The Devil's Eyes: 12th Chapter

>> Wednesday, September 29, 2010


12


 “DARIMANA, Nalini?!” gelegar dosen Bahasa Indonesia-ku, Bu Tince, yang luar biasa galaknya, ketika aku masuk ke dalam kelas, dengan senyum meringis di wajahku. Bu Tince sedang duduk bersandar di ujung depan meja dosen, menghadap ke arah kelas.
“Saya sudah bilang, saya tidak suka kalau ada siswa yang terlambat hadir di mata kuliah saya,” katanya lagi memperingati seraya membetulkan posisi kacamata bacanya.
“Saya—”
“DUDUK! Jangan bengong saja di sana!” tukas Bu Tince galak, bersedekap.
Aku tidak berkata-kata lagi, segera melesat ke mejaku, yang berada persis di depan meja dosen diiringi tawa kecil yang sangat tak enak dari Ester dan teman-temannya. Aku yakin dia masih menyimpan dendam padaku karena kejadian di kantin beberapa saat lalu.
“ESTER! Diam!” Bu Tince menyentak keras, membungkam kikik Ester yang tawanya terdengar paling keras.
Kelas hening seketika. Dua puluh empat kepala serempak menunduk ke arah diktat Bahasa Indonesia yang terbuka di atas meja masing-masing; aku dengan cepat mengeluarkan diktatku dan membukanya, mencari halaman 101—meneladani tulisan sambung kurus Bu Tince di white-board:

Halaman 101. Puisi dan kemajuannya di zaman modern

PUISI, seperti yang telah saya jelaskan di awal kelas,” Bu Tince mulai bicara dalam suara empuk dan lantang, “saya ulangi lagi, bagi yang baru saja datang”—dia menyindirku— “adalah…”
TOK! TOK!
Bu Tince berhenti bicara. Manyun  seketika. Sementara aku, dan sepertinya juga seisi kelas, mengawasi pintu di pojok kiri ruangan dengan penuh rasa penasaran, siapa lagi kira-kira yang akan kena semprot Bu Tince, yang sangat jengkel bila diganggu saat sedang mengajar.
Bu Tince menggerutu pelan, kemudian berteriak, “MASUK!” dengan mata menyipit ke arah pintu.
Gagang pintu diputar perlahan, kemudian pintu ditarik membuka ke arah luar, dan seseorang masuk. Ternyata orang itu Pak Todi,  kepala Humas Universitas, yang juga adalah ketua jurusan Sastra. Tampang memberengut Bu Tince segera mengendur, tersenyum kikuk, dan segera berdiri dari kursinya. Secepat mungkin Bu Tince melangkah menghampiri Pak Todi, yang rona mukanya sekarang kelihatan cemas.
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Tince buru-buru.
“Kita bicara di luar saja, Bu,” kata Pak Todi kedengarannya tegang setelah sebelumnya memandang berkeliling kelas, melemparkan senyum muram pada kami, para mahasiswanya.
“Oh, ya—ya. Tentu…” timpal Bu Tince segera.
Pak Todi membuka pintu, dan mempersilakan Bu Tince keluar terlebih dulu, baru kemudian dia menyusul.
Begitu pintu menutup, kelas yang tadinya hening langsung riuh. masing-masing orang segera menyibukkan diri berbicara dengan teman sebelahnya. Saling bertanya-tanya apa kiranya yang akan dibicarakan oleh Pak Todi dengan Bu Tince, sampai-sampai Pak Todi sendiri yang mendatangi Bu Tince.
“Pasti penting, tuh…”
“Mungkin bicarain soal ujian bulan depan…”
“Jangan-jangan Pak Todi mau nembak Bu Tince…”—itu jelas-jelas spekulasi yang tak masuk akal.
Sementara teman-teman sekelasku sibuk berbicara sendiri, aku hanya bisa bengong di mejaku, menatap kosong diktat, dengan benak dipenuhi Sita, mama Sita, Sita, mama Sita, dan…
Mendadak semua ponsel seisi kelas—kecuali ponselku—serempak berbunyi. Bukan nada dering, karena frekuensinya sangat pendek—sepertinya hanya sms. Tapi kenapa bisa serentak begitu, aku membatin.
Aku memberanikan diri menolehkan kepalaku ke belakang, ke arah teman-teman sekelasku yang sekarang sedang memeriksa ponsel masing-masing.
“Oh Tuhan,” pekik Cherry kelihatan shock, menggeleng-gelengkan kepalanya, membeliak menatap sahabat-sahabatnya bergantian, yang dari tampangnya juga sama terguncangnya dengan Cherry. Terutama Ester.
Kelas langsung ramai. Lebih ramai dari sebelumnya. Aku yang ketinggalan informasi hanya bisa menatap ingin tahu wajah-wajah teman sekelasku yang berekspresi sama: kebingungan dan juga ngeri, berharap penuh ada salah satu dari mereka yang berbaik hati memberitahuku, apa yang tertulis di sms yang mereka terima.
“Sita… Masa sih?”
DONG!
Kepalaku seperti dihantam gong super besar begitu mendengar nama Sita disebut oleh salah satu teman sekelasku, yang bernama Heru, yang masih memandang terpaku layar ponselnya.
Seribu pertanyaan segera menyergapku. Pikiranku melayang ke mama Sita; apakah dia mendengarkan pesanku dan sekarang sedang berusaha masuk ke areal belakang kampus sastra dengan polisi atau…
“Nali…” sebuah suara membuatku tersentak dari lamunku. Aku mendongak buru-buru, dan menemukan Sita berdiri di depanku. Ekspresi wajahnya kelihatan cemas namun juga bersemangat.
Aku tidak bisa menyahut di depan banyak orang seperti ini. Dengan perlahan aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, sambil menenangkan diri, dan mataku mengejap ke arah Sita.
“Mamaku… datang, Nalini,” dia memberitahuku. Suaranya kedengaran bergetar. “aku hanya mau memberitahumu itu saja.”
Setelah itu tiba-tiba saja dia lenyap dari hadapanku, meninggalkan kabut aura yang meliuk mengikuti arah kemana dia menghilang.

 

(bersambung)

Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

3 comments:

Zaa September 30, 2010 at 9:59 PM  

well, aku semakin penasaran, aku harap tubuh sita bisa ketemu dan nali gak kena masalah gara-gara itu,,, tapi kalo pun mau diacak2 bagian itu juga gak apa2 biar rame hehehe...oy aku juga penasaran tentang hubungan abi dan nali tolong di bumbui sedikit ya mba.....

lita October 1, 2010 at 11:01 AM  

tenang aja, Zaa. Ceritanya akan lebih 'meledak'di bagian selanjutnya. Promo'in ke temen yang suka baca, yah. Biar semangat nulis aku. Thanks ya, Zaa!

Zaa October 2, 2010 at 2:20 PM  

hahahh okeehhhh. . . .

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP