The Devil's Eyes: 9th Chapter

>> Thursday, September 23, 2010


9


“PERMISI,” sapa suara nyaring kecil yang sangat kukenal. Aku mendongak, batal menyuapkan nasi ke dalam mulutku, dan melihat Ester berdiri di belakang Abi, tersenyum-senyum genit, menebar pesona. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang ke belakang, kemudian melanjutkan bicara setelah semua kepala mendongak memandangnya.
“Hai, semua… Aku Ester,” katanya dengan penuh percaya diri, melambaikan tangannya pada kelima orang di depanku, tidak menatapku sama sekali.
Aku memerhatikan ekspresi wajah Sima, Anila, Jyotis, Rati dan Abi, dan merasa aneh sendiri saat melihat ketidaktertarikan di wajah masing-masing. Terutama untuk para prianya, alih-alih kelihatan antusias; tersenyum lebar seperti reaksi para pria lain bila disapa oleh Ester, wajah mereka cenderung masam. Dan tampaknya Ester sadar dengan rona tak bersahabat yang tersirat di wajah kelima kakak-beradik itu, sehingga untuk pertama kalinya dia jadi terlihat grogi, terkikik kikuk di depan mereka.
“Ada apa?” tanya Rati judes, mengibaskan rambut panjangnya yang sangat lurus.
“Eh—mm… anu,” (aku benar-benar ingin tertawa melihat tampang Ester sekarang) “Mm, aku hanya ingin mengajak kalian duduk di mejaku,” Ester menoleh ke belakang sekilas, menunjuk ke arah Dian, Cheri dan Seli, yang tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya dengan heboh dari meja mereka. Dian, saking semangatnya menggoyangkan tangan, tak sengaja menghantam pelipis Cheri yang langsung berjengit, dan menepis tangan Dian dengan marah—aku menahan diri untuk tidak tertawa. “bersama teman-temanku. Meja kami lebih baik daripada meja ini” (Ester mengerling kejam padaku) “dan pemandangannya lebih bagus.”
“Bukannya pemandangannya sama saja?” tanya Anila, menyipitkan sebelah matanya, “pemandangan kantin dan rumput di luar.”
“Bukan itu saja,” sambar Ester buru-buru, agak lebih bersemangat dari sebelumnya. “Kalian bisa ngobrol dengan kami… kebetulan kami adalah pengurus klub Popular, yang anggotanya adalah mahasiswa dan mahasiswi top di kampus. Rencananya kami ingin mengajak kalian menjadi anggotanya—akan sangat menyenangkan sekali bila kalian mau bergabung, dan itu bisa meningkatkatkan kepopuleran kalian semua di kampus ini. Aku sendiri akan jadi finalis Putri Kampus tahun ini, dan dipastikan akan menang… dan aku membutuhkan…”
“Kami tidak tertarik,” potong Rati, dengan dagu terangkat.
Melihat wajah Ester—dahi berkerut-kerut dan bibir yang mengerucut—setelah mendengar kata-kata Rati barusan, sepertinya dia sudah ingin sekali meneriaki Rati. Namun, karena jaga image di depan empat cowok ganteng, yang adalah target utamanya dan kebetulan (yang sangat tidak menyenangkan) adalah kakak-kakak dari Rati, Ester memaksakan diri tersenyum manis.
Kau, tentu tidak tertarik,” kata Ester dengan suara lembut semanis madu pada Rati, “tapi belum tentu saudara-saudaramu, kan?”
Dia benar,” sahut Jyotis dingin, mengacu pada Rati, “kami memang tidak tertarik.”
“Kami di sini, menjalankan misi, yaitu… belajar,” sambung Anila sedikit tercekat (dia tampaknya memaksakan diri untuk mengatakan kata ‘belajar’ itu), “bukan cari popularitas.”
Ester kelihatan sangat tersinggung dengan penolakan itu, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis.
“Maaf, ya,” tambah Sima, tersenyum, sepertinya berusaha menghibur Ester. Tapi Abi malah membuat kesedihan Ester semakin menjadi, dengan berkata, “Pergilah,” dengan tatapan dingin dan nada memerintahnya yang kedengaran kejam.
Ester segera memalingkan tubuhnya dengan gusar, dan berlari keluar kantin dengan air mata berlinang, tidak mempedulikan teman-temannya yang memanggilnya dengan panik, bergegas menyusulnya, membawakan tasnya yang tertinggal di meja.
Ini pertama kalinya—benar-benar pertama kalinya, ada orang yang berani menolak Ester tepat di depan orang banyak, dan sama sekali tidak terpukau pada wajah cantik dan penampilannya yang mewah, sementara banyak mahasiswa-dan mahasiswi di kampus harus bersusah payah menarik perhatiannya (dulunya Sita) agar ditawari bergabung di klub Popular agar bisa ikutan ngetop.
Menurutku klub itu konyol. Prestasi yang mereka punya sejauh ini, ya, Putri Kampus, atau Pangeran Kampus, dan yang menang ya, ketuanya. Tahun lalu Sita, dan tahun ini, pastilah Ester.
Tapi jujur saja, menurutku kakak-beradik ini agak tidak normal, dengan menolak tawaran Ester, pikirku, sembunyi-sembunyi memandang lima orang di depanku, seraya meletakkan sendok dan garpu yang masih kupegang di atas piring.
“Kami sangat normal,” cetus Rati tiba-tiba, sepertinya kelepasan bicara, karena Sima langsung melirik mengancam ke arahnya. Aku sendiri kaget, karena sepertinya dia menyahuti isi pikiranku barusan. “Eh—maksudku, kami normalnya memainkan alat musik klasik,” katanya buru-buru, kelihatan agak kikuk.
“Kenapa kau tidak jadi makan?” tanya Abi lagi dengan kedua alis mengernyit ke arah piringku yang isinya tinggal separo.
“A-aku ke-kenyang…” jawabku gugup. “Lagipula… aku harus segera pergi. Masih ada urusan,” kataku, tersenyum meringis.
Tepat saat itu, terdengar banyak kursi bergeser, aku menggerakkan mataku ke asal suara tersebut, dan mengawasi rombongan Kumar pergi meninggalkan kantin.
“Apa kau selalu makan siang di kantin ini?” tanya Rati, mengalihkan perhatianku.
Aku mengangguk. “Ya… aku selalu makan siang di sini. Memang ada kantin lain di gedung lain—di gedung kalian contohnya, tapi… aku tidak terlalu suka jalan-jalan… maksudku… ada alasan kenapa aku tidak melakukannya,” tambahku cepat-cepat, takut mereka tersinggung, menyangkaku menuduh mereka suka jalan-jalan, “sebenarnya aku ingin sekali.”
Senyum mengembang di wajah lima kakak-beradik itu, membuatku bersyukur dalam hati, mereka tidak tersinggung. Ya, walaupun aku tahu, prospek untuk duduk bersama mereka seperti hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, karena pasti akan ada yang segera memberitahu mereka perihalku, setidaknya aku ingin meninggalkan kesan baik.
“Kalau begitu,” aku tersenyum pada kelimanya, mengangkat bahu, “aku pergi sekarang.”
Aku memandang berkeliling, kembali tersenyum untuk membalas senyum yang mereka lontarkan padaku. Setelah itu aku meraih tali tasku dan menyandangkannya di bahu, berdiri, kemudian mengangguk sedikit dan berkata, “Bye,” pelan.
Bye,” balas mereka bersamaan, tersenyum ramah.
“Sampai ketemu, Nali,” tambah Anila, mengedipkan matanya.
Aku tersenyum, dan mengangguk, kemudian berkata, “Sampai ketemu juga…”
Setelah itu sambil membetulkan tali tas di bahuku, aku pergi meninggalkan kantin dengan dengan senyum lebar di wajahku.
(bersambung)

Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

1 comments:

Zaa September 26, 2010 at 7:31 PM  

Makin Penasaran nihhhhh.... beneran berasa naggung banget!!! ditunggu kisah selanjutnya ya mba' ^^

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP