Ingkar semu sang penyetia

>> Saturday, October 30, 2010

aku memang pernah ingkar...
hatiku pernah berlubang, memberikan celah perasaan lain untuk mengganggu
pikiranku pernah penuh oleh sesuatu yang tak semestinya
imajinasiku pernah melayang jauh karenanya
namun... cuma itu. That's it!
hanya pikiran. hanya bayangan. hanya keinginan semu. Tak pernah menjadi nyata.
dan aku bersyukur.

kendati begitu, aku tidak menyesal pernah memiliki rasa itu
karena rasa itu begitu indah. begitu menyenangkan. membuatku bahagia.
membuatku lebih semangat dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik.
sampai saat ini... perasaan itu tetap ada. sebagai penerang hari gelap
sebagai pengingat kalau rasa itu pernah hadir
dan aku berterimakasih

sekarang aku hanya ingin satu rasa, yang kupunya untuk pribadi yang seharusnya
ingin berbagi rasa dan saling mengisi
karena aku tahu jantungku ini masih berdetak untuknya, dan dia sebaliknya
karena aku tahu cintaku begitu besar, dan dia sebaliknya
karena aku tahu aku hanya untuknya, dan dia sebaliknya.
dan aku ikhlas menjalani bersamanya

Read more...

>> Friday, October 29, 2010

Satu yang pasti, yang saya dapat katakan...Saya mencintai suami saya... meskipun pertengkaran terus terjadi.
Saya mencintai suami saya, meskipun dia menyebalkan
Saya mencintai suami saya, meskipun dia tidak romantis
Saya mencintai suami saya, walaupun dia cuek
Karena dibalik semua kekurangannya, saya sadar bahwa cintanya begitu besar pada saya.
Dan di semua kelebihannya, dia menutupi semua kekurangan saya...

Apa pun dia... saya menyayangi dan mencintainya.

Read more...

update'an yang sangat maksa

>> Friday, October 22, 2010

Kenapa maksa? Jujur, karena saya gak tahu apa yang harus saya tulis untuk ngeramein blog saya lagi.
Karena udah sejak bulan lalu imajinasi ato otak ngarang saya stuck, karena salah satu bagian diri saya--si 'pemimpi', lagi terdampar di suatu daerah terpencil di alam bawah sadar saya.
Saya bahkan gak lagi bisa nulis cerita dengan smooth; mengalirkan ide seperti dulu dari benak saya. Beku rasanya. Setiap ngeliat monitor, mata saya seolah kedesak ke dalam. Dan yang saya liat cuma kunang-kunang samar, terbang wara-wiri gak tentu arah.

Sebenarnya saya kenapa?

Well, sepertinya saya udah memprioritaskan pekerjaaan yang sudah 4 bulan ini saya geluti. Saya juga udah gak bisa lagi begadang ampe pagi-pagi untuk nulis sesuatu yang hanya saya mengerti.
Saya lebih senang menulis di pikiran saya, merangkai cerita, dan menyaksikannya dengan mata batin.
Lebih mudah menurut saya, daripada ngetik kata, untuk ngedeskripsiinnya di lappy.
Dan saya biarkan, semua adegan2 di pikiran itu terlupa seiring waktu berlalu. Sayang, sebenernya. Tapi saya malas. Malas dan Malas. Capek juga. Capek bekerja, capek berpikir. Berpikir masalah kerjaan, berpikir masalah diri saya, suami dan keluarga.

Intinya: saya bener2 stuck!

Read more...

Coretan Romantis 2

>> Monday, October 11, 2010


Tangannya meraih tanganku tanpa ragu. 
Aku tidak tahu apa itu cara untuknya mengatakan kalau dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Oh, sungguh aku tidak tahu. 
Dan aku tidak mau terlalu melambungkan harapan.
Kubiarkan dia menyentuh tanganku dan kunikmati indahnya bunga-bunga yang bertaburan di sekelilingku, tanpa menarik kesimpulan apa pun mengenai tindakannya itu.
Yang pasti aku bahagia. Meskipun semu, tak apa. Aku tetap bahagia.
Hari2ku begitu menjenuhkan, dan dia selalu menitikkan warna-warna cerah yang menyegarkan hariku.

Asal kau tahu... 
aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta padamu


Read more...

The Devil's Eyes: 13th Chapter

>> Friday, October 1, 2010


13



KELAS Bahasa Indonesia berakhir lebih cepat dari yang seharusnya, menyusul penemuan jenazah Sita yang akhirnya ditemukan siang itu. Kondisinya sangat mengenaskan; tidak dapat lagi dikenali. Empat bulan terkubur bersama sampah-sampah membuat badannya jauh lebih busuk dari mayat-mayat yang telah busuk pada umumnya.
Tadi, tak lama setelah Sita mendatangiku di kelas, tiba-tiba terdengar suara sirine—campuran dari sirine Ambulans dan juga mobil polisi—bersahut-sahutan. Dekat sekali, seolah saja menuju ke areal kampus. Dan ternyata memang benar. Mobil polisi dan Ambulans itu memang menuju ke kampusku, yang didatangkan oleh mama Sita, yang ikut datang ke kampus bersama suaminya, membuat seluruh kampus heboh karena teriakan-teriakan paniknya mengenai telepon yang mengabarkan keberadaan tubuh anaknya di areal pembuangan sampah kampus Sastra. Setidaknya itu yang kudengar dari kasak-kusuk mahasiswa-mahasiswi lain yang langsung heboh dengan peristiwa tersebut.
Tak ayal, halaman belakang kampus Sastra mendadak dipenuhi orang yang penasaran ingin menyaksikan prosesi penggalian untuk menemukan mayat Sita. Dan semuanya itu berlangsung diiringi tangis cemas mama Sita yang ditenangkan oleh suaminya dengan merangkulnya erat.
Dan ketika akhirnya para petugas penggali menemukan tubuh Sita setelah dua jam penggalian—tubuh Sita dikubur di lapisan tanah paling bawah yang tidak memungkinkan tubuhnya ditemukan saat sampah di atasnya dibakar atau dibawa ke pembuangan akhir (semua terheran-heran bagaimana cara orang yang menguburnya bisa menggali dengan cepat tanpa kelihatan sama sekali)—dan mengangkatnya ke permukaan, mama Sita langsung menghambur ke depan, menyikut perut suaminya yang berusaha mencegahnya sehingga terhuyung ke belakang, menghampiri tubuh Sita, setelah sebelumnya membuat dua petugas polisi yang berusaha memeganginya terjerembab, dan memeluk jasad Sita yang sudah membusuk sambil menangis histeris.
Seisi kampus geger setelah penemuan itu.
“Ternyata Sita dikubur di tempat pembuangan sampah…”
“Menjijikan…”
“Itu semua karma. Dia menyebalkan sih semasa hidup… jadi matinya kaya gitu…”
“Siapa yang bunuh, ya?”
“Pasti yang dendam sama dia dan gang-nya itu…”
Sepanjang koridor yang kulalui penuh dengan kasak-kusuk tak mengenakkan mengenai Sita. Baik yang perempuan atau yang laki-laki tampaknya mengaitkan kematian Sita sebagai balasan atas tingkah lakunya yang tak menyenangkan ketika hidup. Aku cuma bisa menaikkan kedua alisku, sambil terus berjalan, sekembalinya dari perpustakaan kampus—aku memilih untuk menyendiri di sana beberapa waktu daripada ikut-ikutan menontoni evakuasi jenazah Sita. Menurutku, tidak patut rasanya mencerca seseorang yang telah mati. Apalagi kalau cara matinya tidak wajar seperti itu.
Sebenarnya belum ada informasi resmi bagaimana pastinya Sita meninggal dari petugas berwenang atau pun pihak kampus, tapi melihat lokasi dimana tubuhnya ditemukan, sudah cukup untuk membuat banyak orang menyimpulkan kalau Sita mati dibunuh orang.
Aku sendiri tidak terlalu ingin tahu, karena dirundung rasa khawatir yang amat sangat, cemas kalau-kalau mama Sita—yang aku yakin seratus persen—telah bicara dengan Polisi atau mungkin pihak kampus mengenai penelepon misterius yang meneleponnya di siang hari bolong dan memberitahukan keberadaan tubuh putrinya, sekarang berniat untuk melacak penelepon misterius tersebut. Oh, aku berharap kalau mama Sita tidak memiliki daya selidik sejauh itu. Karena polisi sudah pasti akan menemukan asal nomor telepon yang terdata di handphone mama Sita, yang adalah nomor dari telepon umum di pelataran parkir kampus di depan. Dan polisi akan menyelidiki siapa orang yang terakhir terlihat memakai telepon tersebut.
Jujur saja, pada saat-saat seperti ini, aku benar-benar merasa benci pada mataku sendiri. Karena kemampuannya melihat yang aneh-aneh jadi membuatku terjebak dalam situasi tak nyaman begini. 
Karena pikiranku bertambah ruwet, aku memutuskan untuk mencuci mukaku saja di toilet wanita yang berada di dekat kantin—toilet yang ada di areal belakang; di tempat pembuangan sampah dimana tubuh Sita ditemukan telah diamankan oleh polisi dan dipasangkan police line. Berbelok ke sebelah kanan, mendorong pintu toilet dan menghambur masuk ke dalam, dan bergegas menghampiri wastafel.
Kosong di dalam toilet (untungnya). Tak ada siapa pun, sehingga aku bisa lebih lama mematut diri di depan cermin wastafel, dengan benak yang amat penuh, memikirkan Sita, yang sejak penampakannya terakhir kali di kelas beberapa jam lalu, tidak lagi muncul untuk menemuiku.
Ah, nanti juga kalau dia mau, dia akan muncul sendiri, aku membatin, berusaha tidak mempedulikan apa pun tentang Sita. Meletakkan tasku di puncak wastafel sebelah yang agak kering, menyalakan kran air, dan menadahkan tanganku di bawahnya, untuk menampung air yang mengucur ke bawah, baru kemudian membasuhkannya ke wajahku.
  Ketika aku sedang membenamkan wajahku ke kedua tanganku yang basah, pintu toilet kedengaran membuka. Disusul oleh suara hak sepatu (lumayan banyak) menghantam lantai keramik, diiringi suara gesekan tas yang disandang, dan bau parfum berbagai aroma. Aku mengenali salah satu aroma parfum orang yang baru saja masuk. Parfum milik Ester.
Aku cepat-cepat menurunkan tanganku, dan memandang ke arah cermin di depanku, dan langsung mengernyit heran, melihat Ester, Dian, Cherry, dan Selly berdiri persis di belakangku. Tampang mereka semua sangat tidak bersahabat.
Oh, apa lagi ini, tanyaku dalam hati, seraya menarik beberapa lembar tisu dari boksnya yang diletakkan sembarangan saja di atas wastafel dan menyeka wajahku yang basah perlahan sambil berbalik. Menghadapi keempat gadis cantik tersebut.
Baru saja aku akan membuka mulut untuk bertanya, namun Ester mendadak maju dan berdiri dekat sekali di depanku dengan mata melotot marah.
Dia pasti masih dendam masalah di kantin tadi, aku menebak-nebak. Berusaha tenang, walaupun jantungku sekarang dag dig dug tidak keruan. Cemas, takut, marah, kesal, apa pun emosi yang ada di dalam diriku sepertinya berputar-putar seperti angin puyuh di dalam badanku. Namun, aku tidak ingin terlihat lemah atau takut di depan Ester, tapi juga tidak punya hasrat untuk melawannya. Aku hanya bisa diam, dan memberanikan diri menatap mata hijau Ester, sambil meremas-remas tisu bekas yang tadi kugunakan untuk mengeringkan wajahku.
“Kau kan… yang membunuh Sita?!” tuduh Ester kejam dengan suara yang kedengaran bengis di telinga.
Dahiku berkerut, merasa sangat tersinggung. “Ap—apa sih maksudmu?” tanyaku gugup.
“JANGAN MUNGKIR!” Ester mendadak meninggikan suaranya. “NGAKU! Kalau kau” (dia menunjuk-nunjuk hidungku) “yang membunuh Sita…”
“Ap—”
“Kau kesal karena dia selalu mengerjaimu, dan kau membunuhnya karena dendam kesumat padanya!” Ester terus nyerocos, tidak memberikan kesempatan bicara padaku. “Dasar FREAK!” dia mendorongku dengan kasar ke belakang sehingga pinggulku menghantam pinggiran wastafel, membuatku mengaduh kesakitan. Spontan menekan-nekan pinggul belakangku yang nyeri.
“Kau salah paham, Ester,” kataku, mengangkat tanganku ke arahnya, memintanya untuk mendengarkanku. “Kalian semua—” aku memandang ke ketiga temannya yang lain yang semua matanya menyipit sebal padaku “—salah paham.”
“Sudah… Ngaku saja, deh. Kau yang membunuhnya,” Dian angkat bicara, menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. “Kau bisa saja menyantetnya.”
“Aku…”
“Dasar cewek aneh!” maki Cherry, dengan tak sabar mendekat dan menempeleng kepalaku, membuat rambutku yang terjurai jadi berantakan menutupi sebagian wajahku. “BRENGSEK!” makinya lagi.
Aku sudah tidak bisa menahan kesedihanku lagi. Butir-butir air mata besar-besar berjatuhan dari kedua mataku. Apa salahku? Kenapa mereka bisa menuduhku seperti itu? Sungguh kejam mereka.
Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang bergerak di dalam diriku. Meluap-luap seperti air bah. Panas dan menggelegak-gelegak bagaikan lava gunung berapi yang siap meledak. Perasaan itu semakin-lama semakin cepat naik menuju kepalaku, menyelubungi otakku, membuatku tidak nyaman, dan terakhir… mataku sakit. Luar biasa sakit. Seperti ditusuk-tusuk beratus-ratus benda tajam.
Aku menjejalkan wajahku ke kedua tanganku. Menekan-nekan kedua mataku yang sekarang terasa panas membara dengan panik, sementara empat gadis di depanku, masih ribut menyumpahiku seraya memukul, menempeleng bagian tubuhku mana saja yang bisa mereka jangkau.
“Ngaku saja, FREAK!...”
“Kenapa kita tidak panggil polisi saja…”
“Tidak ada bukti sebelum dia ngaku. Bodoh amat, sih!...”
Aku merasa badanku semakin lemah. Kakiku tak lagi kuat menyangga tubuhku, sehingga aku merosot ke lantai dengan kedua tangan masih di wajahku.
“Alaahhh… pura-pura!” lengking Ester segera. “Tidak akan mempan!”
Kepalaku semakin sakit. Mataku semakin perih dan sekarang—sepertinya—berair. Air matakah? Aku tidak berniat sama sekali menyelidikinya karena rasa sakit yang kuderita semakin menyiksa.
Aku tidak kuat. Aku tidak kuat!
“Hei Nali!” sayup-sayup aku mendengar suara memanggilku. Tidak tahu siapa. “NALI! Na—”
Cuma sampai situ saja yang kudengar. Karena sedetik kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
(Bersambung)


Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP