The Devil's Eyes: Bab 4

>> Tuesday, February 2, 2010

4


“NALI… Nali! Oh, syukurlah, Nali…”
Aku menggerakkan otot-otot mataku, berusaha membuka mata, untuk melihat siapa yang dengan panik memangil-manggil namaku.
Dan ketika akhirnya mataku terbuka, kulihat sosok-sosok samar bergerak di depanku. Kukejapkan mataku beberapa kali, sampai pandanganku fokus, dan akhirnya melihat wajah mama, Nila, adikku, dan Tante Heidi, beserta Om Teguh, suaminya. Wajah mereka semua luar biasa cemas.
Aku sekarang telah berada di ruang tamu rumahku, terbaring di atas sofa.
“Oh, Nali…” Mama yang berurai air mata segera memelukku erat, membuatku agak sulit bernapas. “Ada apa, Sayang? Kenapa kau bisa seperti ini?” tanyanya, setelah dia melepaskan pelukannya.
Aku tidak menjawab, di benakku sekarang, kepala pria pucat berjubah yang tadi menggelinding ke tengah jalan terbayang kembali.
Aku buru-buru mengangkat punggungku, duduk tegak di sofa. “A-apa… ada yang aneh di jalan—tadi?” tanyaku terbata, memandang berkeliling. “Apa kalian melihat… sesuatu?”
Mama, Nila, Tante Heidi dan Om Teguh langsung mengernyit, berpandangan sekilas, menatapku kembali, kemudian serempak menggelengkan kepala masing-masing.
“Tidak ada apa pun di jalan, Nali,” kata Tante Heidi. “Memang… ada apa? Apa yang kau lihat?”
Tidak ada apa pun, atau mereka yang tak bisa melihatnya, pikirku. Berarti pria berambut merah dan pria tampan itu bukan manusia?
“Ya, Nali, ada apa?” tanya Mama tak sabar. “Kau berteriak kencang sekali, membuat semua tetangga keluar dari rumahnya. A—apa ada yang menyerangmu?”
Aku menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa,” kataku, berbohong. Menurutku terlalu mengada-ada bila aku nekat menceritakan kalau beberapa waktu lalu ada seorang pria berpakaian hitam-hitam, berambut merah menyala, berusaha membunuhku dengan sebuah pedang besar mengerikan, sementara tidak satu pun dari mereka melihat kejadiannya.
“Aku mungkin… merasa telah melihat sesuatu yang sebenarnya tak kulihat… sesuatu yang…, menakutkan,” tambahku.
“Ini senja… Menjelang malam,” Om Teguh angkat bicara, “Apa pun bisa tampak saat itu. Karena itu sebaiknya jangan berjalan sendirian saat hari senja.”
Aku memandang Om Teguh, yang menyunggingkan senyum kecil padaku. Sedangkan aku hanya bisa nyengir kecil.
“Maksudmu… kau melihat setan, begitu?” kali ini Nila yang bertanya.
Sekali lagi aku menggeleng, tersenyum padanya. “Aku… tidak tahu. Sepertinya aku hanya kelelahan.”
“Ini mengerikan,” kata mama yang kembali mencucurkan air mata, mengusap rambutku. “Kau pingsan di jalan seperti itu.”
“Ma, sudahlah,” kataku menenangkannya. “Aku tidak apa-apa… Aku ingin ke kamar.”
“Ya, sebaiknya kau istirahat,” timpal Tante Heidi. “Harimu pasti berat sekali, sehingga kau kelelahan seperti itu.”
“Terima kasih, Tante, Om,” ucapku tersenyum padanya dan Om Teguh.
Setelah itu dengan hati-hati aku menurunkan kakiku dari sofa. Nila membantuku, meraih tasku yang tergeletak di atas meja, dan membawakannya untukku.
“Mama akan bawakan makan malam ke kamarmu,” seru Mama buru-buru, saat aku dan Nila melangkahkan kaki.
Aku menjawab, “Ya,” pendek, dan terus berjalan bersisian dengan Nila yang memegangiku (sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu).
Kami berdua melintasi ruang tengah yang dipenuhi suara televisi, melewati dapur, dan sampai di ruang belakang, yang berhadapan dengan taman. Di sisi kanan ruang belakang, terdapat dua pintu kayu, dan pintu pertama adalah kamarku.
Nila segera memutar gagang pintu, membukanya lebar-lebar, dan membiarkanku masuk lebih dulu, baru setelah itu dia menyusul, menutup pintu di belakangnya.
Rasanya senang sekali melihat kasur empuk tempat tidurku, yang terlihat nyaman sekali untuk ditiduri, setelah melalui hari yang menyebalkan sekali lagi. Dan tanpa ragu-ragu lagi, kubaringkan tubuhku di atas kasur, memandang langit-langit kamar, sambil bernapas teratur, sementara Nila berjalan mendekati kursi di depan meja belajarku, menyampirkan tasku di punggung kursi.
“Memang…, apa yang kau lihat tadi?” tanya Nila, tak berapa lama kemudian, seraya merapikan poni yang menutupi dahinya.
Nila, adikku, masih duduk di kelas dua SMU. Masih sangat belia, berumur enam belas tahun. Rambutnya lurus dan sangat hitam, seperti rambut mama, sedangkan aku mewarisi rambut papa, coklat dan sedikit ikal. Wajahnya manis dan matanya selalu terlihat berkilauan. Sangat periang dan jenaka, namun sayangnya perasaannya amat peka—cepat sekali tersinggung.
Sebagai kakak-beradik, kami bisa dibilang cukup dekat, namun tetap saja, aku tidak bisa memberitahukan padanya tentang kenyataan sebenarnya mengenai mataku.
“Aku… hanya—aku tidak pasti…” jawabku lemah, dengan mata masih menatap nyalang langit-langit kamar.
“Pasti sangat menakutkan sampai kau berteriak sekeras itu,” sambar Nila lagi, penuh selidik. “Pasti kau—setidaknya… kau ingat sesuatu, kan?”
Aku memutar mataku ke atas. “Andaikan ya, aku sedang berusaha melupakannya… dan tidak ingin mengingat-ingatnya lagi, oke?” kataku tegas, mengerling Nila yang sekarang mengerucutkan bibirnya.
“Ya, sudah!” sungut Nila jengkel. “Aku pergi saja, kalau begitu.”
Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar—sepertinya ngambeg, dan membanting pintu di belakangnya. Dia benar-benar ngambeg.
Semalaman itu, aku tidak bisa tidur sama sekali. Kepalaku penuh dengan pertanyaan mengenai kejadian senja tadi; apa sebenarnya yang terjadi? Siapa pria berambut merah itu? Dan siapa pria yang satunya lagi—yang matanya biru itu.
Oh, dia tampan sekali, keluh dalam hati. Benarkah dia ada? Atau mungkin saja, dia hanya halusinasiku semata?
Namun… semuanya begitu nyata—kejadian itu, dia, dan si pria berambut merah itu. Aku ragu itu hanya rekaanku saja.
Tapi pria tampan itu… Aku sama sekali tidak bisa menghilangkannya dari benakku. Aku ingin terus mengingatnya.
Pelan-pelan aku menyusun satu demi satu ingatanku tentang pria bermata biru itu. Aku mencoba mengingat sosoknya semampuku, hanya agar aku tidak kehilangan visi mengenai dirinya.
Aku ingat kalau rambutnya hitam halus melambai…, mata birunya yang berkilau jernih bagai berlian biru. Hidungnya yang mancung sempurna, dan bibirnya sedikit merah. Pakaiannya—pakaian  yang dikenakannya seluruhnya berwarna putih, dengan model yang tak biasa, namun sangat cocok dikenakannya. Dan tubuhnya… diselubungi cahaya berwarna putih keperakan.
Sepertinya mataku yang salah lihat, aku kembali meragukan diri sendiri. Itu pasti hanya khayalanku semata.
Tapi… apa mungkin, kalau semua yang terjadi beberapa jam lalu itu hanya khayalan?
 Aku sama sekali tidak pernah berkhayal ekstrim seperti itu. Lagipula tanpa mengkhayal pun aku sudah dapat melihat hal-hal di luar batas kerasionalan manusia. Berarti… pria itu memang ada—benar-benar ada, hanya saja, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Andaikan dia memang ada, mungkinkah aku dapat bertemu dengannya lagi?





(bersambung)

A novel by Putu Indar Meilita

6 comments:

Syifa Ahira February 5, 2010 at 7:05 AM  

mana lanjutannya lita?
nunggu 'kick' berikutnya..

rid February 5, 2010 at 4:33 PM  

hmmm..jadi penasaran juga dengan pria yang berambut merah dan yang bermata biru itu.mereka orang bule atau...

*ditunggu kelanjutannya..^^*

lita February 6, 2010 at 10:17 PM  

Tunggu yahhh. Seru deh.

ninneta February 6, 2010 at 11:13 PM  

seru sekali.... kapan ada chapter selanjutnya nih...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP