The Devil's Eyes: 10th & 11th Chapter

>> Monday, September 27, 2010


10


Aku berjalan riang di tengah keramaian istirahat makan siang. Sama sekali tidak mempedulikan tatapan mencela orang-orang yang berdiri atau duduk-duduk di bangku di kanan dan kiriku sepanjang koridor.
Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku, sehingga aku tidak lagi menghiraukan tingkah menyebalkan orang di sekelilingku, yang anehnya kali ini tidak melempariku dengan benda apa pun, hanya sibuk berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Aku bahkan tidak peduli dengan teriakan Kumar dan teman-temannya yang biasa, memanggilku dengan sebutan “Freak” keras-keras.
Dengan senyum kecil, seraya memegangi tali tas di bahuku, aku melangkah penuh percaya diri melewati mereka untuk menuju ke kelas, sampai…
“Hei! Nali!” panggil seseorang, yang suaranya tak terlalu kukenali.
Aku menoleh, dan serentak membeliakan mata, begitu melihat sebuah bola tenis meluncur amat kencang ke arahku—ke wajahku. Aku ingin menghindar namun sepertinya tidak akan sempat, karena beberapa inci lagi bola itu akan menghantam hidungku. Secara reflek aku berteriak, memejamkan mata—menunggu…
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti banyak sekali suara orang menahan napas di sekelilingku; sebagian memekik tertahan, dan aku… Sepertinya tidak ada yang menghantam hidungku, dahi atau bagian tubuh lainnya. Bola itu…
Aku memberanikan diri membuka mata; perlahan-lahan dan hati-hati. Di depanku seorang laki-laki memakai sweter putih berdiri memunggungiku. Tangan kanannya memegang bola tenis yang beberapa saat lalu hampir menghantam wajahku, dan secepat kilat melemparkannya kembali ke arah si pelempar, yang adalah sahabat Kumar, Rafi, yang matanya melebar ngeri melihat senjatanya menyerang balik, menghantam hidungnya yang besar dengan sangat keras, sehingga dia langsung jatuh terjerembab ke lantai dengan tangan menutupi hidungnya yang mengeluarkan darah—sepertinya patah.
Abi menoleh padaku, dengan cemas bertanya, “Kau tidak apa-apa?”
Aku yang masih shock dengan peristiwa itu hanya bisa mengangguk-angguk memandang Abi, lalu kembali memandang ke arah Rafi yang mengaduh-aduh kesakitan, dikerumuni teman-temannya yang berusaha membantunya. Hanya Kumar yang masih berdiri, dadanya membusung, wajahnya masam dan matanya yang coklat berkilatan menatap Abi, kelihatan sekali murka.
Abi balas menatapnya tak kalah garang, dia bersedekap, menelengkan kepalanya seolah menantang Kumar untuk memulai bergerak lebih dulu. Tidak terlihat gentar sedikit pun.
Aku kira, dengan badan besar dan sifat kelewat percaya diri yang dimilikinya, Kumar akan nekat menyerang Abi, namun ternyata, dia malah berpaling, berjongkok untuk membantu Rafi berdiri.
“Bawa ke klinik saja,” kata Kumar, meraih tangan Rafi dan mengalungkannya ke bahunya, mengangkatnya berdiri, kemudian berlalu dengan Rafi yang masih mengerang-ngerang kesakitan, setelah sebelumnya mengerling tajam Abi.
“Ini, ponselmu ketinggalan,” kata Abi, menyodorkan ponsel kepadaku. Aku masih bengong, hanya diam memandanginya. “Kau… meninggalkannya di meja tadi… Nali?” panggilnya.
Aku tersadar, mengejap-ngejapkan mataku cepat-cepat. “Oh, ya… ya…,” aku menerima ponsel yang dipegang Abi, memasukkannya ke dalam tas, lalu mendongak memandangnya.“Terima kasih,” ucapku, entah kenapa menyeringai. “Kalau kau tidak—”
“Saranku,” potong Abi datar, dengan ekspresi dingin, “kau harus berusaha melawan orang-orang yang selalu menjahilimu. Kalau kau diam saja, mereka akan menganggapmu lemah, dan akan selalu memperlakukanmu dengan buruk. Jadilah orang yang kuat, agar tidak merepotkan orang lain.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Abi memalingkan tubuhnya dan pergi, sementara aku melongo memandangi punggungnya menjauh.
Selama beberapa detik—yang rasanya lama sekali, aku hanya bisa berdiri diam tak bergerak, dengan pikiran yang sama sekali kosong. Baru setelah seseorang tak sengaja menyenggolku aku tersadar, dan cepat-cepat berjalan pergi dengan perasaan campur-aduk. Entah kenapa jadi merasa kesal pada Abi, yang beberapa saat sebelumnya membuat hatiku berbunga-bunga.  
Kata-katanya persis seperti yang dikatakan Sita padaku kemarin, kalau dia kesal melihatku yang seperti orang lemah. Dan itu, membuatku tersinggung. Aku merasa sedih, membuat air mataku menggenang di bagian bawah mataku, yang segera kuhapus menggunakan punggung tanganku. Dengan cepat aku berbelok ke koridor sepi dan gelap di sebelah kiri, menuju toilet belakang, berjalan beberapa langkah, sampai akhirnya berhenti, dan bersandar di tembok; berusaha menenangkan diri (untungnya koridor itu benar-benar sepi).
“Nali…” panggil suara kecil yang kedengaran pelan, tepat di sebelahku.
Aku menoleh sekilas, dan melihat Sita meringis kecil. Cahaya auranya yang putih kusam menerangi kegelapan, seperti lentera besar yang berpendar.
“Hei…” sapaku lemah, seraya menyeka bekas-bekas air mata di sudut mataku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku—tidak apa,” sahutku cepat, meringis sedikit. “Bagaimana kau bisa muncul cepat sekali? Kau mengikutiku?” tanyaku heran.
“Sebenarnya, ya… tapi aku menjaga jarak, tidak begitu dekat, jauh dari jangkauan pendengaranku sendiri,” kata Sita cepat-cepat, seolah-olah menegaskan padaku kalau dia tidak bermaksud menguping.
“Tidak apa,” dengusku, tersenyum hambar, terdiam beberapa saat sampai akhirnya kembali bicara.
“Aku akan menelepon mamamu sekarang,” aku memberitahu Sita. “Kau… tunggu saja.”
Ada binar terang di mata Sita, dan bibir mungilnya mengembang tersenyum. “Terima kasih…” katanya dengan suara bergetar. “Terima kasih… Nali.”
Aku tersenyum kecil, mengangguk sedikit, kemudian melangkahkan kaki lagi kembali ke koridor ramai, setelah sebelumnya melambai sekilas pada Sita yang tersenyum manis.




11


Sudah lama sekali aku tidak menggunakan telepon umum koin, sejak mewabahnya telepon kartu, disusul oleh kemunculan telepon selular yang menjadi benda wajib yang harus dimiliki semua manusia di mana pun, membuat telepon umum menjadi sebuah sarana primitif, dan keberadaannya di pinggir-pinggir jalan kota besar seperti Jakarta ini hanya sekedar onggokan boks terbengkalai.
Sama seperti boks telepon umum di depan lahan parkir kampusku, yang sudah jarang sekali dipergunakan, yang tampilannya sebenarnya sudah tidak patut lagi untuk ditempatkan berdampingan dengan areal parkir mahasiswa yang dipenuhi mobil-mobil mewah nan mentereng; cat merahnya sudah amat luntur dan mengelupas dimakan rayap, beberapa kacanya hilang, dan terkena serangan cat semprot di sana-sini bertulisan entah apa. Kasihan sekali.
Kalau saja boks telepon itu hidup, dia pasti sudah menciut karena malu pada mobil-mobil berkilat di depannya. Namun saat ini, bagiku, apa pun bentuknya, boks telepon umum itu adalah solusi paling tepat untukku membantu Sita.
Cling
Bunyi nyaring suara uang logam seratusan yang terjatuh di sisi dalam boks koin membuatku terlonjak.
Jujur saja, aku gugup sekali melakukan ini—menelepon mama Sita. Memang, ini bukan tindak kriminal; aku hanya ingin mengabarkan dimana tubuh putrinya berada. Tapi bisa saja kan, mamanya salah paham, berpikiran negatif, lalu menuduhku yang membunuh anaknya. Histeris, melapor ke polisi, dan polisi akan melacak nomor telepon umum ini; mengumpulkan saksi-saksi dan menemukan bukti bahwa akulah—oh, sudahlah, Nali, tegur suara kecil di kepalaku kedengaran amat jengkel. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Kalau memang tidak ingin melakukannya, jangan lakukan.
Tapi bagaimana bisa aku tidak melakukannya? Aku sudah berjanji pada Sita.
Aku menarik napas tajam, dan perlahan kuempaskan lagi pelan-pelan. Dengan tekat yang bulat, tanpa berpikir apa pun lagi, kutekan tombol-tombol angka yang berderet rapi—nol, delapan, satu, satu, dan entah berapa lagi, aku tidak ingat.
Suara tuut panjang dan lama terdengar bergaung di telingaku. Berulang-ulang; tanpa terputus.
Sambil menunggu sang pemilik ponsel menjawabnya, aku berusaha keras mengendalikan napasku yang kian berat dan badanku yang gemetaran.
Satu detik, dua detik, tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya, diawali oleh suara klik pelan, terdengar suara lembut seorang wanita berkata, “Halo, Selamat siang.”
Aku merasa kehilangan lidah, tidak bisa membalas sapaannya. Kepalaku serasa kosong.
“Halo? Halo?” wanita itu berkata lagi, suaranya kedengaran bingung. “Halo? Siapa ini?”
Aku mencoba membuka mulut, tapi rasanya berat sekali. Aku sepertinya terlalu ketakutan. Dan untuk sepersekian detik di tengah suara, “Halo, halo,” wanita itu, aku hanya bisa bengong, mematung.
“Halo, siapa ini? Halo?”
Aku meringis kebingungan. Nali, jawab! Kau idiot, tegur suara kecil cerewet di kepalaku lagi.
Tiba-tiba wanita itu terdiam. Hening. Membuatku heran.
 “Sita? Sayang… Apa ini kau, Sayang?” wanita itu berkata lagi, kali ini dalam suara lemah yang bergetar, menahan tangis, menyebut nama Sita—menyangka kalau Sitalah yang meneleponnya.
Rupanya dia tetap berharap kalau putrinya itu masih hidup. Atau mungkin matian-matian berpikir begitu, dan berusaha menepiskan perkiraan-perkiraan akan hal-hal buruk yang bisa saja menimpa Sita. Aku jadi merasa ragu dan berat hati untuk menyampaikan berita buruk ini padanya. Aku tidak bisa membayangkan reaksinya.
“Sita… Tolong jawab, Sayang. Mama mohon. Dimana pun kau sekarang, apa pun yang telah kau lakukan—”
“Saya bukan Sita,” selaku buru-buru dalam suara teredam—aku sengaja menutup mulutku dengan tanganku untuk mengubah suara—berupaya keras menahan gugup.
“Ap—apa? Siapa—”
“Tubuh putri Anda terkubur di pembuangan sampah di belakang gedung kampus Sastra. Tolong segera datang—hari ini juga.”
“Apa?! Ap—”
Klik.
Aku meletakkan gagang telepon buru-buru, dan menyandarkan punggungku ke dinding kaca di belakangku. Jantungku berdegup sangat kencang dan napasku terengah-engah, seperti napas orang yang baru berlari jauh.
Sungguh tidak nyaman bagiku melakukan hal ini. Aku merasa menjadi salah satu orang yang terlibat dalam kasus hilangnya Sita. Aku takut niat baikku malah menjadi bumerang bagiku. Dan berharap Mama Sita tidak memiliki pikiran untuk melacak teleponku barusan.
Bisa gawat.

2 comments:

Cermin Community September 29, 2010 at 10:38 AM  

menarik sekali.
kami sudah baca sejak chap 1,kawan.

lita September 29, 2010 at 4:18 PM  

terima kasih, ya...Seneng deh, ada yang baca tulisanku...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP