The Devil's Eyes: Bab 8

>> Saturday, February 13, 2010


8


AKU bersyukur aku sudah pergi meninggalkan halaman belakang kampus, ketika serombongan orang—laki-laki dan perempuan—berjalan berlawanan denganku menuju toilet di belakang. Aku mempercepat langkah, dengan satu tangan masih mencengkeram ponsel yang belum sempat kumasukkan kembali ke tas, setelah sebelumnya menyimpan nomor ponsel mama Sita yang baru saja diberikannya.
Aku belum tahu mau apa dengan nomor ponsel tersebut—masih bingung, dan memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu di kantin, siapa tahu dengan energi yang bertambah, pikiranku juga bisa lebih terang.
Saat aku masuk, kantin masih sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk, termasuk gang-nya Ester yang duduk di meja favorit mereka—di meja tengah, tidak beberapa jauh dari meja paling sudut, tempatku biasa duduk—sedang membahas soal-soal ujian tadi, dan kelompoknya Kumar, si playboy kampus, yang duduk memenuhi meja di depan dinding sebelah kanan.
Dua musuh terbesarku di kampus ada di kantin ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Tapi sekarang aku harus makan. Lebih cepat lebih baik, sebelum kantin ini ramai, dan Kumar atau Ester memprovokasi massa untuk melakukan tindakan tak menyenangkan padaku.
“Nasi goreng lagi, Mbak Nali?” tanya Bu Pranto, ibu kantinku dengan ramah.
Aku mengangguk, tersenyum manis pada Bu Pranto yang segera mengambil piring dan mengambilkan nasi goreng panas yang baunya menguar sedap dari dalam magic jar.
Bu Pranto, Pak Pranto dan anaknya, Aria yang seusia dengan Nila, selalu ramah padaku, meskipun tahu betapa aku dikucilkan dari pergaulan kampus. Mereka selalu merasa iba dengan perlakuan orang-orang di kampus padaku yang menurut mereka tak berperikemanusiaan, dan memujiku karena mampu bertahan dari serangan kebencian dari mana-mana.
“Terima kasih, ya, Bu,” ucapku, sambil menyodorkan uang padanya. “Es jeruknya…”
“Nanti biar diantar,” sela Bu Pranto, balas tersenyum.
Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi, kemudian berpaling dengan membawa piring nasi goreng di tanganku, melewati beberapa meja, salah satunya meja Ester, yang mencibirkan bibirnya saat melihatku.
“Hei, FREAK!” seru suara dari samping, yang kukenali sebagai suara Kumar, diikuti timpukan tisu yang dilempar oleh teman-temannya.
Aku mengacuhkannya, terus berjalan ke arah meja belakang, mendudukan diri di kursi, menghadap ke arah konter Bu Pranto, meletakkan ponsel yang masih kupegang di atas meja, menaruh tas di kursi kosong di sebelahku, dan mulai makan. Kira-kira semenit kemudian, Bu Pranto datang membawakan es jeruk yang segera kuteguk untuk membebaskan rasa tercekat di tenggorokanku—oh, nyaman sekali rasanya, setelah itu aku melanjutkan makan kembali.
Kini kantin sudah mulai ramai, hanya ada dua meja—satu setengah meja, sebenarnya—yang masih kosong, yaitu meja sebelahku dan mejaku sendiri. Nasi gorengku tinggal setengah, dan sepertinya tidak sanggup kuhabiskan, padahal sebelum kemari aku merasa kelaparan sekali, tapi sekarang…
Sambil meneguk es jerukku, aku menghadapkan wajahku ke kiri, menatap taman berumput, yang memisahkan gedung B, fakultas Sastra, dan gedung C, fakultas Seni di seberangnya. Setelah merasa cukup melihat-lihat, aku kembali menyantap nasi goreng di piringku, memutuskan untuk menghabiskannya saja, karena teringat delikan mencela mamaku, saat aku atau Nila tidak menghabiskan makanan kami.
 “Maaf, apa meja ini masih kosong?” tanya suara berat dari arah depanku—suara laki-laki.
Agak tersentak, aku cepat-cepat mendongak untuk melihat pemilik suara itu, dan mulutku langsung menganga. Di depanku sekarang, berdiri empat orang—tiga laki-laki dan seorang gadis— dengan wajah… Oh, aku tidak pernah melihat orang setampan dan secantik mereka sebelumnya.  Mereka semua berpakaian putih-putih, yang membuat badan mereka seolah memendarkan cahaya putih yang lembut.
Mata mereka semua biru sampai dengan pupilnya—mereka semua pasti mahasiswa pindahan yang tadi diceritakan Seli di kelas—dan rambut mereka semua hitam, berkilauan, persis seperti rambut model iklan shampo di televisi. Tubuh mereka—baik dari bentuk atau tingginya—sempurna. Tanpa cacat.
Apa ini mimpi, pikirku. Karena orang-orang seperti mereka tidak akan mungkin ada di bumi—atau mereka… bukan manusia, melainkan malaikat yang turun ke bumi.
Sekelilingku mendadak hening. Semua mata seantero kantin, kini memancangkan mata ke arahku, termasuk empat orang depanku, yang menungguku memberi jawaban. Tak sengaja aku melihat ke arah Ester Cs, yang menatapku dari meja depan dengan ekspresi tidak suka yang tersirat di wajah masing-masing.
“Kami bisa duduk bersamamu di sini?” tanya suara berat itu lagi, yang ternyata berasal dari laki-laki bertubuh tinggi (dan paling) besar berkemeja putih, yang berdiri di sebelah si gadis cantik berambut panjang sepinggang yang sedari tadi tersenyum manis padaku.
Aku menutup mulut buru-buru, mengangguk, meraih tas yang tadi kuletakkan di kursi kosong sebelah kananku, yang langsung diduduki oleh si gadis cantik, sementara yang lain mendudukkan diri di kursi lainnya yang berada di depanku. Aku benar-benar tidak bisa percaya, mereka duduk bersamaku, di meja ini, setelah dua tahun lamanya tidak ada seorang pun yang sudi duduk bersamaku.
Suara bisik-bisik kini terdengar di seluruh kantin, diikuti dengan pandangan berpasang-pasang mata yang menyipit ke arahku. Aku yakin orang-orang yang ada di kantin ini—kecuali Bu Pranto, tentu saja, yang bibirnya mengembang padaku—sangat tidak senang melihat kenyataan kalau orang-orang seperti pria-pria tampan dan gadis cantik ini, memilih duduk bersamaku daripada bersama mereka yang tidak menyandang gelar freak sama sekali.
Aku tak sengaja bertemu pandang dengan Ester, dan dia segera membuang muka, kelihatan sebal sekali, sementara teman-temannya berkasak-kusuk di sampingnya. Di sisi lain, di meja di depan tembok sebelah kanan, aku melihat Kumar dan gerombolannya, mengernyit padaku, dan sebagian orang lainnya mencibir meremehkan, seraya berbisik mendesis-desis, dengan teman-teman semeja atau sebelahnya.
Aku menoleh ke kanan, ke meja sebelah yang masih kosong. Dan merasa heran sendiri, kenapa orang-orang ini tidak duduk di situ saja? Kenapa merendahkan diri dengan duduk bersamaku? Aku ingin menyarankan mereka duduk di meja sebelah, untuk reputasi mereka sendiri, tapi karena alasan kesopanan, aku memilih untuk diam saja.
Untuk pertama kalinya, mejaku penuh. Bukan penuh gulungan tisu atau kertas, melainkan penuh orang yang benar-benar berniat duduk denganku. Tapi mereka kan mahasiswa baru, tentu saja mereka belum tahu gosip tentangku. Aku yakin, kalau mereka tahu nanti—dan sepertinya tidak akan lama lagi, melihat wajah gemas cewek-cewek di sini sekarang, terutama Ester cs, yang kentara sekali sudah tak sabar membuka mulutnya lebar-lebar untuk menjelek-jelekanku—mereka akan menghindar untuk duduk semeja denganku, seperti orang yang lainnya.
“Aku Sima,” kata pria bertubuh besar itu, menyodorkan tangan kanannya padaku, setelah dia dan yang lainnya sudah mendudukkan diri di kursi kosong di depanku. Aku mengangkat tangan kananku, dan menjabat tangannya yang keras, agak sedikit kapalan. “Hm… matamu indah sekali,” pujinya, menelengkan kepalanya mengamati mataku lekat-lekat. Tampak sangat tertarik.
Aku merasa wajahku menghangat. Aku tersenyum kecil, perlahan menarik tanganku dari tangannya.
“Oh, sori,” kata Sima tampak malu, melepaskan tanganku, dan tersenyum lagi.
“Tidapapa,” kataku sangat cepat dan gugup sehingga terdengar sedikit aneh.
“Dan ini adalah adik-adikku,” Sima menoleh sekilas ke samping kanannya, ke arah laki-laki tampan (agak sedikit bengal, menurutku) yang mengenakan kaus polo putih berkerah, yang duduk tepat di sebelahnya. “Ini Anila,” kata Sima, menepuk bahu Anila, yang langsung mengedipkan matanya dan tersenyum terkulum.  
“Lalu, Jyotis—atau Jo, adikku paling kecil,” Sima mengangguk ke arah pria di sebelah Anila; sama tampan dengan kakak-kakaknya, hanya saja, rahangnya ditumbuhi janggut tipis, dan dia terlihat lebih pendiam. Rambutnya lurus pendek, dan bagian depannya mencuat kaku ke atas. Dia terlihat sangat santai, dengan kaus putih tipis dengan kerah berbentuk ‘V’ dipadukan celana jins belel, dan tangan kanannya terbalut perban berwarna hitam—mungkin terluka atau apa. Jyotis hanya mengangguk sopan dan tersenyum sekadarnya padaku.
“Dan—” Sima mengarahkan tangannya ke arah si gadis cantik di sebelahku, yang masih tersenyum, mengangkat tangannya sekilas, dan berkata, “Hai,” pelan, “Rati, adalah adik perempuanku, kembarannya Jyotis.”
Aku membalas ber-“hai” pada Rati, sambil meringis salah tingkah, sembunyi-sembunyi mengamati wajahnya dan wajah Jyotis—tampang mereka tidak mirip sama sekali.
“Kami memang tidak mirip,” kata Rati terkekeh, “Aku tidak berniat menumbuhkan janggut.”
Aku tidak bisa menahan dengus geli, saat mendengar kata-katanya, begitu pun Sima dan Anila yang langsung nyengir, cuma Jyotis yang kelihatan sedikit kesal, mendelik mencela Rati, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa kau jadi berhenti makan?” tanya Anila, mengangguk ke arah piringku. “Kau tidak perlu sungkan pada kami. Makanlah,” katanya baik hati.
Aku benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana untuk membalas sikap baik mereka padaku, yang sepertinya tak pantas kuterima, selain hanya meringis tersenyum dan terlihat kikuk.
“Ka-kalian tidak makan?” tanyaku, memandang meja di depan ke empatnya yang minus piring atau gelas.
“Kami vegetarian,” kata Jyotis dalam suara dingin namun menenangkan, memiringkan kepalanya untuk memandangku. “Kami tidak bisa makan di kantin ini, karena sayurannya sudah tidak sehat.”
Aku ternganga, berpikir, kalau Bu Pranto mendengar kata-katanya sekarang, dia pasti akan merasa sangat tersinggung, dan mungkin akan langsung menjejali mulut Jyotis dengan berbagai jenis sayuran yang disimpan di lemari esnya untuk menunjukkan kalau sayurannya cukup sehat untuk dikonsumsi.
Tiba-tiba, tidak tahu penyebabnya, Rati mengikik tertahan, bersamaan dengan Anila yang mendengus geli, namun buru-buru merubahnya dengan batuk kecil. Sedangkan Sima cepat-cepat memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibirnya yang sepertinya beberapa saat tadi terlihat tersenyum. Dan saat aku melihat Jyotis, dia jelas-jelas tersenyum lebar, dengan mata birunya yang menyorot dingin menatapku.
Ada apa memangnya? Apa yang lucu?
Maaf, aku terlambat,” kata seorang pria yang mendadak muncul di sebelah Sima.
Bersamaan dengan yang lainnya, aku segera mendongak untuk melihatnya, dan betapa kagetnya aku begitu melihat wajahnya. Pria itu berwajah sangat mirip dengan dengan pria yang kulihat kemarin sore—penolongku. Tapi, bagaimana mungkin? Tidak mungkin. Itu pasti hanya kebetulan.
“Ada masalah di ruang registrasi, namaku tidak tercatat, dan perlu waktu cukup banyak untuk membereskannya,” katanya lagi dengan wajah sedikit kesal, seraya menarik kursi kosong dari meja sebelah yang belum terisi sama sekali, meletakkannya di sebelah Sima, kemudian duduk, dan mendorong naik lengan sweter putihnya, sama sekali tidak menghiraukan tatapan penuh damba para gadis yang serentak tadi menghujam ke arahnya. (Aku tak sengaja melihat ke arah meja Ester dan teman-temannya; mulut mereka semua membuka lebar, menatap kagum pria itu).
“Oh, dan ini—” Sima buru-buru memperkenalkan pria di sebelahnya padaku, menepuk-nepuk pundaknya, “—Abimanyu, adikku yang nomor tiga.”
“Panggil aku Abi,” kata pria itu tegas, terdengar seperti perintah. Menatapku dengan sorot mata tajam dan agak… menghipnotis.
“Aku… Aku Nalini,” kataku, buru-buru mengalihkan pandang darinya, dan sadar kalau aku belum memberitahukan namaku sama sekali, “kalian bisa memanggilku Nali.”
“Nama yang bagus,” timpal Abi dingin, tanpa ekspresi. “Artinya cantik, dalam bahasa Sanskrit.”
Dia tersenyum setelah mengatakan itu, senyum yang terlihat menyenangkan sekali, dan entah kenapa membuat hatiku seperti tercabik. Ada rasa rindu yang mendadak menggelegak di dadaku, hasrat aneh, yang membuat perasaanku kacau.
Abi memang tidak setampan tiga saudaranya yang lainnya, tapi entah kenapa aku sangat tertarik padanya, tidak puas hanya melihatnya sekali saja. Meskipun terkesan dingin, namun raut wajahnya sangat menenangkan. Dan entah mataku yang salah lihat atau memang benar begitu, matanya yang biru, terlihat lebih biru dan jernih dibandingkan mereka semua. Seperti batu nilam.
Tiba-tiba Anila mendengus tersenyum, Jyotis nyengir, Sima bersedekap menolehkan kepalanya ke arah Abi, yang mengulum senyum dengan kepala tertunduk.
Kenapa sih mereka, pikirku dengan mimik muka kebingungan, kemudian menoleh ke sebelahku dan bertemu mata dengan Rati yang nyengir kecil padaku.
“Kami semua masuk fakultas seni di gedung C,” kata Rati segera, sebelum aku kembali memalingkan wajahku ke depan. “Aku dan Jyotis sekarang duduk di tingkat dua, Abi di tingkat tiga, dan Sima dan Anila, di tingkat empat.”
“Kau sendiri?” tanya Sima, yang telah kembali menatapku, bersandar di kursinya.
“Aku—sama dengan Rati dan Jyotis, masih tingkat dua. Di fakultas Sastra,” jawabku, tak sengaja mengerling pada Abi, yang ternyata sedang memandangiku lekat-lekat. Jantungku berdebar kencang, sampai-sampai aku bisa mendengar detaknya dengan sangat jelas.
“Makanlah,” kata Abi lembut setelah itu, walaupun nadanya masih terdengar seperti memerintah, “habiskan makananmu.”
Dan (aku tidak tahu kenapa) aku menurut, tanpa berkata-kata lagi, kembali meraih sendok dan garpu yang beberapa waktu tadi terabaikan, hendak menyantap nasi goreng di piringku. 

(bersambung)
Sebuah novel dari Putu Indar Meilita



6 comments:

keboo February 14, 2010 at 9:01 AM  

keboo tahu!!!! mereka bisa baca pikiran... hehe... kok kayaknya si abi tipe keboo bgt!! hakhak..

kerja dmana mbok...??
(tadi koneksi eror pas komen, ntah komen kebii udah masuk apa belon.. hikshiks)
epi val's day...
hidup indonesia!!

merry go round February 14, 2010 at 4:58 PM  

Itaaaa...ko jadi mirip twilight gini c......

lita February 14, 2010 at 8:38 PM  

@Kebo: Aku tidak bisa berkata2 pada dirimu, @Ocha: TDE gak mirip sama sekali ma Twilight... so keep reading. Lima orang itu bukan vampir atau apa pun yang serupa ma siapa pun di Twilight... They are...

Ichen February 28, 2010 at 9:38 PM  

aku Nali nyaaa yah hhe...Cpuld i be Nali?? please *Wink hhe
penasarn the next story nyaa...cepaaat...

Zaa September 22, 2010 at 8:37 PM  

abi itu karakternya mirip serial korea dengan pria yang bersikap dingin,jaim,,, tapi aku masih penasaran sama cerita selanjutnyaaaaa^^
aku doa'in biar cepet kelar yaaaaa

Rizka November 4, 2010 at 10:44 AM  

lanjutin dong mbak novelnya,,
aku suka banget bacanya,,

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP