Kilas balik 1: Cinta Bersemi

>> Monday, March 7, 2011

gambar dari sini
 Tanggal 30 Juni 2001 adalah kali pertama saya bertemu dengan TeiGung.
Saat itu kami berdua menghadiri acara upacara Potong Gigi sepupu saya..
Saya datang bersama mama dan adik saya yang kebetulan sedang liburan sekolah, sedang TeiGung datang bersama keluarganya yang lain--tipikal keluarga di Bali, saling bantu saat keluarga lain mengadakan acara-upacara besar.
Saya waktu itu masih dalam rangka libur semester 4 kuliah saya di STP. Hampir jomblo, dan sedang dalam keadaan hati yang kosong-melompong luar biasa.

Seperti layaknya keluarga yang lain, saya, mama dan adik saya turut membantu di acara resepsi sepupu saya itu; menyiapkan makanan, minuman de el el untuk tamu yang akan makan.
Saat sedang menjaga stand makanan itulah saya bertemu dengan TeiGung. Dia mengambil makanan bersama sepupu2nya di stand makanan yang saya jaga. Bagi saya saat itu dia kelihatan manis; tampan dengan baju safari, kain serta udengnya, meskipun perutnya maju beberapa senti. Tapi... bukan saat itu saya jatuh cinta padanya. Tidak, bukan saat itu.

Setelah bertemu sekali itu, sepanjang sore di hari dan acara yang sama, dia selalu berusaha menarik perhatian saya dengan tingkahnya yang pecicilan. Menyuruh salah satu sepupunya untuk menanyakan nama saya, atau apapun yang memancing saya bicara tentang diri saya walau sedikit. Tapi... sori, bukan saat itu saya jatuh cinta padanya. Bagi saya dia saat itu tidak lebih dari seorang cowok gendut yang kecentilan.
Lagipula pikiran saya masih melayang ke pacar saya, yang ada entah dimana saat itu, dan mungkin sama seperti saya saat itu sedang berpikir, apa kami akan putus atau terus setelah permasalahan pelik yang terjadi beberapa hari sebelumnya.

Sore menjelang, dan tamu sudah agak sepi, dan tugas saya sebagai penunggu stand makanan sudah digantikan oleh saudara yang lain, saya pun bergabung bersama mama dan adik saya yang sedang berbincang dengan saudara-saudara lainnya.
Mendadak, TeiGung menghampiri--saya bingung sekali, dan berkata, "Yuk, ikut ke Bangli. Anter Pak Man pulang."
Kebetulan, keluarga sepupu saya yang potong gigi itu, juga mengundang paman saya yang ada di Bangli untuk menghadiri acara tersebut--acara resepsinya sendiri dihelat di desa Petang, Badung, jadi sudah tanggung jawab keluarga yang mengundang untuk bersedia mengantar beliau pulang.
Saya yang memang bosan sekali berada di desa sejak kemarinnya, langsung menjawab oke, berpamitan pada mama saya, yang langsung mendelik pada TeiGung, yang segera menjelaskan kemana kami akan pergi.
Mama saya memperbolehkan, setelah mendengar kalau ibu tiri TeiGung juga ikut di dalam mobil--intinya kami tidak akan berdua saja di dalam mobil sepulangnya dari Bangli.
Jadi, pergilah kami, dengan saya dan teiGung duduk di depan--TeiGung yang nyetir, sedang ibu tiri TeiGung dan Paman saya duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, saya dan TeiGung ngobrol ngalor-ngidul; kegiatan kami sehari-hari, nama panjang kami, nama panggilan kami--nama panggilan TeiGung: Kermit (cerewet soalnya), dan lain sebagainya.
Tapi... sekali lagi, bukan saat itu saya jatuh cinta padanya, meskipun saya akui dia menyenangkan diajak bicara--lumayan humoris... saat itu.
Sampai di Bangli, dan melepas paman saya pulang, kami kembali lagi ke Petang. Masih mengobrol seru sepanjang perjalanan, tentang topik apa pun yang terlintas di kepala kami, sementara ibu tiri TeiGung tidur di kursi belakang--benar2 tidur saking capeknya membantu mengurus acara potong gigi sepupu saya itu.
Perbincangan terus bergulir sampai akhirnya kami diam sejenak karena kehabisan topik, dan saya mengisi keheningan sesaat itu dengan melongok ke jendela depan mobil, hendak--aduh, ini norak sekali--melihat bintang di langit di atas, tepat saat TeiGung merem mobil mendadak, dan membuat dahi saya terantuk dasbor atau apalah itu. Tidak terlalu keras sebenarnya, tapi lumayan nyeri.
Setelah itulah saya jatuh cinta padanya, ketika dia mengusap dahi saya dengan tangannya sambil berkata, "Hati-hati, nanti kepalanya benjol."
Mungkin kalau didengar sekarang, kalimat itu tidak ada arti atau lebih kedengaran gombal daripada romantisnya, tapi bagi saya waktu itu, kalimat itu cukup membuat jantung saya berdebar gak keruan, plus membuat saya merasa melayang beberapa inci dari jok yang saya duduki.

Jadi, itulah awal dari hubungan kami yang lama itu--very long engagement, gitu judul filmnya--sampai akhirnya menikah Desember 2009.
gambar dari sini

1 comments:

dinar April 19, 2013 at 1:25 PM  

i always love ur story mbak!bahasanya simpel tapi asik dan gak bosenin sama sekali buat dibaca.Haha...termasuk crita kilas balik mbak LIt ma Teigung-nya ini.Sederhana tapi detil,jadi bisa ngebayangin critanya.Salam buat TeiGung nya ya Mbak...hehehehhe

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP