The Devil's Eyes: Bab 5

>> Saturday, February 6, 2010

5


PAGI tiba, dan aku terbangun dengan sedikit panik setelah mendengar jeritan jam beker di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Ku matikan benda menjengkelkan itu buru-buru dengan mata masih membayang. Setelah pandanganku mulai jelas, dan memerhatikan jam beker tersebut dengan saksama, serentak mataku membeliak, melihat posisi kedua jarumnya yang masing-masing menunjuk ke angka tujuh dan enam.
Jam setengah delapan, dan aku ada ujian Bahasa Indonesia di jam pertama—jam setengah sembilan.
Aku mendesah lemah. Dengan enggan, karena mataku masih berat sekali, kuturunkan kakiku ke lantai kamar yang luar biasa dingin, berdiri, dan berjingkat ke kamar mandi, seraya menggelung rambutku dengan ikat rambut. Dan tidak sampai sepuluh menit, aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
Setelah mengeringkan badan sebentar, aku melesat ke lemari pakaian yang menempel ke dinding di seberang tempat tidur, dan menarik asal saja kaus biru berkerah dan celana jins dari tumpukan baju, kemudian berpakaian secepat kilat.  
Aku sedang menyisir rambutku, ketika Nila mendadak masuk ke kamar, sudah terlihat manis dengan seragam putih-abunya. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda, terjurai ke punggungnya.
“Kau mau kemana?” tanyanya, kelihatan bingung.
“Tentu saja, mau kuliah,” sahutku, masih menyisir rambutku, menghadap ke cermin besar yang tergantung di dinding di sebelah meja belajarku, “memang mau kemana lagi?”
“Tapi, mama bilang kau harus istirahat,” kata Nila. Sebelah matanya disipitkan.
“Mama berlebihan,” balasku, “dan kau jangan ikut-ikutan,” aku mengacungkan telunjukku pada Nila, “lagipula, aku ada ujian pagi ini. Aku tidak mau ikut ujian susulan—tidak enak.”
“Tapi…”
“Sudahlah, Nila, aku tidak apa-apa,” aku menatap Nila tajam, menegaskan kata-kataku.
Nila mencibir, bersedekap, dan mengangkat bahunya, menggumamkan sesuatu yang sangat pelan, yang kedengarannya seperti, “Terserahlah.”
Setelah selesai berdandan, aku bersama Nila keluar dari kamar, dan pergi ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan.
Duduk di kursi di ujung meja makan, sedikit botak dan gemuk, sudah rapi dengan kemeja kerjanya, adalah papaku yang sedang menyeruput kopi dari cangkirnya, sambil membaca koran. Mama duduk di sebelahnya, sedang mengoleskan mentega ke roti tawar. Mereka berdua segera memandang ke arahku dan Nila, begitu mendengar langkah sepatu kami mendekat. Saat melihatku, raut muka mama langsung cemas.
“Aku tidak apa-apa, Ma,” kataku buru-buru, saat dia baru akan membuka mulut untuk bicara. “Aku ada ujian hari ini, jadi aku tidak ingin absen,” lanjutku lagi, sambil menyambar roti tawar yang ada di piring di meja di depan mama, menyantapnya cepat-cepat sambil berdiri, sedangkan Nila mendudukan dirinya di sebelah kiri mama.
“Tapi… kau perlu istirahat, Nali. Bukannya kemarin kau bilang kau kelelahan,” kata mama, meletakkan roti yang baru saja selesai diolesi mentega.
“Aku sudah tidur cukup semalam,” sahutku ringkas, seakan itu menyelesaikan persoalan. “Energiku sudah kembali pagi ini.”
“Papa akan mengantarmu, kalau begitu,” kata Papa, setelah meneguk habis kopinya.
“Oh, tidak usah,” aku menggeleng cepat-cepat. “Aku naik bus saja, kampusku dan kantor papa kan berlawanan… jadi…”
“Kebetulan Papa ada urusan di daerah kampusmu itu,” sela papa segera, “jadi, tidak masalah.”
“Aku dong, yang mesti naik bus hari ini, kalau begitu?” kata Nila, cemberut.
“Sekali-sekali, kan tidak apa,” tegur mama.
Nila mengangkat bahu, lalu menggigit rotinya banyak-banyak, dengan bibir masih mengerucut. Ngambeg lagi.
“Jadi, mau berangkat sekarang?” tanya papa padaku, mengerling arlojinya.
Aku mengangguk, nyengir. “Iya, biar bisa belajar dulu sebentar di kelas.”
Papa balas mengangguk, lalu bangun dari kursinya, meraih jasnya yang disampirkan ke punggung kursi, sementara aku berpamitan pada mama, mencium tangannya, kemudian mengecup puncak kepala Nila, yang asyik melahap rotinya.
Bye,” ucap Nila sambil lalu dengan mulut penuh roti.
Bye,” balasku, lalu berjalan ke arah ruang tamu, menuju pintu depan, mendahului Papa yang sedang berpamitan pada mama.


“SEBAIKNYA kau pulang naik taksi nanti, agar bisa diantar sampai depan rumah,” saran Papa saat kami berdua sudah berada di dalam mobil. “Atau kalau kau memang hobi naik bus, begitu turun di halte, langsung panggil ojek.”
Aku mendengus tersenyum, menolehkan kepalaku menatap Papa yang berkonsentrasi mengendarai mobil. “Aku tidak apa-apa, kok, Pa…”
“Kau memang tidak apa-apa, tapi mamamu… dia histeris sekali,” kata papa memberitahu. “Para tetangga juga kelihatan panik, mereka mengira kau diserang orang jahat.”
“Aku yang salah, karena berteriak seperti itu,” kataku. “Anggap saja kalau itu kebodohanku.”
“Mamamu bilang, kau mengatakan kalau kau berpikir melihat sesuatu yang menakutkan… Memang apa yang kau lihat di pikiranmu?” tanya Papa, menengok sekilas padaku.
Aku mendengus, dan menggelengkan kepala segera. “Aku tidak ingat dan tidak berniat untuk mengingatnya,” kataku.
Papa balas menggeleng, namun bibirnya melengkungkan senyum kecilnya yang biasa.
“Kalau begitu, bagaimana kuliahmu?” tanyanya. “Apa oke? Teman-temanmu baik padamu? Papa lihat, kau tidak pernah sekali pun membawa temanmu ke rumah, sejak pertama kau kuliah.”
Aku mengembuskan napas, tidak menyangka papa menanyakan hal yang menurutku amat sensitif untuk dibicarakan. Tapi, Papa berhak menanyakan itu, toh, dia tidak tahu apa yang terjadi di kampus; aku tidak pernah membicarakannya, baik padanya, mama atau Nila, jadi wajar saja kalau dia ingin tahu.
“Aku—kuliahku baik-baik saja—papa sudah lihat IP-ku kan? Dan teman… aku tidak punya teman dekat di kampus, tidak seperti di SMP atau di SMU—mereka semua agak individual,” kataku beralasan.
“Yah, untuk para gadis, kampus adalah ajang kompetisi—mungkin sedikit berat bagimu, tapi setidaknya… kau punya teman untuk bergaul di kampus,” timpal papa, sementara aku mengernyitkan alis menatapnya. “Hei, Papa dulu juga pernah jadi mahasiswa kan, papa tahu, bagaimana serunya persaingan teman papa yang cewek-cewek,” (aku tergelak) “untung Mamamu bukan tipe gadis yang seperti itu—biasa-biasa saja, dan tidak suka cari perhatian.”
“Tapi, bukannya Papa dulu playboy kampus?” ejekku, “bukannya playboy kampus lebih suka bergaul sama cewek-cewek yang suka cari perhatian?”
Papa mengangkat bahu, dadanya sedikit dibusungkan, kelihatan sekali bangga. “Playboy kan lama-lama kapok juga,” katanya.
“Sepertinya Papa bangga dengan gelar itu?” cecarku.
“Sudahlah, jangan dibahas, nanti kau ngadu ke mamamu,” kata papa, menyeringai.
“Kan Papa duluan yang menanyakan keadaan kampus padaku, apa salahnya kalau aku mengorek informasi tentang kehidupan kampus jaman Papa dan Mama dulu,” kilahku.
“Hus! Sudah,” kata Papa, pura-pura marah, sementara aku mendengus tertawa.


Ketika VW kombi papa memasuki pelataran parkir kampus, jam kecil di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit—berarti masih ada waktu empat puluh lima menit lagi untukku belajar di kelas, manajamkan ingatanku dengan peribahasa-peribahasa kuno yang dipastikan keluar pada ujian kali ini.
Aku buru-buru berjalan menuju undakan depan kampus, setelah sebelumnya berpamitan pada Papa, sambil bertanya-tanya, apakah hari ini akan ada hal baru yang akan terjadi padaku selain lemparan tisu, gulungan kertas, atau puntung rokok? Atau mungkin sama saja. Hal itulah yang selalu terpikir pertama kali, saat aku melangkahkan kakiku ke areal kampus setiap pagi. Meskipun pada kenyataannya menyakitkan, aku tidak mau bersedih hati, khawatir kalau dengan bermurung durja, aku malah stress, dan akhirnya berdampak buruk pada kuliahku.
Cukup pergaulanku saja yang kacau, aku tidak ingin kuliahku kacau juga.
Aku menaiki undakan dengan langkah lebih mantap dari biasanya, entah kenapa, perasaanku jauh lebih baik hari ini, dan mendadak wajah pria tampan itu terkenang lagi di benakku, membuatku tanpa sadar tersenyum kecil.
“Nali…”
Aku mengangkat wajahku, dan mendesah pelan, begitu melihat Sita sudah berdiri di puncak undakan, menantiku. Bau comberan tercium lagi olehku. Aku terus berjalan, dengan tangan menutup hidung, sampai di puncak undakan aku berhenti.
“Nali, aku…”
“Aku harus ke kelas, ada ujian,” kataku menyela, berusaha tidak banyak menggerakkan bibirku, agar orang-orang yang lalu lalang di kanan kiri kami tidak curiga, menunduk, merogoh tasku, berpura-pura mencari sesuatu, “dan aku perlu berpikir matang untuk membantumu atau tidak.”
“Kau masih marah,” kata Sita sedih, menundukkan kepalanya. “Aku…”
“Apa kau tahu… dimana tubuhmu berada?” selaku lagi, menarik keluar ponselku, dan menghidupkannya.
“Ya…ada di… belakang kampus. Tempat pembuangan sampah,” jawab Sita, agak berat hati.
Serentak aku mengangkat wajahku, menatap Sita yang wajah pucatnya jadi semakin pucat setelah memberitahuku, dan segera menurunkan kepalaku, begitu serombongan orang berjalan ke arah kami lagi.
“Kau… yakin?” tanyaku, sambil menekan keypad ponselku dengan lincah, mengirimkan pesan pendek pada Nila, menanyakan apa dia sudah sampai di sekolah atau belum. Sekadar basa-basi, agar aktingku meyakinkan.
“Aku yakin,” jawab Sita.
“Kalau begitu… jangan ganggu aku dulu. Aku harus konsentrasi untuk ujian.”
Setelah itu aku berlalu pergi, meninggalkan Sita, yang ternyata menuruti permintaanku, tidak mengikutiku sama sekali.


(bersambung)
A novel by Putu Indar Meilita


3 comments:

merry go round February 7, 2010 at 6:53 PM  

ko Nali gampang bgt mau banti Sita c.....

keseharian rakun February 8, 2010 at 11:35 PM  

apa yang akan terjadi di chap 6?
lanjut...

zee ashter January 1, 2013 at 11:12 AM  

Koreksi dikit nii...kyaknya diawal td ktanya ujian bhasa jam 8.30..bgtu dbawah,nali smpe k kmpus jm 8.15..brrt shrusnya,wktu yg trsisa 15mnit..bukan 45mnit kan ?..heheee

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP