Virus dari Setan

>> Saturday, February 20, 2010

Ciri-ciri FLU TULANG:

1. Pegal
2. Sangat pegal
3. Luar biasa pegal
4. Sakit semua sendi
5. Tangan, kaki, kaku semua
6. Akhirnya susah bergerak
7. Bener2 gak bisa bergerak
8. Demam, panas, pusing
9. Bener2 gak berdaya selama kurang lebih... 3 hari

Kenapa mendadak saya nulis "FLu Tulang" sebagai bahan update'an...
Ya, karena saya udah jadi korban jahanamnya si flu ini...

Selama 3 hari kemarin, saya cuma bisa gulang-guling di tempat tidur, tanpa bisa bergerak sama sekali, bahkan ngangkat kap si Popo (laptop saya) aja gak bisa.
Semua urat, otot, sendi, serasa saling silang, gak mau lurus, kocar-kacir gak keruan.
Kaki gak bisa bergerak tanpa nyut2an, tangan gak bisa ngangkat tanpa ber 'ah-uh' nyeri. Uh, mengerikan dah, pokoknya.

Gak bisa ngapa2in sama sekali!!! Serasa stroke muda.

Parahnya... ini flu, mewabah, menular ke semua orang rumah... (kecuali Tei Gung, yang virus flu tulangnya mungkin rada mikir untuk nembus kulitnya yang tebel... belum lagi lemak2 di perut yang rada menyesatkan--tuh virus bisa kojor duluan).
Ekspresi TeiGung:






So be careful, guys!
Penyakit ini luar biasa tidak menyenangkan!
Sepertinya ditularkan langsung oleh setan....

Ekspresi setan:
knp jd gw dibawa2, sih?
I dont know anything...
Setan kok difitnah...

Read more...

Award... Award...

>> Monday, February 15, 2010

Award dari blogger buddies:

1. Dari Nitya


2. Dari Kebo

Untuk Nitya and Kebo, trim banget.
But sori... belom sempet nerusin ke cyber buddies lain. Cuma sekadar update aja.
Tapi pasti besok tak terusin.

Sekali lagi, thanks, yah...

Lita

Read more...

Valentine's Rant

>> Sunday, February 14, 2010

Oke...
Budaya kita memang tidak mengenal "Valentine"

Oke...
Valentine itu berasal dari kebudayaan Barat sono--no

Oke...
Kalau banyak orang di Indonesia yang gak setuju untuk merayakan Valentine

Tapi...
Kan gak ada peraturan, dekrit, undang2, hukum ato apa pun, yang melarang (lumayan banyak) orang yang seneng2 aja dengan adanya Valentine untuk ngerayain... atau sekadar ngucapin sama teman2nya, sebagai ungkapan rasa sayang dan persahabatan.

Kenapa jadi blog orang yang di serang... hanya karena orang itu 'maku' kartu ucapan "Happy Valenstine's Day" di blognya...

Apa gak ada kebebasan berpendapat, berprinsip, berbudaya lagi di dunia maya?
Apa merugikan orang lain dengan hanya 'maku' gambar yang berhubungan dengan Valentine's Day?
Apa gak ada kerjaan, sengaja browsing2 ke blog2 orang yang emang sengaja nge' attach Valentine's greeting dan ngomentarin yang aneh2?
Apa mentang2 orang yang majang kartu ucapan "Happy Valentine's di blognya, berarti orang itu gak cinta budaya Indonesia?

Tolong... berpikir dengan lapang sodara2... jangan sempit...
Buka hati, telinga, dan mata; hargai blog orang lain...
Jangan mencekik kebebasan berkreasi, bergaul atau apa pun di dunia per'blog'an.

My blog is my blog. Yours is yours.
And I dont care whatever u do to ur own blog.
If u dont like my blog...
JUST STAY AWAY! 

 

Read more...

Special Award For my lovely cyber friends!

>> Saturday, February 13, 2010

Udah dari entah kapan saya ingin banget buat sebuah award yang dikhususin buat temen2 yang blognya penuh cinta... dan buat saya jadi "oooooohhhh" atau "uuuuuuhh".

Dan sekarang baru terwujud, meskipun gak bagus2 amat, yang penting jadilah...
Jadi, bertepatan dengan "hari kasih sayang (yang penuh demo penolakan)", saya ngebandelin diri untuk ngasi award ini yang wujudnya.... tadaaaa!!!


kepada:
1. Syifa: selalu update dengan berjuta cerita hidup (touchy)
2. Moon, serasa di dunia peri kalo visit ke blog ini... sangat misteriii
3. Ocha: blognya polos, sepolos anak kecil yang imut
6. Desfira: sama nih, sama Rava... tulisannya, ampuuun deh
8. IChen: She's soooo stylish. Her soul it is in her blog. 

Aturannya simple, gak rumit...
Terusin aja ke 8 temen yang emang blognya (menurut kamu) penuh cinta dan punya speciality...
Nanti kasih tahu saya, link2 blognya...
Gitu aja.

Untuk yang dapet award... congrat!

I love your blog...

But I love my blog more (hihihi)

Salam, 

Lita


 

Read more...

The Devil's Eyes: Bab 8


8


AKU bersyukur aku sudah pergi meninggalkan halaman belakang kampus, ketika serombongan orang—laki-laki dan perempuan—berjalan berlawanan denganku menuju toilet di belakang. Aku mempercepat langkah, dengan satu tangan masih mencengkeram ponsel yang belum sempat kumasukkan kembali ke tas, setelah sebelumnya menyimpan nomor ponsel mama Sita yang baru saja diberikannya.
Aku belum tahu mau apa dengan nomor ponsel tersebut—masih bingung, dan memutuskan untuk mengisi perut lebih dulu di kantin, siapa tahu dengan energi yang bertambah, pikiranku juga bisa lebih terang.
Saat aku masuk, kantin masih sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk, termasuk gang-nya Ester yang duduk di meja favorit mereka—di meja tengah, tidak beberapa jauh dari meja paling sudut, tempatku biasa duduk—sedang membahas soal-soal ujian tadi, dan kelompoknya Kumar, si playboy kampus, yang duduk memenuhi meja di depan dinding sebelah kanan.
Dua musuh terbesarku di kampus ada di kantin ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku. Tapi sekarang aku harus makan. Lebih cepat lebih baik, sebelum kantin ini ramai, dan Kumar atau Ester memprovokasi massa untuk melakukan tindakan tak menyenangkan padaku.
“Nasi goreng lagi, Mbak Nali?” tanya Bu Pranto, ibu kantinku dengan ramah.
Aku mengangguk, tersenyum manis pada Bu Pranto yang segera mengambil piring dan mengambilkan nasi goreng panas yang baunya menguar sedap dari dalam magic jar.
Bu Pranto, Pak Pranto dan anaknya, Aria yang seusia dengan Nila, selalu ramah padaku, meskipun tahu betapa aku dikucilkan dari pergaulan kampus. Mereka selalu merasa iba dengan perlakuan orang-orang di kampus padaku yang menurut mereka tak berperikemanusiaan, dan memujiku karena mampu bertahan dari serangan kebencian dari mana-mana.
“Terima kasih, ya, Bu,” ucapku, sambil menyodorkan uang padanya. “Es jeruknya…”
“Nanti biar diantar,” sela Bu Pranto, balas tersenyum.
Aku mengucapkan terima kasih sekali lagi, kemudian berpaling dengan membawa piring nasi goreng di tanganku, melewati beberapa meja, salah satunya meja Ester, yang mencibirkan bibirnya saat melihatku.
“Hei, FREAK!” seru suara dari samping, yang kukenali sebagai suara Kumar, diikuti timpukan tisu yang dilempar oleh teman-temannya.
Aku mengacuhkannya, terus berjalan ke arah meja belakang, mendudukan diri di kursi, menghadap ke arah konter Bu Pranto, meletakkan ponsel yang masih kupegang di atas meja, menaruh tas di kursi kosong di sebelahku, dan mulai makan. Kira-kira semenit kemudian, Bu Pranto datang membawakan es jeruk yang segera kuteguk untuk membebaskan rasa tercekat di tenggorokanku—oh, nyaman sekali rasanya, setelah itu aku melanjutkan makan kembali.
Kini kantin sudah mulai ramai, hanya ada dua meja—satu setengah meja, sebenarnya—yang masih kosong, yaitu meja sebelahku dan mejaku sendiri. Nasi gorengku tinggal setengah, dan sepertinya tidak sanggup kuhabiskan, padahal sebelum kemari aku merasa kelaparan sekali, tapi sekarang…
Sambil meneguk es jerukku, aku menghadapkan wajahku ke kiri, menatap taman berumput, yang memisahkan gedung B, fakultas Sastra, dan gedung C, fakultas Seni di seberangnya. Setelah merasa cukup melihat-lihat, aku kembali menyantap nasi goreng di piringku, memutuskan untuk menghabiskannya saja, karena teringat delikan mencela mamaku, saat aku atau Nila tidak menghabiskan makanan kami.
 “Maaf, apa meja ini masih kosong?” tanya suara berat dari arah depanku—suara laki-laki.
Agak tersentak, aku cepat-cepat mendongak untuk melihat pemilik suara itu, dan mulutku langsung menganga. Di depanku sekarang, berdiri empat orang—tiga laki-laki dan seorang gadis— dengan wajah… Oh, aku tidak pernah melihat orang setampan dan secantik mereka sebelumnya.  Mereka semua berpakaian putih-putih, yang membuat badan mereka seolah memendarkan cahaya putih yang lembut.
Mata mereka semua biru sampai dengan pupilnya—mereka semua pasti mahasiswa pindahan yang tadi diceritakan Seli di kelas—dan rambut mereka semua hitam, berkilauan, persis seperti rambut model iklan shampo di televisi. Tubuh mereka—baik dari bentuk atau tingginya—sempurna. Tanpa cacat.
Apa ini mimpi, pikirku. Karena orang-orang seperti mereka tidak akan mungkin ada di bumi—atau mereka… bukan manusia, melainkan malaikat yang turun ke bumi.
Sekelilingku mendadak hening. Semua mata seantero kantin, kini memancangkan mata ke arahku, termasuk empat orang depanku, yang menungguku memberi jawaban. Tak sengaja aku melihat ke arah Ester Cs, yang menatapku dari meja depan dengan ekspresi tidak suka yang tersirat di wajah masing-masing.
“Kami bisa duduk bersamamu di sini?” tanya suara berat itu lagi, yang ternyata berasal dari laki-laki bertubuh tinggi (dan paling) besar berkemeja putih, yang berdiri di sebelah si gadis cantik berambut panjang sepinggang yang sedari tadi tersenyum manis padaku.
Aku menutup mulut buru-buru, mengangguk, meraih tas yang tadi kuletakkan di kursi kosong sebelah kananku, yang langsung diduduki oleh si gadis cantik, sementara yang lain mendudukkan diri di kursi lainnya yang berada di depanku. Aku benar-benar tidak bisa percaya, mereka duduk bersamaku, di meja ini, setelah dua tahun lamanya tidak ada seorang pun yang sudi duduk bersamaku.
Suara bisik-bisik kini terdengar di seluruh kantin, diikuti dengan pandangan berpasang-pasang mata yang menyipit ke arahku. Aku yakin orang-orang yang ada di kantin ini—kecuali Bu Pranto, tentu saja, yang bibirnya mengembang padaku—sangat tidak senang melihat kenyataan kalau orang-orang seperti pria-pria tampan dan gadis cantik ini, memilih duduk bersamaku daripada bersama mereka yang tidak menyandang gelar freak sama sekali.
Aku tak sengaja bertemu pandang dengan Ester, dan dia segera membuang muka, kelihatan sebal sekali, sementara teman-temannya berkasak-kusuk di sampingnya. Di sisi lain, di meja di depan tembok sebelah kanan, aku melihat Kumar dan gerombolannya, mengernyit padaku, dan sebagian orang lainnya mencibir meremehkan, seraya berbisik mendesis-desis, dengan teman-teman semeja atau sebelahnya.
Aku menoleh ke kanan, ke meja sebelah yang masih kosong. Dan merasa heran sendiri, kenapa orang-orang ini tidak duduk di situ saja? Kenapa merendahkan diri dengan duduk bersamaku? Aku ingin menyarankan mereka duduk di meja sebelah, untuk reputasi mereka sendiri, tapi karena alasan kesopanan, aku memilih untuk diam saja.
Untuk pertama kalinya, mejaku penuh. Bukan penuh gulungan tisu atau kertas, melainkan penuh orang yang benar-benar berniat duduk denganku. Tapi mereka kan mahasiswa baru, tentu saja mereka belum tahu gosip tentangku. Aku yakin, kalau mereka tahu nanti—dan sepertinya tidak akan lama lagi, melihat wajah gemas cewek-cewek di sini sekarang, terutama Ester cs, yang kentara sekali sudah tak sabar membuka mulutnya lebar-lebar untuk menjelek-jelekanku—mereka akan menghindar untuk duduk semeja denganku, seperti orang yang lainnya.
“Aku Sima,” kata pria bertubuh besar itu, menyodorkan tangan kanannya padaku, setelah dia dan yang lainnya sudah mendudukkan diri di kursi kosong di depanku. Aku mengangkat tangan kananku, dan menjabat tangannya yang keras, agak sedikit kapalan. “Hm… matamu indah sekali,” pujinya, menelengkan kepalanya mengamati mataku lekat-lekat. Tampak sangat tertarik.
Aku merasa wajahku menghangat. Aku tersenyum kecil, perlahan menarik tanganku dari tangannya.
“Oh, sori,” kata Sima tampak malu, melepaskan tanganku, dan tersenyum lagi.
“Tidapapa,” kataku sangat cepat dan gugup sehingga terdengar sedikit aneh.
“Dan ini adalah adik-adikku,” Sima menoleh sekilas ke samping kanannya, ke arah laki-laki tampan (agak sedikit bengal, menurutku) yang mengenakan kaus polo putih berkerah, yang duduk tepat di sebelahnya. “Ini Anila,” kata Sima, menepuk bahu Anila, yang langsung mengedipkan matanya dan tersenyum terkulum.  
“Lalu, Jyotis—atau Jo, adikku paling kecil,” Sima mengangguk ke arah pria di sebelah Anila; sama tampan dengan kakak-kakaknya, hanya saja, rahangnya ditumbuhi janggut tipis, dan dia terlihat lebih pendiam. Rambutnya lurus pendek, dan bagian depannya mencuat kaku ke atas. Dia terlihat sangat santai, dengan kaus putih tipis dengan kerah berbentuk ‘V’ dipadukan celana jins belel, dan tangan kanannya terbalut perban berwarna hitam—mungkin terluka atau apa. Jyotis hanya mengangguk sopan dan tersenyum sekadarnya padaku.
“Dan—” Sima mengarahkan tangannya ke arah si gadis cantik di sebelahku, yang masih tersenyum, mengangkat tangannya sekilas, dan berkata, “Hai,” pelan, “Rati, adalah adik perempuanku, kembarannya Jyotis.”
Aku membalas ber-“hai” pada Rati, sambil meringis salah tingkah, sembunyi-sembunyi mengamati wajahnya dan wajah Jyotis—tampang mereka tidak mirip sama sekali.
“Kami memang tidak mirip,” kata Rati terkekeh, “Aku tidak berniat menumbuhkan janggut.”
Aku tidak bisa menahan dengus geli, saat mendengar kata-katanya, begitu pun Sima dan Anila yang langsung nyengir, cuma Jyotis yang kelihatan sedikit kesal, mendelik mencela Rati, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa kau jadi berhenti makan?” tanya Anila, mengangguk ke arah piringku. “Kau tidak perlu sungkan pada kami. Makanlah,” katanya baik hati.
Aku benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana untuk membalas sikap baik mereka padaku, yang sepertinya tak pantas kuterima, selain hanya meringis tersenyum dan terlihat kikuk.
“Ka-kalian tidak makan?” tanyaku, memandang meja di depan ke empatnya yang minus piring atau gelas.
“Kami vegetarian,” kata Jyotis dalam suara dingin namun menenangkan, memiringkan kepalanya untuk memandangku. “Kami tidak bisa makan di kantin ini, karena sayurannya sudah tidak sehat.”
Aku ternganga, berpikir, kalau Bu Pranto mendengar kata-katanya sekarang, dia pasti akan merasa sangat tersinggung, dan mungkin akan langsung menjejali mulut Jyotis dengan berbagai jenis sayuran yang disimpan di lemari esnya untuk menunjukkan kalau sayurannya cukup sehat untuk dikonsumsi.
Tiba-tiba, tidak tahu penyebabnya, Rati mengikik tertahan, bersamaan dengan Anila yang mendengus geli, namun buru-buru merubahnya dengan batuk kecil. Sedangkan Sima cepat-cepat memalingkan wajahnya ke samping, menggigit bibirnya yang sepertinya beberapa saat tadi terlihat tersenyum. Dan saat aku melihat Jyotis, dia jelas-jelas tersenyum lebar, dengan mata birunya yang menyorot dingin menatapku.
Ada apa memangnya? Apa yang lucu?
Maaf, aku terlambat,” kata seorang pria yang mendadak muncul di sebelah Sima.
Bersamaan dengan yang lainnya, aku segera mendongak untuk melihatnya, dan betapa kagetnya aku begitu melihat wajahnya. Pria itu berwajah sangat mirip dengan dengan pria yang kulihat kemarin sore—penolongku. Tapi, bagaimana mungkin? Tidak mungkin. Itu pasti hanya kebetulan.
“Ada masalah di ruang registrasi, namaku tidak tercatat, dan perlu waktu cukup banyak untuk membereskannya,” katanya lagi dengan wajah sedikit kesal, seraya menarik kursi kosong dari meja sebelah yang belum terisi sama sekali, meletakkannya di sebelah Sima, kemudian duduk, dan mendorong naik lengan sweter putihnya, sama sekali tidak menghiraukan tatapan penuh damba para gadis yang serentak tadi menghujam ke arahnya. (Aku tak sengaja melihat ke arah meja Ester dan teman-temannya; mulut mereka semua membuka lebar, menatap kagum pria itu).
“Oh, dan ini—” Sima buru-buru memperkenalkan pria di sebelahnya padaku, menepuk-nepuk pundaknya, “—Abimanyu, adikku yang nomor tiga.”
“Panggil aku Abi,” kata pria itu tegas, terdengar seperti perintah. Menatapku dengan sorot mata tajam dan agak… menghipnotis.
“Aku… Aku Nalini,” kataku, buru-buru mengalihkan pandang darinya, dan sadar kalau aku belum memberitahukan namaku sama sekali, “kalian bisa memanggilku Nali.”
“Nama yang bagus,” timpal Abi dingin, tanpa ekspresi. “Artinya cantik, dalam bahasa Sanskrit.”
Dia tersenyum setelah mengatakan itu, senyum yang terlihat menyenangkan sekali, dan entah kenapa membuat hatiku seperti tercabik. Ada rasa rindu yang mendadak menggelegak di dadaku, hasrat aneh, yang membuat perasaanku kacau.
Abi memang tidak setampan tiga saudaranya yang lainnya, tapi entah kenapa aku sangat tertarik padanya, tidak puas hanya melihatnya sekali saja. Meskipun terkesan dingin, namun raut wajahnya sangat menenangkan. Dan entah mataku yang salah lihat atau memang benar begitu, matanya yang biru, terlihat lebih biru dan jernih dibandingkan mereka semua. Seperti batu nilam.
Tiba-tiba Anila mendengus tersenyum, Jyotis nyengir, Sima bersedekap menolehkan kepalanya ke arah Abi, yang mengulum senyum dengan kepala tertunduk.
Kenapa sih mereka, pikirku dengan mimik muka kebingungan, kemudian menoleh ke sebelahku dan bertemu mata dengan Rati yang nyengir kecil padaku.
“Kami semua masuk fakultas seni di gedung C,” kata Rati segera, sebelum aku kembali memalingkan wajahku ke depan. “Aku dan Jyotis sekarang duduk di tingkat dua, Abi di tingkat tiga, dan Sima dan Anila, di tingkat empat.”
“Kau sendiri?” tanya Sima, yang telah kembali menatapku, bersandar di kursinya.
“Aku—sama dengan Rati dan Jyotis, masih tingkat dua. Di fakultas Sastra,” jawabku, tak sengaja mengerling pada Abi, yang ternyata sedang memandangiku lekat-lekat. Jantungku berdebar kencang, sampai-sampai aku bisa mendengar detaknya dengan sangat jelas.
“Makanlah,” kata Abi lembut setelah itu, walaupun nadanya masih terdengar seperti memerintah, “habiskan makananmu.”
Dan (aku tidak tahu kenapa) aku menurut, tanpa berkata-kata lagi, kembali meraih sendok dan garpu yang beberapa waktu tadi terabaikan, hendak menyantap nasi goreng di piringku. 

(bersambung)
Sebuah novel dari Putu Indar Meilita



Read more...

The Devil's Eyes: Bab 7

>> Thursday, February 11, 2010

7

KENDATI soal-soal ujian kali ini luar biasa sulit, tapi aku yakin nilai yang akan kuterima di ujian Sastra kali ini, tidak akan mendapat nilai seburuk nilai yang akan diterima Seli dan Dian, yang selama ujian tadi sibuk ber-sst-sst, ke arah Ester dan Cheri, yang juga sibuk melakukan hal yang sama ke teman sebelahnya untuk mendapatkan contekan.
Begitu selesai mengerjakan soal, tanpa menunggu lagi, aku segera menyerahkannya pada Pak Oki, yang memberikan senyum samar padaku. Cuma itu apresiasi yang bisa diberikannya pada mahasiswa atau mahasiswinya yang selalu mendapatkan nilai baik di mata kuliahnya. Walaupun begitu, bagiku senyum itu cukup, karena datangnya dari Pak Oki, yang luar biasa pelit berbagi sesuatu yang ceria seperti senyum apalagi tawa.
Keluar dari kelas, aku segera berbelok ke kanan, melintasi koridor yang kali ini agak sepi. Aneh, sih, karena meskipun sebagian besar murid memang sedang berada di kelasnya masing-masing, biasanya ada saja beberapa orang yang duduk-duduk di bangku-bangku kayu yang diletakkan di sepanjang koridor. Tapi, kenapa aku harus pusing memikirkannya? Bukannya lebih baik sepi daripada ramai, sehingga tidak akan ada orang yang menimpukku dengan gulungan kertas atau tisu, atau mengejekku dengan memanggilku “Freak”.
Saat tiba di perempatan koridor terbuka, aku berbelok ke kanan lagi, menuju ke halaman belakang, yang seperti Sita katakan, adalah tempat tubuhnya berada. Miris sekali menurutku, karena Sita, gadis secantik itu, yang bila mati tubuhnya seharusnya diselubungi kemewahan seperti tampilannya selama ini, ternyata malah tertimbun bersama sampah kotor dan bau (setidaknya aku tahu sekarang kenapa aku selalu mencium bau comberan bila Sita berada di dekatku). Dan bagaimana dia meninggal? Dan kenapa di kampus?
“Kau datang,” kata Sita yang mendadak muncul di sebelahku, ketika aku baru setengah jalan menyusuri koridor, dimana toilet berada. Wajahnya kelihatan senang sekali. “Terima kasih,” ucapnya sungguh-sungguh.
“Aku hanya membantu,” balasku dengan wajah yang terasa merah padam. Ini adalah pertama kalinya Sita tersenyum dan berterimakasih padaku selama dua tahun terakhir.
Tidak seperti Kak Delon, atau hantu penunggu toilet, yang disebut orang hantu Juminten, yang tampilannya memang seperti mbok penjual jamu, yang kakinya berada satu inci di atas tanah dan melayang bila bergerak kemana-mana, Sita masih bisa berjalan normal, dengan kaki menapak di tanah. Badannya juga belum terlihat transparan, masih terlihat ‘penuh’ di mataku. Dan wujudnya akan seperti itu sampai sepuluh tahun ke depan, sampai malaikat maut menjemputnya ke atas untuk bereinkarnasi. Kalau tidak, wujudnya akan berubah transparan seperti arwah Kak Delon atau Juminten, yang keduanya tewas bunuh diri.
“Di sini,” kata Sita, berjalan menduluiku, menunjuk ke gundukan sampah basah yang sebagian kelihatannya baru dibuang, sedangkan sebagian lagi adalah sampah beberapa hari lalu. Baunya bukan main, sama persis dengan bau badan Sita, tidak bisa dibedakan. Mungkin orang yang melakukannya berpikir, dengan dikubur di tempat ini, maka tubuhnya tidak akan ditemukan, karena baunya tersamar oleh bau sampah.
Sambil menutup hidungku, aku bertanya pada Sita, yang menunduk memandangi tumpukan sampah di depan kami. “Kau yakin… tubuhmu di sini?”
“Aku bisa membuktikannya,” katanya, mengangguk sedikit. Dia maju ke depan, menaiki bukit sampah. “Inilah rumahku sekarang.”
Setelah mengatakan itu tiba-tiba tubuhnya amblas ke bawah, menyatu dengan sampah di bawahnya. Ketika dia muncul lagi, wajahnya mengernyit, mengibas-ngibaskan rambut merahnya yang panjang sebahu, sambil berjalan kembali ke arahku.
“Aku memilih untuk keluar saja dari sini, daripada harus berada di dalam. Kondisi badanku sudah tidak keruan,” keluhnya, “dan baunya…” dia tidak melanjutkan bicara, hanya meringis dan mengendus udara.
“Aku… turut menyesal,” kataku perlahan, merasa kasihan. “Kau berhak mendapatkan pemakaman yang layak. Tidak seperti… ini—apa kau… dibunuh?”
“Kau sudah tahu, jadi untuk apa menanyakannya,” balas Sita, tersenyum kecil. “Tapi, ya… aku dibunuh; di kampus ini—di sini… tapi aku tidak tahu siapa,” katanya buru-buru seolah tahu aku akan menanyakan hal itu. “Aku tidak ingat, tapi sepertinya… lebih dari satu orang. Tapi itu tidak masalah… aku toh sudah mati, tidak ingin mendendam. Aku hanya ingin agar tubuhku bisa ditemukan, supaya papa mamaku” (mendadak wajah Sita terlihat amat sedih) “bisa… tenang. Tidak lagi memikirkanku. Sakit sekali hatiku… mendengar ratapan mama, dan doa papa setiap malam, tanpa bisa melakukan apa pun untuk memberitahu mereka.”
“Kau… mendengarnya?” tanyaku heran. Aku tidak pernah tahu hal ini.
“Ya,” angguk Sita, “aku mendengar mereka. Jelas sekali, seakan saja mereka bicara dari sebelahku,” katanya, menatapku lekat-lekat.
Aku mengangguk-angguk, bertukar pandang hening dengannya sejenak, kemudian kembali menatap gundukan sampah di depan.
“Jadi, bagaimana caranya aku bisa memberitahu mamamu?” tanyaku sejenak kemudian. “Aku tidak bisa datang ke rumahmu. Akan aneh sekali…”
“Aku mengerti,” sela Sita cepat. “Aku juga tidak mau mereka berpikir yang tidak-tidak tentangmu.”
Kami berdua terdiam lagi, sibuk memikirkan cara yang tepat untuk memberitahukan orang tua Sita.
“Apa kau hafal nomor ponsel papa atau mamamu—telepon rumah mungkin?” tanyaku setelah lewat dua detik.
“Oh, ya,” sahut Sita riang. “Ponsel mamaku saja. Mama pasti lebih percaya, daripada Papa. Apa kau mau meneleponnya?”
“Belum tahu. Sebaiknya sekarang kau beritahu, sudah hampir jam makan siang. Bisa aneh kalau orang-orang melihatku berdiri di sini,” kataku, seraya merogoh tas, mengeluarkan ponselku.
“Ya, akan aneh sekali,” timpal Sita, mengiyakan.

(bersambung)

Sebuah novel dari Putu Indar Meilita


Read more...

Thanks semua!

>> Wednesday, February 10, 2010

Belakangan ini semangat nulis saya bangkit lagi, setelah beberapa temen yang berkunjung ke blog saya,ngomentarin positif naskah novel "the devil's eyes' yang saya buat (baru sampe chap 6).

Saya merasa tulisan saya, meskipun gak sehebat penulis2 lain yang udah top, dihargai (itu aja intinya).
karena itu saya ngebut, 'maku' bab terbarunya di blog, cuma pengen tahu, pengen baca komentar2 temen2 yang suka sama TDE.
Sejauh ini, sih selalu menyenangkan.

Dan mudah2an akan terus begitu.

saya gak tahan untuk ngungkapin rahasia mencengangkan di dalam cerita ini.
Banyak hal2 mengejutkan deh, jadi... harus cepet nulis nih, dan mudah2an inspirasi tetap stabil ...

Btw, thanks untuk semua temen2 yang udah suka ma TDE... dan ngasi komen yang mendukung.

Read more...

The Devil's Eyes: Bab 6

>> Sunday, February 7, 2010


6

KELAS masih kosong saat aku tiba, hanya ada hantu penunggu, yang disebut seluruh kampus dengan “Hantu Kak Delon”, berdiri di sudut depan kelas, tepat di sebelah meja dosen, memandang kosong ke arah meja tersebut dengan ekpresi muram dan membuat kasihan.
Gosip yang beredar mengatakan kalau dia bunuh diri di kelas ini dengan meminum puluhan butir obat penenang, karena menyimpan cinta pada Pak Oki—semua orang di kampus mengenal Kak Delon itu sebagai seorang gay—yang tahun sembilan puluhan adalah salah satu dosen ganteng di kampus ini (belum tua dan buncit seperti sekarang). Pak Oki menolak cintanya, membuat Kak Delon stress dan untuk menunjukkan sakit hatinya dia memutuskan untuk bunuh diri di kelas ini. Itu kata gosip.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah, Kak Delon memang stress, tapi bukan karena ditolak cinta oleh Pak Oki, melainkan karena nilai yang diberikan oleh Pak Oki saat ujian final Sastra saat itu tidak sebesar yang diharapkannya. Dari hasil ngobrol sembunyi-sembunyiku dengan Kak Delon ketika kelas kosong, aku bisa menangkap kalau dia adalah tipe orang yang amat perfeksionis dan ambisius, baik dalam penampilan maupun bidang lainnya—terutama bidang akademis.
Aku melambai kecil, ketika Kak Delon menggerakkan matanya melihatku, berjalan menuju kursi yang terletak di dua baris dari depan, duduk, dan mengeluarkan diktat dari dalam tas. Kak Delon segera melayang ke arahku, seperti biasa pasti bermaksud mengajakku ngobrol.
“Jangan sekarang, Kak,” kataku, dengan nada memohon maaf, “aku ada ujian. Belum belajar banyak tadi malam.”
Terdengar suara orang mengobrol, dan langkah-langkah memasuki kelas, dan aku cepat-cepat menundukkan kepala, membuka diktat, dan membacanya. Saat aku mengerling ke arah Kak Delon, dia sudah tidak ada lagi di depanku, kembali ke tempatnya yang biasa.
Kak Delon adalah satu-satunya arwah yang tidak minta bantuan apa pun padaku, selain ngobrol. Mau bagaimana lagi, andaikan dia minta bantuan padaku, dan aku bisa melakukannya toh, dia akan terus gentayangan di sini sampai kiamat. Dia meninggal karena bunuh diri, jadi arwahnya tidak bisa naik ke atas untuk bereinkarnasi. Sampai dunia berakhir, dia akan terus seperti itu: berdiri di dalam kelas ini menatap dendam dosen-dosen yang mengajar di kelas ini.
Satu per satu, mahasiswa dan mahasiswi mulai berdatangan memenuhi kelas. Sebagian besar dari mereka, sama sepertiku, sibuk membaca-baca diktatnya, dan berkomat-kamit menghafal kata demi kata yang tertera di dalamnya, sedangkan yang sebagian lainnya, lebih memilih untuk mengobrol, meskipun tidak seseru obrolan Ester dan teman-teman segangnya, yang duduk berkelompok empat baris dari kursiku, meskipun minus Seli, si biang gosip.
Tapi, kira-kira lima belas menit sebelum mata kuliah dimulai, Seli datang dengan berlari, terlihat panik namun penuh semangat, membuat semua orang di kelas memandang heran ke arahnya, dan tanpa berusaha mengatur napas lebih dulu, gadis cantik yang pipinya sedikit tembam itu, segera memberitahukan alasan kedatangannya yang dramatis pada teman-temannya.
“Sori, tapi—ini—penting,” sengalnya, berjongkok di antara kursi Ester dan Dian, dengan tangan mencengkeram kedua tangan sahabatnya.
Aku berpaling, kembali membaca diktatku, yang sejenak tadi kuabaikan karena teralih oleh dengan kedatangan Seli yang cukup mencengangkan itu.
“Ada apa, sih?” tanya Cheri tak sabar.
“Kalian pasti tidak percaya ini,” kata Seli masih tersendat, namun terdengar keras ke seluruh ruangan. “Aku baru saja bertemu dengan empat makhluk paling ganteng di dunia.”
“Apa sih, maksudmu?” tanya Ester, kedengarannya bingung, seraya menyibakkan rambut yang menutupi matanya. “Siapa yang ganteng?”
“Aku belum dapat info tentang mereka, namun yang pasti mereka semua mahasiswa pindahan dari—mm… mmm, aduh,” Seli sepertinya sedang berusaha mengingat, “aku yakin tadi dengar jelas, saat di ruang registrasi, semacam Negara—selada… Swedia, bukan—oh, Selandia Baru,” katanya penuh kemenangan karena berhasil mengingat, sementara teman-temannya yang lain ber-“Oh” penuh damba.
“Mereka orang Indonesia, tentu saja. Bahasa Indonesia mereka fasih sekali, dan perawakan mereka juga khas Indonesia—rambut hitam lurus, kulit sedikit coklat, hanya mata mereka—biru!”
“Mereka pasti pakai lensa,” timpal Cheri segera.
“Bagaimana tubuh mereka?” sambar Ester penuh minat, “Apa seksi?”
“Jangan tanya… selain tinggi—dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri—mereka atletis! Ganteng sekali!” pekik Seli histeris, yang segera disambut dengan dengus oleh semua orang di kelas, tapi tampaknya Seli tidak peduli, dan terus bicara, “Tapi—oh, ya aku lupa, ada yang cewek juga. Dan dia sangat cantik, dan berkulit kuning langsat, berbeda dengan cowok-cowok itu.”
Ada nada kesal dalam suara Seli saat memberitahu perihal keberadaan cewek di tengah cowok-cowok ganteng itu, dan teman-temannya segera mencecarnya.
Siapa cewek itu?” tanya Ester, Dian dan Cheri bersamaan.
“Adik mereka paling kecil, dia satu angkatan dengan kita, sama dengan kembarannya,” jelas Seli. (“Kembar?” jengit Ester, Dian dan Cheri bersamaan) “Mereka semua mendaftar di jurusan seni, di gedung C—oh aku iri dengan cewek-cewek di sana.”
“Kita harus kenalan, Es,” usul Dian antusias pada Ester, “hari ini juga.”
“Ya… mereka harus mengenal kita, kan?” timpal Cheri. “Terutama kau,” tambahnya buru-buru, menatap Ester, dengan nada yang kedengaran agak setengah hati.
“Oh, tentu saja. Semua cowok ganteng harus kenal Ester,” sahut Ester sangat percaya diri, membuatku memutar mata ke atas. “Apalagi sebentar lagi ada pemilihan Putri Kampus, salah satu dari mereka harus menjadi pendampingku.”
“Selamat pagi, anak-anak,” gelegar suara Pak Oki tiba-tiba, disusul suara pintu menutup. “Seli, kenapa kau jongkok begitu? Duduk di kursimu,” sentak Pak Oki galak.
Terdengar suara kursi bergeser dan mendecit, diikuti suara sesuatu menghantam alas kursi, tanda Seli telah mendudukan diri di kursinya, sedangkan Pak Oki segera menuju mejanya, dan dengan cepat membuka tas kulitnya yang sudah lusuh, mengeluarkan lembaran kertas soal, dan menumpuknya di atas meja.
“Seperti yang kalian tahu, hari ini kita ujian umum, mengenai peribahasa kuno…”
“Ujian?!” pekik Seli dan Dian bersamaan, kedengaran ketakutan.
“Ya, ujian!” sahut Pak Oki lantang, melotot ke arah mereka melalui kepalaku. “Dan saya harap kalian berdua, Seli dan Dian, bisa mendapatkan nilai setidaknya C untuk ujian kali ini, karena kalau sampai nilai kalian D lagi, saya terpaksa tidak meluluskan kalian ke tingkat tiga.”
Aku ingin sekali tertawa, tapi segera kuurungkan begitu melihat ekspresi wajah Kak Delon yang memandang penuh dendam pada Pak Oki.

(bersambung)
A novel by Putu Indar Meilita

Read more...

The Devil's Eyes: Bab 5

>> Saturday, February 6, 2010

5


PAGI tiba, dan aku terbangun dengan sedikit panik setelah mendengar jeritan jam beker di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Ku matikan benda menjengkelkan itu buru-buru dengan mata masih membayang. Setelah pandanganku mulai jelas, dan memerhatikan jam beker tersebut dengan saksama, serentak mataku membeliak, melihat posisi kedua jarumnya yang masing-masing menunjuk ke angka tujuh dan enam.
Jam setengah delapan, dan aku ada ujian Bahasa Indonesia di jam pertama—jam setengah sembilan.
Aku mendesah lemah. Dengan enggan, karena mataku masih berat sekali, kuturunkan kakiku ke lantai kamar yang luar biasa dingin, berdiri, dan berjingkat ke kamar mandi, seraya menggelung rambutku dengan ikat rambut. Dan tidak sampai sepuluh menit, aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
Setelah mengeringkan badan sebentar, aku melesat ke lemari pakaian yang menempel ke dinding di seberang tempat tidur, dan menarik asal saja kaus biru berkerah dan celana jins dari tumpukan baju, kemudian berpakaian secepat kilat.  
Aku sedang menyisir rambutku, ketika Nila mendadak masuk ke kamar, sudah terlihat manis dengan seragam putih-abunya. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda, terjurai ke punggungnya.
“Kau mau kemana?” tanyanya, kelihatan bingung.
“Tentu saja, mau kuliah,” sahutku, masih menyisir rambutku, menghadap ke cermin besar yang tergantung di dinding di sebelah meja belajarku, “memang mau kemana lagi?”
“Tapi, mama bilang kau harus istirahat,” kata Nila. Sebelah matanya disipitkan.
“Mama berlebihan,” balasku, “dan kau jangan ikut-ikutan,” aku mengacungkan telunjukku pada Nila, “lagipula, aku ada ujian pagi ini. Aku tidak mau ikut ujian susulan—tidak enak.”
“Tapi…”
“Sudahlah, Nila, aku tidak apa-apa,” aku menatap Nila tajam, menegaskan kata-kataku.
Nila mencibir, bersedekap, dan mengangkat bahunya, menggumamkan sesuatu yang sangat pelan, yang kedengarannya seperti, “Terserahlah.”
Setelah selesai berdandan, aku bersama Nila keluar dari kamar, dan pergi ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan.
Duduk di kursi di ujung meja makan, sedikit botak dan gemuk, sudah rapi dengan kemeja kerjanya, adalah papaku yang sedang menyeruput kopi dari cangkirnya, sambil membaca koran. Mama duduk di sebelahnya, sedang mengoleskan mentega ke roti tawar. Mereka berdua segera memandang ke arahku dan Nila, begitu mendengar langkah sepatu kami mendekat. Saat melihatku, raut muka mama langsung cemas.
“Aku tidak apa-apa, Ma,” kataku buru-buru, saat dia baru akan membuka mulut untuk bicara. “Aku ada ujian hari ini, jadi aku tidak ingin absen,” lanjutku lagi, sambil menyambar roti tawar yang ada di piring di meja di depan mama, menyantapnya cepat-cepat sambil berdiri, sedangkan Nila mendudukan dirinya di sebelah kiri mama.
“Tapi… kau perlu istirahat, Nali. Bukannya kemarin kau bilang kau kelelahan,” kata mama, meletakkan roti yang baru saja selesai diolesi mentega.
“Aku sudah tidur cukup semalam,” sahutku ringkas, seakan itu menyelesaikan persoalan. “Energiku sudah kembali pagi ini.”
“Papa akan mengantarmu, kalau begitu,” kata Papa, setelah meneguk habis kopinya.
“Oh, tidak usah,” aku menggeleng cepat-cepat. “Aku naik bus saja, kampusku dan kantor papa kan berlawanan… jadi…”
“Kebetulan Papa ada urusan di daerah kampusmu itu,” sela papa segera, “jadi, tidak masalah.”
“Aku dong, yang mesti naik bus hari ini, kalau begitu?” kata Nila, cemberut.
“Sekali-sekali, kan tidak apa,” tegur mama.
Nila mengangkat bahu, lalu menggigit rotinya banyak-banyak, dengan bibir masih mengerucut. Ngambeg lagi.
“Jadi, mau berangkat sekarang?” tanya papa padaku, mengerling arlojinya.
Aku mengangguk, nyengir. “Iya, biar bisa belajar dulu sebentar di kelas.”
Papa balas mengangguk, lalu bangun dari kursinya, meraih jasnya yang disampirkan ke punggung kursi, sementara aku berpamitan pada mama, mencium tangannya, kemudian mengecup puncak kepala Nila, yang asyik melahap rotinya.
Bye,” ucap Nila sambil lalu dengan mulut penuh roti.
Bye,” balasku, lalu berjalan ke arah ruang tamu, menuju pintu depan, mendahului Papa yang sedang berpamitan pada mama.


“SEBAIKNYA kau pulang naik taksi nanti, agar bisa diantar sampai depan rumah,” saran Papa saat kami berdua sudah berada di dalam mobil. “Atau kalau kau memang hobi naik bus, begitu turun di halte, langsung panggil ojek.”
Aku mendengus tersenyum, menolehkan kepalaku menatap Papa yang berkonsentrasi mengendarai mobil. “Aku tidak apa-apa, kok, Pa…”
“Kau memang tidak apa-apa, tapi mamamu… dia histeris sekali,” kata papa memberitahu. “Para tetangga juga kelihatan panik, mereka mengira kau diserang orang jahat.”
“Aku yang salah, karena berteriak seperti itu,” kataku. “Anggap saja kalau itu kebodohanku.”
“Mamamu bilang, kau mengatakan kalau kau berpikir melihat sesuatu yang menakutkan… Memang apa yang kau lihat di pikiranmu?” tanya Papa, menengok sekilas padaku.
Aku mendengus, dan menggelengkan kepala segera. “Aku tidak ingat dan tidak berniat untuk mengingatnya,” kataku.
Papa balas menggeleng, namun bibirnya melengkungkan senyum kecilnya yang biasa.
“Kalau begitu, bagaimana kuliahmu?” tanyanya. “Apa oke? Teman-temanmu baik padamu? Papa lihat, kau tidak pernah sekali pun membawa temanmu ke rumah, sejak pertama kau kuliah.”
Aku mengembuskan napas, tidak menyangka papa menanyakan hal yang menurutku amat sensitif untuk dibicarakan. Tapi, Papa berhak menanyakan itu, toh, dia tidak tahu apa yang terjadi di kampus; aku tidak pernah membicarakannya, baik padanya, mama atau Nila, jadi wajar saja kalau dia ingin tahu.
“Aku—kuliahku baik-baik saja—papa sudah lihat IP-ku kan? Dan teman… aku tidak punya teman dekat di kampus, tidak seperti di SMP atau di SMU—mereka semua agak individual,” kataku beralasan.
“Yah, untuk para gadis, kampus adalah ajang kompetisi—mungkin sedikit berat bagimu, tapi setidaknya… kau punya teman untuk bergaul di kampus,” timpal papa, sementara aku mengernyitkan alis menatapnya. “Hei, Papa dulu juga pernah jadi mahasiswa kan, papa tahu, bagaimana serunya persaingan teman papa yang cewek-cewek,” (aku tergelak) “untung Mamamu bukan tipe gadis yang seperti itu—biasa-biasa saja, dan tidak suka cari perhatian.”
“Tapi, bukannya Papa dulu playboy kampus?” ejekku, “bukannya playboy kampus lebih suka bergaul sama cewek-cewek yang suka cari perhatian?”
Papa mengangkat bahu, dadanya sedikit dibusungkan, kelihatan sekali bangga. “Playboy kan lama-lama kapok juga,” katanya.
“Sepertinya Papa bangga dengan gelar itu?” cecarku.
“Sudahlah, jangan dibahas, nanti kau ngadu ke mamamu,” kata papa, menyeringai.
“Kan Papa duluan yang menanyakan keadaan kampus padaku, apa salahnya kalau aku mengorek informasi tentang kehidupan kampus jaman Papa dan Mama dulu,” kilahku.
“Hus! Sudah,” kata Papa, pura-pura marah, sementara aku mendengus tertawa.


Ketika VW kombi papa memasuki pelataran parkir kampus, jam kecil di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit—berarti masih ada waktu empat puluh lima menit lagi untukku belajar di kelas, manajamkan ingatanku dengan peribahasa-peribahasa kuno yang dipastikan keluar pada ujian kali ini.
Aku buru-buru berjalan menuju undakan depan kampus, setelah sebelumnya berpamitan pada Papa, sambil bertanya-tanya, apakah hari ini akan ada hal baru yang akan terjadi padaku selain lemparan tisu, gulungan kertas, atau puntung rokok? Atau mungkin sama saja. Hal itulah yang selalu terpikir pertama kali, saat aku melangkahkan kakiku ke areal kampus setiap pagi. Meskipun pada kenyataannya menyakitkan, aku tidak mau bersedih hati, khawatir kalau dengan bermurung durja, aku malah stress, dan akhirnya berdampak buruk pada kuliahku.
Cukup pergaulanku saja yang kacau, aku tidak ingin kuliahku kacau juga.
Aku menaiki undakan dengan langkah lebih mantap dari biasanya, entah kenapa, perasaanku jauh lebih baik hari ini, dan mendadak wajah pria tampan itu terkenang lagi di benakku, membuatku tanpa sadar tersenyum kecil.
“Nali…”
Aku mengangkat wajahku, dan mendesah pelan, begitu melihat Sita sudah berdiri di puncak undakan, menantiku. Bau comberan tercium lagi olehku. Aku terus berjalan, dengan tangan menutup hidung, sampai di puncak undakan aku berhenti.
“Nali, aku…”
“Aku harus ke kelas, ada ujian,” kataku menyela, berusaha tidak banyak menggerakkan bibirku, agar orang-orang yang lalu lalang di kanan kiri kami tidak curiga, menunduk, merogoh tasku, berpura-pura mencari sesuatu, “dan aku perlu berpikir matang untuk membantumu atau tidak.”
“Kau masih marah,” kata Sita sedih, menundukkan kepalanya. “Aku…”
“Apa kau tahu… dimana tubuhmu berada?” selaku lagi, menarik keluar ponselku, dan menghidupkannya.
“Ya…ada di… belakang kampus. Tempat pembuangan sampah,” jawab Sita, agak berat hati.
Serentak aku mengangkat wajahku, menatap Sita yang wajah pucatnya jadi semakin pucat setelah memberitahuku, dan segera menurunkan kepalaku, begitu serombongan orang berjalan ke arah kami lagi.
“Kau… yakin?” tanyaku, sambil menekan keypad ponselku dengan lincah, mengirimkan pesan pendek pada Nila, menanyakan apa dia sudah sampai di sekolah atau belum. Sekadar basa-basi, agar aktingku meyakinkan.
“Aku yakin,” jawab Sita.
“Kalau begitu… jangan ganggu aku dulu. Aku harus konsentrasi untuk ujian.”
Setelah itu aku berlalu pergi, meninggalkan Sita, yang ternyata menuruti permintaanku, tidak mengikutiku sama sekali.


(bersambung)
A novel by Putu Indar Meilita


Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP