima, Anila, Rati, Jyotis dan juga Abi adalah sejenis manusia berkemampuan lebih. Atau ‘super’ begitu? Sayangnya Rati tidak mau  memberitahuku lebih jauh. Tadi sore, saat dia mengantarku pulang dengan mobil mini cooper putih-ungunya—tidak terlihat sama sekali keberadaan saudara-saudaranya (terutama Abi)—dan aku bertanya apa yang dimaksud ‘Tanu’ itu, dia hanya berkata, “Nanti kami pasti akan memberitahumu siapa kami sebenarnya. Sekarang sebaiknya kau cepat pulang. Lebih aman bagimu berada di dalam rumah saat-saat seperti ini.”
Aku terpaksa mengiyakan. Tidak ingin memaksanya mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia katakan, walaupun kepalaku sudah berdenyut didesak oleh ribuan tanda tanya.
Anehnya, tanpa kuberitahu, Rati tahu dimana rumahku berada. Padahal aku sama sekali tidak memikirkan alamat rumahku sama sekali, karena kepalaku terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang hilang timbul mengenai kejadian hari ini; Sita, mamanya, tubuh Sita, Ester dan kroco-kroconya, ditambah lagi dengan jati diri Rati dan keempat kakak laki-lakinya. Tapi yang menjadi pertanyaan utama, dan benar-benar membuatku tak habis pikir, masa sih, aku yang membuat Ester dan teman-temannya jadi babak belur begitu? Rati bilang dia juga punya jawaban atas pertanyaan itu, namun dia belum mau mengatakannya padaku. Tampaknya dia lebih mengutamakan mengantarku selamat sampai di rumah daripada harus panjang lebar menjelaskan hal tersebut. Membuatku resah karena dirundung rasa penasaran yang amat sangat.
Sekarang aku hanya bengong di atas kasur tempat tidurku; duduk sambil memeluk kedua lututku. Berpikir-pikir mengenai apa yang dikatakan Rati padaku beberapa waktu lalu. Aku teringat dia berkata, “tapi… sesuatu yang menguasai matamu, tidak.”
Sesuatu yang menguasai mataku? Itu katanya, gumamku dalam hati, sambil menatap kosong rak buku di depanku. Memang apa yang menguasai mataku. Apa mataku yang membuat Ester dan teman-temannya luka-luka seperti itu? Bagaimana bisa? Apa aku punya kekuatan sinar X, seperti tokoh Cyclops di film X-Men? Tidak masuk akal. Bahkan hanya untuk sekadar dibayangkan.
Jadi, ada apa sebenarnya kalau begitu? Kenapa hal aneh ini bisa terjadi? Oh, Tuhan. Apa semua ini ada hubungannya dengan kejadian sore kemarin, ketika laki-laki bertudung itu hendak menebasku dengan pedang besarnya?
Sampai pagi besoknya, pertanyaan mengenai siapa sebenarnya lima bersaudara itu masih mengganggu pikiranku. Bahkan aku memimpikan mereka dalam tidurku. Aku bermimpi sedang berbaring di sebuah padang rumput luas dengan langit luar biasa biru di atasku.., mereka—Sima, Anila, Rati, Jyotis dan juga Abi menghampiriku, dan mengulurkan tangan untuk meraihku; membantuku bangkit. Tubuh mereka semua diselubungi sinar putih keperakan yang menyilaukan..., aku bangkit berdiri, dan saat itu, aku terjaga dari tidurku.

(bersambung) 
gambar dari sini

Malaikat diturunkan dari atas. Menggaungkan belas kasih, membisikkan cinta--Fanny J. Crosby

Novel oleh Putu Indar Meilita

Read more...

Review Kilat

>> Tuesday, April 5, 2011

HEI.
Saya sebaiknya memposting sesuatu di sini, sebelum blog saya dipenuhi sarang laba-laba.
Jujur saja, beberapa hari belakangan ini, saya 'blank' setiap berhadapan dengan halaman 'post' di akun blogger saya. Jadi saya pikir, cukup menyenangkan kalau menulis review film-film yang baru saya tonton untuk postingan saya kali ini.
Jadi, let's start...

FILM-FILM ITU ADALAH...:

TWELVE
gambar dari sini
Rating: B
Pemeran: Chace Crawford, 50 Cent, Kiefer Shuterland (Narrator)
Ceritanya:
Cerita film 'Twelve" ini jauh dari cinta-cintaan. Kisahnya berpusat pada narkoba yang disebut 'Twelve"; sejenis narkoba cair yang membuat orang yang menghirupnya fly luar biasa dan mengakibatkan kecanduan. Twelve ini juga yang pada akhirnya menyebabkan kematian tragis  beberapa remaja di sebuah pesta yang dihelat di salah satu apartemen di Manhattan, New York. 
 Komentar:
Bukan film yang gak cocok ditonton malam minggu barang pacar. Tapi tidak membosankan sama sekali.
Bagus, menurut saya.

 SEX & THE CITY II
gambar dari sini
Rating: B
Pemeran: Sarah Jessica Parker, Kim Cattral, Kristin Davis, Cynthia Nixon
Ceritanya:
Bercerita tentang kehidupan Carrie (Sarah Jessica Parker) dan teman-teman 2 tahun setelah pernikahannya. 
Di sela-sela kejenuhan pernikahan dan pekerjaannya di Manhattan, Carrie dan teman-teman, berkat Samantha (Kim Cattral) yang mendapatkan undangan spesial dari seorang Sheik yang menginginkan Samantha mempromosikan hotelnya, mendapatkan kesempatan berpetualang di Abu Dabhi (United Arab Emirates)
Komentar:
Fun. Fashionable. Luxurious. From A to Z.

THE BLIND SIDE
gambar dari sini
Rating: A
Pemeran: Sandra Bullock, Quinton Aaron, Tim McGraw
Ceritanya:
Michael Oher alias Big Mike (Quinton Aaron) adalah seorang remaja berumur hampir 18 tahun yang mendapatkan kesempatan bermain di liga besar Football/Rugby. Keberuntungannyaitu tidak jauh dari dukungan dari keluarga Tuohy, terutama ibu asuhnya Leigh Anne Tuohy, yang percaya pada kemampuan Big Mike. 
Komentar:
Beautiful. Sangat menyentuh. 
Karena berdasarkan kisah nyata, alur ceritanya begitu mengena di hati yang menontonnya.

I AM NUMBER FOUR
gambar dari sini
Rating: C
Pemeran: Alex Pettyfer, Timothy Olyphant, Teresa Palmer, Dianna Agron
Ceritanya:
Tentang pemuda bernama John Smith (Alex Pettyfer) alias number four--nomor empat, yang harus terus berpindah tempat tinggal bersama Cepan--gurunya, Henry (Timothy Olyphant), untuk menghindar dari kejaran para Mogadorian yang memburunya. Nomor satu, dua dan tiga telah berhasil mereka bunuh, dan sekarang giliran si Nomor Empat, atau John.
Komentar:
Karena saya sudah baca novelnya, dan cerita di filmnya ternyata luar biasa melenceng dari yang seharusnya, jadi saya kecewa--aneh! Lagipula action di novel lebih seru daripada adegan action filmnya sendiri. 
............................................................................

Cukup segitu dulu, walaupun masih banyak film yang baru saya tonton. Maklum, saya terserang 'writer's block' lagi. Jadi, rehat dulu untuk beberapa waktu.
Bye, guys.


Lita


Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP