The Devil's Eyes: Bab 7

>> Thursday, February 11, 2010

7

KENDATI soal-soal ujian kali ini luar biasa sulit, tapi aku yakin nilai yang akan kuterima di ujian Sastra kali ini, tidak akan mendapat nilai seburuk nilai yang akan diterima Seli dan Dian, yang selama ujian tadi sibuk ber-sst-sst, ke arah Ester dan Cheri, yang juga sibuk melakukan hal yang sama ke teman sebelahnya untuk mendapatkan contekan.
Begitu selesai mengerjakan soal, tanpa menunggu lagi, aku segera menyerahkannya pada Pak Oki, yang memberikan senyum samar padaku. Cuma itu apresiasi yang bisa diberikannya pada mahasiswa atau mahasiswinya yang selalu mendapatkan nilai baik di mata kuliahnya. Walaupun begitu, bagiku senyum itu cukup, karena datangnya dari Pak Oki, yang luar biasa pelit berbagi sesuatu yang ceria seperti senyum apalagi tawa.
Keluar dari kelas, aku segera berbelok ke kanan, melintasi koridor yang kali ini agak sepi. Aneh, sih, karena meskipun sebagian besar murid memang sedang berada di kelasnya masing-masing, biasanya ada saja beberapa orang yang duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang diletakkan di sepanjang koridor. Tapi, kenapa aku harus pusing memikirkannya? Bukannya lebih baik sepi daripada ramai, sehingga tidak akan ada orang yang menimpukku dengan gulungan kertas atau tisu, atau mengejekku dengan memanggilku “Freak”.
Saat tiba di perempatan koridor terbuka, aku berbelok ke kanan lagi, menuju ke halaman belakang, yang seperti Sita katakan, adalah tempat tubuhnya berada. Miris sekali menurutku, karena Sita, gadis secantik itu, yang bila mati tubuhnya seharusnya diselubungi kemewahan seperti tampilannya selama ini, ternyata malah tertimbun bersama sampah kotor dan bau (setidaknya aku tahu sekarang kenapa aku selalu mencium bau comberan bila Sita berada di dekatku). Dan bagaimana dia meninggal? Dan kenapa di kampus?
“Kau datang,” kata Sita yang mendadak muncul di sebelahku, ketika aku baru setengah jalan menyusuri koridor, dimana toilet berada. Wajahnya kelihatan senang sekali. “Terima kasih,” ucapnya sungguh-sungguh.
“Aku hanya membantu,” balasku dengan wajah yang terasa merah padam. Ini adalah pertama kalinya Sita tersenyum dan berterimakasih padaku selama dua tahun terakhir.
Tidak seperti Kak Delon, atau hantu penunggu toilet, yang disebut orang hantu Juminten, yang tampilannya memang seperti mbok penjual jamu, yang kakinya berada satu inci di atas tanah dan melayang bila bergerak kemana-mana, Sita masih bisa berjalan normal, dengan kaki menapak di tanah. Badannya juga belum terlihat transparan, masih terlihat ‘penuh’ di mataku. Dan wujudnya akan seperti itu sampai sepuluh tahun ke depan, sampai malaikat maut menjemputnya ke atas untuk bereinkarnasi. Kalau tidak, wujudnya akan berubah transparan seperti arwah Kak Delon atau Juminten, yang keduanya tewas bunuh diri.
“Di sini,” kata Sita, berjalan menduluiku, menunjuk ke gundukan sampah basah yang sebagian kelihatannya baru dibuang, sedangkan sebagian lagi adalah sampah beberapa hari lalu. Baunya bukan main, sama persis dengan bau badan Sita, tidak bisa dibedakan. Mungkin orang yang melakukannya berpikir, dengan dikubur di tempat ini, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena baunya tersamar oleh bau sampah.
Sambil menutup hidungku, aku bertanya pada Sita, yang menunduk memandangi tumpukan sampah di depan kami. “Kau yakin… tubuhmu di sini?”
“Aku bisa membuktikannya,” katanya, mengangguk sedikit. Dia maju ke depan, menaiki bukit sampah. “Inilah rumahku sekarang.”
Setelah mengatakan itu tiba-tiba tubuhnya amblas ke bawah, menyatu dengan sampah di bawahnya. Ketika dia muncul lagi, wajahnya mengernyit, mengibas-ngibaskan rambut merahnya yang panjang sebahu, sambil berjalan kembali ke arahku.
“Aku memilih untuk keluar saja dari sini, daripada harus berada di dalam. Kondisi badanku sudah tidak keruan,” keluhnya, “dan baunya…” dia tidak melanjutkan bicara, hanya meringis dan mengendus udara.
“Aku… turut menyesal,” kataku perlahan, merasa kasihan. “Kau berhak mendapatkan pemakaman yang layak. Tidak seperti… ini—apa kau… dibunuh?”
“Kau sudah tahu, jadi untuk apa menanyakannya,” balas Sita, tersenyum kecil. “Tapi, ya… aku dibunuh; di kampus ini—di sini… tapi aku tidak tahu siapa,” katanya buru-buru seolah tahu aku akan menanyakan hal itu. “Aku tidak ingat, tapi sepertinya… lebih dari satu orang. Tapi itu tidak masalah… aku toh sudah mati, tidak ingin mendendam. Aku hanya ingin agar tubuhku bisa ditemukan, supaya papa mamaku” (mendadak wajah Sita terlihat amat sedih) “bisa… tenang. Tidak lagi memikirkanku. Sakit sekali hatiku… mendengar ratapan mama, dan doa papa setiap malam, tanpa bisa melakukan apa pun untuk memberitahu mereka.”
“Kau… mendengarnya?” tanyaku heran. Aku tidak pernah tahu hal ini.
“Ya,” angguk Sita, “aku mendengar mereka. Jelas sekali, seakan saja mereka bicara dari sebelahku,” katanya, menatapku lekat-lekat.
Aku mengangguk-angguk, bertukar pandang hening dengannya sejenak, kemudian kembali menatap gundukan sampah di depan.
“Jadi, bagaimana caranya aku bisa memberitahu mamamu?” tanyaku sejenak kemudian. “Aku tidak bisa datang ke rumahmu. Akan aneh sekali…”
“Aku mengerti,” sela Sita cepat. “Aku juga tidak mau mereka berpikir yang tidak-tidak tentangmu.”
Kami berdua terdiam lagi, sibuk memikirkan cara yang tepat untuk memberitahukan orang tua Sita.
“Apa kau hafal nomor ponsel papa atau mamamu—telepon rumah mungkin?” tanyaku setelah lewat dua detik.
“Oh, ya,” sahut Sita riang. “Ponsel mamaku saja. Mama pasti lebih percaya, daripada Papa. Apa kau mau meneleponnya?”
“Belum tahu. Sebaiknya sekarang kau beritahu, sudah hampir jam makan siang. Bisa aneh kalau orang-orang melihatku berdiri di sini,” kataku, seraya merogoh tas, mengeluarkan ponselku.
“Ya, akan aneh sekali,” timpal Sita, mengiyakan.

(bersambung)

Sebuah novel dari Putu Indar Meilita


3 comments:

matakakiku February 11, 2010 at 11:56 PM  

wahh,. tubuhnya Sita dah ketemu,.!!

tapi knapa gunakan kata murid di paragraf ke3? its ok lah, tetap smangat,.!!

check ur email,.^^

desieria February 12, 2010 at 9:03 PM  

wah wah, mudah2an cepet terungkap yaaa, penasaran sama lanjutannya hehe.
Btw, ah masih zaman itu contek2an :)

merry go round February 12, 2010 at 11:45 PM  

wiiiiiiiiihhhhhhhh tambah seruuuu....ayooo cepet di update lagi yaaaa :D

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP