The Devil's Eyes: Bab 6

>> Sunday, February 7, 2010


6

KELAS masih kosong saat aku tiba, hanya ada hantu penunggu, yang disebut seluruh kampus dengan “Hantu Kak Delon”, berdiri di sudut depan kelas, tepat di sebelah meja dosen, memandang kosong ke arah meja tersebut dengan ekpresi muram dan membuat kasihan.
Gosip yang beredar mengatakan kalau dia bunuh diri di kelas ini dengan meminum puluhan butir obat penenang, karena menyimpan cinta pada Pak Oki—semua orang di kampus mengenal Kak Delon itu sebagai seorang gay—yang tahun sembilan puluhan adalah salah satu dosen ganteng di kampus ini (belum tua dan buncit seperti sekarang). Pak Oki menolak cintanya, membuat Kak Delon stress dan untuk menunjukkan sakit hatinya dia memutuskan untuk bunuh diri di kelas ini. Itu kata gosip.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah, Kak Delon memang stress, tapi bukan karena ditolak cinta oleh Pak Oki, melainkan karena nilai yang diberikan oleh Pak Oki saat ujian final Sastra saat itu tidak sebesar yang diharapkannya. Dari hasil ngobrol sembunyi-sembunyiku dengan Kak Delon ketika kelas kosong, aku bisa menangkap kalau dia adalah tipe orang yang amat perfeksionis dan ambisius, baik dalam penampilan maupun bidang lainnya—terutama bidang akademis.
Aku melambai kecil, ketika Kak Delon menggerakkan matanya melihatku, berjalan menuju kursi yang terletak di dua baris dari depan, duduk, dan mengeluarkan diktat dari dalam tas. Kak Delon segera melayang ke arahku, seperti biasa pasti bermaksud mengajakku ngobrol.
“Jangan sekarang, Kak,” kataku, dengan nada memohon maaf, “aku ada ujian. Belum belajar banyak tadi malam.”
Terdengar suara orang mengobrol, dan langkah-langkah memasuki kelas, dan aku cepat-cepat menundukkan kepala, membuka diktat, dan membacanya. Saat aku mengerling ke arah Kak Delon, dia sudah tidak ada lagi di depanku, kembali ke tempatnya yang biasa.
Kak Delon adalah satu-satunya arwah yang tidak minta bantuan apa pun padaku, selain ngobrol. Mau bagaimana lagi, andaikan dia minta bantuan padaku, dan aku bisa melakukannya toh, dia akan terus gentayangan di sini sampai kiamat. Dia meninggal karena bunuh diri, jadi arwahnya tidak bisa naik ke atas untuk bereinkarnasi. Sampai dunia berakhir, dia akan terus seperti itu: berdiri di dalam kelas ini menatap dendam dosen-dosen yang mengajar di kelas ini.
Satu per satu, mahasiswa dan mahasiswi mulai berdatangan memenuhi kelas. Sebagian besar dari mereka, sama sepertiku, sibuk membaca-baca diktatnya, dan berkomat-kamit menghafal kata demi kata yang tertera di dalamnya, sedangkan yang sebagian lainnya, lebih memilih untuk mengobrol, meskipun tidak seseru obrolan Ester dan teman-teman segangnya, yang duduk berkelompok empat baris dari kursiku, meskipun minus Seli, si biang gosip.
Tapi, kira-kira lima belas menit sebelum mata kuliah dimulai, Seli datang dengan berlari, terlihat panik namun penuh semangat, membuat semua orang di kelas memandang heran ke arahnya, dan tanpa berusaha mengatur napas lebih dulu, gadis cantik yang pipinya sedikit tembam itu, segera memberitahukan alasan kedatangannya yang dramatis pada teman-temannya.
“Sori, tapi—ini—penting,” sengalnya, berjongkok di antara kursi Ester dan Dian, dengan tangan mencengkeram kedua tangan sahabatnya.
Aku berpaling, kembali membaca diktatku, yang sejenak tadi kuabaikan karena teralih oleh dengan kedatangan Seli yang cukup mencengangkan itu.
“Ada apa, sih?” tanya Cheri tak sabar.
“Kalian pasti tidak percaya ini,” kata Seli masih tersendat, namun terdengar keras ke seluruh ruangan. “Aku baru saja bertemu dengan empat makhluk paling ganteng di dunia.”
“Apa sih, maksudmu?” tanya Ester, kedengarannya bingung, seraya menyibakkan rambut yang menutupi matanya. “Siapa yang ganteng?”
“Aku belum dapat info tentang mereka, namun yang pasti mereka semua mahasiswa pindahan dari—mm… mmm, aduh,” Seli sepertinya sedang berusaha mengingat, “aku yakin tadi dengar jelas, saat di ruang registrasi, semacam Negara—selada… Swedia, bukan—oh, Selandia Baru,” katanya penuh kemenangan karena berhasil mengingat, sementara teman-temannya yang lain ber-“Oh” penuh damba.
“Mereka orang Indonesia, tentu saja. Bahasa Indonesia mereka fasih sekali, dan perawakan mereka juga khas Indonesia—rambut hitam lurus, kulit sedikit coklat, hanya mata mereka—biru!”
“Mereka pasti pakai lensa,” timpal Cheri segera.
“Bagaimana tubuh mereka?” sambar Ester penuh minat, “Apa seksi?”
“Jangan tanya… selain tinggi—dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri—mereka atletis! Ganteng sekali!” pekik Seli histeris, yang segera disambut dengan dengus oleh semua orang di kelas, tapi tampaknya Seli tidak peduli, dan terus bicara, “Tapi—oh, ya aku lupa, ada yang cewek juga. Dan dia sangat cantik, dan berkulit kuning langsat, berbeda dengan cowok-cowok itu.”
Ada nada kesal dalam suara Seli saat memberitahu perihal keberadaan cewek di tengah cowok-cowok ganteng itu, dan teman-temannya segera mencecarnya.
Siapa cewek itu?” tanya Ester, Dian dan Cheri bersamaan.
“Adik mereka paling kecil, dia satu angkatan dengan kita, sama dengan kembarannya,” jelas Seli. (“Kembar?” jengit Ester, Dian dan Cheri bersamaan) “Mereka semua mendaftar di jurusan seni, di gedung C—oh aku iri dengan cewek-cewek di sana.”
“Kita harus kenalan, Es,” usul Dian antusias pada Ester, “hari ini juga.”
“Ya… mereka harus mengenal kita, kan?” timpal Cheri. “Terutama kau,” tambahnya buru-buru, menatap Ester, dengan nada yang kedengaran agak setengah hati.
“Oh, tentu saja. Semua cowok ganteng harus kenal Ester,” sahut Ester sangat percaya diri, membuatku memutar mata ke atas. “Apalagi sebentar lagi ada pemilihan Putri Kampus, salah satu dari mereka harus menjadi pendampingku.”
“Selamat pagi, anak-anak,” gelegar suara Pak Oki tiba-tiba, disusul suara pintu menutup. “Seli, kenapa kau jongkok begitu? Duduk di kursimu,” sentak Pak Oki galak.
Terdengar suara kursi bergeser dan mendecit, diikuti suara sesuatu menghantam alas kursi, tanda Seli telah mendudukan diri di kursinya, sedangkan Pak Oki segera menuju mejanya, dan dengan cepat membuka tas kulitnya yang sudah lusuh, mengeluarkan lembaran kertas soal, dan menumpuknya di atas meja.
“Seperti yang kalian tahu, hari ini kita ujian umum, mengenai peribahasa kuno…”
“Ujian?!” pekik Seli dan Dian bersamaan, kedengaran ketakutan.
“Ya, ujian!” sahut Pak Oki lantang, melotot ke arah mereka melalui kepalaku. “Dan saya harap kalian berdua, Seli dan Dian, bisa mendapatkan nilai setidaknya C untuk ujian kali ini, karena kalau sampai nilai kalian D lagi, saya terpaksa tidak meluluskan kalian ke tingkat tiga.”
Aku ingin sekali tertawa, tapi segera kuurungkan begitu melihat ekspresi wajah Kak Delon yang memandang penuh dendam pada Pak Oki.

(bersambung)
A novel by Putu Indar Meilita

4 comments:

merry go round February 8, 2010 at 9:41 PM  

Itaaa,,,ngebut banget udah publish yang keenam. Lagi semangat nulis yaaa :D

Cermin Community February 9, 2010 at 2:18 AM  

ohya, apa ada alasan khusus kenapa memilih judul berbahsa inggris?
ditunggu kelanjutannya.

salam hangat.

kebookyut February 10, 2010 at 6:42 AM  

haloowww... salam kenal...
novelnya bagus.. nggak niat bawa ke penerbit, sista?

boleh tukeran link ga???

keboo pasang yah...
makasi..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP