The Devil's Eyes: 12th Chapter

>> Wednesday, September 29, 2010


12


 “DARIMANA, Nalini?!” gelegar dosen Bahasa Indonesia-ku, Bu Tince, yang luar biasa galaknya, ketika aku masuk ke dalam kelas, dengan senyum meringis di wajahku. Bu Tince sedang duduk bersandar di ujung depan meja dosen, menghadap ke arah kelas.
“Saya sudah bilang, saya tidak suka kalau ada siswa yang terlambat hadir di mata kuliah saya,” katanya lagi memperingati seraya membetulkan posisi kacamata bacanya.
“Saya—”
“DUDUK! Jangan bengong saja di sana!” tukas Bu Tince galak, bersedekap.
Aku tidak berkata-kata lagi, segera melesat ke mejaku, yang berada persis di depan meja dosen diiringi tawa kecil yang sangat tak enak dari Ester dan teman-temannya. Aku yakin dia masih menyimpan dendam padaku karena kejadian di kantin beberapa saat lalu.
“ESTER! Diam!” Bu Tince menyentak keras, membungkam kikik Ester yang tawanya terdengar paling keras.
Kelas hening seketika. Dua puluh empat kepala serempak menunduk ke arah diktat Bahasa Indonesia yang terbuka di atas meja masing-masing; aku dengan cepat mengeluarkan diktatku dan membukanya, mencari halaman 101—meneladani tulisan sambung kurus Bu Tince di white-board:

Halaman 101. Puisi dan kemajuannya di zaman modern

PUISI, seperti yang telah saya jelaskan di awal kelas,” Bu Tince mulai bicara dalam suara empuk dan lantang, “saya ulangi lagi, bagi yang baru saja datang”—dia menyindirku— “adalah…”
TOK! TOK!
Bu Tince berhenti bicara. Manyun  seketika. Sementara aku, dan sepertinya juga seisi kelas, mengawasi pintu di pojok kiri ruangan dengan penuh rasa penasaran, siapa lagi kira-kira yang akan kena semprot Bu Tince, yang sangat jengkel bila diganggu saat sedang mengajar.
Bu Tince menggerutu pelan, kemudian berteriak, “MASUK!” dengan mata menyipit ke arah pintu.
Gagang pintu diputar perlahan, kemudian pintu ditarik membuka ke arah luar, dan seseorang masuk. Ternyata orang itu Pak Todi,  kepala Humas Universitas, yang juga adalah ketua jurusan Sastra. Tampang memberengut Bu Tince segera mengendur, tersenyum kikuk, dan segera berdiri dari kursinya. Secepat mungkin Bu Tince melangkah menghampiri Pak Todi, yang rona mukanya sekarang kelihatan cemas.
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Tince buru-buru.
“Kita bicara di luar saja, Bu,” kata Pak Todi kedengarannya tegang setelah sebelumnya memandang berkeliling kelas, melemparkan senyum muram pada kami, para mahasiswanya.
“Oh, ya—ya. Tentu…” timpal Bu Tince segera.
Pak Todi membuka pintu, dan mempersilakan Bu Tince keluar terlebih dulu, baru kemudian dia menyusul.
Begitu pintu menutup, kelas yang tadinya hening langsung riuh. masing-masing orang segera menyibukkan diri berbicara dengan teman sebelahnya. Saling bertanya-tanya apa kiranya yang akan dibicarakan oleh Pak Todi dengan Bu Tince, sampai-sampai Pak Todi sendiri yang mendatangi Bu Tince.
“Pasti penting, tuh…”
“Mungkin bicarain soal ujian bulan depan…”
“Jangan-jangan Pak Todi mau nembak Bu Tince…”—itu jelas-jelas spekulasi yang tak masuk akal.
Sementara teman-teman sekelasku sibuk berbicara sendiri, aku hanya bisa bengong di mejaku, menatap kosong diktat, dengan benak dipenuhi Sita, mama Sita, Sita, mama Sita, dan…
Mendadak semua ponsel seisi kelas—kecuali ponselku—serempak berbunyi. Bukan nada dering, karena frekuensinya sangat pendek—sepertinya hanya sms. Tapi kenapa bisa serentak begitu, aku membatin.
Aku memberanikan diri menolehkan kepalaku ke belakang, ke arah teman-teman sekelasku yang sekarang sedang memeriksa ponsel masing-masing.
“Oh Tuhan,” pekik Cherry kelihatan shock, menggeleng-gelengkan kepalanya, membeliak menatap sahabat-sahabatnya bergantian, yang dari tampangnya juga sama terguncangnya dengan Cherry. Terutama Ester.
Kelas langsung ramai. Lebih ramai dari sebelumnya. Aku yang ketinggalan informasi hanya bisa menatap ingin tahu wajah-wajah teman sekelasku yang berekspresi sama: kebingungan dan juga ngeri, berharap penuh ada salah satu dari mereka yang berbaik hati memberitahuku, apa yang tertulis di sms yang mereka terima.
“Sita… Masa sih?”
DONG!
Kepalaku seperti dihantam gong super besar begitu mendengar nama Sita disebut oleh salah satu teman sekelasku, yang bernama Heru, yang masih memandang terpaku layar ponselnya.
Seribu pertanyaan segera menyergapku. Pikiranku melayang ke mama Sita; apakah dia mendengarkan pesanku dan sekarang sedang berusaha masuk ke areal belakang kampus sastra dengan polisi atau…
“Nali…” sebuah suara membuatku tersentak dari lamunku. Aku mendongak buru-buru, dan menemukan Sita berdiri di depanku. Ekspresi wajahnya kelihatan cemas namun juga bersemangat.
Aku tidak bisa menyahut di depan banyak orang seperti ini. Dengan perlahan aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, sambil menenangkan diri, dan mataku mengejap ke arah Sita.
“Mamaku… datang, Nalini,” dia memberitahuku. Suaranya kedengaran bergetar. “aku hanya mau memberitahumu itu saja.”
Setelah itu tiba-tiba saja dia lenyap dari hadapanku, meninggalkan kabut aura yang meliuk mengikuti arah kemana dia menghilang.

 

(bersambung)

Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

Read more...

The Devil's Eyes: 10th & 11th Chapter

>> Monday, September 27, 2010


10


Aku berjalan riang di tengah keramaian istirahat makan siang. Sama sekali tidak mempedulikan tatapan mencela orang-orang yang berdiri atau duduk-duduk di bangku di kanan dan kiriku sepanjang koridor.
Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku, sehingga aku tidak lagi menghiraukan tingkah menyebalkan orang di sekelilingku, yang anehnya kali ini tidak melempariku dengan benda apa pun, hanya sibuk berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Aku bahkan tidak peduli dengan teriakan Kumar dan teman-temannya yang biasa, memanggilku dengan sebutan “Freak” keras-keras.
Dengan senyum kecil, seraya memegangi tali tas di bahuku, aku melangkah penuh percaya diri melewati mereka untuk menuju ke kelas, sampai…
“Hei! Nali!” panggil seseorang, yang suaranya tak terlalu kukenali.
Aku menoleh, dan serentak membeliakan mata, begitu melihat sebuah bola tenis meluncur amat kencang ke arahku—ke wajahku. Aku ingin menghindar namun sepertinya tidak akan sempat, karena beberapa inci lagi bola itu akan menghantam hidungku. Secara reflek aku berteriak, memejamkan mata—menunggu…
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang pasti banyak sekali suara orang menahan napas di sekelilingku; sebagian memekik tertahan, dan aku… Sepertinya tidak ada yang menghantam hidungku, dahi atau bagian tubuh lainnya. Bola itu…
Aku memberanikan diri membuka mata; perlahan-lahan dan hati-hati. Di depanku seorang laki-laki memakai sweter putih berdiri memunggungiku. Tangan kanannya memegang bola tenis yang beberapa saat lalu hampir menghantam wajahku, dan secepat kilat melemparkannya kembali ke arah si pelempar, yang adalah sahabat Kumar, Rafi, yang matanya melebar ngeri melihat senjatanya menyerang balik, menghantam hidungnya yang besar dengan sangat keras, sehingga dia langsung jatuh terjerembab ke lantai dengan tangan menutupi hidungnya yang mengeluarkan darah—sepertinya patah.
Abi menoleh padaku, dengan cemas bertanya, “Kau tidak apa-apa?”
Aku yang masih shock dengan peristiwa itu hanya bisa mengangguk-angguk memandang Abi, lalu kembali memandang ke arah Rafi yang mengaduh-aduh kesakitan, dikerumuni teman-temannya yang berusaha membantunya. Hanya Kumar yang masih berdiri, dadanya membusung, wajahnya masam dan matanya yang coklat berkilatan menatap Abi, kelihatan sekali murka.
Abi balas menatapnya tak kalah garang, dia bersedekap, menelengkan kepalanya seolah menantang Kumar untuk memulai bergerak lebih dulu. Tidak terlihat gentar sedikit pun.
Aku kira, dengan badan besar dan sifat kelewat percaya diri yang dimilikinya, Kumar akan nekat menyerang Abi, namun ternyata, dia malah berpaling, berjongkok untuk membantu Rafi berdiri.
“Bawa ke klinik saja,” kata Kumar, meraih tangan Rafi dan mengalungkannya ke bahunya, mengangkatnya berdiri, kemudian berlalu dengan Rafi yang masih mengerang-ngerang kesakitan, setelah sebelumnya mengerling tajam Abi.
“Ini, ponselmu ketinggalan,” kata Abi, menyodorkan ponsel kepadaku. Aku masih bengong, hanya diam memandanginya. “Kau… meninggalkannya di meja tadi… Nali?” panggilnya.
Aku tersadar, mengejap-ngejapkan mataku cepat-cepat. “Oh, ya… ya…,” aku menerima ponsel yang dipegang Abi, memasukkannya ke dalam tas, lalu mendongak memandangnya.“Terima kasih,” ucapku, entah kenapa menyeringai. “Kalau kau tidak—”
“Saranku,” potong Abi datar, dengan ekspresi dingin, “kau harus berusaha melawan orang-orang yang selalu menjahilimu. Kalau kau diam saja, mereka akan menganggapmu lemah, dan akan selalu memperlakukanmu dengan buruk. Jadilah orang yang kuat, agar tidak merepotkan orang lain.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Abi memalingkan tubuhnya dan pergi, sementara aku melongo memandangi punggungnya menjauh.
Selama beberapa detik—yang rasanya lama sekali, aku hanya bisa berdiri diam tak bergerak, dengan pikiran yang sama sekali kosong. Baru setelah seseorang tak sengaja menyenggolku aku tersadar, dan cepat-cepat berjalan pergi dengan perasaan campur-aduk. Entah kenapa jadi merasa kesal pada Abi, yang beberapa saat sebelumnya membuat hatiku berbunga-bunga.  
Kata-katanya persis seperti yang dikatakan Sita padaku kemarin, kalau dia kesal melihatku yang seperti orang lemah. Dan itu, membuatku tersinggung. Aku merasa sedih, membuat air mataku menggenang di bagian bawah mataku, yang segera kuhapus menggunakan punggung tanganku. Dengan cepat aku berbelok ke koridor sepi dan gelap di sebelah kiri, menuju toilet belakang, berjalan beberapa langkah, sampai akhirnya berhenti, dan bersandar di tembok; berusaha menenangkan diri (untungnya koridor itu benar-benar sepi).
“Nali…” panggil suara kecil yang kedengaran pelan, tepat di sebelahku.
Aku menoleh sekilas, dan melihat Sita meringis kecil. Cahaya auranya yang putih kusam menerangi kegelapan, seperti lentera besar yang berpendar.
“Hei…” sapaku lemah, seraya menyeka bekas-bekas air mata di sudut mataku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku—tidak apa,” sahutku cepat, meringis sedikit. “Bagaimana kau bisa muncul cepat sekali? Kau mengikutiku?” tanyaku heran.
“Sebenarnya, ya… tapi aku menjaga jarak, tidak begitu dekat, jauh dari jangkauan pendengaranku sendiri,” kata Sita cepat-cepat, seolah-olah menegaskan padaku kalau dia tidak bermaksud menguping.
“Tidak apa,” dengusku, tersenyum hambar, terdiam beberapa saat sampai akhirnya kembali bicara.
“Aku akan menelepon mamamu sekarang,” aku memberitahu Sita. “Kau… tunggu saja.”
Ada binar terang di mata Sita, dan bibir mungilnya mengembang tersenyum. “Terima kasih…” katanya dengan suara bergetar. “Terima kasih… Nali.”
Aku tersenyum kecil, mengangguk sedikit, kemudian melangkahkan kaki lagi kembali ke koridor ramai, setelah sebelumnya melambai sekilas pada Sita yang tersenyum manis.




11


Sudah lama sekali aku tidak menggunakan telepon umum koin, sejak mewabahnya telepon kartu, disusul oleh kemunculan telepon selular yang menjadi benda wajib yang harus dimiliki semua manusia di mana pun, membuat telepon umum menjadi sebuah sarana primitif, dan keberadaannya di pinggir-pinggir jalan kota besar seperti Jakarta ini hanya sekedar onggokan boks terbengkalai.
Sama seperti boks telepon umum di depan lahan parkir kampusku, yang sudah jarang sekali dipergunakan, yang tampilannya sebenarnya sudah tidak patut lagi untuk ditempatkan berdampingan dengan areal parkir mahasiswa yang dipenuhi mobil-mobil mewah nan mentereng; cat merahnya sudah amat luntur dan mengelupas dimakan rayap, beberapa kacanya hilang, dan terkena serangan cat semprot di sana-sini bertulisan entah apa. Kasihan sekali.
Kalau saja boks telepon itu hidup, dia pasti sudah menciut karena malu pada mobil-mobil berkilat di depannya. Namun saat ini, bagiku, apa pun bentuknya, boks telepon umum itu adalah solusi paling tepat untukku membantu Sita.
Cling
Bunyi nyaring suara uang logam seratusan yang terjatuh di sisi dalam boks koin membuatku terlonjak.
Jujur saja, aku gugup sekali melakukan ini—menelepon mama Sita. Memang, ini bukan tindak kriminal; aku hanya ingin mengabarkan dimana tubuh putrinya berada. Tapi bisa saja kan, mamanya salah paham, berpikiran negatif, lalu menuduhku yang membunuh anaknya. Histeris, melapor ke polisi, dan polisi akan melacak nomor telepon umum ini; mengumpulkan saksi-saksi dan menemukan bukti bahwa akulah—oh, sudahlah, Nali, tegur suara kecil di kepalaku kedengaran amat jengkel. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Kalau memang tidak ingin melakukannya, jangan lakukan.
Tapi bagaimana bisa aku tidak melakukannya? Aku sudah berjanji pada Sita.
Aku menarik napas tajam, dan perlahan kuempaskan lagi pelan-pelan. Dengan tekat yang bulat, tanpa berpikir apa pun lagi, kutekan tombol-tombol angka yang berderet rapi—nol, delapan, satu, satu, dan entah berapa lagi, aku tidak ingat.
Suara tuut panjang dan lama terdengar bergaung di telingaku. Berulang-ulang; tanpa terputus.
Sambil menunggu sang pemilik ponsel menjawabnya, aku berusaha keras mengendalikan napasku yang kian berat dan badanku yang gemetaran.
Satu detik, dua detik, tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya, diawali oleh suara klik pelan, terdengar suara lembut seorang wanita berkata, “Halo, Selamat siang.”
Aku merasa kehilangan lidah, tidak bisa membalas sapaannya. Kepalaku serasa kosong.
“Halo? Halo?” wanita itu berkata lagi, suaranya kedengaran bingung. “Halo? Siapa ini?”
Aku mencoba membuka mulut, tapi rasanya berat sekali. Aku sepertinya terlalu ketakutan. Dan untuk sepersekian detik di tengah suara, “Halo, halo,” wanita itu, aku hanya bisa bengong, mematung.
“Halo, siapa ini? Halo?”
Aku meringis kebingungan. Nali, jawab! Kau idiot, tegur suara kecil cerewet di kepalaku lagi.
Tiba-tiba wanita itu terdiam. Hening. Membuatku heran.
 “Sita? Sayang… Apa ini kau, Sayang?” wanita itu berkata lagi, kali ini dalam suara lemah yang bergetar, menahan tangis, menyebut nama Sita—menyangka kalau Sitalah yang meneleponnya.
Rupanya dia tetap berharap kalau putrinya itu masih hidup. Atau mungkin matian-matian berpikir begitu, dan berusaha menepiskan perkiraan-perkiraan akan hal-hal buruk yang bisa saja menimpa Sita. Aku jadi merasa ragu dan berat hati untuk menyampaikan berita buruk ini padanya. Aku tidak bisa membayangkan reaksinya.
“Sita… Tolong jawab, Sayang. Mama mohon. Dimana pun kau sekarang, apa pun yang telah kau lakukan—”
“Saya bukan Sita,” selaku buru-buru dalam suara teredam—aku sengaja menutup mulutku dengan tanganku untuk mengubah suara—berupaya keras menahan gugup.
“Ap—apa? Siapa—”
“Tubuh putri Anda terkubur di pembuangan sampah di belakang gedung kampus Sastra. Tolong segera datang—hari ini juga.”
“Apa?! Ap—”
Klik.
Aku meletakkan gagang telepon buru-buru, dan menyandarkan punggungku ke dinding kaca di belakangku. Jantungku berdegup sangat kencang dan napasku terengah-engah, seperti napas orang yang baru berlari jauh.
Sungguh tidak nyaman bagiku melakukan hal ini. Aku merasa menjadi salah satu orang yang terlibat dalam kasus hilangnya Sita. Aku takut niat baikku malah menjadi bumerang bagiku. Dan berharap Mama Sita tidak memiliki pikiran untuk melacak teleponku barusan.
Bisa gawat.

Read more...

missing pieces

>> Saturday, September 25, 2010

hati saya retak. dan salah satu serpihannya itu jatuh entah dimana.
saya tidak lagi utuh karenanya, berjalan timpang dan merasa kosong.
saya mencari serpihan itu dengan panik.
tapi tak juga saya temukan.
saya menangis, saya marah, saya kebingungan,
tapi percuma, serpihan itu tidak akan saya temukan lagi.
jadi saya diam. menenangkan diri. mengusap dada, untuk menarik kesabaran sebanyak mungkin.
agar pelan-pelan, serpihan yang hilang itu dapat saya temukan kembali.
dan berharap, bila serpihan itu akhirnya dapat saya temukan,
kondisinya tetap baik, atau mungkin lebih baik dari sebelumnya.

Read more...

quote yang sangat menuntun. patut direnungkan.

>> Friday, September 24, 2010

Arti Seorang Sahabat
 

Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan,
tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.

Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur - disakiti, diperhatikan - dikecewakan, didengar - diabaikan, dibantu - ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
 
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya, ia memberanikan diri menegur apa adanya.

Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil
mendapatkannya.

Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.


Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda ??
Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??

MEREKALAH SAHABAT ANDA
Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.

**Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita **
 

Read more...

broken

>> Thursday, September 23, 2010

saya patah hati.
Bukan patah hati sama laki-laki.
Tapi sama seseorang yang sudah saya anggap teman.

Dia diam. Dia menjauh. Dia berbicara. Tapi bukan lagi bicara tentang hal2 yang dulu membuat kami tertawa.

Dia sekarang orang asing buat saya. Bukan lagi seseorang yang saya tahu.
Keramahannya tak lagi ada, begitu pun lelucon-leluconya
Saya tahu saya menyakitinya dengan barisan huruf yang menghina. Dan saya bersalah. Saya menyesal. Saya berkata, "Maaf."
Tapi semua ada alasannya, dan saya sudah katakan alasannya. Dan saya mengulang berkata, "Maaf."

Dia memaafkan. Dia mengerti. Tapi sikapnya tak akan bisa lagi seperti dulu. Hatinya perlu ditata. .

Tak apa. Tatalah hati. Saya tak akan apa-apa. Saya tak akan memaksa untuknya mendekat lagi. Tak akan. Kami berbeda. Jauh. Tak baik bila dipaksakan.

Saya pun sedang menata hati. Menghapus semua memori tak menyenangkan yang terpatri, dan mengulang dari awal lagi. Melupakan segala kesakitan yang saya alami dan kebodohan yang saya perbuat.
.
Namun tak akan saya lupa hari-hari saat senyumnya mengembang lebar. Dan untuk itu saya berterima kasih. Setidaknya dalam hidup saya, ada yang pernah begitu 'care' dan mendukung saya.

'maaf, kalau saya bukan orang yang kuat',
'hati saya terbuat dari jelly, jadi gampang sekali hancur karena kata'
'maaf.'

Read more...

The Devil's Eyes: 9th Chapter


9


“PERMISI,” sapa suara nyaring kecil yang sangat kukenal. Aku mendongak, batal menyuapkan nasi ke dalam mulutku, dan melihat Ester berdiri di belakang Abi, tersenyum-senyum genit, menebar pesona. Dia mengibaskan rambutnya yang panjang ke belakang, kemudian melanjutkan bicara setelah semua kepala mendongak memandangnya.
“Hai, semua… Aku Ester,” katanya dengan penuh percaya diri, melambaikan tangannya pada kelima orang di depanku, tidak menatapku sama sekali.
Aku memerhatikan ekspresi wajah Sima, Anila, Jyotis, Rati dan Abi, dan merasa aneh sendiri saat melihat ketidaktertarikan di wajah masing-masing. Terutama untuk para prianya, alih-alih kelihatan antusias; tersenyum lebar seperti reaksi para pria lain bila disapa oleh Ester, wajah mereka cenderung masam. Dan tampaknya Ester sadar dengan rona tak bersahabat yang tersirat di wajah kelima kakak-beradik itu, sehingga untuk pertama kalinya dia jadi terlihat grogi, terkikik kikuk di depan mereka.
“Ada apa?” tanya Rati judes, mengibaskan rambut panjangnya yang sangat lurus.
“Eh—mm… anu,” (aku benar-benar ingin tertawa melihat tampang Ester sekarang) “Mm, aku hanya ingin mengajak kalian duduk di mejaku,” Ester menoleh ke belakang sekilas, menunjuk ke arah Dian, Cheri dan Seli, yang tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya dengan heboh dari meja mereka. Dian, saking semangatnya menggoyangkan tangan, tak sengaja menghantam pelipis Cheri yang langsung berjengit, dan menepis tangan Dian dengan marah—aku menahan diri untuk tidak tertawa. “bersama teman-temanku. Meja kami lebih baik daripada meja ini” (Ester mengerling kejam padaku) “dan pemandangannya lebih bagus.”
“Bukannya pemandangannya sama saja?” tanya Anila, menyipitkan sebelah matanya, “pemandangan kantin dan rumput di luar.”
“Bukan itu saja,” sambar Ester buru-buru, agak lebih bersemangat dari sebelumnya. “Kalian bisa ngobrol dengan kami… kebetulan kami adalah pengurus klub Popular, yang anggotanya adalah mahasiswa dan mahasiswi top di kampus. Rencananya kami ingin mengajak kalian menjadi anggotanya—akan sangat menyenangkan sekali bila kalian mau bergabung, dan itu bisa meningkatkatkan kepopuleran kalian semua di kampus ini. Aku sendiri akan jadi finalis Putri Kampus tahun ini, dan dipastikan akan menang… dan aku membutuhkan…”
“Kami tidak tertarik,” potong Rati, dengan dagu terangkat.
Melihat wajah Ester—dahi berkerut-kerut dan bibir yang mengerucut—setelah mendengar kata-kata Rati barusan, sepertinya dia sudah ingin sekali meneriaki Rati. Namun, karena jaga image di depan empat cowok ganteng, yang adalah target utamanya dan kebetulan (yang sangat tidak menyenangkan) adalah kakak-kakak dari Rati, Ester memaksakan diri tersenyum manis.
Kau, tentu tidak tertarik,” kata Ester dengan suara lembut semanis madu pada Rati, “tapi belum tentu saudara-saudaramu, kan?”
Dia benar,” sahut Jyotis dingin, mengacu pada Rati, “kami memang tidak tertarik.”
“Kami di sini, menjalankan misi, yaitu… belajar,” sambung Anila sedikit tercekat (dia tampaknya memaksakan diri untuk mengatakan kata ‘belajar’ itu), “bukan cari popularitas.”
Ester kelihatan sangat tersinggung dengan penolakan itu, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis.
“Maaf, ya,” tambah Sima, tersenyum, sepertinya berusaha menghibur Ester. Tapi Abi malah membuat kesedihan Ester semakin menjadi, dengan berkata, “Pergilah,” dengan tatapan dingin dan nada memerintahnya yang kedengaran kejam.
Ester segera memalingkan tubuhnya dengan gusar, dan berlari keluar kantin dengan air mata berlinang, tidak mempedulikan teman-temannya yang memanggilnya dengan panik, bergegas menyusulnya, membawakan tasnya yang tertinggal di meja.
Ini pertama kalinya—benar-benar pertama kalinya, ada orang yang berani menolak Ester tepat di depan orang banyak, dan sama sekali tidak terpukau pada wajah cantik dan penampilannya yang mewah, sementara banyak mahasiswa-dan mahasiswi di kampus harus bersusah payah menarik perhatiannya (dulunya Sita) agar ditawari bergabung di klub Popular agar bisa ikutan ngetop.
Menurutku klub itu konyol. Prestasi yang mereka punya sejauh ini, ya, Putri Kampus, atau Pangeran Kampus, dan yang menang ya, ketuanya. Tahun lalu Sita, dan tahun ini, pastilah Ester.
Tapi jujur saja, menurutku kakak-beradik ini agak tidak normal, dengan menolak tawaran Ester, pikirku, sembunyi-sembunyi memandang lima orang di depanku, seraya meletakkan sendok dan garpu yang masih kupegang di atas piring.
“Kami sangat normal,” cetus Rati tiba-tiba, sepertinya kelepasan bicara, karena Sima langsung melirik mengancam ke arahnya. Aku sendiri kaget, karena sepertinya dia menyahuti isi pikiranku barusan. “Eh—maksudku, kami normalnya memainkan alat musik klasik,” katanya buru-buru, kelihatan agak kikuk.
“Kenapa kau tidak jadi makan?” tanya Abi lagi dengan kedua alis mengernyit ke arah piringku yang isinya tinggal separo.
“A-aku ke-kenyang…” jawabku gugup. “Lagipula… aku harus segera pergi. Masih ada urusan,” kataku, tersenyum meringis.
Tepat saat itu, terdengar banyak kursi bergeser, aku menggerakkan mataku ke asal suara tersebut, dan mengawasi rombongan Kumar pergi meninggalkan kantin.
“Apa kau selalu makan siang di kantin ini?” tanya Rati, mengalihkan perhatianku.
Aku mengangguk. “Ya… aku selalu makan siang di sini. Memang ada kantin lain di gedung lain—di gedung kalian contohnya, tapi… aku tidak terlalu suka jalan-jalan… maksudku… ada alasan kenapa aku tidak melakukannya,” tambahku cepat-cepat, takut mereka tersinggung, menyangkaku menuduh mereka suka jalan-jalan, “sebenarnya aku ingin sekali.”
Senyum mengembang di wajah lima kakak-beradik itu, membuatku bersyukur dalam hati, mereka tidak tersinggung. Ya, walaupun aku tahu, prospek untuk duduk bersama mereka seperti hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, karena pasti akan ada yang segera memberitahu mereka perihalku, setidaknya aku ingin meninggalkan kesan baik.
“Kalau begitu,” aku tersenyum pada kelimanya, mengangkat bahu, “aku pergi sekarang.”
Aku memandang berkeliling, kembali tersenyum untuk membalas senyum yang mereka lontarkan padaku. Setelah itu aku meraih tali tasku dan menyandangkannya di bahu, berdiri, kemudian mengangguk sedikit dan berkata, “Bye,” pelan.
Bye,” balas mereka bersamaan, tersenyum ramah.
“Sampai ketemu, Nali,” tambah Anila, mengedipkan matanya.
Aku tersenyum, dan mengangguk, kemudian berkata, “Sampai ketemu juga…”
Setelah itu sambil membetulkan tali tas di bahuku, aku pergi meninggalkan kantin dengan dengan senyum lebar di wajahku.
(bersambung)

Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

Read more...

kuciwa ma Eclipse

>> Sunday, September 19, 2010

Finally, saya kesampean juga nonton Eclipse! hasil Donlod di sebuah situs yang baik hati banget nyediain dvd2 film--gratis!
Sayangnya... Eclipse yang trailer-nya sepertinya keren banget itu, malah bikin saya ngantuk. Gak seperti Twilight ato New Moon yang bikin melek sepanjang tayang, Eclipse malah ngebosenin, dan agak terlalu lebay--adegan romannya menurut saya terlalu banyak. Pas menjelang adedgan akhir aja mata melek lagi. Sayangnya... film hasil donlod-nya yang bermasalah; stuck pas adegan Victoria berbalik waktu ditantangin Edward (sebel!).
Solusinya, saya terpaksa nyari endingnya di e'booknya, yang gak pernah saya baca sampe abis. Dan ternyata juga gak seru2 banget. Wah, kuciwa, deh!
Kalau begini, jadi rada was-was sama kelanjutannya: Breaking Dawn. Seengaknya, seperti yang saya bilang sebelumnya, penceritaan film Twilight dan New Moon, meskipun bukunya sama lebaynya, lebih bagus. Pas adegan roman sama actionnya.
Ini cuma opini saya pribadi, karena emang saya ngerasa gitu.
Jadi kalo ada yang gak sepaham... Maaf yah.
Tapi tetep kok Rob n Bella masih cakep. Meskipun di film yang saya tonton, kayanya bedak mereka agak ketebelan. Hehehe...

Read more...

coretan romantis

>> Wednesday, September 8, 2010

saat aku sedih karena pagiku yang muram, dia hadir sebagai matahari yang mengusir mendung
saat aku lelah karena hariku yang panjang, senyumnya adalah doping yang mengembalikan semangat
ketika hatiku sedih dan resah, suaranya yang jenaka membuatku ceria lagi
ketika aku jenuh dengan semuanya, sosoknya adalah pengalih dari kebosanan
terbuat dari apa dia sebenarnya? begitu menyenangkan, begitu dikagumi, begitu didamba, begitu diimpikan.
senyum lepasnya tak tertolakkan, membuatku tak mampu menghindari

Read more...

greeting card

>> Tuesday, September 7, 2010


Note:
Met Lebaran ya semua... jaga2 kalo saya lupa ngucapin pas hari "H" nya
Semoga Lebaran kali ini membawa lebih banyak berkah, ketentraman dan kedamaian fisik dan batin semua orang.

Lita's Note

Read more...

'quicky' update'an

>> Monday, September 6, 2010

1. I'm so empty... but my head's so full--dont know though, full of what...
2. I've made a choice! I'll stay, no matter what. I love my friends, I love my cubicle... I love the crowd... I refused the great offer from the best one.
3. My hubby and I, we're both have to let 'our love' go... for now... And it hurt me badly... I've lost something I really love and dream... For my own sake and my beloved one... Sorry baby... Sorry...
4. Try to smile all the time, all day, every minutes, every second... no matter what, just to make everyone know I'm okay. But inside... Destruction!
5. Hurting... very sick... very sad...
6. I love my peeps @ Ema... I can't stand for being far away from 'em...
7. Recently caught write a bad note by one who actually I address my remarks to... (hihihi)
8. Need a real friend. But... it difficult to seek a friend that has qualities of a real friend...
9. Lost my trust to everyone I trust.
10. I'm getting smaller... I guess.
11. Count the day... 'til my last breath...

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP